"HUMAIRAH"

 

*HUMAIRAH*

 

 _Part_1_

 

 *"Kisah cinta seorang Bidan dengan duda satu anak."*

 

 

"Mas, boleh kenalan nggak?"

 

Seorang lelaki berambut tebal dengan garis rahang tegas, tampak terkejut dengan customer di hadapannya. Ini memang bukan kali pertama ada yang sengaja membuka rekening, karena ingin berkenalan dengannya.

 

Lelaki itu bernama Muhammad Reza Rahardiansyah.  Diantara sekian banyak customer service yang duduk berjejer di bank tempatnya bekerja, ia adalah satu-satu incaran kaum hawa, muda maupun tua, bermaksud ingin kenalan, atau sekadar cari yang bening-bening.

 

Tutur bahasanya lembut dengan suara bariton yang khas, badannya athletis, memiliki kulit bersih dan bertubuh wangi.

 

Reza tersenyum menanggapi gadis muda berseragam hijau di depannya. Dalam hati ia berdoa,

 

"Allah, pertemukanlah kembali aku dengannya?"

 

Sementara itu, di belahan lain kota Tangerang...

 

"Astaghfirullah ...!" Humaira menghentikan sepeda motornya mendadak. Ia hampir saja menabrak seorang wanita yang melintas di tengah jalan.

 

"Maaf, Bu?" ucapnya sambil menunduk. Wanita setengah baya itu mengangguk dengan sedikit omelan.

 

Jalan besar yang dilalui Humaira ini memang jalan utama menuju beberapa sekolah, termasuk sekolah bertaraf International tempat keponakannya menganyam Ilmu. Namun,  sebelum sampai ke kawasan persekolahan tersebut, banyak rumah-rumah mewah berjejer di kiri dan kanan jalan. Salah satunya rumah mewah berlantai dua yang terus dilirik Aira saat melintas di depannya.

 

Liarnya mata Aira bukan tanpa sebab, semua berawal dari kejadian sehari sebelum libur panjang kenaikan kelas dimulai. Saat itu Abi membawa pulang sebuah rapor ke rumah. Aira yang baru saja selesai membersihkan luka pasien tabrak lari langsung menyapa bocah itu.

 

Sayangnya, Abi berlalu tanpa menggubris.

 

“Bi, kamu marah, ya?” tanya Aira saat anak itu meletakkan tas di tangannya ke atas meja. Abi hanya bergeming dan meneruskan langkah menuju kamar.

 

Aira yang mendapati sikap acuh sang ponaan ikut menyusul ke kamar. Ia mengetuk pintu perlahan, tapi tak ada reaksi. Akhirnya Aira mencoba membuka pintu yang memang tak pernah dikunci Abi dari dalam.

 

"Yah, udah tidur. Nggak pernah dia begini." Aira mendekat dan mengelus puncak kepala Abi.

 

"Coba kamu ada disini, Kak?" lirih Aira sembari bangkit dan mencoba membuka rapor yang diletakkan Abi di samping kepalanya.

 

"Sudah kelas dua, tiap tahun dapat juara satu. Pasti kali ini juga sama," gumam gadis itu pelan.

 

Namun, saat Aira membuka buku berhard cover itu, matanya justru membelalak.

 

“Astaghfirullah ... nggak mungkin! Kok bisa merah?” Aira bergumam tak percaya, “pasti ini yang membuat Abi diam.”

 

Karena terlanjur dibungkam sesal, Aira lupa meneliti lebih lanjut, pun untuk sekadar membuka lembaran semester sebelumnya.

 

Satu hal yang ia pikirkan saat itu hanyalah meluncur langsung ke sekolah. Meminta pertanggungjawaban wali kelas atas berubahnya nilai sang ponaan.

 

Siang itu, Aira langsung meluncur ke sekolah Abi. Semua tampak sepi. Di parkiran hanya tersisa beberapa kendaraan bermotor.

 

 Bersamaan dengannya, berhenti juga di halaman sekolah sebuah mobil Camri berwarna hitam. Aira hanya menoleh sekilas.

 

Gadis itu terus berjalan melewati beberapa ruang, hingga sampailah ia di kelas Abi. Bu Siti tampak tengah merapikan beberapa kertas dan berniat keluar ruangan. Aira segera menghampiri wanita berkaca mata itu dan mencegahnya keluar dari ruangan.

 

“Assalamualaiku, Bu Siti." Suara Aira mengagetkan wali kelas Abi .

 

“Waalaikumsalam. Wah, ada Ibu Humaira. Silahkan masuk, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" jawab wanita itu sembari kembali duduk di bangku guru.

 

“Maaf Bu, saya baru bisa datang sekarang. Kebetulan tadi ada pasien kecelakaan di depan rumah,” ucap Aira sambil ikut duduk di hadapan Bu Siti.

 

“Ah tak apa, Bu Aira ... Oya, selamat ya Bu, Abi juara satu lagi di kelas.”

 

Aira terhenyak kaget.

 

“Juara? Tapi kenapa nilainya menurun drastis begini, Bu?” tanya Aira sambil menunjukkan  rapor yang ada di tangan.

 

Bu Siti kaget bukan kepala

 

ng, ia mengucek-ngucek matanya setelah menaikkan kacamata.

 

“Kok bisa begini? Bisa saya minta sebentar Bu, rapornya?”

 

Aira menyodorkan rapor di tangan pada wanita itu. Bu Siti mulai menutup lembaran yang telah dibuka dan tertawa terkekeh.

 

“Wah, ini ketukar Bu. Bagaimana bisa ya, ketukar?” tanyanya lagi masih sambil terkekeh.

 

Mendengar pertanyaan Bu Siti, kedua alis Aira saling bertaut. Berusaha menemukan jawaban pasti atas kejadian membingungkan itu. Namun, belum kelar mencari jawaban, dari luar justru terdengar seseorang mengetuk pintu ruang. Aira mengehela napas. Pandangannya dan Bu Siti kini menoleh keluar bersamaan.

 

Mata gadis itu membelalak, tatkala di hadapannya berdiri seorang lelaki berpostur tegap dengan setelan jas rapi dan sepatu mengkilat.

 

Aira tak mampu berkedip, menatap takjub lelaki gagah dengan rambut tebal yang menyunggingkan senyuman ke arahnya.

 

“Ini Hyun Bin bukan, ya? Mirip benar?" decaknya tak percaya. Tubuh tinggi dengan kulit putih, hidung segitiga dengan bibir ranum, lengkap dengan sebuah ceruk di pipi kanan,  persis Oppa Korea yang terkenal itu.

 

Lelaki itu berjalan mendekat. Pandangan Aira yang tengah terpana seketika tertunduk.

 

“Aduh, ini namanya jodoh. Silahkan masuk, Nak Reza." Bu Siti mempersilahkan lelaki itu masuk, "mari duduk di sini, Nak Reza." Tunjuknya pada bangku kosong di samping Aira.

 

Reza duduk dengan rapi, harum aroma tubuhnya menguar ke penciuman Aira. Membuat jantung gadis itu berdetak dua kali lebih rancak. Aira melirik lelaki disampingnya dengan ekor mata, tinggi tubuhnya terhadap lelaki itu dalam keadaan duduk setinggi bahu.

 

Maka lirikan Aira pertama kali jatuh pada leher jenjang dengan jakun naik turun saat berbicara dengan Bu Siti.

 

"Ya Allah, redakanlah gemuruh di dada ini ...," pintanya sambil memperbaiki konsentrasi.

 

 Seumur hidup, tak pernah ia deg-degan begini. Apakah ini yang namanya jatuh cinta?

 

Angannya menari-nari sejenak, dan kembali dari alam mimpi saat Bu Siti mulai menjelaskan perkara rapor yang tertukar.

 

"Tadi, Abi dan Abhi, dua-duanya saya panggil ke depan. Abizar dan Abhizar, dua nama yang sama, hanya beda satu huruf. Jadi harap maklum Bu, Pak, jika saja ketukar ngasih rapor setelahnya," jelas Bu Siti, “saya bukannya ingin membandingkan Pak Reza, Bu Aira. Saya hanya meminta Abhi belajar pada Abi tadi. Supaya ketularan pinternya. Karena sudah empat kali pengambilan rapor Abhi masih bertahan dengan peringkat terakhir dan nilainya juga sangat-sangat tidak memuaskan.”

 

Reza menarik napas panjang, sedikit menenangkan jiwanya yang dipenuhi rasa malu dan kecewa. ”Mohon Abhi dibimbing Bukde. Ia dibesarkan oleh neneknya, jadi sedikit manja. Padahal Abhi anak yang cerdas dan bijaksana. Hanya malas kalau disuruh belajar.”

 

Aira menarik napas panjang berkali-kali. Suara bariton lelaki di sampingnya berhasil membuat gadis itu berkeringat dingin. Entah bagaimana cara menenangkan jiwanya yang terlanjur terpana.

 

“Tidak boleh, tidak boleh ... jangan terpikat pada lelaki yang sudah beristri," batinnya bergumam. Wajah Aira seketika pias kecewa, saat tersadar bahwa lelaki di sampingnya tentu adalah seorang ayah.

 

"Iya, Bukde mengerti Nak Reza. Anak-anak itu memang unik, kadang ia tahu mana ibu mana nenek. Hasilnya tetap beda, meski nenek merawatnya dengan sepenuh hati. Bukde hanya berharap kamu lebih sabar. Berikan Abhi waktu yang lebih. Anak-anak itu semakin besar, semakin paham akan sesuatu hal. Jadi jangan sampai ia merasa tidak adil karena tidak memiliki ibu seperti anak-anak yang lain, hal itu bisa memicu jiwa pemberontak dalam dirinya.” Tegas Bu Siti panjang lebar.

 

Mendengar ucapan Bu Siti, Aira terkesiap. “Tidak memiliki Ibu? Maksudnya Mas ini duda atau bagaimana? Alhamdulillah, mudah-mudahan aja duda...." Aira membatin kegirangan.

 

Hampir sepuluh menit Bu Siti mencoba menasehati lelaki yang Aira tebak berstatus duda itu. Ia terus saja menjadi pendengar setia. Baginya hari itu, malah terkesan seperti menghadap penasehat pernikahan. Semoga saja suatu saat. Harap Aira.

 

Rasa sedih tiba-tiba menyusup di dada, saat tahu bahwa lelaki tersebut ditingga

 

l selingkuh sang istri. Tanpa sadar dalam hati Aira mulai melangitkan doa dengan sungguh-sungguh, 'Ya Allah, andai engkau jodohkan hamba dengannya, hamba akan setia dan menjadi istri yang shalelah dunia akhirat.’

 

Sementara di luar, gerimis mulai menitik membasahi bumi. Sebuah doa yang tak sengaja tersebut, namun menjadi alasan kuat untuk terkabul, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Carilah doa yang mustajab pada tiga keadaan : bertemunya dua pasukan, menjelang shalat dilaksanakan, saat hujan turun.”

 

*

 

Banyak hal yang dibicarakan Bu Siti dengan Reza. Seakan terlupa ada orang lain  di ruangan itu, yang terus mendengar dan semakin berharap. Terakhir bu Siti meminta agar Aira dan Reza saling menukar rapor. Saat itulah kedua pandangan mereka bertemu untuk pertama kali. Pandangan yang pada akhirnya menghasilkan letup tak lazim di dalam dada Aira.

 

Deg!

 

Tiba-tiba saja Aira merasa darahnya berhenti mengalir. Tatapan elang yang tengah menyorotnya itu, membuat Aira gugup hingga memilih menundukkan pandangan.

 

‘Beginikah rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Allah,, boleh minta sesuatu nggak? Jodohkan saya dengannya ...?’

 

Saat itu, sesuatu seakan terluput dari benak Aira. Seorang lelaki yang hadir di hidupnya selama tiga tahun belakangan ini. Lelaki yang terus menggantungkan harapannya, hingga matapun selalu tertutup akan lamaran lelaki lain.

 

Tapi hari itu, harapan tersebut seolah berpindah tempat. Ditransfer via JNE, karena prosenya begitu cepat. Aira tersenyum sendiri.

 

Tanpa menatap, ia hendak meraih rapor yang di sodorkan ke arahnya beberapa menit lalu. Cukup lama karena diselingi kecanggungan.

 

“Ehm ...!” Reza berdehem pelan, berharap Aira sportif dan saling unjuk pandang, tidak menunduk.

 

Tapi, sifat Aira yang pemalu membuatnya hanya menoleh sekilas, lalu menarik dengan cepat benda di tangan Reza. Lelaki itu tersenyum samar, merasa malas berurusan dengan ibu-ibu pemalu.

 

Sejurus kemudian Reza ia langsung membalikkan badan dan melangkah keluar.

 

 Perlahan Aira berusaha menengadahkan wajahnya, merasa menyesal kenapa tadi menundukkan wajah. Kini hanya aroma maskulin yang tertinggal, menguar di seluruh penciuman Aira hingga menusuk palung jantung.

 

Diantara derap langkah lelaki di hadapannya, ia berharap penuh agar Reza berhenti dan menoleh. Mengucapkan sesuatu yang menjadi pertanda bahwa bolehlah ia berharap status lebih, ‘istri’.

 

Satu

Dua

Tiga.

 

Ting!

 

Harapan Aira terkabul, Reza menghentikan langkah dan menoleh.

 

"Oh ya, selamat ya, atas prestasi Abi, anak Bu Aira. Mudah-mudahan anak saya Abhi, bisa belajar dari anak ibu, Abi," ucapnya sembari tersenyum hangat, sehangat mentari di musim hujan. .

 

"Tapi, wait? Anak? Ya Tuhan, anak?" Aira mengerucutkan bibirnya, menyesali atas apa yang diketahui sang lelaki tentangnya.

 

"Saya bukan Mamanya Abi, dia ... keponakannn?"

 

*

 

"Bunda ....!" jerit Abi dari belakang motor, lamunan Aira seketika buyar. "

 

“Bunda, kalau bawa motor bisa hati-hati nggak?"

 

'Aish,  ini anak!'

 

"Oke, siap Bos!" Aira membercandai Abi yang terlihat sewot. Dengan semangat ia kembali melajukan motor. Bibirnya melengkung, mengingat kejadian yang sudah berlalu lebih dari sebulan itu, rasanya nganu, kayak baru kemarin gitu.

 

"Kapan ya, ketemu lagi? Apa perlu saya yang mendatangi rumahmu, Tuan?" pekik batinnya.

 

*HUMAIRAH*

 

 _Part_2_

 

 *"Jodoh Ketemu di Bank."*

 

 

‘Jujur padaku, ini cinta atau nafsu?’

 

Humaira berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Setelah mengelus puncak kepala Abi, ia berniat untuk segera sampai ke Rumah Sakit, hari ini ia piket di ruang bersalin.

 

Jika pagi, sampai tepat waktu adalah tujuan utama. Sebab selain harus mengikuti apel, pagi hari itu waktunya beramai-ramai, ramai pasien, ramai pula stafnya. Meski ramai tapi tetap saja kerepotan, terutama jika semua pasien yang dalam fase persalinan, masuk ke tahap msengedan di detik-detik operan. Rempong tak terkira!

 

Sebagai seorang bidan yang baru saja terjun langsung ke dunia pelayanan, tentu ini menjadi tantangan berat buat Aira. Terlebih dengan kondisi dirinya yang masih single.  Meski begitu, Aira tidak tergesa-gesa mengakhiri masa lajangnya di usia muda. Ia masih menikmati kesendiriannya, sambil terus memilih, mana lelaki yang dapat mengikat hatinya.  

 

Tapi nyatanya, Aira nggak pernah memilih, semua yang melamar ia tolak. Harapannya cuma pada satu orang lelaki. Lelaki yang tengah menuntut ilmu di negeri para nabi. Yang tak pernah menyatakan suka, apalagi cinta. Tapi Aira kadung simpati pada sosoknya yang berwibawa dan ... tampan.

 

*

 

Abi menghilang di ujung koridor sekolah, Aira segera membelokkan motor jika saja manik matanya tidak terbidik pada satu objek. Objek yang selama ini terus mengusik pikirannya.

 

Tiba-tiba saja detak jantungnya menjadi tak terkendali. Dadanya berdesir hebat, belum pernah ia merasa seperti ini, padahal umurnya sudah beranjak dua puluh tiga, dan lagi yang ia targetkan sudah ada.

 

"OMG, Mas duda?"

 

Ciettt ...!

 

Aira mengerem mendadak. Ia menjatuhkan tas sandangnya dengan sengaja, supaya terkesan ada sesuatu yang membuat ia urung menjalankan motor.

 

“Arggghhh ...! Memalukan sekali ide ini!” Aira membatin. Tak menyangka, dirinya yang selalu dingin terhadap kaum Adam, justru meleleh  di hadapan duda korea itu. Eh, mirip ... mirip doank!

 

Sementara Camri yang dikendarai Reza hanya berjarak lima langkah dari posisinya. Jika diteliti, tak mungkin Aira luput dari pandangan sang duda.

 

Sedetik dua detik, Aira menanti lelaki itu membuka kaca mobil, dan yang lebih ia nanti adalah sapaan. Bukankah sebulan lalu mereka pernah bertemu, mudah-mudahan saja lelaki itu tidak melupakannya.

 

Dua menit berlalu, kaca mobil tak jua terbuka, sementara ia bertahan dengan posisi tak bergerak di tempat. Lebih tepatnya ia seperti gantungan orang-orangan di tengah sawah.

 

 Hanya sebuah pajangan, tanpa ada yang peduli akan hadirnya. Sungguh menyedihkan untuk sebuah penantian sapaan. Namun, yang lebih menyayat hati Aira, ketika ia tahu bahwa kendaraan beroda empat itu justru kembali berjalan setelah seorang anak kecil keluar dari pintu depan.

 

"Ya Tuhan, malah pergi. Apa artinya tadi aku mematung disini," desis Aira penuh kesal. Hatinya yang tadi berbunga-bunga plus deg-degan kini malah seperti terbakar bara api.

 

 Namun, perlahan bara api itupun tersirami air. Aira menengadahkan telapak tangannya.

 

"Hah, ternyata gerimis?" Aira kaget sebab hujan mulai turun perlahan, seolah menggambarkan suasana hatinya yang kadung berderai.

 

Ck ...Ck!

 

"Bunda Aira?" Anak lelaki tadi menyapa Aira yang hendak melajukan kembali motornya.

 

"Eh, Abhi?" sahut Aira. Dalam hati ia berpikir, bisa ya anak itu tahu namanya. “’Wah, detektif cilik ini.’

 

Abhi mendekat dan meraih jemari Aira untuk diciumi. Seperti yang biasa keponakannya lakukan.

 

‘Masya Allah, inikah anak yang besar tanpa sentuhan sang ibu? Sopan sekali ...pasti seperti neneknya. Eh, beda banget sama bapaknya.’ Aira tersenyum sambil mencerocos dalam hati. Meski satu hal yang tak dapat ia tutupi, tampannya copy paste sang ayah. Aira semakin semringah.

 

"Kamu temannya Abi, ‘kan?” tanya Aira.

 

“Iya, Bunda. Nama saya Abhi juga ....” sahutnya menggemaskan.

 

“Iya, Bunda tahu. Abhi masuk gih, nanti bajunya basah?" pinta Aira pada anak kecil itu.

 

"Iya, Bun. Aku masuk dulu ya?" jawabnya sambil tersenyum. Sedetik kemudian Abhi berlari menuju pagar.

 

Aira terus memperhatikan tubuh Abhi yang berlalu darinya, "hmm ... hari ini anaknya yang menyalami tanganku. Tapi semoga suatu saat nanti, tangan ayahnya bisa aku salami secara halal. Amiiin ...." Aira kembali melangitkan doa diantara gerimis hujan.

 

Gadis itu larut dalam bahagia, tanpa sadar gerimis yang tadi sebesar biji padi kini malah sebesar biji jagung.

 

Aira tersentak. Sambil tersenyum ia melajukan kembali motornya dengan cepat. ‘Basah tak mengapa, sebab inilah hujan rahmat. Rahmat cinta! Decaknya dalam hati.

 

*

 

Hari itu rumah sakit terlihat ramai, lalu lalang pasien sudah menjadi makanan sehari-hari. Aira selesai mengamprah obat-obatan, membereskan satu-persatu sesuai nama pasien dan meletakkan pada rak yang sudah disediakan.

 

"Nit, temenin aku ya?" Aira menelpon Nita tepat pukul sepuluh lewat tiga puluh menit. Ia sudah mengerjakan semua pekerjaannya pagi itu, kebetulan ruangan sedang sepi. Aira meminta ijin pada senior untuk keluar sebentar.

 

"Aku lagi sibuk Ra. Emangnya mau kemana sih?" Terdengar suara dibalik telepon.

 

"Ke bank. ATM-ku tiba-tiba nggak bisa kepakek. Malas juga dikit perlu harus ngantri ke teller. Bisa ya Nit, please?"Aira memohon pada sahabatnya.

 

"Oke lah, tapi kalau lama, aku tinggalin."

 

"Sip. Aku jemput sekarang ya?"

 

"Oke!"

 

*

 

Tepat pukul sebelas mereka sampai di depan sebuah bank. Aira memarkir motor di parkiran, kemudian sejenak menatap wajahnya di kaca spion. Memperbaiki hijab putih menutupi dada yang ia kenakan.

 

"Ra ... tukan rame. Aku bilang juga apa. Aku cuma punya waktu setengah jam lho," ucap Nita begitu mereka sampai dalam ruangan.

 

"Tapi nomer antrian di customer servisnya nggak banyak lo Nit. Nomorku setelah ini."

 

Aira menunjuk kertas antrian di tangannya. Ia kemudian mengedarkan pandang ke seluruh ruangan. Tampak dihadapannya beberapa CS sedang duduk manis melayani customer.

 

Namun ada satu meja yang menyita perhatian Aira, sebuah meja dengan papan nama bertuliskan 'REZA'.

 

Seketika tubuh Aira seperti tersengat listrik, bergetar hebat. Dadanya kembali tak karuan. Ia mencoba mengingat duda tampan yang bertemu dengannya tempo hari. Padahal nama Reza ‘kan tak cuma satu. Bahkan satpam rumah sakitpun namanya Reza.

 

"Kamu kenapa Ra?" tanya Nita menyadari teman di sampingnya mengelus-elus dada.

 

"Ah nggak apa Nit, aku cuma demam."

 

"Hah, demam?" Nita langsung memegang dahi sahabatnya, memastikan yang dikatakan Aira tentang kesehatannya.

 

"Ah, nggak panas? Kok bisa tiba-tiba sih?"

Aira tak menggubris lagi pertanyaan Nita, matanya kini terbelalak, tak menyangka bahwa CS yang akan melayaninya sesaat lagi adalah sang duda idaman hati.

 

"Subhanallah ...."lirih Aira tanpa mengedipkan mata.

 

"Alamak tu CS tuampan wae. Aku ikut ya Ra?" Nita memelas ingin ikut bersama Aira.

 

"Serius? Tempat duduknya 'kan cuma satu?” potong Aira saat tahu Nita juga tengah membidik duda incarannya.

 

“Please, Ra. Berdiri juga nggak papa?”

 

‘Yaela ni anak. Ngebet benar.’

 

“Nit, hari ini aku dulu ya. Besok deh aku temenin kalau kamu mau kemari lagi." Canda Aira pada Nita. Gadis itu mencubit pinggang Aira, dan Aira hanya tersenyum meski sejujurnya ia tak dapat menutupi gugup yang tiba-tiba meradang.

 

Dikumpulnya segenap keberanian, sembari mengucap basmalah. Kali ini sepertinya bukan suatu kebetulan, semua sudah direncanakan Allah, begitu yang ada dibenak Aira. Bukankah tadi pagi ia berharap ditegur olehnya. Lalu, jika sekarang Allah mempertemukan mereka, bukankah ia harus bersyukur?

 

***

 

"Silahkan duduk." Reza mempersilahkan Aira duduk tanpa menatap.

 

Sedikit gemetar Aira menarik kursi dan duduk dihadapan sang CS. Kedua jemari tangannya saling meremas, menandakan kegugupan yang teramat sangat. Kini malah kursi yang ia duduki terasa panas, seperti ada yang menyalakan tungku di bawahnya.

 

"Beginikah rasanya jika berhadapan langsung? Oh Allah, tolonglah hamba-Mu ini ...?"

 

"Hai." Sebuah sapaan yang membuat tubuh Aira bagai disirami air, lega ...

 

"Hai ...." Aira membalas sapaan Reza. Ia berusaha mengontrol perasaannya, dan berniat meluruskan kaki yang tiba-tiba bergetar.

 

"Oh!" Aira menarik kembali kakinya ke posisi semula. Sepertinya gugup tak hanya dirasakan Aira, lawannya pun demikian. Sebelah kaki Aira yang berusaha ia julurkan malah bertabrakan dengan kaki Reza yang ... entah kiri atau kanan yang juga ternyata ikut-ikutan dijulurkan.

 

Lelaki itu tertawa, menyadari kekonyolan yang baru saja terjadi.

 

"Kamu ....?" Reza berusaha mengingat-ingat dimana pernah bertemu dengan Aira.

 

 Sementara Aira hanya menoleh sedikit, kemudian menunduk lagi. Malu plus grogi.

 

"Emm ... Abi? Kamu Mamanya Abi 'kan? Wah, kebetulan sekali, ada yang bisa saya bantu, Buk?"

 

‘Hah, Buk? Tampang masih perawan gini dikata ibuk-ibuk!’

 

Aira menarik dan membuang napas. Ingin ia menjelaskan status keperawanannya, agar tidak terjadi salah paham, dan tentu saja agar dirinya memiliki kesempatan untuk dilirik, eh.

 

Tapi apalah daya, lelaki itu terlanjur mencapnya 'ibu-ibu'.

 

"Saya ... mau memperbaiki ATM," ucap Aira pasrah. Gadis itu memberanikan diri menatap kembali wajah Reza.

 

‘Uh ... Nggak kuat ... ini artis korea layaknya jadi bintang film, jangan kerja di bank! Hiks ... Hiks ...’

 

Hanya lima detik. Airakembali menunduk untuk mengeluarkan benda yang ia maksud dari tasnya. Aira meletakkan ATM juga KTP-nya diatas meja. Tak kuasa jika harus menyerahkan langsung ke tangan Reza, takut lelaki itu melihat jemari tangannya yang gemetaran seperti orang tua yang kena penyakit saraf.

 

"Owh, sebentar saya cek dulu?"

 

Lelaki itu kemudian membalikkan benda tipis yang sudah di tangannya dan kembali menatap Aira, "wah ini kertas pengamannya hilang. Mungkin tergesek sesuatu saat dimasukkan ke dalam dompet." Ia menjelaskan dengan seksama.

 

Perlahan Aira menengadahkan wajah hingga kedua mata mereka saling bertemu pandang. Buru-buru Aira menunduk lagi, menghindari menatap mata berbius itu terlalu lama."Bisa diperbaiki?" tanya Aira tak fokus.

 

Reza tersenyum sembari meletakkan kartu itu di atas meja. Ia mulai menyadari bahwa custumernya saat itu tengah mengalami kegugupan. Sebelum menyelesaikan pendidikan di Managemen Akutansi dan Bisnis, lelaki itu sempat dua tahun menuntut ilmu psikologi. Jadi hal-hal seperti ini sedikit banyak sudah dapat ia tebak.

 

"Bisa."

 

Hanya itu, Reza sengaja tidak melanjutkan ucapannya, ingin menebak apa yang akan dilakukan wanita dihadapannya itu yang terus saja menunduk.

 

Hening beberapa saat. Hingga akhirnya Aira mengeluarkan suara.

 

“Terima kasih, saya pamit.”

 

"Eh, tunggu dulu." Tak sengaja Reza menarik lengan Aira yang berbalut jas kerja berwarna putih, "besok datang lagi ya, saya usahakan ATM baru siap besok."

 

Aira memperbaiki posisi jasnya.

 

"Ya Allah, kok bias ada adegan begini, ya?"

 

Aira menghela napas sambil mengangguk, sedikit menoleh lalu mengalihkan pandangan. Dengan tergesa, ia berjalan menuju kursi tunggu.

 

"Eh, keren banget adegan kamu tadi, Ra? Romantis beud, kayak di film?"ketus Nita.

 

Tanpa menjawab, Aira menarik tangan Nita dan keluar dari bank dengan penuh resah.

 

“Kenapa tiap kali bertemu dengannya, harus canggung begini?” Aira membati Kesal.

Sementara di dalam, kehadiran Aira telah membuat hati seorang duda tergugah. “Kenapa dia diam saja saat aku memanggilnya Ibu?” ucap Reza saat menatap tulisan status belum menikah di KTP Aira.

 

“Oh, pemalu rupanya? Tapi cantik!”

 

*HUMAIRAH*

 

 _Part_3_

 

 

 

 *"Lelaki Pemilik Range Rover"*

 

 

Matahari sudah sepertiga condong ke arah barat, terik sinarnya sedikit berkurang dibanding saat sang bagaskara itu tepat berada di atas kepala. Pukul dua lewat, Aira telah sampai di rumah. Sedikit kaget karena ia mendapati sebuah mobil Range Rover terparkir rapi di halaman.

 

Bahagia? Tentu. Sebab sudah sekian lama ia tak bertemu dengan si pemilik roda empat mewah itu.

 

“Assalamualaikum,” ucap Aira begitu memasuki rumah yang pintu depannya tak tertutup. Di kursi tamu, tampak duduk ibunda Aira dengan seorang lelaki.

 

“Waalaikumsalam.” Terdengar sahutan bersamaan dari dua menusia yang seketika menoleh ke arah Aira. Netra gadis itu segera tertuju pada sepasang mata teduh yang sekian tahun ia nanti, untuk mengucapkan sebuah kata pengikat hati.

 

“Mas Hanif? Kapan pulang ke Indonesia, Mas?” tanya Aira lembut sembari melangkah masuk untuk menyalami ibundanya. Sejenak ia berhenti di hadapan pemuda itu dan mengucupkan kedua tangan. Hanif membalas dengan hal yang sama.

 

Sejujurnya tiap kali mereka bertemu, kekaguman Aira akan pemuda itu saban hari semakin bertambah. Bagaimana tidak, perpaduan Arab yang diwariskan sang papa juga Melayu yang diwarisi sang ibu, menjadikan pemuda itu tak kalah jika harus disandingkan dengan Omar Bolkan Al Gala.

 

Terlebih ketaatan ibadah yang tak diragukan lagi. Semua membuat Aira setia menolak berbagai lamaran yang datang, meski tak yakin dengan kesetiaannya yang akan berbalas hasil.

 

Sebab selama ini, bukan dirinya saja yang berharap mendapatkan tempat di hati Hanif. Sudah jadi rahasia umum jika anak pengusaha Batu bara asal Kalimantan itu menjadi incaran banyak foto model dan artis.

 

“Nak Hanif, sudah ada Aira, ibu tinggal sebentar, ya?” Ibunda Aira berpamitan pada mereka. Aira dan Hanif berpandangan sejenak, sebelum akhirnya sama-sama menyunggingkan senyuman.

 

“Mas baru sampai tadi pagi sekitar jam sepuluh,” jawab lelaki itu lembut setelah terjeda beberapa menit. Matanya menatap Aira penuh rindu.

 

“Wah, baru nyampe rupanya. Kok langsung ke Jakarta, nggak pulang ke Kalimantan dulu, Mas ...?"

 

“Ada seseorang yang membuat Mas rindu di rumah ini.” Potongnya cepat.

 

Aira terhenyak, bola matanya membulat dengan kepala sedikit mendongak, berusaha memastikan apa yang baru saja ia dengar.

 

“Hem ... rindu?Mas rindu Ibu?” Aira tersenyum sembari mengatup mulutnya.

 

Hanif menggeleng.

 

“Kalau begitu, Abi?”

 

“Bukan juga.”

 

“Di rumah ini dilarang merindukan selain yang dua itu.” Canda Aira yang diikuti dengan tawa lepas Hanif. Entah harus bahagia atau tidak, hal ini sudah lama dinanti Aira, dua tahun yang lalu.

 

Saat ia baru saja menyelesaikan studi Sarjana Kebidanan. Kala itu dirinya dan Hanif telah setahun berkenalan. Saat Hanif akan terbang ke Maroko untuk melanjutkan pendidikan Master.

 

Almarhum Ayah Humaira seorang pengacara yang masih termasuk kerabat, diminta oleh Papa Hanif untuk menangani kasus tuduhan penggelapan batu bara yang menimpanya.

 

 Sejak itulah mereka dekat. Terlebih setelah persidangan dimenangkan oleh Papa Hanif, kedekatan dua keluarga itupun semakin kokoh.

 

Sekian lama berkenalan, baik Aira maupun Hanif tak pernah membicarakan sesuatu yang bersifat pribadi, apalagi untuk sebuah ikatan. Namun Aira tetap kukuh pada perasaannya, sebelum semua kini terasa berbeda, setelah kehadiran seorang lelaki berstatus duda. Meski ia tak begitu bisa memastikan.

 

"Sudah selelai pendidikannya, Mas?” tanya Aira memecah keheningan.

 

“Alhamdulillah sudah. Dan sesuatu membuat Mas ingin segera kembali ke Indonesia."

 

“Sesuatu? Tampaknya sangat rahasia?” Aira tampak begitu penasaran.

 

“Kamu akan segera tahu Ai? Sekarang biar rahasia dulu, ya?"

 

"Heem ....?" Aira tersenyum, Hanif terus saja memanggilnya dengan sebutan Ai. Sejujurnya, gadis itu ingin melarang, dan meminta lelaki itu memanggilnya dengan sebutan lain. Tapi, yasudahlah. Bukankah itu panggilang yang langka?

 

"Pertemuannya cukup disini aja, ya." Hanif buru-buru bangkit dari duduknya. Ia merasa tak layak dud

 

uk berlama-lama dengan sebongkah rindu di dalam dada. Hanya akan menambah fitnah. Lagipula, apa yang ingin ia sampaikan pada ibunda Aira telah terlaksana. Jadi, yang harus ia lakukan sekarang hanyalah bersabar. Menunggu hasil.

 

"Lho, kok buru-buru, Mas?" Aira berusaha menahan kepergian lelaki itu yang terkesan mendadak.

 

"Ada yang harus Mas persiapkan untuk acara nanti malam?”

 

"Acara? Memangnya ada acara apa, Mas?"

 

"Syukuran kecil-kecilan. Kebetulan Papa sama Mama juga ke Jakarta. Kamu datang ya, Ai?"

 

"Syukuran?” Aira mengernyitkan dahi, ”em ... Insya Allah, Mas."

 

Aira mengantar Hanif sampai di pintu, lelaki itu tersenyum sembari melambai ketika ia sudah duduk di balik kemudi, “Hati-hati ya, Mas.”

 

Pemuda itu mengangguk pelan. Perlahan kendaraan mewah yang terparkir di halaman rumah tampak menjauh dan menghilang dari pandangan Aira.

 

Sejenak Aira menarik napas dalam, ada yang berbeda dari pertemuannya dengan Hanif kali ini. Tak seperti yang ia rasakan ditahun-tahun kemarin. Harapan yang telah ia bangun dua tahun ini, seolah menghilang tak berbekas.

 

Nama Hanif seakan terhapus. Berganti sebuah nama dengan empat kosakata, ‘R E Z A’.

 

Aira tersenyum. Matanya nanar menatap semburat rona jingga yang keemasan, bak lukisan. Awan berarak semakin membuat hatinya takjub. Sungguh ciptaan Allah yang begitu sempurna. Namun, ada yang membuatnya lebih takjub, saat perlahan sekilas wajah Reza menjelma di balik awan.

 

“Astagfirullah ....” Aira berucap sambil menggeleng kepala. Begitulah jika membiarkan cinta hadir sebelum waktunya. Akan sangat sulit mengontrol ingatan, sebab cinta ibarat anggur, disatu kesempatan ia begitu menyenangkan dan memabukkan, namun di sisi lain, ia adalah penebar petaka yang terselubung.

 

*

Hanif mendesah panjang. Tangannya yang tengah memegang setir, ia gerakkan untuk meraih sebuah kotak beludru yang terletak di atas dashboard mobil. Kemudian ia membuka benda kecil itu seraya berkata, "malam ini saya akan melamar kamu, Ai."

 

Awalnya hanya ingin mengikuti permintaan kedua orang tua, yang terlanjur menyayangi Aira. Tapi, setelah melalui istikharah panjang, hatinya mulai mantap. Tiga tahun ia rasa tidak mudah bagi seorang gadis menanti tanpa sebuah ikatan. Dan hal itu berhasil dilakukan Aira untuknya. Hanif sangat menghargai kesetiaan gadis itu.

 

Kini, Hanif berjanji tak akan membuat Aira menanti lebih lama lagi. Ia akan segera menikahi gadis itu.

 

*

 

Gedung berlantai tiga yang dibangun dengan gaya streamline art deco, berbentuk garis-garis pada bagian badannya dan memiliki sebuah menara di puncaknya itu, tampak mulai lenggang.

 

Pintu masuk utama sudah di tutup dan ditempeli papan bertuliskan ‘CLOSE’. Namun begitu, satu dua orang masih tampak lalu lalang di depan mesin ATM. Sementara di dalam gedung, aktifitas masih berlanjut. Para karyawan masih sibuk bergelut dengan segudang kertas-kertas yang tertumpuk di meja masing-masing.

 

"Za, formulir costumer yang tadi maudepositoin uang, udah beres belum?" Seorang teller cantik menghampiri Reza sembari membawa selembar slip.

 

"Belum kak, jaringannya masih error."

 

"Owh ya, pantesan. Kalau sudah beres, antar ke teller, ya?" ucap wanita itu sambil berlalu pergi.

 

Reza kembali mengakses komputer di hadapannya. Lelaki berambut tebal itu membuka laci kerja, hendak mengambil penjepit kertas di dalam sana. Namun, netra kelamnya berhasil menatap sebuah kartu berwarna navy yang bertuliskan nama 'Humaira'.

 

Ia menghentikan gerakan lincah tangannya. Lalu menopang dagu dengan sebelah tangan. Kedua sudut bibirnya tertarik menjauh. Tampak deretan gigi putih yang terawat dengan sebuah ceruk di sebelah kanan. Lelaki itu Sungguh menawan jika tersenyum.

 

Reza menghela napas panjang, lalu mendesah sembari menyebut sebuah nama, " Humaira ... semoga saja kita berjodoh."

 

*HUMAIRAH*

 

 _Part_4_

 

 

 *Langit semakin kelam,* seberkas sinar tampak menyembul dari balik awan. Rembulan telah sepenuhnya mengambil alih tugas sang mentari, meski tak terang benderang, namun sinarnya mampu menerangi langit malam yang begitu redup.

 

Aira baru selesai mengenakan gaun yang diberikan Hanif, saat bertandang ke rumah tadi pagi. Sedikit tersipu ia menilik tubuhnya di depan kaca.

 

"Alhamdulillah ... gaun ini begitu indah." Aira berdecak kagum tak henti-henti.

 

Sebuah gaun berwarna cream kini telah terpakai sempurna di tubuhnya. Lengkap dengan hijab instant berwarna coklat susu. Aira benar-benar tampak anggun dan memesona.

 

"Mas Hanif, dari mana ia tahun semua ukuran pakaian yang kugunakan?" Aira membatin penasaran.

 

Sebuah ketukan pintu, membuat lamunan gadis itu buyar. Ia membuka pintu kamar yang sengaja dikunci, takut ibundanya masuk saat dirinya tengah mengukir diri di depan kaca.

 

"Ibu?" ucapnya sedikit malu-malu setelah pintu terbuka.

 

"Masya Allah, cantik sekali kamu Nduk ...." Puji sang ibu pada Aira. Gadis itu hanya tersenyum kecut.

 

"Kalau begini penampilanmu, ibu khawatir Hanif bakalan melamar kamu di acara nanti?" Ibunda Aira mencoba menggoda.

 

"Nggak mungkin ah, Bu. Aira rasa Mas Hanif hanya nggak mau Aira datang ke acaranya dengan pakaian biasa ...."

 

Ibunda Aira hanya tersenyum menanggapi ucapan anaknya. Detik kemudian, wanita itu mengantar Aira ke depan rumah.

 

"Maaf ya, Bu. Jadinya Ibu ikut capek nungguin Aira naik taksi. Harusnya tadi Aira naik mobil jemputan Mas Hanif aja?" desah gadis itu setelah lima belas menit menunggu taksi di depan rumah.

 

"Ibu nggak papa Aira," jawabnya menyemangati.

 

Tak lama, sebuah taksi berhenti tepat di depan pagar rumah minimalis mereka. Sebelum Aira berangkat, wanita itu berpesan agar apapun yang terjadi nanti, ia meminta anaknya agar mengikuti kata hati dan jangan lupa meminta petunjuk pada Allah.

 

Aira mengernyitkan dahi, merasa ada yang disembunyikan wanita itu dari dirinya. Tapi apa, bertanyapun ia segan.

 

Selepas kepergian sang anak gadis, ibunda Aira menutup pintu rumah, "maafkan Ibu, Nak. Ibu tak bisa memberitahumu bahwa tadi pagi Nak Hanif telah melamarmu. Ibu takut kau menolak jika tahu perihal ini. Tapi, apapun keputusanmu nanti, semoga itu yang terbaik."

 

Jalanan sedikit macet, namun tidak memperlambat perjalanan dari Tangerang menuju Jakarta Barat.

 

Aira menatap pemandangan luar yang tampak begitu ramai. Lalu lalang kendaraan bermotor membuat matanya jenuh, hingga akhirnya ia berinisiatif mencari gawai di dalam tas. Sedikit ingin berbagi cerita pada Nita tentang perjalanan malam ini ke rumah Hanif.

 

Namun belum sempat ia menemukan ponselnya, taksi yang ia tumpangi berhenti mendadak. Tubuh Aira seketika terhunyung ke depan. Untung ia sempat berpegangan pada sandaran kursi. Jika tidak, tentu kepalanya akan terhantam kursi supir bagian belakang.

 

"Ada apa, Pak?" Aira bertanya penuh khawatir.

 

"Wah, nggak tau ini, Neng. Kayaknya mesinnya rusak. Coba saya cek dulu deh, Neng. Sebentar ya?"

 

Supir taksi berpakaian biru langit itupun turun dari mobil. Lelaki itu terbatuk-batuk akibat sumbulan asap yang mengenai wajah, ketika ia membuka penutup mesin mobil bagian depan.

 

Melihat hal itu, Aira juga memilih turun untuk menanyakan keadaan yang terjadi.

 

"Ada masalah, Pak?" tanya Aira meski dengan intonasi cemas bercampur kesal.

