"HUMAIRAH"
*HUMAIRAH*
_Part_1_
*"Kisah cinta seorang Bidan dengan duda
satu anak."*
"Mas,
boleh kenalan nggak?"
Seorang lelaki
berambut tebal dengan garis rahang tegas, tampak terkejut dengan customer di
hadapannya. Ini memang bukan kali pertama ada yang sengaja membuka rekening,
karena ingin berkenalan dengannya.
Lelaki itu
bernama Muhammad Reza Rahardiansyah.
Diantara sekian banyak customer service yang duduk berjejer di bank
tempatnya bekerja, ia adalah satu-satu incaran kaum hawa, muda maupun tua, bermaksud
ingin kenalan, atau sekadar cari yang bening-bening.
Tutur bahasanya
lembut dengan suara bariton yang khas, badannya athletis, memiliki kulit bersih
dan bertubuh wangi.
Reza tersenyum
menanggapi gadis muda berseragam hijau di depannya. Dalam hati ia berdoa,
"Allah,
pertemukanlah kembali aku dengannya?"
Sementara itu,
di belahan lain kota Tangerang...
"Astaghfirullah
...!" Humaira menghentikan sepeda motornya mendadak. Ia hampir saja
menabrak seorang wanita yang melintas di tengah jalan.
"Maaf,
Bu?" ucapnya sambil menunduk. Wanita setengah baya itu mengangguk dengan
sedikit omelan.
Jalan besar
yang dilalui Humaira ini memang jalan utama menuju beberapa sekolah, termasuk
sekolah bertaraf International tempat keponakannya menganyam Ilmu. Namun, sebelum sampai ke kawasan persekolahan
tersebut, banyak rumah-rumah mewah berjejer di kiri dan kanan jalan. Salah
satunya rumah mewah berlantai dua yang terus dilirik Aira saat melintas di
depannya.
Liarnya mata
Aira bukan tanpa sebab, semua berawal dari kejadian sehari sebelum libur
panjang kenaikan kelas dimulai. Saat itu Abi membawa pulang sebuah rapor ke
rumah. Aira yang baru saja selesai membersihkan luka pasien tabrak lari
langsung menyapa bocah itu.
Sayangnya, Abi
berlalu tanpa menggubris.
“Bi, kamu
marah, ya?” tanya Aira saat anak itu meletakkan tas di tangannya ke atas meja.
Abi hanya bergeming dan meneruskan langkah menuju kamar.
Aira yang
mendapati sikap acuh sang ponaan ikut menyusul ke kamar. Ia mengetuk pintu
perlahan, tapi tak ada reaksi. Akhirnya Aira mencoba membuka pintu yang memang
tak pernah dikunci Abi dari dalam.
"Yah, udah
tidur. Nggak pernah dia begini." Aira mendekat dan mengelus puncak kepala
Abi.
"Coba kamu
ada disini, Kak?" lirih Aira sembari bangkit dan mencoba membuka rapor
yang diletakkan Abi di samping kepalanya.
"Sudah
kelas dua, tiap tahun dapat juara satu. Pasti kali ini juga sama," gumam
gadis itu pelan.
Namun, saat
Aira membuka buku berhard cover itu, matanya justru membelalak.
“Astaghfirullah
... nggak mungkin! Kok bisa merah?” Aira bergumam tak percaya, “pasti ini yang
membuat Abi diam.”
Karena
terlanjur dibungkam sesal, Aira lupa meneliti lebih lanjut, pun untuk sekadar
membuka lembaran semester sebelumnya.
Satu hal yang
ia pikirkan saat itu hanyalah meluncur langsung ke sekolah. Meminta
pertanggungjawaban wali kelas atas berubahnya nilai sang ponaan.
Siang itu, Aira
langsung meluncur ke sekolah Abi. Semua tampak sepi. Di parkiran hanya tersisa
beberapa kendaraan bermotor.
Bersamaan dengannya, berhenti juga di halaman
sekolah sebuah mobil Camri berwarna hitam. Aira hanya menoleh sekilas.
Gadis itu terus
berjalan melewati beberapa ruang, hingga sampailah ia di kelas Abi. Bu Siti
tampak tengah merapikan beberapa kertas dan berniat keluar ruangan. Aira segera
menghampiri wanita berkaca mata itu dan mencegahnya keluar dari ruangan.
“Assalamualaiku,
Bu Siti." Suara Aira mengagetkan wali kelas Abi .
“Waalaikumsalam.
Wah, ada Ibu Humaira. Silahkan masuk, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" jawab
wanita itu sembari kembali duduk di bangku guru.
“Maaf Bu, saya
baru bisa datang sekarang. Kebetulan tadi ada pasien kecelakaan di depan
rumah,” ucap Aira sambil ikut duduk di hadapan Bu Siti.
“Ah tak apa, Bu
Aira ... Oya, selamat ya Bu, Abi juara satu lagi di kelas.”
Aira terhenyak
kaget.
“Juara? Tapi
kenapa nilainya menurun drastis begini, Bu?” tanya Aira sambil menunjukkan rapor yang ada di tangan.
Bu Siti kaget
bukan kepala
ng, ia
mengucek-ngucek matanya setelah menaikkan kacamata.
“Kok bisa
begini? Bisa saya minta sebentar Bu, rapornya?”
Aira
menyodorkan rapor di tangan pada wanita itu. Bu Siti mulai menutup lembaran
yang telah dibuka dan tertawa terkekeh.
“Wah, ini
ketukar Bu. Bagaimana bisa ya, ketukar?” tanyanya lagi masih sambil terkekeh.
Mendengar pertanyaan
Bu Siti, kedua alis Aira saling bertaut. Berusaha menemukan jawaban pasti atas
kejadian membingungkan itu. Namun, belum kelar mencari jawaban, dari luar
justru terdengar seseorang mengetuk pintu ruang. Aira mengehela napas.
Pandangannya dan Bu Siti kini menoleh keluar bersamaan.
Mata gadis itu
membelalak, tatkala di hadapannya berdiri seorang lelaki berpostur tegap dengan
setelan jas rapi dan sepatu mengkilat.
Aira tak mampu
berkedip, menatap takjub lelaki gagah dengan rambut tebal yang menyunggingkan
senyuman ke arahnya.
“Ini Hyun Bin
bukan, ya? Mirip benar?" decaknya tak percaya. Tubuh tinggi dengan kulit
putih, hidung segitiga dengan bibir ranum, lengkap dengan sebuah ceruk di pipi
kanan, persis Oppa Korea yang terkenal
itu.
Lelaki itu berjalan
mendekat. Pandangan Aira yang tengah terpana seketika tertunduk.
“Aduh, ini
namanya jodoh. Silahkan masuk, Nak Reza." Bu Siti mempersilahkan lelaki
itu masuk, "mari duduk di sini, Nak Reza." Tunjuknya pada bangku
kosong di samping Aira.
Reza duduk
dengan rapi, harum aroma tubuhnya menguar ke penciuman Aira. Membuat jantung
gadis itu berdetak dua kali lebih rancak. Aira melirik lelaki disampingnya
dengan ekor mata, tinggi tubuhnya terhadap lelaki itu dalam keadaan duduk
setinggi bahu.
Maka lirikan
Aira pertama kali jatuh pada leher jenjang dengan jakun naik turun saat
berbicara dengan Bu Siti.
"Ya Allah,
redakanlah gemuruh di dada ini ...," pintanya sambil memperbaiki
konsentrasi.
Seumur hidup, tak pernah ia deg-degan begini.
Apakah ini yang namanya jatuh cinta?
Angannya
menari-nari sejenak, dan kembali dari alam mimpi saat Bu Siti mulai menjelaskan
perkara rapor yang tertukar.
"Tadi, Abi
dan Abhi, dua-duanya saya panggil ke depan. Abizar dan Abhizar, dua nama yang
sama, hanya beda satu huruf. Jadi harap maklum Bu, Pak, jika saja ketukar
ngasih rapor setelahnya," jelas Bu Siti, “saya bukannya ingin
membandingkan Pak Reza, Bu Aira. Saya hanya meminta Abhi belajar pada Abi tadi.
Supaya ketularan pinternya. Karena sudah empat kali pengambilan rapor Abhi
masih bertahan dengan peringkat terakhir dan nilainya juga sangat-sangat tidak
memuaskan.”
Reza menarik
napas panjang, sedikit menenangkan jiwanya yang dipenuhi rasa malu dan kecewa.
”Mohon Abhi dibimbing Bukde. Ia dibesarkan oleh neneknya, jadi sedikit manja.
Padahal Abhi anak yang cerdas dan bijaksana. Hanya malas kalau disuruh
belajar.”
Aira menarik
napas panjang berkali-kali. Suara bariton lelaki di sampingnya berhasil membuat
gadis itu berkeringat dingin. Entah bagaimana cara menenangkan jiwanya yang
terlanjur terpana.
“Tidak boleh,
tidak boleh ... jangan terpikat pada lelaki yang sudah beristri," batinnya
bergumam. Wajah Aira seketika pias kecewa, saat tersadar bahwa lelaki di
sampingnya tentu adalah seorang ayah.
"Iya,
Bukde mengerti Nak Reza. Anak-anak itu memang unik, kadang ia tahu mana ibu
mana nenek. Hasilnya tetap beda, meski nenek merawatnya dengan sepenuh hati.
Bukde hanya berharap kamu lebih sabar. Berikan Abhi waktu yang lebih. Anak-anak
itu semakin besar, semakin paham akan sesuatu hal. Jadi jangan sampai ia merasa
tidak adil karena tidak memiliki ibu seperti anak-anak yang lain, hal itu bisa
memicu jiwa pemberontak dalam dirinya.” Tegas Bu Siti panjang lebar.
Mendengar
ucapan Bu Siti, Aira terkesiap. “Tidak memiliki Ibu? Maksudnya Mas ini duda
atau bagaimana? Alhamdulillah, mudah-mudahan aja duda...." Aira membatin
kegirangan.
Hampir sepuluh
menit Bu Siti mencoba menasehati lelaki yang Aira tebak berstatus duda itu. Ia
terus saja menjadi pendengar setia. Baginya hari itu, malah terkesan seperti
menghadap penasehat pernikahan. Semoga saja suatu saat. Harap Aira.
Rasa sedih
tiba-tiba menyusup di dada, saat tahu bahwa lelaki tersebut ditingga
l selingkuh
sang istri. Tanpa sadar dalam hati Aira mulai melangitkan doa dengan sungguh-sungguh,
'Ya Allah, andai engkau jodohkan hamba dengannya, hamba akan setia dan menjadi
istri yang shalelah dunia akhirat.’
Sementara di
luar, gerimis mulai menitik membasahi bumi. Sebuah doa yang tak sengaja
tersebut, namun menjadi alasan kuat untuk terkabul, sebagaimana Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Carilah doa yang mustajab pada
tiga keadaan : bertemunya dua pasukan, menjelang shalat dilaksanakan, saat
hujan turun.”
*
Banyak hal yang
dibicarakan Bu Siti dengan Reza. Seakan terlupa ada orang lain di ruangan itu, yang terus mendengar dan
semakin berharap. Terakhir bu Siti meminta agar Aira dan Reza saling menukar
rapor. Saat itulah kedua pandangan mereka bertemu untuk pertama kali. Pandangan
yang pada akhirnya menghasilkan letup tak lazim di dalam dada Aira.
Deg!
Tiba-tiba saja
Aira merasa darahnya berhenti mengalir. Tatapan elang yang tengah menyorotnya
itu, membuat Aira gugup hingga memilih menundukkan pandangan.
‘Beginikah
rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Allah,, boleh minta sesuatu nggak?
Jodohkan saya dengannya ...?’
Saat itu,
sesuatu seakan terluput dari benak Aira. Seorang lelaki yang hadir di hidupnya
selama tiga tahun belakangan ini. Lelaki yang terus menggantungkan harapannya,
hingga matapun selalu tertutup akan lamaran lelaki lain.
Tapi hari itu,
harapan tersebut seolah berpindah tempat. Ditransfer via JNE, karena prosenya
begitu cepat. Aira tersenyum sendiri.
Tanpa menatap,
ia hendak meraih rapor yang di sodorkan ke arahnya beberapa menit lalu. Cukup
lama karena diselingi kecanggungan.
“Ehm ...!” Reza
berdehem pelan, berharap Aira sportif dan saling unjuk pandang, tidak menunduk.
Tapi, sifat
Aira yang pemalu membuatnya hanya menoleh sekilas, lalu menarik dengan cepat
benda di tangan Reza. Lelaki itu tersenyum samar, merasa malas berurusan dengan
ibu-ibu pemalu.
Sejurus
kemudian Reza ia langsung membalikkan badan dan melangkah keluar.
Perlahan Aira berusaha menengadahkan wajahnya,
merasa menyesal kenapa tadi menundukkan wajah. Kini hanya aroma maskulin yang
tertinggal, menguar di seluruh penciuman Aira hingga menusuk palung jantung.
Diantara derap
langkah lelaki di hadapannya, ia berharap penuh agar Reza berhenti dan menoleh.
Mengucapkan sesuatu yang menjadi pertanda bahwa bolehlah ia berharap status
lebih, ‘istri’.
Satu
Dua
Tiga.
Ting!
Harapan Aira
terkabul, Reza menghentikan langkah dan menoleh.
"Oh ya,
selamat ya, atas prestasi Abi, anak Bu Aira. Mudah-mudahan anak saya Abhi, bisa
belajar dari anak ibu, Abi," ucapnya sembari tersenyum hangat, sehangat
mentari di musim hujan. .
"Tapi,
wait? Anak? Ya Tuhan, anak?" Aira mengerucutkan bibirnya, menyesali atas
apa yang diketahui sang lelaki tentangnya.
"Saya
bukan Mamanya Abi, dia ... keponakannn?"
*
"Bunda
....!" jerit Abi dari belakang motor, lamunan Aira seketika buyar. "
“Bunda, kalau
bawa motor bisa hati-hati nggak?"
'Aish, ini anak!'
"Oke, siap
Bos!" Aira membercandai Abi yang terlihat sewot. Dengan semangat ia
kembali melajukan motor. Bibirnya melengkung, mengingat kejadian yang sudah
berlalu lebih dari sebulan itu, rasanya nganu, kayak baru kemarin gitu.
"Kapan ya,
ketemu lagi? Apa perlu saya yang mendatangi rumahmu, Tuan?" pekik
batinnya.
*HUMAIRAH*
_Part_2_
*"Jodoh Ketemu di Bank."*
‘Jujur padaku,
ini cinta atau nafsu?’
Humaira
berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Setelah mengelus puncak kepala Abi, ia
berniat untuk segera sampai ke Rumah Sakit, hari ini ia piket di ruang
bersalin.
Jika pagi,
sampai tepat waktu adalah tujuan utama. Sebab selain harus mengikuti apel, pagi
hari itu waktunya beramai-ramai, ramai pasien, ramai pula stafnya. Meski ramai
tapi tetap saja kerepotan, terutama jika semua pasien yang dalam fase
persalinan, masuk ke tahap msengedan di detik-detik operan. Rempong tak
terkira!
Sebagai seorang
bidan yang baru saja terjun langsung ke dunia pelayanan, tentu ini menjadi
tantangan berat buat Aira. Terlebih dengan kondisi dirinya yang masih
single. Meski begitu, Aira tidak
tergesa-gesa mengakhiri masa lajangnya di usia muda. Ia masih menikmati kesendiriannya,
sambil terus memilih, mana lelaki yang dapat mengikat hatinya.
Tapi nyatanya,
Aira nggak pernah memilih, semua yang melamar ia tolak. Harapannya cuma pada
satu orang lelaki. Lelaki yang tengah menuntut ilmu di negeri para nabi. Yang
tak pernah menyatakan suka, apalagi cinta. Tapi Aira kadung simpati pada
sosoknya yang berwibawa dan ... tampan.
*
Abi menghilang
di ujung koridor sekolah, Aira segera membelokkan motor jika saja manik matanya
tidak terbidik pada satu objek. Objek yang selama ini terus mengusik
pikirannya.
Tiba-tiba saja
detak jantungnya menjadi tak terkendali. Dadanya berdesir hebat, belum pernah
ia merasa seperti ini, padahal umurnya sudah beranjak dua puluh tiga, dan lagi
yang ia targetkan sudah ada.
"OMG, Mas
duda?"
Ciettt ...!
Aira mengerem
mendadak. Ia menjatuhkan tas sandangnya dengan sengaja, supaya terkesan ada
sesuatu yang membuat ia urung menjalankan motor.
“Arggghhh ...!
Memalukan sekali ide ini!” Aira membatin. Tak menyangka, dirinya yang selalu
dingin terhadap kaum Adam, justru meleleh
di hadapan duda korea itu. Eh, mirip ... mirip doank!
Sementara Camri
yang dikendarai Reza hanya berjarak lima langkah dari posisinya. Jika diteliti,
tak mungkin Aira luput dari pandangan sang duda.
Sedetik dua
detik, Aira menanti lelaki itu membuka kaca mobil, dan yang lebih ia nanti
adalah sapaan. Bukankah sebulan lalu mereka pernah bertemu, mudah-mudahan saja
lelaki itu tidak melupakannya.
Dua menit
berlalu, kaca mobil tak jua terbuka, sementara ia bertahan dengan posisi tak
bergerak di tempat. Lebih tepatnya ia seperti gantungan orang-orangan di tengah
sawah.
Hanya sebuah pajangan, tanpa ada yang peduli
akan hadirnya. Sungguh menyedihkan untuk sebuah penantian sapaan. Namun, yang
lebih menyayat hati Aira, ketika ia tahu bahwa kendaraan beroda empat itu
justru kembali berjalan setelah seorang anak kecil keluar dari pintu depan.
"Ya Tuhan,
malah pergi. Apa artinya tadi aku mematung disini," desis Aira penuh
kesal. Hatinya yang tadi berbunga-bunga plus deg-degan kini malah seperti
terbakar bara api.
Namun, perlahan bara api itupun tersirami air.
Aira menengadahkan telapak tangannya.
"Hah,
ternyata gerimis?" Aira kaget sebab hujan mulai turun perlahan, seolah
menggambarkan suasana hatinya yang kadung berderai.
Ck ...Ck!
"Bunda
Aira?" Anak lelaki tadi menyapa Aira yang hendak melajukan kembali
motornya.
"Eh,
Abhi?" sahut Aira. Dalam hati ia berpikir, bisa ya anak itu tahu namanya.
“’Wah, detektif cilik ini.’
Abhi mendekat
dan meraih jemari Aira untuk diciumi. Seperti yang biasa keponakannya lakukan.
‘Masya Allah,
inikah anak yang besar tanpa sentuhan sang ibu? Sopan sekali ...pasti seperti
neneknya. Eh, beda banget sama bapaknya.’ Aira tersenyum sambil mencerocos
dalam hati. Meski satu hal yang tak dapat ia tutupi, tampannya copy paste sang
ayah. Aira semakin semringah.
"Kamu
temannya Abi, ‘kan?” tanya Aira.
“Iya, Bunda.
Nama saya Abhi juga ....” sahutnya menggemaskan.
“Iya, Bunda
tahu. Abhi masuk gih, nanti bajunya basah?" pinta Aira pada anak kecil
itu.
"Iya, Bun.
Aku masuk dulu ya?" jawabnya sambil tersenyum. Sedetik kemudian Abhi
berlari menuju pagar.
Aira terus
memperhatikan tubuh Abhi yang berlalu darinya, "hmm ... hari ini anaknya
yang menyalami tanganku. Tapi semoga suatu saat nanti, tangan ayahnya bisa aku
salami secara halal. Amiiin ...." Aira kembali melangitkan doa diantara
gerimis hujan.
Gadis itu larut
dalam bahagia, tanpa sadar gerimis yang tadi sebesar biji padi kini malah
sebesar biji jagung.
Aira tersentak.
Sambil tersenyum ia melajukan kembali motornya dengan cepat. ‘Basah tak
mengapa, sebab inilah hujan rahmat. Rahmat cinta! Decaknya dalam hati.
*
Hari itu rumah
sakit terlihat ramai, lalu lalang pasien sudah menjadi makanan sehari-hari.
Aira selesai mengamprah obat-obatan, membereskan satu-persatu sesuai nama
pasien dan meletakkan pada rak yang sudah disediakan.
"Nit,
temenin aku ya?" Aira menelpon Nita tepat pukul sepuluh lewat tiga puluh
menit. Ia sudah mengerjakan semua pekerjaannya pagi itu, kebetulan ruangan
sedang sepi. Aira meminta ijin pada senior untuk keluar sebentar.
"Aku lagi
sibuk Ra. Emangnya mau kemana sih?" Terdengar suara dibalik telepon.
"Ke bank.
ATM-ku tiba-tiba nggak bisa kepakek. Malas juga dikit perlu harus ngantri ke
teller. Bisa ya Nit, please?"Aira memohon pada sahabatnya.
"Oke lah,
tapi kalau lama, aku tinggalin."
"Sip. Aku
jemput sekarang ya?"
"Oke!"
*
Tepat pukul
sebelas mereka sampai di depan sebuah bank. Aira memarkir motor di parkiran,
kemudian sejenak menatap wajahnya di kaca spion. Memperbaiki hijab putih menutupi
dada yang ia kenakan.
"Ra ...
tukan rame. Aku bilang juga apa. Aku cuma punya waktu setengah jam lho,"
ucap Nita begitu mereka sampai dalam ruangan.
"Tapi
nomer antrian di customer servisnya nggak banyak lo Nit. Nomorku setelah
ini."
Aira menunjuk
kertas antrian di tangannya. Ia kemudian mengedarkan pandang ke seluruh
ruangan. Tampak dihadapannya beberapa CS sedang duduk manis melayani customer.
Namun ada satu
meja yang menyita perhatian Aira, sebuah meja dengan papan nama bertuliskan
'REZA'.
Seketika tubuh
Aira seperti tersengat listrik, bergetar hebat. Dadanya kembali tak karuan. Ia
mencoba mengingat duda tampan yang bertemu dengannya tempo hari. Padahal nama
Reza ‘kan tak cuma satu. Bahkan satpam rumah sakitpun namanya Reza.
"Kamu
kenapa Ra?" tanya Nita menyadari teman di sampingnya mengelus-elus dada.
"Ah nggak
apa Nit, aku cuma demam."
"Hah,
demam?" Nita langsung memegang dahi sahabatnya, memastikan yang dikatakan
Aira tentang kesehatannya.
"Ah, nggak
panas? Kok bisa tiba-tiba sih?"
Aira tak
menggubris lagi pertanyaan Nita, matanya kini terbelalak, tak menyangka bahwa
CS yang akan melayaninya sesaat lagi adalah sang duda idaman hati.