 

"Sampun, Neng. Mesinnya overheat, mungkin agak lama ini. Bagaimana ya?" Lelaki itu mengibas-ngibas wajahnya dengan topi, kelihatan gugup dan merasa tidak enak.

 

Aira hanya bisa mengembus napas kasar, padahal ia harus segera sampai ke tempat Hanif. Tapi mau gimana lagi. Tentu tak ada satu orangpun yang menginginkan rejekinya nyangkut tersebab oleh apapun. Termasuk juga supir tua ini.

 

Aira bergeming kasihan. Gadis itu menyodorkan uang sesuai yang muncul di argo, tanpa mempermasalahkan lagi bagaimana dirinya akan sampai di Kembangan nanti.

 

Suatu keberuntungan, taksi yang ia tumpangi malah mogok tepat di depan sebuah swalayan. Aira berniat me

 

mbeli minuman di tempat itu, sekadar untuk melepas dahaga.

 

Tepat ketika tangannya hendak meraih gagang pintu swalayan, disaat itulah mata Aira bertabrakan dengan seorang lelaki yang juga berniat keluar dari dalam swalayan.

 

"Aira?" Terdengar suara bariton yang tak asing lagi di telinganya.

 

"Mas Reza?" Aira terhenyak tak percaya.

 

"Bunda Aira?" Seru seorang anak kecil yang berdiri tepat di samping Reza. Suara itu seketika membuat kedua mata yang saling bertatapan tadi, terhenyak.

 

"Abhi?"Aira beralih menatap bocah tampan di samping Reza.

 

“Mungkinkah ini sebuah kebetulan?” gumam Aira penuh keraguan.

 

"Bunda Aira cantik, kayak putri?" puja Abhi tanpa dikomando. Mendengar pujian manis yang terlontar dari mulut anak kecil itu, reflek manik mata Aira melotot tajam. Malu. Andai bisa request, ia ingin pingsan seketika.

 

"Hehehe ... Bunda Aira cantik-cantik mau kemana?” Anak itu kembali melontar pertanyaan.

 

“Emm, Bunda mau ke Kembangan.” Aira mencoba menelan saliva saat ingin menjawab pertanyaan Abhi. “Kamu ngapain disini?”

 

"Beli jajan, Bunda. Abi mana, Bun?” tanyanya lagi sambil meraih jemari Aira.

 

Aira tersenyum kecut dan menoleh ke arah Reza, membuat kedua mata itu kembali bertatapan untuk beberapa detik. Buru-buru Aira kembali menunduk. “Abi nggak ikut, Sayang.”

 

"Owh, Abi jam segini udah tidur ya, Bun.”

 

“Iya benar.”

 

“Terus kapan belajarnya?”

 

“Anak Papa daritadi kok nyerang Bunda Aira terus?” Reza mencoba angkat suara.

 

“Nggak papa Mas,” ucap Aira menenangkan keadaan, ia kembali menoleh ke arah lelaki tampan yang memiliki tinggi sepinggangnya itu, ”kalau malam, Abi cuma belajar sebentar. Setelah itu dia shalat dan tidur. Nanti bangun tidur, selepas shalat subuh, barulah Abi mengulang kembali semua pelajarannya. Karena saat subuh itu pikiran masih bersih, jadi setiap apa yang dipelajari akan lebih mudah dipahami. Makanya Abi pintar?" Aira menjelaskan dengan seksama.

 

"Hihihi ... kalau aku, jangankan belajar, shalat subuh aja jarang, Bun. Habis Papa aja kadang nggak shalat. Kalau ada Umi, baru ada yang bangunin," ungkap sang anak tanpa malu-malu.

 

"Uhukkk ...." Reza seketika terbatuk, mendengar ucapan jagoannya. Lelaki itu menoleh ke arah sumber pembuka rahasia, "Abhi ...?” tegur Reza memberi isyarat.

 

"Hehehehe ... Aku tunggu di mobil ya, Pa?”

 

“Astahgfirullah ...,” gumamn Reza sambil mengacak-acak rambut.

 

'Duh ... tangannya yang kekar, kuku-kukunya yang bersih, wajahnya yang nyaris sempurna, kini tersenyum hangat memperlihatkan sebuah ceruk. Lelaki ini, tampan sekali.'

 

Meski dengan mencuri-curi pandang, Aira mampu merekam dengan apik seraut wajah yang begitu memikat di hadapannya. Andai keberanian itu ada, sudah tentu ia ingin menikmati sorot mata hazel yang sedari tadi dengan gagah menatapnya. Namun, apa daya, ia hanya mampu mengangkat dagunya sesekali.

 

"Benar kata Abhi ... kamu cantik," lirih Reza nyaris tak terdengar.

 

"Hah, kenapa Mas?"Aira kembali mendongak.

 

"Ng-nggak papa kok."

 

"Emm ... sebenarnya, Bunda Aira ini mau kemana?" Reza mencoba mempraktekkan gaya bicara Abhi.

 

Aira menoleh dan tersenyum. ‘

 

“Aira saja Mas?”

 

“Maaf, oke!” ucap Reza masih sambil terkekeh.

 

“Saya mau ke Kembangan, Mas. Tapi taksi yang saya tumpangi mogok tiba-tiba," Aira menunjuk sebuah taksi yang berhenti beberapa meter di hadapan mereka.

 

"Owh ... kalau gitu mari barengan. Saya juga mau ke sana, menjenguk neneknya Abhi yang sedang sakit.”

 

"Nggak usah repot, Mas. Saya nunggu taksi yang lain aja. Mungkin sebentar lagi ada yang lewat." Tolak Aira sedikit sungkan. Reza bergeming.

 

"Yasudah,” ucap Reza sambil menatap lurus kedepan. ”Emm tadi kamu mau beli sesuatu?"

 

"Eh, i-itu, mau beli minuman.”

 

"Yang ini mau?" Reza menawarkan minuman yang ada di tangannya. Minuman dingin dengan rasa jeruk. Aira menggeleng dan tersenyum. Merasa canggung menerima dari seorang lelaki, apalagi lelaki itu baru saja ia kenal. Meski sudah terlanjur menjatuhkan hati.

 

"Nggak usah Mas, biar Aira cari yang lain aja?"

 

"Nggak papa, ambil aja." Reza ngotot menyerahkan minuman itu untuk Aira. Sempat bergeming sejenak, namun raut wajah lelaki di hadapanny

 

a membuat gadis itu tak mampu melakukan apapun selain menerima.

 

"Terina kasih.”

 

"Kamu merasa sesuatu nggak?" Entah untuk alasan apa, Reza ingin menggoda gadis cantik pemalu di hadapannya itu.

 

“Merasa apa?”

 

“Eh itu ada bintang jatuh. Minta doa yuk, kayak di film Bolliwood gitu?”

 

Aira menoleh. Tentu ia tak percaya pada hal demikian.

 

“Mas Reza percaya?”

 

Lelaki itu mengangguk dan mengatupkan tangan, berpura-pura berdoa.

 

“Mas, berdoa itukan sama Allah?”

 

“Sssttt ...! Ini lagi berdoa sama Allah supaya kita berjodoh,” ucapnya masih sambil memejamkan mata.

 

Aira terhenyak mendengar ucapan Reza, seketika tubuhnya bagai kehujanan es, dingin hingga kemata kaki. Gadis itu menoleh, hendak memperjelas apa yang ia dengar barusan. Tapi urung ia lakukan. Sebab, hanya akan membuat mukanya yang sudah berblush on bertambah merah. Sementara itu, Reza sengaja membuka sedikit bola mata, ingin melihat reaksi Aira atas guyonannya barusan.

 

“Dia cantik sekali jika tersipu malu.” Reza berdecak bahagia.

 

Aira menarik napas perlahan, berharap segera ada taksi yang akan mengantarnya pergi dari tempat itu. Namun harapannya seakan jauh dari terkabul.

 

Ia sadar, gerimis kembali mulai berjatuhan.

 “Hujan?” lirih Aira.

 

"Hah, hujan. Padahal tadi langitnya cukup cerah, ya?" ucap Reza seraya kembali membuka mata. gerimis itu perlahan bertambah lebat.

 

Reza hendak pamitan, ingin menjemput Abhi yang masih duduk di mobil. Namun, bidikan lampu depan sebuah mobil mewah membuat buatnya tertunda.  Kedua insan itu tampak  memicingkan mata.

 

Reza menahan langkahnya, mendapati seorang lelaki berpakain rapi, yang ia taksir tak jauh terpaut usia dari dirinya, keluar mobil dengan sebuah payung.

 

Aira tergugu, ia tak menyangka yang keluar dari mobil itu adalah Hanif.

 

"Mas Hanif?” sebut Aira gugup.

 

“Kamu nggak papa?”

 

“Ng-nggak. Kok Mas Hanif tahu Aira disini?"

 

"Tadi Mas menyuruh supir buat mengikuti taksi yang kamu naiki. Untung saja ada Pak Karyo, kalau nggak Mas pastikan kamu kelamaan disini." Hanif menatap tajam ke arah Reza.

 

Sementara itu Reza hanya bergeming, sejenak rasa cemburu perlahan merayapi tubuhnya yang berdiri dalam kekakuan.

 

“Mas Hanif, kenalkan ini ....”

 

"Saya Reza." Cepat Reza mermperkenalkan dirinya.

 

Hanif melirik tangan Reza yang mengambang di udara. Tak ingin mengabaikan, iapun menyambut uluran tangan lelaki di hadapannya itu.

 

"Hanif."

 

Aira tampak kalap menghadapi situasi itu. Entah mengapa ia merasa sedang diperebutkan oleh dua lelaki.

 

‘Uh ... kepedean!’ Aira membatin.

 

"Ayo Mas antar kamu pulang?" ucap Hanif mengalahkan suara gerimis yang semakin deras

 

“Papaaa ...!” teriak Abhi dari dalam mobil. Reza segera menoleh.

 

“Sebentar, Sayang. Papa segera kesitu.”

 

"Emm, Abhi pasti ketakutan, Mas. Buruan samperin?"

 

“Emm ... Iya.”

 

Hanif kembali memberi isyarat agar Aira mengikutinya. Seulas senyum ia lempar ke arah lelaki yang raut wajahnya tak seperti tadi, penuh ceria. Raut itu kini hanya menyisakan kekecewaan. Aira memang tak yakin, tapi ia tahu Reza tak suka dengan kehadiaran Hanif.

 

***

 

Lelaki yang tampak begitu istimewa dalam balutan jas berwarna cream serupa dengan yang dikenakan Aira itu membuka pintu mobilnya, ia tak ingin hujan membasahi tubuh gadis yang ia sayangi. Perlahan kendaraan itu bergerak. Meninggalkan seorang lelaki yang terpaku menatap kepergian mereka.

 

Aira membalikkan tubuhnya, ia ingin tahu apa yang terjadi pada Reza selepas kepergiannya..

 

"Kita pergi sekarang?"Ucapan Hanif membuat pandangan Aira beralih ke depan. Gadis itu mengangguk.

 

Di luar mobil, hujan menitik semakin deras. Seolah mewakili perasaannya yang kadung berderai. Manik matanya nanar menatap kaca yang basah oleh tetesan air yang tak diminta untuk turun. Begitu pula dengan perasaannya, ia tak pernah meminta cinta itu datang. mengusik dan mengubah alur hidupnya yang landai.

 

"Ya Allah, seperti apa hamba harus memaknai rasa ini, haruskah hamba lepas atau menggenggamnya dengan sebelah tangan?"

 

Aira teringat akan dua bair syair yang pernah ia baca pada biografi seorang ulama,

Jika cinta orang yang dimabuk asmara kepada Laila dan Salma, telah m

 

erampas hati dan pikiran.

 

Lalu, apa yang dilakukan oleh orang yang kasmaran, yang di dalamnya mengalir rasa cinta kepada Yang Maha Tinggi?"

 

Dalam sebuah abad, cinta Majnun terhadap Laila menunjukkan bahwa Majnun akhirnya mati karena cintanya kepada Laila. Qarun mati oleh cintanya kepada harta benda. Fir'aun mati karena cintanya kepada kedudukan. Tapi Hamzah, Ja'far, dan Hanzhalah mati karena cintanya kepada Allah. Aira ingin menjadi salah satu yang hidup dan mati karena Allah. Termasuk dalam hal mencintai, ia ingin mencintai seseorang karena Allah.

 

"Mudahkan, ya Allah?" gumamnya pelan.

 

Suasana di dalam mobil perlahan menjadi hening. Namun tak bertahan, Aira terhenyak saat mendapati Hanif membalikkan arah.

 

"Lho kok malah balik arah?" tanya Aira penasaran.

 

Hanif menoleh sekilas. "Bagaimana mau pergi jika pakaian kamu seperti ini?" Ia menunjuk bagian bawah gaun yang dikenakan Aira, hampir selutut basah, belum lagi bercak-bercak lumpur yang tampak menodai. Aira sedikit belingsatan.

 

"Maaf," gumam gadis itu pelan.

 

"Lho, kok minta maaf. Kamu nggak salah kok?" jawab Hanif berusaha mendamaikan kemelut dihati gadisnya.

 

"Harusnya, jika tadi Aira ikut bareng Pak Karyo, tentu sekarang sudah di rumah Mas Hanif 'kan?" sesal Aira.

 

"Hai, kenapa menyesali sesuatu yang sudah lewat?" Hanif menoleh sejenak, "nggak ada satupun kejadian di dunia ini yang luput dari perhatian Allah, yang terjadi malam ini adalah bagian dari skenario hidup kita. Setidaknya., Mas sekarang tahu bahwa bukan Mas saja lelaki yang mencoba mendekatimu."

 

Aira menoleh seketika. “Mendekati?”

 

"Heeh. Yang tadi itu, lagi ngedekati kamu ‘kan?”

Aira tampak bingung, harus menjawab bagaimana pertanyaan Hanif tersebut. Ia hanya menunduk.

 

“Boleh nggak, Mas tanya sesuatu?"

 

“Mas Hanif mau nanya apa?”

 

"Apa kamu menyukainya?"

 

Tatapan sendu Aira seketika membeliak. Haruskah ia jujur? Sesaat keduanya kehilangan kata-kata.

 

"Lo, kok nggak dijawab? Biasanya diam itu punya dua arti lo, iya atau bukan. Kira-kira jawaban atas pertanyaan Mas tadi iya atau bukan?”

 

Lelaki itu menajamkan tatapan mata. Ada beribu tanya yang tersirat dari sorot hitam legamnya. Aira benar-benar kelabakan.

 

 Mungkin ia tak bisa menjawab pertanyaan Hanif kali ini. Setidaknya sampai dirinya benar-benar bisa membaca perasaan dengan pasti.

 

"Aira ...?" panggil Hanif lembut.

 

"Ah, lupakanlah ... sebenarnya ada yang lebih penting yang akan Mas sampaikan sama kamu?"

 

“Mas mau ngomong apa?”

 

Hanif menarik napas panjang. “Mas mau melamar seorang gadis.”

 

“Apa, melamar? Emang, Mas Hanif mau ngelamar siapa?”

 

Lelaki itu menoleh ke arah Aira sambil tersenyum. "Mas namakan dia gadis bermata bidadari, dia cantik dan shalehah. Menurutmu, Mas bakalan diterima nggak, ya?”

 

Aira tersenyum hangat. “Insya Allah, kalau yang ngelamarnya seperti Mas Hanif ini, Aira yakin bakalan diterima. Mas jangan ragu deh, segerakan jika tak ingin timbul fitnah?”

 

“Benarkah?”

 

“Iya, Mas Hanif.”

 

“Semoga dia tak menarik kata-katanya, “Hanif mengeluarkan sebuah kotak beludru dari saku celana,”Bismillah. Humaira ... maukah kamu menikah dengan Mas?”

 

Deg!

 

Aira tercengang. Seketika jantungnya seakan berhenti berdetak, cardiac arrest. Aira menarik napas cepat, mengembalikan aliran darah yang seolah ikut terhenti. Antara yakin dan ragu, Aira menelan saliva.

 

Bahagiakah dirinya? Atau sekadar tak menyangka bahwa setelah bertahun-tahun penantian panjang, akhirnya Hanif malah datang dengan sebuah lamaran?

 

"Mas Hanif, melamar Aira?"

 

“Iya, Mas melamar kamu menjadi istri Mas seumur hidup, maukah kamu menerimanya?”

 

‘Kenapa ini? Ada apa dengan hatiku?’gumam batin Aira.

 

Harusnya ia berbahagia, penantian panjang berbuah manis. Bukankah seorang gadis sangat menginginkan dilamar lelaki yang diincarnya bertahun-tahun. Tapi, ada apa dengan perasaan Aira? Benarkah cintanya telah berpaling? Sementara bertahun-tahun, ia sudah menghabiskan waktu untuk menyirami tunas-tunas cinta yang demikian besar?

 

 Semudah itukah tunas tersebut mati, apakah tersebab oleh si empunya yang tak pernah menyirami, atau justru ada tanah lain yang terlihat lebih subur?

 

A

 

ira mencoba untuk tersenyum, meski hatinya berkata lain. Dilihatnya Hanif membuka kotak berisi cincin berlian dengan permata biru di tengahnya, sangat indah dan elegant.

 

"Maaf jika lamarannya terkesan tidak formal. Sejujurnya, Mas ingin menyampaikannya pada acara malam ini, di hadapan kedua orang tua Mas juga ibumu, tapi Allah berkata lain. Jika kamu tak keberatan, Insya Allah besok, Mas akan minta orang tua Mas untuk bersilaturrahmi ke rumahmu," ucap Hanif dengan binar bahagia yang tak dapat ditutupi.

 

Mulut Aira masih menganga. "Emm ... Mas, Aira, sangat terkejut dengan lamaran Mas Hanif ini. Aira, tidak bisa menjawabnya sekarang. Beri Aira waktu untuk berpikir Mas?”

 

Hanif menghela napas. “Berapa lama?”

 

“Satu bulan.” Aira benar-benar bingung, apakah satu bulan cukup untuknya membaca perasaan sendiri. Namun, ia tak mungkin menangguh lebih lama.

 

Hanif memaksa untuk tersenyum. Tadinya ia begitu yakin lamarannya akan diterima. Namun, lelaki di swalayan itu ... mungkin, ialah menjadi penyebab terhambatnya lamaran ini. Atau bahkan pernikahan yang ia harapkan tidak akan pernah terjadi sama sekali. Entahlah.

 

Di luar, hujan turun semakin deras. Disaat dentingannya terdengar begitu menenangkan, namun dua sejoli itu nampak gelisah tak tenang. Ada harap yang berbeda yang teriring diantara tetes yang kian lama kian berderai.

 

*HUMAIRAH*

 

 _Part_5_

 

 

"Runtuhnya Pertahanan Hati"

 

 *Seburuk-buruknya pikiran adalah berprasangka.*

 

Jam kerja telah usai. Semua karyawan sedang bersiap-siap untuk kembali ke rumah masing-masing. Namun, seorang lelaki berkemeja batik tampak sibuk melirik ke luar jendela. Sesekali ia meneguk air mineral yang tinggal seperempat lagi di dalam botol.

 

Harapannya akan kehadiran seseorang tak kunjung terkabul.

 

Lelaki itu menghela napas, hingga tak satu orangpun lagi ada yang bersamanya, yang ia harap benar-benar tak menunjukkan batang hidung.

 

“Kemana dia?” Reza memasukkan kembali kartu yang ada di tangannya ke dalam laci.

 

Sambil meraih kunci mobil, ia menggeser layar ponsel, menerima panggilan telepon dari seseorang.

 

[Assalamualaikum, Mbak?]

 

[Oke, aku kesana]

 

Embusan angin masih menusuk kulit. Sisa-sisa dingin tumpahan air dari langit semalam masih terasa membekukan aliran darah.

 

Aira meraih jaket menutupi tubuhnya yang sudah mengenakan seragam berwarna hijau. Seperti biasa, ia mengeluarkan motor matic kesayangan dan siap melaju menuju sekolah sang keponakan.

 

Tanpa terlupa, di sepertiga perjalanan, matanya selalu mengerling ke sebuah rumah yang terletak di pinggir jalan.

 

Mulut bisa saja menipu, tapi hati takkan bisa berdusta. Yang ia niatkan tempo hari untuk tak bertemu Reza memang ia lakukan, tapi untuk berhenti berharap akan melihat sosoknya, sampai detik itu tak dapat dipenuhi seutuhnya.

 

Masih saja ada harap yang tercipta, akan bisa melihat sosok Reza setiap hari, meski itu secara diam-diam.

 

Aira melambatkan laju motornya, ketika ia dapati dari rumah Reza keluar seorang perempuan cantik berpakaian syari. Tiba-tiba saja, dadanya bergemuruh hebat.

 

Rasa cemburu seketika menghujam palung hati. Sebuah rasa yang tak pantas, sebab antara dirinya dan Reza memang tak ada ikatan sama sekali. Lagipula, bukankah Hanif tengah menunggu kejelasan akan lamarannya tempo hari?

 

Namun, menolak rasa itupun seperti berharap bisa terbang dengan kedua tangan. Inikah akhir dari rindu yang berduyun-duyun di dada?

 

Aira bergumam dalam hati. “Mungkin dialah calon istri Mas Reza? Cantik sekali ... sangat pantas?” Ia mulai membandingkan wanita itu dengan dirinya.

 

Rasa penyesalan datang begitu saja tanpa diminta. Berbagai pikiran seakan dibisik untuk dijejer satu persatu. Aira bahkan ingin menertawai dirinya, yang pernah berharap suatu saat bisa melukis bahagia bersama Reza.

 

Matanya kini benar-benar berembun, jika tak memikirkan ada Abi di sisinya, ia sudah membiarkan tangisan itu berderai.

 

Malam semakin larut, setelah terbangun untuk shalat tahajud, Aira malah tak bisa lagi memejamkan mata. Ingatannya masih berkelebat pada perempuan cantik yang ia lihat tadi di rumah Reza.

 

“Apa benar perempuan itu calon istri Mas Reza? Bisa saja kan cuma seorang teman, kakak atau saudara?” Aira berusaha menepis perasaan buruknya terhadap Reza. Sesaat, ia melirik gamis pemberian Hanif yang tergantung di samping lemari.

 

“Maafkan Aira Mas. Aira ... mencintai Mas Reza,” ucapnya sambil menyeka sebulir kristal bening yang mengalir di pipi.

 

Gadis itu baru tahu, rasa rindu bukan saja merampas kesadaran, juga membuatnya ingin amnesia. Lupa segala dan hanya ingin mengingat yang dicinta seorang.

 

Untuk meredam gejolak itu, Aira bertekad akan menemui Reza esok hari. Bukankah membuktikan lebih baik, daripada memendam seorang diri. Berkata jujur lebih diutamakan daripada berkata dusta, benarkan? Aira berharap semoga esok ada petunjuk pasti akan jodohnya.

 

Pukul delapan pagi, Aira telah sampai di depan Bank tempat Reza bekerja. Untung hari ini ia off dinas, jadi bisa menuntaskan inginnya tanpa teringat ada pasien dalam tahap persalinan tengah menunggu.

 

Dengan busana syari polkadot kesayangan berwarna hitam, berdasar putih, Aira tampil anggun dengan sebuah  hijab instant menutupi dada. Senyumnya ranum menghiasi bibir. Ia sudah mengambil nomor antrian dan duduk di bangku paling depan.

 

Perlahan ia menarik napas, membayangkan sesaat la

 

gi akan berhadapan kembali dengan lelaki pemilik ceruk di pipi kanan.

 

“Ehm, pertama, tanyakan ATM-nya dulu, setelah itu basa basi tanya perempuan kemarin.

 

Hufht ... kok jadi deg-degan gini, ya?” lirih Aira  sambil meremas-remas jemari tangan.

Aira masih menanti kehadiran CS yang duduk di bangku pertama. Sudah sepuluh menit berlalu, namun bangku itu masih terlihat kosong.

 

‘Nomor antrian dua, silahkan ke counter dua!” Aira menghela napas. Nomor antriannya telah disebut, tapi tidak untuk duduk di depan Reza. Melainkan di hadapan seorang wanita di counter dua.

 

“Silahkan duduk Mbak?”

 

Aira mengangguk dan menarik kursi untuk bisa menyandarkan bahu sejenak. Menahan rasa gugup ternyata lebih melelahkan dari menolong persalinan sehari semalam.

 

“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” tanya CS cantik pada Aira. Gadis itu terhenyak. Namun segera bisa mengendalikan situasi.

 

“Beberapa hari lalu, saya sempat meminta bantuan Pak Reza untuk memperbaiki ATM saya yang rusak. Tapi karena kesibukan, baru hari ini saya sempat datang untuk mengambil kartu itu. Pak Reza kemana ya, Bu?”

 

“Wah, Reza? Aduh coba saya telpon dulu ya. Nggak biasanya dia telat dan nggak kasih kabar?” Wanita di hadapan Aira tampak sedikit panik. Beberapa kali ia memencet nomor yang sama, namun selalu saja dijawab oleh call center.

 

“Kang ...?” Wanita itu memanggil seorang sequrity yang sedang berlalu di hadapannnya.

 

“Reza ada nelpon Akang nggak kasih kabar kalau nggak masuk atau apalah?”

 

Lelaki berpakaian seragam hitam putih itu menggeleng. Aira mengembuskan napas kasar, kembali pikirannya dirasuki bisikan-bisikan aneh. Sudah tentu yang terbesit tak lain mengenai dugaan bulan madu Reza.

 

“Kemana ya, anak itu?” gumam wanita di hadapan Aira, namun lirih suaranya masih bisa di dengar Aira dengan jelas, “apa jangan-jangan hari ini ia sedang akad nikah ya, kok nggak ngabar- ngabari?”

 

“Akad nikah? Ya Tuhan, ini kabar palsu atau asli?” Rasa getir kini mulai kembali memenuhi ruang hati Aira. Ia berusaha tetap duduk tegak meski yang ia dengar barusan, terlepas dari benar salahnya, sudah berhasil membuat tulang-tulang Aira lolos dari persendian.

 

“Oh, Pak Reza sedang cuti menikah ya, Bu?” Aira memastikan yang ia dengar barusan meski tiap kata yang keluar seakan mampu mengoyak dadanya.

 

“Eh, hehehe ... kali aja Mbak, ‘kan dia duda keren incaran banyak perempuan! Ih, owalah kok jadi ngomongin Reza. Gini aja Mbak, tinggalkan nomor handphone Mbak di kertas ini. Jika nanti Reza datang, saya suruh langsung hubungi situ ya, bisa?” jawab perempuan itu.

 

Aira hanya mengangguk lesu sambil menulis nomor handphonenya di notebook. Pias kecewa tergambar jelas pada raut wajah gadis itu.

 

‘Sekarang sudah jelas, cintaku bertepuk sebelah tangan.’

 

Aira menghidupkan motor maticnya, di balik helm yang menyelubungi seluruh kepala, ribuan air mata tak tertakar tumpah bak air hujan membasahi bumi. Meski tak mampu menghapus, namun cukup membuat luruh sesuatu yang terasa beku karena cemburu.

 

***

 

Siang itu sepulang Abi dari sekolah, Aira memberanikan diri bertanya perihal Reza, meski sejujurnya rasa malu tak dapat ia sembunyikan.

 

"Bi, teman kamu si Abhizar itu, sekolah nggak hari ini?"

 

"Owh Abi, udah lama dia libur, Bun."

 

"Oya?"

 

"Katanya sih keluar negeri, nggak tau deh kemana dan mau ngapain?"cerita Abi. Tangannya sibuk mengeluarkan bungkusan makanan yang ada di dalam tas.

 

Lagi-lagi, Aira hanya bisa menelan saliva. Ia tak bisa mencegah kegundahan yang semakin membuncah.

 

“Sudah! Harusnya aku berhenti berharap. Dia bahkan tak menghubungiku, padahal ATM masih di tangannya!” gerutu Aira, antara sedih dan kesal.

 

Tanpa basa basi ia berlari ke kamar, dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Perlahan tanpa ia sadari air mata berderai di tiap-tiap sudut.

 

"Ah, kenapa harus menangis?" Rasa cemburu tiba-tiba kembali membalut jiwanya, teringat akan wanita yang tempo hari pernah ia lihat di rumah Reza. Mungkinkah Reza dan wanita itu menikah?

 

"Bodoh sekali aku berharap lelaki itu datang menyatakan perasaannya," keluh Aira sembari mengusap airmata.

 

"Nduk, kamu kenapa?” tanya sang ibu sembari berjal

 

an mendekat. Aira yang kaget akan kehadiran sang ibu segera mengusap wajah.

 

“Hanif menyakitimu?"

 

Aira memberanikan diri menoleh, ia ragu untuk menceritakan perasaannya. Karena jelas, ini bukan tentang Hanif. Tapi, memendam seorang diripun ia tak mampu.

 

"Aira ... tak bisa menerima Mas Hanif, Bu? Aira tidak menyukainya?” lirih gadis itu berucap, sang ibu tampak terkejut.

 

"Ada apa ini, Ra? Apa yang membuatmu tidak menyukainya? Dia tampan, kaya, kuat ibadah, lulusan Maroko? Kamu sadar nggak mau menolak lamaran siapa?”

 

Aira menunduk mendengar suara lantang sang ibu. Debar jantungnya terdengar hingga ke telinga.

 

“Nuwun Sewu, Bu. Tapi Aira terlanjur menyukai orang lain?” ucap Aira dengan suara yang bergetar.

 

“Siapa, duda yang baru sebulan kamu kenal itu? Astaghfirullah Ra ...?” Wanita di hadapan Aira menggeleng tak percaya.

 

“Bu, bukankah kita harus menikah dengan yang kita sukai? Aira menyukainya?”

 

“Oke! Apa dia juga menyukaimu? Apa dia melamarmu, seperti yang Hanif lakukan?”

Aira terdiam. Pertanyaan wanita itu seperti hendak membangunkannya dari tidur lelap.

 

“Kamu bahkan diam saat ibu bertanya seberapa seriusnya lelaki itu padamu? Atau jangan-jangan, cintamu bertepuk sebelah tangan?”

 

Aira masih bergeming. Mulai goyah dengan perasaannya sendiri.

 

“Aira ... Aira ... Ibu bukannya tidak setuju kamu menyukai lelaki manapun, tapi harus jelas siapa dan bagaimana sifat lelaki itu. Tapi, coba kamu pikirkan baik-baik, alangkah menyesal jika kamu jadi menolak seseorang yang sangat serius denganmu. Sebagai lelaki, Hanif itu nyaris sempurna. Jangan ragu lagi anakku, Ibu yakin kamu tidak salah memilihnya.” Sang Ibu berusaha meyakinkan putrinya. Aira menengadahkan wajahnya yang tertunduk.

 

“Buka hati kamu Aira, jangan ikuti perasaan yang salah, siapa tahu itu datangnya dari setan. Tapi ikutlah kebaikan. Boleh jadi sekarang kamu tak suka pada Hanif, tapi setelah bersama, rasa itu perlahan akan muncul dengan sendirinya. Saat itulah kamu akan menyadari, bahwa apa yang ibu katakan sekarang tidak pernah salah.”

 

Aira tergugu, perkataan sang ibu begitu menyentuh kalbunya. Ingin ia menyangkal keadaan, andai Reza datang melamar, tentu kebahagiaan akan sempurna.

 

"Nduk, dengar ya, memilih jodoh bukan seperti membeli baju, nampak dimata indah, cocok harga langsung beli. Memilih jodoh itu harus relevan, dilihat dari berbagai aspek, terutama agamanya,biar nggak menyesal nanti saat sudah bersama dalam membina rumah tangga?"

 

“Jika kamu menyayangi Ibu, terimalah lamaran Hanif. Hanya itu Ra, permintaan Ibu."

 

Wanita itu menggerakkan kedua tangannya untuk merengkuh sang anak. Aira sedikit lebih tenang, merasa ada kekuatan dan kepastian yang dialirkan sang ibu melalui dekapannya.

 

Meski ia tahu, rasa itu takkan bertahan lama. Karena sesungguhnya, ia goyah. Cinta untuk sang duda terlalu terpatri di dalam dada.

 

“Jika ini takdir-Mu ya Allah? Hamba akan belajar ikhlas dan sabar. Meski diri ini yakin, dalam setiap sujud di sepertiga malam, hanya wajah lelaki itu yang selalu muncul ....”

 

Sepeninggal sang ibu, gadis itu perlahan bangkit. Menyirami mukanya dengan secuput air. Ia ingin menyenangkan ibundanya. Meski bahagia adalah taruhan.

 

Kini Aira mulai yakin, bahwa tak selalu yang datang dalam mimpi adalah pertanda jodoh. Begitu pula dengan Reza.

 

"Tapi Allah, bisakah aku meminta? Pertemukanlah kami kembali?"

 

*HUMAIRAH*

 

 _Part_6_

 

 

 *"Kejujuran Yang Terlambat"*

 

‘Allah, izinkan aku menangis ketika harapan tak kunjung menjadi kenyataan. Bukan karena penolakanku terhadap ujian, namun sebagai penawar akan segala rasa gundah.’

 

Hanif dan keluarga telah sampai di rumah Aira tepat pukul sembilan pagi. Ibunda Aira sempat kaget dengan banyaknya hantaran, yang dibawa calon besan itu. Berkali-kali ia mewanti-wanti agar Aira tak mengecewakannya dan orang tua Hanif.

 

Sementara itu di kamarnya, Aira tampak mematut diri di depan cermin. Tubuhnya yang semampai kini telah berbalut gamis syari berwarna putih. Sebuah selendang warna senada menjadi pelengkap keanggunan gadis itu.

 

Suara derit pintu kamar memalingkan pandangan Aira. Sang ibu masuk  untuk menuntunnya keluar. Dari kejauhan, ia dapat melihat lelaki yang sesaat lagi akan melamarnya tampil begitu memesona, dalam balutan koko putih lengan panjang dipadu celana katun berwarna hitam, lengkap dengan kopiah warna senada. Lelaki itu terlihat begitu sempurna dan berkharisma.

 

Aira berjalan perlahan dan duduk di hadapan kedua orang tua Hanif. Setelah membuka percakapan, acara sakral itu memasuki tahap lamaran.

 

"Saya rasa anak-anak kita sudah saling membicarakan perihal kedatangan kami kemari. Saya selaku orang tua Hanif hanya akan memperkuat apa yang sudah ia sampaikan tempo hari. Besar harapan kami, agar Ibu dan Nak Humaira bisa menerima niat baik ini?”

 

Aira menarik napas panjang, mengatur ritme jantung yang semakin kencang. Melihat raut wajah ibundanya yang penuh harap, tidak ada kata lain yang ingin ia ucapkan. Hanya pengorbanan yang bisa ia beri, untuk membalas segala kasih sayang wanita itu untuknya selama ini. Ia sempatkan melirik calon suaminya sesaat.Tenang, seperti biasa.

 

"Bismillahirrahmanirrahim ... Aira sangat bahagia atas kedatangan Ibu, Bapak dan Mas Hanif di rumah kami yang sederhana ini. Sudah sebulan, Aira menimbang sembari bermunajat pada Allah mengenai jodoh.

 

Pada akhirnya, Aira mendapatkan sebuah keputusan yang mantap. Aira harap semua bisa berbahagia dengan keputusan ini."

 

Raut wajah Aira tak dapat dibaca sempurna oleh Hanif. Ada rasa takut yang tiba-tiba mendera, teringat akan pemuda yang pernah ia temui di swalayan sebulan yang lalu. Hanif menarik napas panjang, ia sudah mempersiapkan diri apapun nanti yang akan diucapkan Aira.

 

"Mas Hanif.” lelaki itu terlonjak mendengar Aira memanggilnya, ”Aira ... bersedia untuk meneruskan hubungan ini, semoga Allah memudahkan segalanya."

 

"Alhamdulillah ...." Terdengar sahutan dari semua yang ada di ruangan itu.

 

"Amiinn ... Insya Allah, Humaira. Terima kasih."

 

Hanif menelungkupkan kedua tangan ke wajah. Terlihat begitu lega, tak merasa sia-sia penantiannya sebulan ini. Ia menatap Aira, gadis itupun tak sengaja menoleh, hingga tatapan mereka bersiborok.

 

Hanif tersenyum sembari mengucupkan kedua tangannya. Aira hanya membalas sikap itu dengan mengangguk. Datar, ia tak menunjukkan sikap bahagia, namun tak pula bergeming nestapa.

 

Sebuah takdir yang sudah tertulis di Lauhul Mahfzud, hari ini kembali terjadi. Dua keluarga akan bersatu dalam ikatan pernikahan.

 

 Keluarga Hanif hanya memberi waktu dua minggu untuk mempersiapkan resepsi.

 

Meski terkesan mendadak, namun ibunda Aira menyetujui. Tak ingin mengulur waktu jika kata sepakat sudah tercipta.

 

Senyum bahagia terkembang di bibir tiap-tiap insan di rumah itu. Hanya Aira yang tersenyum membawa sesuatu yang berbeda.  Jiwanya memang ingin memberontak, tapi akalnya membisikkan sesuatu, sabar. Ia hanya harus belajar meyakini diri, bahwa setelah resepsi pernikahan di gelar dan malam pertama terlewati, hanya Hanif yang akan menari-nari di pikiran, tidak untuk yang lain, apalagi Reza.

 

*

 

"Esok udah nggak boleh lo ngantar-ngantar Abi lagi, kamu harus masuk masa pingitan Aira." Ibunda Aira menmperingati anaknya untuk kesekian kali.

 

"Iya, Bu. Aira janji hari ini terakhir Aira ngantar Abi."

 

"Klinikmu itu juga, mbok ya ditulis ka

 

ta tutup, biar pasien pada tahu kalau kamu itu mau nikah."

 

"Nggih, Bu."

 

“Kerja juga udah cuti,'kan?"

 

"Nggak bisa dulu Bu, paling bisa ambil cuti seminggu sebelum resepsi?"

 

"Huft, jaman sekarang memang sudah kebalik. Kalau dahulu masa ibu nikah, nggak ada yang bisa membantah dan menolak masa pingitan. Tapi kalau sekarang, mau dipingit aja sibuk mikir kerjaan?"

 

Ibunda Aira mendengkus kesal. Sebelum akhirnya berlalu keluar kamar tanpa bicara lagi. Gadis itu mempercepat gerakan, tak ingin Abi terlambat sampai sekolah.

 

*

 

Aira melajukan motornya sedikit pelan, ingat pesan ibu untuk berhati-hati. Ditengah perjalanan, matanya membelalak saat melihat sebuah bendera merah terpasang di depan rumah Reza.

 

"Bendera merah pertanda orang meninggal bukan, ya ?" tanya Aira tanpa sadar.

 

Abi yang mendengar pertanyaan itu menoleh seketika, "mana Bun?"

 

Aira menunjuk halaman rumah teman Abi yang sudah dipenuhi para tetangga. Beberapa mobil sudah terparkir di dalam dan luar pagar.

 

"Kita singgah dulu ya?" Aira berucap lirih. Ia memberhentikan motor dan memarkirnya di sisi jalan.

 

Meski sedikit sungkan, ia beranikan diri memasuki halaman rumah berlantai dua itu. Semua mata tertuju padanya saat mereka berdiri di depan pintu utama.

 

Melihat Reza yang tengah duduk di samping sebuah jenazah yang sudah di tutupi kain kafan, Aira terperanjak.

 

Kekagetannya tak sampai disitu, matanya memanas melihat wanita yang tampak di rumah Reza sebulan lalu, duduk sangat berdekatan dengan lelaki duda itu.

 

Aira membalikkan badan, hendak meninggalkan rumah duka jika saja sebuah suara tak menghentikan langkahnya.

 

"Aira ....!"

 

Gadis itu menoleh, sebelah tangannya masih menggenggam tangan sang keponakan.

 

Reza sedikit berlari menghampir gadis itu. "Sudah lama tak bertemu," ia menatap Aira lama, seolah begitu merindukannya, "masuklah dulu."

 

Lelaki itu menggandeng tangan Abi, membuat Aira tak punya alasan untuk pergi. Ia ikuti langkah Reza melewati kerumunan manusia yang tengah mendegungkan ayat suci.

 

Aira duduk bersebelahan dengan wanita cantik yang tempo hari sempat membuatnya cemburu. Wanita itu tersenyum, dan menjabat tangan Aira hangat.

 

Senyap, tak ada suara selain lantunan ayat-ayat pengantar jenazah menuju liang kubur. Aira tak beranjak, ia tak ingin meninggalkan Reza tanpa ada penjelasan siapa sebenarnya jenazah yang sudah tertutup kain kafan.

 

*

 

Pemakaman telah selesai, hampir tengah hari kala itu. Aira sudah menghubungi guru kelas Abi, meminta ijin karena keponakannya tak berhadir  ke sekolah. Usai pembacaan doa yang di pimpin seorang Ustadz, satu persatu pelayat mulai meninggalkan pemakaman.

 

 Kecuali Reza, Abhi, seorang lelaki bertubuh tegap dan wanita cantik yang belum ia ketahui namanya.

 

Aira dan Abi berdiri di sisi kiri. Menyadari pemakaman telah sepi, gadis itu berbalik, hendak berlalu pergi. Meski di hatinya ada tanya yang belum tertuntaskan. Tapi tentu menuntaskan hal itu saat ini bukanlah waktu yang tepat.

 

Belum dua langkah ia bergerak, lelaki yang masih berjongkok di samping kuburan ikutan bangkit dan berjalan mendekatinya.

 

"Aira?" Reza memanggil Aira hingga langkah gadis itu terhenti..

 

"Bisa kita bicara sebentar?"

 

Aira bergeming, sesaat menoleh ke arah wanita yang tengah menyirami gundukan tanah dengan air bunga. Wanita itu sedikit tersenyum, seolah mengisyaratkan keizinan.

 

"Sebentar saja?" ulang Reza.

 

"Baik?"

 

"Abi mau nggak main sama anak Om sebentar?" rayu Reza pada Abi yang masih menggandeng tangan Aira.

 

“Ya, Om.” Bocah itupun berjalan mendekati sahabatnya yang duduk di sisi pemakaman.

 

Semenjak kejadian tertukar rapot, kedua bocah itu menjadi sangat akrab. Tak segan, Abi bermain di rumah Abhi sepulang sekolah, terutama jika Aira tak bisa menjemput.

 

"Maaf baru memberitahumu, yang dikubur itu, ibuku." Reza mengajak Aira duduk di sebuah kursi panjang di sebelah kanan pemakaman.

 

 Sebuah pohon Kamboja, sedikit menutupi keduanya dari terik mentari yang menyengat siang itu.

 

“Apa?” Aira begitu kaget mengetahui siapa yang sedari tadi ia ikuti proses pemakamannya. Jika saja ia tahu dari awal, tentu lebih khusuk ia melangi

 

wabannya. Maaf jika membuatmu terganggu."

 

Aira memejamkan matanya. Sungai yang membendung hampir meluap. Dengan segera gadis itu bangkit dan hendak menjauh. Namun, lagi-lagi suara Reza meluluh lantahkah perasaannya.

 

"Oya, selamat atas pernikahanmu, semoga kalian berbahagia!"

 

Aira berhenti melangkah, namun kali ini ia tak ingin menoleh. Seperti mengangkat berton-ton bongkahan batu yang dililitkan di kaki, sungguh sulit, namun ia tahu itu adalah rasa yang harus ia bunuh mati.

 

***

 

tkan doa buat wanita yang sudah berpulang ke Rahmatullah itu.

 

"Kira-kira sebulan yang lalu, tepatnya pagi saat saya mau berangkat kerja. Mbak Elsa datang membawa kabar tentang vonis penyakit yang di derita ibu kami. Kakak kandung saya itu meminta saya menyetujui agar ia membawa Umi berobat ke Singapure. Barangkali ada jalan kesembuhan disana, namun semua takdir sudah ditetapkan Allah. Sebulan dirawat, ibu bukan semakin membaik, malah semakin drop dan akhirnya mengembuskan napas terakhir di negara itu."

 

Kelu. Lidah Aira seakan tak mampu bergerak, meski hanya untuk menelan ludah. Wanita yang sempat ia kira istri baru Reza itu ternyata, adalah kakak kandungnya?

 

Rasanya ingin ia memaki-maki diri sendiri, kenapa begitu mudahnya bersuuzan, tanpa mencari bukti lebih akurat. Seketika itu pula hatinya goyah, merasa ada yang salah dengan keputusannya kemarin, soal lamaran Hanif!

 

"Ya, Tuhan ... kenapa hati ini begitu sakit?" Aira membatin. Ia memilih kembali menunduk, menutupi raut wajahnya yang menyiratkan kepedihan teramat sangat.

 

"Selama disana, saya selalu dihantui rasa takut akan kehilangan dua hal ...,“ lanjut Reza masih dengan pandangan nanar ke depan, “pertama, saya sangat takut kehilangan ibu, dan kedua, saya juga takut kehilangan ... kamu!"

 

Aira tersentak kaget. “Jadi, benarkah keyakinanku selama ini, bahwa Mas Reza ...? Astaghfirullah.”

 

Aira memejamkan matanya yang tiba-tiba memanas, berharap buliran bening yang mulai mengenang di pelupuk mata, tak berderai di hadapan lelaki itu.

 

"Maaf Aira, terdengar sangat tidak bijaksana menyatakannya saat ini. Tapi, saya takut akan menyesal jika terus memendamnya seorang diri?" Kini Reza memberanikan diri menatap gadis itu. Hanya sejenak saling bertatapan sebelum kemudian Aira menyadari suatu hal, dirinya telah bertunangan. Gadis itu seketika menunduk.

 

"Saya ingin melamar kamu Aira?" ucap Reza lirih.

 

Aira tercengang, kalimat yang diuatarakan Reza barusan, pernah menjadi harap haru baginya. Namun, tidak untuk sekarang. Dimana pintu hatinya haruslah sudah tertutup.

 

 Bukankah tak halal menawar dagangan yang telah ditawar saudara? Dan dirinya, adalah barang yang sudah dipinang seseorang, yang harusnya terbungkus dan siap dikirim ke pembeli.

 

“Ya Allah, bimbinglah langkah rapuh ini ...?”

 

Sejenak nestapa merajai hati gadis itu. Aira mengerjap berkali-kali. Menahan bulir-bulir bening yang terus mendesak keluar. Rasanya begitu sakit, mengetahui perasaan Reza padanya disaat tak ada lagi harapan untuk menyambut rasa itu.

 

Andai bisa mengukir kembali takdir, tentu ia akan meminta pada Rabb. Demi lelaki yang selalu ada tiap kali dirinya menengadahkan tangan. Agar kejadian ini berlangsung lebih cepat, setidaknya sebelum ia memberi keputusan kepada Hanif kemarin. Tapi demi apapun, itu hanya impian yang tak pernah terwujud.

 

"Maaf, Mas reza ....” Aira memberanikan diri berucap, meski dengan suara lirih bergetar, “Aira... sudah dilamar, Mas."

 

"Astaghfirullah! Maaf ...!” Reza menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi. Ia merahup muka dengan kedua tangan.

 

Kenyataan yang ia takutkan benar terjadi. Gadis idamannya telah bertuankan lelaki lain.

 

“Saya terlambat. Jadi ... kapan pernikahannya berlangsung?” Sekuat tenaga ia berusaha tetap tegar. Meski kecewa menyelimuti seluruh relung hatinya.

 

"Dua minggu lagi, Mas.”

 

Reza kembali menarik napas dalam. Hanya bisa pasrah, tanpa bisa berbuat apa-apa lagi.

 

"Humaira ... itu namamu bukan?"

 

"Iya." Aira mengangguk tanpa menoleh. Tak sanggup jika harus bertemu pandang dengan bola kelam lelaki itu.

 

"Tolong lihatlah saya," pintanya penuh harap. Awalnya Aira ragu, tapi akhirnya gadis itu menuruti kata hati, melawan nurani. Hanya hitungan detik, Reza mampu membaca apa yang tersirat dari beningnya mata gadis yang ia cintai.

 

Bahkan ia mampu membaca kedalaman rasa hingga membuat dadanya terasa di tusuk belati tertajam, menembus hingga membuat jantungnya berhenti berdetak.

 

Aira membuang pandangannya. Reza tahu, bahwa gadis itu juga mencintainya, namun ini adalah salahnya. Dia terlambat.

 

Reza membuang napas kasar. "Pulanglah, saya sudah mendapatkan ja..

 

 *HUMAIRAH*

 

 _Part_7_

 

 

 *"Berharap Meminangmu"*

 

‘Andai bisa, akupun ingin menangis bersamamu. Kemudian kuusap pipi itu dengan lembut. Hanya aku, aku yang berhak menyentuh pipimu? Tapi aku, aku hanya orang asing, yang hanya bisa beharap singgah di hatimu. Sementara darimu, harapan untuk berteduh saja sudah tak mungkin kudapatkan.’

 

Hanif membuka satu persatu surat lamaran pekerjaan yang tersusun rapi di atas meja. Seminggu belakangan, ia sibuk mempersiapkan segala sesuatu menyangkut pernikahan, hingga dirinya tak sempat mengunjungi pondok pesantren yang sudah rampung ia dirikan. Kini, satu-satunya tugas yang tersisa adalah, menyeleksi guru ilmu salaf.

 

Di antara sekian banyak lamaran yang ia buka, matanya sempat membeliak ketika sebuah foto seorang gadis berhijab merah muda tersenyum dengan manis ke arahnya. Ia bahkan tak percaya, jika gadis itu bernama 'Raudhatul Muna'.

 

Dengan segera Hanif membuka sampul berwarna biru itu. Meski dalam dada, desiran hebat hampir tak mampu ia bendung.

 

"Subhanallah ...." Hanif menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi. Ia benar-benar tak menyangka akan bertemu kembali dengan gadis itu. Gadis yang pernah menolak lamarannya empat tahun silam.

 

"Muna, kenapa dia ada di kota ini?" desah Hanif penuh tanya. Ia tatap lekat foto yang tertempel dibagian depan map. Senyum gadis itu, seakan benar-benar nyata.

 

"Jika kamu tahu aku seperti sekarang, menyesalkah karena kau pernah menolak lamaranku dulu?" Sisi lain hati Hanif mulai mengacau pikirannya. Ya, kenyataan dulu memang dirinya tak seperti sekarang, sukses dalam segala hal.

 

Bukankah setiap orang pernah berada pada setuasi yang buruk? Saat kenyataan bertolak belakang dengan harapan, beberapa kali mengikuti persidangan dan tak lulus-lulus, membuat Hanif hampir putus asa. Tapi dirinya tak menyerah. Hanya penolakan Munalah yang membuat ia benar-benar terpuruk.

 

Namun, semua sesuai kehendak Allah Yang Maha Pemurah, ketika hati sudah menyatakan ingin berhenti, disaat itu pula ia mendapat bonus dari Allah. Hanif dinyatakan lulus pada pendidikan sarjananya, bahkan tak lama setelah kelulusannya, iapun dinyatakan lulus pada tes S-2 di Dar Al Hadist Al Hassania, Maroko.

 

Pertemuannya dengan Aira sedikit mengobati kekecewaan lantaran ditolak oleh gadis bernama Muna tersebut. Hatinya yang sempat berantakan, perlahan menemukan kembali keceriaan. Apalagi ketika sesekali ia pulang ke Indonesia dan bertemu dengan Aira. Gadis itu, meski tak seperti Muna tapi cukup kuat inner beauty yang terpancar darinya. Cantik, smart, ikhlas menolong, meski sedikit manja dan pemalu. Itulah Aira dimata Hanif.

 

Hanif tersenyum tipis mengingat betapa hatinya jatuh cinta pada sosok Muna yang cerdas lagi suka berdakwah.

 

Saat ini, entah harus bahagia atau sebaliknya, Hanif hanya akan membiarkan takdir berjalan sebagaimana mestinya. Apapun kenyataan yang akan terjadi, pernikahannya dengan Aira tetap harus berlangsung.

 

“Itu adalah doaku,” lirih Hanif pelan.

 

*

 

Sebuah mobil pribadi berhenti di halaman butik ternama di kota Tangerang. Aira turun bersama sang ibu untuk fitting terakhir pakaian pengantinnya. Kedatangan mereka disambut ramah oleh seorang desainer perempuan bernama Mykaila. Wanita berusia kira-kira empat puluh tahunan itu masih kerabat dekat keluarga Hanif.

 

Mykaila menyapa Aira dan ibunya dengan ramah, kemudian menuntun ibu anak tersebut untuk masuk ke sebuah ruangan yang dipenuhi pakaian pengantin beraneka corak. Setelah membantu Aira mengenakan pakaian pengantinnya, wanita itu mulai mengukur dengan seksama, andai saja masih ada bagian-bagian yang kelihatan kurang indah di tubuh jenjang pelanggannya.

 

"Sempurna!" ucap desainer itu puas akan jahitannya sendiri.

 

Aira mengulas senyuman. Ia kini mematut diri di depan cermin besar berukiran mawar. Kebaya berwarna putih dengan taburan mutiara itu tampak indah di tubuhnya.

 

“Cantik sekali Aira. Kamu akan menjadi pengantin tercantik Hanif,” ucap Mykaila memuji customer yang sesaat lagi akan berkekerabatan dengannya. Ibunda Aira  juga ikut  berdecak kagum.

 

“Saya tinggal ke ruangan sebelah, ya?” ucap desainer itu sem

 

bari menggandeng tangan ibunda Aira. Meski baru pertama bertemu, Mykaila begitu mudah mengakrabkan diri.

 

Sepeninggal dua wanita tadi, Aira kembali berbalik, menatap sosoknya yang begitu anggun dalam balutan gaun pengantin.

 

Perlahan ingatan akan sosok lelaki yang ia harap akan menggandeng tangannya di hari pernikahan nanti, membesit di kepala. Aira menunduk, tiba-tiba saja matanya kembali terasa berat.

 

“Inikah pernikahan yang kata orang begitu membahagiakan?” sebut Aira dalam hatinya. Ia mengusap sebulir bening yang jatuh bebas di sudut mata. Sejenak menengadahkan kembali wajah dan berniat untuk melepaskan pakaian itu.

 

Namun, matanya membelalak. Benarkah yang ia lihat di belakang? Sosok lelaki yang tadi membuat mata Aira basah tengah berdiri gagah, menyeimbangkan diri, agar posisinya bisa bersebelahan dengan Aira di pantulan cermin.

 

Lelaki itu  mengenakan jas hitam, cocok sekali dengan gaun yang ia kenakan saat itu. Lebih tepatnya mereka terlihat seperti sepasang pengantin.

 

Sepersekian detik kedua pandangan mereka saling bertemu di cermin.

 

Deg!

 

Seakan kedua jantung serempak berhenti berdetak di waktu bersamaan.

 

"Kamu cantik!" ucap lelaki itu dari kejauhan.

 

Aira memicingkan matanya, "Mas Reza?"

 

Reza tersentak, tersadar akan yang baru saja terucap adalah sesuatu yang tak wajar, memuji calon pengantin orang. Lelaki itu sangat menyesali ucapannya. Ia segera membelakangi Aira, bermaksud meninggalkan ruangan tersebut. Namun, teguran Aira berhasil menggagalkan langkah Reza.

 

“Mas Reza kenapa disini?”

 

Reza berdiri kaku sambil menarik napas panjang. ‘Kenapa harus menghindar? Bukankah aku sudah melupakannya?’ yakin Reza pada diri sendiri.

 

“Saya ... ingin bertemu dengan pemilik butik ini,” ucapnya sambil kembali menghadap Aira.

 

“Mas Reza kenal sama Mbak Mykaila?”

 

“Beliau adik ibu saya.”

 

Aira tersenyum. “Ternyata dunia ini begitu sempit ya, Mas. Adik Ibu Mas Reza itu saudara Mas Hanif?”

 

Reza tersentak mendengar penuturan Aira.

 

"Hanif? Wajahnya begitu berbinar menyebut calon suami,” batin Reza berkata. Ia semakin menajamkan pandangan. Aira yang mulai tersadar dengan ucapannya, segera mencari pertanyaan lain untuk mencairkan suasana.

 

“Mas Reza mau fitting baju jugakah?”

 

“Buat apa fitting baju, calonnya saja menikah dengan lelaki lain?” jawabnya ketus.

 

Mendengar jawaban yang diutarakan Reza, wajah Aira seketika tertunduk pasrah.

 

 ‘Harusnya tadi aku tak menanyakan hal itu?” Aira membatin. Sementara di hadapannya, lelaki yang tadinya hendak beranjak pergi justru bergerak mendekat.

 

Jantung Aira semakin berdegup kencang saat mendapati langkah itu kini terhenti dua jengkal dari posisinya. Aira tak berani menengadah, ia hanya mampu menatap sesuatu yang sejajar dengan penglihatan.

 

Dada bidang yang terbungkus jas hitam yang rapi. ‘Andai dada ini tempatku bersandar kelak?’

 

 Ada sesuatu yang berhasil membuat dadanya terasa begitu perih. Berada sedekat itu dengan sosok yang sangat ia cintai, namun jelas tak dapat dimiliki rasanya seperti mengemis pada orang fakir.

 

Reza menekukkan wajah, mensejajarkan penglihatan agar Aira bisa membalas tatapannya.

 

"Ya Allah, kenapa wajah ini ada di hadapanku?" Aira meracau dalam hati. Ia ingin berpaling dan pergi menjauh, namun kenapa langkahnya seakan di betot dengan kuat. "Salahkah Allah jika mata ini menatapnya sejenak?"

 

Perlahan tanpa Aira sadari, kelopak matanya mulai digenangi air. Bibirnya bergetar menahan agar genangan itu tak membanjiri wajah.

 

 Namun sekuat apapun usaha, buliran itu tak lagi terbendung.

 

Reza terhenyak mendapati pipi Aira yang mulai dihujani air mata.

 

‘Benarkah gadis ini menangis karenaku? Oh Allah ...’

 

“Hei? Kamu kenapa menangis?”

 

Ia menggerakkan tangan hendak mengusap bulir bening yang mulai bertetes di pipi gadis manis impiannya. Namun, Reza tahu, dirinya tak berhak melakukan hal itu. Hanya selembar tissu yang yang kini mengarah ke hadapan gadis itu.

 

"Sepertinya Tante Mykaila tahu jika saat fitting baju, banyak gadis yang akan menangis bahagia.” Reza berusaha bersikap garing.

 

Sejujurnya ada sesuatu juga yang berhasil mengiris-iris kulitnya sep

 

anjang deraian air yang mengalir di pipi Aira.

 

Gadis itu menengadah. “Siapa yang menangis bahagia?” lirihnya dalam hati sambil meraih tissu dan mengusap wajah.

 

“Makasih.”

 

“Jangan menangis lagi, ya? Jika kamu menangis, ada seseorang yang juga akan ikut menangis.” Reza menarik napas sejenak, “tersenyumlah, karena jika kamu tersenyum, banyak orang yang akan bahagia. Termasuk saya.”

 

Aira tergugu. Betapa istimewanya lelaki itu, tapi ia hanya bisa mengikhlaskan, siapapun kelak yang akan bahagia hidup bersamanya.

 

Sekali lagi Aira memberanikan diri mencuri pandang menatap Reza yang justru membuang pandangan ke arah lain. Gurat ketampanannya begitu memancar, membius penglihatan Aira. Ia benar-benar tertegun akan Maha Karya Allah yang nyaris sempurna itu.

 

“Astaghfirullah ....”

 

Diantara pikiran yang tengah membalut jiwanya, terdengar sebuah suara yang membuat Aira seperti lupa cara bernapas.

 

“Ibu?”

 

Wanita itu berjalan mendekati Aira. Dengan penuh tanya ia menoleh ke arah lelaki yang berdiri di samping anaknya. Reza membungkukkan tubuh, memberi hormat pada wanita yang sangat ia harap bisa menjadi mertuanya itu, dahulu.

 

"Kamu teman kerjanya Aira?" tanya Ibunda Aira dengan sorot mata tajam.

 

"Bukan, Bu. Saya Reza, saya ayahnya teman Abi, cucu ibu."

 

"Owh yang rapotnya ketuker itu, ya?"

 

Reza mengulum senyuman. "Benar, Bu.”

 

"Seminggu lagi Aira akan menikah. Kalau ada luangan waktu, datanglah bersama keluarga."

Reza bergeming sejenak, melebarkan dada untuk sesuatu yang begitu memerlukan keikhlasan. "Insya Allah, Bu."

 

"Yasudah, Ayo kita pulang Ra. Tidak baik seorang gadis yang hendak menikah bersama lelaki lain di tempat umum," ucap sang ibu sembari menarik tangan anak gadisnya.

 

Reza terhenyak. Perkataan ibunda Aira seakan menampar kuat angan-angan yang pernah ia bangun."Selamanya kamu hanya sebatas harapan. Mencintaimu seperti mendaki gunung tanpa puncak. Sekuat apapun usahaku, tetap takkan membuahkan hasil. Aku akan menjauh darimu, Aira. Semoga ini adalah cara terbaik membunuh rindu yang tak bertuan?"

 

***

 

"Janjiku, setelah ini aku tidak akan pernah lagi menemuimu, sengaja atau tidak. Jika janji itu telanggar, maka aku bersedia mengiris tangan sebagai bukti, bahwa aku bersungguh akan melupakanmu."

*HUMAIRAH*

 

 _Part_8_

 

 

 *"Pernikahan Yang Tak Diinginkan"*

 

Bila HambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka Aku adalah dekat ...’ (Al Baqarah,186)

 

Reza menatap sebuah undangan berwarna keemasan yang tergeletak di atas meja. Matanya sibuk memperhatikan lengkung-lengkung huruf yang dituliskan dengan tinta warna hitam. Jemari tangan terus saja menutar-mutar sebuah bolpoin.

 

Seorang wanita yang tak lain adalah kakak kandungnya melintas di balik pintu. Langkahnya terhenti saat melihat adik semata wayangnya itu duduk sembari termenung. Elsa masuk untuk menghampiri.

 

"Eh, ada duda patah hati rupanya?" Sang kakak mencoba menggoda. Reza bergeming. Hatinya tengah bergemuruh hebat, kehadiran sang kakak malah membuat gemuruh itu semakin menjadi badai.

 

"Siapa yang patah hati? Nggak ada ah." Reza membantah guyonan sang kakak.

 

"Itu, duduk melamun ngelihatin undangan pernikahan, apa lagi kalau bukan patah hati namanya?"

 

"Ck. Ini namanya merenung."

 

"Ih, membantah. Udah, buruan samperin. Terakhir kali lho, tar nyesel!" ucap Elsa seolah tahu perasaan adiknya.

 

Wanita itu bahkan sudah bisa membaca perasaan cinta sang adik pada gadis bernama Aira, sejak pertama kali bertemu.

 

Reza merenung sejenak, otaknya terus berputar sambil mencerna situasi dan perasaan hati. Tak lama, iapun bangkit. Membuka laci dan mengambil sebuah kotak yang sudah terbungkus indah.

 

"Makasih ya, Kak," ucap Reza pada wanita di hadapannya.

 

"Hu um. Sukses yah! Hihihi ...." sahut Elsa sembari berusaha menutupi senyuman.

 

Kini lelaki itu sudah dibalik kemudi. Tekadnya untuk menemui Aira terakhir kali sudah bulat, ia akan menyerahkan sesuatu yang sudah lama ada padanya, dan bahkan mungkin Airapun sudah tak mengharapkannya lagi.

 

***

 

Hanif tengah disibukkan oleh beberapa perias pengantin yang sedang mencoba memakaikan beberapa aksesoris di tubuhnya.

 

Acara akad nikah hari itu memang akan diadakan di rumah Aira, setelahnya dilanjutkan resepsi yang akan dihelat di ballroom sebuah hotel mewah di Kota Tangerang.

 

Sebuah pesan whatshapp masuk ke ponselnya. Ia mencoba membuka pesan tersebut. Dari semalam tak terhitung berapa banyak pesan yang masuk untuk sekadar mengucapkan selamat.

 

Namun, kali ini melihat layar ponsel persegi di hadapannya itu, mata elang Hanif membelalak. Deraian kebahagiaan menghujam tubuhnya.

 

[Barakallahulakuma Wabaraka ‘Alaikuma Wajam’a Bainakuma Fi Khair. Selamat menempuh hidup baru Mas Hanif, semoga SAMARA]

 

Hanif mengucek-ngucek kelopak matanya, tak yakin dengan apa yang ia baca barusan. Ia memang sempat menghubungi gadis itu kemarin, menyampaikan perihal penerimaan lamaran kerja sekaligus mengundang pada pesta pernikahannya.

 

Namun pesannya tak ditanggapi. Kenapa hari ini tiba-tiba rendah hatinya mengirimi pesan?

 

[Terima kasih. Kehadiranmu sangat diharapkan] balas Hanif.

 

[Maaf. Jangan terlalu berharap]

 

Hanif tak menyangka gadis itu mengirim whatshapp balasan yang ... membuat ingatannya terlempar pada empat tahun silam. Ia mengembus napas kasar. “Salahkah aku meloloskan lamaran pekerjaannya kemarin?” lirihnya.

 

Muna mencari pekerjaan, berarti sangat membutuhkan. Itulah yang sekilas tergambar di benak lelaki berjambang tipis itu. Dan tentu ia harus mengutamakan seseorang yang ia kenal, terlebih yang pernah begitu berarti, dahulu.

 

Tapi kenyataan bakalan setiap hari berhadapan dengannya, membuat hati Hanif mulai goyah. "Akankah aku bisa menjaga cinta untuk Aira?"

 

Hanif menggeleng-gelengkan kepala, wajah Muna seakan menari-nari di dalam benak. Sejujurnya ia ingin mengakhiri berkirim pesan itu, namun sisi lain hatinya berkata jangan. Sekurang-kurangnya ada kata penutup, supaya tidak terkesan sombong.

 

[Yasudah] balas Hanif.

 

Lelaki itu menatap sejenak layar ponselnya, namun notif yang nampak dilayar 'Muna sedang mengetik balasan'. Hanif urung menutup ponselnya dan menanti balasan wa sang gadis.

 

[Saya akan hadir, sebagai ucapan terima kasih telah menerima lamaran pekerjaan saya tempo hari] ditambah emoticon senyum.

 

Kedua sudut bibir Hanif terangkat. Entah kenapa kebahagiaan seperti berlipat ganda memenuhi dadanya. Benarkah kebahagiaa

 

n itu tersebab mampu membaca aura cemburu Muna akan pernikahannya dengan Aira?

 

***

 

Humaira masih bergeming di depan kaca. Bayangan dirinya yang telah berbalut kebaya putih nampak begitu anggun di pandangan. Hijabnya yang berwarna putih dibiarkan menjuntai di bagian depan dada. Terlihat sangat memukau dengan tambahan flower crown berwarna silver.

 

Namun, siapa sangka jika wajah bak bidadari itu, tak menyiratkan kebahagiaan layaknya gadis-gadis lain di hari pernikahan mereka.

 

Siapapun yang menatapnya, tentu akan menemukan kehampaan dari sorot mata yang kuyu.

 

Pernikahan ini buatnya ibarat membangun istana di atas pasir. Setiap waktu bisa saja ombak kandaskan kekokohannya. Begitu pula dengan hati Aira, teramat mudah diombang-ambing, lantaran pegangan yang ia gunakan tak sekuat karang.

 

Sepanjang malam, Aira tak bisa tidur. Ia terus memikirkan dan berusaha menemukan cara untuk menghapus bayangan Reza. Namun, semakin kuat usahanya, justru rasa sakit itu semakin kentara.

 

Aira terhenyak, ia menyadari pintu kamarnya yang tak tertutup rapat perlahan terbuka. Sementara diluar, riuh suasana masih begitu terasa.

 

Nampaknya belum ada arahan tentang sampainya rombongan pengantin pria.

 

Aira menatap sosok yang kini berdiri di depan pintu kamar. "Kak Hanna?" Wanita yang terpaut umur dengannya tiga tahun itu berjalan mendekat. Ia baru tiba dari Kuala Lumpur tadi malam.

 

"Kamu manglingi, Ra?" puji sang Kakak," makasih ya, selama ini kamu udah jagain Abi?"

 

Aira mengangguk kemudian memilih menundukkan wajah. Menyadari sikap Aira yang tak biasa, sang kakak meraih jemari tangan adiknya seraya berkata,"kamu kenapa?"

 

"Kak?" Suara Aira terdengar serak, berusaha mencegah air matanya yang hendak berderai. Sang kakak kebingungan. Namun sedikit banyak bisa merasakan apa yang tengah melanda adik semata wayangnya itu.

 

"Kamu, nggak menginginkan pernikahan ini?"

 

Aira tak menjawab, ia hanya memejamkan mata sambil kembali menunduk. "Astaghfirullah, Sayang... Kakak nggak tahu apa masalahnya. Tapi seorang wanita harus berbahagia dihari pernikahan mereka. Sebab menikah bagaimanapun, harusnya sekali seumur hidup, jangan seperti pernikahan Kakak."

 

Aira menengadah.

 

“Kamu mencintai Hanif ‘kan?”

 

Aira masih bergeming.

 

“Yang Kakak dengar dari Ibu selama ini, kamu menolak lamaran banyak lelaki demi Hanif?”

 

Aira menelan saliva. Memang benar yang diucapkan Hanna. Tapi itu sebelum ia mengenal Reza.

 

Hanna menarik napas. "Ra, pernikahan itu adalah janji suci, yang diikrarkan di hadapan Allah. Bukan suatu hal untuk dicoba-coba. Maka sebelum proses pernikahan berlangsung, Islam menganjurkan calon pengantin untuk taaruf. Mengenal satu sama lain. Agar setelah menikah tidak ada kata menyesal. Kamu sama Hanifkan sudah saling kenal, tapi kenapa yang Kakak tangkap, kamu tak menginginkan pernikahan ini?”

 

Hanna mencoba membaca perasaan adiknya lewat tatapan mata. Namun, tak menemukan sesuatu yang pasti, karena Aira sedikitpun tak mau membuka suara untuk menceritakan perasaannya.

 

“Sering kali seorang pengantin dibuat kacau pikirannya, terutama di hari pernikahan. Karena jin tidak suka melihat dua insan bersatu dalam ikatan suci yang diridhai Allah. Ingat ini Ra,  menikah itu tujuannya untuk menggenapkan separuh agama. Hilangkan semua yang mengusik pikiranmu. Yakin bahwa Allah akan membahagiakan setiap hambanya yang mau melaksanakan salah satu Sunnah Rasul ini.” Hanna mengangkat wajah Aira yang tertunduk, “apalagi yang akan menikahimu itu, lelaki seperti Hanif. Shaleh, lembut, penyayang dan setia. Kamu nggak akan menyesal, Ra. Insya Allah kakak dan Ibu yakin, rumah tanggamu pasti bahagia."

 

Wanita itu membelai lembut pipi Aira. "Tersenyumlah, jangan membuat calon imammu bersedih hati melihat permaisuri hatinya merengut seperti ini."

 

Hanna mencoba membua Aira tersenyum kembali. Hal itu memang berhasil, namun tentu saja senyum yang dipaksakan. Sekadar pencitraan. Sebab bagi gadis itu, tak mudah menghapus cinta yang terlanjur tertanam kuat.

 

"Ohya Ra, kakak mau ngasih titipan ini ke kamu, dari seorang lelaki namanya Reza." Hanna menyodorkan sebuah kotak dengan pit

 

a merah muda terlilit di bagian atasnya.

 

Aira tercengang."Jadi Mas Reza kemari?" lirihnya sambil meraih benda itu dari tangan Hanna.

 

"Jangan dibuka sekarang,  Ra.  Sebentar lagi Hanif dan keluarganya sampai, jadi fokuskan diri dulu ke acara sacral nanti. Jangan lupa terus berzikir dan bershalawat, mintalah pada Allah agar pernikahan ini menjadi yang pertama dan terakhir dalam hidupmu," ucap Hanna yang sedetik kemudian melangkah meninggalkan ruangan itu.

 

Aira segera bangkit, tanpa lama berpikir. Ia berusaha sekuat tenaga menyibak tirai putih berenda yang menutupi seluruh dinding kamarnya.

 

Apa yang dikatakan Hanna memang menembus gendang telinga Aira, namun yang berbisik di hati lebih kuat mengubah kata nuraninya.

 

Tak lagi ia pikirkan bagaimana keadaan hijabnya yang tertarik saat ia meraih gagang jendela kamar dan memaksanya untuk terbuka.

 

Disana ... sepuluh meter di hadapannya, ia menemukan sosok itu, punggung yang lebar dan gagah itu hendak melangkah meninggalkan rumah yang di penuhi bunga. Tapi, selangkah hendak melewati pagar, sosok itu berhenti.

 

Aira merasakan tubuhnya bergetar, degup jantungnya semakin terasa, dan selalu seperti itu jika ia berdekatan dengannya. Lelaki itu ... lelaki yang selalu hadir dalam doanya. Ia berbalik, tak perlu lama, pandangannya langsung tertuju pada Aira.

 

"Aku tak tahu jika rasanya akan sesakit ini, Mas?" lirih Aira pelan.

 

Ingin ia mendekati lelaki itu dan memintanya untuk tetap tinggal. Tapi bagaimana caranya?

 

Aira terus memperhatikan sosok itu yang tak lama terlihat mengusap pipinya. Aira tahu bahwa lelaki itu menangis. Hal yang sama yang tengah  dilakukannya saat itu.

 

Tangisnya luruh berderai, menganak sungai membasahi pipi. Sejenak, ia memejamkan mata, mencoba memahami dan mengikhlaskan keadaan. Namun, semakin ia mencoba, rasa sakit itu semakin berdegup dalam dada.

 

"Andai bisa memilih, aku ingin pergi bersamamu'

 

Perlahan, kelopak mata Aira terbuka. Ia tak lagi mendapati Reza di hadapannya. Lelaki itu telah pergi.

 

Kini dalam kamar pengantin yang penuh bunga, Aira menyadari ada sesuatu yang membuatnya begitu sakit. Ia tahu, bahwa dirinya akan menjalani hari esok dengan rasa ini di dada.

 

*HUMAIRAH*

 

 _Part_9_

 

 *"Rasa Yang Mulai Memudar"*

 

"Sekuat apapun menyangkal, Hanif tetaplah yang telah menyuntingku menjadi istri. Ialah tempat kutujukan segala pengabdian, yang harus kujaga perasaannya. Aku harus marah atau kecewa, saat malam pertama kami, imamku terus bertadarus, hingga akupun tertidur tak menghiraukannya."

 

Aira terduduk lemas di atas ranjang pengantin. Sesegukan sembari menyeka airmata dengan sehelai tissu. Bayangan kepergian Reza terus berputar di memori kepala.

 

Seakan diketuk martil berkali-kali, begitulah yang gadis itu rasa di sebelah kiri kepalanya.

 

 Terlebih dengan segala yang bertahta di tempat terhormat itu. Ingin rasanya ia melepas pakaian dan merebahkan diri di atas kasur. Tapi tentu tak mungkin ia lakukan, sebab di luar terdengar kabar bahwa Hanif dan keluarga telah sampai.

 

Dalam duduknya, Aira menyadari, seseorang datang membuka pintu. Namun dirinya tetap tak ingin berpaling, sembari terus menatap cermin.

 

"Aira, Hanif sudah sampai. Sebentar lagi proses ijab qabulnya segera dimulai. Nanti jika sudah saatnya, ibu akan menjemputmu." Ibunda Aira berbicara di depan pintu, tak melangkah.

 

"Baik, Bu," jawab Aira sebisa mungkin menutupi suaranya yang sedikit berubah serak.

 

 Gadis itu menarik napas panjang, mulutnya mulai berzikir diselingi shalawat, seperti yang dipesankan Hanna. Selang beberapa menit, Aira dengan jelas dapat mendengar Hanif mengijab qabul namanya dengan lantang, dalam sekali helaan napas. Semua mengucap alhamdulillah, kecuali ... dirinya.

 

"Astaghfirullah ...." Aira bergumam pelan.

 

Harusnya ia bersyukur, bukan menyesali takdir? Bukankah segala yang terjadi dalam hidup adalah rahmat?

 

Aira mengelus dada perlahan, "berilah kelapangan hati bagi hamba-Mu ini ya Allah ...."Gadis itu menitikkan airmata saat kedua tangannya menyapu wajah.

 

Tak ada yang lebih menyakitkan yang ia rasa, dari mencintai namun tak bisa memiliki.

 

Hari itu, Aira benar-benar terguncang, cinta seakan membuatnya terlupa, bahwa sangat besar peluang kehilangan jika kita menyerahkan cinta yang demikian besar untuk sesama makhluk.

 

Bahkan, kebersamaan dengan makhluk yang dicintai sekalipun berpeluang mengalami perpisahan. Begitu pula perasaan ingin memiliki, bukan kewajiban Allah menjadikan dua orang yang saling mencintai untuk memiliki. Namun, qadarullah makhluk ciptaannya, hanya Allah jua yang tahu mana yang terbaik.

 

Meyakinkan diri bahwa setiap cobaan yang diberikan kepada manusia, tak lain hanya ingin meningkatkan derajat di sisinya, adalah jalan menuju kebahagiaan. Insya Allah.

 

Memang berat, tapi inilah hidup, bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Kini Aira berusaha memendam kenyataan pahit cintanya sekuat tenaga. Ia berharap, kerelaan hatinya ini akan berbuah manis. Yakni kebahagiaan bersama Hanif.

 

Perlahan Aira mengingsut air mata yang menetas. Membiarkan ibundanya menggandeng tangan menuju ruang ijab qabul. Di sana, lelaki tampan mengenakan beskap berwarna putih tampak tersenyum menyambut kedatangan sang istri.  Yaitu, dirinya.

 

Aira menatap sekilas wajah Hanif, yang tengah menyalami para tamu undangan di gedung resepsi mereka. Betapapun lelaki itu sangat menawan, tetap saja yang terbesit di jiwanya adalah wajah lelaki lain. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepala, berusaha menghapus copyan wajah Reza yang kadung terpatri di benak.

 

Sinar mata gadis itu meredup, hubungan antara keputusasaan dan kecewa yang terpendam.

 

Sebaliknya Hanif tampak berbinar-binar. Senyumnya merekah menyambut para tamu yang datang menyalami silih berganti.

Aira mulai tampak jengah, ia ingin acara itu segera usai. Harapnya bisa segera merebahkan tubuh di atas ranjang, melepas segala lelah juga pikiran yang memenuhi kepala.

 

Gedung luas yang seluruhnya hampir ditutupi bunga Lily itupun tak mampu membuat Aira merasa ingin berlama-lama memandang. Sebab, gadis itu tak butuh kemegahan. Ia hanya butuh tempat bersandar, dan tentu hanya punggung Hanif tempat yang telah ia pilih.

 

Namun, tampaknya lelaki itu terlalu bahagia hingga melupakan sang istri yang sedari tadi berdiri mematung di sisinya.

 

'Lupa atau melupak

 

an diri?'Aira mulai sebal.

 

Hanif menoleh ke arah Aira yang mulai mengibas-ngibaskan tangannya. "Capek, ya?" ucapnya sambil tersenyum. Aira hanya cemberut.

 

"Sebentar lagi, ya?" Lelaki itu menggenggam jemari Aira sejenak, berusaha mengalirkan sedikit kekuatan agar tetap bersabar. Hanya hitungan detik, sebelum kemudian melepas kembali jemari lentik itu untuk menyambut tangkupan tangan seorang wanita cantik.

 

"Selamat ya, Mas?" ucap wanita itu lembut.

Sebuah suara yang membuat Aira seperti tersentil. Mendadak ia menoleh, mencari tahu pemilik suara lembut yang kini tengah menyalami suaminya.

 

"Terima kasih ... Humaira, ini Ustadzah Muna. Dia salah satu guru yang akan mengajar di pesantren. Juga akan membantu kita mengurus di asrama." Hanif mengenalkan wanita di hadapannya pada Aira yang tampak berdecak kagum.

 

"Cantik sekali?" gumamnya dalam hati.

 

Aira menjabat tangan wanita itu, "selamat ya Mbak, semoga Jannah hingga ke syurga." Gadis itu tersenyum sembari menyalami tangan Aira.

 

"Amiinn ...," sahut Hanif dengan binar bahagia. Aira memandangi suaminya yang menatap wanita itu intens. Tatapan yang bahkan tak pernah ia dapati dari awal mereka bertemu.

 

Seperti ada yang mendesir di dada, namun tertutupi karena kekalutan yang tengah melanda jiwa gadis itu.

 

Nampaknya, Aira memang tak ingin peduli, pun di jiwanya masih terus menari-nari bayangan lelaki lain. Meski jujur melihat sang suami bersama wanita itu, Aira yakin satu hal, sepertinya diantara mereka, pernah terjadi sesuatu dahulu. Namun, ia berharap ini hanya sekedar penilaian luar saja, sebab hati sedang tak menentu. Hingga apapun yang ia lihat, pasti hanya akan menambah-nambah daftar kesengsaraan.

 

Sore menjelang, para tamu perlahan meninggalkan gedung hotel satu persatu. Gedung mewah yang masih terlihat segar dengan bunga  hidup itupun kini mulai tampak sepi.

 

Setelah berpamitan pada keluarga, Hanif memandu Aira memasuki kamar pengantin mereka di hotel itu. Sebuah kamar yang di desain khusus olehnya. Indah, terutama ranjang pengantin yang penuh taburan mawar merah. Sangat kontras dengan aksesoris lain di sekeliling yang tampak putih bersih.

 

Hanif mendudukkan Aira di atas ranjang, "kamu suka?"

 

Aira mengangguk. Bagaimanapun, gugup tetap mendera, sebab ini adalah kali pertamanya ia sedekat itu dengan seorang lelaki. Namun besar keinginannya agar bisa melalui malam itu tanpa ada kegiatan berarti. Setidaknya sampai perasaan cintanya buat Hanif hadir, meski sebesar kerikil.

 

"Mas, mau bersihkan diri dulu, ya? Habis itu, kita shalat berjamaah." Ragu, namun Hanif memberanikan diri mendaratkan kecupan di kening sang istri, membuat gadis itu gugup hingga menundukkan wajah. Cukup lama Hanif melepas kecupannya. Ada rasa rindu yang berpadu terlepas lewat sentuhan itu.

 

Hanif lalu melepas tangan yang berada di kedua pundak Aira, sembari mengurai kecupan. Kemudian ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri tanpa berkata apapun. Terasa begitu hambar.

 

Sementara Aira masih bergeming di bibir ranjang. Matanya tiba-tiba mengembun, buliran bening kembali memenuhi pelupuk mata.

 

"Andai semua perlakuan ini dari Mas Reza, pasti penuh canda...," desahnya diikuti guyuran air di kedua pipi.

 

Aira melirik ranjang pengantinnya. "Tempat tidur ini, malam ini, sungguh indah, dan amat indah jika dilalui oleh dua pasang insan yang saling mencintai karena Allah. Ampuni hamba-Mu ini ya Allah, yang belum sepenuhnya ikhlas."

 

Aira memejamkan mata, ingatan akan Reza seakan membuat dadanya tercabik-cabik.

 

Pintu kamar mandi terbuka. Aira segera menyeka sisa-sisa air mata yang berlinang di wajah. Rasa ini, biarlah dirinya saja yang tahu. Tak perlu bercerita kepada siapapun, apalagi kepada Hanif.

 

Aira memperbaiki posisi duduknya yang hampir roboh. Sementara Hanif keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapi. Sepertinya ia berusaha keras menghindari kecanggungan jika saja tadi ia memaksa keluar dengan memakai handuk.

 

"Sbersamaegarkanlah dirimu di dalam sana. Supaya kelelahan yang menggelayuti badan, luruh  deraian air," ucap Hanif setelah memperhatikan wajah istrinya ya

 

ng kelihatan murung.

 

Aira buru-buru bangkit, mengikuti titah suami tanpa membantah. Jikalau bisa, ia justru ingin berlama-lama di dalam sana. Supaya terhindar dari segala hal yang bisa membuat air matanya kembali berderai.

 

Hampir setengah jam, gadis itu di kamar mandi. Membuat Hanif yang menungguinya merasa khawatir, hingga ia beranikan diri untuk memanggil.

 

"Humaira ...?"

 

"Sebentar, Mas," jawab Aira dengan suara serak. Ternyata di kamar mandipun, ia masih menyempatkan diri untuk menangis.

 

Setelah memakai kembali jilbab, akhirnya gadis itu keluar dengan wajah menunduk, berusaha menutupi mata yang kentara sembab.

 

"Ehm ...."Hanif mencoba mencairkan suasana. Jujur ia ingin bertanya, kenapa masih pakai hijab, sementara mereka sudah sah secara agama. Tapi melihat dirinya sendiri yang juga masih sama lengkapnya, hal itu jadi urung dilakukan.

 

"Yuk kita shalat," ucapnya sambil berjalan mendahului Aira.

 

‘Beginikah perlakuannya? Ah, bukankah ini yang aku harapkan?’

 

*

 

Usai shalat bersama, Hanif membalikkan badan, memberi kesempatan pada sang istri untuk menyalaminya. Dengan takzim Aira memenuhi kewajiban, mencium telapak tangan suami meski masih dalam keadaan menunduk.