"Subhanallah
...."lirih Aira tanpa mengedipkan mata.
"Alamak tu
CS tuampan wae. Aku ikut ya Ra?" Nita memelas ingin ikut bersama Aira.
"Serius?
Tempat duduknya 'kan cuma satu?” potong Aira saat tahu Nita juga tengah
membidik duda incarannya.
“Please, Ra.
Berdiri juga nggak papa?”
‘Yaela ni anak.
Ngebet benar.’
“Nit, hari ini
aku dulu ya. Besok deh aku temenin kalau kamu mau kemari lagi." Canda Aira
pada Nita. Gadis itu mencubit pinggang Aira, dan Aira hanya tersenyum meski
sejujurnya ia tak dapat menutupi gugup yang tiba-tiba meradang.
Dikumpulnya
segenap keberanian, sembari mengucap basmalah. Kali ini sepertinya bukan suatu
kebetulan, semua sudah direncanakan Allah, begitu yang ada dibenak Aira.
Bukankah tadi pagi ia berharap ditegur olehnya. Lalu, jika sekarang Allah
mempertemukan mereka, bukankah ia harus bersyukur?
***
"Silahkan
duduk." Reza mempersilahkan Aira duduk tanpa menatap.
Sedikit gemetar
Aira menarik kursi dan duduk dihadapan sang CS. Kedua jemari tangannya saling
meremas, menandakan kegugupan yang teramat sangat. Kini malah kursi yang ia
duduki terasa panas, seperti ada yang menyalakan tungku di bawahnya.
"Beginikah
rasanya jika berhadapan langsung? Oh Allah, tolonglah hamba-Mu ini ...?"
"Hai."
Sebuah sapaan yang membuat tubuh Aira bagai disirami air, lega ...
"Hai
...." Aira membalas sapaan Reza. Ia berusaha mengontrol perasaannya, dan
berniat meluruskan kaki yang tiba-tiba bergetar.
"Oh!"
Aira menarik kembali kakinya ke posisi semula. Sepertinya gugup tak hanya
dirasakan Aira, lawannya pun demikian. Sebelah kaki Aira yang berusaha ia
julurkan malah bertabrakan dengan kaki Reza yang ... entah kiri atau kanan yang
juga ternyata ikut-ikutan dijulurkan.
Lelaki itu
tertawa, menyadari kekonyolan yang baru saja terjadi.
"Kamu
....?" Reza berusaha mengingat-ingat dimana pernah bertemu dengan Aira.
Sementara Aira hanya menoleh sedikit, kemudian
menunduk lagi. Malu plus grogi.
"Emm ...
Abi? Kamu Mamanya Abi 'kan? Wah, kebetulan sekali, ada yang bisa saya bantu,
Buk?"
‘Hah, Buk?
Tampang masih perawan gini dikata ibuk-ibuk!’
Aira menarik
dan membuang napas. Ingin ia menjelaskan status keperawanannya, agar tidak
terjadi salah paham, dan tentu saja agar dirinya memiliki kesempatan untuk
dilirik, eh.
Tapi apalah
daya, lelaki itu terlanjur mencapnya 'ibu-ibu'.
"Saya ...
mau memperbaiki ATM," ucap Aira pasrah. Gadis itu memberanikan diri menatap
kembali wajah Reza.
‘Uh ... Nggak
kuat ... ini artis korea layaknya jadi bintang film, jangan kerja di bank! Hiks
... Hiks ...’
Hanya lima
detik. Airakembali menunduk untuk mengeluarkan benda yang ia maksud dari
tasnya. Aira meletakkan ATM juga KTP-nya diatas meja. Tak kuasa jika harus
menyerahkan langsung ke tangan Reza, takut lelaki itu melihat jemari tangannya
yang gemetaran seperti orang tua yang kena penyakit saraf.
"Owh,
sebentar saya cek dulu?"
Lelaki itu
kemudian membalikkan benda tipis yang sudah di tangannya dan kembali menatap
Aira, "wah ini kertas pengamannya hilang. Mungkin tergesek sesuatu saat
dimasukkan ke dalam dompet." Ia menjelaskan dengan seksama.
Perlahan Aira
menengadahkan wajah hingga kedua mata mereka saling bertemu pandang. Buru-buru
Aira menunduk lagi, menghindari menatap mata berbius itu terlalu
lama."Bisa diperbaiki?" tanya Aira tak fokus.
Reza tersenyum
sembari meletakkan kartu itu di atas meja. Ia mulai menyadari bahwa custumernya
saat itu tengah mengalami kegugupan. Sebelum menyelesaikan pendidikan di
Managemen Akutansi dan Bisnis, lelaki itu sempat dua tahun menuntut ilmu
psikologi. Jadi hal-hal seperti ini sedikit banyak sudah dapat ia tebak.
"Bisa."
Hanya itu, Reza
sengaja tidak melanjutkan ucapannya, ingin menebak apa yang akan dilakukan
wanita dihadapannya itu yang terus saja menunduk.
Hening beberapa
saat. Hingga akhirnya Aira mengeluarkan suara.
“Terima kasih,
saya pamit.”
"Eh,
tunggu dulu." Tak sengaja Reza menarik lengan Aira yang berbalut jas kerja
berwarna putih, "besok datang lagi ya, saya usahakan ATM baru siap
besok."
Aira
memperbaiki posisi jasnya.
"Ya Allah,
kok bias ada adegan begini, ya?"
Aira menghela
napas sambil mengangguk, sedikit menoleh lalu mengalihkan pandangan. Dengan
tergesa, ia berjalan menuju kursi tunggu.
"Eh, keren
banget adegan kamu tadi, Ra? Romantis beud, kayak di film?"ketus Nita.
Tanpa menjawab,
Aira menarik tangan Nita dan keluar dari bank dengan penuh resah.
“Kenapa tiap
kali bertemu dengannya, harus canggung begini?” Aira membati Kesal.
Sementara di
dalam, kehadiran Aira telah membuat hati seorang duda tergugah. “Kenapa dia
diam saja saat aku memanggilnya Ibu?” ucap Reza saat menatap tulisan status
belum menikah di KTP Aira.
“Oh, pemalu
rupanya? Tapi cantik!”
*HUMAIRAH*
_Part_3_
*"Lelaki Pemilik Range Rover"*
Matahari sudah
sepertiga condong ke arah barat, terik sinarnya sedikit berkurang dibanding
saat sang bagaskara itu tepat berada di atas kepala. Pukul dua lewat, Aira
telah sampai di rumah. Sedikit kaget karena ia mendapati sebuah mobil Range
Rover terparkir rapi di halaman.
Bahagia? Tentu.
Sebab sudah sekian lama ia tak bertemu dengan si pemilik roda empat mewah itu.
“Assalamualaikum,”
ucap Aira begitu memasuki rumah yang pintu depannya tak tertutup. Di kursi
tamu, tampak duduk ibunda Aira dengan seorang lelaki.
“Waalaikumsalam.”
Terdengar sahutan bersamaan dari dua menusia yang seketika menoleh ke arah
Aira. Netra gadis itu segera tertuju pada sepasang mata teduh yang sekian tahun
ia nanti, untuk mengucapkan sebuah kata pengikat hati.
“Mas Hanif?
Kapan pulang ke Indonesia, Mas?” tanya Aira lembut sembari melangkah masuk
untuk menyalami ibundanya. Sejenak ia berhenti di hadapan pemuda itu dan
mengucupkan kedua tangan. Hanif membalas dengan hal yang sama.
Sejujurnya tiap
kali mereka bertemu, kekaguman Aira akan pemuda itu saban hari semakin
bertambah. Bagaimana tidak, perpaduan Arab yang diwariskan sang papa juga
Melayu yang diwarisi sang ibu, menjadikan pemuda itu tak kalah jika harus
disandingkan dengan Omar Bolkan Al Gala.
Terlebih
ketaatan ibadah yang tak diragukan lagi. Semua membuat Aira setia menolak
berbagai lamaran yang datang, meski tak yakin dengan kesetiaannya yang akan
berbalas hasil.
Sebab selama
ini, bukan dirinya saja yang berharap mendapatkan tempat di hati Hanif. Sudah
jadi rahasia umum jika anak pengusaha Batu bara asal Kalimantan itu menjadi
incaran banyak foto model dan artis.
“Nak Hanif,
sudah ada Aira, ibu tinggal sebentar, ya?” Ibunda Aira berpamitan pada mereka.
Aira dan Hanif berpandangan sejenak, sebelum akhirnya sama-sama menyunggingkan
senyuman.
“Mas baru
sampai tadi pagi sekitar jam sepuluh,” jawab lelaki itu lembut setelah terjeda
beberapa menit. Matanya menatap Aira penuh rindu.
“Wah, baru
nyampe rupanya. Kok langsung ke Jakarta, nggak pulang ke Kalimantan dulu, Mas
...?"
“Ada seseorang
yang membuat Mas rindu di rumah ini.” Potongnya cepat.
Aira terhenyak,
bola matanya membulat dengan kepala sedikit mendongak, berusaha memastikan apa
yang baru saja ia dengar.
“Hem ...
rindu?Mas rindu Ibu?” Aira tersenyum sembari mengatup mulutnya.
Hanif
menggeleng.
“Kalau begitu,
Abi?”
“Bukan juga.”
“Di rumah ini
dilarang merindukan selain yang dua itu.” Canda Aira yang diikuti dengan tawa
lepas Hanif. Entah harus bahagia atau tidak, hal ini sudah lama dinanti Aira,
dua tahun yang lalu.
Saat ia baru
saja menyelesaikan studi Sarjana Kebidanan. Kala itu dirinya dan Hanif telah
setahun berkenalan. Saat Hanif akan terbang ke Maroko untuk melanjutkan
pendidikan Master.
Almarhum Ayah Humaira
seorang pengacara yang masih termasuk kerabat, diminta oleh Papa Hanif untuk
menangani kasus tuduhan penggelapan batu bara yang menimpanya.
Sejak itulah mereka dekat. Terlebih setelah
persidangan dimenangkan oleh Papa Hanif, kedekatan dua keluarga itupun semakin
kokoh.
Sekian lama
berkenalan, baik Aira maupun Hanif tak pernah membicarakan sesuatu yang
bersifat pribadi, apalagi untuk sebuah ikatan. Namun Aira tetap kukuh pada
perasaannya, sebelum semua kini terasa berbeda, setelah kehadiran seorang
lelaki berstatus duda. Meski ia tak begitu bisa memastikan.
"Sudah
selelai pendidikannya, Mas?” tanya Aira memecah keheningan.
“Alhamdulillah
sudah. Dan sesuatu membuat Mas ingin segera kembali ke Indonesia."
“Sesuatu?
Tampaknya sangat rahasia?” Aira tampak begitu penasaran.
“Kamu akan
segera tahu Ai? Sekarang biar rahasia dulu, ya?"
"Heem
....?" Aira tersenyum, Hanif terus saja memanggilnya dengan sebutan Ai.
Sejujurnya, gadis itu ingin melarang, dan meminta lelaki itu memanggilnya
dengan sebutan lain. Tapi, yasudahlah. Bukankah itu panggilang yang langka?
"Pertemuannya
cukup disini aja, ya." Hanif buru-buru bangkit dari duduknya. Ia merasa
tak layak dud
uk berlama-lama
dengan sebongkah rindu di dalam dada. Hanya akan menambah fitnah. Lagipula, apa
yang ingin ia sampaikan pada ibunda Aira telah terlaksana. Jadi, yang harus ia
lakukan sekarang hanyalah bersabar. Menunggu hasil.
"Lho, kok
buru-buru, Mas?" Aira berusaha menahan kepergian lelaki itu yang terkesan
mendadak.
"Ada yang
harus Mas persiapkan untuk acara nanti malam?”
"Acara?
Memangnya ada acara apa, Mas?"
"Syukuran
kecil-kecilan. Kebetulan Papa sama Mama juga ke Jakarta. Kamu datang ya,
Ai?"
"Syukuran?”
Aira mengernyitkan dahi, ”em ... Insya Allah, Mas."
Aira mengantar
Hanif sampai di pintu, lelaki itu tersenyum sembari melambai ketika ia sudah
duduk di balik kemudi, “Hati-hati ya, Mas.”
Pemuda itu
mengangguk pelan. Perlahan kendaraan mewah yang terparkir di halaman rumah
tampak menjauh dan menghilang dari pandangan Aira.
Sejenak Aira menarik
napas dalam, ada yang berbeda dari pertemuannya dengan Hanif kali ini. Tak
seperti yang ia rasakan ditahun-tahun kemarin. Harapan yang telah ia bangun dua
tahun ini, seolah menghilang tak berbekas.
Nama Hanif
seakan terhapus. Berganti sebuah nama dengan empat kosakata, ‘R E Z A’.
Aira tersenyum.
Matanya nanar menatap semburat rona jingga yang keemasan, bak lukisan. Awan
berarak semakin membuat hatinya takjub. Sungguh ciptaan Allah yang begitu
sempurna. Namun, ada yang membuatnya lebih takjub, saat perlahan sekilas wajah
Reza menjelma di balik awan.
“Astagfirullah
....” Aira berucap sambil menggeleng kepala. Begitulah jika membiarkan cinta
hadir sebelum waktunya. Akan sangat sulit mengontrol ingatan, sebab cinta
ibarat anggur, disatu kesempatan ia begitu menyenangkan dan memabukkan, namun
di sisi lain, ia adalah penebar petaka yang terselubung.
*
Hanif mendesah
panjang. Tangannya yang tengah memegang setir, ia gerakkan untuk meraih sebuah
kotak beludru yang terletak di atas dashboard mobil. Kemudian ia membuka benda
kecil itu seraya berkata, "malam ini saya akan melamar kamu, Ai."
Awalnya hanya
ingin mengikuti permintaan kedua orang tua, yang terlanjur menyayangi Aira.
Tapi, setelah melalui istikharah panjang, hatinya mulai mantap. Tiga tahun ia
rasa tidak mudah bagi seorang gadis menanti tanpa sebuah ikatan. Dan hal itu
berhasil dilakukan Aira untuknya. Hanif sangat menghargai kesetiaan gadis itu.
Kini, Hanif
berjanji tak akan membuat Aira menanti lebih lama lagi. Ia akan segera menikahi
gadis itu.
*
Gedung
berlantai tiga yang dibangun dengan gaya streamline art deco, berbentuk
garis-garis pada bagian badannya dan memiliki sebuah menara di puncaknya itu,
tampak mulai lenggang.
Pintu masuk
utama sudah di tutup dan ditempeli papan bertuliskan ‘CLOSE’. Namun begitu,
satu dua orang masih tampak lalu lalang di depan mesin ATM. Sementara di dalam
gedung, aktifitas masih berlanjut. Para karyawan masih sibuk bergelut dengan
segudang kertas-kertas yang tertumpuk di meja masing-masing.
"Za,
formulir costumer yang tadi maudepositoin uang, udah beres belum?" Seorang
teller cantik menghampiri Reza sembari membawa selembar slip.
"Belum
kak, jaringannya masih error."
"Owh ya,
pantesan. Kalau sudah beres, antar ke teller, ya?" ucap wanita itu sambil
berlalu pergi.
Reza kembali
mengakses komputer di hadapannya. Lelaki berambut tebal itu membuka laci kerja,
hendak mengambil penjepit kertas di dalam sana. Namun, netra kelamnya berhasil
menatap sebuah kartu berwarna navy yang bertuliskan nama 'Humaira'.
Ia menghentikan
gerakan lincah tangannya. Lalu menopang dagu dengan sebelah tangan. Kedua sudut
bibirnya tertarik menjauh. Tampak deretan gigi putih yang terawat dengan sebuah
ceruk di sebelah kanan. Lelaki itu Sungguh menawan jika tersenyum.
Reza menghela
napas panjang, lalu mendesah sembari menyebut sebuah nama, " Humaira ...
semoga saja kita berjodoh."
*HUMAIRAH*
_Part_4_
*Langit semakin kelam,* seberkas sinar tampak
menyembul dari balik awan. Rembulan telah sepenuhnya mengambil alih tugas sang
mentari, meski tak terang benderang, namun sinarnya mampu menerangi langit
malam yang begitu redup.
Aira baru
selesai mengenakan gaun yang diberikan Hanif, saat bertandang ke rumah tadi
pagi. Sedikit tersipu ia menilik tubuhnya di depan kaca.
"Alhamdulillah
... gaun ini begitu indah." Aira berdecak kagum tak henti-henti.
Sebuah gaun
berwarna cream kini telah terpakai sempurna di tubuhnya. Lengkap dengan hijab
instant berwarna coklat susu. Aira benar-benar tampak anggun dan memesona.
"Mas
Hanif, dari mana ia tahun semua ukuran pakaian yang kugunakan?" Aira
membatin penasaran.
Sebuah ketukan
pintu, membuat lamunan gadis itu buyar. Ia membuka pintu kamar yang sengaja
dikunci, takut ibundanya masuk saat dirinya tengah mengukir diri di depan kaca.
"Ibu?"
ucapnya sedikit malu-malu setelah pintu terbuka.
"Masya
Allah, cantik sekali kamu Nduk ...." Puji sang ibu pada Aira. Gadis itu
hanya tersenyum kecut.
"Kalau
begini penampilanmu, ibu khawatir Hanif bakalan melamar kamu di acara
nanti?" Ibunda Aira mencoba menggoda.
"Nggak
mungkin ah, Bu. Aira rasa Mas Hanif hanya nggak mau Aira datang ke acaranya
dengan pakaian biasa ...."
Ibunda Aira
hanya tersenyum menanggapi ucapan anaknya. Detik kemudian, wanita itu mengantar
Aira ke depan rumah.
"Maaf ya,
Bu. Jadinya Ibu ikut capek nungguin Aira naik taksi. Harusnya tadi Aira naik
mobil jemputan Mas Hanif aja?" desah gadis itu setelah lima belas menit
menunggu taksi di depan rumah.
"Ibu nggak
papa Aira," jawabnya menyemangati.
Tak lama,
sebuah taksi berhenti tepat di depan pagar rumah minimalis mereka. Sebelum Aira
berangkat, wanita itu berpesan agar apapun yang terjadi nanti, ia meminta
anaknya agar mengikuti kata hati dan jangan lupa meminta petunjuk pada Allah.
Aira
mengernyitkan dahi, merasa ada yang disembunyikan wanita itu dari dirinya. Tapi
apa, bertanyapun ia segan.
Selepas
kepergian sang anak gadis, ibunda Aira menutup pintu rumah, "maafkan Ibu,
Nak. Ibu tak bisa memberitahumu bahwa tadi pagi Nak Hanif telah melamarmu. Ibu
takut kau menolak jika tahu perihal ini. Tapi, apapun keputusanmu nanti, semoga
itu yang terbaik."
Jalanan sedikit
macet, namun tidak memperlambat perjalanan dari Tangerang menuju Jakarta Barat.
Aira menatap
pemandangan luar yang tampak begitu ramai. Lalu lalang kendaraan bermotor
membuat matanya jenuh, hingga akhirnya ia berinisiatif mencari gawai di dalam
tas. Sedikit ingin berbagi cerita pada Nita tentang perjalanan malam ini ke
rumah Hanif.
Namun belum
sempat ia menemukan ponselnya, taksi yang ia tumpangi berhenti mendadak. Tubuh
Aira seketika terhunyung ke depan. Untung ia sempat berpegangan pada sandaran
kursi. Jika tidak, tentu kepalanya akan terhantam kursi supir bagian belakang.
"Ada apa,
Pak?" Aira bertanya penuh khawatir.
"Wah,
nggak tau ini, Neng. Kayaknya mesinnya rusak. Coba saya cek dulu deh, Neng.
Sebentar ya?"
Supir taksi
berpakaian biru langit itupun turun dari mobil. Lelaki itu terbatuk-batuk
akibat sumbulan asap yang mengenai wajah, ketika ia membuka penutup mesin mobil
bagian depan.
Melihat hal
itu, Aira juga memilih turun untuk menanyakan keadaan yang terjadi.
"Ada
masalah, Pak?" tanya Aira meski dengan intonasi cemas bercampur kesal.
"Sampun,
Neng. Mesinnya overheat, mungkin agak lama ini. Bagaimana ya?" Lelaki itu
mengibas-ngibas wajahnya dengan topi, kelihatan gugup dan merasa tidak enak.
Aira hanya bisa
mengembus napas kasar, padahal ia harus segera sampai ke tempat Hanif. Tapi mau
gimana lagi. Tentu tak ada satu orangpun yang menginginkan rejekinya nyangkut
tersebab oleh apapun. Termasuk juga supir tua ini.
Aira bergeming
kasihan. Gadis itu menyodorkan uang sesuai yang muncul di argo, tanpa
mempermasalahkan lagi bagaimana dirinya akan sampai di Kembangan nanti.
Suatu
keberuntungan, taksi yang ia tumpangi malah mogok tepat di depan sebuah
swalayan. Aira berniat me
mbeli minuman
di tempat itu, sekadar untuk melepas dahaga.
Tepat ketika
tangannya hendak meraih gagang pintu swalayan, disaat itulah mata Aira
bertabrakan dengan seorang lelaki yang juga berniat keluar dari dalam swalayan.
"Aira?"
Terdengar suara bariton yang tak asing lagi di telinganya.
"Mas
Reza?" Aira terhenyak tak percaya.
"Bunda
Aira?" Seru seorang anak kecil yang berdiri tepat di samping Reza. Suara
itu seketika membuat kedua mata yang saling bertatapan tadi, terhenyak.
"Abhi?"Aira
beralih menatap bocah tampan di samping Reza.
“Mungkinkah ini
sebuah kebetulan?” gumam Aira penuh keraguan.
"Bunda
Aira cantik, kayak putri?" puja Abhi tanpa dikomando. Mendengar pujian
manis yang terlontar dari mulut anak kecil itu, reflek manik mata Aira melotot
tajam. Malu. Andai bisa request, ia ingin pingsan seketika.
"Hehehe
... Bunda Aira cantik-cantik mau kemana?” Anak itu kembali melontar pertanyaan.
“Emm, Bunda mau
ke Kembangan.” Aira mencoba menelan saliva saat ingin menjawab pertanyaan Abhi.
“Kamu ngapain disini?”
"Beli
jajan, Bunda. Abi mana, Bun?” tanyanya lagi sambil meraih jemari Aira.
Aira tersenyum
kecut dan menoleh ke arah Reza, membuat kedua mata itu kembali bertatapan untuk
beberapa detik. Buru-buru Aira kembali menunduk. “Abi nggak ikut, Sayang.”
"Owh, Abi
jam segini udah tidur ya, Bun.”
“Iya benar.”
“Terus kapan
belajarnya?”