Canggung dan gugup, ruangan itu diliputi dua hal yang sulit diredam.

 

"Mau istirahat terus atau tadarus dulu?" tanya Hanif sedikit menundukkan kepala,  agar bisa mejangkau pandangan sang istri.

 

Jika saja tak memberi pilihan tadarus, sudah pasti Aira memilih istirahat. Kepalanya yang berat serta mata yang perih, meminta untuk segera direbahkan di ranjang.

 

"Aira, bacakan artinya saja ya, Mas?" ucap gadis itu sedikit menengadah.

 

Hanif tersenyum hangat. Detik kemudian ia membuka sebuah mushaf dan mulai melantunkan ayat pertama surat An-Nisak dengan irama salah satu Qari asal Mekkah, 'Misyari Rasyid'

 

Subhanallah, Aira terenyuh mendengar merdunya suara sang suami. Hal itu berhasil membuat jiwanya yang berguncang sedikit lebih tenang.

 

Hanif berhenti diakhir ayat, giliran Aira yang membacakan terjemahannya.

 

"Wahai Manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), Dan Allah menciptakan pasangannya (Hawa) dari dirinya. Dan Dari keduanya Allah menperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak ...." suara Aira tiba-tiba tercekat, netra gadis itu mulai berkaca-kaca.

 

Perlahan, air mata yang sudah memenuhi pelupuk mata luruh membasahi pipi. Hanif terhenyak, segera lelaki itu menggerakkan tangannya untuk menyeka air mata sang istri.

 

"Hei, kenapa menangis?"

 

Aira menggeleng, tak mampu menjawab. Hanya isakan yang mewakili seluruh perasaannya.

 

"Yasudah, jangan diteruskan. Istirahat di sini saja, ya?"Hanif menepuk kakinya yang masih terlipat.

 

Aira hanya mengangguk, meski terasa aneh tapi ia turuti permintaan Hanif. Jauh dilubuk hatinya, ada rasa yang semakin tersakiti.

 

"Maafkan Aira, Mas. Aira tahu kewajiban seorang istri itu apa, tapi Aira tak ingin melakukan apapun malam ini. Aira hanya ingin mengubur bingkai wajah yang begitu membekas di ingatan. Hingga tak ada celah seraut itu menodai baktiku padamu." Batin Aira menjerit kuat. Tapi, sekuat apapun jeritannya, tentu harus ia saja yang bisa mendengar.

 

Perlahan, matanya yang begitu lelah terasa amat berat. Suara Hanif yang merdu, cengkokan yang mengalun indah, membius mata dan pendengaran Aira.

 

Sedikit-sedikit gadis itu mulai meninggalkan alam sadarnya menuju alam bawah sadar yang begitu nyata. Bertemu dengan lelaki impian dan menari bersama dalan kepedihan.

 

Usai menbacakan cerita untuk Abhi, Reza merebahkan tubuh  di sebelah jagoannya itu. Ingatannya masih saja dipenuhi akan sosok Aira. Ingin ia membanting kepala, berharap amnesia hingga melupakan gadis itu. Tapi apa daya, bocah kecil di sisinya, menuntut agar ia terus sadar menemani hidup sepanjang umur.

 

"Pa, Mama kenapa nggak pernah jengukin aku?" Abhi bertanya sebelum matanya tertutup satu jam lalu.

 

Reza menelan saliva, bingung harus bagaimana menanggapi pertanyaan itu.

 

"Mama udah nikah lagi ya Pa, sama orang lain?"

 

Reza tersentak, "darimana kamu tahu? Siapa yang ngajari kamu ngomong be

 

gitu?"tanya Reza sedikit keras.

 

"Bunda Elsa."

 

Reza berdecak sebal. "Anak-anak segini umur, ngapain jujur sih, Kak?"

 

"Pa, kenapa Papa nggak nikah lagi aja? Abi kepingin punya Mama?"

 

Netra Reza kini benar-benar membulat sempurna. "Siapa lagi yang ngajari kamu ngomong begini? Bunda Elsa?"

 

"Hihihi ... Iya Pa? Ayo Pa, kasihin Abi Mama baru, ya?" rengeknya sambil menggoyang-goyangkan tubuh tegap sang Papa.

 

Reza mendesah pasrah. "Kamu serius mau Mama baru?"

 

Anak kecil itu mengangguk kengirangan.

 

"Papa janji akan memenuhi keinginan kamu itu, tapi satu syarat. Kamu harus dapat juara, minimal juara tiga? Gimana?"

 

"Benaran Pa?"

 

"Iya, Papa janji."

 

"Abi juga janji Pa, bakal rajin belajar. Tapi Papa nggak boleh mengingkarinya,  ya?"

 

"Iya, sayang." Reza mengecup puncak kepala Abhi.

 

Kedua jari kelingking mereka saling bertaut. Sebuah janji yang menjadi bongkahan batu besar di hati Reza. Bagaimana jika Abhi bisa memenuhi janjinya? Kemana ia harus mencari wanita yang bisa menjadi Mama untuk anak itu.

 

Perlahan Reza bangkit, menyisir jalan menuju kamar mandi. Hanya pada-Nya, tempat mengadu. Reza sadar, selama ini ibadahnya bukan saja tak sempurna, namun jauh dari kesempurnaan. Ia bertekad, akan memperbaiki diri. Bukankah Allah maha penerima taubat. Ia datang, membawa segenap kerendahan diri.

 

Berharap Allah membuka jalan terbaik untuknya. Juga untuk buah hatinya.

 

*

 

Sementara itu, Aira tersentak dari lelapnya tidur. Perlahan kelopak mata gadis itu terangkat. Wangi mawar menguar ke indera penciumannya. Lembut dan romantis, ternyata ia baru sadar bahwa tubuhnya telah terbaring di kasur pengantinnya bersama Hanif.

 

Ia bahkan tak sadar kapan Hanif mengangkat tubuhnya ke atas ranjang. Sementara di sana, hanya berjarak tiga meter dari tempat ia terbaring, Hanif masih duduk di atas sajadah sembari melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran.

 

Aira menarik napas sembari menutup kembali mata. Rasa perih belum sempurna menghilang. Suara Hanif, membuat kalbunya terbuai. Seakan kegundahannya sedikit terobati kembali.

 

Gadis itu benar-benar tak ingin bangkit, seakan terlupa jika malam itu adalah malam pengantinnya. Perlahan, dua bola matanya kembali terpejam, kini dalam waktu yang lebih lama dari semula. Hingga fajar tiba.

*HUMAIRAH*

 

 _Part_10_

 

 

 *"Semua, Masa Lalu"*

 

 

"Mas Hanif?" Aira memicingkan mata menatap pantulan cahaya yang menerpa seraut wajah khas ketimuran, hidung mancung, dengan bulu-bulu halus memenuhi pinggiran dagu hingga menyentuh bagian bawah telinga. Manik kecoklatan itu menatap lembut ke arahnya sembari tersenyum.

 

"Tidurmu nyenyak sekali, jika bukan karena azan subuh berkumandang, Mas tak tega membangunkan," ucap Hanif sambil mengelus lembut pipi Aira, membuat gadis itu segera bangkit dari tidur dan menyibak selimut tebal yang menutupi sebagian tubuh.

 

Hanif mendekatkan posisi duduknya sejengkal. Hingga tangannya dapat dengan leluasa menyentuh rambut sang istri yang tergerai.

 

Aira dapat merasakan bagaimana lengan kekar itu secara perlahan mengenai rambutnya, hingga menyentuh bahu. Rasanya memang mendebarkan, namun mengapa hatinya begitu menolak perlakuan tersebut.

 

"Ya Tuhan, aku tak menginginkan berada pada keadaan ini ...." Aira membatin gelisah. Jemari tangan kanannya ia gerakkan untuk membawa rambut poninya ke belakang telinga. Seolah ada yang ganjil. Ternyata ia baru sadar, bahwa sebelum tidur, kepalanya masih tertutup mukena.

 

Pikiran Aira seketika dirasuki notif negatif, saat ia tahu bahwa mukena itu tak lagi membalut kepalanya.

 

Segera Aira menundukkan pandangan, memastikan kelengkapan pakaian yang dikenakan. Siapa tahu semalam ia dan Hanif melakukan hal-hal aneh tanpa disadari. Ah, tapi itu tak mungkin terjadi. Sebab ia kenal betul bagaimana sifat Hanif selama ini. Tak mungkin Hanif melakukan sesuatu tanpa minta ijin terlebih dahulu.

 

"Ehm, Maaf, tadi Mas yang buka mukenanya, karena Mas lihat kamu kelihatan gerah saat tidur," ucap Hanif seakan dapat membaca keresahan sang istri.

 

Aira menarik napas panjang, merasa bodoh dengan pikiran ngawurnya barusan. "Owh, nggih Mas, nggak papa ... emm, ma-maaf Mas, Aira kesiangan bangunnya."

 

Aira jadi salah tingkah, juga merasa berdosa. Ia berniat akan meminta maaf pada Hanif, karena telah mencurigai lelaki itu melakukan hal-hal yang semestinya memang dilakukan oleh sepasang suami istri di malam pertama.

 

"Rata-rata pengantin baru pasti terlambat bangun ...."Hanif menggantungkan ucapannya, "bisa karena terlalu capek mengikuti resepsi, bisa juga karena kegiatan lain."

 

Deg!

 

Aira menunduk, ia tahu tidur sepanjang malam di malam pengantin memang suatu hal yang salah. Terlebih tidur tanpa memastikan keadaan pasangan. Tapi mau bagaimana lagi, ia benar-benar belum siap. Daripada berhubungan, tapi yang nampak di mata lelaki lain, bukankah lebih baik tidak sekalian. Pikirnya.

 

"Mas, maaf, Aira ...." Suaranya bergetar, ia tak mampu meneruskan ucapan.  Hanya gerimis kecil yang tampak mulai membasahi pipi.

 

Hanif terkesiap, tangannya ia gerakkan untuk menengadahkan wajah sang istri. Hendak memastikan apakah benar gadisnya lagi-lagi menitikkan air mata. "Kenapa menangis lagi? Mas salah bicara ,ya?"

 

Aira masih menunduk, meski wajahnya telah disejajarkan dengan wajah Hanif

"Aira minta maaf sudah mengabaikan Mas Hanif ...."

 

"Ya Allah istriku Humaira ... Mas nggak bermaksud menyalahkanmu, justru Mas lah yang salah, terlalu asyik bertadarus. Maafkan Mas, jangan nangis lagi,  ya?" Hanif membawa Aira dalam dekapannya. Akhirnya kekakuan diantara mereka sedikit mencair. Lelaki itu memberanikan diri mencium pucuk kepala sang istri.

 

Aira menanggapinya dengan rasa perih yang menjalari sekujur tubuh. ‘Dekapan dan ciuman yang tulus ini, kenapa masih saja membawa jiwaku berlari ke tempat lain?’

 

Menyakitkan sekali rasa itu. Aira merasa hatinya benar-benar rapuh. Akankah selamanya begini. Apa yang harus aku lakukan? Apakah berpura-pura baik adalah penawar atas keputusannya yang salah?

 

‘Ya Allah ... cukuplah aku saja yang tersakiti dengan rasa ini, sampai kapanpun Mas Hanif tak boleh tahu. Lelaki ini ... ia tak bersalah. Semua adalah salahku?’

 

Setelah beberapa menit menumpahkan bendungan yang memenuhi matanya, perlahan Aira mulai tenang. Tak ada lagi air mata, hanya isakan yang kentara. Hanif mengurai pelukan.

 

Meski di dalam dada terasa ada yang mengganjal. Tak mungkin jika tangisan yang

 

begitu pilu ini hanya karena tertidur di malam pertama, pasti ada hal lain yang seakan Hanif bisa membacanya.

 

"Jika kelamaan pelukannya, nanti bisa terlambat bertamu pada Allah. Mas wudhu duluan, ya?" ucap Hanif setelah mengelus pipi Aira.

 

Gadis itu mengangguk sambil memperbaiki rambutnya yang berantakan. Ia paksakan untuk tersenyum, membalas senyuman indah lelaki tampan yang sudah menjadi imamnya kini.

Sejurus kemudian, Hanif berlalu ke kamar mandi.

 

Di dalam ruang tertutup itu, perlahan, langkahnya mendekati cermin besar yang terpajang di samping bathup. Ia menatap wajahnya yang nampak kusam tak bercahaya.

 

"Saya tahu, kita merasakan hal yang sama Humaira. Astaghfirullah ... tak pernah terlintas akan terasa seperti ini. Harusnya memang tak bertemu, jika memang syaitan menjadi penggoda. Hufht ... bahkan, duduk zikir sepanjang malampun tak sepenuhnya jadi penawar."

 

*

 

Usai shalat, Hanif mengajak Aira ke balkon. Menatap indahnya sunrise berpadu dengan pemandangan kota yang masih lenggang dari kendaraan.

 

Cuaca dingin membuat Aira mengetatkan jaket yang ia kenakan. Keduanya masih nampak kaku, meski berdiri berjajar dan menatap satu titik yang sama. Namun, tak ada omongan, hanya embusan napas yang bergerak merambat.

 

"Pemandangannya bagus." Hanif akhirnya membuka percakapan.

 

Aira tersenyum, "Iya. Mas."

 

"Kamu ngerasa nggak, kita jadi seperti baru kenal?"

 

Aira menoleh. "Perasaan Mas Hanif aja kali,"jawab Aira sekenanya.

 

Mendengar jawaban ngasal Aira, Hanif ikut menoleh.

 

Satu detik, dua detik bertahan tanpa berkedip. Seolah ada magnet, Hanif seperti tertarik mendekati Aira. Tatapan mata Hanif kini beralih ke bibir, bibir tipis ranum kepunyaan istrinya.

 

Hanif sedikit membungkuk untuk mencapai permukaan yang tampak mengkilat karena polesan listip tipis itu.

 

Awalnya Aira ingin menghindar, namun sebelah tangan Hanif telah melingkari pinggangnya.

 

Teettt ....!

 

Keduanya tersentak kaget. Hampir saja kedua bibir itu bertemu, sebelum akhirnya bel kamar berbunyi.

 

Hanif tersenyum kikuk. Sementara Aira, hanya menundukkan pandangan, menutupi penyangkalannya atas apa yang hampir saja terjadi.

 

Keduanya masih tak beranjak, ingin melupakan apa yang baru saja menjadi pengganggu. Detik kemudian, bel kembali berbunyi.

 

“Aira buka pintunya dulu, Mas? Gadis itu memilih masuk ke dalam untuk membuka pintu kamar yang sudah beberapa kali dipencet itu.

 

*

 

Seorang bellboy tampak bertengger di depan kamar, ia mendorong sebuah meja yang penuh dengan makanan dengan berbagai variasi.

 

Aira masih tercengang dengan hantaran sarapan yang lebih cocok dimakan beramai-ramai itu.

 

"Ini semua, Mas yang pesan?"

 

"Iya. Tolong diletakkan di sana ya, Mang." Hanif menunjuk ruangan yang sedikit lapang di dekat kaca.

 

Meski sedikit terkejut, tapi Aira menyukai semua ini. "Romantis." Satu kata yang sedikit membuat hatinya bak dipercik air kebahagiaan. Ia tersenyum manis sembari mengikuti langkah Hanif. Keduanyapun begitu menikmati sarapan pertama mereka sambil diiringi alunan musik Qasidah dari grup Nasyid favorit Hanif.

 

***

 

"Humaira, pagi ini kita langsung berangkat ke Kediri, ya. Soalnya, nanti malam diadakan rapat pertama penerimaan santri baru di pesantren," ucap Hanif setelah keduanya selesai menyantap sarapan mereka.

 

"Langsung berangkat hari ini, Mas?"

 

"Iya, Mas rasa bulan madu bisa kita perpanjang di sana." Hanif mengelap mulut dengan selembar kain. "Kamu nggak keberatan 'kan?"

 

"Ehm ...." Ucapan Hanif disambut gugup oleh Aira. Gadis itu berusaha menelan ludah mendengar kata bulan madu terucap dari bibir sang suami. Kenyataan, ia memang mencintai Reza, namun ia pula tak membenci Hanif.

 

 Bukankah sebelum Reza, Haniflah yang ia harap menjadi tempatnya melabuhkan cinta?

 

"Kamu masih mau kita di sini?"

 

"Emm ... itu, ng-nggak Mas, Aira ikut saja gimana kata Mas Hanif. Bukankah sekarang Mas kepala keluarga, jadi Mas berhak untuk mengatur." Aira bersunggut-sunggut menjawab pertanyaan Hanif. Meski sejujurnya, ada banyak pertanyaan yang ingin diajukannya saat itu.

 

"Kamu juga memiliki hak untuk mengatur, karena rumah tangga kan dibangun o

 

leh dua individu yang berbeda."

 

"Iya, Mas. Sebenarnya banyak yang mau Aira tanyakan." Aira menelisik wajah Hanif.

 

"Kamu mau nanya apa, pelan-pelan aja. Mas nggak akan kabur kok?" candanya sambil terkekeh.

 

Aira tersenyum ragu. "Apa setelah hari ini, kita akan menetap selamanya di Kediri?"

 

Hanif menghentikan kegiatannya. Tangan kanan Hanif berusaha mengelus jemari Aira yang masih terlipat di atas meja. "Iya, atau kamu mau Mas mengubah rencana itu?"

 

"Ng-nggak Mas, Aira nggak keberatan kok."

 

"Alhamdulillah ... kalau gitu sekarang gantian Mas yang minta sesuatu sama kamu."

 

Aira menatap tajam manik kecoklatan yang juga mengarah padanya. "Apa, Mas?"

 

"Mas mau kamu berhenti bekerja. Jadilah seorang istri yang hanya mengurusi Mas dan rumah tangga kita. Tapi, nanti Mas janji akan ajukan kamu sebagai kepala klinik di Pesantren. Meski tak sepenuhnya bisa menjadi seorang bidan, tapi setidaknya masih bisa membantu yang sakit dan membutuhkan?"

 

Aira mengembuskan napas perlahan, terasa sakit di dada. Entah itu karena keputusan Hanif agar mereka menetap di Kediri, atau karena ia harus memutuskan untuk membatasi keahliannya. Aira bergeming.

 

"Humaira ... kamu keberatan?"

 

"Nggak Mas. Nggih," jawabnya singkat.

 

Aira kembali mencuri pandang Hanif yang tengah menyesapi kopinya. Meski tak sekarang, namun ia yakin, pasti suatu saat cintanya untuk lelaki ini akan tumbuh kembali.

 

Betapa tidak, segala kelembutan yang Hanif miliki, keshalehahnya, kasih sayang, mengingatkan Aira pada sosok ayahnya yang telah tiada.

 

Barangkali hanya butuh kesabaran. Bukankah batu saja pipih jika terus kejatuhan air. Apalagi hatinya.

 

Detik kini berjalan tak selambat kemarin. Semua sebab rasa ikhlas mulai hinggap di sudut kalbunya. Tentu, rasa ikhlas yang 'kan mengantarnya menuju rumah tangga yang bahagia.

 

*

 

Reza tampak rapi dalam balutan kemeja batik bercorak Mete Hijau. Lelaki itu menyisir rambut tebalnya ke samping, sembari memberikan sedikit pomade water based agar terkesan mengkilap dan basah alami.

 

Pagi ini pikirannya lebih tenang, semalaman ia melakukan sesuatu yang tak pernah ia lakukan seumur hidup. Menghabiskan malamnya dengan shalat dan zikir. Rasanya lebih menyenangkan daripada tidur semalaman tapi saat bangun justru merasa kantuk lagi.

 

"Bismillah." Reza mengganti kata-kata penyemangat paginya. Dahulu, setiap kali bercermin, ia selalu mengatakan pada dirinya, 'nikmati hidup'.

 

Lagi-lagi ia tersenyum pada pantulan bayangannya sendiri. Memang ada bagian yang masih terasa sakit, disudut paling kecil hati. Tapi ia berjanji akan segera mencari penawarnya.

 

*

 

Sebelum berangkat kerja, Reza menyempatkan diri mencicipi nasi goreng buatan sang kakak terlebih dahulu. Sejujurnya bukan tersebab rasanya yang enak, karena jelas Kak Elsa tak jago masak. Ia hanya tak ingin mendapat siraman rohani pagi-pagi jika menolak sarapan yang sudah disiapkan.

 

"Pagi, Sayang." Reza mengecup puncak kepala Abhi yang sudah terlebih dahulu menyantap sarapannya. Ia melirik ke dapur, Elsa tampak masih menggoreng sesuatu. Mungkin saja wanita itu sedang menggoreng udang kriuk untuk dibawa Abhi ke sekolahnya.

 

"Pa, hari ini hari apa?" tanya Abhi saat papanya sudah duduk di kursi makan. Anak kecil itu terlihat begitu bahagia, binar matanya menyiratkan sesuatu sedang begitu dinanti-nanti.

 

"Hari kamis," jawab Reza datar. Ia mulai menyendoki nasi ke dalam mulut.

 

"Emm, tapi tanggal berapa, Pa?"

 

"Sepuluh November 'kan ya? Emang kenapa, Sayang, pagi-pagi nanya tanggal? Ada acara di sekolah?" tanya Reza sembari menyentikkan jari telunjuknya ke hidung sang anak.

 

Abhi semakin antusias, diiringi senyuman yang merekah, ia lalu melempar lagi pertanyaan buat sang Papa, "Pa, ingat nggak, sepuluh November itu hari apa?"

 

"Emm ... hari pahlawan,” jawab Reza sambil menunjukkan ekspresi penasaran.

 

"Selain hari pahlawan, yang Papa ingat hari ini hari apa?"

 

Reza mengernyitkan dahi, mencoba mempraktekkan perintah sang anak, 'mengingat-ingat', lalu ia tertawa. "Hari Papa beli mobil, hari kamu di sunat, hari ...."

 

Bermaksud membercandai sang anak. Namun Abhi malah bereaksi lain. Anak i

 

tu membanting sendok ke piring lalu belari keluar tanpa pamitan.

 

Elsa yang baru sampai dari dapur ikut terperangah, tak menyangka sebegitu cepat perubahan mood sang ponaan.

 

"Abhi, nggak salam Papa dulu, Sayang?" teriak Elsa meski ia tahu anak itu telah berlalu pergi. Ia lalu menatap Reza yang tak kalah bingung dengan perubahan sikap anaknya.

 

"Kamu melupakan sesuatu?" tanya Elsa.

 

"Sepertinya nggak?"

 

"Anak kecil itu marah kalau bukan karena capek dan lapar, ya karena ada sesuatu yang kita lupakan."

 

 Reza mencoba mengingat-ingat sesuatu yang penting yang pernah diucapkannya pada Abhi.

 

 "Ya Allah, hari ini ulang tahunnya Abhi!"

 

"Pantesan aja dia ngambek. Kamu sih kebanyakan mikirin Humaira!"

 

"Mbak ...."

 

"Mbak yang antar Abhi, ya?" potong Elsa.

 

"Biar aku aja, Mbak!" Reza mengakhiri sarapannya. Ia berniat meminta maaf pada sang anak karena telah melupakan hari paling ditunggu-tunggu bocah itu.

 

"Za ...."teriak Elsa.

 

"Apa lagi, Mbak?" Reza berhenti melangkah dan menoleh ke arah Elsa yang memilih duduk di salah satu kursi makan.

 

"Sini bentar deh!"

 

"Apaan sih, aku telat ini?"

 

Elsa bangkit, berjalan mendekati Reza dan menempelkan sesuatu di dadanya.

 

Reza meraih kertas persegi yang menempel di dadanya, sebelum benda itu terjatuh ke lantai.

 

"Namanya Raudhatul Muna. Lulusan UIN Sunan Gunung Djati. Sekarang menjadi salah satu pengajar di ponpres Kediri."

 

"Terus?"

 

"Sabtu ini, kita ke Kediri. Bertemu orangnya."

Reza menatap sekali lagi foto di tangannya.

 

"Udah, cantik itu orangnya. Agamanyapun oke!"

 

"Bukan itu Mbak? Emang dia mau sama duda?"

 

"Za, lelaki itu tidak meninggalkan bekas, sekalipun dia duda sepuluh perempuan. Beda sama wanita!" Elsa berlalu pergi, meninggalkan Reza yang tampak kebingungan. Ia berpikir sejenak, lalu mentatap kembali foto gadis yang bernama Raudhatul Muna itu.

 

Lama ia memandang, namun kenapa sebingkai wajah oval dengan mata sayu itu berubah menjadi sosok yang lain.

 

'Humaira?'

 

*HUMAIRAH*

 

 _Part_11_

 

 

 *"Aku cemburu"*

 

Perjalanan yang hampir memakan waktu seharian itu tak terasa melelahkan bagi Humaira. Hanif, sang suami, terus saja mengajak Aira berbicara masa lalu mereka, hingga bisa sampai ke tahapan sekarang.

 

Hanif juga terus menceritakan tentang keadaan pesantren. Gadis itu sangat bersyukur, sedikit banyak ia mulai memahami tentang situasi pondok, yang sama sekali tak pernah dirasakannya sejak kecil hingga dewasa.

 

Aira juga baru tahu bahwa Hanif sang suami masih saudara dekat dengan KH. Ahmad Dahlan, pimpinan pesantren Darul Falah, tempat dimana mereka akan menetap kini di Desa Paru, Kediri.

 

Tepat pukul lima sore, mobil memasuki pekarangan pesantren yang cukup luas. Aira terlihat begitu berapi-api, matanya celingak-celinguk menatap jejeran bangunan yang bergaya arsitektur modern itu. Dari kejauhan, sebuah bangunan memanjang dengan jendela kaca tampak di bagian tengah, Hanif mengatakan itu adalah kantor induk.

 

Di dua sisi berbeda, ada dua bangunan yang merupakan ruang belajar. Sementara asrama terletak di belakang gedung. Di bagian kiri asrama santriwan, dan di sebelah kanan asrama santriwati. Pesantren itu juga dilengkapi dengan sebuah mesjid besar, yang mampu menampung bahkan hingga ratusan orang di dalamnya.

 

Hanif terus menjalankan mobil mengitari halaman depan kantor dan berhenti di sebuah bangunan yang terletak di sisi kanan asrama putri. Sebuah rumah yang dikelilingi taman bunga kecil. Aira yakin, ini adalah rumah pimpinannya.

 

Hanif turun dan mengajak Aira masuk. Jujur, Aira suka tempat ini. Tapi ia tak dapat menutupi rasa gugup yang tiba-tiba mendera. Bertemu dengan orang-orang baru, biasanya ia bertemu dengan sesama teman sejawat atau pasien juga keluarganya. Disini, ia tidak menemukan hal itu. Justru sepanjang perjalanan, ia hanya mendapati para santri yang berbusana cukup sopan dan tertutup.

 

Meski ragu, genggaman tangan Hanif cukup membuatnya merasa nyaman dan berani melangkah.

 

"Kita masuk ke rumah Kiai Dahlan dulu, ya?" ucap Hanif pada Aira.

 

Gadis itu hanya mengangguk dan ikut saja kemana kaki sang suami melangkah. Tampak dua orang santri berlalu di hadapan mereka sambil tersenyum. Aira membalas tersenyum ke arah santri itu, yang tampaknya baru saja keluar dari rumah Kiai.

 

"Assalamualaikum ...."

 

Salam Hanif dijawab serempak oleh seluruh penghuni rumah. Ramai, Aira bahkan tak mengira jika kedatangan mereka sudah dinanti-nanti. Seorang wanita bergamis besar juga berniqab menyambut kedatangan mereka dengan hangat.

 

"Saya Bu Nyai Badriah, panggil saja saya Umi, seperti panggilan Hanif untuk saya. Semoga kamu betah tinggal di asrama ini ya, Anakku," ucapnya pada Aira.

 

Airapun menyambut uluran tangan itu dengan salam hangat diiringi senyuman. Sementara itu Hanif tampak membaurkan dirinya dengan beberapa lelaki berjubah besar di ruangan yang berbeda.

 

Bu Nyai Bad menuntun Aira untuk berkenalan dengan beberapa ustadzah yang ada di ruangan tengah. Tampak pula ditempat itu ustadzah Muna, yang kemarin sempat dikenalkan Hanif padanya.

 

Lagi-lagi, Aira terpesona pada penampilan gadis ayu itu. Ia tampak sangat anggun dalam balutan gamis hitam yang dipadukan dengan hijab lebar yang terulur menutupi setengah tubuhnya. Aira melirik dirinya, dia memang mengenakan gamis dan hijab, tapi jika dibandingkan dengan ustadzah Muna atau ustadzah-ustadzah lain, dirinya masih tidak ada apa-apanya. Sangat jauh dari kata syari.

 

Tiba-tiba hatinya bergetar, merasa begitu ingin berhijrah diri menjadi lebih baik. Terutama dalam hal berpakaian.

 

"Njenengan masih ingat sama saya,'kan?" sapa Muna setelah berada di dekat Aira.

 

Aira sedikit kaget, karena sedari tadi dirinya sibuk menata hati, "masih."

 

"Alhamdulillah. Kalau butuh bantuan, jangan sungkan bilang ke saya. Insya Allah saya siap membantun jenengan," ucap Muna kemudian.

 

Aira mengangguk. "Terima kasih."

 

Hampir satu jam mereka di rumah itu, dan tanpa disadari Aira terus saja secara diam-diam memandangi Muna. Mulai dari cara berbicara hingga tersenyum, Aira benar-benar menyukai kepribadiannya. Gadis itu tersenyum sendiri, baru kali ini ia be

 

rtemu seorang perempuan yang jika dipandang begitu menyejukkan.

 

Selintas pikirannya dibawa melantur, "kira-kira, sudah ada yang punya belum ya? Uh, pantesnya sih yang seperti Mas Hanif ...," gumamnya.

 

Tak berapa lama, Hanif malah menghampiri dan mengajak Aira untuk berpamitan.

 

Di luar, warna langit semakin jingga, awan yang terang itupun beralih menjadi temaram.

 

Sebelum meninggalkan rumah Kiai,  menuju rumah mereka yang terletak di sebelahnya, Muna memanggil Hanif dan memberikan selembar kertas. Entah apalagi yang mereka bicarakan hingga membutuhkan waktu lebih lima menit buat Aira menanti di teras rumah.

 

Dari jarak beberapa meter, masih jelas tertangkap oleh penglihatan Aira, bagaimana sikap Hanif ketika berhadapan dengan gadis itu. Ia benar-benar kelihatan canggung.

 

Padahal hanya diberikan selembar kertas.

Tanpa sadar, Aira merasa sesuatu membuat hatinya terasa ngilu. Aira menggeleng, mungkinkah ia?

 

Hanif masih di kamar mandi, saat Aira telah selesai memasukkan beberapa pakaian ke dalam lemari. Rumah dengan dua kamar, satu ruang tamu, dan dapur ini, meski tak terlalu luas namun sangat nyaman untuk di tempati.

 

Hanya perlu mengganti tirai penutup jendela, menambahkan lukisan, serta bunga-bunga, rumah ini akan kelihatan sangat indah. Pikirnya.

 

Suara gemericik air kran terhenti saat gadis itu selesai mengeluarkan pakaian dari koper.

 

"Maaf Mas, ini pakaiannya sudah Aira siapkan. Aira keluar saja," ucap Aira sambil menatap sekilas tubuh Hanif yang hanya ditutupi handuk sebatas lutut.

 

Hanif hanya tersenyum, tak mengiyakan juga tak melarang. Sementara Aira, kakinya terus melangkah keluar meski sejujurnya ada yang aneh terasa di dasar hatinya.

 

Di balik pintu,  Aira menarik dan meghembuskan napas kasar. Ia memilih duduk di sofa putih yang terletak di ruang tamu.

 

Tak lama Hanif keluar dari kamar. Lelaki itu sudah rapi dengan sarung hitam dan koko putih, sebuah kopiah hitam membuatnya terlihat sangat menawan."Mau ikut shalat berjamaah?"

 

Ucapan Hanif mengangetkan Aira, dan membuyarkan duduk melamunnya. Gadis itu terkesima melihat sang suami amat berkharisma.

 

"Aira shalatnya dirumah  aja Mas. Belum mandi soalnya."

 

"Yasudah, jika kamu mengantuk, tidur saja duluan. Nggak usah nunggu Mas, takut rapatnya terlambat selesai," ucap Hanif seraya mendekati Aira. Dikecupnya kening sang istri sekilas. Aira tak menolak, tanpa sadar ia mulai menikmati tiap kali bibir itu menyentuh keningnya. Seperti ada sesuatu yang membuat dadanya berdesir.

 

Aira memilih untuk mengantar Hanif sampai depan pintu.

 

Alih-alih nunggu waktu azan berkumandang, gadis itu malah merebahkan tubuhnya di atas kasur. Lembut bantal juga harum aroma mawar yang menguar dari selimut tebal di pipinya, membuat kelopak mata Aira perlahan tertutup. Hanya semenit, gadis itu telah meninggalkan alam sadarnya.

 

*

 

Aira tersentak dari tidurnya, entah berapa lama ia sudah tertidur. Ia bahkan tak menyadari kapan Hanif pulang dan merebahkan diri di sisinya.

 

"Ah, ceroboh sekali. sudah dua kali aku ketiduran. Jadi nggak bisa nungguin Mas Hanif pulang!" Aira bergumam kesal. "Tapi bukannya malah bagus, jadi nggak harus melakukan sesuatu yang belum ingin dilakukan." Sisi hatinya yang lain ikut mengacaukan pikiran. Ia lirik sekilas jam yang tergantung di dinding kamar.

 

"Masih pukul dua dini hari."

 

Aira bergegas bangkit, teringat akan shalat isya yang belum tertunaikan, sekaligus shalat tahajud. Perlahan ia bergerak tanpa membuat sang suami terbangun.

 

Setengah jam kemudian ia kelar melaksanakan kewajibannya. Gadis itu masih merasakan bola matanya berat dan minta untuk dipejamkan kembali. Dengan perlahan Aira kembali tidur di sisi Hanif.

 

Namun sebelum ia kembali menutup mata, ada ingin yang menyusup di sudut hati untuk memandang wajah kekasih yang tengah tertidur pulas.

 

"Tampan sekali Mas Hanif, andai Aira tak pernah mengenal Mas Reza?" ucapnya lirih.

 

Gadis itu menggerakkan tangan hendak mengelus rambut Hanif yang bergelombang. Namun lelaki itu menggeliat. Spontan Aira seperti kesetrum listrik, ia segera merebahkan kembali tubuhnya di atas bantal.

 

Dalam tidu

 

r yang pura-pura itu, Aira membuka sedikit kelopak mata, ingin tahu apa yang akan dilakukan Hanif malam-malam begini.

 

Lelaki itu bangkit, menoleh ke arah Aira. Gadis itu segera mengeratkan penglihatan, tak ingin Hanif tahu ia sedang terjaga.

 

Sebuah kecupan mengenai kening Aira, terasa hangat menjalari sekujur tubuh. Aira masih menanti apalagi yang akan dilakukan Hanif selanjutnya. Tapi, ia justru mendapati langkah-langkah yang semakin menjauh. Aira memberanikan diri membuka mata.

 

"Hufht ... pasti Mas Hanif mau tahajjud  di mesjid." Aira membatin sambil menutup kembali matanya.

 

*

 

Pagi kedua, Aira bangun tiga puluh menit sebelum azan subuh berkumandang. Ia melirik ke samping, namun tak menemukan sang suami di tempat itu.

 

"Mungkinkah Mas Hanif tak pulang semalam?" Batin Aira mulai diliputi rasa cemas.

 

Tak berapa lama, Hanif mengetuk pintu kamar. "Assalamualaikum ...?" ucapnya sambil melangkah masuk. Wajahnya yang putih tampak berseri-seri.

 

"Waalaikum salam, Mas Hanif dari mana subuh-subuh begini?"Aira tersentak kaget dan sedikit kecewa. Secepat-cepatnya ia bangun, Hanif malah selalu mendahului.

 

"Mas habis dari mushalla, shalat tahajud sekalian murajaah. Kamu cepat bangunnya, padahal tadi Mas rencana mau bangunin?"

 

Aira tersipu malu. "Bukan seharusnya Aira yang bangunin Mas Hanif?" jawabnya ragu.

 

"Santai aja, jika Mas yang duluan bangun, maka udah jadi kewajiban Mas buat bangunin kamu. Sekarang mau ngapain?"

 

"Nyiapin sarapan dulu, sambil nunggu azan, Mas?"

 

"Mas bantu, ya?"

 

"Emm, nggak usah Mas. Aira sendiri aja. Mas di kamar aja, rebahan bentar."

 

"Kok dikamar? Mas tunggu di ruang makan, ya?"

 

Aira menghela napas. Tak seharusnya juga ia melarang Hanif membantu, bukankah semua istri di dunia ini paling suka dibantu suaminya?

 

"Yaudah, boleh Mas."

 

Hanif mengekori langkah Aira ke dapur, seperti anak kecil yang minta dibuatkan nasi goreng. Lelaki itu terlihat begitu canggung untuk jalan bersebelahan dengan istrinya.

 

Sesampai di dapur, Aira segera mengambil wajan yang sebelumnya sudah ia perhatikan dengan baik letaknya.

 

Sementara di atas kursi makan, Hanif melirik Aira yang tampak sibuk mengaduk-aduk nasi goreng. Angannya dibawa berlari ke beberapa tahun silam. Saat itu ia pernah membayangkan, bisa menikmati sepiring nasi goreng buatan Muna.

 

"Astaghfirullah ...."

 

Lelaki itu segera mengusap wajahnya. Pikiran itu masuk tanpa bisa dielak. Ia bangkit, dipikirannya hanya ada satu jalan untuk membuang jauh pikiran yang dikelabui setan, yaitu berwudhu.

 

"Mas mau kemana?" tanya Aira ketika menyadari kursi duduk Hanif bergerak.

 

"Mas ke kamar mandi dulu," jawabnya singkat.

 

Aira mendesah panjang. Kecewa iya, tapi kesal akan sikapnya juga iya. Gadis itu tak paham apa yang diingin hatinya. “Harusnya kamu jangan pergi, Mas. Temani Aira masak, meski hanya duduk dan diam.”

 

*

 

Nasi di piring Hanif habis tak bersisa. Lelaki itu bahkan menjilati jemari tangannya seperti sunnah Rasulullah. Aira tersenyum, tak pernah ia mendapati lelaki seperti Hanif. Baru setelah Hanif menjelaskan panjang lebar tentang suri tauladan Baginda Nabi, Aira mengulum senyuman.

 

Duduk menikmati sarapan bersama, sejenak membuat Aira melupakan segala kesedihan. Hanif, selain menyandang status suami, juga ustaz yang sangat Aira butuhkan untuk menambah pengetahuannya tentang agama.

 

Perlahan tapi pasti, sikap yang lelaki itu berikan, pasti akan mampu mengetuk sisi hati Aira yang penuh akan sosok lelaki lain.

 

Setelah berbincang-bincang sejenak, Aira berniat untuk membersihkan meja makan, namun Hanif menarik lengan gadis itu.

 

"Ada apa Mas?"

 

"Em ...ada yang ingin Mas sampaikan."

 

Aira kembali duduk. "Mas mau ngomong apa?"

 

"Em ....” Hanif nampak memutar-mutar bola matanya, “pagi ini Mas mendapat tugas keluar kota selama satu minggu. Tapi, Mas tak bisa membawamu, karena disana Mas menginap di hotel bersama beberapa orang lainnya dari seluruh Indonesia. Semua dipilih untuk mengikuti pelatihan 'Managerial Pimpinan Pondok Pesantren'. Humaira, apa kamu keberatan jika Mas pergi?"

 

Meski ragu, Hanf memberanikan dri berterus terang. Ia menatap penuh

 

harap pada manik kecoklatan sang istri. Bagaimanapun ini adalah tanggung jawabnya sebagai kepala pesantren.

 

Namun mengingat pernikahan mereka yang bahkan bulan madu saja belum terlewati, rasanya sangat tak wajar meninggalkan Humaira seorang diri ditempat yang begitu asing buatnya.

 

Aira bergeming sejenak. "Mas pergilah. Aira nggak masalah tinggal sendirian, lagipula ada Bu Nyai Bad, jika butuh sesuatu nanti Aira sampaikan pada beliau."

 

Hanif sedikit mendongak, meyakinkan diri bahwa tak ada raut keterpaksaan yang terpancar dari wajah istrinya. Disaat bersama-sama, Aira mencoba untuk tersenyum, menutupi rasa perih yang tiba-tiba hinggap di dadanya.

 

"Alhamdulillah ... jika bosan, temuilah Muna. Dia bisa kamu jadikan teman bicara. Nanti Mas juga akan menyampaikan padanya, agar selama Mas di luar kota ia bisa menemanimu tidur."

 

Aira spontan menggerakkan kedua tangannya. "Tidak usah Mas, Aira tidak apa-apa tidur sendirian ...."

 

"Kamu yakin?"

 

"I-iya."

 

Sejujurnya, Aira memang butuh seorang teman  yang menemani tidurnya, apalagi ia baru satu hari menempati rumah itu. Tapi ... ia tak ingin Hanif menemui gadis itu khusus untuk meminta menemani Aira tidur.

 

"Kamu kenapa?" tanya Hanif melihat Aira menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

"Nggak ada apa-apa, Mas?"

 

"Kalau gitu, bantuin Mas masukin baju ke koper, ya?"

 

Aira mengangguk. Sedikit kaget saat Hanif meraih jemari Aira dan bergandengan tangan memasuki kamar.

 

Gadis itu menoleh, menatap sosok tegap suaminya dari samping. 'Bagaimana nasibku tanpa kamu, Mas Hanif? Baru menikah sudah ditinggal, rasanya Aira pengen pulang ke rumah Ibu?' jerit batin Aira.

 

*HUMAIRAH*

 

 _Part_12_

 

 

 *"Takdir itu Pasti"*

 

"Buatku, cukup seperti ini. Duduk di sebelahmu tanpa berbicara, membuat rindu yang sehasta ini berderai. Andai waktu lupa cara bergerak?"" Reza.

 

Aira menatap kartu persegi mengkilat yang ada di tangannya. Goresan tinta hitam di lembaran lain berwarna putih cukup membuat kelopak mata gadis itu terasa berat dan sedikit panas, 'Setelah mengembalikan ini, tidak ada alasan lagi bagi kita untuk bertemu.'

 

Ia mengerjap berkali-kali, "perasaan ini, kenapa masih saja sama?" gerutunya dengan rasa perih yang hampir memenuhi rongga dada. Semakin terasa menyesakkan menerima sikap Hanif padanya dua hari ini, setelah lelaki itu berada di luar kota.

 

Aira merasa dirinya tak dipedulikan, untung saja kehadiran Muna cukup membuatnya merasa nyaman. Terlebih Bu Nyai Bad, yang tidak pernah absen menanyakan kabar, seperti menerima titah dokter dalam mengkonsumsi obat. Tiga kali sehari, tak pernah kurang. Aira merasa seakan mendapat pengganti sang ibu di tempat itu. Tapi Hanif, mengapa bahkan jika Aira tak menelpon, lelaki itu tak ingat untuk memberi kabar? Ia bersikap seolah mereka belum menikah, atau lebih tepatnya seperti tahun-tahun yang lalu, saat Hanif masih di Mesir.

 

"Apa Hanif tak mengingatku? Atau sesibuk itukah hingga tak sempat memberi kabar?"

Aira mendesah panjang, kesal dengan inginnya yang datang disaat tidak tepat.

 

Jika bukan karena Tahu dan Takwa Bah Kacung sudah memenuhi kepala, Aira tak ingin menelpon Hanif duluan.

 

Menunggu meski sampai mata terpejampun tak apa, sebab ia ingin tahu seberapa kehadirannya berarti bagi lelaki yang sudah menjadi imamnya itu.

 

Beberapa kali gadis itu memencet nomor Hanif, bermaksud meminta ijin ke kota. Namun satu kalipun panggilannya tak ada jawaban.

Aira memilih untuk mengirim pesan via whatsapp.

 

[Assalamualaikum, Mas. Aira mau minta ijin keluar pondok, mau ke kota membeli Tahu Takwa, bolehkan Mas?]

 

Segera ia kirim pesan itu. Lima menit menanti, room chat masih tertulis kata on line. Ia urungkan sejenak, menanti hingga ada kabar balasan.

 

Tak lama, ponselnya pun berdering. Aira segera meraih benda pipih itu, kemudian menggeser layar hijau panggilan.

 

[Assalamualaikum, Mas Hanif]

 

[Waalaikum salam. Maaf Humaira, tadi Mas sedang di ruangan pelatihan. Ini Mas sudah di luar. Kamu mau ke kota? Apa nggak sebaiknya nunggu Mas pulang?]

 

Aira memejamkan matanya, ‘orang udah kepingin masih disuruh menunggu.’

 

[Aira kepingin sekali,  Mas. Sudah dua hari ditahan. Hari ini sudah tak tahan lagi?]

 

[Hahaha ...] Tawa Hanif pecah di seberang sana.

 

[Emm ... maaf istriku. Sebenarnya boleh aja, tapi mau pergi sama siapa? Mas khawatir kamu tersesat?]

 

[Aira 'kan bukan anak kecil lagi, Mas. Nanti Aira tanya-tanya deh?]

 

[Tetap jangan, ajak Muna aja. Mas telpon dia, ya?]

 

[Nggak usah,  Mas. Aira bisa sendiri. Percaya sama Aira, ya?]

 

Hanif terdiam sejenak, membuat Aira ragu untuk meneruskan keinginannya. Namun, tak berapa lama ...

 

[Ya sudah, pesan taksi aja, ya? Biar aman. Langsung sebutkan mau kemana, biar nggak muter-muter.]

 

[Iya, Mas]

 

[Humaira ... maaf ya, Mas nggak bisa menemani?]

 

Aira menarik napas panjang, ada rasa sakit mendengar permintaan maaf Hanif padanya.

 

[Iya Mas, nggak papa.]

 

Aira mematikan ponselnya. Rasa perih semakin memenuhi dada. Ia alihkan pandangan sejenak keluar melalui celah jendela, langit biru yang dihiasi kupulan awan putih, terlihat seperti boneka salju yang begitu menggemaskan. Matanya mulai berkaca.

 

Sejenak ia berpikir, sejatinya menikah itu membahagiakan. Namun, jika menikah terus memikirkan bahagia, tentu kita akan menjadi gila. Juga apabila terus memikirkan penderitaan, kita akan menjadi seorang pesakit. Sebaiknya, ya seimbangkan jalan pikir.

 

Bahagia itu terwujud dari kerja keras dan berlapang dada.  Jannati Huna wa jannati fii qolbi. Bukankah surga itu ada dihati saya?

 

Aira menyeka air matanya yang luruh. Entah untuk apa ia menangis, yang ia tahu, stok air matanya banyak. Setiap saat, kapan saja siap berderai jika diminta.

 

Setelah meminta ijin pada Bu Nyai Bad, akhirnya Aira keluar dari gerbang pondok. Beberap

 

a kali Muna menawarkan diri untuk menemani. Namun Aira menolak, mengingat satu jam kedepan, gadis itu akan mengajar di kelas 1 Tsanawiyah.

 

Beberapa meter berjalan kaki, sampailah Aira di sebuah halte. Di tempat itu tidak hanya dirinya yang menunggu angkutan jurusan kota, beberapa wanita yang kelihatannya sudah lama menanti juga tampak memenuhi tempat tunggu bis tersebut.

 

Aira memberanikan diri bertanya, tentang bis atau sejenis taksi-walau ia sedikit ragu-. Salah seorang wanita mengatakan bahwa sebentar lagi bis tujuan kota akan sampai, tapi seperti biasa, selalu penuh.

 

Wanita itu juga berpesan, agar Aira tak menunggu orang lain mendahuluinya, jika tidak ingin ke kota sambil berdiri.

 

Aira tersenyum, baru pertama kali ke kota tahu kuning itu, sudah aja bertemu orang seperti wanita yang tadi berbicara padanya.

 

Sepuluh menit berselang, sebuah bis akhirnya berhenti di halte itu. Semua saling mendorong agar dapat masuk duluan. Aira tak berani menerobos, karena yang mendahuluinya berbadan lebih besar juga sedikit kasar.

 

"Ah, berdiripun jadi, yang penting sampai." Gadis itu lebih memilih menunggu yang lain masuk, baru setelahnya melangkah perlahan.

 

Beruntung ada satu deretan kursi yang masih kosong, deretan sebelum kursi memanjang dibagian belakang. Sambil tersenyum dan mengucap syukur, Aira menelusuri koridor bis yang sedikit sempit.

 

"Sudah siap semua?" tanya supir bis itu pada seluruh penumpang.

 

"Sepertinya ini akan jadi perjalanan yang menyenangkan."Aira bergumam bahagia.

 

"Tunggu!" Teriak seseorang dari luar bis. Kendaraan panjang yang sudah siap berangkat itupun seketika menekan rem. Semua terhunyung ke depan karena rem dadakan yang dilakukan sang supir.

 

Beberapa penumpang terdengar mengoceh kesal karena penumpang baru itu. Aira bergeming sambil mencari tahu pemilik suara yang sedikit menggetarkan kalbunya.

 

"Masih ada tempat, Pak?"

 

"Sampeyan naik saja dulu, lihat sendiri." Supir bis itu menimpali.

 

Aira sedikit mendongak, sudah pasti penumpang baru itu duduk di sampingnya. Kerena hanya tempat duduk di sebelah Aira yang tersisa. Sedetik kemudian, matanya membulat sempurna.

 

“Allah, inikah yang namanya jodoh? Lalu apa arti pernikahan kemarin?”

 

Aira tak pernah menyangka jika yang ia lihat saat itu adalah ...

 

“Mas Reza?” Sejenak tatapan mereka saling bertemu.

 

“Tuhan, berdosakah aku jika berharap waktu berhenti di detik ini?” batin Aira. Ia segera menundukkan pandangan. Gelisah dan merasa berdosa.

 

Tapi ia tak dapat menutupi kebahagiaan yang muncul karena bisa kembali melihat lelaki itu. Lelaki yang masih saja ia dengungkan dalam doanya.

 

Sementara Reza, lelaki itu tampak bingung. Harus meneruskan langkah, atau membalikkan badan menunggu bis lainnya.

 

"Ayo masuk, ini bis terakhir." Supir bis memberitahu pada Reza.

 

Setelah lama melempar pandang, akhirnya dengan pasrah Reza berjalan gontai menuju tempat duduk yang tersisa.

 

Sementara Aira, dengan sekuat tenaga ia mengatur detak jantung yang terlanjur berdegup kencang. Sesaat lagi, mereka akan duduk bersisian. ‘Apa yang harus dibicarakan? Diam saja atau bagaimana? Allah, selamatkanlah diri ini dari sikap yang salah?’ batin gadis itu kembali berbisik.

 

Setelah pertemuan terakhir yang menguras air mata di hari pernikahan, keduanya sepakat memang tidak berharap untuk kembali bertemu. Tapi hari ini?

 

‘Ada apa dengan hari ini ya Allah?’

 

"Maaf, pasti saya akan mengganggu perjalananmu?" ucap Reza dingin.

 

Aira melirik sekilas. Posisi mereka kini sudah saling bersisian. "Tidak masalah, Mas. Inikan kendaraan umum."

 

Gadis itu menggigit bibirnya perlahan. Ibarat kata mati tidak akan menyesal, luka tidak akan menyiuk. Ia tidak boleh menyesali kepergiannya hari ini. Dirinya hanya harus meyakini bahwa tidak ada suatu kejadianpun dibumi Allah yang berjalan tanpa ketentuan-Nya.

 

Sedikit menggeser, Aira berusaha agar duduknya tak bersentuhan dengan Reza. Dengan wajah terunduk, ia berulang kali menghela napas panjang.

 

"Kenapa ada disini?" ucap Aira akhirnya berusaha mencairkan kekakuan di antara mereka.

 

"Ada keperluan," jawab Reza singkat.

 

"Em ... ATM-nya, terima kasih, ya?

 

"

 

"Ya."

 

‘Kenapa hanya ya, tidakkah ada hal lain yang ingin engkau sampaikan? Atau, kamu sudah melupakanku di hatimu, Mas? Sedang aku masih saja mencari cara untuk menghapus namamu dihati?’Aira menelan saliva.

 

Keinginannya untuk berbicara panjang lebar takkan mungkin terwujud. Tentu salah, seseorang yang sudah terikat pernikahan meluapkan kerinduannya dengan seseorang yang pernah begitu ia cintai bahkan hingga saat ini.

 

Sepanjang perjalanan, tak satu patah katapun keluar dari bibir keduanya. Tanpa menoleh juga tak bergerak.

 

‘Buatku, cukup seperti ini. Duduk di sebelahmu tanpa berbicara, membuat rindu yang sehasta ini berderai. Andai waktu lupa cara bergerak?’

 

*

 

Tiga puluh menit bukan waktu yang pendek, namun Aira merasa siang itu waktu bergerak begitu cepat. Rasanya ia ingin berharap agar bis mutar-mutar seluruh kota baru kemudian singgah ke terminal.

 

“Astaghfirullah ...!”

 

Bis berhenti di terminal kediri tepat pukul satu siang. Suasana di pemberhentian bis itu cukup ramai, belum lagi terik mentari seolah membakar tubuh. Reza buru-buru keluar bis, mungkin mencegah agar mereka tak berpas-pasan saat di luar. Lagi-lagi Aira hanya bisa mengembuskan napas.

 

Setelah menunggu seluruh penumpang turun, barulah Aira melangkah keluar. Gadis itu berjalan beberapa meter hingga menemukan sebuah kios yang menjual minuman dingin. Ia menyisir pandangan ke seluruh terminal, tapi sosok Reza tak lagi ada di tempat itu.

 

‘Kemana dia, cepat sekali menghilang?’

 

Aira menghela napas, merasa lebih baik tak lagi bertemu. Untuk alasan apapun, lebih baik mengambil langkah yang berbeda. Aira tahu, ibarat kata orang pacaran, jika mereka bersama, maka yang ketiganya adalah syaitan. Akhirnya Aira memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya. Ia mencoba bertanya pada seorang wanita yang tengah berdiri dengan beberapa tas di tangannya.

 

"Bu, kalau mau membeli tahu takwa, harus pilih jalan yang mana, ya?"

 

Wanita itu bergidik, lalu menjawab," kalau mau ke Bah Kacung, mbak naik ojek aja, paling cuma sepuluh menit. Jalan kaki bisa juga, tapi bisa sejaman."

 

"Saya bisa dapat ojek dimana, Bu?"

 

"Itu." Tunjuk wanita tersebut pada persimpangan yang dipenuhi tukang ojek berhelm kuning.

 

Aira mengangguk mengerti. Sebelum melangkah, ia berpikir untuk berkunjung terlebih dahulu ke salah satu rumah makan di samping terminal. Banner berukuran jumbo bertuliskan 'Nasi Pecel Tumpang Mang Karyo' cukup membuat perut Aira berkeriuk lapar.

 

Memang gadis itu sengaja tak mengisi lambung di rumah, harap-harap ada sesuatu berbeda yang dapat di makan nanti.

 

Gadis itu melirik jam di tangan, ‘wah, bisa sekalian numpang shalat.’ batinnya berkata.

Sementara itu, jauh di sisi lain. Di bawah sebatang pohon Mahoni sebelah utara terminal. Reza masih belum beranjak, mencuri pandang sang gadis yang masih menjadi idaman.

 

"Katanya mau beli tahu takwa, kenapa malah masuk toko nasi pecel? Dasar wanita ...!" gerutu Reza.

 

Ia memilih menunggu Aira, entah mengapa lelaki ia berpikiran bahwa meninggalkan Aira seperti melepas burung dalam sangkar. Setelah pergi, pasti ia takkan tahu jalan pulang.

 

*

 

Setengah jam berlalu, Aira belum keluar juga dari rumah makan pecel. Reza mendesah sebal, "makan apa sih, lama banget?"

 

Sembari menoleh ke kiri, sebuah lengan keriput mencengkeram lengan kanannya.

 

"Tolong bantu Nenek menyeberang, Anakku ...."

 

Perempuan berbaju lusuh dengan kacamata hitam meminta dengan suara serak pada Reza.

Sempat kaget, melihat seorang perempuan tua berada di belakangnya. Namun, Reza segera mengiyakan permintaan sang nenek.

 

Reza menggenggam jemari keriput itu tanpa merasa enggan. Sampai di seberang jalan, perempuan tua tersebut mengucapkan sesuatu yang membuat sekujur tubuh Reza bergetar hebat.

 

"Jangan takut Anakku, kalau jodoh itu tidak kemana. Berdoa dan serahkan semua pada Allah."

 

"Hah?" Reza tampak bingung dengan apa yang diucapkan perempuan itu, ia hanya mengangguk.

 

Nenek tersebut lalu menghilang di balik sebuah truk yang berdiri di pinggir jalan. Reza menghela napas panjang. Kenapa yang dikatakannya seolah menyiratkan sesuatu yang sedang ia alami?

 

"Ah,

 

mungkin dia peramal?" ungkap Reza seorang diri. Di satu sisi ia ingin mengejar perempuan tua itu, namun di sisi lain dirinya takut jika Aira telah selesai makan dan pergi ke tempat lain.

 

Akhinya Reza memilih untuk kembali menunggui Aira. Sepuluh menit berlalu, tak ada seorangpun yang keluar. Tak tenang dengan situasi begitu, Reza memutuskan untuk terjun langsung. Meski dengan menutup-nutupi sebagian wajahnya dengan selembar kertas.

 

Lama ia melirik sana sini, tak ada keberadaan Aira di tempat itu. Reza mendecak perih, sekian lama menunggui, namun sekejap mata hilang bak ditelan bumi.

 

"Apakah dia pergi saat aku mengantar nenek tua tadi?"

 

Tanpa lama berpikir, Reza langsung memasang target menuju lokasi tahu takwa. Ia yakin pasti Aira sudah di sana.

 

Sesampainya Reza di Jalan Trunojoyo. Lelaki itu memilih toko Bah kacung karena tempat inilah yang paling terkenal. Dengan bergegas, Reza berhamburan ke dalam toko. Melirik sana sini, namun sayang tak ada wanita yang ia cari di tempat itu.

 

"Baiklah, akan kucari ke tempar lain." Ia masih bersemangat.

 

Tekad sudah seratus persen, tapi bumi seolah melawan. Tiba-tiba, langit yang tadinya terik seperti ketumpahan air. Hujan turun dengan derasnya, dan perlahan langit yang tadi cerah berubah menjadi gelap.

 

"Kemana dia?" Reza masih saja memikirkan Aira.

 

***

 

Aira baru saja selesai shalat Zuhur di Mesjid Agung. Rencana mau membeli tahu takwa malah gagal sebab di luar hujan turun dengan derasnya. Aira menarik napas panjang, mau pulang ke Pagu juga bagaimana caranya. Ke terminal sudah pasti harus jalan kaki, atau minimal naik ojek. Tapi kalau hujan-hujan begini tetap nekat menerobos, bisa basah kuyup.

 

Dalam kebimbangan yang memenuhi pikiran, Aira melihat sebuah taksi berdiri tepat di pintu gerbang mesjid. Gadis itu berharap taksi tersebut bisa mengantarnya membeli tahu lalu pulang ke pondok.

 

Ia gerakkan langkahnya menerobos tetesan hujan yang terus turun dengan deras. Tak ia pedulikan hujan yang nyaris membuatnya seperti baru saja keluar dari pemandian. Aira terus berlari hingga sampai di depan taksi.

 

Namun, ia sedikit terhenyak saat mendapati seseorang membuka pintu mobil dengan cepat.

 

"Mas Reza?" lirihnya tak menyangka, akan bertemu Reza kembali di tempat itu.

 

Diantara rintik hujan yang semakin deras mengguyur, Aira menyapu wajahnya yang sudah bersiborok dengan wajah Reza.

 

"Kenapa nekat kemari, kamu bisa bawah kuyup?" Dengan cekatan Reza segera memayungi gadis yang tampak menggigil kedinginan itu.

 

"Takut taksinya pergi," jawab Aira sambil menggenggam jemari tangan.

 

“Tapi kamu jadi basah ‘kan?” ketus Reza sambil menghela napas. Ia menatap lekat gadis di hadapannya. Sementara Aira hanya menunduk sambil terus menggosok-gosok tangannya.

 

‘Allah, aku tak kuat menahan rasa ini ....’ Reza membatin.

 

Menyadari sesuatu mengalir dari pandangannya, Reza ikut menunduk. Tanpa basa-basi, lelaki itu  membuka jaket kulit yang  ia kenakan, kemudian menyematkan pakaian hangat itu di bahu Aira. "Pakai ini biar kamu nggak kedinginan?"

 

Aira menengadahkan wajahnya, ia ingin menolak. Namun, Reza  buru-buru membuka pintu taksi dan menyuruh Aira masuk, "kamu pulang naik taksi ini, ya?"

 

"Mas Reza bagaimana?"

 

"Nanti saya cari taksi lain, yang penting kamu bisa segera mengganti pakaianmu biar nggak masuk angin."

 

Sejujurnya, begitu banyak pesan yang ingin ia sampaikan pada Aira, tapi semua seakan tertahan di tenggorokan. Mengingat wanita yang ia khawatirkan itu sudah terikat dengan lelaki lain.

 

"Ini buat kamu?" Sebelum pintu mobil ia tutup, Reza menyodorkan sebuah plastic kresek berisi ke arah Aira.

 

"Ini apa?"

 

"Katanya kamu kepingin tahu takwa?"

 

Aira menyipitkan mata, ‘kapan pernah ia bilang ke Reza kalau dirinya ingin makan tahu takwa? Ah, apapun itu, lelaki ini sudah memporak-porandakan hati Aira untuk kesekian kalinya.

Aira meraih pemberian Reza.

 

"Mang, matikan AC-nya, ya?" pinta Reza pada supir taksi. Aira terperangah, perhatian Reza benar-benar membuat matanya menghangat.

 

"Begitu sampai langsung ganti pakaian."

 

Reza menatap Aira sejenak sambil menutup pintu taksi.

 

Aira tergugu, t

 

ak dapat berkata apapun.

 

 ‘Apakah ini bagian dari takdirmu ya Allah, bagaimana hamba harus menahan diri dari rasa ini? Astaghfirullah ....”

 

Perlahan, taksi itupun bergerak menjauh. Aira membalikkan badannya yang sudah sempurna bersandar di kursi, menatap sosok lelaki yang masih berdiri di gerbang mesjid.

 

 Pandangannya tak berpaling, hingga bayangan Reza hilang tertutup kabut seutuhnya.

Di luar, hujan terdengar semakin deras.

 

 Tetesannya seumpama duri yang menghujam tubuh. Aira dan Reza, keduanya semakin yakin, bahwa tidak ada yang lebih baik kecuali hidup di dua benua. Karena menjauh adalah cara terbaik untuk membunuh rindu pada sosoknya yang haram dirindui.

 

*

 

"Darimana aja kamu?" Elsa menyerang Reza yang baru saja membuka pintu rumah.

 

"Mbak gak lihat bajuku semua basah? Di Kediri tadi itu hujan deras, jika bukan karena kamu yang minta, aku sudah membatalkan pembeliannya."

 

"Ish, sensi aja!" Elsa menyambar bungkusan makanan di tangan sang adik,"tapi, makasih, ya?"

 

"Hem ... Abhi mana?" tanya Reza saat tak menemui jagoannya di ruang tamu rumah Bukde mereka.

 

"Tidur."

 

Reza melirik jam di pergelangan tangan,"Bukannya malam ini kita ke rumah Pakde Danu?"

 

"Em ... kagak jadi sih Za?"

 

"Lho, kenapa?"

 

Elsa sedikit ragu menyampaikan alasan batalnya pertemuan mereka malam itu. Tapi apa boleh buat, tak ada cara lain selain jujur.

 

 "Za, Muna nggak bisa ijin keluar tadi siang. Gantiin jadwal ngajar pimpinannya yang kebetulan ke luar kota. Gitu sih katanya."

 

Reza mendelik kesal, "Ck, udah bela-belain kemari, eh dibatalin."

 

"Pakde bilang, minggu depan. Kali ini Muna benar-benar janji."

 

"Ah, Mbak aja yang ketemuan. Reza udah ogah."

 

"Ih, jangan ngambek gitu donk. Kalau mau nyari yang terbaik, ya kamu harus rela berkorban ...."

 

Reza bergeming, 'bahkan dengan mengorbankan perasaanku untuk bertemu Aira?'

 

"Andai Mbak tahu, bahwa hari ini Allah bukan mempertemukanku dengan Muna, melainkan dengan Humaira. Pasti Mbak takkan memaksa lagi ke kota ini. " gumam Reza dalam hati.

 

Di kamar, Perlahan ia berjalan mendekati jendela, menatap langit malam yang penuh bintang. Sebuah bangunan besar berwarna hijau di kelilingi pagar beton yang menjulang tinggi. Di dalamnya, entah di bagian kiri atau kanan, ia yakin, ada seorang wanita yang tengah memikirkannya. Seperti ia yang tak henti memikirkan wanita itu.

 

“Astaghfirullah ... apakah ini namanya cinta? Bukankah cinta itu meredakan segala resah dan gelisah? Mungkin aku terlalu mencintai sesama makhluk, hingga lupa hakikat cinta yang sebenarnya.

 

Sementara itu, di sudut sebuah kamar, seorang gadis meringkuk kedinginan. Badannya terasa panas, sementara ujung kaki dan tangan bergetar karena menggigil. Suaminya tak memberi kabar, bahkan untuk mengucap selamat tidur.

 

Di tubuhnya, jaket kulit hitam masih membalut, sedikit hangat meski tak menghangatkan hatinya yang kadung sebeku es dikutub utara.

 

*HUMAIRAH*

 

 _Part_13_

 

 *"Perasaan Yang Terluka"*

 

Teruntuk Muna,

 

Assalamualaikum

 

Yang saya hormati, Ukhti Raudhatul Muna. Terasa sangat tak pantas menyampaikannya melalui surat. Namun, jujur untuk mengutarakan langsungpun saya tak mampu.

 

Dari awal bertemu, saya tak bisa menutupi kekaguman pada raut wajah juga kepribadian ukhti. Selaksa satu bintang yang bersinar terang diantara ribuan bintang lainnya. Ukhti hadir sebagai penyemangat, juga menuntun seseorang untuk selalu menjadi yang terbaik. Dan orang itu adalah saya sendiri.

 

Andai ukhti berkenan, ijinkan seseorang yang bukan apa-apa ini untuk menyatakan keinginannya, menyempurnakan iman bersama. Jujur, ukhtilah yang pertama di hati.

 

Saya hanya ingin menghalalkan seseorang yang saya cintai. Jika ukhti menerima perasaan ini, saya akan langsung mengkhitbah. Sungguh harapan diterima sangat besar saya gantungkan pada Robbi.

 

Sekian. Tolong di balas.

 

Habiburrahman El Hanif.

 

----

 

Aira menelan saliva membaca untaian kata yang tertulis indah di sebuah kertas bergambar dasar hati. Sekujur tubuh serasa beku, denyut jantungnyapun serasa berhenti berdetak.

 

"Benarkah ini surat Mas Hanif untuk Muna? Jadi, selama ini mereka ...?"

 

Aira mengusap embun yang tiba-tiba mengalir di sudut mata. Mengetahui ada seseorang yang begitu berarti di masa lalu suami, ternyata tak bisa membuatnya bersikap tenang.

 

Tapi kenapa, bukankah semua orang punya masa lalu. Bahkan dirinya sendiripun belum bisa mengubur rapat seseorang yang harusnya sudah menjadi kenangan. Sempat terbesit pikiran demikian di hati Aira.

 

"Mas Hanif ... inikah yang membuatmu bersikap begtu dingin?" lirihnya sangat pelan, seakan mewakili buncahan rasa perih yang menimpa batin.

 

Tiba-tiba suara derit pintu kamar mandi yang terbuka, berhasil mengagetkan Aira dari lamunan. Segera gadis itu melipat kembali surat di tangan dan memasukkan ke tempat asalnya yang tergeletak di atas ranjang.

 

"Kamu lagi ngapain?" Hanif menyembul dengan wajah berbinar.

 

Aira menatap tajam suaminya. Kaget, takut sekaligus penasaran, ingin sekali ia tanyakan perihal surat tadi pada Hanif, namun ia urungkan mengingat belum satu jampun keberadaan kembali lelaki itu di rumah.

 

Aira memilih menunda dan focus pada pertanyaan Hanif. "Sedang membaca buku, Mas?" jawabnya singkat dengan sedikit berusaha menutupi buku yang berjudul 'Fiqih Wanita', yang ia pinjam dari Muna beberapa hari lalu, sebab ia tak ingin Hanif membuka dan mendapati suratnya dahulu untuk Muna ada dalam buku itu.

 

"Buku apa, novel atau buku inspirasi? Sampai koper Maspun belum tersentuh?" Hanif semakin mendelik penasaran. Ia sedikit mendongakkan tubuhnya agar bisa membaca sampul buku yang dimaksud Aira.

 

Aira segera bangkit sembari membawa buku tersebut ke dalam kemari. Hanif hanya menatapnya penuh curiga.

 

"Aira beresi sekarang ya, Mas," ucapnya setelah memasukkan buku itu ke dalam kemari.

 

Langkah Aira terhenti seketika di depan ranjang. Hanif yang dalam posisi berdiri berhasil meraih jemari sang istri.

 

"Biarkan saja dulu kopernya, Mas lelah. Mas mau berbaring di pangkuan istri Mas?" Hanif melepas genggaman dan meraih kedua pundak Aira. Lelaki itu lalu mendudukkan sang istri di atas ranjang. Kemudian ia merebahkan kepala di atas pangkuan gadis itu. Aira sedetik bergetar.

 

"Maaf, Mas pergi lama meninggalkanmu. Juga begitu sibuk hingga tak rutin memberi kabar. Humaira, apakah kamu marah?" Lelaki itu menatap lekat manik kecoklatan yang tampak redup, sementara Humaira hanya menunduk tanpa berani membalas tatapan sang suami yang begitu intens.

 

Aira bergeming dengan tanya yang masih memenuhi pikiran. Apa yang ditanya Hanifpun seakan hanya angin lalu belaka.

 

Melihat Aira tak bereaksi, Hanif meraih kedua jemari tangan gadis itu, membekap erat di atas dada, lalu menciumi perlahan. Aira tersentak, ia baru menyadari bahwa dirinya dan Hanif sedang berada pada jarak yang sangat dekat.

 

Ia semakin menunduk, berusaha agar tak bertatapan dengan lelaki itu.

Mendapati istrinya salah tingkah, Hani

 

f sedikit mengangkat dagu, matanya liar memandangi arah tatapan lawan.

 

Lelaki itu berhasil mengunci mata Aira, hingga tak ada yang dapat menyisir penglihatan gadis itu selain raut wajah sang suami.

 

Aira semakin gugup, entah bagaimana mencegah, tapi jantung itu mulai berdentum tak normal.

 

Hanif tak lagi dapat menahan keinginannya, seminggu tak bertemu, rindu semakin membuncah di dada. Ia gerakkan sebelah tangan menyentuh pipi istrinya, kemudian mendekatkan wajahnya hingga bibirnya nyaris menyentuh bibir sang istri. Namun ...

 

Tok! Tok! Tok!

 

"Assalamualaikum." Sebuah salam terdengar dari luar. Hanif yang hendak menuntaskan hasratnya, seketika rebah kembali di pangkuan Aira.

 

Keduanya menarik napas panjang, entah lega atau kesal. Lelaki itu menyunggingkan senyuman sambil menyugar rambutnya. Aira hanya membalasnya dengan lirikan ke kiri kanan.

 

‘Hufht, selalu ada cara untuk gagal!’

 

Diluar, Aira dapat mendengar percakapan antara Hanif dengan seorang ustadz.Sedikit enggan, namun ia tetap harus bersikap layaknya seorang istri yang menghargai tamu sang suami, Aira bangkit ke dapur untuk membuat dua cangkir teh hangat, namun saat ia sampai di teras, tamu itu telah pergi.

 

"Kemana tamunya, Mas?" Aira bertanya setelah ikut duduk di sebelah Hanif.

 

"Ke Mushalla. Itu tadi Gus Fatih, anaknya Kiai Ahmad. Beliau menyampaikan pesan Abi, agar Mas menggantikan kajian malam ini di Mushalla putra. Kiai sakit apa?"

 

"Owh itu, semenjak Mas pergi, penyakit jantung yang di derita Abi mendadak kambuh. Setiap malam yang Aira tahu, tak pernah sekalipun ia mengisi kajian. Tapi, haruskah Mas menggantikannya malam ini, bukankah Mas juga baru sampai?" tanya Aira bersunggut-sunggut.

 

"Nggak masalah, lagian Mas juga tadi sudah istirahat di pangkuan isteri Mas." Hanif menimpali pertanyaan sang istri sambil tersenyum hangat.

 

Aira mengembuskan napas perlahan. 'Buat Mas memang nggak masalah, tapi buat saya? Seminggu Mas pergi meninggalkan saya seorang diri di tempat ini. Tak inginkan Mas tahu betapa saya harus melalui hari-hari yang sepi ini? Bahkan ketika tempo hari badan meriang, hanya jaket Mas Reza yang mampu menghangat tubuh, tahukah Mas akan hal itu? Sekarang baru sampai rumah, sudah harus pergi lagi. Pernikahan macam apa ini?’

 

***

 

Selepas kepergian Hanif, Aira membuka koper pakaian yang di bawa suaminya itu ke luar kota selama seminggu kemarin. Harum aroma maskulin yang lembut menguar dari dalam kotak segi panjang penuh pakaian itu.

 

Aira memicingkan mata, mencoba mengingat seakan aroma ini tak asing baginya. Namun, bukan milik Hanif. Ia yakin Hanif baru menemukan parfum ini selama bepergian kemarin.

 

"Ini ...." Aira berhenti memutar ingatannya, karena ia yakin beberapa kali pernah mencium aroma ini yang menguar dari tubuh seorang lelaki duda, pemilik wajah oriental dengan sebuah lesung di pipi.

 

Aira bangkit mendekati lemari, membuka dan mengambil sebuah jaket yang ia simpandi deretan paling bawah. Ia mendekatkan hidungnya hingga menyentuh permukaan jaket itu.

 

"Astaghfirullah, kenapa mereka berdua bisa pakai parfum yang sama?"

 

Aira memejamkan matanya, berusaha sekuat tenaga membuang pikiran tentang Reza.

 

"Jika terus dibiarkan, rasa ini semakin merebut gelar shalihah yang harusnya aku dapatkan dari Mas Hanif!" Gadis itu kembali memasukkan jaket kulit Reza ke dalam lemari, lalu fokus dengan koper suaminya.

 

Ia mengeluarkan sebuah plastik besar berisi pakaian kotor, di bawahnya ada sebuah plastik bertuliskan nama butik terkenal di kota Jakarta Pusat.

 

Aira begitu penasaran. Ia keluarkan plastik itu dan sedikit menilik apa isi di dalamnya. "Pakaian wanita?"

 

Aira tersenyum bahagia, "jadi Mas Hanif nggak benar-benar melupakanku?" Ia berucap lega.

Segera ia keluarkan isinya, di situ ada dua buah gamis dengan dua motif dan warna yang berbeda. Yang satu berwarna soft pink dan satunya lagi warna coklat susu.

 

Manik mata Aira langsung tertuju pada gamis berwarna soft pink, indah sekali pikirnya. Meski ia bukan pengagum warna pink-pink lembut, tapi dalam pandangannya, gamis itu begitu menawan.

 

"Makasih Mas," ucap Aira sambil mendekap gamis k

 

e dada.  Segera ia masukkan kembali kedua baju itu ke dalam plastik, biarlah esok Hanif sendiri yang menyerahkan."

 

Langit tampak gelap. Keadaan di luar rumah masih sangat sepi. Angin merambat perlahan, menembus melalui celah jendela, dan membelai lembut rambut Aira yang tergerai.

 

Gadis itu terhenyak, matanya membulat tak menyangka untuk kesekian kali tertidur saat menunggui Hanif pulang.

 

Ia menoleh ke samping. Hanif masih tampak pulas dalam lelapnya. Gadis itu mendekatkan wajahnya, memperhatikan dengan seksama tiap inci pahatan yang nyaris diciptakan sempurna.

 

"Apa yang terjadi dengan Muna, apakah dia menolakmu Mas? Lalu kenapa?" Aira bertanya pada sosok yang kelopak matanya masih tertutup itu.

 

Aira membuang napas kasar, jika mengingat surat itu, hatinya terasa perih. Doble perih jika mengingat bahwa dirinya juga bernasib sama.

 

"Tapi jika kamu menyukainya, kenapa kamu menikahiku? Harusnya kamu jangan memaksa Mas, maka kitapun tidak terperangkap dalam kepalsuan seperti sekarang ini?"

 

Ia menggigit bibir bawahnya perlahan, rasa perih kembali menjalari mulai dari tenggorokan hingga ke bagian yang terus berdegup.

 

"Astaghfirullah ...."Segera ia menepis perasaan itu.

 

Perlahan, jemari tangannya menyentuh pipi Hanif dengan lembut. "Mas, bangun. Udah jam setengah empat."

 

Hanif menggeliat tanpa bersuara. Tampaknya lelaki itu benar-benar lelah, setelah kemarin melakukan perjalanan jauh, malamnya masih juga harus mengisi kajian. Tapi, bukankah ia pernah mengatakan jika matanya tak terbuka, ia meminta Aira untuk membukakannya dengan berbagai cara.

 

Dua kali mengusap dengan lembut tak ada reaksi. "Kasihan, biar tidur lima belas menit lagi," lirih Aira sembari bangkit dari tidurnya.

 

"Kok menyerah?"

 

Aira mendadak berdiri kaku, ia baru tahu ternyata Hanif tak lagi sedang tertidur.

 

"Mas Hanif sudah bangun, Aira pikir ...."

 

Lelaki itu tersenyum, "Mas pikir bakalan dapat sesuatu yang special jika Mas terus memejamkan mata," ia terkekeh kemudian. Aira sedikit gugup.

 

"Kemarilah." Pinta Hanif. Lelaki itu sedikit membungkuk, meraih sebuah benda yang ia letakkan di bawah tempat tidur.

 

Hanif mengeluarkan sebuah plastik, yang semalam telah dilihat langsung oleh Aira.

 

"Apa itu Mas?" Aira pura-pura bertanya.

 

"Bukannya semalam kamu sudah lihat?" goda Hanif. Aira tampak semringah.

 

"Ini kado buat istri Mas yang cantik, dan sudah menunggu Mas pulang dengan setia." Hanif mengeluarkan gamis berwarna coklat susu dari dalam plastik.

 

Raut wajah Aira seketika berubah. Ia menanti, Hanif mengeluarkan satunya lagi dari plastik.

 

"Lo, kok cuma dilihat? Ayo diambil? Kamu gak suka?"

 

Aira melongo, ternyata memang cuma diberikan sepasang. Lalu buat siapa satunya lagi? Aira memberanikan diri untuk bertanya.

 

"Yang satunya lagi buat siapa Mas?"

 

Hanif semakin terkekeh. "Ternyata benar kamu sudah mengintip isinya?"

 

Aira tak lagi tersenyum, hatinya getir menanti jawaban yang keluar dari mulut Hanif.

 

"Em, rencana mau Mas berikan sama Muna, karena selama Mas di luar kota, diakan yang sudah nenemani kamu. Hanya sebagai ucapan terima kasih. Itupun, jika Istri Mas ini tidak keberatan."

 

Aira membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba terasa begitu kering. 'Ini sandiwara atau apa? Kenapa hatiku begitu sakit, apa aku cemburu ya Allah?'

 

Aira masih bergeming, cukup membuat seluruh tubuhnya kaku mendengar bahwa gamis yang ia sukai hendak diberikan kepada orang lain. Lantas, kenapa hanya untuk Muna, Bu Nyai, kenapa beliau juga nggak diberi? Pikiran Aira benar-benar kacau, darahnya memanas.

 

"Lho, kenapa diam? Kalau kamu gak suka, ya tidak jadi ... dua-duanya untuk istri Mas deh"

 

Benar-benar menyakitkan!

 

Sesuka-sukanya Aira pada gamis itu, tentu tak mungkin ia menerima barang yang sudah diniatkan untuk orang lain. Amarah semakin bergejolak, namun gadis itu mencoba menenangkan diri, tak ingin terbawa emosi hingga Hanif bisa membaca perasaannya.

 

"Aira nggak keberatan. Mas. berikan saja pada Muna, berkatnya Aira tak kesepian seminggu kemarin."

 

Aira berucap dengan memasang nada sindiran. Harap-harap Hanif peka, tetapi justru lelaki itu semakin melebarka

 

n senyuman. Seakan tak menyadari bahwa sebagai seorang suami ia tak seharusnya memberikan perempuan lain hadiah. Begitulah yang terpikir di benak Aira.

 

Hanif menyugar rambut. "Mas baru tahu, ternyata istri mas punya jiwa sosial tinggi?"

Hanif malah mencibir. Aira berpaling dan hendak pergi meninggalkannya. Tapi, lelaki itu berusaha menahan, "eh tunggu dulu?" Hanif bergerak dan meraih pergelangan tangan Aira.

 

"Mas mau, kamu yang berikan itu pada Muna?"

 

"Kok Aira, itukan hadiah dari Mas Hanif ...?"sanggahnya dengan muka jutek.

 

"Mas tugasnya membeli. Kalau Mas juga yang ngasih, bisa dipecat jadi hamba Allah Mas entar?" Hanif terkekeh.

 

Aira mendesah sebal. "Lalu apa bedanya, membeli dan memberi, yang jelas niat sudah ada. Ya tinggal dikasih aja Mas, Aira gak masalah kok ...?"

 

Hanif tersenyum dan menarik Aira dalam dekapannya, "Istri Mas cemburu?"

 

Masih mendekap, Hanif membisikkan sesuatu, "kebanyakan wanita umumnya pencemburu. Hanyasanya cemburu yang tercela adalah cemburu yang membara di dalam dada. Kamu tahu, sesungguhnya, rasa cemburu dapat menyalakan api keraguan dan prasangka setiap waktu. Ia akan mengubah kehidupan keluarga bak panasnya neraka yang tak tertahankan,” Hanif mengurai dekapan, “apa benar istri Mas cemburu?”

 

"Aira nggak cemburu?" Ucapnya sembari berusaha melepas seluruh dekapan Hanif pada tubuhnya. Sesuatu kembali mengambang di pelupuk mata, tapi buru-buru gadis itu mengedip-kedipkan bola mata agar genangan itu tak merembes.

 

"Hem ... lupakan hadiahnya ya?" ucap Hanif sembari mengelus kepala Aira.

 

Jika tak memikirkan ego, tentu Aira akan berkata, "mana bisa melupakannya!" Tapi, ia hanya diam, membiarkan Hanif kembali mendekapnya erat tanpa lagi melawan.

 

Hanif menarik napas dalam, lama ia mendekap berharap Aira mengulurkan tangan membalas merangkul pinggangnya. Namun, harapannya tak terkabul.

 

"Apakah kamu mau lelaki di swalayan itu yang mendekapmu seperti ini?”

 

Hanif semakin mengeratkan pelukannya, sampai-sampai Aira harus menarik napas agar paru-parunya cukup mendapat oksigen.

 

Kertas putih bertuliskan 'Setelah mengembalikan benda ini, tak ada lagi alasan untuk kita bertemu', yang tak sengaja ditemukan Hanif sebelum ia berangkat ke luar kota, cukup membuat dada Hanif naik turun dengan cepat.

 

'Apapun yang terjadi, saya akan menjaga wanita yang telah saya minta pada Allah menjadi istri.'

 

***

 

 

Eh Eh Eh... Rupa-rupanya, mereka saling mencemburui satu sama lain ya?

 

Hanif.. Hanif.. Mau nasehati istri, tapi rasa cemburu di dada nggak bisa ditahan.. Owalah..

 

 *HUMAIRAH*

 

 _Part_14_

 

 

 *Hanif berangkat sangat pagi* , hari ini ia harus memberikan materi tentang kurikulum pada beberapa ustadz dan ustadzah, termasuk Muna. Lelaki itu keluar dengan membawa beberapa map berisi lembaran-lembaran yang ia dapat selama pelatihan.

 

Sepanjang perjalanan yang hanya berjarak beberapa meter itu, tampak beberapa santri lalu lalang di depan asrama.

 

Hari ini hari jumat, sekolah libur. Namun, Hanif tetap berniat membuat rapat dadakan, dan memulainya lebih awal agar tak mengganggu waktu shalat dhuha juga shalat jumat nanti.

 

Memasuki ruang rapat sekolah putra, seluruh peserta telah menduduki tempatnya masing-masing. Hanif memilih duduk di sebelah Gus Fatih, juga hadir di ruangan itu Ustadz Bahrur yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Kiai Ahmad.