“Anak Papa
daritadi kok nyerang Bunda Aira terus?” Reza mencoba angkat suara.
“Nggak papa
Mas,” ucap Aira menenangkan keadaan, ia kembali menoleh ke arah lelaki tampan
yang memiliki tinggi sepinggangnya itu, ”kalau malam, Abi cuma belajar
sebentar. Setelah itu dia shalat dan tidur. Nanti bangun tidur, selepas shalat
subuh, barulah Abi mengulang kembali semua pelajarannya. Karena saat subuh itu
pikiran masih bersih, jadi setiap apa yang dipelajari akan lebih mudah
dipahami. Makanya Abi pintar?" Aira menjelaskan dengan seksama.
"Hihihi
... kalau aku, jangankan belajar, shalat subuh aja jarang, Bun. Habis Papa aja
kadang nggak shalat. Kalau ada Umi, baru ada yang bangunin," ungkap sang
anak tanpa malu-malu.
"Uhukkk
...." Reza seketika terbatuk, mendengar ucapan jagoannya. Lelaki itu
menoleh ke arah sumber pembuka rahasia, "Abhi ...?” tegur Reza memberi
isyarat.
"Hehehehe
... Aku tunggu di mobil ya, Pa?”
“Astahgfirullah
...,” gumamn Reza sambil mengacak-acak rambut.
'Duh ...
tangannya yang kekar, kuku-kukunya yang bersih, wajahnya yang nyaris sempurna,
kini tersenyum hangat memperlihatkan sebuah ceruk. Lelaki ini, tampan sekali.'
Meski dengan
mencuri-curi pandang, Aira mampu merekam dengan apik seraut wajah yang begitu
memikat di hadapannya. Andai keberanian itu ada, sudah tentu ia ingin menikmati
sorot mata hazel yang sedari tadi dengan gagah menatapnya. Namun, apa daya, ia
hanya mampu mengangkat dagunya sesekali.
"Benar
kata Abhi ... kamu cantik," lirih Reza nyaris tak terdengar.
"Hah,
kenapa Mas?"Aira kembali mendongak.
"Ng-nggak
papa kok."
"Emm ...
sebenarnya, Bunda Aira ini mau kemana?" Reza mencoba mempraktekkan gaya
bicara Abhi.
Aira menoleh
dan tersenyum. ‘
“Aira saja
Mas?”
“Maaf, oke!”
ucap Reza masih sambil terkekeh.
“Saya mau ke
Kembangan, Mas. Tapi taksi yang saya tumpangi mogok tiba-tiba," Aira
menunjuk sebuah taksi yang berhenti beberapa meter di hadapan mereka.
"Owh ...
kalau gitu mari barengan. Saya juga mau ke sana, menjenguk neneknya Abhi yang
sedang sakit.”
"Nggak
usah repot, Mas. Saya nunggu taksi yang lain aja. Mungkin sebentar lagi ada
yang lewat." Tolak Aira sedikit sungkan. Reza bergeming.
"Yasudah,”
ucap Reza sambil menatap lurus kedepan. ”Emm tadi kamu mau beli sesuatu?"
"Eh,
i-itu, mau beli minuman.”
"Yang ini
mau?" Reza menawarkan minuman yang ada di tangannya. Minuman dingin dengan
rasa jeruk. Aira menggeleng dan tersenyum. Merasa canggung menerima dari
seorang lelaki, apalagi lelaki itu baru saja ia kenal. Meski sudah terlanjur
menjatuhkan hati.
"Nggak
usah Mas, biar Aira cari yang lain aja?"
"Nggak
papa, ambil aja." Reza ngotot menyerahkan minuman itu untuk Aira. Sempat
bergeming sejenak, namun raut wajah lelaki di hadapanny
a membuat gadis
itu tak mampu melakukan apapun selain menerima.
"Terina
kasih.”
"Kamu
merasa sesuatu nggak?" Entah untuk alasan apa, Reza ingin menggoda gadis
cantik pemalu di hadapannya itu.
“Merasa apa?”
“Eh itu ada
bintang jatuh. Minta doa yuk, kayak di film Bolliwood gitu?”
Aira menoleh.
Tentu ia tak percaya pada hal demikian.
“Mas Reza
percaya?”
Lelaki itu
mengangguk dan mengatupkan tangan, berpura-pura berdoa.
“Mas, berdoa
itukan sama Allah?”
“Sssttt ...!
Ini lagi berdoa sama Allah supaya kita berjodoh,” ucapnya masih sambil
memejamkan mata.
Aira terhenyak
mendengar ucapan Reza, seketika tubuhnya bagai kehujanan es, dingin hingga
kemata kaki. Gadis itu menoleh, hendak memperjelas apa yang ia dengar barusan.
Tapi urung ia lakukan. Sebab, hanya akan membuat mukanya yang sudah berblush on
bertambah merah. Sementara itu, Reza sengaja membuka sedikit bola mata, ingin
melihat reaksi Aira atas guyonannya barusan.
“Dia cantik
sekali jika tersipu malu.” Reza berdecak bahagia.
Aira menarik napas
perlahan, berharap segera ada taksi yang akan mengantarnya pergi dari tempat
itu. Namun harapannya seakan jauh dari terkabul.
Ia sadar,
gerimis kembali mulai berjatuhan.
“Hujan?” lirih Aira.
"Hah,
hujan. Padahal tadi langitnya cukup cerah, ya?" ucap Reza seraya kembali
membuka mata. gerimis itu perlahan bertambah lebat.
Reza hendak
pamitan, ingin menjemput Abhi yang masih duduk di mobil. Namun, bidikan lampu
depan sebuah mobil mewah membuat buatnya tertunda. Kedua insan itu tampak memicingkan mata.
Reza menahan
langkahnya, mendapati seorang lelaki berpakain rapi, yang ia taksir tak jauh
terpaut usia dari dirinya, keluar mobil dengan sebuah payung.
Aira tergugu,
ia tak menyangka yang keluar dari mobil itu adalah Hanif.
"Mas
Hanif?” sebut Aira gugup.
“Kamu nggak
papa?”
“Ng-nggak. Kok
Mas Hanif tahu Aira disini?"
"Tadi Mas
menyuruh supir buat mengikuti taksi yang kamu naiki. Untung saja ada Pak Karyo,
kalau nggak Mas pastikan kamu kelamaan disini." Hanif menatap tajam ke
arah Reza.
Sementara itu
Reza hanya bergeming, sejenak rasa cemburu perlahan merayapi tubuhnya yang
berdiri dalam kekakuan.
“Mas Hanif,
kenalkan ini ....”
"Saya
Reza." Cepat Reza mermperkenalkan dirinya.
Hanif melirik
tangan Reza yang mengambang di udara. Tak ingin mengabaikan, iapun menyambut
uluran tangan lelaki di hadapannya itu.
"Hanif."
Aira tampak
kalap menghadapi situasi itu. Entah mengapa ia merasa sedang diperebutkan oleh
dua lelaki.
‘Uh ...
kepedean!’ Aira membatin.
"Ayo Mas
antar kamu pulang?" ucap Hanif mengalahkan suara gerimis yang semakin
deras
“Papaaa ...!”
teriak Abhi dari dalam mobil. Reza segera menoleh.
“Sebentar,
Sayang. Papa segera kesitu.”
"Emm, Abhi
pasti ketakutan, Mas. Buruan samperin?"
“Emm ... Iya.”
Hanif kembali
memberi isyarat agar Aira mengikutinya. Seulas senyum ia lempar ke arah lelaki
yang raut wajahnya tak seperti tadi, penuh ceria. Raut itu kini hanya
menyisakan kekecewaan. Aira memang tak yakin, tapi ia tahu Reza tak suka dengan
kehadiaran Hanif.
***
Lelaki yang
tampak begitu istimewa dalam balutan jas berwarna cream serupa dengan yang
dikenakan Aira itu membuka pintu mobilnya, ia tak ingin hujan membasahi tubuh
gadis yang ia sayangi. Perlahan kendaraan itu bergerak. Meninggalkan seorang
lelaki yang terpaku menatap kepergian mereka.
Aira
membalikkan tubuhnya, ia ingin tahu apa yang terjadi pada Reza selepas
kepergiannya..
"Kita
pergi sekarang?"Ucapan Hanif membuat pandangan Aira beralih ke depan.
Gadis itu mengangguk.
Di luar mobil,
hujan menitik semakin deras. Seolah mewakili perasaannya yang kadung berderai.
Manik matanya nanar menatap kaca yang basah oleh tetesan air yang tak diminta
untuk turun. Begitu pula dengan perasaannya, ia tak pernah meminta cinta itu
datang. mengusik dan mengubah alur hidupnya yang landai.
"Ya Allah,
seperti apa hamba harus memaknai rasa ini, haruskah hamba lepas atau
menggenggamnya dengan sebelah tangan?"
Aira teringat
akan dua bair syair yang pernah ia baca pada biografi seorang ulama,
Jika cinta
orang yang dimabuk asmara kepada Laila dan Salma, telah m
erampas hati
dan pikiran.
Lalu, apa yang
dilakukan oleh orang yang kasmaran, yang di dalamnya mengalir rasa cinta kepada
Yang Maha Tinggi?"
Dalam sebuah
abad, cinta Majnun terhadap Laila menunjukkan bahwa Majnun akhirnya mati karena
cintanya kepada Laila. Qarun mati oleh cintanya kepada harta benda. Fir'aun
mati karena cintanya kepada kedudukan. Tapi Hamzah, Ja'far, dan Hanzhalah mati
karena cintanya kepada Allah. Aira ingin menjadi salah satu yang hidup dan mati
karena Allah. Termasuk dalam hal mencintai, ia ingin mencintai seseorang karena
Allah.
"Mudahkan,
ya Allah?" gumamnya pelan.
Suasana di
dalam mobil perlahan menjadi hening. Namun tak bertahan, Aira terhenyak saat
mendapati Hanif membalikkan arah.
"Lho kok
malah balik arah?" tanya Aira penasaran.
Hanif menoleh
sekilas. "Bagaimana mau pergi jika pakaian kamu seperti ini?" Ia
menunjuk bagian bawah gaun yang dikenakan Aira, hampir selutut basah, belum
lagi bercak-bercak lumpur yang tampak menodai. Aira sedikit belingsatan.
"Maaf,"
gumam gadis itu pelan.
"Lho, kok
minta maaf. Kamu nggak salah kok?" jawab Hanif berusaha mendamaikan
kemelut dihati gadisnya.
"Harusnya,
jika tadi Aira ikut bareng Pak Karyo, tentu sekarang sudah di rumah Mas Hanif
'kan?" sesal Aira.
"Hai,
kenapa menyesali sesuatu yang sudah lewat?" Hanif menoleh sejenak,
"nggak ada satupun kejadian di dunia ini yang luput dari perhatian Allah,
yang terjadi malam ini adalah bagian dari skenario hidup kita. Setidaknya., Mas
sekarang tahu bahwa bukan Mas saja lelaki yang mencoba mendekatimu."
Aira menoleh
seketika. “Mendekati?”
"Heeh.
Yang tadi itu, lagi ngedekati kamu ‘kan?”
Aira tampak
bingung, harus menjawab bagaimana pertanyaan Hanif tersebut. Ia hanya menunduk.
“Boleh nggak,
Mas tanya sesuatu?"
“Mas Hanif mau
nanya apa?”
"Apa kamu
menyukainya?"
Tatapan sendu
Aira seketika membeliak. Haruskah ia jujur? Sesaat keduanya kehilangan
kata-kata.
"Lo, kok
nggak dijawab? Biasanya diam itu punya dua arti lo, iya atau bukan. Kira-kira
jawaban atas pertanyaan Mas tadi iya atau bukan?”
Lelaki itu
menajamkan tatapan mata. Ada beribu tanya yang tersirat dari sorot hitam
legamnya. Aira benar-benar kelabakan.
Mungkin ia tak bisa menjawab pertanyaan Hanif
kali ini. Setidaknya sampai dirinya benar-benar bisa membaca perasaan dengan
pasti.
"Aira
...?" panggil Hanif lembut.
"Ah,
lupakanlah ... sebenarnya ada yang lebih penting yang akan Mas sampaikan sama
kamu?"
“Mas mau
ngomong apa?”
Hanif menarik
napas panjang. “Mas mau melamar seorang gadis.”
“Apa, melamar?
Emang, Mas Hanif mau ngelamar siapa?”
Lelaki itu
menoleh ke arah Aira sambil tersenyum. "Mas namakan dia gadis bermata
bidadari, dia cantik dan shalehah. Menurutmu, Mas bakalan diterima nggak, ya?”
Aira tersenyum
hangat. “Insya Allah, kalau yang ngelamarnya seperti Mas Hanif ini, Aira yakin
bakalan diterima. Mas jangan ragu deh, segerakan jika tak ingin timbul fitnah?”
“Benarkah?”
“Iya, Mas
Hanif.”
“Semoga dia tak
menarik kata-katanya, “Hanif mengeluarkan sebuah kotak beludru dari saku
celana,”Bismillah. Humaira ... maukah kamu menikah dengan Mas?”
Deg!
Aira
tercengang. Seketika jantungnya seakan berhenti berdetak, cardiac arrest. Aira
menarik napas cepat, mengembalikan aliran darah yang seolah ikut terhenti.
Antara yakin dan ragu, Aira menelan saliva.
Bahagiakah dirinya?
Atau sekadar tak menyangka bahwa setelah bertahun-tahun penantian panjang,
akhirnya Hanif malah datang dengan sebuah lamaran?
"Mas
Hanif, melamar Aira?"
“Iya, Mas
melamar kamu menjadi istri Mas seumur hidup, maukah kamu menerimanya?”
‘Kenapa ini?
Ada apa dengan hatiku?’gumam batin Aira.
Harusnya ia
berbahagia, penantian panjang berbuah manis. Bukankah seorang gadis sangat
menginginkan dilamar lelaki yang diincarnya bertahun-tahun. Tapi, ada apa
dengan perasaan Aira? Benarkah cintanya telah berpaling? Sementara
bertahun-tahun, ia sudah menghabiskan waktu untuk menyirami tunas-tunas cinta
yang demikian besar?
Semudah itukah tunas tersebut mati, apakah
tersebab oleh si empunya yang tak pernah menyirami, atau justru ada tanah lain
yang terlihat lebih subur?
A
ira mencoba
untuk tersenyum, meski hatinya berkata lain. Dilihatnya Hanif membuka kotak
berisi cincin berlian dengan permata biru di tengahnya, sangat indah dan
elegant.
"Maaf jika
lamarannya terkesan tidak formal. Sejujurnya, Mas ingin menyampaikannya pada
acara malam ini, di hadapan kedua orang tua Mas juga ibumu, tapi Allah berkata
lain. Jika kamu tak keberatan, Insya Allah besok, Mas akan minta orang tua Mas
untuk bersilaturrahmi ke rumahmu," ucap Hanif dengan binar bahagia yang
tak dapat ditutupi.
Mulut Aira
masih menganga. "Emm ... Mas, Aira, sangat terkejut dengan lamaran Mas
Hanif ini. Aira, tidak bisa menjawabnya sekarang. Beri Aira waktu untuk
berpikir Mas?”
Hanif menghela
napas. “Berapa lama?”
“Satu bulan.”
Aira benar-benar bingung, apakah satu bulan cukup untuknya membaca perasaan
sendiri. Namun, ia tak mungkin menangguh lebih lama.
Hanif memaksa
untuk tersenyum. Tadinya ia begitu yakin lamarannya akan diterima. Namun,
lelaki di swalayan itu ... mungkin, ialah menjadi penyebab terhambatnya lamaran
ini. Atau bahkan pernikahan yang ia harapkan tidak akan pernah terjadi sama
sekali. Entahlah.
Di luar, hujan
turun semakin deras. Disaat dentingannya terdengar begitu menenangkan, namun
dua sejoli itu nampak gelisah tak tenang. Ada harap yang berbeda yang teriring
diantara tetes yang kian lama kian berderai.
*HUMAIRAH*
_Part_5_
"Runtuhnya
Pertahanan Hati"
*Seburuk-buruknya pikiran adalah
berprasangka.*
Jam kerja telah
usai. Semua karyawan sedang bersiap-siap untuk kembali ke rumah masing-masing.
Namun, seorang lelaki berkemeja batik tampak sibuk melirik ke luar jendela.
Sesekali ia meneguk air mineral yang tinggal seperempat lagi di dalam botol.
Harapannya akan
kehadiran seseorang tak kunjung terkabul.
Lelaki itu
menghela napas, hingga tak satu orangpun lagi ada yang bersamanya, yang ia
harap benar-benar tak menunjukkan batang hidung.
“Kemana dia?”
Reza memasukkan kembali kartu yang ada di tangannya ke dalam laci.
Sambil meraih
kunci mobil, ia menggeser layar ponsel, menerima panggilan telepon dari
seseorang.
[Assalamualaikum,
Mbak?]
[Oke, aku
kesana]
Embusan angin
masih menusuk kulit. Sisa-sisa dingin tumpahan air dari langit semalam masih
terasa membekukan aliran darah.
Aira meraih
jaket menutupi tubuhnya yang sudah mengenakan seragam berwarna hijau. Seperti
biasa, ia mengeluarkan motor matic kesayangan dan siap melaju menuju sekolah
sang keponakan.
Tanpa terlupa,
di sepertiga perjalanan, matanya selalu mengerling ke sebuah rumah yang
terletak di pinggir jalan.
Mulut bisa saja
menipu, tapi hati takkan bisa berdusta. Yang ia niatkan tempo hari untuk tak
bertemu Reza memang ia lakukan, tapi untuk berhenti berharap akan melihat
sosoknya, sampai detik itu tak dapat dipenuhi seutuhnya.
Masih saja ada
harap yang tercipta, akan bisa melihat sosok Reza setiap hari, meski itu secara
diam-diam.
Aira
melambatkan laju motornya, ketika ia dapati dari rumah Reza keluar seorang
perempuan cantik berpakaian syari. Tiba-tiba saja, dadanya bergemuruh hebat.
Rasa cemburu
seketika menghujam palung hati. Sebuah rasa yang tak pantas, sebab antara
dirinya dan Reza memang tak ada ikatan sama sekali. Lagipula, bukankah Hanif
tengah menunggu kejelasan akan lamarannya tempo hari?
Namun, menolak
rasa itupun seperti berharap bisa terbang dengan kedua tangan. Inikah akhir
dari rindu yang berduyun-duyun di dada?
Aira bergumam
dalam hati. “Mungkin dialah calon istri Mas Reza? Cantik sekali ... sangat
pantas?” Ia mulai membandingkan wanita itu dengan dirinya.
Rasa penyesalan
datang begitu saja tanpa diminta. Berbagai pikiran seakan dibisik untuk dijejer
satu persatu. Aira bahkan ingin menertawai dirinya, yang pernah berharap suatu
saat bisa melukis bahagia bersama Reza.
Matanya kini
benar-benar berembun, jika tak memikirkan ada Abi di sisinya, ia sudah
membiarkan tangisan itu berderai.
Malam semakin
larut, setelah terbangun untuk shalat tahajud, Aira malah tak bisa lagi
memejamkan mata. Ingatannya masih berkelebat pada perempuan cantik yang ia
lihat tadi di rumah Reza.
“Apa benar
perempuan itu calon istri Mas Reza? Bisa saja kan cuma seorang teman, kakak
atau saudara?” Aira berusaha menepis perasaan buruknya terhadap Reza. Sesaat,
ia melirik gamis pemberian Hanif yang tergantung di samping lemari.
“Maafkan Aira
Mas. Aira ... mencintai Mas Reza,” ucapnya sambil menyeka sebulir kristal
bening yang mengalir di pipi.
Gadis itu baru
tahu, rasa rindu bukan saja merampas kesadaran, juga membuatnya ingin amnesia.
Lupa segala dan hanya ingin mengingat yang dicinta seorang.
Untuk meredam
gejolak itu, Aira bertekad akan menemui Reza esok hari. Bukankah membuktikan
lebih baik, daripada memendam seorang diri. Berkata jujur lebih diutamakan
daripada berkata dusta, benarkan? Aira berharap semoga esok ada petunjuk pasti
akan jodohnya.
Pukul delapan
pagi, Aira telah sampai di depan Bank tempat Reza bekerja. Untung hari ini ia
off dinas, jadi bisa menuntaskan inginnya tanpa teringat ada pasien dalam tahap
persalinan tengah menunggu.
Dengan busana
syari polkadot kesayangan berwarna hitam, berdasar putih, Aira tampil anggun
dengan sebuah hijab instant menutupi
dada. Senyumnya ranum menghiasi bibir. Ia sudah mengambil nomor antrian dan
duduk di bangku paling depan.
Perlahan ia
menarik napas, membayangkan sesaat la
gi akan
berhadapan kembali dengan lelaki pemilik ceruk di pipi kanan.
“Ehm, pertama,
tanyakan ATM-nya dulu, setelah itu basa basi tanya perempuan kemarin.
Hufht ... kok
jadi deg-degan gini, ya?” lirih Aira
sambil meremas-remas jemari tangan.
Aira masih
menanti kehadiran CS yang duduk di bangku pertama. Sudah sepuluh menit berlalu,
namun bangku itu masih terlihat kosong.
‘Nomor antrian
dua, silahkan ke counter dua!” Aira menghela napas. Nomor antriannya telah
disebut, tapi tidak untuk duduk di depan Reza. Melainkan di hadapan seorang
wanita di counter dua.
“Silahkan duduk
Mbak?”
Aira mengangguk
dan menarik kursi untuk bisa menyandarkan bahu sejenak. Menahan rasa gugup
ternyata lebih melelahkan dari menolong persalinan sehari semalam.
“Ada yang bisa
saya bantu, Mbak?” tanya CS cantik pada Aira. Gadis itu terhenyak. Namun segera
bisa mengendalikan situasi.
“Beberapa hari
lalu, saya sempat meminta bantuan Pak Reza untuk memperbaiki ATM saya yang
rusak. Tapi karena kesibukan, baru hari ini saya sempat datang untuk mengambil
kartu itu. Pak Reza kemana ya, Bu?”
“Wah, Reza?
Aduh coba saya telpon dulu ya. Nggak biasanya dia telat dan nggak kasih kabar?”
Wanita di hadapan Aira tampak sedikit panik. Beberapa kali ia memencet nomor
yang sama, namun selalu saja dijawab oleh call center.
“Kang ...?”
Wanita itu memanggil seorang sequrity yang sedang berlalu di hadapannnya.
“Reza ada
nelpon Akang nggak kasih kabar kalau nggak masuk atau apalah?”
Lelaki
berpakaian seragam hitam putih itu menggeleng. Aira mengembuskan napas kasar,
kembali pikirannya dirasuki bisikan-bisikan aneh. Sudah tentu yang terbesit tak
lain mengenai dugaan bulan madu Reza.
“Kemana ya,
anak itu?” gumam wanita di hadapan Aira, namun lirih suaranya masih bisa di
dengar Aira dengan jelas, “apa jangan-jangan hari ini ia sedang akad nikah ya, kok
nggak ngabar- ngabari?”
“Akad nikah? Ya
Tuhan, ini kabar palsu atau asli?” Rasa getir kini mulai kembali memenuhi ruang
hati Aira. Ia berusaha tetap duduk tegak meski yang ia dengar barusan, terlepas
dari benar salahnya, sudah berhasil membuat tulang-tulang Aira lolos dari
persendian.
“Oh, Pak Reza
sedang cuti menikah ya, Bu?” Aira memastikan yang ia dengar barusan meski tiap
kata yang keluar seakan mampu mengoyak dadanya.
“Eh, hehehe ...
kali aja Mbak, ‘kan dia duda keren incaran banyak perempuan! Ih, owalah kok
jadi ngomongin Reza. Gini aja Mbak, tinggalkan nomor handphone Mbak di kertas
ini. Jika nanti Reza datang, saya suruh langsung hubungi situ ya, bisa?” jawab
perempuan itu.
Aira hanya
mengangguk lesu sambil menulis nomor handphonenya di notebook. Pias kecewa
tergambar jelas pada raut wajah gadis itu.
‘Sekarang sudah
jelas, cintaku bertepuk sebelah tangan.’
Aira
menghidupkan motor maticnya, di balik helm yang menyelubungi seluruh kepala,
ribuan air mata tak tertakar tumpah bak air hujan membasahi bumi. Meski tak
mampu menghapus, namun cukup membuat luruh sesuatu yang terasa beku karena
cemburu.
***
Siang itu
sepulang Abi dari sekolah, Aira memberanikan diri bertanya perihal Reza, meski
sejujurnya rasa malu tak dapat ia sembunyikan.
"Bi, teman
kamu si Abhizar itu, sekolah nggak hari ini?"
"Owh Abi,
udah lama dia libur, Bun."
"Oya?"
"Katanya
sih keluar negeri, nggak tau deh kemana dan mau ngapain?"cerita Abi.
Tangannya sibuk mengeluarkan bungkusan makanan yang ada di dalam tas.
Lagi-lagi, Aira
hanya bisa menelan saliva. Ia tak bisa mencegah kegundahan yang semakin
membuncah.
“Sudah!
Harusnya aku berhenti berharap. Dia bahkan tak menghubungiku, padahal ATM masih
di tangannya!” gerutu Aira, antara sedih dan kesal.
Tanpa basa basi
ia berlari ke kamar, dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Perlahan tanpa
ia sadari air mata berderai di tiap-tiap sudut.
"Ah,
kenapa harus menangis?" Rasa cemburu tiba-tiba kembali membalut jiwanya,
teringat akan wanita yang tempo hari pernah ia lihat di rumah Reza. Mungkinkah
Reza dan wanita itu menikah?
"Bodoh
sekali aku berharap lelaki itu datang menyatakan perasaannya," keluh Aira
sembari mengusap airmata.
"Nduk,
kamu kenapa?” tanya sang ibu sembari berjal
an mendekat.
Aira yang kaget akan kehadiran sang ibu segera mengusap wajah.
“Hanif
menyakitimu?"
Aira
memberanikan diri menoleh, ia ragu untuk menceritakan perasaannya. Karena
jelas, ini bukan tentang Hanif. Tapi, memendam seorang diripun ia tak mampu.
"Aira ...
tak bisa menerima Mas Hanif, Bu? Aira tidak menyukainya?” lirih gadis itu
berucap, sang ibu tampak terkejut.
"Ada apa
ini, Ra? Apa yang membuatmu tidak menyukainya? Dia tampan, kaya, kuat ibadah,
lulusan Maroko? Kamu sadar nggak mau menolak lamaran siapa?”
Aira menunduk
mendengar suara lantang sang ibu. Debar jantungnya terdengar hingga ke telinga.
“Nuwun Sewu,
Bu. Tapi Aira terlanjur menyukai orang lain?” ucap Aira dengan suara yang
bergetar.
“Siapa, duda
yang baru sebulan kamu kenal itu? Astaghfirullah Ra ...?” Wanita di hadapan
Aira menggeleng tak percaya.
“Bu, bukankah
kita harus menikah dengan yang kita sukai? Aira menyukainya?”
“Oke! Apa dia
juga menyukaimu? Apa dia melamarmu, seperti yang Hanif lakukan?”
Aira terdiam.
Pertanyaan wanita itu seperti hendak membangunkannya dari tidur lelap.
“Kamu bahkan
diam saat ibu bertanya seberapa seriusnya lelaki itu padamu? Atau
jangan-jangan, cintamu bertepuk sebelah tangan?”
Aira masih
bergeming. Mulai goyah dengan perasaannya sendiri.
“Aira ... Aira
... Ibu bukannya tidak setuju kamu menyukai lelaki manapun, tapi harus jelas
siapa dan bagaimana sifat lelaki itu. Tapi, coba kamu pikirkan baik-baik,
alangkah menyesal jika kamu jadi menolak seseorang yang sangat serius denganmu.
Sebagai lelaki, Hanif itu nyaris sempurna. Jangan ragu lagi anakku, Ibu yakin
kamu tidak salah memilihnya.” Sang Ibu berusaha meyakinkan putrinya. Aira
menengadahkan wajahnya yang tertunduk.
“Buka hati kamu
Aira, jangan ikuti perasaan yang salah, siapa tahu itu datangnya dari setan.
Tapi ikutlah kebaikan. Boleh jadi sekarang kamu tak suka pada Hanif, tapi
setelah bersama, rasa itu perlahan akan muncul dengan sendirinya. Saat itulah
kamu akan menyadari, bahwa apa yang ibu katakan sekarang tidak pernah salah.”
Aira tergugu,
perkataan sang ibu begitu menyentuh kalbunya. Ingin ia menyangkal keadaan,
andai Reza datang melamar, tentu kebahagiaan akan sempurna.
"Nduk,
dengar ya, memilih jodoh bukan seperti membeli baju, nampak dimata indah, cocok
harga langsung beli. Memilih jodoh itu harus relevan, dilihat dari berbagai aspek,
terutama agamanya,biar nggak menyesal nanti saat sudah bersama dalam membina
rumah tangga?"
“Jika kamu
menyayangi Ibu, terimalah lamaran Hanif. Hanya itu Ra, permintaan Ibu."
Wanita itu
menggerakkan kedua tangannya untuk merengkuh sang anak. Aira sedikit lebih
tenang, merasa ada kekuatan dan kepastian yang dialirkan sang ibu melalui
dekapannya.
Meski ia tahu,
rasa itu takkan bertahan lama. Karena sesungguhnya, ia goyah. Cinta untuk sang
duda terlalu terpatri di dalam dada.
“Jika ini
takdir-Mu ya Allah? Hamba akan belajar ikhlas dan sabar. Meski diri ini yakin,
dalam setiap sujud di sepertiga malam, hanya wajah lelaki itu yang selalu
muncul ....”
Sepeninggal
sang ibu, gadis itu perlahan bangkit. Menyirami mukanya dengan secuput air. Ia
ingin menyenangkan ibundanya. Meski bahagia adalah taruhan.
Kini Aira mulai
yakin, bahwa tak selalu yang datang dalam mimpi adalah pertanda jodoh. Begitu
pula dengan Reza.
"Tapi
Allah, bisakah aku meminta? Pertemukanlah kami kembali?"
*HUMAIRAH*
_Part_6_
*"Kejujuran Yang Terlambat"*
‘Allah, izinkan
aku menangis ketika harapan tak kunjung menjadi kenyataan. Bukan karena
penolakanku terhadap ujian, namun sebagai penawar akan segala rasa gundah.’
Hanif dan
keluarga telah sampai di rumah Aira tepat pukul sembilan pagi. Ibunda Aira
sempat kaget dengan banyaknya hantaran, yang dibawa calon besan itu.
Berkali-kali ia mewanti-wanti agar Aira tak mengecewakannya dan orang tua
Hanif.
Sementara itu
di kamarnya, Aira tampak mematut diri di depan cermin. Tubuhnya yang semampai
kini telah berbalut gamis syari berwarna putih. Sebuah selendang warna senada
menjadi pelengkap keanggunan gadis itu.
Suara derit
pintu kamar memalingkan pandangan Aira. Sang ibu masuk untuk menuntunnya keluar. Dari kejauhan, ia
dapat melihat lelaki yang sesaat lagi akan melamarnya tampil begitu memesona,
dalam balutan koko putih lengan panjang dipadu celana katun berwarna hitam,
lengkap dengan kopiah warna senada. Lelaki itu terlihat begitu sempurna dan
berkharisma.
Aira berjalan
perlahan dan duduk di hadapan kedua orang tua Hanif. Setelah membuka
percakapan, acara sakral itu memasuki tahap lamaran.
"Saya rasa
anak-anak kita sudah saling membicarakan perihal kedatangan kami kemari. Saya
selaku orang tua Hanif hanya akan memperkuat apa yang sudah ia sampaikan tempo
hari. Besar harapan kami, agar Ibu dan Nak Humaira bisa menerima niat baik
ini?”
Aira menarik
napas panjang, mengatur ritme jantung yang semakin kencang. Melihat raut wajah
ibundanya yang penuh harap, tidak ada kata lain yang ingin ia ucapkan. Hanya
pengorbanan yang bisa ia beri, untuk membalas segala kasih sayang wanita itu
untuknya selama ini. Ia sempatkan melirik calon suaminya sesaat.Tenang, seperti
biasa.
"Bismillahirrahmanirrahim
... Aira sangat bahagia atas kedatangan Ibu, Bapak dan Mas Hanif di rumah kami
yang sederhana ini. Sudah sebulan, Aira menimbang sembari bermunajat pada Allah
mengenai jodoh.
Pada akhirnya,
Aira mendapatkan sebuah keputusan yang mantap. Aira harap semua bisa berbahagia
dengan keputusan ini."
Raut wajah Aira
tak dapat dibaca sempurna oleh Hanif. Ada rasa takut yang tiba-tiba mendera,
teringat akan pemuda yang pernah ia temui di swalayan sebulan yang lalu. Hanif
menarik napas panjang, ia sudah mempersiapkan diri apapun nanti yang akan
diucapkan Aira.
"Mas
Hanif.” lelaki itu terlonjak mendengar Aira memanggilnya, ”Aira ... bersedia
untuk meneruskan hubungan ini, semoga Allah memudahkan segalanya."
"Alhamdulillah
...." Terdengar sahutan dari semua yang ada di ruangan itu.
"Amiinn
... Insya Allah, Humaira. Terima kasih."
Hanif
menelungkupkan kedua tangan ke wajah. Terlihat begitu lega, tak merasa sia-sia
penantiannya sebulan ini. Ia menatap Aira, gadis itupun tak sengaja menoleh,
hingga tatapan mereka bersiborok.
Hanif tersenyum
sembari mengucupkan kedua tangannya. Aira hanya membalas sikap itu dengan
mengangguk. Datar, ia tak menunjukkan sikap bahagia, namun tak pula bergeming
nestapa.
Sebuah takdir
yang sudah tertulis di Lauhul Mahfzud, hari ini kembali terjadi. Dua keluarga
akan bersatu dalam ikatan pernikahan.
Keluarga Hanif hanya memberi waktu dua minggu
untuk mempersiapkan resepsi.
Meski terkesan
mendadak, namun ibunda Aira menyetujui. Tak ingin mengulur waktu jika kata
sepakat sudah tercipta.
Senyum bahagia
terkembang di bibir tiap-tiap insan di rumah itu. Hanya Aira yang tersenyum
membawa sesuatu yang berbeda. Jiwanya
memang ingin memberontak, tapi akalnya membisikkan sesuatu, sabar. Ia hanya
harus belajar meyakini diri, bahwa setelah resepsi pernikahan di gelar dan
malam pertama terlewati, hanya Hanif yang akan menari-nari di pikiran, tidak
untuk yang lain, apalagi Reza.
*
"Esok udah
nggak boleh lo ngantar-ngantar Abi lagi, kamu harus masuk masa pingitan
Aira." Ibunda Aira menmperingati anaknya untuk kesekian kali.
"Iya, Bu.
Aira janji hari ini terakhir Aira ngantar Abi."
"Klinikmu
itu juga, mbok ya ditulis ka
ta tutup, biar
pasien pada tahu kalau kamu itu mau nikah."
"Nggih,
Bu."
“Kerja juga
udah cuti,'kan?"
"Nggak
bisa dulu Bu, paling bisa ambil cuti seminggu sebelum resepsi?"
"Huft,
jaman sekarang memang sudah kebalik. Kalau dahulu masa ibu nikah, nggak ada
yang bisa membantah dan menolak masa pingitan. Tapi kalau sekarang, mau
dipingit aja sibuk mikir kerjaan?"
Ibunda Aira
mendengkus kesal. Sebelum akhirnya berlalu keluar kamar tanpa bicara lagi.
Gadis itu mempercepat gerakan, tak ingin Abi terlambat sampai sekolah.
*
Aira melajukan
motornya sedikit pelan, ingat pesan ibu untuk berhati-hati. Ditengah
perjalanan, matanya membelalak saat melihat sebuah bendera merah terpasang di
depan rumah Reza.
"Bendera
merah pertanda orang meninggal bukan, ya ?" tanya Aira tanpa sadar.
Abi yang
mendengar pertanyaan itu menoleh seketika, "mana Bun?"
Aira menunjuk
halaman rumah teman Abi yang sudah dipenuhi para tetangga. Beberapa mobil sudah
terparkir di dalam dan luar pagar.
"Kita
singgah dulu ya?" Aira berucap lirih. Ia memberhentikan motor dan
memarkirnya di sisi jalan.
Meski sedikit
sungkan, ia beranikan diri memasuki halaman rumah berlantai dua itu. Semua mata
tertuju padanya saat mereka berdiri di depan pintu utama.
Melihat Reza
yang tengah duduk di samping sebuah jenazah yang sudah di tutupi kain kafan,
Aira terperanjak.
Kekagetannya
tak sampai disitu, matanya memanas melihat wanita yang tampak di rumah Reza
sebulan lalu, duduk sangat berdekatan dengan lelaki duda itu.
Aira
membalikkan badan, hendak meninggalkan rumah duka jika saja sebuah suara tak
menghentikan langkahnya.
"Aira
....!"
Gadis itu
menoleh, sebelah tangannya masih menggenggam tangan sang keponakan.
Reza sedikit
berlari menghampir gadis itu. "Sudah lama tak bertemu," ia menatap
Aira lama, seolah begitu merindukannya, "masuklah dulu."
Lelaki itu
menggandeng tangan Abi, membuat Aira tak punya alasan untuk pergi. Ia ikuti
langkah Reza melewati kerumunan manusia yang tengah mendegungkan ayat suci.
Aira duduk
bersebelahan dengan wanita cantik yang tempo hari sempat membuatnya cemburu.
Wanita itu tersenyum, dan menjabat tangan Aira hangat.
Senyap, tak ada
suara selain lantunan ayat-ayat pengantar jenazah menuju liang kubur. Aira tak
beranjak, ia tak ingin meninggalkan Reza tanpa ada penjelasan siapa sebenarnya
jenazah yang sudah tertutup kain kafan.
*
Pemakaman telah
selesai, hampir tengah hari kala itu. Aira sudah menghubungi guru kelas Abi,
meminta ijin karena keponakannya tak berhadir
ke sekolah. Usai pembacaan doa yang di pimpin seorang Ustadz, satu
persatu pelayat mulai meninggalkan pemakaman.
Kecuali Reza, Abhi, seorang lelaki bertubuh
tegap dan wanita cantik yang belum ia ketahui namanya.
Aira dan Abi berdiri
di sisi kiri. Menyadari pemakaman telah sepi, gadis itu berbalik, hendak
berlalu pergi. Meski di hatinya ada tanya yang belum tertuntaskan. Tapi tentu
menuntaskan hal itu saat ini bukanlah waktu yang tepat.
Belum dua
langkah ia bergerak, lelaki yang masih berjongkok di samping kuburan ikutan
bangkit dan berjalan mendekatinya.
"Aira?"
Reza memanggil Aira hingga langkah gadis itu terhenti..
"Bisa kita
bicara sebentar?"
Aira bergeming,
sesaat menoleh ke arah wanita yang tengah menyirami gundukan tanah dengan air
bunga. Wanita itu sedikit tersenyum, seolah mengisyaratkan keizinan.
"Sebentar
saja?" ulang Reza.
"Baik?"
"Abi mau
nggak main sama anak Om sebentar?" rayu Reza pada Abi yang masih
menggandeng tangan Aira.
“Ya, Om.” Bocah
itupun berjalan mendekati sahabatnya yang duduk di sisi pemakaman.
Semenjak
kejadian tertukar rapot, kedua bocah itu menjadi sangat akrab. Tak segan, Abi
bermain di rumah Abhi sepulang sekolah, terutama jika Aira tak bisa menjemput.
"Maaf baru
memberitahumu, yang dikubur itu, ibuku." Reza mengajak Aira duduk di
sebuah kursi panjang di sebelah kanan pemakaman.
Sebuah pohon Kamboja, sedikit menutupi
keduanya dari terik mentari yang menyengat siang itu.
“Apa?” Aira
begitu kaget mengetahui siapa yang sedari tadi ia ikuti proses pemakamannya.
Jika saja ia tahu dari awal, tentu lebih khusuk ia melangi
wabannya. Maaf
jika membuatmu terganggu."
Aira memejamkan
matanya. Sungai yang membendung hampir meluap. Dengan segera gadis itu bangkit
dan hendak menjauh. Namun, lagi-lagi suara Reza meluluh lantahkah perasaannya.
"Oya,
selamat atas pernikahanmu, semoga kalian berbahagia!"
Aira berhenti
melangkah, namun kali ini ia tak ingin menoleh. Seperti mengangkat berton-ton
bongkahan batu yang dililitkan di kaki, sungguh sulit, namun ia tahu itu adalah
rasa yang harus ia bunuh mati.
***
tkan doa buat
wanita yang sudah berpulang ke Rahmatullah itu.
"Kira-kira
sebulan yang lalu, tepatnya pagi saat saya mau berangkat kerja. Mbak Elsa
datang membawa kabar tentang vonis penyakit yang di derita ibu kami. Kakak
kandung saya itu meminta saya menyetujui agar ia membawa Umi berobat ke
Singapure. Barangkali ada jalan kesembuhan disana, namun semua takdir sudah
ditetapkan Allah. Sebulan dirawat, ibu bukan semakin membaik, malah semakin
drop dan akhirnya mengembuskan napas terakhir di negara itu."
Kelu. Lidah
Aira seakan tak mampu bergerak, meski hanya untuk menelan ludah. Wanita yang
sempat ia kira istri baru Reza itu ternyata, adalah kakak kandungnya?
Rasanya ingin
ia memaki-maki diri sendiri, kenapa begitu mudahnya bersuuzan, tanpa mencari
bukti lebih akurat. Seketika itu pula hatinya goyah, merasa ada yang salah
dengan keputusannya kemarin, soal lamaran Hanif!
"Ya, Tuhan
... kenapa hati ini begitu sakit?" Aira membatin. Ia memilih kembali menunduk,
menutupi raut wajahnya yang menyiratkan kepedihan teramat sangat.
"Selama
disana, saya selalu dihantui rasa takut akan kehilangan dua hal ...,“ lanjut
Reza masih dengan pandangan nanar ke depan, “pertama, saya sangat takut
kehilangan ibu, dan kedua, saya juga takut kehilangan ... kamu!"
Aira tersentak
kaget. “Jadi, benarkah keyakinanku selama ini, bahwa Mas Reza ...?
Astaghfirullah.”
Aira memejamkan
matanya yang tiba-tiba memanas, berharap buliran bening yang mulai mengenang di
pelupuk mata, tak berderai di hadapan lelaki itu.
"Maaf
Aira, terdengar sangat tidak bijaksana menyatakannya saat ini. Tapi, saya takut
akan menyesal jika terus memendamnya seorang diri?" Kini Reza memberanikan
diri menatap gadis itu. Hanya sejenak saling bertatapan sebelum kemudian Aira
menyadari suatu hal, dirinya telah bertunangan. Gadis itu seketika menunduk.
"Saya
ingin melamar kamu Aira?" ucap Reza lirih.
Aira
tercengang, kalimat yang diuatarakan Reza barusan, pernah menjadi harap haru
baginya. Namun, tidak untuk sekarang. Dimana pintu hatinya haruslah sudah
tertutup.
Bukankah tak halal menawar dagangan yang telah
ditawar saudara? Dan dirinya, adalah barang yang sudah dipinang seseorang, yang
harusnya terbungkus dan siap dikirim ke pembeli.
“Ya Allah,
bimbinglah langkah rapuh ini ...?”
Sejenak nestapa
merajai hati gadis itu. Aira mengerjap berkali-kali. Menahan bulir-bulir bening
yang terus mendesak keluar. Rasanya begitu sakit, mengetahui perasaan Reza
padanya disaat tak ada lagi harapan untuk menyambut rasa itu.
Andai bisa
mengukir kembali takdir, tentu ia akan meminta pada Rabb. Demi lelaki yang
selalu ada tiap kali dirinya menengadahkan tangan. Agar kejadian ini
berlangsung lebih cepat, setidaknya sebelum ia memberi keputusan kepada Hanif
kemarin. Tapi demi apapun, itu hanya impian yang tak pernah terwujud.
"Maaf, Mas
reza ....” Aira memberanikan diri berucap, meski dengan suara lirih bergetar,
“Aira... sudah dilamar, Mas."
"Astaghfirullah!
Maaf ...!” Reza menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi. Ia merahup muka
dengan kedua tangan.
Kenyataan yang
ia takutkan benar terjadi. Gadis idamannya telah bertuankan lelaki lain.
“Saya
terlambat. Jadi ... kapan pernikahannya berlangsung?” Sekuat tenaga ia berusaha
tetap tegar. Meski kecewa menyelimuti seluruh relung hatinya.
"Dua
minggu lagi, Mas.”
Reza kembali
menarik napas dalam. Hanya bisa pasrah, tanpa bisa berbuat apa-apa lagi.
"Humaira
... itu namamu bukan?"
"Iya."
Aira mengangguk tanpa menoleh. Tak sanggup jika harus bertemu pandang dengan
bola kelam lelaki itu.
"Tolong
lihatlah saya," pintanya penuh harap. Awalnya Aira ragu, tapi akhirnya
gadis itu menuruti kata hati, melawan nurani. Hanya hitungan detik, Reza mampu
membaca apa yang tersirat dari beningnya mata gadis yang ia cintai.