 

Sebelum menghidupkan materi pada laptopnya, matanya menyapu ke selurruh ruangan. Sempat menatap Muna yang duduk di bangku kedua dari belakang. Hanif tersenyum samar, pada gadis yang saat itu mengenakan gamis hitam.

 

Dengan seksama Hanif mulai menjelaskan tentang prinsip penyusunan Kurikulum Pesantren yang dikenal dengan sistem KMI (Kulliyatul Mu'allimin wal Mu'allimat Al-Islamiyah). Dalam KMI, pendidikan agama dan umum diberikan secara seimbang dalam jangka waktu enam tahun. Yang membedakan antara kurikulum KMI dengan kurikulum sekolah biasa adalah ketika santri lulus dari kelas tiga KMI, mereka tidak langsung mendapat ijazah setingkat SMP. Ijazah KMI hanya akan didapatkan ketika telah menyelesaikan pendidikan selama enam tahun, atau setingkat SMA.

 

KMI juga mempunyai banyak kegiatan, ada yang bersifat mingguan, tengah tahunan, tahunan serta kegiatan co-kurikuler sebagai penunjang utama. Hanif juga menyatakan bahwa kurikulum yang digunakan adalah perpaduan antara beberapa kurikulum, yaitu kurikulum depag, kurikulum Depdiknas, kurikulum pesantren modern Gontor dan kurikulum pesantren tradisional.

 

Semua yang hadir tampak begitu antusias, tak terkecuali Muna. Ini adalah sekolah pesantren modern pertama tempatnya mempraktekkan ilmu selama ini.

 

Sebelum melamar menjadi tenaga guru ilmu salaf di pondok Al Falah, ia hanya bekerja sebagai guru di pesantren tradisional di kota kelahirannya, Surabaya.

 

Ummahnya yang mendorong agar ia ke Kediri, karena salah satu saudara mereka memberitahu bahwa tahun ini di kota Tahu itu didirikan sebuah pesantren modern. Muna benar-benar tak menyangka jika Hanif termasuk salah satu pendiri pesantren tersebut.

 

Lima tahun, bukan waktu sedikit untuknya melupakan seseorang yang pernah singgah di hati. Sebagai gadis yang bahkan tak pernah mengenal kata cinta, Hanif adalah orang pertama yang ia cintai. Namun, meski di dasari rasa cinta, ia tak mudah menjatuhkan pilihan.

 

Tampan dan mapan buatnya bukan nomor satu, ia ingin yang punya nilai lebih terutama dalam kecerdasan. Sayang, ketika itu yang ia tahu, Hanif gagal dalam mempertahankan sidang kelulusannya di Universitas Cairo.

 

Muna bertahan, dalam surat balasan yang diberikan kepada Hanif, ia tak bermaksud menolak. Hanya menunda. Namun kenyataannya, Hanif salah mempersepsikan tulisannya. Perlahan, dengan teratur Hanif mundur. Menjauh dan tak lagi berkabar padanya.

 

Muna menarik napas panjang, ingatan itu membuat dadanya sesak. Ia mencoba menata hati, bukankah ini tuntutan pekerjaan, biarpun ia harus terus menatap Hanif setiap waktu.

 

Satu hal yang harus ia tanamkan dalam hati, bahwa perasaannya tak boleh luluh, apalagi untuk sebuah kata menyesal.

 

"Tidak boleh!" Muna berucap tanpa sadar sembari menghentak tangan ke atas meja. Semua terhenyak dan menatap gadis itu penuh tanya.

 

"Bagaimana Ustadzah Muna?" tanya Hanif, "apa Ustadzah ingin menyampaikan sesuatu?"

 

Muna terbelalak, kedua alisnya sedikit terangkat. Mukanya yang ranum seketika merah padam menahan rasa malu.

 

“Tidak ada Ustadz,” ucapnya sambil menggeleng. Rasanya seperti membuka rahasia di depan umum, sungguh memalukan, pikirnya saat itu.

 

"Ustadzah Muna, bisa bicara sebentar?" Hanif memanggil Muna yang hendak berlalu meninggalkan ruangan. Beberapa yang mengikuti rapat sedari tadi telah meninggalkan tempat itu

 

. Hanya Hanif yang masih sibuk dengan beberapa berkasnya, juga Muna yang tampak sedikit belingsatan dengan pelimpahan tugas barunya menata kurikulum.

 

Mendengar Hanif memanggilnya, Muna berhenti dan menoleh. "Ada apa Ustadz?"

 

"Njenengan ada yang ingin dikerjakan sekarang?" tanya Hanif sambil berjalan mendekati gadis itu. Di bahunya tas laptop telah bertandang, sementara di tangan beberapa file ada dalam dekapan.

 

"Tidak ada Ustadz, memangnya ustadz ada perlu sama saya?" Muna balik bertanya.

"Ukhti 'kan megang tugas menyusun kurikulum kitab klasik, Ini ada beberapa acuan, mungkin sedikit banyak dapat membantu ...?" ucap lelaki itu sembari membuka tasnya.

 

Hanif memicingkan mata, merasa aneh dengan isi tas yang ia bawa. "Kenapa ada disini ya?" tanyanya dalam hati.

 

Ia menyentuh plastik mengkilat berisi gamis yang sebelum berubah pikiran ia niatkan untuk diberi pada Muna. Namun, ia tak mengeluarkannya dari dalam tas. Membalikkan dengan punggung tangan lalu mengambil berkas yang hendak diserahkan kepada ustadzah di hadapannya.

 

"Wah, terima kasih Ustadz ... Tadi saya sempat bingung, jujur ini baru pertama kali saya lakukan, mohon bimbingannya?" ucap Muna sembari menundukkan kepala.

 

Hanif hanya melempar senyum, "insyaallah, saya akan membantu sebisanya. Panggil saja Mas, jangan kaku begitu," timpal Hanif. Muna menoleh seketika.

 

Jantungnya dua kali lebih rancak berdetak, terutama saat mendengar Hanif meminta memanggilnya dengan sebutan Mas.’Bukankah itu hak penuh seorang istri, sementara yang lain, semua menyebutnya Ustadz? Apakah ini berarti ...?’ pikiran Muna mulai mengacau kewarasannya.

 

"Yasudah, saya duluan ya?" Pamit Hanif kemudian. Ia berlalu dengan santai. Sementara Muna, gadis itu menggenggam kedua jemari, menahan rasa perih yang terlanjur menghujam hati.

 

Aira melirik jam yang bergantung di dinding, pikirannya ngelantur entah kemana. "Pasti Mas Hanif sudah memberi hadiahnya pada Muna.

 

‘Huh ... Coba kemarin itu aku menikah dengan ... Astaghfirullah! Sungguh kotor hati ini!’Aira mengumpat diri sendiri.

 

"Harus istiqamah," ucapnya lantang. Ia teringat beberapa waktu lalu, gegabah pernah membuatnya menilai buruk Mas Reza, hingga akhirnya ia menerima pinangan Mas Hanif.

 

Tapi pernikahan bukan permainan, bukan pula sekadar coba-coba. Pernikahan itu diistilahkan mitsaqan ghalizan, yaitu sebuah perjanjian yang teguh. Jika tak sanggup, maka jangan menerima. Dan jika sudah menerima, dosa besar berharap untuk menyudahi.

 

Hanya bisa mengembuskan napas, Aira benr-benar pasrah! "Bukankah ini hanya rasa cemburu, aku harus bisa meredamnya." Aira membatin nelangsa. Ia akui, sekuat apapun menyangkal rasa terhadap suaminya, rasa cemburu itu datang dengan sendirinya .

 

Aira bangkit dari duduknya, mengambil buku berjudul 'Fiqih Wanita' dan berniat mengembalikan buku itu pada Muna. Dibaca tak sampai di hati, disimpanpun hanya menambah derita.’

 

Setelah buku ada dalam genggaman, ia membalikkan tubuh hendak berjalan keluar kamar. Namun, ketika hendak menggapai gagang pintu, ia kaget karena pintu itu justru terbuka dari luar.

 

"Mas Hanif?" spontan Aira melotot mendapati sang suami ada di hadapannya.

 

Hanif tersenyum melihat reaksi Aira, "Assalamualaikum Humaira ....”

 

"Wa-waalaikum salam." Aira menjawab dengan gemetar. Buku yang tadi dalam dekapan, seketika ia bawa ke belakang tubuh.

 

Sembari memejamkan mata, ia merutuki diri. Harusnya tak perlu bereaksi berlebihan, justru hal itu malah membuat Mas Hanif curiga. Atau bahkan bukankah lebih baik jika lelaki itu tahu saja perihal surat cintanya dulu, biar masalah ini cepat selesai.

 

Entahlah, Aira bingung. Tapi ia tak ingin ribut perkara ini. Biarlah perlahan dirinya sendiri yang mencari tahu, tentu dengan cara yang lain tanpa sepengetahuan Hanif.

 

"Apa yang kamu sembunyikan dari Mas?"

 

Aira gelagapan. "Bukan apa-apa Mas, ini hanya buku. Buku yang Aira pinjam dari Muna."

 

"Owh, coba Mas lihat." Hanif menengadahkan tangan.

 

"Em, tapi Aira mau mengembalikannya, Mas?"

 

"Lo, kenapa dikembalikan? Emang udah dibaca?"

 

"Udah, Mas? Aira pergi dulu, ya. Tadi sudah janjian sama beliau."

 

Hanif membuka mulut, ingin ia menghentikan langkah gadis itu. Meski di siang hari, ia tetap berniat menunaikan hajatnya yang tertunda dari semalam. Namun, belum sempat bersuara, sang istri malah sudah berlalu dari pandangan.

 

‘Ah, bukankah malam lebih baik dan lebih tenang?’ Ia meyakinkan diri meski terasa sedikit sulit.

 

*HUMAIRAH*

 

 _Part_15_

 

 

 *"Bukan Dia, Tapi Kamu"*

 

 

‘Nabi Bersabda, “Tidak akan binasa seorang manusia, selama ia masih berdoa kepada Allah.’

 

Matahari mulai meninggi di atas kepala, aura panas yang dipancarkan mulai terasa membakar kulit. Aira berjalan beberapa meter ke utara.

 

"Pasti Muna mencari-cari surat ini. Terus, bagaimana reaksinya jika tahu aku sudah membaca surat cintanya dulu dari Mas Hanif?"

Aira bertanya-tanya dalam hati.

 

"Pasti Muna bakalan merasa gak enak, terus mencari perujukan yang tepat untuk menjelaskan perihal surat itu."Ia mengangkat bahu, berusaha menebak namun takut salah.

 

Baru melangkah beberapa meter, matanya sudah bergerak cepat mendapati Muna berjalan ke pintu keluar. Sontak ia berteriak memanggil.

 

"Ustadzah Muna?"

 

Gadis yang dipanggil itupun menoleh. "Mbak Aira?"

 

Humaira mempercepat langkahnya sambil menggenggam buku di tangan.

 

"Mau kemana Ustadzah?"

 

"Mau ke kios depan, nyari perlengkapan mandi. Mbak Aira ada perlu sama saya?"

 

"Iya, saya mau mengembalikan buku yang saya pinjam kemarin dari njenengan. Ini?" Aira menyodorkan buku ke hadapan Muna.

 

"Cepat sekali dikembalikan. Emang sudah habis dibaca, Mbak?"

 

"Em ... sudah. Saya boleh ikut Ustadzah keluar?"

 

"Mau ngapain Mbak?"

 

"Cari jajanan."

 

"Lo, apa nanti nggak kecarian sama Ustadz Hanif, Mbak?"

 

"Udah ijin kok tadi."

 

"Oh, yasudah. Ayok,” ajaknya bersemangat.

 

Aira mulai memasang antena, ini saatnya mengulik masa lalu Hanif dan Muna. Perihal masa lalu, Bukankah ini urusan enteng. Ia selalu menanyakan riwayat masa lalu pada pasien-pasiennya. Meski yang ditanya bukan perihal cinta, melainkan riwayat penyakit, obat-obatan, dan apapun menyangkut kesehatan.

 

"Ustadzah sudah lama kenal sama suami saya?" tanya Aira tanpa menoleh. Keduanya secara berbarengan melangkah keluar pagar. Menapaki trotoar sekitar tiga meter untuk mencapai sebuah kios di seberang jalan.

 

Muna tersenyum, "Kok tiba-tiba nanya Ustadz Hanif Mbak?"

 

Aira bergidik, "Ah nggak, cuma pengen mengenal teman-temannya dulu aja ustadzah. Setau saya, Mbakkan salah satu temannya?"

 

"Oh, iya benar. Saya mengenal Mas Hanif itu udah lama Mbak, lebih dari lima tahun yang lalu. Waktu itu dia sering main ke rumah di Surabaya. Ustadz Hanif itu, temanan sama Abang saya ketika di Cairo." tukas Muna antusias.

 

"Oh gitu ...?"

 

“Ustadzah tahu bagaimana suami saya dulu?”

 

Muna menoleh. “Maksud Mbak?”

 

“Ya, kalau tampang pasti nggak berubah ya, Utadzah? Yang saya ingin tahu, karakter, sifat, ibadahnya juga akademisnya gitu, Ustadzah pasti tahukan?” jawab Aira sambil tersenyum.

 

Muna ikut tersenyum. “Sebenarnya ini bukan ranah saya ya, Mbak? Tapi saya kasih sedikit bocoran deh ...,” Muna menarik napas sejenak, “yang tidak pernah berubah dari sosok Ustadz Hanif adalah ketulusan dan tanggung jawab. Ia lelaki yang baik dan taat ibadah, kalau akademis, yang saya tahu beliau dulu sempat gagal. Tapi saya juga heran, tau-taunya sudah lulus S2 Mbak. Ustazd Hanif bahkan nggak ngabari saya, untungnya Abang saya yang beri tahu?”

 

Muna menarik napas panjang, mengingat hal yang membuatnya mempertimbangkan lamaran lelaki itu dahulu. Dan hal itu pula yang membuat lelaki itu pergi kelain hati.

 

Aira menggut-manggut mendengar cerita Ustadzah Muna. "Begitu, ya? Terus, Ustadzah pernah dengar nggak kalau beliau suka mabuk-mabukan?"

 

"Astaghfirulloh ... Ustazd Hanif bersih dari perbuatan tercela begituan, Mbak."

 

"Hihihi ... saya bercanda, Ustadzah. Kalau soal wanita, Ustadzah tau nggak sebelum sama saya, dia pernah taaruf sama siapa?"

 

Muna terhenyak mendengar pertanyaan Aira, kelopak matanya terangkat dengan mulut sedikit bergetar. Gadis itu lalu tersenyum dan menjawab, "saya tak tahu perihal itu. Jika Mbaknya penasaran, sebaiknya ditanyakan langsung sama tersangkanya."

 

Muna terkekeh mengusir rasa sakit di dada, mengingat dirinyalah wanita yang pernah dikhitbah Hanif. Aira yang tahu kejadian sebenarnya juga memaksakan diri ikut tersenyum. Meski jauh di lubuk hati yang paling dalam, rasa cemburu berlipat-lipat ganda menghujamnya. Ia tetap bersikap tenang.

 

Lebih tepat, mereka berdua berusaha bersikap tenang.

 

 Kedua tangan gadis itupun kini saling bergandengan, saat langkah kaki teriring bersama menyeberangi jalan besar menuju sebuah kios di depan pondok.

 

Usai berbelanja, Aira dan Muna memesan dua coppucino dingin di kedai sebelah. Aira cukup menikmati kebersamaan itu, sejenak terlupakan perihal surat cinta yang begitu menganggu pikirannya sejak semalam. Ia benar-benar menyukai pribadi Muna yang ceria dan pintar.

 

'Pantas saja Mas Hanif suka.'

 

Hampir satu jam mereka menghabiskan waktu di kedai itu. Tiba-tiba Muna seperti menangkap sosok Hanif di pos satpam. Ia memicingkan mata untuk memastikan penglihatannya.

 

 "Mbak, itu kayaknya Ustadz Hanif deh. Pasti Ustazd, kecarian ini Mbak?" Suara Muna memecah keramaian dengan lalu lalang kendaraan yang hendak menuju Mesjid, untuk pelaksanaan shalat Jumat.

 

Dari jarak yang dibatasi dua sisi jalan itu, Aira dapat melihat sang suami yang terlihat seperti orang kebingungan. Pandangan lelaki itu mengikuti kemana arah telunjuk penjaga pesantren memberi kode. Sepertinya sedang menunjuk keberadaan mereka.

 

"Iya, itu Mas Hanif. Kita balik yuk, Ustadzah?" ajak Aira.

 

"Oh iya, kita pergi lupa waktu deh kayaknya. Pasti Ustadz Hanif cemas," ucap Muna sembari terus menatap lelaki itu dari kejauhan.

 

Entah apa yang tiba-tiba membelenggu pikiran Muna. Sesaat ia merasa begitu beruntung gadis di hadapannya, baru hilang satu jam saja sudah dicariin kemana-mana.

 

"Andai saja ia yang ada di posisi itu, Astahgfirullah ...," Muna membatin.

 

"Pak, ini berapa? Hari ini saya yang traktir, oke!" ucap Muna sembari mengeluarkan beberapa lembar uang di saku gamis hitamnya. Aira hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih.

 

Muna menggandeng tangan Aira, sambil terus mengobrol, mereka berjalan hendak menyeberang jalan. Beda dengan beberapa saat tadi, kali ini jalanan tampak sepi.

 

Tanpa memastikan dengan baik, keduanya langsung melangkah. Terluput dari pandangan, sebuah motor melaju dengan kencang dari arah yang sama.

 

Sementara itu, dari kejauhan Hanif tersenyum saat akhirnya mendapati sang istri di seberang jalan. Meski sedikit silau karena pantulan sinar matahari yang jatuh tepat di atas atap sebuah kedai, namun Hanif masih dapat melihat sebuah motor berkecepatan tinggi berjalan di sisi yang sama dengan istri juga Ustadzah Muna.

 

"Humairaaa?"

 

Hanif berteriak dengan keras dan menunjuk ke sisi kiri, berharap Aira menyadari dan menghentikan langkahnya, namun sia-sia. Kedua gadis itu keasyikan ngobrol.

 

Secepat kilat motor itu menyambar keduanya. Tapi Hanif berhasil menyelamatkan salah satu gadis. Ia dan gadis yang diselamatkannya terhunyung ke trotoar jalan. Sementara satu gadis lainnya terpental sejauh tiga meter ke depan.

 

Dengan dada yang berdebar dan napas yang terengah-engah, Hanif melepas rangkulannya.

Lelaki itu dapat merasakan detak jantung yang berpacu pada gadis yang berhasil ia selamatkan barusan. Dengan gemetar dan berlinang air mata gadis itu menengadahkan wajah.

 

"Humaira, kamu nggak papa?" Hanif yang masih belum seimbang penuh memandang sosok yang kini ada di hadapannya.

 

"Astaghfirullah, Muna?" Hanif tercengang, ia segera menjauhkan tubuhnya dari gadis itu. Hanif baru menyadari jika yang ia selamatkan itu bukanlah istrinya, melainkan gadis lain.

 

"Humairaaa ...."

 

Dengan gegabah lelaki itu bangkit. Ia berlari dengan kaki gemetar. Hampir luruh seluruh tulangnya melihat gadis yang sangat ingin ia selamatkan, tergeletak bersimbah darah di atas jalanan.

 

"Lailahaillallah .... " Hanif mengangkat tubuh Humaira yang sudah tak sadarkan diri. Air matanya berderai dari kedua sudut mata.

 

Dari berbagai sisi, warga sekitar mulai berdatangan. Hanif tak menghiraukan berbagai tanggapan masyarakat, pikirannya kalut. Darah yang terus mengalir membasahi telapak tangan, membuat napasnya tercekat.

 

Jantungnya seakan benar-benar berhenti berdetak. Dengan gemeyar ia mengangkat tubuh sang istri yang berlumuran darah.

 

"Bertahan, istriku. Kita akan segera mencari pertolongan." Hanif mendesah dengan air mata yang henti berderai di kedua pipi.

 

Gus Fatih menekan pedal mobil, melaju secepat kilat membela

 

h jalanan kota Kediri menuju rumah sakit umum. Di samping lelaki berjenggot tipis itu, duduk Mang Baim, satpam pondok. Sementara di kursi belakang, Hanif masih merangkul sang istri yang tak sadarkan diri.

 

Tangan kirinya memegang jemari kiri Aira yang terkulai dengan beberapa goresan di siku, merobek lengan gamis warna navy yang di kenakannya.

 

Sementara tangan kanan Hanif, menekan bagian belakang kepala Aira yang terus saja mengeluarkan darah. Serasa waktu berputar layaknya siput berjalan, meski jarum barometer di angka 80/100 km/jam namun bagi Hanif mobil roda empat itu seakan merangkak di atas jalan.

 

Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah, Hanif menggerakkan telunjuknya pada tiap garis di lima jemari Aira untuk berzikir. Sesekali ia mengusap bulir embun yang lepas dari kelopak mata.

 

Matanya tak lepas dari menatap wajah sang istri dengan luka lecet di bagian sudut dahi, hatinya membawa penyesalan teramat, mengapa begitu ceroboh hingga tak bisa melindungi seseorang yang sangat ingin ia lindungi.

 

‘Humaira ....” Hanif terus membatin, berharap istrinya bisa selamat dari musibah itu. Lama ia memejamkan mata, menahan sekian banyak muara air yang terus ingin mengucur dengan deras. Andai bisa, ia ingin dirinya saja yang ada di posisi Aira saat ini.

 

Kurang dari tiga puluh menit, mobil mewah range rover itu sampai di halaman rumah sakit. Hanif mengangkat tubuh Aira dengan kedua tangan. Dengan sigap perawat memberikan brankar agar tubuh berlumur darah itu dapat di baringkan untuk dilakukan tindakan.

 

"Dok, tolong selamatkan istri saya?" Hanif memohon pada seorang dokter muda dengan name tag 'Reza'.

 

Ingin Hanif mengeluh, kenapa banyak sekali nama Reza di dunia ini. Namun tentu itu tak seberapa dibanding rasa cemasnya akan keselamatan sang istri.

 

"Berdoa pada yang diatas Pak, Insha Allah kami akan melakukan yang terbaik," jawab dokter itu yang sejurus kemudian menghilang di balik tirai berwarna hijau.

 

Hanif meremas-remas jemarinya, jantungnya terus bertabuh semakin kencang. Tak ia hiraukan ucapan Gus Fatih yang memintanya untuk tenang dan tidak mondar mandir di depan UGD.

 

Lima menit berselang, dokter muda yang tadi menangani Aira keluar. "Maaf Pak, ibu mengalami luka parah di bagian kepala, kita harus segera melakukan operasi untuk menutup luka dan menghentikan perdarahan. Satu lagi, tulang betis beliau sebelah kanan patah, juga akan memerlukan tindakan operasi. Kami butuh persetujuan suami untuk semua tindakan itu."

 

“Astaghfirullah ....” Hanif tercekat, kerongkongannya yang kering hampir tak mampu bersuara. "La-lakukan yang terbaik Dok, secepatnya. Jangan biarkan darahnya terus keluar hingga bisa berakibat fatal," jawab lelaki itu dengan suara bergetar.

 

Ada tangis yang semakin ingin berderai, menyadari musibah itu telah membuat istrinya mengalami derita di seluruh tubuh.

 

Namun sebagai seorang lelaki, ia harus kuat. Dan sebagai seorang yang beragama, ia harus yakin bahwa Allah akan segera mengijabah doanya.

 

“Bertahanlah istriku, Humaira, akan Mas gunakan seluruh hidup Mas untuk menjagamu. Meskipun harus tiap saat memapahmu kemanapun kau ingin pergi ...." Hanif terus berharap sambil tak henti menyebut kebesaran dan kemurahan sang Illahi.

 

*HUMAIRAH*

 

 _Part_16_

 

 

 *"Hiduplah Untukku"*

 

"Siapapun boleh berencana,  tapi Allah sebaik-baik pembuat rencana."

 

Rombongan Bu Nyai Bad sampai di rumah sakit. Muna ada dalam rombongan itu. Ia masih setengah sadar, rasanya tak begitu menapaki dunia. Peristiwa yang menimpanya dan Aira tadi seakan bagai mimpi buruk di siang hari.

 

Rasa bersalah seakan menggerogoti jiwa, ketika ia sadar bahwa yang seharusnya ada di posisi Aira adalah dirinya. Jika saja dia tidak mengelak, atau menukar posisinya dan Aira saat kecelakaan itu terjadi.

 

Kejadiannya begitu cepat. Muna yang berdiri di sebelah kanan Aira, terlebih dahulu mengetahui ada motor berkecepatan tinggi yang datang dari sisi kanan mereka. Ia ingin menyelamatkan diri dengan cara berbalik ke sisi trotoar. Tapi gerakannya justru membuat tubuh Aira yang masih dalam posisi melangkah terseret hingga hampir terjatuh.

 

Gadis itu kehilangan keseimbangan, dan ketika ia menyadari ada motor dengan jarak yang sangat dekat dengannya. Tentu Aira tak siap menghindar, hingga motor tak terkendali itu langsung menghantam keras tubuhnya.

 

"Astaghfirullah ... Mas Hanif bukan ingin menyelamatkanku, tapi Mbak Aira." Kejadian tabrakan itu terus berputar ulang di memorinya. Muna merasa dadanya begitu perih mengingat kejadian tersebut.

 

Sedikit berjingkat, ia menahan pinggangnya yang sakit akibat terhantam pinggiran jalan. Muna terus menyeimbangkan jalan Bu nyai Bad dan beberapa ustadzah lain yang ikut ke rumah sakit.

 

Mereka sampai di depan ruang operasi, di tempat itu Gus Fatih dan Mang Baim masih menanti.

 

"Ustadz Hanif kemana?" tanya Bu Nyai Bad khawatir.

 

"Punten, beliau ke mushallah Bu Nyai, mau shalat sunat katanya nyambi doa." Mang Baim menjawab dengan aura wajah pucat.

 

Sudah hampir satu jam Aira di dalam ruangan operasi, namun tak ada satupun yang keluar untuk sekadar memberitahu kondisinya seperti apa.

 

"Tiba-tiba, pintu yang tadi tertutup rapat tergerak. Seorang lelaki mengenakan pakaian berwarna hijau keluar. Ia melepas masker yang menutupi wajahnya.

 

Semua yang ada di lorong yang tampak lengang dari para pengunjung itu langsung berhamburan mendekati sang lelaki.

 

"Bagaimana keadaan Humaira, dok?" tanya Bu Nyai.

 

"Operasi sudah selesai, tapi Ibu Humaira belum sadarkan diri. Selama satu jam ke depan, kami akan memonitor keadaan umumnya, sebelum kami pindahkan beliau ke ruang ICU. Dan satu lagi, pasien juga mengalami kehilangan banyak darah, jadi beliau sangat memerlukan donor darah?" jawab lelaki itu lemah.

 

"Saya siap mendonorkan darah saya dok, golongan darah saya O?" sanggah Muna seketika.

 

"Iya. Tapi, Ibu Humaira memiliki golongan darah yang unik dan sangat langka. Bahkan di rumah sakit inipun tak tersedia pasokan darahnya."

 

"Golongan darahnya apa, Dok?" tanya Bu Nyai.

 

"Beliau memiliki golongan darah AB(-). Silahkan jika ibu-ibu sekalian mau bantu mencarikannya, lebih cepat lebih baik."

 

Rasanya seperti menelan pil pahit, kenyataan yang disampaikan dokter itu, tak membawa banyak kebahagiaan. Justru, semakin membuat hati siapa saja yang ada di tempat itu cemas dan berduka.

 

"Baik dok, tapi tolong dari pihak rumah sakit juga dibantu carikan?"

 

"Insya Allah."

 

Semua saling berpandangan. "Apa sebaiknya saya panggil Ustadz Hanif, Ummah?" tanya Gus Fatih.

 

"Biarkan saja dulu. Ummah akan coba menghubungi beberapa kerabat, siapa tahu ada yang bisa membantu." timpal Bu Nyai sambil menyeka sebulir air yang ikut menetas di pipi.

 

Ruangan kecil yang lantainya dialaskan karpet beranyamkan pintu masjid itu tampak sepi, hanya sesosok lelaki yang tampak tengah larut dalam munajat. Di sujud terakhirnya, ia tak dapat lagi membendung tangis, hanya kepada-Nyalah ia selalu mengaduh.

 

Kejadian hari ini, ia begitu menyesali tindakannya.  Mestinya, Humairalah yang ingin ia tolong, bukan Muna.  Tetapi,  kenapa gadis itu yang ada dalam rangkulannya?

 

Berbagai penyesalan kembali menghujam jiwanya, ia sadar beberapa waktu lalu,  akalnya sempat goyah akan penikahan yang sudah terjadi, tentu karena kehadiran Muna.  Namun, ia tak dapat menutupi,  rasa cinta yang hadir setelah melalui semalam s

 

aja bersama Humaira.

 

Perkataan seorang bijak bestari seakan dibisik di telinga Hanif, "Jika aku ingin membuatmu jatuh cinta, maka aku harus bisa membuatmu tersenyum. Tapi mengapa, tiap kali kau tersenyum, justru aku yang semakin jatuh cinta."

 

'Allah, inilah yang aku rasakan setelah menikahi Humaira, aku mencintai istriku. Selamatkanlah ia Rabb....'

 

*

 

Suasana koridor di depan ruang operasi masih begitu menegangkan. Semua tak bisa duduk tenang sebelum melihat Aira dikeluarkan dari ruangan pembedahan itu.

 

Sembari menanti satu jam lagi yang dijanjikan dokter, Bu Nyai terus saja mencoba menghubungi beberapa kerabat. Namun, belum ada satupun yang bisa memberi kabar membahagiakan.

 

Sementara itu, di atas kursi tunggu, Muna tampak tergugu. Mulut dan hatinya terus saja meminta kesembuhan atas musibah yang menimpa Aira.

 

Tiba-tiba, sesuatu terasa bergetar dari dalam tas yang ia sandang. Secepat kilat ia mencari sumber getaran itu.

 

"Ummah?" Lirihnya. Gadis itu segera menggeser layar berwarna biru itu ke arah kanan.

 

"Assalamualakum Ummah ..."

 

"Waalaikum salam. Una, kenapa belum sampai rumah? Jadi tak pulang hari ini, jangan sampai janji-janji terus lo, Un? Ummah nggak enak sama Mbak Elsa ...."

 

Muna menggigit bibir. "Ummah, ngapunten. Una tak bisa pulang hari ini. Sekarang Una sedang di rumah sakit, ada teman satu pondok yang kecelakaan?" kilahnya meski dengan ragu-ragu. Ia tahu pasti Ummahnya akan sangat kecewa.

 

"Kadhospundi iki? Sinten yang kecelakaan to?"

 

"Istrinya Ustadz Hanif Ummah?"

 

"Niku, Mbak Aira? Innalillah ... Yasudah, nanti Ummah sampaikan sama Nak Reza, mudah-mudahan ia tidak tersinggung kamu selalu saja berhalangan untuk bertemu?"

 

"Inggih Ummah ....nyuwun pandungo Ummah untuk kesembuhan Mbak Aira?"

 

"Nggih, Assalamualaikum.

 

"Waalaikum salam."

 

Hanya selembar foto yang pernah diberikan Ummah padanya. Menurut Muna, lelaki yang bernama Reza itu memang cukup berkharisma, namun sekilas lalu tak begitu membuat hati Muna tertarik.

 

Tapi ia yakinkan diri bahwa hal itu sebab mereka belum bertemu. Barangkali setelah proses taaruf nanti, ia bisa meyakinkan hati terutama untuk berhenti memikirkan lelaki yang mulai kembali membawa lari kewarasannya.

 

*

 

Reza tercengang. Berita barusan yang disampaikan Elsa membuat darahnya seakan berhenti mengalir. Tanpa pikir panjang, ia membanting setir, membelah jalanan menuju ke kota Kediri.

 

"Titip Abhi, Mbak?"

 

Elsa mendengkus. "Za, harusnya kamu jangan ikut campur lagi ...."

 

Lelaki itu tak ingin mengubris, ia terus melajukan mobil dengan cepat. Pikirannya benar-benar dipenuhi rasa takut. Ia bahkan lupa jika hari itu hari Jumat, dan terpaksa berhenti di salah satu Mesjid di pinggiran jalan saat di tengah perjalanan.

 

Meski sedikit tak khusuk, ia sabar menanti hingga pelaksanaan shalat selesai, baru kemudian melanjutkan kembali perjalanannya.

 

Reza mendesah panjang. "Gadis itu benar-benar payah! Menyeberang jalan saja bahkan ia tak bisa!"

 

Matanya menerawang jauh, tak jelas apa yang ia lihat. Di benak terus saja berkelebat wajah Humaira.

 

Tak sabar ingin segera sampai, Reza melajukan mobil bagai terbang di atas angin. Kurang dari empat jam, kendaraan beroda empat itu telah sampai di halaman rumah sakit.

 

Reza berjalan ke bagian resepsionis terlebih dahulu.

 

Setelah mengetahui ruangan dimana Aira dirawat, segera lelaki itu melangkahkan kaki dengan pasti. Satu hal yang tak dapat ditutupi meski wajahnya tampak bercahaya karena wudhu yang belum sempurna kering, rasa cemas hingga kerutan diantara alis tak sirna menyambangi wajah.

 

"Ya Allah, aku memang jarang meminta pada-Mu. Namun, kali ini aku datang, menengadahkan tangan, memohon pada-Mu. Sembuhkanlah ia, wanita yang tak kau takdirkan bersamaku. Berilah ia kehidupan, meski tak hidup bersamaku. Beri ia kebahagiaan, meski itu bersama orang lain. Aku tak mengapa. Sebab, aku mencintainya karena-Mu. Terimalah taubatku, ya Rabb ....?"

 

Isi doanya tadi sehabis shalat Ashar seakan masih berdengung di telinga. Mulutnya tampak komat-kamit mengulang doa itu.

 

Bukankah semakin sering berdoa, maka kesempatan untuk dikabulkan juga le

 

bih besar? Reza ingin terus berdoa, hanya itu yang ia bisa. Setidaknya berhenti jika ia telah melihat sendiri senyuman di wajah Aira.

 

Lelaki itu mempercepat langkah menuju ruang ICU. Sesuai petunjuk yang disampaikan seorang perawat dI bagian resepsionist tadi.

 

Ia hendak masuk, namun langkah dibetot kuat saat mendapati Hanif duduk sembari menggenggam jemari tangan Humaira. Sebuah yasin kecil ada di jemarinya yang lain. Lelaki itu sesekali mengelus puncak kepala Aira yang berbalut hijab seadanya.

 

Kelopak mata Reza terasa berat, dadanya perih melihat pemandangan itu. Ia berbalik keluar ruangan. Namun terhenyak saat membuka pintu, ternyata seorang gadis hampir saja bertabrakan dengannya.

 

Gadis yang hendak dijodohkan dengan dirinya oleh sang kakak.

Muna mengernyitkan dahi, seperti sedang berpikir dimana kiranya pernah bertemu dengan lelaki yang kini ada di hadapan.

 

"Kang Reza?" ucapnya kemudian.

 

Reza menghela napas berat, tak menyangka gadis itu bisa menebak namanya.

 

"Iya, saya," jawab Reza santai.

 

"Ummah nggak bilang jika saya tak bisa bertemu hari ini?"

 

"Owh, saya kemari ingin melihat seseorang yang lain."

 

"Siapa? Kamu kenal dengan Mbak Humaira?" Muna mendelik, sedikit terkejut mendengar jawaban Reza.

 

"Kenapa bisa begini? Apa yang menyebabkannya seperti ini?" Reza justru menanyakan kabar Humaira, tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan Muna.

 

Muna memilih duduk di kursi panjang di sisi koridor. "Jadi benar, kamu kemari karena ingin tahu keadaan Mbak Humaira? Apa kalian saudara? Atau jangan-jangan?"

 

Muna menghentikan ucapannya sambil menatap Reza.

 

"Jangan berpikir macam-macam. Kami hanya berteman. Sekarang tolong katakan kenapa dia bisa seperti ini?"jawab Reza sebisanya menenangkan diri.

 

'Teman? Jika teman,  kenapa sampai bela-belain kemari jauh-jauh dari Kediri?' Muna bertanya pada diri sendiri. Gadis itu yakin, bahwa raut wajah yang begitu cemas seakan menjadi juru bicara yang mewakili, bahwa hubungan mereka lebih dari sekadar teman.

 

Tapi Muna berusaha tetap bersikap tenang.

 

"Ummah bilang kamu mau mencoba taaruf dengan saya?" Muna tak menjawab pertanyaan Reza, justru memberi pertanyaan yang hendak mengulik tanya di benaknya.

 

"Bukankah kamu tidak bisa bertemu denganku hari ini?" jawab Reza. "Anggap saja ini bukan aku. Sekarang tolong jelaskan, kenapa Aira bisa kecelakaan?"

 

Muna mengernyitkan dahi. Kesal dan kecewa, bukan memberi jawaban yang menyenangkan, justru terus menanyakan Humaira.

 

“Baiklahh, jika kang Reza benar-benar ingin tahu ....”

 

Muna mulai menceritakan perihal kecelakaan itu. Air mata gadis itu menyembul saat ia menutup percakapannya. Sementara di sisi lain, Reza Hanya bisa menghela napas, ia benar-benar tak bisa berkata apapun mendengar pengakuan Muna.

 

"Terima kasih, aku akan pergi."

 

"Tunggu! Apa setelah ini, kamu masih ingin melanjutkan taarufnya?”

 

Sejujurnya Muna tak ingin menanyakan hal itu, tentu buatnya ini perkara yang sangat memalukan. Hanya saja, meski sebesar kerikil, harapan bisa bersanding bersama lelaki berlesung pipi itu mulai tumbuh tanpa diminta.

 

"Jika Allah berkehendak!" jawab Reza datar.

 

Muna terduduk lemas. Entah mengapa setelah Hanif, ia merasa akan mengalami kejadian yang sama. Kehilangan kesempatan bersama Reza.

*HUMAIRAH*

 

 _Part_17_

 

 

 *"Berhenti Berdusta"*

 

 

"Ia pergi lagi?” lirihnya sangat pelan. Selepas kepergian Hanif, air mata Humaira kembali berderai. ‘Kalau rindu kenapa pergi?"

Humairah.

 

"Kondisi Ibu Humaira masih belum stabil. Saya harap tidak ada satu perihalpun yang mengingatkannya pada kecelakaan kemarin. Sepertinya, beliau mengalami trauma psikologis.”

 

Perkataan dokter tadi terus terngiang di benak Hanif. Lelaki itu merasa amat bersalah, dan yakin semua ini karena Humaira tak terima atas kejadian kemarin.

 

Jika bisa, Hanif ingin mengutuk kecerobohann itu. ‘Bagaimana jika Humaira benar-benar tak mau memaafkanku? Astaghfirullah ....’

 

“Dok, tolong urus semua persiapan kepindahan rumah sakit. Saya akan membawa anak saya ke Tangerang. Biar Humaira mendapatkan pengobatan terbaik di sana,” ucap seorang wanita yang tak lain adalah ibunda Aira.

 

Begitu mendengar kabar kecelakaan yang menimpa sang anak, wanita itu langsung berangkat menuju Kediri. Ia sangat menyayangkan kecelakaan yang menimpa putrinya, meski dalam hati ia tetap meyakini bahwa semua itu adalah musibah.

 

Hanif terlonjak.

 

“Kenapa dipindahkan, Bu? Kondisi Aira ‘kan belum stabil?” tanyanya bingung. Dokter setengah baya yang menangani Humairapun ikut berpendapat.

 

“Benar, Bu. Bu Aira sudah melewati masa kritis, hanya saja masih belum stabil. Saya rasa beliau hanya butuh ketenangan. Sabar, Bu,” ucapnya menenangkan.

 

“Oke! Tapi setelah ia stabil, saya tetap akan memindahkannya ke Tangerang.” Ibunda Aira tetap pada prinsipnya.

 

Hanif hanya mampu menghela napas. Ia tak ingin berdebat dan memperkeruh situasi yang sulit itu.Yakinnya pada diri sendiri, kemanapun Aira pergi, ia akan ikut.

 

*

 

Mata elang itu masih terpejam, di sisi kiri Elsa duduk sembari merangkul Abhi. Di sampingnya, Muna duduk dengan raut wajah cemas. Menurut dokter Reza sudah sadar, tak lama setelah pingsan itu terjadi tiba-tiba. Tapi tubuhnya masih lemah, sehingga matanya masih saja terpejam.

 

"Maaf ya merepotkanmu? Harusnya pertemuan ini bukan begini?" Suara Elsa terdengar memecah keheningan.

 

"Kakak jangan sungkan, semua ini juga salah Muna. Jika Muna tak menceritakan kondisi Mbak Humaira yang membutuhkan donor darah, tentu Kang Reza tak sampai begini?"

 

"Tidak, bukan salah Njenengan. Memang Rezanya saja yang bandel. Ora dengar ta yang dibilang. Biar aja dia rasain gimana sakitnya kehilangan darah!" jawab Elsa kesal.

 

Ia sengaja menaikkan intonasi saat berucap karena dirinya yakin bahwa sang adik sudah sadar dan bisa mendengar ucapannya.

 

Elsa meliirik kembali sang adik dengan tatapan penuh iba. Kemudian mengalihkan pandangan menatap Muna.

 

Elsa merasa sangat berterima kasih karena Muna telah membantu proses rawatan Reza yang pingsan tiba-tiba di koridor rumah sakit. Juga Muna pula yang telah memberitahu padanya tentang kejadian naas yang menimpa sang adik.

 

"Mbak antar kamu pulang, ya? Sudah hampir pukul sembilan malam, nanti kamu malah terlambat tiba di asrama?"

 

"Em ... baik, Mbak?" Muna mengikuti langkah wanita cantik di hadapannya. Sementara Reza, masih terpejam dengan ditemankan oleh Bang Ipan, suami Elsa.

 

Selepas kepergian dua wanita itu, Reza membuka mata.

 

"Pura-pura tidur rupanya, kakakmu sangat mengkhawatirkanmu?" Lelaki jangkung yang tengah membuka koran itu menghentikan kegiatannya. Reza masih bergeming.

 

"Apa kau masih mengharapkan perempuan itu?"

 

Sedikit terkejut, Reza berusaha mendelik, "aku menolongnya tanpa pamrih."

 

"Jika itu tujuanmu, Mas senang mendengarnya. Reza, kamu tahu, jika Allah menghendaki suatu kebaikan kenapa hambanya di dunia, maka ia akan memberi hamba tersebut ujian atau cobaan?”

 

Reza menglihkan pandangannya, menyimak.