Bahkan ia mampu
membaca kedalaman rasa hingga membuat dadanya terasa di tusuk belati tertajam,
menembus hingga membuat jantungnya berhenti berdetak.
Aira membuang
pandangannya. Reza tahu, bahwa gadis itu juga mencintainya, namun ini adalah
salahnya. Dia terlambat.
Reza membuang
napas kasar. "Pulanglah, saya sudah mendapatkan ja..
*HUMAIRAH*
_Part_7_
*"Berharap Meminangmu"*
‘Andai bisa,
akupun ingin menangis bersamamu. Kemudian kuusap pipi itu dengan lembut. Hanya
aku, aku yang berhak menyentuh pipimu? Tapi aku, aku hanya orang asing, yang
hanya bisa beharap singgah di hatimu. Sementara darimu, harapan untuk berteduh
saja sudah tak mungkin kudapatkan.’
Hanif membuka
satu persatu surat lamaran pekerjaan yang tersusun rapi di atas meja. Seminggu
belakangan, ia sibuk mempersiapkan segala sesuatu menyangkut pernikahan, hingga
dirinya tak sempat mengunjungi pondok pesantren yang sudah rampung ia dirikan.
Kini, satu-satunya tugas yang tersisa adalah, menyeleksi guru ilmu salaf.
Di antara
sekian banyak lamaran yang ia buka, matanya sempat membeliak ketika sebuah foto
seorang gadis berhijab merah muda tersenyum dengan manis ke arahnya. Ia bahkan
tak percaya, jika gadis itu bernama 'Raudhatul Muna'.
Dengan segera
Hanif membuka sampul berwarna biru itu. Meski dalam dada, desiran hebat hampir
tak mampu ia bendung.
"Subhanallah
...." Hanif menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi. Ia benar-benar tak
menyangka akan bertemu kembali dengan gadis itu. Gadis yang pernah menolak
lamarannya empat tahun silam.
"Muna,
kenapa dia ada di kota ini?" desah Hanif penuh tanya. Ia tatap lekat foto
yang tertempel dibagian depan map. Senyum gadis itu, seakan benar-benar nyata.
"Jika kamu
tahu aku seperti sekarang, menyesalkah karena kau pernah menolak lamaranku
dulu?" Sisi lain hati Hanif mulai mengacau pikirannya. Ya, kenyataan dulu
memang dirinya tak seperti sekarang, sukses dalam segala hal.
Bukankah setiap
orang pernah berada pada setuasi yang buruk? Saat kenyataan bertolak belakang
dengan harapan, beberapa kali mengikuti persidangan dan tak lulus-lulus,
membuat Hanif hampir putus asa. Tapi dirinya tak menyerah. Hanya penolakan
Munalah yang membuat ia benar-benar terpuruk.
Namun, semua
sesuai kehendak Allah Yang Maha Pemurah, ketika hati sudah menyatakan ingin
berhenti, disaat itu pula ia mendapat bonus dari Allah. Hanif dinyatakan lulus
pada pendidikan sarjananya, bahkan tak lama setelah kelulusannya, iapun
dinyatakan lulus pada tes S-2 di Dar Al Hadist Al Hassania, Maroko.
Pertemuannya
dengan Aira sedikit mengobati kekecewaan lantaran ditolak oleh gadis bernama
Muna tersebut. Hatinya yang sempat berantakan, perlahan menemukan kembali
keceriaan. Apalagi ketika sesekali ia pulang ke Indonesia dan bertemu dengan
Aira. Gadis itu, meski tak seperti Muna tapi cukup kuat inner beauty yang terpancar
darinya. Cantik, smart, ikhlas menolong, meski sedikit manja dan pemalu. Itulah
Aira dimata Hanif.
Hanif tersenyum
tipis mengingat betapa hatinya jatuh cinta pada sosok Muna yang cerdas lagi
suka berdakwah.
Saat ini, entah
harus bahagia atau sebaliknya, Hanif hanya akan membiarkan takdir berjalan
sebagaimana mestinya. Apapun kenyataan yang akan terjadi, pernikahannya dengan
Aira tetap harus berlangsung.
“Itu adalah
doaku,” lirih Hanif pelan.
*
Sebuah mobil
pribadi berhenti di halaman butik ternama di kota Tangerang. Aira turun bersama
sang ibu untuk fitting terakhir pakaian pengantinnya. Kedatangan mereka
disambut ramah oleh seorang desainer perempuan bernama Mykaila. Wanita berusia
kira-kira empat puluh tahunan itu masih kerabat dekat keluarga Hanif.
Mykaila menyapa
Aira dan ibunya dengan ramah, kemudian menuntun ibu anak tersebut untuk masuk
ke sebuah ruangan yang dipenuhi pakaian pengantin beraneka corak. Setelah
membantu Aira mengenakan pakaian pengantinnya, wanita itu mulai mengukur dengan
seksama, andai saja masih ada bagian-bagian yang kelihatan kurang indah di
tubuh jenjang pelanggannya.
"Sempurna!"
ucap desainer itu puas akan jahitannya sendiri.
Aira mengulas
senyuman. Ia kini mematut diri di depan cermin besar berukiran mawar. Kebaya
berwarna putih dengan taburan mutiara itu tampak indah di tubuhnya.
“Cantik sekali
Aira. Kamu akan menjadi pengantin tercantik Hanif,” ucap Mykaila memuji
customer yang sesaat lagi akan berkekerabatan dengannya. Ibunda Aira juga ikut
berdecak kagum.
“Saya tinggal
ke ruangan sebelah, ya?” ucap desainer itu sem
bari
menggandeng tangan ibunda Aira. Meski baru pertama bertemu, Mykaila begitu
mudah mengakrabkan diri.
Sepeninggal dua
wanita tadi, Aira kembali berbalik, menatap sosoknya yang begitu anggun dalam
balutan gaun pengantin.
Perlahan
ingatan akan sosok lelaki yang ia harap akan menggandeng tangannya di hari
pernikahan nanti, membesit di kepala. Aira menunduk, tiba-tiba saja matanya
kembali terasa berat.
“Inikah
pernikahan yang kata orang begitu membahagiakan?” sebut Aira dalam hatinya. Ia
mengusap sebulir bening yang jatuh bebas di sudut mata. Sejenak menengadahkan
kembali wajah dan berniat untuk melepaskan pakaian itu.
Namun, matanya
membelalak. Benarkah yang ia lihat di belakang? Sosok lelaki yang tadi membuat
mata Aira basah tengah berdiri gagah, menyeimbangkan diri, agar posisinya bisa
bersebelahan dengan Aira di pantulan cermin.
Lelaki itu mengenakan jas hitam, cocok sekali dengan
gaun yang ia kenakan saat itu. Lebih tepatnya mereka terlihat seperti sepasang
pengantin.
Sepersekian
detik kedua pandangan mereka saling bertemu di cermin.
Deg!
Seakan kedua
jantung serempak berhenti berdetak di waktu bersamaan.
"Kamu
cantik!" ucap lelaki itu dari kejauhan.
Aira
memicingkan matanya, "Mas Reza?"
Reza tersentak,
tersadar akan yang baru saja terucap adalah sesuatu yang tak wajar, memuji
calon pengantin orang. Lelaki itu sangat menyesali ucapannya. Ia segera
membelakangi Aira, bermaksud meninggalkan ruangan tersebut. Namun, teguran Aira
berhasil menggagalkan langkah Reza.
“Mas Reza
kenapa disini?”
Reza berdiri
kaku sambil menarik napas panjang. ‘Kenapa harus menghindar? Bukankah aku sudah
melupakannya?’ yakin Reza pada diri sendiri.
“Saya ... ingin
bertemu dengan pemilik butik ini,” ucapnya sambil kembali menghadap Aira.
“Mas Reza kenal
sama Mbak Mykaila?”
“Beliau adik
ibu saya.”
Aira tersenyum.
“Ternyata dunia ini begitu sempit ya, Mas. Adik Ibu Mas Reza itu saudara Mas
Hanif?”
Reza tersentak
mendengar penuturan Aira.
"Hanif?
Wajahnya begitu berbinar menyebut calon suami,” batin Reza berkata. Ia semakin
menajamkan pandangan. Aira yang mulai tersadar dengan ucapannya, segera mencari
pertanyaan lain untuk mencairkan suasana.
“Mas Reza mau
fitting baju jugakah?”
“Buat apa
fitting baju, calonnya saja menikah dengan lelaki lain?” jawabnya ketus.
Mendengar
jawaban yang diutarakan Reza, wajah Aira seketika tertunduk pasrah.
‘Harusnya tadi aku tak menanyakan hal itu?”
Aira membatin. Sementara di hadapannya, lelaki yang tadinya hendak beranjak
pergi justru bergerak mendekat.
Jantung Aira
semakin berdegup kencang saat mendapati langkah itu kini terhenti dua jengkal
dari posisinya. Aira tak berani menengadah, ia hanya mampu menatap sesuatu yang
sejajar dengan penglihatan.
Dada bidang yang
terbungkus jas hitam yang rapi. ‘Andai dada ini tempatku bersandar kelak?’
Ada sesuatu yang berhasil membuat dadanya
terasa begitu perih. Berada sedekat itu dengan sosok yang sangat ia cintai,
namun jelas tak dapat dimiliki rasanya seperti mengemis pada orang fakir.
Reza menekukkan
wajah, mensejajarkan penglihatan agar Aira bisa membalas tatapannya.
"Ya Allah,
kenapa wajah ini ada di hadapanku?" Aira meracau dalam hati. Ia ingin
berpaling dan pergi menjauh, namun kenapa langkahnya seakan di betot dengan
kuat. "Salahkah Allah jika mata ini menatapnya sejenak?"
Perlahan tanpa
Aira sadari, kelopak matanya mulai digenangi air. Bibirnya bergetar menahan
agar genangan itu tak membanjiri wajah.
Namun sekuat apapun usaha, buliran itu tak
lagi terbendung.
Reza terhenyak
mendapati pipi Aira yang mulai dihujani air mata.
‘Benarkah gadis
ini menangis karenaku? Oh Allah ...’
“Hei? Kamu
kenapa menangis?”
Ia menggerakkan
tangan hendak mengusap bulir bening yang mulai bertetes di pipi gadis manis
impiannya. Namun, Reza tahu, dirinya tak berhak melakukan hal itu. Hanya
selembar tissu yang yang kini mengarah ke hadapan gadis itu.
"Sepertinya
Tante Mykaila tahu jika saat fitting baju, banyak gadis yang akan menangis
bahagia.” Reza berusaha bersikap garing.
Sejujurnya ada
sesuatu juga yang berhasil mengiris-iris kulitnya sep
anjang deraian
air yang mengalir di pipi Aira.
Gadis itu
menengadah. “Siapa yang menangis bahagia?” lirihnya dalam hati sambil meraih
tissu dan mengusap wajah.
“Makasih.”
“Jangan
menangis lagi, ya? Jika kamu menangis, ada seseorang yang juga akan ikut
menangis.” Reza menarik napas sejenak, “tersenyumlah, karena jika kamu
tersenyum, banyak orang yang akan bahagia. Termasuk saya.”
Aira tergugu.
Betapa istimewanya lelaki itu, tapi ia hanya bisa mengikhlaskan, siapapun kelak
yang akan bahagia hidup bersamanya.
Sekali lagi
Aira memberanikan diri mencuri pandang menatap Reza yang justru membuang
pandangan ke arah lain. Gurat ketampanannya begitu memancar, membius
penglihatan Aira. Ia benar-benar tertegun akan Maha Karya Allah yang nyaris
sempurna itu.
“Astaghfirullah
....”
Diantara
pikiran yang tengah membalut jiwanya, terdengar sebuah suara yang membuat Aira
seperti lupa cara bernapas.
“Ibu?”
Wanita itu
berjalan mendekati Aira. Dengan penuh tanya ia menoleh ke arah lelaki yang
berdiri di samping anaknya. Reza membungkukkan tubuh, memberi hormat pada
wanita yang sangat ia harap bisa menjadi mertuanya itu, dahulu.
"Kamu
teman kerjanya Aira?" tanya Ibunda Aira dengan sorot mata tajam.
"Bukan,
Bu. Saya Reza, saya ayahnya teman Abi, cucu ibu."
"Owh yang
rapotnya ketuker itu, ya?"
Reza mengulum
senyuman. "Benar, Bu.”
"Seminggu
lagi Aira akan menikah. Kalau ada luangan waktu, datanglah bersama
keluarga."
Reza bergeming
sejenak, melebarkan dada untuk sesuatu yang begitu memerlukan keikhlasan.
"Insya Allah, Bu."
"Yasudah,
Ayo kita pulang Ra. Tidak baik seorang gadis yang hendak menikah bersama lelaki
lain di tempat umum," ucap sang ibu sembari menarik tangan anak gadisnya.
Reza terhenyak.
Perkataan ibunda Aira seakan menampar kuat angan-angan yang pernah ia
bangun."Selamanya kamu hanya sebatas harapan. Mencintaimu seperti mendaki
gunung tanpa puncak. Sekuat apapun usahaku, tetap takkan membuahkan hasil. Aku
akan menjauh darimu, Aira. Semoga ini adalah cara terbaik membunuh rindu yang
tak bertuan?"
***
"Janjiku,
setelah ini aku tidak akan pernah lagi menemuimu, sengaja atau tidak. Jika
janji itu telanggar, maka aku bersedia mengiris tangan sebagai bukti, bahwa aku
bersungguh akan melupakanmu."
*HUMAIRAH*
_Part_8_
*"Pernikahan Yang Tak Diinginkan"*
Bila HambaKu
bertanya kepadamu tentang Aku, maka Aku adalah dekat ...’ (Al Baqarah,186)
Reza menatap
sebuah undangan berwarna keemasan yang tergeletak di atas meja. Matanya sibuk
memperhatikan lengkung-lengkung huruf yang dituliskan dengan tinta warna hitam.
Jemari tangan terus saja menutar-mutar sebuah bolpoin.
Seorang wanita
yang tak lain adalah kakak kandungnya melintas di balik pintu. Langkahnya
terhenti saat melihat adik semata wayangnya itu duduk sembari termenung. Elsa
masuk untuk menghampiri.
"Eh, ada
duda patah hati rupanya?" Sang kakak mencoba menggoda. Reza bergeming.
Hatinya tengah bergemuruh hebat, kehadiran sang kakak malah membuat gemuruh itu
semakin menjadi badai.
"Siapa
yang patah hati? Nggak ada ah." Reza membantah guyonan sang kakak.
"Itu,
duduk melamun ngelihatin undangan pernikahan, apa lagi kalau bukan patah hati
namanya?"
"Ck. Ini
namanya merenung."
"Ih,
membantah. Udah, buruan samperin. Terakhir kali lho, tar nyesel!" ucap
Elsa seolah tahu perasaan adiknya.
Wanita itu
bahkan sudah bisa membaca perasaan cinta sang adik pada gadis bernama Aira,
sejak pertama kali bertemu.
Reza merenung
sejenak, otaknya terus berputar sambil mencerna situasi dan perasaan hati. Tak
lama, iapun bangkit. Membuka laci dan mengambil sebuah kotak yang sudah
terbungkus indah.
"Makasih
ya, Kak," ucap Reza pada wanita di hadapannya.
"Hu um.
Sukses yah! Hihihi ...." sahut Elsa sembari berusaha menutupi senyuman.
Kini lelaki itu
sudah dibalik kemudi. Tekadnya untuk menemui Aira terakhir kali sudah bulat, ia
akan menyerahkan sesuatu yang sudah lama ada padanya, dan bahkan mungkin
Airapun sudah tak mengharapkannya lagi.
***
Hanif tengah
disibukkan oleh beberapa perias pengantin yang sedang mencoba memakaikan
beberapa aksesoris di tubuhnya.
Acara akad
nikah hari itu memang akan diadakan di rumah Aira, setelahnya dilanjutkan
resepsi yang akan dihelat di ballroom sebuah hotel mewah di Kota Tangerang.
Sebuah pesan
whatshapp masuk ke ponselnya. Ia mencoba membuka pesan tersebut. Dari semalam
tak terhitung berapa banyak pesan yang masuk untuk sekadar mengucapkan selamat.
Namun, kali ini
melihat layar ponsel persegi di hadapannya itu, mata elang Hanif membelalak.
Deraian kebahagiaan menghujam tubuhnya.
[Barakallahulakuma
Wabaraka ‘Alaikuma Wajam’a Bainakuma Fi Khair. Selamat menempuh hidup baru Mas
Hanif, semoga SAMARA]
Hanif
mengucek-ngucek kelopak matanya, tak yakin dengan apa yang ia baca barusan. Ia
memang sempat menghubungi gadis itu kemarin, menyampaikan perihal penerimaan
lamaran kerja sekaligus mengundang pada pesta pernikahannya.
Namun pesannya
tak ditanggapi. Kenapa hari ini tiba-tiba rendah hatinya mengirimi pesan?
[Terima kasih.
Kehadiranmu sangat diharapkan] balas Hanif.
[Maaf. Jangan
terlalu berharap]
Hanif tak
menyangka gadis itu mengirim whatshapp balasan yang ... membuat ingatannya
terlempar pada empat tahun silam. Ia mengembus napas kasar. “Salahkah aku
meloloskan lamaran pekerjaannya kemarin?” lirihnya.
Muna mencari
pekerjaan, berarti sangat membutuhkan. Itulah yang sekilas tergambar di benak
lelaki berjambang tipis itu. Dan tentu ia harus mengutamakan seseorang yang ia
kenal, terlebih yang pernah begitu berarti, dahulu.
Tapi kenyataan
bakalan setiap hari berhadapan dengannya, membuat hati Hanif mulai goyah.
"Akankah aku bisa menjaga cinta untuk Aira?"
Hanif
menggeleng-gelengkan kepala, wajah Muna seakan menari-nari di dalam benak.
Sejujurnya ia ingin mengakhiri berkirim pesan itu, namun sisi lain hatinya
berkata jangan. Sekurang-kurangnya ada kata penutup, supaya tidak terkesan
sombong.
[Yasudah] balas
Hanif.
Lelaki itu
menatap sejenak layar ponselnya, namun notif yang nampak dilayar 'Muna sedang
mengetik balasan'. Hanif urung menutup ponselnya dan menanti balasan wa sang
gadis.
[Saya akan
hadir, sebagai ucapan terima kasih telah menerima lamaran pekerjaan saya tempo
hari] ditambah emoticon senyum.
Kedua sudut
bibir Hanif terangkat. Entah kenapa kebahagiaan seperti berlipat ganda memenuhi
dadanya. Benarkah kebahagiaa
n itu tersebab
mampu membaca aura cemburu Muna akan pernikahannya dengan Aira?
***
Humaira masih
bergeming di depan kaca. Bayangan dirinya yang telah berbalut kebaya putih
nampak begitu anggun di pandangan. Hijabnya yang berwarna putih dibiarkan
menjuntai di bagian depan dada. Terlihat sangat memukau dengan tambahan flower
crown berwarna silver.
Namun, siapa
sangka jika wajah bak bidadari itu, tak menyiratkan kebahagiaan layaknya
gadis-gadis lain di hari pernikahan mereka.
Siapapun yang
menatapnya, tentu akan menemukan kehampaan dari sorot mata yang kuyu.
Pernikahan ini
buatnya ibarat membangun istana di atas pasir. Setiap waktu bisa saja ombak
kandaskan kekokohannya. Begitu pula dengan hati Aira, teramat mudah
diombang-ambing, lantaran pegangan yang ia gunakan tak sekuat karang.
Sepanjang
malam, Aira tak bisa tidur. Ia terus memikirkan dan berusaha menemukan cara
untuk menghapus bayangan Reza. Namun, semakin kuat usahanya, justru rasa sakit
itu semakin kentara.
Aira terhenyak,
ia menyadari pintu kamarnya yang tak tertutup rapat perlahan terbuka. Sementara
diluar, riuh suasana masih begitu terasa.
Nampaknya belum
ada arahan tentang sampainya rombongan pengantin pria.
Aira menatap
sosok yang kini berdiri di depan pintu kamar. "Kak Hanna?" Wanita yang
terpaut umur dengannya tiga tahun itu berjalan mendekat. Ia baru tiba dari
Kuala Lumpur tadi malam.
"Kamu
manglingi, Ra?" puji sang Kakak," makasih ya, selama ini kamu udah
jagain Abi?"
Aira mengangguk
kemudian memilih menundukkan wajah. Menyadari sikap Aira yang tak biasa, sang
kakak meraih jemari tangan adiknya seraya berkata,"kamu kenapa?"
"Kak?"
Suara Aira terdengar serak, berusaha mencegah air matanya yang hendak berderai.
Sang kakak kebingungan. Namun sedikit banyak bisa merasakan apa yang tengah
melanda adik semata wayangnya itu.
"Kamu,
nggak menginginkan pernikahan ini?"
Aira tak
menjawab, ia hanya memejamkan mata sambil kembali menunduk.
"Astaghfirullah, Sayang... Kakak nggak tahu apa masalahnya. Tapi seorang
wanita harus berbahagia dihari pernikahan mereka. Sebab menikah bagaimanapun,
harusnya sekali seumur hidup, jangan seperti pernikahan Kakak."
Aira
menengadah.
“Kamu mencintai
Hanif ‘kan?”
Aira masih
bergeming.
“Yang Kakak
dengar dari Ibu selama ini, kamu menolak lamaran banyak lelaki demi Hanif?”
Aira menelan
saliva. Memang benar yang diucapkan Hanna. Tapi itu sebelum ia mengenal Reza.
Hanna menarik
napas. "Ra, pernikahan itu adalah janji suci, yang diikrarkan di hadapan
Allah. Bukan suatu hal untuk dicoba-coba. Maka sebelum proses pernikahan
berlangsung, Islam menganjurkan calon pengantin untuk taaruf. Mengenal satu
sama lain. Agar setelah menikah tidak ada kata menyesal. Kamu sama Hanifkan
sudah saling kenal, tapi kenapa yang Kakak tangkap, kamu tak menginginkan
pernikahan ini?”
Hanna mencoba
membaca perasaan adiknya lewat tatapan mata. Namun, tak menemukan sesuatu yang
pasti, karena Aira sedikitpun tak mau membuka suara untuk menceritakan
perasaannya.
“Sering kali
seorang pengantin dibuat kacau pikirannya, terutama di hari pernikahan. Karena
jin tidak suka melihat dua insan bersatu dalam ikatan suci yang diridhai Allah.
Ingat ini Ra, menikah itu tujuannya
untuk menggenapkan separuh agama. Hilangkan semua yang mengusik pikiranmu.
Yakin bahwa Allah akan membahagiakan setiap hambanya yang mau melaksanakan
salah satu Sunnah Rasul ini.” Hanna mengangkat wajah Aira yang tertunduk,
“apalagi yang akan menikahimu itu, lelaki seperti Hanif. Shaleh, lembut,
penyayang dan setia. Kamu nggak akan menyesal, Ra. Insya Allah kakak dan Ibu
yakin, rumah tanggamu pasti bahagia."
Wanita itu
membelai lembut pipi Aira. "Tersenyumlah, jangan membuat calon imammu
bersedih hati melihat permaisuri hatinya merengut seperti ini."
Hanna mencoba
membua Aira tersenyum kembali. Hal itu memang berhasil, namun tentu saja senyum
yang dipaksakan. Sekadar pencitraan. Sebab bagi gadis itu, tak mudah menghapus
cinta yang terlanjur tertanam kuat.
"Ohya Ra,
kakak mau ngasih titipan ini ke kamu, dari seorang lelaki namanya Reza."
Hanna menyodorkan sebuah kotak dengan pit
a merah muda
terlilit di bagian atasnya.
Aira
tercengang."Jadi Mas Reza kemari?" lirihnya sambil meraih benda itu
dari tangan Hanna.
"Jangan
dibuka sekarang, Ra. Sebentar lagi Hanif dan keluarganya sampai,
jadi fokuskan diri dulu ke acara sacral nanti. Jangan lupa terus berzikir dan
bershalawat, mintalah pada Allah agar pernikahan ini menjadi yang pertama dan
terakhir dalam hidupmu," ucap Hanna yang sedetik kemudian melangkah
meninggalkan ruangan itu.
Aira segera
bangkit, tanpa lama berpikir. Ia berusaha sekuat tenaga menyibak tirai putih
berenda yang menutupi seluruh dinding kamarnya.
Apa yang
dikatakan Hanna memang menembus gendang telinga Aira, namun yang berbisik di
hati lebih kuat mengubah kata nuraninya.
Tak lagi ia
pikirkan bagaimana keadaan hijabnya yang tertarik saat ia meraih gagang jendela
kamar dan memaksanya untuk terbuka.
Disana ...
sepuluh meter di hadapannya, ia menemukan sosok itu, punggung yang lebar dan
gagah itu hendak melangkah meninggalkan rumah yang di penuhi bunga. Tapi, selangkah
hendak melewati pagar, sosok itu berhenti.
Aira merasakan
tubuhnya bergetar, degup jantungnya semakin terasa, dan selalu seperti itu jika
ia berdekatan dengannya. Lelaki itu ... lelaki yang selalu hadir dalam doanya.
Ia berbalik, tak perlu lama, pandangannya langsung tertuju pada Aira.
"Aku tak
tahu jika rasanya akan sesakit ini, Mas?" lirih Aira pelan.
Ingin ia
mendekati lelaki itu dan memintanya untuk tetap tinggal. Tapi bagaimana
caranya?
Aira terus
memperhatikan sosok itu yang tak lama terlihat mengusap pipinya. Aira tahu
bahwa lelaki itu menangis. Hal yang sama yang tengah dilakukannya saat itu.
Tangisnya luruh
berderai, menganak sungai membasahi pipi. Sejenak, ia memejamkan mata, mencoba
memahami dan mengikhlaskan keadaan. Namun, semakin ia mencoba, rasa sakit itu
semakin berdegup dalam dada.
"Andai
bisa memilih, aku ingin pergi bersamamu'
Perlahan,
kelopak mata Aira terbuka. Ia tak lagi mendapati Reza di hadapannya. Lelaki itu
telah pergi.
Kini dalam
kamar pengantin yang penuh bunga, Aira menyadari ada sesuatu yang membuatnya
begitu sakit. Ia tahu, bahwa dirinya akan menjalani hari esok dengan rasa ini
di dada.
*HUMAIRAH*
_Part_9_
*"Rasa Yang Mulai Memudar"*
"Sekuat
apapun menyangkal, Hanif tetaplah yang telah menyuntingku menjadi istri. Ialah
tempat kutujukan segala pengabdian, yang harus kujaga perasaannya. Aku harus
marah atau kecewa, saat malam pertama kami, imamku terus bertadarus, hingga
akupun tertidur tak menghiraukannya."
Aira terduduk
lemas di atas ranjang pengantin. Sesegukan sembari menyeka airmata dengan
sehelai tissu. Bayangan kepergian Reza terus berputar di memori kepala.
Seakan diketuk
martil berkali-kali, begitulah yang gadis itu rasa di sebelah kiri kepalanya.
Terlebih dengan segala yang bertahta di tempat
terhormat itu. Ingin rasanya ia melepas pakaian dan merebahkan diri di atas
kasur. Tapi tentu tak mungkin ia lakukan, sebab di luar terdengar kabar bahwa
Hanif dan keluarga telah sampai.
Dalam duduknya,
Aira menyadari, seseorang datang membuka pintu. Namun dirinya tetap tak ingin
berpaling, sembari terus menatap cermin.
"Aira,
Hanif sudah sampai. Sebentar lagi proses ijab qabulnya segera dimulai. Nanti
jika sudah saatnya, ibu akan menjemputmu." Ibunda Aira berbicara di depan
pintu, tak melangkah.
"Baik,
Bu," jawab Aira sebisa mungkin menutupi suaranya yang sedikit berubah
serak.
Gadis itu menarik napas panjang, mulutnya
mulai berzikir diselingi shalawat, seperti yang dipesankan Hanna. Selang
beberapa menit, Aira dengan jelas dapat mendengar Hanif mengijab qabul namanya
dengan lantang, dalam sekali helaan napas. Semua mengucap alhamdulillah,
kecuali ... dirinya.
"Astaghfirullah
...." Aira bergumam pelan.
Harusnya ia
bersyukur, bukan menyesali takdir? Bukankah segala yang terjadi dalam hidup
adalah rahmat?
Aira mengelus
dada perlahan, "berilah kelapangan hati bagi hamba-Mu ini ya Allah
...."Gadis itu menitikkan airmata saat kedua tangannya menyapu wajah.
Tak ada yang
lebih menyakitkan yang ia rasa, dari mencintai namun tak bisa memiliki.
Hari itu, Aira
benar-benar terguncang, cinta seakan membuatnya terlupa, bahwa sangat besar
peluang kehilangan jika kita menyerahkan cinta yang demikian besar untuk sesama
makhluk.
Bahkan,
kebersamaan dengan makhluk yang dicintai sekalipun berpeluang mengalami perpisahan.
Begitu pula perasaan ingin memiliki, bukan kewajiban Allah menjadikan dua orang
yang saling mencintai untuk memiliki. Namun, qadarullah makhluk ciptaannya,
hanya Allah jua yang tahu mana yang terbaik.
Meyakinkan diri
bahwa setiap cobaan yang diberikan kepada manusia, tak lain hanya ingin
meningkatkan derajat di sisinya, adalah jalan menuju kebahagiaan. Insya Allah.
Memang berat,
tapi inilah hidup, bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Kini Aira berusaha
memendam kenyataan pahit cintanya sekuat tenaga. Ia berharap, kerelaan hatinya
ini akan berbuah manis. Yakni kebahagiaan bersama Hanif.
Perlahan Aira
mengingsut air mata yang menetas. Membiarkan ibundanya menggandeng tangan
menuju ruang ijab qabul. Di sana, lelaki tampan mengenakan beskap berwarna
putih tampak tersenyum menyambut kedatangan sang istri. Yaitu, dirinya.
Aira menatap
sekilas wajah Hanif, yang tengah menyalami para tamu undangan di gedung resepsi
mereka. Betapapun lelaki itu sangat menawan, tetap saja yang terbesit di
jiwanya adalah wajah lelaki lain. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepala,
berusaha menghapus copyan wajah Reza yang kadung terpatri di benak.
Sinar mata
gadis itu meredup, hubungan antara keputusasaan dan kecewa yang terpendam.
Sebaliknya
Hanif tampak berbinar-binar. Senyumnya merekah menyambut para tamu yang datang
menyalami silih berganti.
Aira mulai
tampak jengah, ia ingin acara itu segera usai. Harapnya bisa segera merebahkan
tubuh di atas ranjang, melepas segala lelah juga pikiran yang memenuhi kepala.
Gedung luas
yang seluruhnya hampir ditutupi bunga Lily itupun tak mampu membuat Aira merasa
ingin berlama-lama memandang. Sebab, gadis itu tak butuh kemegahan. Ia hanya
butuh tempat bersandar, dan tentu hanya punggung Hanif tempat yang telah ia
pilih.
Namun,
tampaknya lelaki itu terlalu bahagia hingga melupakan sang istri yang sedari
tadi berdiri mematung di sisinya.
'Lupa atau
melupak
an diri?'Aira
mulai sebal.
Hanif menoleh
ke arah Aira yang mulai mengibas-ngibaskan tangannya. "Capek, ya?"
ucapnya sambil tersenyum. Aira hanya cemberut.
"Sebentar
lagi, ya?" Lelaki itu menggenggam jemari Aira sejenak, berusaha
mengalirkan sedikit kekuatan agar tetap bersabar. Hanya hitungan detik, sebelum
kemudian melepas kembali jemari lentik itu untuk menyambut tangkupan tangan
seorang wanita cantik.
"Selamat
ya, Mas?" ucap wanita itu lembut.
Sebuah suara
yang membuat Aira seperti tersentil. Mendadak ia menoleh, mencari tahu pemilik
suara lembut yang kini tengah menyalami suaminya.
"Terima
kasih ... Humaira, ini Ustadzah Muna. Dia salah satu guru yang akan mengajar di
pesantren. Juga akan membantu kita mengurus di asrama." Hanif mengenalkan
wanita di hadapannya pada Aira yang tampak berdecak kagum.
"Cantik
sekali?" gumamnya dalam hati.
Aira menjabat
tangan wanita itu, "selamat ya Mbak, semoga Jannah hingga ke syurga."
Gadis itu tersenyum sembari menyalami tangan Aira.
"Amiinn
...," sahut Hanif dengan binar bahagia. Aira memandangi suaminya yang
menatap wanita itu intens. Tatapan yang bahkan tak pernah ia dapati dari awal
mereka bertemu.
Seperti ada
yang mendesir di dada, namun tertutupi karena kekalutan yang tengah melanda
jiwa gadis itu.
Nampaknya, Aira
memang tak ingin peduli, pun di jiwanya masih terus menari-nari bayangan lelaki
lain. Meski jujur melihat sang suami bersama wanita itu, Aira yakin satu hal,
sepertinya diantara mereka, pernah terjadi sesuatu dahulu. Namun, ia berharap
ini hanya sekedar penilaian luar saja, sebab hati sedang tak menentu. Hingga
apapun yang ia lihat, pasti hanya akan menambah-nambah daftar kesengsaraan.
Sore menjelang,
para tamu perlahan meninggalkan gedung hotel satu persatu. Gedung mewah yang
masih terlihat segar dengan bunga hidup
itupun kini mulai tampak sepi.
Setelah
berpamitan pada keluarga, Hanif memandu Aira memasuki kamar pengantin mereka di
hotel itu. Sebuah kamar yang di desain khusus olehnya. Indah, terutama ranjang
pengantin yang penuh taburan mawar merah. Sangat kontras dengan aksesoris lain
di sekeliling yang tampak putih bersih.
Hanif
mendudukkan Aira di atas ranjang, "kamu suka?"
Aira
mengangguk. Bagaimanapun, gugup tetap mendera, sebab ini adalah kali pertamanya
ia sedekat itu dengan seorang lelaki. Namun besar keinginannya agar bisa
melalui malam itu tanpa ada kegiatan berarti. Setidaknya sampai perasaan cintanya
buat Hanif hadir, meski sebesar kerikil.
"Mas, mau
bersihkan diri dulu, ya? Habis itu, kita shalat berjamaah." Ragu, namun
Hanif memberanikan diri mendaratkan kecupan di kening sang istri, membuat gadis
itu gugup hingga menundukkan wajah. Cukup lama Hanif melepas kecupannya. Ada
rasa rindu yang berpadu terlepas lewat sentuhan itu.
Hanif lalu
melepas tangan yang berada di kedua pundak Aira, sembari mengurai kecupan.
Kemudian ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri tanpa berkata
apapun. Terasa begitu hambar.
Sementara Aira
masih bergeming di bibir ranjang. Matanya tiba-tiba mengembun, buliran bening
kembali memenuhi pelupuk mata.
"Andai
semua perlakuan ini dari Mas Reza, pasti penuh canda...," desahnya diikuti
guyuran air di kedua pipi.
Aira melirik
ranjang pengantinnya. "Tempat tidur ini, malam ini, sungguh indah, dan
amat indah jika dilalui oleh dua pasang insan yang saling mencintai karena
Allah. Ampuni hamba-Mu ini ya Allah, yang belum sepenuhnya ikhlas."
Aira memejamkan
mata, ingatan akan Reza seakan membuat dadanya tercabik-cabik.
Pintu kamar
mandi terbuka. Aira segera menyeka sisa-sisa air mata yang berlinang di wajah.
Rasa ini, biarlah dirinya saja yang tahu. Tak perlu bercerita kepada siapapun,
apalagi kepada Hanif.
Aira memperbaiki
posisi duduknya yang hampir roboh. Sementara Hanif keluar dari kamar mandi
dengan pakaian yang sudah rapi. Sepertinya ia berusaha keras menghindari
kecanggungan jika saja tadi ia memaksa keluar dengan memakai handuk.
"Sbersamaegarkanlah
dirimu di dalam sana. Supaya kelelahan yang menggelayuti badan, luruh deraian air," ucap Hanif setelah
memperhatikan wajah istrinya ya
ng kelihatan
murung.
Aira buru-buru
bangkit, mengikuti titah suami tanpa membantah. Jikalau bisa, ia justru ingin
berlama-lama di dalam sana. Supaya terhindar dari segala hal yang bisa membuat
air matanya kembali berderai.
Hampir setengah
jam, gadis itu di kamar mandi. Membuat Hanif yang menungguinya merasa khawatir,
hingga ia beranikan diri untuk memanggil.
"Humaira
...?"
"Sebentar,
Mas," jawab Aira dengan suara serak. Ternyata di kamar mandipun, ia masih
menyempatkan diri untuk menangis.
Setelah memakai
kembali jilbab, akhirnya gadis itu keluar dengan wajah menunduk, berusaha
menutupi mata yang kentara sembab.
"Ehm
...."Hanif mencoba mencairkan suasana. Jujur ia ingin bertanya, kenapa
masih pakai hijab, sementara mereka sudah sah secara agama. Tapi melihat
dirinya sendiri yang juga masih sama lengkapnya, hal itu jadi urung dilakukan.
"Yuk kita
shalat," ucapnya sambil berjalan mendahului Aira.
‘Beginikah
perlakuannya? Ah, bukankah ini yang aku harapkan?’
*
Usai shalat
bersama, Hanif membalikkan badan, memberi kesempatan pada sang istri untuk
menyalaminya. Dengan takzim Aira memenuhi kewajiban, mencium telapak tangan
suami meski masih dalam keadaan menunduk.
Canggung dan
gugup, ruangan itu diliputi dua hal yang sulit diredam.
"Mau
istirahat terus atau tadarus dulu?" tanya Hanif sedikit menundukkan
kepala, agar bisa mejangkau pandangan
sang istri.
Jika saja tak
memberi pilihan tadarus, sudah pasti Aira memilih istirahat. Kepalanya yang
berat serta mata yang perih, meminta untuk segera direbahkan di ranjang.
"Aira,
bacakan artinya saja ya, Mas?" ucap gadis itu sedikit menengadah.
Hanif tersenyum
hangat. Detik kemudian ia membuka sebuah mushaf dan mulai melantunkan ayat
pertama surat An-Nisak dengan irama salah satu Qari asal Mekkah, 'Misyari
Rasyid'
Subhanallah,
Aira terenyuh mendengar merdunya suara sang suami. Hal itu berhasil membuat
jiwanya yang berguncang sedikit lebih tenang.
Hanif berhenti
diakhir ayat, giliran Aira yang membacakan terjemahannya.
"Wahai
Manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang
satu (Adam), Dan Allah menciptakan pasangannya (Hawa) dari dirinya. Dan Dari keduanya
Allah menperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak ...." suara
Aira tiba-tiba tercekat, netra gadis itu mulai berkaca-kaca.
Perlahan, air
mata yang sudah memenuhi pelupuk mata luruh membasahi pipi. Hanif terhenyak,
segera lelaki itu menggerakkan tangannya untuk menyeka air mata sang istri.
"Hei,
kenapa menangis?"
Aira
menggeleng, tak mampu menjawab. Hanya isakan yang mewakili seluruh perasaannya.
"Yasudah,
jangan diteruskan. Istirahat di sini saja, ya?"Hanif menepuk kakinya yang
masih terlipat.
Aira hanya
mengangguk, meski terasa aneh tapi ia turuti permintaan Hanif. Jauh dilubuk
hatinya, ada rasa yang semakin tersakiti.
"Maafkan
Aira, Mas. Aira tahu kewajiban seorang istri itu apa, tapi Aira tak ingin
melakukan apapun malam ini. Aira hanya ingin mengubur bingkai wajah yang begitu
membekas di ingatan. Hingga tak ada celah seraut itu menodai baktiku
padamu." Batin Aira menjerit kuat. Tapi, sekuat apapun jeritannya, tentu
harus ia saja yang bisa mendengar.
Perlahan,
matanya yang begitu lelah terasa amat berat. Suara Hanif yang merdu, cengkokan
yang mengalun indah, membius mata dan pendengaran Aira.
Sedikit-sedikit
gadis itu mulai meninggalkan alam sadarnya menuju alam bawah sadar yang begitu
nyata. Bertemu dengan lelaki impian dan menari bersama dalan kepedihan.
Usai menbacakan
cerita untuk Abhi, Reza merebahkan tubuh
di sebelah jagoannya itu. Ingatannya masih saja dipenuhi akan sosok
Aira. Ingin ia membanting kepala, berharap amnesia hingga melupakan gadis itu.
Tapi apa daya, bocah kecil di sisinya, menuntut agar ia terus sadar menemani
hidup sepanjang umur.
"Pa, Mama
kenapa nggak pernah jengukin aku?" Abhi bertanya sebelum matanya tertutup
satu jam lalu.
Reza menelan
saliva, bingung harus bagaimana menanggapi pertanyaan itu.
"Mama udah
nikah lagi ya Pa, sama orang lain?"
Reza tersentak,
"darimana kamu tahu? Siapa yang ngajari kamu ngomong be
gitu?"tanya
Reza sedikit keras.
"Bunda
Elsa."
Reza berdecak
sebal. "Anak-anak segini umur, ngapain jujur sih, Kak?"
"Pa,
kenapa Papa nggak nikah lagi aja? Abi kepingin punya Mama?"
Netra Reza kini
benar-benar membulat sempurna. "Siapa lagi yang ngajari kamu ngomong
begini? Bunda Elsa?"
"Hihihi
... Iya Pa? Ayo Pa, kasihin Abi Mama baru, ya?" rengeknya sambil
menggoyang-goyangkan tubuh tegap sang Papa.
Reza mendesah
pasrah. "Kamu serius mau Mama baru?"
Anak kecil itu
mengangguk kengirangan.
"Papa
janji akan memenuhi keinginan kamu itu, tapi satu syarat. Kamu harus dapat
juara, minimal juara tiga? Gimana?"
"Benaran
Pa?"
"Iya, Papa
janji."
"Abi juga
janji Pa, bakal rajin belajar. Tapi Papa nggak boleh mengingkarinya, ya?"
"Iya,
sayang." Reza mengecup puncak kepala Abhi.
Kedua jari
kelingking mereka saling bertaut. Sebuah janji yang menjadi bongkahan batu
besar di hati Reza. Bagaimana jika Abhi bisa memenuhi janjinya? Kemana ia harus
mencari wanita yang bisa menjadi Mama untuk anak itu.
Perlahan Reza
bangkit, menyisir jalan menuju kamar mandi. Hanya pada-Nya, tempat mengadu.
Reza sadar, selama ini ibadahnya bukan saja tak sempurna, namun jauh dari
kesempurnaan. Ia bertekad, akan memperbaiki diri. Bukankah Allah maha penerima
taubat. Ia datang, membawa segenap kerendahan diri.
Berharap Allah
membuka jalan terbaik untuknya. Juga untuk buah hatinya.
*
Sementara itu,
Aira tersentak dari lelapnya tidur. Perlahan kelopak mata gadis itu terangkat.
Wangi mawar menguar ke indera penciumannya. Lembut dan romantis, ternyata ia
baru sadar bahwa tubuhnya telah terbaring di kasur pengantinnya bersama Hanif.
Ia bahkan tak
sadar kapan Hanif mengangkat tubuhnya ke atas ranjang. Sementara di sana, hanya
berjarak tiga meter dari tempat ia terbaring, Hanif masih duduk di atas sajadah
sembari melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran.
Aira menarik
napas sembari menutup kembali mata. Rasa perih belum sempurna menghilang. Suara
Hanif, membuat kalbunya terbuai. Seakan kegundahannya sedikit terobati kembali.
Gadis itu
benar-benar tak ingin bangkit, seakan terlupa jika malam itu adalah malam
pengantinnya. Perlahan, dua bola matanya kembali terpejam, kini dalam waktu
yang lebih lama dari semula. Hingga fajar tiba.
*HUMAIRAH*
_Part_10_
*"Semua, Masa Lalu"*
"Mas
Hanif?" Aira memicingkan mata menatap pantulan cahaya yang menerpa seraut
wajah khas ketimuran, hidung mancung, dengan bulu-bulu halus memenuhi pinggiran
dagu hingga menyentuh bagian bawah telinga. Manik kecoklatan itu menatap lembut
ke arahnya sembari tersenyum.
"Tidurmu
nyenyak sekali, jika bukan karena azan subuh berkumandang, Mas tak tega
membangunkan," ucap Hanif sambil mengelus lembut pipi Aira, membuat gadis
itu segera bangkit dari tidur dan menyibak selimut tebal yang menutupi sebagian
tubuh.
Hanif
mendekatkan posisi duduknya sejengkal. Hingga tangannya dapat dengan leluasa
menyentuh rambut sang istri yang tergerai.
Aira dapat merasakan
bagaimana lengan kekar itu secara perlahan mengenai rambutnya, hingga menyentuh
bahu. Rasanya memang mendebarkan, namun mengapa hatinya begitu menolak
perlakuan tersebut.
"Ya Tuhan,
aku tak menginginkan berada pada keadaan ini ...." Aira membatin gelisah.