 

“Makanya kadang kala untuk mencapai sesuatu yang istimewa, kita kerap kali berdarah-darah terlebih dahulu. Semua karena Allah ingin menguji tingkat kesabaran dan keridhaan kita akan ketetapannya. Barangsiapa yang jika diberi ujian ia tetap ridha , maka Allahpun akan cepat meridhainya ketika ia meminta keridhaan-Nya.”

 

"Sebut saja, Siti Khadijah, Ummul Mukminin, sebelum Allah pertemukan beliau dengan manusia paling sempurna Baginda Nab

 

i SAW. Beliau Allah coba dengan mengambil dua kali suami yang amat dicintai. Maksudnya tidak lain, kecuali karena Allah ingin menguji kesabarannya, dan seberapa layak ia untuk mendapatkan yang terbaik. Begitu juga dengan takdir jodohmu, engkau disakiti, ditikung orang lain, tapi jika kamu ridha dan menganggap ini semua adalah kehendak Allah yang tak dapat dielak, maka Allahpun ridha denganmu. Yakinlah, bahwa lambat laun kau akan diberi kebaikan atas ujian ini."

 

Reza menghela napas panjang, apa yang disampaikan lelaki di hadapannya itu semua ada benarnya.

 

"Mengenai kakakmu yang begitu giat menjodohkanmu, Mas tahu, dia melakukannya karena tak ingin kau terus terluka. Juga ia sangat memikirkan nasib Abhi. Menurutnya, Muna adalah gadis baik, agamanya kuat, lulusan pesantren, dia tidak akan melakukan kesalahan seperti yang pernah dilakukan Salsa padamu, juga bisa menjadi ibu yang baik untuk Abhi. Namun, jika kamu tak menyukai gadis itu, tak mengapa jika kau tolak rencana kakakmu."

 

Reza kembali melirik abang iparnya itu. Lelaki itu begitu bijaksana, sedikit banyak apa yang diucapkan bisa membuat hati Reza tenang.

 

"Carilah yang sesuai dengan keinginanmu, tanpa mengabaikan Abhi. Tapi kau harus tahu, Elsa tak mungkin selamanya bersama kalian, dia istriku. Aku juga membutuhkannya. Sekarang istirahatlah, Mas mau ke Mushalla sebentar."

 

Mendengar nasihat panjang lebar yang disampaikan Ipan, Reza sedikit merasa perasaannya jauh lebih baik. Ia memang tak pernah melawan, apapun takdir yang menerpanya. Hanya saja, kadang sesuatu berbisik di benaknya, kenapa saat belajar ikhlas justru Allah buka jalan agar kembali terjerat.

 

Pertemuan di Kediri, kebutuhan darah Aira yang kebetulan hanya dirinya yang bisa membantu, bukankah tak ada satupun yang terjadi di dunia, melainkan atas kehendak-Mu ya Allah? Lalu apa arti semua ini? Apa kau ingin meyakinkanku bahwa, hanya ia jodoh yang kelak akan bersamaku?

 

Pertanyaan itu muncul tanpa bisa dihentikan Reza. "Apa ini hanya tentang waktu dan kesabaran ya, Allah? Aku akan menanti. Bukankah takdir itu milik-Mu, dan Engkau pula yang bisa merubah takdir hanya dengan doa? Maka kabulkanlah doaku ya Allah, berilah jodoh terbaik untukku ..."

 

***

 

Tepat pukul satu malam, Aira kembali membukakan mata. Kali ini ia terlihat lebih tenang, terutama setelah mendapati sang ibu ada bersamanya. Pikiran tersingkirkan yang mulai tertanam dibenak karena kecelakaan kemarin, mulai menemukan pegangan.

 

Aira menyisir seluruh ruangan, di tempat itu hanya ada ia dan ibunya. ‘Kemana Mas Hanif?’

 

Dengan sedikit kepayahan, Aira berusaha membangunkan ibundanya yang terbaring di pinggir ranjang.

 

“Bu ....”

 

Wanita yang dipanggil itupun terlonjak kaget.

 

 “Alhamdulillah ... kamu sudah siuman Aira? Ibu beritahu dokter dulu ya, Nak?”

 

Aira mengangguk, belum mampu berbicara banyak. Tak lama, ibundanya kembali bersama seorang dokter juga beberapa perawat. Setelah memastikan kondisi pasiennya benar-benar stabil, dokter itupun pamit keluar.

 

Sekian detik hening, Aira yang sudah mulai kembali kekuatannya memberanikan diri bertanya pada sang ibu, perihal sang suami yang tak kelihatan batang hidungnya.

 

“Mas Hanif kemana, Bu?”

 

“Oh, tadi ia permisi ke Mushalla. Kamu mau ibu telpon memberitahu keadaanmu?”

 

Aira menggeleng. Melihat reaksi itu, muncul tanya di benak ibunda Aira, “mungkinkah mereka bersiteru?”

 

Namun ibunda Aira membungkam mulutnya, tak ingin bertanya apapun mengenai kecelakaan kemarin. Seperti titah dokter, jangan ada satupun yang mengingatkan Aira pada kecelakaan itu.

 

Aira kembali memperhatikan sekujur tubuhnya, goresan di sana sini, dengan selang infus berisi darah  terpasang di punggung tangan.

 

Tiba-tiba, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat saat melihat tetesan darah di kantong itu jatuh ke selang yang tersambung ke tangannya. Ah, mungkin hanya halusinasinya.

 

Ia seperti merasa telah kedatangan tamu tak diundang, “Mas Reza, mungkinkah?

 

"Astaghfirullah ....!”

 

Aira menepis pikiran yang dapat melambungkannya ke lembah penuh dosa.

 

Detik kemudian, ia merasa kakinya begitu letih. Ingin  ia gerakkan sekadar mengusir

 

kekakuan, namun kenapa terasa begitu sulit.

 

“Kenapa kaki Aira, Bu?” Akhirnya keluar pertanyaan dari bibir gadis itu.

 

Wanita yang ditanya itupun terlonjak dan memilih diam sejenak, memikirkan cara menjawab yang paling baik hingga tak melukai perasaan putrinya.

 

“Tulang betismu ada yang patah, tapi tidak terlalu berbahaya kok?” jawabnya jujur tak ingin berbohong.

 

Aira menghela napas, sebagai tenaga kesehatan ia tahu betul kemana arah pengobatan akan tulang kakinya itu. Pasti operasi. Aira tak lagi memperpanjang pertanyaan.

 

“Istirahatlah dulu, jangan banyak berpikir. Kondisimu masih belum pulih sempurna.”

 

 Ibunda Aira mencoba menasehati gadis itu.

Aira mengangguk paham, mencoba memejamkan mata meski bola kecoklatan itu meminta untuk tetap terbuka. Sesaat bayangan Hanif, Reza dan Muna kembali terbesit di memori kepala.

 

‘Apakah kita saling tertukar jodoh?’ batin Aira meracau. Karena terlalu asyik berpikir, gadis itu tak menyadari jika jam di dinding sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Ia melirik ibunya yang nampak terlelap di atas sofa. Sementara dirinya, jangankan untuk tidur, memejamkan mata saja ia tak bisa.

 

Tiba-tiba, derit pintu kamar terbuka membuat pandangan Aira teralih. ‘Mungkinkah itu Mas Hanif?’

 

*

 

Lelaki berkopiah hitam masuk ke ruangan tempat Aira di rawat. Hanif melirik seluruh ruangan, ibu mertua sudah tertidur pulas, sementara sang istri juga masih memejamkan mata. dengan sungkan, ia berjalan mendekat.

 

Wajahnya yang lusuh, matanya yang kuyu, menyiratkan betapa resahnya ia seharian ini. Tapi demi sang istri, Hanif tak ingin terpejam. Hanya sujud panjang dan doa tak henti yang mampu ia lakukan, agar Allah segera membukakan mata istrinya.

 

“Sayang, Humaira? Bangunlah? Mas rindu ....”

 

Ia membelai lembut hijab sang istri sambil mengecup kening gadis itu. Lama ia menatap Humaira dengan tatapan yang begitu menyiratkan penyesalan.

 

Aira tak bergeming dengan mata yang masih tertutup, ia tak ingin menangis di hadapan lelaki itu. Tak berapa lama, Hanif kembali bangkit, langkahnya yang gontai bergerak mendekati pintu. Aira membuka sedikit kelopak mata, namun yang ia dapati, Hanif kembali keluar dari ruangan itu.

 

“Ia pergi lagi?” lirihnya sangat pelan. Selepas kepergian Hanif, air mata Humaira kembali berderai. ‘Kalau rindu kenapa pergi?’  

 

Sementara di luar, Hanif menyandarkan diri pada dinding kamar. Sebulir kristal lolos dari pelupuk mata. ia berusaha sekuat tenaga menahan agar buliran itu tidak menetas kala bersama sang istri.

 

“Inni Qaribun. Engkau dekat dengan hamba-Mu ya Rabb. Hanya kepada-Mu hamba bersandar, maka bukankanlah pintu maaf di hatinya untuk hamba?”

 

*

 

Pagi ini tampak begitu cerah. Rona kekuningan memancar tegas menerpa gedung-gedung, kendaraan yang lalu lalang, hingga celah-celah dedaunan yang bergerak pias. Kondisi Humaira semakin membaik. Entah pukul berapa ia tertidur semalam, ketika sadar, matahari sudah menembus tirai penutup jendela.

 

Matanya yang telah terbuka liar membidik, mencari seseorang yang semalam sempat singgah menjenguk. Namun, tak ada siapapun di ruangan itu keculi dirinya.

 

Matanya yang tertunduk lesu seketika terlonjak, saat pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka. Sang suami muncul dengan sebuah baskom kecil dan handuk tipis di tangan.

 

Seperti ada yang menghentak tubuhnya, seketika bagian yang berdegup di tubuh Aira berpacu kencang. Perpaduan antara bahagia dan kecewa. Aira tak tahu bagaimana melampiaskan dua rasa itu.

 

"Curang, kamu nggak memberitahu Mas sudah sadar sejak semalam,” tegurnya sambil mengambil posisi di sebelah sang istri. Gadis itu hanya menunduk.

 

“Sekarang sudah lebih baik ‘kan?” tanyanya lagi. Aira masih bergeming. Menyadari hal itu, Hanif tak menyerah.

 

“Mas, bantu kamu nyeka badan, ya. Tadi ada suster yang nyuruh Mas untuk menyeka tubuhmu?" Sedikit gugup Hanif mencoba mengucapkan kalimat ‘seka’ dengan lantang.

 

 Aira yang masih berbaring hanya menoleh, lalu berusaha menopang tangan untuk bangkit ke posisi duduk.

 

“Biar Mas bantu.” Cepat Hanif membantu sang istri agar bisa duduk dengan bersandar pada kepala bed.

 

"Makasih Mas."

 

Hanif menaikka

 

n lengan baju gadis itu, tapi Aira berusaha menarik.

 

“Aira?” sebutnya sambil menatap lekat manik kecoklatan yang kini juga tengah membidik netra kelamnya.

 

“Aira bisa sendiri, Mas?” Gadis itu meraih handuk dari tangan Hanif. Namun, Hanif menahan dengan kuat.

 

“Biar Aira lakukan sendiri, Mas?”

 

“Nggak, Mas yang seka!”

 

Aira menghela napas, belum pernah ia lihat Hanif sedemikian kekeuhnya. Perlahan genggaman tangannya pada handuk putih itu mengendur. Hanif segera mengambil alih tugas yang semula ingin ia lakukan sendiri.

 

Kelembutan Hanif saat menyeka kedua tangan dan kaki Aira, meluruhkan amarah yang sempat membuncah di dada. Pandangan gadis itu kini tertuju pada kedua lengan kokok milik suaminya. Ada yang kembali berdesir di dada mengingat lengan itulah yang telah mendekap Muna saat kejadian kecelakaan kemarin.

 

Ia kembali merasa ada yang menggantung di pelupuk mata. ternyata kebaikan Hanif, tak mampu menghilangkan rasa kecewa yang kadung membekas.

 

Aira memilih kembali menunduk. Saat Hanif selesai menyekapun, tak ada satu kata yang keluar dari mulutnya.

 

‘Sedemikian kokohkah benteng ego dalam dirinya?’ Hanif hanya mampu bertanya dalam hening. Berharap Aira segera melunak, dan mau memaafkan kecerobohannya kemarin.

 

*HUMAIRAH*

 

 _Part_18_

 

 

 *"Terbongkarnya Rahasia Reza"*

 

 

‘Sekuat apapun kamu berusaha menutup kebaikanmu, jika Allah berkehendak, aku pasti akan tahu.’

 

Setelah selesai menyeka tubuh sang istri, Hanif pamit untuk menebus obat ke apotik.

 

Sementara ibundanya belum juga kembali dari menjenguk salah satu kerabat yang juga dirawat di rumah sakit itu. Aira memutuskan untuk membaringkan tubuhnya kembali ke ranjang.

 

Lelah fisik juga psikolgis, rasanya setelah pernikahan berlangsung, kehidupan bukan semakin membaik, justru bertambah banyak cobaan yang datang mendera.

 

Tiba-tiba, ketukan pintu menggagalkan kelopak mata Aira untuk tertutup.

 

"Assalamualaikum," Terdengar suara seorang perempuan dari balik pintu.

 

"Waalaikum salam. Silakan masuk," jawab Aira singkat.

 

Aira benar-benar terhenyak, saat tahu siapa yang datang menjenguk. "Kak Elsa?"

 

Gadis itu tercegang mendapatkan Elsa berdiri dengan raut wajah lega. Sedetik kemudian wanita itu tersenyum hangat.

 

"Mbak Elsa disini?" tanya Aira kembali.

 

"Iya, senang bisa ketemu kamu.”

 

“Ayo masuk, Mbak. Ini menyengaja atau bagaimana?”

 

“Em ... sebenarnya Mbak sedang mengunjungi saudara yang sakit, tetapi semalam sempat ketemu sama Muna. Dia bilang kamu dirawat juga di rumah sakit ini. Maaf baru bisa menjenguk, kamu sudah baikan?" tanya Elsa yang sudah mengambil posisi di sebelah Aira.

 

"Alhamdulillah sudah Mbak, tapi tulang betis Aira patah,  jadi kemungkinan bisa jalannya masih lama. Mari duduk, Mbak?" Aira mengarahkan tangannya ke sebuah sofa.

 

“Syafakillah. Semoga lekas sembuh ya, dek, semua musibah.”

 

"Iya Mbak, makasih. Ohya, Mbak Elsa kenal sama Ustadzah Muna?" delik Aira detik selanjutnya.

 

"Sangat kenal."

 

Kedua alis gadis itu saling terpaut, berbagai pertanyaan kembali tercatat di benaknya. Namun dari sekian banyak tanya, ada satu yang begitu mendominasi, mengalahkan pertanyaan-pertanyaan lain yang juga begitu ingin ditanyakan.

 

"Mbak kemari sendirian?"

 

"Oh, nggak. Mbak sama Bang Ipan, suami. Reza tau kamu dirawat?" Iseng, Elsa mencoba menyebut nama Reza di hadapan gadis itu.

 

Mata indah Aira segera menyorot tajam. Inilah yang ingin ia tahu, apakah Reza juga ikut ke rumah sakit itu. Sebab, semenjak sadar, hati Aira merasa kalau lelaki itu pernah menjenguknya.

 

"Sepertinya Mas Reza nggak tahu, Mbak." Ragu, gadis itu mencoba mengutarakan apa yang terlihat bukan apa yang dirasa.

 

"Apa boleh Mbak memberitahukannya?"

 

"Sebaiknya jangan, Mbak. Aira juga udah baikan," jawabnya lirih. Aira tidak bisa membayangkan bagaimana jika lelaki itu tahu ia seperti ini, apakah uluran tangan atau malah merentangkan kedua tangan, dan membiarkan hati yang rapuh ini bersandar di dadanya?

 

Sementara kenyataan sekarang, dirinya adalah istri orang lain. Tak peduli orang itu mencintai sepenuh jiwa atau tidak. Yang Aira tahu, ia harus mengabdi, mengunci hati sekuat daya agar tak terjerat sesuatu apapun. Aira hanya tidak ingin merusak janji suci yang sudah diikrarkan di hadapan Allah.

 

Elsa melihat Aira menyeka matanya diam-diam. Ia hanya bisa mengurut-urut dada. Wanita itu mulai yakin, bahwa bukan saja adiknya yang terluka karena pernikahan Aira, lebih dari itu, gadis ini pula sama terlukanya.

 

Tapi inilah takdir yang harus diterima dengan lapang dada, jika tidak maka seumur hidup hanya ada kekecewaan yang dirasa.

 

Beberapa waktu, keduanya diselimut keheningan. Sebelum akhirnya Aira membuka kembali pertanyaan, mencoba menyisir kekakuan yang tiba-tiba tercipta.

 

"Mbak sama Ustadzah Muna, bagaimana bisa kenal dekat? Aira boleh tahu?"

 

Elsa mencoba tersenyum, meski hati kadung perih dengan segala kenyataan yang mulai tersingkap.

 

"Sebenarnya selain mengunjungi saudara yang sakit, bertemu Muna adalah alasan lain Mbak dan Reza kemari. Tapi semua rencana berubah karena tiba-tiba Muna membatalkan pertemuan kami."

 

"Pertemuan?"

 

Elsa menarik napas panjang, dalam hati ia berharap kali ini bicaranya tidak asal dan keterlaluan. Ia hanya berharap Aira dan Reza, keduanya bisa saling ikhlas dan belajar untuk move on.

 

"Muna itu ... wanita yang hendak dikhitbah Reza?"

 

"Khitbah?" Manik mata Aira membulat

 

sempurna.

 

"Iya, khitbah. Muna itu masih termasuk kerabat ... Mbak yang menyusun rencana ini.  Alhamdulillah, Reza tak menolak. Sepertinya adik Mbak mulai menyukai gadis itu. Mbak sangat berharap mereka berjodoh, dan Reza bisa segera mengakhiri status dudanya." Elsa menekan saliva, mencermati dengan baik raut wajah perempuan di hadapannya yang kembali terlihat redup.

 

Sejujurnya ia merasa bersalah karena telah berbohong, tapi demi kebaikan, ia yakin Allah akan mengampuni dosanya.

 

Aira terlihat menunduk, menutupi embun-embun kecil yang tak disadari kembali memenuhi pelupuk mata.

 

"Kamu kenal sama Muna? Bagaimana menurutmu, mereka cocok tidak?"

 

Aira mencoba menengadah. 'Mungkin Allah sedang mengujiku, suamiku menyimpan rasa pada wanita itu, bahkan sekarang lelaki yang jejaknya di hati sedang kucari cara menghapus itupun, ingin melamarnya juga? Allah ... kuatkanlah diri ini?'

 

"Maaf Mbak, Aira tidak begitu mengenalnya," jawab Aira singkat. Ia merasa kepalanya berdenyut hebat. Terutama di bekas benturan pada kecelakaan kemarin. Aira menekan-nekan pelipis, lalu mencoba untuk berbaring, Elsa juga ikut membantu.

 

"Kamu pusing?"

 

Aira menggerakkan kepalanya, mengangguk.

"Kalau gitu kamu istirahat saja ya, maaf Mbak sudah mengganggumu. "

 

“Nggak Mbak, Aira hanya kelelahan,” jawabnya dengan raut wajah sungkan.

 

Sebelum meninggalkan ruangan, Elsa mengelus kepala Aira yang terbungkus hijab. Sejujurnya hatinya terasa perih. Apa yang dirasakan Aira seakan juga ikut dirasakannya, terlebih setelah melihat kegigihan Reza terhadap gadis itu.

 

“Ketahuilah, Sayang, Allah Maha membolak-balikan hati. Mbak percaya kalian akan menemukan cinta sejati, suatu waktu nanti,” batin Elsa. Wanita itu kemudian melangkah keluar. Sementara di dalam, Aira menangis tersedu-sedu. Aira mata bagai hujan yang melimpah ruah membasahi bumi.

 

“Allah, aku berdosa. Aku sudah menikah, tapi di hatiku masih ada namanya. Jika dengan menghapus ingatanku, maka bayang-bayangnyapun sirna, maka hapuslah semuanya ya Allah. Agar hanya Engkau semata yang kuingat ....”

 

Gadis itu tak sanggup menahan berbagai rasa yang datang disatu waktu. Sekilas, ia teringat akan pesan gurunya pada pengajian terakhir yang ia ikuti, sebelum melepas status keperawanannya.

 

“Menikah adalah sunnah Rasulullah dan sunnah para rasul kekasih Allah. Sunnah yang paling membawa kenikmatan sekaligus bertabur pahala dan kemuliaan. Betapa indah dan bahagia sebuah pernikahan yang dibangun di atas pondasi keimanan dan kasih sayang, diliputi semangat saling memahami dan melayani, juga dihiasi keluasan ilmu dan budi pekerti. Pernikahan demikian, adalah idaman dan dambaan setiap dua pasang insan. Bahtera rumah tangga yang dibinanya siap berlayar mengarungi samudera kehidupan yang demikian panjang. Terkadang berjalan mulus dan lancar, kadang juga penuh badai dan gelombang. Namun, dengan niat dan tekad yang kuat, penghuninya akan berhasil melewati semua itu, hingga pada akhirnya sukses merengguk keindahan intan dan permatanya.”

 

Aira tergugu, “jika ini adalah badai dan gelombang dalam pernikahanku ya Allah, maka kuatkan diri ini, teguhkan hati ini, dan lapangkan dada ini. Buatlah agar hamba bisa memaafkan kesalahan suami hamba, juga hanya mencintai dia seorang ... Aamiinn .....”

 

Benar adanya, bahwa cinta itu menyakitkan. Rindu itu membinasakan. Andai cinta kepada-Nya lebih besar, tentu semua takkan sedemikian menyiksa.

 

Hanif kembali dengan sekantong obat yang baru saja ia tebus. Aira menatap lamat-lamat lelaki itu yang duduk bersandar di sofa,  sembari meneguk segelas air hangat dalam gelas. Tergambar jelas gurat kelelahan di wajahnya.

 

Sedikit menurunkan ego, tidak akan menjatuhkan harga diri. Karena kesal boleh saja menahan suara, tapi, diakan suami?

 

Bagaimana mungkin selamanya menyimpan dendam? Pikir Aira saat itu.

 

"Mas, sudah sarapan?"

 

Hanif kaget dan segera menatap Aira. Ini adalah pertanyaan pertama yang diajukan istrinya selepas sadar dari koma kemarin.

 

"Sudah tadi di kantin"

 

Aira tahu Hanif berbohong.

 

"Mas, bohongkan?"

 

Hanif tersenyum dan bergerak mendekati gadis itu. Ia gerakkan tang

 

an untuk memperbaiki posisi jilbab yang dikenakan Aira asal tanpa melihat cermin.

 

Aira terpaksa menatap mata teduh yang sejati telah membuat perasaannya campur aduk. Sepersekian detik kedua manik mata itu saling bertemu. Aira kembali menemukan kedamaian dalam sorot hangat yang menatapnya begitu dalam.

 

"Mas  suapin buburnya, ya?"

 

Aira bergeming, mencoba membaca hati yang terasa mulai goyah.

 

"Bismillahirrahmanirrahim ... ayo buka mulutnya.” Hanif memberhentikan sendok di depan mulut Aira, hingga mulut yang tadinya sudah dibuka terpaksa dikatub kembali oleh gadis itu.

 

Hanif tersenyum, ia merasa sang istri telah kembali dari sikap dinginnya. ‘Terima kasih ya, Allah. Engkau ijabah doaku.”

 

Sejurus kemudian, lelaki itu melanjutkan menyuapi Aira dengan aura bahagia yang tak terlukiskan.

 

"Maaf, ya?" Hanif meraih jemari Aira.

 

"Untuk apa?"

 

"Kecelakaan kemarin?"

 

"Lupakan saja, Mas."

 

Hanif bergeming dan memandangi Aira dengan tatapan sendu.

 

“Andai ada yang bisa Mas lakukan untuk menebusnya?”

 

Sesaat Hening, mereka terbang dalam pikiran masing-masing.

 

Aira melirik Hanif sekilas, jika mengingat kecelakaan itu, rasanya ia sangat membenci suaminya. 'Mas, andai saat itu kamu punya kesempatan untuk menyelamatkan dua orang, apakah kamu tetap lebih memilih menyelamatkan Muna, dan membiarkanku di hantam hingga menghilang dari kehidupanmu ?' Aira bertanya dalam hatinya.

 

Pikiran gadis itu kembali teracuni bisikan syetan. "Aira mau ke taman, Mas?" Ia berusaha mencari cara untuk mencairkan pikirannya.

 

"Hah, ke taman?" Hanif meyakinkah apa yang baru saja ia dengar.

 

"Aira mau ke taman?"

 

"Tapi, kakimu?"

 

Aira menunjuk sebuah kursi roda yang bertengger di sudut ruangan. Hanif mengangkat bahu.

 

Sebenarnya ia tak yakin dengan apa yang dimintakan istrinya itu. Baru semalam Aira sadarkan diri. Dengan kaki yang seharusnya tak boleh bergerak sama sekali, tentu bukan ide bagus ke luar ruangan.

 

"Mas ijin dokter dulu, ya?"

 

"Nggak usah,  Mas?"

 

Hanif mengembuskan napas khawatir, namun ia tak cukup kuat menolak permintaan sang istri yang ditekankan melalui sentuhan lembut tangannya.

 

Hanif luruh, lelaki itu terpaksa mengiyakan keinginan istrinya. Sedikit ragu ia menjulurkan sebelah tangan di bawah kedua lutut Aira yang terkulai di atas ranjang. Sebelah yang lain ia gunakan untuk menahan tubuh sang istri dengan mengaitkan di bawah lengan.

 

Meski canggung, Aira menyandarkan tangan kanannya pada pundak Hanif.  Menyadari sesuatu melingkari tengkuknya, lelaki itu menoleh seketika. Sesaat mereka berhasil dikuasai kegugupan.

 

Kedua sudut bibir Hanif tertarik menjauh. “Ini tubuh istri Mas berat sama pahala atau berat sama dosa, ya?” candanya yang dibalas tawa ringan Aira. Hanif semakin semringah dibuatnya.

 

Sudah lima belas menit mereka duduk di taman, meski hanya saling tatapan dan tersenyum ,  namun cukup membuat hati Hanif berdecak bahagia.

 

Terutama saat melihat raut wajah Aira yang terus memancarkan binar bahagia.

 

"Mas ...." Suara Aira terdengar memecah kebisuan.

 

"Iya?"

 

"Aira mau nanya sesuatu,  boleh?"

 

"Hem,  tanyalah apapun,  asal jangan tanya kapan Mas akan bertemu malaikat maut. Mas takut syirik!" Hanif tersenyum menyambut pertanyaan Aira. Di depan mereka sebuah taman kecil dengan kolom ikan tampak begitu memanjakan mata.

 

"Emm ... benar Mas punya perasaan sama Ustadzah Muna?"

 

Hanif menoleh seketika. "Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu? Apa ada hubungannya dengan kecelakaan kemarin?" Hanif balik bertanya.

 

Aira menajamkan pandangan, seolah begitu berharap agar sang suami mau menjawab pertanyaannya dengan jujur tanpa mengalihkan topik pembicaraan.

 

"Em ... oke, ini jawaban yang sejujur-jujurnya. Dulu, Mas memang pernah menyukai Muna, tapi itu dulu.  Sebelum Mas mengenalmu,” Hanif menarik napas panjang, “perasaan itu berubah ketika dia menolak lamaran yang Mas ajukan padanya. Mas akui saat itu, Mas begitu terpuruk. Namun, setelah kita bertemu, semua perlahan berubah.  Dan puncaknya, saat Mas melamar kamu. Nama Muna benar-benar lenyap dari ingatan Mas." Hanif menatap manik kecoklatan di hadapannya yang tampak berkaca-kaca

 

idak fit?

 

"Ibu kenal siapa orangnya?" tanya Aira penasaran. Hanif hanya bergeming, terlihat juga begitu ingin tahu.

 

"Saat itu saya tak sengaja mendengar percakapan mereka. Tapi belakangan saya dengar, ntu orang diopname juga disini, karena tiba-tiba jatuh pingsan. Namanya ... Reza, eh kok ngomong iki? Kan rahasia?"

 

Aira dan Hanif,  keduanya benar-benar tercengang.

 

"Benarkah yang dimaksud ibu itu,  Mas reza?.Ya Allah,  cobaan apa lagi ini?" lirih Aira.

 

Sejenak ia kembali teringat akan Elsa, ‘apakah wanita itu kemari juga bukan untuk menjenguk saudara, melainkan Mas Reza?

 

"Astaghfirullah ...."

 

"Tapi, kenapa Muna bisa ada di pesantren itu juga?” Suara Aira terdengar mulai bergetar.

 

“Mas tidak tahu kenapa dia bisa mengajukan surat lamaran di pesantren itu. Mas meloloskannya karena dia memang layak menjadi seorang pendidik. Tidak lebih.”

 

Aira menatap suaminya penuh tanya, “Aira menangkap, ada yang berbeda dari cara Mas menatap Muna?"

 

"Astaghfirullah ... nggak ada yang berbeda Humairaku? Kecuali jika Mas menatap seperti ini?" Hanif menyentuh kedua pipi Aira dan menegakkan wajah gadis itu hingga tatapan meereka saling bertemu. Spontan Aira menunduk.

 

"Kenapa menunduk, kami takut menatap mata Masmu ini?"

 

"Nggak,  Mas."

 

"Kalau begitu, ayo, tatap mata Mas?"

 

Perlahan Aira menengadahkan kepala. Memberanikan diri menatap bola kelam milik suaminya.

 

"Bukan seperti inikan Mas menatap Muna?"

Aira bergeming.

 

Hanif menggerakkan jari tangannya, mengusap kelopak mata Aira yang kembali tertunduk namun sudah meluncurkan sebulir kristal. "Ya Allah,  hilangkanlah api cemburu di kedua mata istri hamba ini?"

 

Aira semakin tergugu, apa yang dilakukan Hanif sungguh diluar dugaan. Namun, rasa cemburu malah semakin besar menyergap.

 

 ‘Apa karena aku mulai mencintainya, Allah?’

 

"Begini Humaira, Mas tidak akan membiarkan hati Mas berlarut-larut dalam kesedihan, karena Mas tahu ada Allah tempat berbagi. Apalagi sesuatu yang berlabel masa lalu. Bagi Mas, masa lalu itu hanya sebatas kenangan. Cukup dikenang disaat senang, dan dilupakan saat sedih. Mas memang pernah begitu mengharapkan Muna menjadi istri, tapi saat lamaran Mas ditolak, Mas langsung mencoba move on. Mas bukan tipe lelaki yang suka mengemis cinta. Untungnya kamu nggak menolak Mas waktu itu, kalau nggak mungkin kita juga tak berjodoh,” guyonnya sambil menyentuh hidung segitiga Aira.

 

Aira tersenyum, cemburu di dada mulai runtuh. Hanif menggenggam jemari tangan Aira.

 

"Demi Allah, Mas sudah melupakannya, hanya kamu yang Mas cintai saat ini dan seterusnya.”

Hanif terus mengunci pandangannya. Aira tertegun, rasanya bulir-bulir bening sudah mengantri ingin keluar. Namun sekuat tenaga ia tahan, terlihat seperti perempuan paling cengeng di dunia ini.

 

"Kita masuk, Mas.  Aira lelah ...," ucap gadis itu lirih.

 

Hanif menghela napas, dalam hati keyakinannya semakin teguh, bahwa sang istri perlahan kembali membuka hatinya. Detik kemudian, lelaki berkopiah hitam itu membuka pengunci kursi roda.  Pelan ia mendorong kursi itu menelusuri koridor.

 

Dalam perjalanan, hati Aira terus diliputi kegundahan. "Mas, maafkan Aira?" Tak lagi bertatapan,  namun Aira menyentuh jemari Hanif yang tengah mendorong kursi rodanya.

 

Hanif terlonjak kaget, ia segera menghentikan dorongannya dan melangkah ke depan.

 

Lelaki itu melipat kedua kakinya, tak peduli keberadaan mereka saat itu. Diraihnya jemari sang istri dan menciuminya dengan lembut.

 

"Makasih, Sayang?"

 

Aira mengangguk, keduanya hanyut dalam suasana yang membuat mata berderai, antara kesedihan dan kebahagiaan. Namun suasana itu rusak saat seorang wanita yang tengah memapah gulungan karpet tak sengaja menabrak mereka.

 

"Astaghfirullah!” Wanita yang pandangannya tertutup barang bawaan itu terlonjak.

 

Aira dan Hanif tersenyum.

 

“Ngapunten, Mas, Mbak. Tidak kelihatan tadi ...."

 

"Ah, iya Mbak, nggak papa. Monggo, silahkan." Hanif mempersilahkan wanita itu melanjutkan perjalanannya.

 

Namun, yang disilahkan malah berhenti sambil mengernyitkan dahi. "Njenengan yang kemarin nyari-nyari darah AB(-) ‘kan?” wanita itu langsung mengarahkan pandangannya ke wajah Humaira, “ini pasti Mbak Humaira?”

 

Aira dan Hanif saling berpandangan.

 

"Alhamdulillah, sudah segar sekali ya, Mbak?" lanjutnya tanpa jeda.

 

"Oh ..., Ibu ini yang kemarin ketemu saya di ruangan dokter, ya? Apa sudah dapat Bu donor darahnya?" Hanif mencoba mengenali wanita itu.

 

"Belum Pak. Kemarin saya coba-coba minta sekantong dari lelaki yang donorin darahnya buat istri Njenengan. Tapi dokter melarang, boro-boro dua kantong,  sekantong aja sebenarnya kagak boleh. Entu,  pendonornya juga sedang tidak fit."

 

"Hah?" Aira tak mengerti dengan apa yang diucapkan wanita itu, pendonor..

 

*HUMAIRAH*

 

 _Part_19_

 

 

 *"Pilihan Yang Sulit"*

 

"Mungkin, Allah menakdirkanku hidup sendiri. Tapi, bukankah Allah bisa merubah takdir?" Reza.

 

Astaghfirullah, kenapa kamu lakukan ini Mas, mengapa kamu tega mengorbankan diri demi keselamatanku?” Aira membatin gelisah.

 

Hatinya benar-benar kalut. Namun keinginan untuk bertemu Reza begitu besar, ingin tahu bagaimana keadaannya sekarang, juga untuk mengucapkan permintaan maaf atau terima kasih. Entahlah, mungkin pula dua-duanya.

 

Gadis itu menunduk lesu. Tak tahu harus bagaimana menyikapi keadaan ini.

 

"Kamu ingin Mas cari tahu, Reza dirawat dimana?" Akhirnya pertanyaan Hanif membuyarkan lamunan Aira.

 

Sedikit menengadah,  gadis itu mencoba menatap manik yang terlihat tak seceria tadi.  Tentu ini bukan yang ingin dikatakannya, tapi mengapa Mas Hanif terlihat begitu ikhlas?

 

"Emm ...," Aira berpikir sejenak, "haruskah aku menemuinya, tidakkah jika kami bertemu maka keadaannya akan semakin rumit. Terlebih melihat sikap Elsa yang seolah menginginkan agar ia menjauhi adiknya. Lagi-lagi batin Aira meracau penuh tanya.

 

Tiba-tiba ...

 

"Lho, Ibu Humaira kenapa keluar kamar?" Seorang lelaki muda berjas putih menegur Aira dengan gurat khawatir. Lelaki itu tak lain adalah dokter yang menangani Aira selama perawatan. Ia didampingi beberapa perawat sepertinya memang hendak melakukan observasi keadaan Humaira.

 

"Pak, Ibu Humaira belum boleh bergerak, tulang kakinyakan patah? Tolong Ibu segera didorong kembali ke kamar, ya? Saya mau melakukan beberapa pemeriksaan."

 

Hanif memandang Aira yang masih linglung.

 

 "Inggih dokter, maaf."

 

"Kita masuk ya?"

 

Aira memelas, ingin ia minta agar Hanif membawanya bertemu Reza, tapi bagaimana caranya? Ia takut itu akan membuat perasaan Hanif terluka.

 

Akhirnya, naluri Aira terkalahkan, kursi roda yang diduduki gadis itu kembali bergerak.

 

 Meninggalkan jejak tanya yang entah kapan akan mengantarnya pada pemilik darah, yang kini telah berbaur dengan darahnya.

 

'Sepertinya Allah memang tidak akan menyetujui kita bertemu, Mas.'

 

Elsa masih mengukur jumlah kata yang keluar dari mulutnya. Kehadiran Ipan dan Abhi lumayan mengusir kekakuan di antara dua kakak beradik tersebut.

 

"Papa, hari ini kita pulang 'kan?" tanya Abhi pagi itu.

 

Reza melirik Elsa,  seakan tak berani bersuara walau cuma berkata iya.

 

Sejujurnya, Reza memang sudah diperbolehkan untuk pulang. Dokter sudah mengatakan bahwa keadaannya telah stabil. Lelaki itu hanya butuh istirahat dan makan makanan yang cukup kadar zat besi guna meningkatkan tekanan darah juga hemoglobin.

 

Reza mengangguk,  sekadar memberi isyarat pada sang anak.

 

Tiba-tiba,  suara ketukan pintu mengalihkan semua tatapan yang tampak membeku.

 

Seraut wajah ketimuran muncul di balik pintu, Elsa tersenyum menyambut kedatangan gadis itu.

 

"Muna?" sapa Elsa riang. Gadis yang disapa itupun tersenyum sembari mengucapkan salam.

 

"Mas Reza sudah baikan?" tanya gadis itu kemudian. Namun langkahnya terhenti, takut yang hendak dijenguk merasa keberatan dengan kehadirannya.

 

"Alhamdulillah, sudah. Masuklah." Reza menjawab datar.

 

"Duduklah kemari." Elsa menimpali.

 

"Terima kasih, Mbak. Tadi saya sama beberapa Ustadzah yang lain berniat mengunjungi Mbak Aira."

 

Mendengar nama Aira disebut, wajah Reza yang lemas seketika berbinar penuh keingintahuan. Namun,  sebisanya ia bersikap wajar dan tak ingin bertanya.

 

"Saya dengar,  Mbak Aira sudah sadarkan diri," lanjut Muna.

 

Reza mengurut dada,  merasa begitu bersyukur dan bahagia atas kabar yang ia dengar itu.

 

"Ohya, baguslah.  Jadi nggak sia-sia donk pengorbanan Reza. Ya ‘kan, Mas?" Elsa sengaja mencibir Reza. Sang adik hanya bergeming.

 

"Ohya,  makasih ya bantuannya kemarin," timpal Reza mengalihkan pembicaraan.

 

Muna berbalik menatap Reza. " Sudah sepatutnya sebagai manusia saling tolong menolong, Mas. Apalagi yang saya tolong itu adalah seorang yang saya kenal."

 

"Ini ada nasi pecel buat yang sakit, barangkali Mas Reza berselera makan makanan khas sini." Muna bangkit dan menyodorkan sebuah plastik hitam berisi makanan. Reza meraih pemberian Muna tersebut.

 

"Terim

 

a kasih, harusnya tak perlu berlebihan begini," ucapnya sungkan.

 

"Nggak berlebihan kok Mas, itu tadi nyambi beli buat Ustadz Hanif, suaminya Mbak Aira."

 

Reza segera menoleh.

 

"Bu Nyai yang suruh, Ustadz Hanif itu suka sekali nasi pecal. Ohya, saya langsung pamit ya, Mas. Takut kecarian karena terlalu lama menghilang." Gadis itu mengulum senyuman, meski begitu, tetap terlihat begitu anggun.

 

Sejujurnya Reza mengakui kalau untuk urusan wajah,  Muna cantik.  Shalehah pula. Tapi di sisi lain, hatinya tak siap. Cintanya masih membekas untuk Aira.  Sebab itulah ia tak ingin terlalu ramah, takut Muna malah simpati dan berharap lebih padanya.

 

“Allah, bolehkan aku menunggunya? Jika hidupku hanya bersisa satu hari lagi di dunia ini, akankah Kau menyatukanku dengannya?”

 

*

 

Aira baru saja hampir memejamkan mata, namun kehadiran rombongan pesantren membuat manik itu kembali terbuka.

 

 Kedatangan mereka, disambut hangat oleh Hanif, Ibunda Aira dan gadis itu sendiri.

 

Semua lega melihat kondisi Aira yang semakin membaik. Bu Nyai adalah sala satu yang paling bahagia. Aira mencoba mencari jawaban, kenapa dalam rombongan itu semua hadir kecuali Ustadzah Muna?

 

Belum sempat bertanya,  netranya justru terbidik ke arah pintu yang tiba-tiba di ketuk.

 

 Ustadzah Muna muncul dengan wajah semringah.

 

"Maaf tadi singgah di ruangan sebelah,  kebetulan ada saudara juga yang dirawat di rumah sakit ini," ucap gadis itu saat mendapati semua mata kini tengah menatapnya. Seperti ada yang menusuk palung jantung, sekujur tubuh Aira menghangat saat melihat Muna ada di hadapannya. Sosok yang bersamanya saat kejadian naas itu terjadi.

 

“Ia bahkan tak terluka sama sekali? Oh Allah, aku hanyalah wanita biasa yang dipenuhi kecemburuan?” batin Aira.

 

Meski perih di sekujur tubuh telah menghilang,  namun rasa sakit dan iri mengingat dialah wanita yang lebih dipilih sang suami untuk di selamatkan, membuat bulir bening di matanya kembali mengenang.

 

Tak ingin buliran itu berderai, Aira segera mengucek-ngucek kelopak matanya.

 

"Nuwun sewu, Mbak Aira. Karena saya, njenengan jadi begini?" ucap Muna sembari menyentuh jemari Aira.

 

Aira berusaha tersenyum lalu menoleh ke arah Hanif.

 

Lelaki itu memandang dua wanita di hadapannya secara bergantian. Harapannya,  apapun yang dilihat dan didengar Aira,  tidak akan membuat hatinya bertambah sakit dan cemburu.

 

"Qadarullah Ustadzah, semua ini musibah," ucap Aira setelah asal mengartikan tatapan sang suami. Bukankah hatinya juga sama goyah, jadi buat apa memaksa Hanif segera melupakan wanita yang sangat ia cintai, kembali batin Aira dikacaui bisikan halus.

 

Detik kemudian, Aira mengalihkan perhatiannya. Berbagai pertanyaan yang diajukan oleh saudara se-Nabi Adamnya menuntut ia melupakan perihal cemburu.

 

“Aku harus kuat.  Demi sebuah janji yang sudah terlanjur di hadapan-Mu ya, Rabb.”