Jemari tangan kanannya ia gerakkan untuk membawa rambut poninya ke belakang
telinga. Seolah ada yang ganjil. Ternyata ia baru sadar, bahwa sebelum tidur,
kepalanya masih tertutup mukena.
Pikiran Aira
seketika dirasuki notif negatif, saat ia tahu bahwa mukena itu tak lagi
membalut kepalanya.
Segera Aira
menundukkan pandangan, memastikan kelengkapan pakaian yang dikenakan. Siapa
tahu semalam ia dan Hanif melakukan hal-hal aneh tanpa disadari. Ah, tapi itu
tak mungkin terjadi. Sebab ia kenal betul bagaimana sifat Hanif selama ini. Tak
mungkin Hanif melakukan sesuatu tanpa minta ijin terlebih dahulu.
"Ehm,
Maaf, tadi Mas yang buka mukenanya, karena Mas lihat kamu kelihatan gerah saat
tidur," ucap Hanif seakan dapat membaca keresahan sang istri.
Aira menarik
napas panjang, merasa bodoh dengan pikiran ngawurnya barusan. "Owh, nggih
Mas, nggak papa ... emm, ma-maaf Mas, Aira kesiangan bangunnya."
Aira jadi salah
tingkah, juga merasa berdosa. Ia berniat akan meminta maaf pada Hanif, karena
telah mencurigai lelaki itu melakukan hal-hal yang semestinya memang dilakukan
oleh sepasang suami istri di malam pertama.
"Rata-rata
pengantin baru pasti terlambat bangun ...."Hanif menggantungkan ucapannya,
"bisa karena terlalu capek mengikuti resepsi, bisa juga karena kegiatan
lain."
Deg!
Aira menunduk,
ia tahu tidur sepanjang malam di malam pengantin memang suatu hal yang salah.
Terlebih tidur tanpa memastikan keadaan pasangan. Tapi mau bagaimana lagi, ia
benar-benar belum siap. Daripada berhubungan, tapi yang nampak di mata lelaki
lain, bukankah lebih baik tidak sekalian. Pikirnya.
"Mas,
maaf, Aira ...." Suaranya bergetar, ia tak mampu meneruskan ucapan. Hanya gerimis kecil yang tampak mulai
membasahi pipi.
Hanif
terkesiap, tangannya ia gerakkan untuk menengadahkan wajah sang istri. Hendak
memastikan apakah benar gadisnya lagi-lagi menitikkan air mata. "Kenapa
menangis lagi? Mas salah bicara ,ya?"
Aira masih
menunduk, meski wajahnya telah disejajarkan dengan wajah Hanif
"Aira
minta maaf sudah mengabaikan Mas Hanif ...."
"Ya Allah
istriku Humaira ... Mas nggak bermaksud menyalahkanmu, justru Mas lah yang
salah, terlalu asyik bertadarus. Maafkan Mas, jangan nangis lagi, ya?" Hanif membawa Aira dalam
dekapannya. Akhirnya kekakuan diantara mereka sedikit mencair. Lelaki itu
memberanikan diri mencium pucuk kepala sang istri.
Aira
menanggapinya dengan rasa perih yang menjalari sekujur tubuh. ‘Dekapan dan
ciuman yang tulus ini, kenapa masih saja membawa jiwaku berlari ke tempat
lain?’
Menyakitkan
sekali rasa itu. Aira merasa hatinya benar-benar rapuh. Akankah selamanya
begini. Apa yang harus aku lakukan? Apakah berpura-pura baik adalah penawar
atas keputusannya yang salah?
‘Ya Allah ...
cukuplah aku saja yang tersakiti dengan rasa ini, sampai kapanpun Mas Hanif tak
boleh tahu. Lelaki ini ... ia tak bersalah. Semua adalah salahku?’
Setelah
beberapa menit menumpahkan bendungan yang memenuhi matanya, perlahan Aira mulai
tenang. Tak ada lagi air mata, hanya isakan yang kentara. Hanif mengurai
pelukan.
Meski di dalam
dada terasa ada yang mengganjal. Tak mungkin jika tangisan yang
begitu pilu ini
hanya karena tertidur di malam pertama, pasti ada hal lain yang seakan Hanif
bisa membacanya.
"Jika
kelamaan pelukannya, nanti bisa terlambat bertamu pada Allah. Mas wudhu duluan,
ya?" ucap Hanif setelah mengelus pipi Aira.
Gadis itu
mengangguk sambil memperbaiki rambutnya yang berantakan. Ia paksakan untuk
tersenyum, membalas senyuman indah lelaki tampan yang sudah menjadi imamnya
kini.
Sejurus
kemudian, Hanif berlalu ke kamar mandi.
Di dalam ruang
tertutup itu, perlahan, langkahnya mendekati cermin besar yang terpajang di
samping bathup. Ia menatap wajahnya yang nampak kusam tak bercahaya.
"Saya
tahu, kita merasakan hal yang sama Humaira. Astaghfirullah ... tak pernah
terlintas akan terasa seperti ini. Harusnya memang tak bertemu, jika memang
syaitan menjadi penggoda. Hufht ... bahkan, duduk zikir sepanjang malampun tak
sepenuhnya jadi penawar."
*
Usai shalat,
Hanif mengajak Aira ke balkon. Menatap indahnya sunrise berpadu dengan
pemandangan kota yang masih lenggang dari kendaraan.
Cuaca dingin
membuat Aira mengetatkan jaket yang ia kenakan. Keduanya masih nampak kaku,
meski berdiri berjajar dan menatap satu titik yang sama. Namun, tak ada
omongan, hanya embusan napas yang bergerak merambat.
"Pemandangannya
bagus." Hanif akhirnya membuka percakapan.
Aira tersenyum,
"Iya. Mas."
"Kamu
ngerasa nggak, kita jadi seperti baru kenal?"
Aira menoleh.
"Perasaan Mas Hanif aja kali,"jawab Aira sekenanya.
Mendengar
jawaban ngasal Aira, Hanif ikut menoleh.
Satu detik, dua
detik bertahan tanpa berkedip. Seolah ada magnet, Hanif seperti tertarik
mendekati Aira. Tatapan mata Hanif kini beralih ke bibir, bibir tipis ranum
kepunyaan istrinya.
Hanif sedikit
membungkuk untuk mencapai permukaan yang tampak mengkilat karena polesan listip
tipis itu.
Awalnya Aira
ingin menghindar, namun sebelah tangan Hanif telah melingkari pinggangnya.
Teettt ....!
Keduanya
tersentak kaget. Hampir saja kedua bibir itu bertemu, sebelum akhirnya bel
kamar berbunyi.
Hanif tersenyum
kikuk. Sementara Aira, hanya menundukkan pandangan, menutupi penyangkalannya
atas apa yang hampir saja terjadi.
Keduanya masih
tak beranjak, ingin melupakan apa yang baru saja menjadi pengganggu. Detik
kemudian, bel kembali berbunyi.
“Aira buka
pintunya dulu, Mas? Gadis itu memilih masuk ke dalam untuk membuka pintu kamar
yang sudah beberapa kali dipencet itu.
*
Seorang bellboy
tampak bertengger di depan kamar, ia mendorong sebuah meja yang penuh dengan
makanan dengan berbagai variasi.
Aira masih
tercengang dengan hantaran sarapan yang lebih cocok dimakan beramai-ramai itu.
"Ini
semua, Mas yang pesan?"
"Iya.
Tolong diletakkan di sana ya, Mang." Hanif menunjuk ruangan yang sedikit
lapang di dekat kaca.
Meski sedikit
terkejut, tapi Aira menyukai semua ini. "Romantis." Satu kata yang
sedikit membuat hatinya bak dipercik air kebahagiaan. Ia tersenyum manis
sembari mengikuti langkah Hanif. Keduanyapun begitu menikmati sarapan pertama
mereka sambil diiringi alunan musik Qasidah dari grup Nasyid favorit Hanif.
***
"Humaira,
pagi ini kita langsung berangkat ke Kediri, ya. Soalnya, nanti malam diadakan
rapat pertama penerimaan santri baru di pesantren," ucap Hanif setelah
keduanya selesai menyantap sarapan mereka.
"Langsung
berangkat hari ini, Mas?"
"Iya, Mas
rasa bulan madu bisa kita perpanjang di sana." Hanif mengelap mulut dengan
selembar kain. "Kamu nggak keberatan 'kan?"
"Ehm
...." Ucapan Hanif disambut gugup oleh Aira. Gadis itu berusaha menelan
ludah mendengar kata bulan madu terucap dari bibir sang suami. Kenyataan, ia
memang mencintai Reza, namun ia pula tak membenci Hanif.
Bukankah sebelum Reza, Haniflah yang ia harap
menjadi tempatnya melabuhkan cinta?
"Kamu
masih mau kita di sini?"
"Emm ...
itu, ng-nggak Mas, Aira ikut saja gimana kata Mas Hanif. Bukankah sekarang Mas
kepala keluarga, jadi Mas berhak untuk mengatur." Aira bersunggut-sunggut
menjawab pertanyaan Hanif. Meski sejujurnya, ada banyak pertanyaan yang ingin
diajukannya saat itu.
"Kamu juga
memiliki hak untuk mengatur, karena rumah tangga kan dibangun o
leh dua
individu yang berbeda."
"Iya, Mas.
Sebenarnya banyak yang mau Aira tanyakan." Aira menelisik wajah Hanif.
"Kamu mau
nanya apa, pelan-pelan aja. Mas nggak akan kabur kok?" candanya sambil
terkekeh.
Aira tersenyum
ragu. "Apa setelah hari ini, kita akan menetap selamanya di Kediri?"
Hanif
menghentikan kegiatannya. Tangan kanan Hanif berusaha mengelus jemari Aira yang
masih terlipat di atas meja. "Iya, atau kamu mau Mas mengubah rencana
itu?"
"Ng-nggak
Mas, Aira nggak keberatan kok."
"Alhamdulillah
... kalau gitu sekarang gantian Mas yang minta sesuatu sama kamu."
Aira menatap
tajam manik kecoklatan yang juga mengarah padanya. "Apa, Mas?"
"Mas mau
kamu berhenti bekerja. Jadilah seorang istri yang hanya mengurusi Mas dan rumah
tangga kita. Tapi, nanti Mas janji akan ajukan kamu sebagai kepala klinik di
Pesantren. Meski tak sepenuhnya bisa menjadi seorang bidan, tapi setidaknya
masih bisa membantu yang sakit dan membutuhkan?"
Aira mengembuskan
napas perlahan, terasa sakit di dada. Entah itu karena keputusan Hanif agar
mereka menetap di Kediri, atau karena ia harus memutuskan untuk membatasi
keahliannya. Aira bergeming.
"Humaira
... kamu keberatan?"
"Nggak
Mas. Nggih," jawabnya singkat.
Aira kembali
mencuri pandang Hanif yang tengah menyesapi kopinya. Meski tak sekarang, namun
ia yakin, pasti suatu saat cintanya untuk lelaki ini akan tumbuh kembali.
Betapa tidak,
segala kelembutan yang Hanif miliki, keshalehahnya, kasih sayang, mengingatkan
Aira pada sosok ayahnya yang telah tiada.
Barangkali
hanya butuh kesabaran. Bukankah batu saja pipih jika terus kejatuhan air.
Apalagi hatinya.
Detik kini
berjalan tak selambat kemarin. Semua sebab rasa ikhlas mulai hinggap di sudut
kalbunya. Tentu, rasa ikhlas yang 'kan mengantarnya menuju rumah tangga yang
bahagia.
*
Reza tampak
rapi dalam balutan kemeja batik bercorak Mete Hijau. Lelaki itu menyisir rambut
tebalnya ke samping, sembari memberikan sedikit pomade water based agar
terkesan mengkilap dan basah alami.
Pagi ini
pikirannya lebih tenang, semalaman ia melakukan sesuatu yang tak pernah ia
lakukan seumur hidup. Menghabiskan malamnya dengan shalat dan zikir. Rasanya
lebih menyenangkan daripada tidur semalaman tapi saat bangun justru merasa
kantuk lagi.
"Bismillah."
Reza mengganti kata-kata penyemangat paginya. Dahulu, setiap kali bercermin, ia
selalu mengatakan pada dirinya, 'nikmati hidup'.
Lagi-lagi ia
tersenyum pada pantulan bayangannya sendiri. Memang ada bagian yang masih terasa
sakit, disudut paling kecil hati. Tapi ia berjanji akan segera mencari
penawarnya.
*
Sebelum
berangkat kerja, Reza menyempatkan diri mencicipi nasi goreng buatan sang kakak
terlebih dahulu. Sejujurnya bukan tersebab rasanya yang enak, karena jelas Kak
Elsa tak jago masak. Ia hanya tak ingin mendapat siraman rohani pagi-pagi jika
menolak sarapan yang sudah disiapkan.
"Pagi,
Sayang." Reza mengecup puncak kepala Abhi yang sudah terlebih dahulu
menyantap sarapannya. Ia melirik ke dapur, Elsa tampak masih menggoreng
sesuatu. Mungkin saja wanita itu sedang menggoreng udang kriuk untuk dibawa
Abhi ke sekolahnya.
"Pa, hari
ini hari apa?" tanya Abhi saat papanya sudah duduk di kursi makan. Anak
kecil itu terlihat begitu bahagia, binar matanya menyiratkan sesuatu sedang
begitu dinanti-nanti.
"Hari
kamis," jawab Reza datar. Ia mulai menyendoki nasi ke dalam mulut.
"Emm, tapi
tanggal berapa, Pa?"
"Sepuluh
November 'kan ya? Emang kenapa, Sayang, pagi-pagi nanya tanggal? Ada acara di
sekolah?" tanya Reza sembari menyentikkan jari telunjuknya ke hidung sang
anak.
Abhi semakin
antusias, diiringi senyuman yang merekah, ia lalu melempar lagi pertanyaan buat
sang Papa, "Pa, ingat nggak, sepuluh November itu hari apa?"
"Emm ...
hari pahlawan,” jawab Reza sambil menunjukkan ekspresi penasaran.
"Selain
hari pahlawan, yang Papa ingat hari ini hari apa?"
Reza
mengernyitkan dahi, mencoba mempraktekkan perintah sang anak,
'mengingat-ingat', lalu ia tertawa. "Hari Papa beli mobil, hari kamu di
sunat, hari ...."
Bermaksud
membercandai sang anak. Namun Abhi malah bereaksi lain. Anak i
tu membanting
sendok ke piring lalu belari keluar tanpa pamitan.
Elsa yang baru
sampai dari dapur ikut terperangah, tak menyangka sebegitu cepat perubahan mood
sang ponaan.
"Abhi,
nggak salam Papa dulu, Sayang?" teriak Elsa meski ia tahu anak itu telah
berlalu pergi. Ia lalu menatap Reza yang tak kalah bingung dengan perubahan
sikap anaknya.
"Kamu
melupakan sesuatu?" tanya Elsa.
"Sepertinya
nggak?"
"Anak
kecil itu marah kalau bukan karena capek dan lapar, ya karena ada sesuatu yang
kita lupakan."
Reza mencoba mengingat-ingat sesuatu yang
penting yang pernah diucapkannya pada Abhi.
"Ya Allah, hari ini ulang tahunnya
Abhi!"
"Pantesan
aja dia ngambek. Kamu sih kebanyakan mikirin Humaira!"
"Mbak
...."
"Mbak yang
antar Abhi, ya?" potong Elsa.
"Biar aku
aja, Mbak!" Reza mengakhiri sarapannya. Ia berniat meminta maaf pada sang
anak karena telah melupakan hari paling ditunggu-tunggu bocah itu.
"Za
...."teriak Elsa.
"Apa lagi,
Mbak?" Reza berhenti melangkah dan menoleh ke arah Elsa yang memilih duduk
di salah satu kursi makan.
"Sini
bentar deh!"
"Apaan
sih, aku telat ini?"
Elsa bangkit,
berjalan mendekati Reza dan menempelkan sesuatu di dadanya.
Reza meraih
kertas persegi yang menempel di dadanya, sebelum benda itu terjatuh ke lantai.
"Namanya
Raudhatul Muna. Lulusan UIN Sunan Gunung Djati. Sekarang menjadi salah satu
pengajar di ponpres Kediri."
"Terus?"
"Sabtu
ini, kita ke Kediri. Bertemu orangnya."
Reza menatap
sekali lagi foto di tangannya.
"Udah,
cantik itu orangnya. Agamanyapun oke!"
"Bukan itu
Mbak? Emang dia mau sama duda?"
"Za,
lelaki itu tidak meninggalkan bekas, sekalipun dia duda sepuluh perempuan. Beda
sama wanita!" Elsa berlalu pergi, meninggalkan Reza yang tampak kebingungan.
Ia berpikir sejenak, lalu mentatap kembali foto gadis yang bernama Raudhatul
Muna itu.
Lama ia
memandang, namun kenapa sebingkai wajah oval dengan mata sayu itu berubah
menjadi sosok yang lain.
'Humaira?'
*HUMAIRAH*
_Part_11_
*"Aku cemburu"*
Perjalanan yang
hampir memakan waktu seharian itu tak terasa melelahkan bagi Humaira. Hanif,
sang suami, terus saja mengajak Aira berbicara masa lalu mereka, hingga bisa
sampai ke tahapan sekarang.
Hanif juga
terus menceritakan tentang keadaan pesantren. Gadis itu sangat bersyukur,
sedikit banyak ia mulai memahami tentang situasi pondok, yang sama sekali tak
pernah dirasakannya sejak kecil hingga dewasa.
Aira juga baru
tahu bahwa Hanif sang suami masih saudara dekat dengan KH. Ahmad Dahlan, pimpinan
pesantren Darul Falah, tempat dimana mereka akan menetap kini di Desa Paru,
Kediri.
Tepat pukul
lima sore, mobil memasuki pekarangan pesantren yang cukup luas. Aira terlihat
begitu berapi-api, matanya celingak-celinguk menatap jejeran bangunan yang bergaya
arsitektur modern itu. Dari kejauhan, sebuah bangunan memanjang dengan jendela
kaca tampak di bagian tengah, Hanif mengatakan itu adalah kantor induk.
Di dua sisi
berbeda, ada dua bangunan yang merupakan ruang belajar. Sementara asrama
terletak di belakang gedung. Di bagian kiri asrama santriwan, dan di sebelah
kanan asrama santriwati. Pesantren itu juga dilengkapi dengan sebuah mesjid
besar, yang mampu menampung bahkan hingga ratusan orang di dalamnya.
Hanif terus
menjalankan mobil mengitari halaman depan kantor dan berhenti di sebuah
bangunan yang terletak di sisi kanan asrama putri. Sebuah rumah yang
dikelilingi taman bunga kecil. Aira yakin, ini adalah rumah pimpinannya.
Hanif turun dan
mengajak Aira masuk. Jujur, Aira suka tempat ini. Tapi ia tak dapat menutupi
rasa gugup yang tiba-tiba mendera. Bertemu dengan orang-orang baru, biasanya ia
bertemu dengan sesama teman sejawat atau pasien juga keluarganya. Disini, ia
tidak menemukan hal itu. Justru sepanjang perjalanan, ia hanya mendapati para santri
yang berbusana cukup sopan dan tertutup.
Meski ragu,
genggaman tangan Hanif cukup membuatnya merasa nyaman dan berani melangkah.
"Kita
masuk ke rumah Kiai Dahlan dulu, ya?" ucap Hanif pada Aira.
Gadis itu hanya
mengangguk dan ikut saja kemana kaki sang suami melangkah. Tampak dua orang
santri berlalu di hadapan mereka sambil tersenyum. Aira membalas tersenyum ke
arah santri itu, yang tampaknya baru saja keluar dari rumah Kiai.
"Assalamualaikum
...."
Salam Hanif
dijawab serempak oleh seluruh penghuni rumah. Ramai, Aira bahkan tak mengira
jika kedatangan mereka sudah dinanti-nanti. Seorang wanita bergamis besar juga
berniqab menyambut kedatangan mereka dengan hangat.
"Saya Bu
Nyai Badriah, panggil saja saya Umi, seperti panggilan Hanif untuk saya. Semoga
kamu betah tinggal di asrama ini ya, Anakku," ucapnya pada Aira.
Airapun
menyambut uluran tangan itu dengan salam hangat diiringi senyuman. Sementara
itu Hanif tampak membaurkan dirinya dengan beberapa lelaki berjubah besar di
ruangan yang berbeda.
Bu Nyai Bad
menuntun Aira untuk berkenalan dengan beberapa ustadzah yang ada di ruangan
tengah. Tampak pula ditempat itu ustadzah Muna, yang kemarin sempat dikenalkan
Hanif padanya.
Lagi-lagi, Aira
terpesona pada penampilan gadis ayu itu. Ia tampak sangat anggun dalam balutan
gamis hitam yang dipadukan dengan hijab lebar yang terulur menutupi setengah
tubuhnya. Aira melirik dirinya, dia memang mengenakan gamis dan hijab, tapi
jika dibandingkan dengan ustadzah Muna atau ustadzah-ustadzah lain, dirinya masih
tidak ada apa-apanya. Sangat jauh dari kata syari.
Tiba-tiba
hatinya bergetar, merasa begitu ingin berhijrah diri menjadi lebih baik.
Terutama dalam hal berpakaian.
"Njenengan
masih ingat sama saya,'kan?" sapa Muna setelah berada di dekat Aira.
Aira sedikit
kaget, karena sedari tadi dirinya sibuk menata hati, "masih."
"Alhamdulillah.
Kalau butuh bantuan, jangan sungkan bilang ke saya. Insya Allah saya siap
membantun jenengan," ucap Muna kemudian.
Aira
mengangguk. "Terima kasih."
Hampir satu jam
mereka di rumah itu, dan tanpa disadari Aira terus saja secara diam-diam
memandangi Muna. Mulai dari cara berbicara hingga tersenyum, Aira benar-benar
menyukai kepribadiannya. Gadis itu tersenyum sendiri, baru kali ini ia be
rtemu seorang
perempuan yang jika dipandang begitu menyejukkan.
Selintas
pikirannya dibawa melantur, "kira-kira, sudah ada yang punya belum ya? Uh,
pantesnya sih yang seperti Mas Hanif ...," gumamnya.
Tak berapa
lama, Hanif malah menghampiri dan mengajak Aira untuk berpamitan.
Di luar, warna
langit semakin jingga, awan yang terang itupun beralih menjadi temaram.
Sebelum
meninggalkan rumah Kiai, menuju rumah
mereka yang terletak di sebelahnya, Muna memanggil Hanif dan memberikan
selembar kertas. Entah apalagi yang mereka bicarakan hingga membutuhkan waktu
lebih lima menit buat Aira menanti di teras rumah.