 

*

 

Matahari semakin condong ke barat, Hanif tampak sibuk dengan beberapa berkas yang harus ditanda tangani. Tadi Ustadz Fatih datang membawakannya beberapa lembaran yang harus segera dirampungkan dan dikirim besok ke Departemen kementerian Agama.

 

Di sisi lain, Aira masih terbaring. Sesekali melirik sang suami yang tampak begitu khusuk dengan kerjaannya, detik kemudian ia menunduk. Aira baru sadar, lelaki yang hampir tak pernah melepaskan kopiah hitam itu ternyata begitu menawan.

 

Tiba-tiba Ibunda Aira masuk ke ruangan, setelah setengah jam yang lalu menghilang entah kemana.

 

"Nak Hanif, Ibu minta waktunya sebentar,” ucap wanita itu sambil duduk di sebelah menantunya. Aira ikut menoleh.

 

“Ibu akan membawa Aira pulang ke Tangerang?"

 

Semua yang ada di ruangan itu tersentak. Hanif tampak menghentikan kegiatannya.

 

"Nyuwun Bu, kenapa harus pulang ke Tangerang?" tanya Hanif dengan perasaan khawatir.

 

"Iya Bu, Aira disini saja udah?" timpal gadis itu. Ia sekilas menatap sang suami yang mulai terlihat cemas.

 

"Ibu hanya kasihan sama Hanif, jika kamu disini, dia harus menjaga kamu dan melalaikan pekerjaannya?"

 

"Oh itu, nggak papa Bu, saya tak keberatan jika harus menjaga Aira. Lagian cuma mengurus pondok, nanti saya bisa minta tukar j

 

am mengajar dengan ustadz dan ustazdah yang lain?" Hanif menjawab dengan raut yang tak tergambarkan. Berharap yang disampaikan ibu mertuanya itu sekedar guyonan.

 

"Keputusan ibu sudah bulat. Biar Aira sama ibu dulu, sampai dia bisa bangkit sekurang-kurangnya mengambilkan kamu minum."

 

"Nyuwun, Bu. Kalau itu, saya bisa sendiri. Jika ibu masih khawatir, saya akan carikan seseorang yang bisa membantu Aira mengurus segala keperluan di rumah?"

 

"Lho, ngapain cari orang.  Wong ibu masih kuat. Ibu masih sanggup menjaga yang sakit-sakit begini.  Masalahnya cuma Abi itu lo,  sekolahnya kasihan jika harus ikut Ibu kemari. Pokoke niat ibu nggak bisa diganggu, Aira ikut Ibu pulang ke Tangerang."

 

Hanif terdiam, ia menatap Aira berusaha mencari pembelaan. Namun, Aira tak berkata apapun. Ia paham betul sifat ibunya, jika sudah berkeinginan, apapun akan dilakukan demi mewujudkannya.

 

*

 

Mobil Fortuner Hitam milik Ipan tiba di Tangerang setelah azan isya berkumandang. Di belakangnya menyusul Reza yang mengendarai mobilnya seorang diri. Elsa turun,  mengikuti langkah Abhi yang tampak sedikit mengantuk.

 

"Za,  Mbak nggak nginap sini lagi, ya?"

Reza yang hendak masuk menyusul Abhi seketika menoleh.

 

"Mbak marah sama aku?"

 

Elsa tersenyum, "buat apa marah sama kamu? Mbak itu harus temeni Bang Ipan, dinas di luar kota."

 

Reza mendesah. "Pasti rumah sepi nggak ada yang ngomel-ngomel lagi?" candanya yang ditanggapi Elsa dengan senyuman. Kelopak mata Reza mendadak terasa berat, teman hidupnya satu persatu pergi, dulu istrinya, lalu uminya, sekarang Elsa.

 

“Allah, jangan ambil lagi orang yang kusayang?” Ingatannya melambung pada buah hati satu-satunya yang ia punya.

 

"Hei!” Elsa mengayunkan tangan di hadapan wajah Reza. Lelaki itu tersentak, lalu memaksakan diri untuk tersenyum.

 

“Makanya buruan cari Mama buat Abhi?"

Reza mengangguk, "Mbak pamitan dulu sama Abhi. Kasihan, pasti dia bakalan nangis."

 

Wanita itu terhenyak, ada yang membuatnya ragu untuk pergi, ‘Abhi’. Ia melangkah masuk,  meski hati bergetar hebat, yakin apa yang diucapkan Reza akan terealisasi sesaat lagi.

 

Sudah cukup lama ia berada di rumah itu, terhitung semenjak umi mereka meninggal dunia. Rasa sayangnya pada Abhi melebihi apapun.  Apalagi sampai saat ini,  ia belum jua dikarunia momongan. Andai bisa memilih ia tak ingin pergi saat itu. Tapi bagaimanapun, Ipan telah berkorban banyak. Tak ayal jika sebagai istri, ia menolak permintaan suami agar menemaninya bekerja.

 

Reza menatap sang kakak yang berjalan memasuki rumah, menyusul Abhi. Reza tak masuk,  ia tak sanggup menyaksikan apa yang sesaat lagi terjadi dalam sana.

 

Lima tahun lalu, perpisahan pernah membuat Abhi menangis hebat. Saat itu Abhi memang masih kecil, tapi ia mengerti akan kehilangan ibunya. Bahkan bocah itu berhari-hari demam hingga harus dirawat.

 

Reza merasakan dadanya semakin sesak,  ingatan itu membuat jantungnya seperti ingin berhenti berdetak. Tak lama, tangisan yang dulu pernah ia dengar kembali berendus di telinga. Reza mengambil earphone dan memasang ke telinga.

 

"Jangan menangis Sayang, kamu masih punya Papa. Selamanya Papa akan menemanimu?"

 

*

 

Hanif membalikkan langkah, setelah mengetahui ponselnya tak ada di kamar, lelaki itu buru-buru mencari di mobil. Khawatir ada panggilan penting dari rumah sakit.

 

Benar saja, melihat panggilan tak terjawab lebih dari dua puluh kali di layar ponsel, Hanif begitu terhenyak. Jantungnya semakin berdebar saat tahu semua panggilan itu berasal dari sang istri, yang ia tinggalkan di rumah sakit bersama ibu mertua.

 

Lelaki itu buru-buru memencet ulang tombol panggilan. Dua kali, tak ada jawaban. Akhirnya dengan tergesa ia duduk kembali di balik setir.

 

Hanya perlu waktu sepuluh menit saja, Hanif sudah bertengger kembali dirumah sakit.

 

"Kenapa telpon Aira nggak diangkat-angkat, Mas?" Aira langsung mencecar Hanif dengan pertanyaan.

 

"Hus, suami baru sampai, mbok ya disuruh duduk dulu?" timpal ibunda Aira.

 

Tanpa menunggu perintah sang istri, lelaki itu langsung menarik sebuah kursi untuk diduduki. Kopiah yang bertahta di kepala, ia taruh di atas paha. Semb

 

ari menarik napas panjang,  lelaki itu merelaksasikan saraf-sarafnya yang sempat menegang, karena pikiran buruk yang tiba-tiba muncul akan sang istri.

 

"Maaf tadi, ponselnya ketinggalan di mobil? Kamu nggak papa?" Hanif menyentuh kening Aira dengan punggung tangan. Seketika amarah yang tadi sempat tersulut di hati Humaira perlahan mereda seiring sentuhan lembut di keningnya.

 

"Aira nggak apa-apa, Mas. Cuma tadi itu dokter manggilin Mas buat membicarakan masalah operasi kaki Aira. Tapi ini udah dihandle sama Ibu?" Aira menunjuk sang ibu dengan isyarat mata. Hanif segera berpaling.

 

"Astaghfirullah ... Jadi bagaimana Bu, keputusan apa yang sudah disepakati?" selidik Hanif penuh khawatir.

 

"Dokter tadi nanya ke Ibu, kapan Humaira siap dioperasi."

 

"Lalu, bagaimana Bu?"

 

"Ibu bilang, Humaira akan Ibu bawa pulang ke Tangerang."

 

"Ya Allah, Bu ...," Hanif mengusap wajahnya, "Kenapa nggak tunggu saya dulu, Bu?"

 

"Kalau nunggu Nak Hanif kelamaan. Orang telponnya juga nggak diangkat," ketus sang ibu. Hanif mendesah.

 

"Mas nggak keberatan ‘kan?" sambung Humaira.

 

Hanif segera menoleh. ‘Ya Allah, sekarang istrikupun ikut-ikutan ibunya?’

 

"Humaira, Mas hanya tak ingin berjauhan darimu?”

 

Ibunda Aira tersenyum, inilah yang ia harapkan.

 

"Sudah ya, Nak Hanif. Percayakahn sama Ibu. Jika kamu sedang banyak waktu, pulanglah ke Tangerang?"

 

Hanif berdiri mematung, merasa ada yang aneh dengan keputusan ibu mertuanya. Tapi ia bisa apa, sebagai menantu yang baik, ia harus mendengarkan wanita itu. Sedikit bersabar, hanif yakin semua akan indah pada waktunya.

 

"Saya janji, jika masalah di Pesantren rampung, saya akan segera menyusul."

 

Ibunda Aira tersenyum lebar, sementara Aira tertunduk lemas. Sudah ia duga bakalan seperti ini, memang dirinya tak berarti apapun di hati Hanif.

 

***

 

Kira-kira jadi nggak ya, Aira dibawa pulang ke Tangerang? Atau cuma akal-akalan ibunda Aira,  supaya keduanya bisa saling memahami arti kebersamaan?

 

 *HUMAIRAH*

 

 _Part_20_

 

 

 *"Aku Mencintaimu Humaira"*

 

 

'Jika aku ingin bahagia dalam pernikahanku, aku harus bersabar.’ Humairah.

 

Berita kepindahan Humaira berendus di Pondok. Kiai Dahlan dan istrinya menyambangi Aira kembali di rumah sakit pagi itu.

 

"Jadi benar berita bahwa Aira akan di operasi di Tangerang?" tanya Bu Nyai.

 

"Benar, Bu?" jawab ibunda Aira tak mengurangi rasa hormatnya pada wanita, yang begitu perhatian akan anaknya selama seminggu ini.

 

"Kenapa tidak di sini saja, Bu?"

 

"Kasihan Hanif Bu harus menjaga Aira seorang diri. Sebab saya tidak bisa berlama-lama meninggalkan rumah, ada seorang cucu yang menjadi tanggungan di sana."

 

"Oh kalau masalah itu, seharusnya Ibu teh jangan khawatir, di sinikan kami bisa gantian menjaga Humaira. Saya sudah menganggapnya seperti anak sendiri, Bu. " pungkas wanita bercadar itu penuh kelembutan.

 

"Jangan Bu, biarlah saya yang merawatnya sendiri, saya tidak ingin merepotkan keluarga di sini...?"

 

"Hem, yasudah kalau itu sudah menjadi keputusan. Lantas kapan rencana dibawa pulang, Bu?"

 

"Insya Allah hari ini Bu?"

 

Mendengar perkataan ibunda Aira, Bu Nyai sedikit mengurut dada. Tidak bisa berbuat apa-apa selain mendoakan, agar Aira mendapat perawatan terbaik di Tangerang.

 

Semua sudah beres, sebuah ambulance juga sudah menunggu Aira di halaman. Tiba-tiba,  ketika hendak melangkah keluar, Hanif mendapati Muna berdiri di balik pintu. Ia terhenyak.

 

Muna dan Hanif saling bersitatap beberapa detik, tersadar berada pada keadaan yang tak wajar. Keduanya segera membuang pandangan.

 

Sesuatu segera terlintas di benak Hanif, teringat akan beberapa pertanyaan yang ingin ia ajukan pada gadis itu. Namun Hanif mengurungkan niatnya, ia merasa saat ini bukankah waktu yang tepat.

 

"Saya dengar Mbak Aira mau di bawa ke Tangerang," tanya Muna masih di depan pintu kamar.

 

"Iya, ini Mas mau memastikan apakah ambulancenya sudah siap."

 

"Boleh saya bertemu dengan Mbak Aira sebentar saja, Mas?"

 

Hanif melirik ke dalam, Aira tengah duduk sembari merapikan hijabnya. "Boleh, masuklah."

 

Munapun melangkah ke dalam, berbarengan dengan langkah Hanif ke luar ruangan. Sesuatu seperti berdesir hebat di dada gadis itu. Perasaan ini, Muna sungguh tak sanggup menahannya seorang diri. Menjadi yang tersisihkan demi sesuatu yang pernah ia sia-siakan dahulu, rasanya benar-benar menyakitkan.

 

Muna terus melangkah mendekati Aira yang tampak sedikit kaget. Gadis itu segera mempersilahkan Muna duduk di sebuah sofa.

 

Menyadari kedatangan tamu dari pesanyren, ibunda Aira bangkit, meninggalkan keduanya untuk sejenak.

 

"Ada apa Ustadzah Muna kemari pagi-pagi?"

 

"Saya dengar Mbak Aira mau dibawa ke Tangerang, benar?"

 

"Iya, benar Ustazdah. Ada yang mau Ustadzah sampaikan"

 

Sesaat keadaan terasa hening. Kedua bibir gadis itu kelu beberapa detik.

 

"Mbak Aira, saya tidak ingin ada kesalahpahaman diantara kita."

 

Aira menajamkan tatapannya. "Perihal apa Ustadzah?"

 

"Kecelakaan itu ...."

 

Aira menarik napas, melebarkan dadanya untuk sesuatu yang barangkali akan membuatnya merasa sesak sesaat lagi.

 

"Katakanlah Ustadzah?"

 

"Ini semua salah saya Mbak?" Muna menjelaskan dengan wajah sendu.

 

Aira mendongak, telinganya telah siap mendengar semua yang akan disampaikan Muna.

 

Aira menarik napas panjang, cerita Muna barusan membuat dadanya sempit dan butuh banyak pasokan udara. Ia menggenggam tangan Muna, "Bolehkah saya bertanya sesuatu Ustadzah?" Gadis itu tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, sesuatu yang begitu membuncah di dada harus ia luruskan, agar tak terus menyiksa batinnya.

 

"Apakah Ustazdah masih menyukai suami saya?"

 

Muna tercekat mendengar pertanyaan yang diajukan Aira. Ia menelan saliva, "Bagaimana bisa Mbak menanyakan hal ini?”

 

"Saya sudah tahu semua dari Mas Hanif. Juga sebuah surat yang saya temukan di dalam buku yang saya pinjam kemarin, surat Mas Hanif untuk Ustazdah dahulu. Saya hanya perlu tahu, bagaimana kedudukan surat itu kini dihati Ustadzah?"

 

Muna tertunduk bersalah, bibirnya yang ranum tiba-tiba berubah pucat. "Saya sudah tidak ada perasaan Mbak sama Mas Hanif, bahkan sedari

 

dulu," jawabnya dengan suara bergetar.

 

Aira menarik napas, ia tahu gadis di hadapannya itu berbohong. Wanita memang pandai menutupi perasaan, juga dilengkapi insting kuat akan segala sesuatu. Namun, sesama wanita, kebohongan Muna terbaca jelas oleh benak Aira.

 

'Ustadzah tak sendiri, kita bernasib sama. Sama-sama melepaskan yang kita cintai. Hanya alasannya yang berbeda. Tapi kita harus tahu, bahwa sesuatu yang sudah pergi, takkan pernah kembali kecuali satu, doa yang tulus.'

 

Aira mengerjap berkali-kali, ia melihat Muna seperti berkacakan dirinya sendiri. Namun ia tetap berusaha meyakinkan diri, bahwa takdir yang terjadi padanya hari ini, suatu saat pasti akan diingat sebagai karunia. Hanya perlu berprasangka baik, bukankah Allah tergantung pada prasangka hambanya.

 

Kenapa harus ragu, jika Allah telah berjanji akan membahagiakan hambanya dalam sebuah pernikahan? Ini adalah satu janji Allah yang mulai terlaksana, keterbukaan antara ia dan wanita masa lalu suaminya.

 

Aira berusaha bangkit, ia membisikkan sesuatu di telinga Muna. "Terima kasih Ustazdah. Ustadzah wanita yang begitu baik, saya yakin, Ustadzah akan mendapatkan jodoh lelaki yang amat sangat baik. Insya Allah."

 

***

 

Hari semakin beranjak, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Sinar mentari mulai terasa hangat menyentuh kulit. Hanif kembali mengangkat sang istri ke kursi roda. Meski hanya hitungan detik, pandangan mereka kembali terpaut sangat dekat.

 

Perlahan, lengan kekar Hanif mendorong kursi roda sang istri hingga sampai ke pintu keluar rumah sakit. Ibundanya dan beberapa perawat ikut mendampingi. Sepanjang perjalanan menuju pintu utama, Aira mengedarkan pandang ke setiap jejak yang ia lewati.

 

Rumah sakit ini punya arti khusus di hatinya. Semua rahasia tersingkap di tempat ini, untuk semua ia tak henti berucap syukur, kecuali akan satu hal, kesempatan untuk berterima kasih pada Reza.

 

"Allah...jika semua kesempatan di dunia ini telah Engkau tutup, ijinkan lisah ini untuk mendoakannya, agar ia senantiasa sehat dan bahagia?"

 

Mereka telah sampai di lantai dasar, hanya beberapa langkah lagi untuk sampai ke ambulance.

 

Semakin kemari, Aira semakin butuh topangan. Beban di jiwanya seperti bongkahan batu yang amat berat. Ia menggenggam tangan Hanif, merasa tak ingin diasingkan dalam mobil putih bersirine itu seorang diri.

 

Hanif sedikit terhenyak, ia membalas genggaman tangan Aira padanya."Kamu nggak papakan sendiri?"

 

Aira hanya mengangguk, ingin rasanya ia jujur, meminta Hanif menemani. Tapi bibir terasa kelu, kejujuran pada suami yang harusnya tak perlu di rasa sungkan, malah sedemikian sulit ia utarakan.

 

Gadis itu menarik napas panjang ketika tubuhnya sempurna terlentang diatas bed ambulance. Sebelum menutup pintu, Hanif mengelus puncak kepala Aira.

 

“Sabar, ya. Mas nggak akan lama?”

 

Aira mengangguk, seperti akan pergi jauh dan takkan kembali. Ucapan Hanif benar-benar menusuk kalbu gadis itu.

 

Menit berikutnya, pintu bercat putih itu telah tertutup. Kini di tempat itu hanya ada Aira seorang diri. ‘Kenapa Ibu nggak duduk di sini?’ batinnya bertanya.

 

"Kamu nggak papakan, Nduk?" Seperti paham apa yang dirasakan sang anak, Ibunda Aira memastikan dari tempat duduk depan.

 

"Iya, Bu. Apa sudah mau berangkat, Bu?"

 

"Sebentar lagi, ya?" jawab ibunya singkat.

 

Aira benar-benar ingin segera pergi, berada di tempat itu lebih lama, hanya akan membuat matanya berurai-urai cairan. Setega itu Hanif padanya, ternyata pengakuan Muna tak berarti banyak.

 

Mungkin Muna bisa menutupi perasaannya, tapi bagaimana dengan Hanif? Bisa saja yang diucapkan lelaki itu kemarin, juga sebuah penyangkalan akan rasa yang sebenarnya masih begitu besar. Pikir Aira.

 

Tiba-tiba, pintu ambulance kembali terbuka. Aira tak percaya saat mendapati Hanif yang membuka pintu itu.

 

"Mas Hanif?" sebut Aira.

 

Lelaki itu tersenyum dan melangkah masuk.

 

"Mas-Mas Hanif katanya nggak ikut?"

 

"Mas nggak bisa tinggal di sini tanpa kamu?"

 

Aira masih menatap lelaki itu tak percaya, "tapi bukankah Mas harus mengurus pesantren?"

 

Hanif bergeming, Aira tengah mempersiapkan hatinya, barangkali sed

 

etik lagi Hanif berubah Pikiran dan benar-benar mengurungkan niatnya kembali.

 

"Mas pikir, pesantren masih ramai yang bisa ngurus, tapi kamu ...." Hanif menghentikan ucapannya, "Mas tak ingin melewatkan kesempatan merawatku."

 

Aira mengembuskan napas lega. Akhirnya sesuatu yang ia harapkan terwujud. "Terima kasih Allah ...."batinnya berdoa.

 

Senyum semringah Aira disambut genggaman erat sang suami. Seakan tak ingin  berpisah, mereka saling meluapkan rindu melalui tatapan. Kini kendaraan beroda empat itu perlahan bergerak, meninggalkan kota dengan sejuta kenangan meski untuk sementara waktu.

 

"Kamu mau Mas bacakan kultum?"

 

"Apa?" Aira mengernyitkan dahinya.

 

"Iya, kuliah tujuh menit?"

 

Aira tersenyum hangat, "Boleh?"

 

"Bismillah. Dalam sebuah hadist qudsi Allah berfirman, "Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku, maka ia bebas berprasangka kepada-Ku sesuai yang ia mau. Firman itu mengisyaratkan bahwa jika seorang hamba berpikir Allah ada dan selalu memberi pertolongan dengan cara-Nya,  maka apa yang ia yakini itu akan terjadi. Begitu pula sebaliknya. Karena Allah Maha Berkehendak."

 

Aira menyimak.

 

"Jika Allah memudahkan suatu perkara, maka perkara itu akan mudah, semudah membalikkan telapak tangan. Mas selalu yakin, bahwa sekuat apapun itu kecuali kuasa Allah tetap akan meleleh, begitu juga dengan kesulitan, sedikit apapun permasalahan pasti akan lebur dengan doa. Kamu percayakan, Humairah?"

 

Aira mengangguk.

 

"Kita sebagai manusia harus sering melihat ke sekeliling, betapa banyak orang yang menginginkan sesuatu, tetapi tak mendapatkannya. Betapa banyak orang yang sudah putus asa, namun kebahagiaan datang bagai semilir angin yang menyejukkan. Semua karena Allah, Ia bersama dengan orang-orang yang hatinya tertanam cahaya keimanan dan keyakinan." Hanif meletakkan tangannya yang menggenggam tangan Aira di dada.

 

Gadis itu tertegun. Mencoba mengisi dadanya dengan udara kebahagiaan yang perlahan berembus.

 

"Mas yakin apa yang terjadi pada kita, sakit, bahagia, susah, gembira, semua untuk membuat kita semakin mencintai dan belajar menghargai satu sama lain. Rumah tangga ibu Ibarat bahtera, yang akan mengarung samudera kehidupan sepanjang sejarahnya. Untuk mencapai pelabuhan terindah, tentu akan ada badai yang menghantam dengan keras. Namun dengan niat dan tekad yang kuat, pasti kita akan berhasil melewatinya."

 

Aira semakin larut dalam penghayatan. Pikirannya berputar kesana kemari. Pernikahan ini memang ujian berat buatnya. Ia harus belajar mengikhlaskan cintanya untuk Reza, juga belajar kesabaran tatkala tahu ada seorang wanita yang begitu berarti dan sulit pula dilupakan suaminya. Air mata mulai kembali mengambang di pelupuk mata.

 

Ia gerakkan tangannya yang masih terikat selang infus untuk mengusap sebulir yang tiba-tiba lolos di pipi. Tapi, Hanif buru-buru menyapu buliran itu, sebelum jemari Aira sampai di pipi.

 

"Mulai sekarang, air mata ini, biarkan Mas yang menghapusnya? Mas akan gunakan semua yang Mas punya untuk kebahagianmu?"

 

Aira benar-benar terenyuh, serasa lebur semua beban pikiran yang bergelayutan di jiwa. Ia tahu Hanif sedang berusaha, sama halnya dengan yang diusahakannya untuk pernikahan ini. Memang bukan mudah membunuh rasa cinta, tapi jika memasrahkan semua pada Allah, tentu semua akan berbeda.

 

Hanif tersenyum hangat. "Cepatlah sembuh Humairaku, Mas benar-benar ... rindu."

 

Wajah yang tegas itu tiba-tiba merah merona. Gurat canggung terlukis jelas pada selarik senyumnya yang menggoda.

 

Diantara derai air mata yang ingin mengalir, Airapun tampak tersipu malu. Ucapan rindu ini, ia baru mendengar untuk pertama kalinya dari sang suami.

 

Bagaimanapun pasang surut perasaannya, tetap ini sesuatu yang membuat dadanya bergemuruh, segemuruh jantungnya yang ikut bertalu-talu. Andai tak terbuka kaca pembatas antara bagian depan dan belakang ambulance, mungkin mereka akan sangat larut dalam keadaan.

 

"Sudah siap, kita berangkat sekarang!" ucap supir ambulance yang juga kelihatan salah tingkah melihat dua pasang suami istri itu saling menggenggam tangan.

 

Hanif terkesiap mengangguk, Aira hanya tersenyum.

 

"Ha

 

nif, Ibu serahkan Aira sama kamu, ya? Jangan sampai kenapa-kenapa?"

 

"Inggih, Bu. Bismillah. Lanjut saja Mang," jawab Hanif dengan sopan.

 

Tak ingin melewatkan sedetikpun waktu, lelaki itu hanya ingin menghabiskan hari ini dengan bermesraan bersama sang istri.

 

Ia kembali menatap gadis itu. "Telah banyak waktu yang terbuang sia-sia, harusnya begini dari kemarin-kemarin, ya?" Hanif kembali mengeratkan genggamannya setelah kaca pembatas itu tertutup. Aira bisa merasakan sesuatu mengalir dari genggaman Hanif padanya.

 

Gadis itu kembali menatap sorot teduh yang ia rasa begitu berkharisma hari ini.

Hanif merasakan sesuatu tengah berdesir hebat di dada, melihat netra bening yang berbinar di hadapannya. Cepat ia mengalihkan sesuatu yang perlahan mengaliri jiwanya.

 

‘Kenapa terasa begitu menyakitkan. Apakah ini yang dinamakan rindu? Rindu padanya kekasih halal, namun tak dapat membagi rasa itu?'

 

"Boleh Mas pinjam jarimu untuk berzikir? Mas belum berzikir pagi ini?" Hanif mencoba meredam perasaannya.

 

Aira mengangguk, sejujurnya ia seperti pernah merasakan seseorang berzikir menggunakan jemarinya. Sedetik kemudian, iris kelam Hanif menyorot pada tiap ruas jemari Aira. Perlahan ibu jari lelaki berjambang tipis itu menekan lembut tiga titik disatu jari.

 

Aira mengertikan tiap sentuhan dengan sensasi yang berbeda. Kadang hangat menjalari tubuh, sesekali menggelitiki jiwa kala jemari panjang itu tak hanya menyentuh, tapi menggesek hingga ke tiap-tiap ruas yang lain.

 

Hari ini, Aira meyakini satu hal.  Bahwa cinta hadir bukan untuk sekedar dirasakan, melainkan untuk dipelajari. Lihatlah bagaimana cara pasanganmu memberikan cintanya padamu, hingga kau bisa membalas dengan cara yang lebih pantas. Lihatlah bagaimana pasanganmu menyayangimu setiap saat, hingga kau tahu bagaimana membalasnya kasih sayangnya dengan baik.

 

Aira sadar,  bahwa cinta yang sejati adalah cinta seseorang yang sudah terikat janji di hadapan Allah, bukankah cinta sesaat yang begitu menggebu dan menyakitkan.

 

*HUMAIRAH*

 

 _Part_21_

 

 

 *Barangsiapa Kuambil dua* kekasihnya (matanya) tetap bersabar, maka Aku akan mengganti kedua (matanya) itu dengan surga.’

 

Matahari terus berjalan mendekati peraduannya. Sinarnya yang kuning keemasan perlahan mulai bersulam kemerahan. Reza masih di dalam mobil, saat azan maghrib telah berkumandang. Ia dan karyawan lainnya sering lembur di akhir bulan, guna menyusun segala laporan yang nanti akan di setor keatasan.

 

Harusnya Reza sudah sampai di rumah sekitar lima belas menit lalu, jika saja ia tidak terjebak macet disepanjang jalan utama.  Lelaki itu menggigit bibir resah serta meringis perlahan, bayangan wajah Abhi terus berkelebat di dalam benak.

 

Janjinya tadi pagi sebelum berangkat kerja, ia akan pulang cepat untuk menemani sang anak menyelesaikan tugas melukis. Namun, hingga malam hampir membentangkan jubahnya, lelaki itu masih harus menempuh jarak satu kilometer lagi.

 

"Akhirnya sampai juga," gumam Reza pelan. Ia melirik jam yang melingkar di tangan, hampir jam delapan. Untung saja ia tadi menyempatkan diri singgah di sebuah mesjid, menunaikan shalat magrib meski waktu sudah berada di penghujung.

 

Reza membuka pintu, lampu tengah ruangan mati. Lelaki itu menangkap sebuah cahaya yang berasal dari dapur. Ia urungkan niat ke kamar, dan berjalan ke ruangan yang menurutnya masih ada Mbok Ratih di tempat itu.

 

"Mbok ...." Reza memanggil wanita paruh baya yang tengah berkutat dengan piring kotor.

 

"Tuan sudah pulang? Den Abhi baru saja tidur, tadi nungguin Tuan pulang, terakhir katanya mengantuk dan tak mengijinkan saya menemani," ucap wanita itu sambil menghentikan kegiatannya.

 

Sudah seminggu belakangan Mbok Ratih bekerja di rumah itu, Elsa yang mencarinya melalui jasa pembantu rumah tangga. Wanita itu berasal dari kampung dan pergi ke kota guna mengais rezeki yang kata orang seperti mencari mutiara di tengah lautan.

 

Baginya, bisa bekerja di rumah itu seperti mendapat rahmat terbesar dalam hidup. Semua sebab Reza adalah seorang majikan yang lembut dan sopan. Terlebih Abhi, ia sangat menyayanginya laksana cucu sendiri.

 

Reza mengambil segelas air, "saya menyusul ke kamar ya, Mbok?"

 

Sejurus kemudian langkah lebarnya telah berlalu menuju kamar Abhi. Ia buka pintu kamar perlahan, tak ingin anak itu terusik dengan kedatangannya Reza menatap Abhi yang sudah berbaring di atas ranjang.

 

Bermaksud ingin mendekati sekadar untuk mengecup pundak kepala, langkahnya justru terhenti pada tumpukan buku di atas sebuah karpet motif Winne The Pooh.

 

Ia merapikan buku tulis yang berserakan, serta memasukkan bolpoint ke dalam kotak pensil. Sesaat matanya diajak melirik pada sebuah buku gambar.

 

"Apakah ia sudah menyelesaikan gambarnya?" Reza bergumam dalam hati.

 

Ia membuka bagian buku yang terganjal pencil warna di bagian dalamnya.

 

"Subhanallah ...."

 

Reza tak percaya apa yang ia lihat di buku gambar Abhi. Sebuah lukisan keluarga. Seorang anak kecil tengah di gendong sang ayah, sementara di sisi lain ia menggambar seorang perempuan tengah digandeng tangannya oleh seorang lelaki, yang tak dibuat bentuk wajahnya. Dibagian tengah atas diberi judul 'My Family.'

 

Reza terhunyung ke belakang. Dadanya terasa nyeri. Ia dekati Abhi yang sudah terlelap.

 

"Ya Allah, inikah yang ia harap dariku? Menyelesaikan gambar yang butuh kebesaran hati untuk ia gambar? Masya Allah ...."

 

Reza menitik air mata membayangkan bagaimana perasaan Abhi ketika menggambar potret keluarga dengan kehadiran lelaki lain di dalamnya selain seorang ayah. Ia sangat menyesali kenapa Abhi harus tahu perihal ibunya.

 

"Andai bisa berbohong, aku ingin mengatakan ibumu sudah tiada, Nak?" Reza mengelus pipi buah hatinya.

 

"Mama ...."

 

Terdengar suara Abhi meracau dalam tidur. Sangat lirih, hingga hampir tak terdengar.

 

"Ma ...."

 

Suara itu semakin jelas, sementara mata Abhi benar-benar masih tertutup. Reza menekan pelipis dengan jemari tangan. Apa yang ia dengar kini benar-benar merampas seluruh bahagianya.

 

"Sebegitu rindukah kamu pada seorang Mama, Sayang?" Reza mendekatkan wajahnya mencium pucuk kepala sang anak.

 

"Andai kau paham, Pa

 

pa sama menderitanya denganmu. Tapi Papa tidak boleh lemah, karena ada kamu yang Papa jadikan tempat hangat untuk berpulang. Sabar Sayang, Papa pasti akan memberi apa yang kamu inginkan ...."

 

Reza merebahkan tubuhnya di sisi Abhi. Perlahan matanya yang lelah itu tertutup.

 

 Ingatan yang mengoyak batin akan akhir pernikahan yang tak pernah ia inginkan. Belum jua kering luka itu, Reza harus menerima kenyataan bahwa gadis yang sekian purnama ia cari, lebih memilih menikah dengan lelaki lain. Seolah, dunia memang tak ingin memberi celah untuknya bahagia.

 

Reza mengusap kristal-kristal yang merembes di sudut mata.

 

"Aku lemah karena wanita ...," lirihnya pelan. Perlahan, segala derita itu sirna, berganti kebahagiaan yang hadir dalam mimpinya, bertamu pada sosok yang sangat ia rindukan sebagai tempat untuk bercerita, Umi.

 

Reza terhenyak. Keringat mengucur deras di kening, bajunya basah. Yang ia ingat, awalnya bermimpi indah, tapi diakhir-akhir mimpi, ia bertemu dengan sesosok wanita, cantik, berpakain syari.

 

Wanita itu tersenyum padanya sembari membentangkan tangan. Ia mendekat, namun wanita itu malah berlari-lari sambil sesekali melihat ke arahnya.

 

Akhirnya Reza memutuskan untuk tegak berdiri di tempatnya, bergeming sambil menikmati gerakan lincah wanita itu.

 

Namun, kehadiran Abhi, membuat Reza terguncang. Wanita yang tadi berlari-lari seketika berhenti dan memeluk anaknya. Reza tak lagi bergeming. Ia takut wanita itu hendak membawa lari Abhi.

 

Tanpa banyak berpikir, Reza berlari mengejar wanita tadi yang kini malah berlarian bersama Abhi. Hingga ia terjaga, Reza yakin bahwa dirinya telah berhasil menggenggam tangan wanita itu.

 

"Allahu Akbar. Kenapa mimpiku aneh sekali? Apakah ia jodohku ya Allah, tapi siapa? Kenapa aku tak mengenalnya?" Reza mendesah panjang.

 

Ia melirik Abhi yang masih memejamkan mata, mengecup pelan pipi chubby yang begitu menggemaskan.

 

Tubuhnya kini bergerak, sesuatu menuntutnya untuk menunaikan apa yang sepekan ini seolah menjadi kewajiban.

 

Tahajud!

 

Reza berniat, setelah menunaikan shalat isya dan tahajudnya, lukisan itu akan berubah.

 

*

 

Sarapan telah tersedia dengan rapi di atas meja. Mbok Asih sudah diajarkan Kak Elsa bagaimana cara membuat nasi goreng kesukaan Abhi. Nasi goring Jawa.

 

Abhi tampak lahap sekali menyantap sarapannya. Wajah anak itu berbinar bahagia. Tadi pagi tak biasa, sang Papa membangunkan dan mengajaknya shalat subuh berjamaah di mesjid terdekat.

 

"Abhi sudah siap sarapannya ya, Nak?" Reza yang baru keluar kamar menyapa sang anak sambil mengecup puncak kepala.

 

"Belum, Pa. Pa, nanti ke sekolah 'kan? Lukisan yang semalam Abhi buat mau diikutkan lomba Pa, antar kelas.”

 

Reza terbelalak mendengar penuturan Abhi. Jus jeruk yang hendak dia teguk, seketika ia letakkan kembali di tempatnya.

 

"Kamu yakin dengan lukisanmu itu, Sayang?" tanya Reza tak menyangka bahwa lukisan itu bukan prakarya kelas biasa, melainkan sebuah karya yang bakalan diikutkan lomba

 

"Yakin, Pa. Abhi mau buat Papa bangga,” jawabnya antusias. Namun, detik kemudian wajah berbinar itu tampak sendu.

 

“Lho, kok jadi cemberut gitu?”

 

Abi melirik papanya. “Sebenarnya kalau dilihat dari judulnya, Abhi nggak layak menang, Pa."

 

"Emang judul lombanya apa? Anak Papa Jangan pesimis gitu donk, katanya mau buat Papa bangga?" Reza mendelik, berusaha menyemangati sang anak.

 

Abhi bergeming sejenak, mengumpulkan kekuatan untuk menjawab pertanyaan papanya. "Hari Ibu ... Pa. Aku mana mungkin memang 'kan Pa, Ibu aja aku nggak punya!"

 

Reza tersentak. "Astaghfirullah, Abhi. Siapa bilang kamu nggak punya ibu? Lantas yang melahirkan Abhi kedunia ini, siapa?"

 

Abhi menunduk. "Kenapa Mama nggak pernah jengukin Abhi, Pa? Emang benar ya Pa yang dikatakan Bunda Elsa , Mama udah nikah sama lelaki lain dan punya anak baru?"

 

"Abhi ...?" Suara Reza mulai meninggi, "sudah ya Nak, kita tutup masalah ini. Sekali lagi Papa tegaskan bahwa Abhi itu juga punya Mama, wanita yang udah ngelahirin Abhi ke dunia ini. Tapi sekarang dia sudah punya kehidupannya sendiri, dan tak ingin bersama kita. Lagian, Abhikan punya Papa, yang

 

selalu membersamai. Coba Abhi ingat, dari dulu sampe sekarang apa yang nggak Papa kasih ke Abhi?”

 

Kedua alis Abhi tampak terpaut.

 

"Semua Abhi dapatkan, dari Papa. Apapun yang Abhi minta? ?"

 

Bocah itu kembali menunduk, tak menjawab. Kenyataan memang sang papa tak pernah tidak memenuhi keinginannya. Mainan, jalan-jalan, beli makanan apapun ia mau, semua dipenuhi lelaki itu. Kecuali satu, keinginan yang paling hakiki, memiliki Mama seperti teman-temannya.

 

Abhi menarik napasnya. Reza tahu anak itu sedang menangis.

 

'Allah, aku harus bagaimana?'

 

Reza menatap jagoan kecilnya yang masih tertunduk dan terus terisak. Sebenarnya hatinya begitu terluka, melihat satu-satunya harta paling berharga dalam hidup menangis tersedu-sedu. Namun, kenyataan dirinya sama rapuh.

 

"Sudah, berhenti menangis, ya? Katanya mau lomba, tapi kok malah loyo begini?"

 

Abhi masih tertunduk. Akhirnya, Reza bangkit dan mendekati jagoannya.

 

"Papa 'kan sudah pernah janji sama Abhi, kalau Abhi dapat juara dan berkelakuan baik di sekolah, Papa bakalan kasih Abhi Mama baru yang sayang banget sama Abhi. Masih Ingat nggak?"

 

Perlahan Abhi mengangkat wajahnya. Matanya yang berkaca-kaca, meluluh lantahkan hati Reza.

 

"Ingat, Pa?" lirih Abhi. Reza mengerakkan tangannya mengusap Aira mata di pipi sang anak.

 

"Semangat, ya? Jika anak Papa menang, kita pergi jalan-jalan ke Dufan, kamu bebas mau main apapun?"

 

Abhi tersenyum lega. Hati Reza perlahan kembali bersinar, 'jika kau tersenyum, maka dunia Papa akan dipenuhi berbagai warna. Kamulah alasan Papa bertahan sampai detik ini, jagoan kecil.'

 

Reza mengambangkan kedua tangan, mempersilahkan sang anak agar mendarat dalam dadanya yang bidang. Ia mengulum senyuman, sejujurnya apa yang terjadi pagi ini sudah ia prediksi jauh hari. Ketika rumah sepi, Abhi pasti akan mengingat sosok itu. Sosok yang setiap anak miliki, tapi tak dimiliki olehAbhi kecilnya.

 

Tapi bagaimanapun, Reza tak ingin buru-buru dalam memilih, meski imbasnya Abhi harus memanjangkan penantiannya. Lelaki itu hanya ingin mengakhiri status dudanya bersama wanita yang ia cintai dan mencintainya. Jika lima tahun tak cukup, ia bahkan bertekad akan menyediakan lagi tahun-tahun berikutnya.'

 

Reza berusaha meyakinkan batinnya, agar sesuatu yang pernah membuatnya hancur dahulu tak terulang kembali. Ia pernah mengikuti kata uminya, 'Menikahlah meski kau tak cinta, karena setelah menikah kau akan belajar mencintai. 'Kenyataan, pernikahannya yang tak dilandasi rasa cinta, benar-benar kandas, padahal baru seumur jagung.

 

"Aku hanya tak ingin kehancuran yang sama terulang kembali. Akan kuluaskan kesabaran hingga bertemu yang terbaik. Tapi ... apakah kamu bisa sabar seperti Papa, Nak?" pikir Reza sambil mengecup puncak kepala Abhi yang masih bersandar di dadanya.

 

Sepersekian detik, Reza mengurai pelukan. “Nah, ini baru jagoan Papa. Nggak cengeng kayak anak perempuan.” Abhi tersenyum menanggapinya.

 

"Pa, Abhi tunggu dimobil, ya?" pamit Abhi sambil menarik tas yang digantung Mbok Ratih di belakang kursi.

 

Reza mengiyakan. Pandangannya tak lepas dari menatap jagoannya yang berjalan keluar tapi masih dengan raut wajah penuh kesedihan. Ia hanya berpura-pura bahagia di depan papanya.

 

Selepas kepergian Abhi, Reza kembali menghempaskan tubuhnya diatas kursi. Sebenarnya ia tak lagi berselera untuk melanjutkan sarapan, tapi akhir-akhir ini lambungnya sedikit bermasalah.

 

Mau tau mau ia harus mengisi perut. Di gerakkannya sendok ke dalam mulut. Namun, saat hendak memasukkan suapan itu, ia berhenti. Meletakkan kembali sendok berisi nasi ke piring.

 

Sunyi, hanya desah napasnya yang tedengar...

"Allah, andai ia di sini ...? Pasti pagi ini semua akan tersenyum." Reza menepuk dadanya pelan, sesuatu seakan kembali menyayat batinnya.

 

Reza menggerakkan tangan, meraih sebuah amplop yang ia letakkan di atas meja.

 

Pelan ia membuka kertas berwarna coklat itu. Membaca tiap-tiap huruf yang tercetak dilembaran pertama. 'Surat Persetujuan Pemindahan Tugas.'

 

'Ini adalah cara terakhirku, Humaira. Aku akan pergi jauh. Aku tahu, tak sulit buatmu berbahagia, ada Hanif..

 

 *TAMAT*

Komentar

Postingan Populer