Dari jarak
beberapa meter, masih jelas tertangkap oleh penglihatan Aira, bagaimana sikap
Hanif ketika berhadapan dengan gadis itu. Ia benar-benar kelihatan canggung.
Padahal hanya
diberikan selembar kertas.
Tanpa sadar,
Aira merasa sesuatu membuat hatinya terasa ngilu. Aira menggeleng, mungkinkah
ia?
Hanif masih di
kamar mandi, saat Aira telah selesai memasukkan beberapa pakaian ke dalam
lemari. Rumah dengan dua kamar, satu ruang tamu, dan dapur ini, meski tak
terlalu luas namun sangat nyaman untuk di tempati.
Hanya perlu
mengganti tirai penutup jendela, menambahkan lukisan, serta bunga-bunga, rumah
ini akan kelihatan sangat indah. Pikirnya.
Suara gemericik
air kran terhenti saat gadis itu selesai mengeluarkan pakaian dari koper.
"Maaf Mas,
ini pakaiannya sudah Aira siapkan. Aira keluar saja," ucap Aira sambil
menatap sekilas tubuh Hanif yang hanya ditutupi handuk sebatas lutut.
Hanif hanya
tersenyum, tak mengiyakan juga tak melarang. Sementara Aira, kakinya terus
melangkah keluar meski sejujurnya ada yang aneh terasa di dasar hatinya.
Di balik
pintu, Aira menarik dan meghembuskan
napas kasar. Ia memilih duduk di sofa putih yang terletak di ruang tamu.
Tak lama Hanif
keluar dari kamar. Lelaki itu sudah rapi dengan sarung hitam dan koko putih,
sebuah kopiah hitam membuatnya terlihat sangat menawan."Mau ikut shalat
berjamaah?"
Ucapan Hanif
mengangetkan Aira, dan membuyarkan duduk melamunnya. Gadis itu terkesima
melihat sang suami amat berkharisma.
"Aira
shalatnya dirumah aja Mas. Belum mandi
soalnya."
"Yasudah,
jika kamu mengantuk, tidur saja duluan. Nggak usah nunggu Mas, takut rapatnya
terlambat selesai," ucap Hanif seraya mendekati Aira. Dikecupnya kening
sang istri sekilas. Aira tak menolak, tanpa sadar ia mulai menikmati tiap kali
bibir itu menyentuh keningnya. Seperti ada sesuatu yang membuat dadanya
berdesir.
Aira memilih
untuk mengantar Hanif sampai depan pintu.
Alih-alih
nunggu waktu azan berkumandang, gadis itu malah merebahkan tubuhnya di atas
kasur. Lembut bantal juga harum aroma mawar yang menguar dari selimut tebal di
pipinya, membuat kelopak mata Aira perlahan tertutup. Hanya semenit, gadis itu
telah meninggalkan alam sadarnya.
*
Aira tersentak
dari tidurnya, entah berapa lama ia sudah tertidur. Ia bahkan tak menyadari
kapan Hanif pulang dan merebahkan diri di sisinya.
"Ah,
ceroboh sekali. sudah dua kali aku ketiduran. Jadi nggak bisa nungguin Mas
Hanif pulang!" Aira bergumam kesal. "Tapi bukannya malah bagus, jadi
nggak harus melakukan sesuatu yang belum ingin dilakukan." Sisi hatinya
yang lain ikut mengacaukan pikiran. Ia lirik sekilas jam yang tergantung di
dinding kamar.
"Masih
pukul dua dini hari."
Aira bergegas
bangkit, teringat akan shalat isya yang belum tertunaikan, sekaligus shalat
tahajud. Perlahan ia bergerak tanpa membuat sang suami terbangun.
Setengah jam
kemudian ia kelar melaksanakan kewajibannya. Gadis itu masih merasakan bola
matanya berat dan minta untuk dipejamkan kembali. Dengan perlahan Aira kembali
tidur di sisi Hanif.
Namun sebelum
ia kembali menutup mata, ada ingin yang menyusup di sudut hati untuk memandang
wajah kekasih yang tengah tertidur pulas.
"Tampan
sekali Mas Hanif, andai Aira tak pernah mengenal Mas Reza?" ucapnya lirih.
Gadis itu
menggerakkan tangan hendak mengelus rambut Hanif yang bergelombang. Namun
lelaki itu menggeliat. Spontan Aira seperti kesetrum listrik, ia segera
merebahkan kembali tubuhnya di atas bantal.
Dalam tidu
r yang
pura-pura itu, Aira membuka sedikit kelopak mata, ingin tahu apa yang akan
dilakukan Hanif malam-malam begini.
Lelaki itu
bangkit, menoleh ke arah Aira. Gadis itu segera mengeratkan penglihatan, tak
ingin Hanif tahu ia sedang terjaga.
Sebuah kecupan
mengenai kening Aira, terasa hangat menjalari sekujur tubuh. Aira masih menanti
apalagi yang akan dilakukan Hanif selanjutnya. Tapi, ia justru mendapati
langkah-langkah yang semakin menjauh. Aira memberanikan diri membuka mata.
"Hufht ...
pasti Mas Hanif mau tahajjud di
mesjid." Aira membatin sambil menutup kembali matanya.
*
Pagi kedua,
Aira bangun tiga puluh menit sebelum azan subuh berkumandang. Ia melirik ke
samping, namun tak menemukan sang suami di tempat itu.
"Mungkinkah
Mas Hanif tak pulang semalam?" Batin Aira mulai diliputi rasa cemas.
Tak berapa
lama, Hanif mengetuk pintu kamar. "Assalamualaikum ...?" ucapnya
sambil melangkah masuk. Wajahnya yang putih tampak berseri-seri.
"Waalaikum
salam, Mas Hanif dari mana subuh-subuh begini?"Aira tersentak kaget dan
sedikit kecewa. Secepat-cepatnya ia bangun, Hanif malah selalu mendahului.
"Mas habis
dari mushalla, shalat tahajud sekalian murajaah. Kamu cepat bangunnya, padahal
tadi Mas rencana mau bangunin?"
Aira tersipu
malu. "Bukan seharusnya Aira yang bangunin Mas Hanif?" jawabnya ragu.
"Santai
aja, jika Mas yang duluan bangun, maka udah jadi kewajiban Mas buat bangunin
kamu. Sekarang mau ngapain?"
"Nyiapin
sarapan dulu, sambil nunggu azan, Mas?"
"Mas
bantu, ya?"
"Emm,
nggak usah Mas. Aira sendiri aja. Mas di kamar aja, rebahan bentar."
"Kok
dikamar? Mas tunggu di ruang makan, ya?"
Aira menghela
napas. Tak seharusnya juga ia melarang Hanif membantu, bukankah semua istri di
dunia ini paling suka dibantu suaminya?
"Yaudah,
boleh Mas."
Hanif mengekori
langkah Aira ke dapur, seperti anak kecil yang minta dibuatkan nasi goreng.
Lelaki itu terlihat begitu canggung untuk jalan bersebelahan dengan istrinya.
Sesampai di
dapur, Aira segera mengambil wajan yang sebelumnya sudah ia perhatikan dengan
baik letaknya.
Sementara di atas
kursi makan, Hanif melirik Aira yang tampak sibuk mengaduk-aduk nasi goreng.
Angannya dibawa berlari ke beberapa tahun silam. Saat itu ia pernah
membayangkan, bisa menikmati sepiring nasi goreng buatan Muna.
"Astaghfirullah
...."
Lelaki itu
segera mengusap wajahnya. Pikiran itu masuk tanpa bisa dielak. Ia bangkit,
dipikirannya hanya ada satu jalan untuk membuang jauh pikiran yang dikelabui
setan, yaitu berwudhu.
"Mas mau
kemana?" tanya Aira ketika menyadari kursi duduk Hanif bergerak.
"Mas ke
kamar mandi dulu," jawabnya singkat.
Aira mendesah
panjang. Kecewa iya, tapi kesal akan sikapnya juga iya. Gadis itu tak paham apa
yang diingin hatinya. “Harusnya kamu jangan pergi, Mas. Temani Aira masak,
meski hanya duduk dan diam.”
*
Nasi di piring
Hanif habis tak bersisa. Lelaki itu bahkan menjilati jemari tangannya seperti
sunnah Rasulullah. Aira tersenyum, tak pernah ia mendapati lelaki seperti
Hanif. Baru setelah Hanif menjelaskan panjang lebar tentang suri tauladan
Baginda Nabi, Aira mengulum senyuman.
Duduk menikmati
sarapan bersama, sejenak membuat Aira melupakan segala kesedihan. Hanif, selain
menyandang status suami, juga ustaz yang sangat Aira butuhkan untuk menambah
pengetahuannya tentang agama.
Perlahan tapi
pasti, sikap yang lelaki itu berikan, pasti akan mampu mengetuk sisi hati Aira
yang penuh akan sosok lelaki lain.
Setelah
berbincang-bincang sejenak, Aira berniat untuk membersihkan meja makan, namun
Hanif menarik lengan gadis itu.
"Ada apa
Mas?"
"Em ...ada
yang ingin Mas sampaikan."
Aira kembali
duduk. "Mas mau ngomong apa?"
"Em ....”
Hanif nampak memutar-mutar bola matanya, “pagi ini Mas mendapat tugas keluar
kota selama satu minggu. Tapi, Mas tak bisa membawamu, karena disana Mas
menginap di hotel bersama beberapa orang lainnya dari seluruh Indonesia. Semua
dipilih untuk mengikuti pelatihan 'Managerial Pimpinan Pondok Pesantren'.
Humaira, apa kamu keberatan jika Mas pergi?"
Meski ragu,
Hanf memberanikan dri berterus terang. Ia menatap penuh
harap pada
manik kecoklatan sang istri. Bagaimanapun ini adalah tanggung jawabnya sebagai
kepala pesantren.
Namun mengingat
pernikahan mereka yang bahkan bulan madu saja belum terlewati, rasanya sangat
tak wajar meninggalkan Humaira seorang diri ditempat yang begitu asing buatnya.
Aira bergeming
sejenak. "Mas pergilah. Aira nggak masalah tinggal sendirian, lagipula ada
Bu Nyai Bad, jika butuh sesuatu nanti Aira sampaikan pada beliau."
Hanif sedikit
mendongak, meyakinkan diri bahwa tak ada raut keterpaksaan yang terpancar dari
wajah istrinya. Disaat bersama-sama, Aira mencoba untuk tersenyum, menutupi
rasa perih yang tiba-tiba hinggap di dadanya.
"Alhamdulillah
... jika bosan, temuilah Muna. Dia bisa kamu jadikan teman bicara. Nanti Mas
juga akan menyampaikan padanya, agar selama Mas di luar kota ia bisa menemanimu
tidur."
Aira spontan
menggerakkan kedua tangannya. "Tidak usah Mas, Aira tidak apa-apa tidur
sendirian ...."
"Kamu
yakin?"
"I-iya."
Sejujurnya,
Aira memang butuh seorang teman yang
menemani tidurnya, apalagi ia baru satu hari menempati rumah itu. Tapi ... ia
tak ingin Hanif menemui gadis itu khusus untuk meminta menemani Aira tidur.
"Kamu
kenapa?" tanya Hanif melihat Aira menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Nggak ada
apa-apa, Mas?"
"Kalau
gitu, bantuin Mas masukin baju ke koper, ya?"
Aira
mengangguk. Sedikit kaget saat Hanif meraih jemari Aira dan bergandengan tangan
memasuki kamar.
Gadis itu
menoleh, menatap sosok tegap suaminya dari samping. 'Bagaimana nasibku tanpa
kamu, Mas Hanif? Baru menikah sudah ditinggal, rasanya Aira pengen pulang ke
rumah Ibu?' jerit batin Aira.
*HUMAIRAH*
_Part_12_
*"Takdir itu Pasti"*
"Buatku,
cukup seperti ini. Duduk di sebelahmu tanpa berbicara, membuat rindu yang
sehasta ini berderai. Andai waktu lupa cara bergerak?"" Reza.
Aira menatap
kartu persegi mengkilat yang ada di tangannya. Goresan tinta hitam di lembaran
lain berwarna putih cukup membuat kelopak mata gadis itu terasa berat dan
sedikit panas, 'Setelah mengembalikan ini, tidak ada alasan lagi bagi kita
untuk bertemu.'
Ia mengerjap
berkali-kali, "perasaan ini, kenapa masih saja sama?" gerutunya
dengan rasa perih yang hampir memenuhi rongga dada. Semakin terasa menyesakkan
menerima sikap Hanif padanya dua hari ini, setelah lelaki itu berada di luar
kota.
Aira merasa
dirinya tak dipedulikan, untung saja kehadiran Muna cukup membuatnya merasa
nyaman. Terlebih Bu Nyai Bad, yang tidak pernah absen menanyakan kabar, seperti
menerima titah dokter dalam mengkonsumsi obat. Tiga kali sehari, tak pernah
kurang. Aira merasa seakan mendapat pengganti sang ibu di tempat itu. Tapi
Hanif, mengapa bahkan jika Aira tak menelpon, lelaki itu tak ingat untuk
memberi kabar? Ia bersikap seolah mereka belum menikah, atau lebih tepatnya
seperti tahun-tahun yang lalu, saat Hanif masih di Mesir.
"Apa Hanif
tak mengingatku? Atau sesibuk itukah hingga tak sempat memberi kabar?"
Aira mendesah
panjang, kesal dengan inginnya yang datang disaat tidak tepat.
Jika bukan
karena Tahu dan Takwa Bah Kacung sudah memenuhi kepala, Aira tak ingin menelpon
Hanif duluan.
Menunggu meski
sampai mata terpejampun tak apa, sebab ia ingin tahu seberapa kehadirannya
berarti bagi lelaki yang sudah menjadi imamnya itu.
Beberapa kali
gadis itu memencet nomor Hanif, bermaksud meminta ijin ke kota. Namun satu
kalipun panggilannya tak ada jawaban.
Aira memilih
untuk mengirim pesan via whatsapp.
[Assalamualaikum,
Mas. Aira mau minta ijin keluar pondok, mau ke kota membeli Tahu Takwa,
bolehkan Mas?]
Segera ia kirim
pesan itu. Lima menit menanti, room chat masih tertulis kata on line. Ia
urungkan sejenak, menanti hingga ada kabar balasan.
Tak lama,
ponselnya pun berdering. Aira segera meraih benda pipih itu, kemudian menggeser
layar hijau panggilan.
[Assalamualaikum,
Mas Hanif]
[Waalaikum
salam. Maaf Humaira, tadi Mas sedang di ruangan pelatihan. Ini Mas sudah di
luar. Kamu mau ke kota? Apa nggak sebaiknya nunggu Mas pulang?]
Aira memejamkan
matanya, ‘orang udah kepingin masih disuruh menunggu.’
[Aira kepingin
sekali, Mas. Sudah dua hari ditahan.
Hari ini sudah tak tahan lagi?]
[Hahaha ...]
Tawa Hanif pecah di seberang sana.
[Emm ... maaf
istriku. Sebenarnya boleh aja, tapi mau pergi sama siapa? Mas khawatir kamu
tersesat?]
[Aira 'kan
bukan anak kecil lagi, Mas. Nanti Aira tanya-tanya deh?]
[Tetap jangan,
ajak Muna aja. Mas telpon dia, ya?]
[Nggak
usah, Mas. Aira bisa sendiri. Percaya
sama Aira, ya?]
Hanif terdiam
sejenak, membuat Aira ragu untuk meneruskan keinginannya. Namun, tak berapa
lama ...
[Ya sudah,
pesan taksi aja, ya? Biar aman. Langsung sebutkan mau kemana, biar nggak
muter-muter.]
[Iya, Mas]
[Humaira ...
maaf ya, Mas nggak bisa menemani?]
Aira menarik
napas panjang, ada rasa sakit mendengar permintaan maaf Hanif padanya.
[Iya Mas, nggak
papa.]
Aira mematikan
ponselnya. Rasa perih semakin memenuhi dada. Ia alihkan pandangan sejenak
keluar melalui celah jendela, langit biru yang dihiasi kupulan awan putih,
terlihat seperti boneka salju yang begitu menggemaskan. Matanya mulai berkaca.
Sejenak ia
berpikir, sejatinya menikah itu membahagiakan. Namun, jika menikah terus
memikirkan bahagia, tentu kita akan menjadi gila. Juga apabila terus memikirkan
penderitaan, kita akan menjadi seorang pesakit. Sebaiknya, ya seimbangkan jalan
pikir.
Bahagia itu
terwujud dari kerja keras dan berlapang dada.
Jannati Huna wa jannati fii qolbi. Bukankah surga itu ada dihati saya?
Aira menyeka
air matanya yang luruh. Entah untuk apa ia menangis, yang ia tahu, stok air
matanya banyak. Setiap saat, kapan saja siap berderai jika diminta.
Setelah meminta
ijin pada Bu Nyai Bad, akhirnya Aira keluar dari gerbang pondok. Beberap
a kali Muna
menawarkan diri untuk menemani. Namun Aira menolak, mengingat satu jam kedepan,
gadis itu akan mengajar di kelas 1 Tsanawiyah.
Beberapa meter
berjalan kaki, sampailah Aira di sebuah halte. Di tempat itu tidak hanya
dirinya yang menunggu angkutan jurusan kota, beberapa wanita yang kelihatannya
sudah lama menanti juga tampak memenuhi tempat tunggu bis tersebut.
Aira
memberanikan diri bertanya, tentang bis atau sejenis taksi-walau ia sedikit ragu-.
Salah seorang wanita mengatakan bahwa sebentar lagi bis tujuan kota akan
sampai, tapi seperti biasa, selalu penuh.
Wanita itu juga
berpesan, agar Aira tak menunggu orang lain mendahuluinya, jika tidak ingin ke
kota sambil berdiri.
Aira tersenyum,
baru pertama kali ke kota tahu kuning itu, sudah aja bertemu orang seperti
wanita yang tadi berbicara padanya.
Sepuluh menit
berselang, sebuah bis akhirnya berhenti di halte itu. Semua saling mendorong
agar dapat masuk duluan. Aira tak berani menerobos, karena yang mendahuluinya
berbadan lebih besar juga sedikit kasar.
"Ah,
berdiripun jadi, yang penting sampai." Gadis itu lebih memilih menunggu
yang lain masuk, baru setelahnya melangkah perlahan.
Beruntung ada
satu deretan kursi yang masih kosong, deretan sebelum kursi memanjang dibagian
belakang. Sambil tersenyum dan mengucap syukur, Aira menelusuri koridor bis
yang sedikit sempit.
"Sudah
siap semua?" tanya supir bis itu pada seluruh penumpang.
"Sepertinya
ini akan jadi perjalanan yang menyenangkan."Aira bergumam bahagia.
"Tunggu!"
Teriak seseorang dari luar bis. Kendaraan panjang yang sudah siap berangkat
itupun seketika menekan rem. Semua terhunyung ke depan karena rem dadakan yang
dilakukan sang supir.
Beberapa
penumpang terdengar mengoceh kesal karena penumpang baru itu. Aira bergeming
sambil mencari tahu pemilik suara yang sedikit menggetarkan kalbunya.
"Masih ada
tempat, Pak?"
"Sampeyan
naik saja dulu, lihat sendiri." Supir bis itu menimpali.
Aira sedikit
mendongak, sudah pasti penumpang baru itu duduk di sampingnya. Kerena hanya
tempat duduk di sebelah Aira yang tersisa. Sedetik kemudian, matanya membulat
sempurna.
“Allah, inikah
yang namanya jodoh? Lalu apa arti pernikahan kemarin?”
Aira tak pernah
menyangka jika yang ia lihat saat itu adalah ...
“Mas Reza?”
Sejenak tatapan mereka saling bertemu.
“Tuhan,
berdosakah aku jika berharap waktu berhenti di detik ini?” batin Aira. Ia
segera menundukkan pandangan. Gelisah dan merasa berdosa.
Tapi ia tak
dapat menutupi kebahagiaan yang muncul karena bisa kembali melihat lelaki itu.
Lelaki yang masih saja ia dengungkan dalam doanya.
Sementara Reza,
lelaki itu tampak bingung. Harus meneruskan langkah, atau membalikkan badan
menunggu bis lainnya.
"Ayo
masuk, ini bis terakhir." Supir bis memberitahu pada Reza.
Setelah lama
melempar pandang, akhirnya dengan pasrah Reza berjalan gontai menuju tempat
duduk yang tersisa.
Sementara Aira,
dengan sekuat tenaga ia mengatur detak jantung yang terlanjur berdegup kencang.
Sesaat lagi, mereka akan duduk bersisian. ‘Apa yang harus dibicarakan? Diam
saja atau bagaimana? Allah, selamatkanlah diri ini dari sikap yang salah?’
batin gadis itu kembali berbisik.
Setelah
pertemuan terakhir yang menguras air mata di hari pernikahan, keduanya sepakat
memang tidak berharap untuk kembali bertemu. Tapi hari ini?
‘Ada apa dengan
hari ini ya Allah?’
"Maaf,
pasti saya akan mengganggu perjalananmu?" ucap Reza dingin.
Aira melirik
sekilas. Posisi mereka kini sudah saling bersisian. "Tidak masalah, Mas.
Inikan kendaraan umum."
Gadis itu
menggigit bibirnya perlahan. Ibarat kata mati tidak akan menyesal, luka tidak
akan menyiuk. Ia tidak boleh menyesali kepergiannya hari ini. Dirinya hanya
harus meyakini bahwa tidak ada suatu kejadianpun dibumi Allah yang berjalan
tanpa ketentuan-Nya.
Sedikit
menggeser, Aira berusaha agar duduknya tak bersentuhan dengan Reza. Dengan
wajah terunduk, ia berulang kali menghela napas panjang.
"Kenapa
ada disini?" ucap Aira akhirnya berusaha mencairkan kekakuan di antara
mereka.
"Ada
keperluan," jawab Reza singkat.
"Em ...
ATM-nya, terima kasih, ya?
"
"Ya."
‘Kenapa hanya
ya, tidakkah ada hal lain yang ingin engkau sampaikan? Atau, kamu sudah
melupakanku di hatimu, Mas? Sedang aku masih saja mencari cara untuk menghapus
namamu dihati?’Aira menelan saliva.
Keinginannya
untuk berbicara panjang lebar takkan mungkin terwujud. Tentu salah, seseorang
yang sudah terikat pernikahan meluapkan kerinduannya dengan seseorang yang
pernah begitu ia cintai bahkan hingga saat ini.
Sepanjang
perjalanan, tak satu patah katapun keluar dari bibir keduanya. Tanpa menoleh
juga tak bergerak.
‘Buatku, cukup
seperti ini. Duduk di sebelahmu tanpa berbicara, membuat rindu yang sehasta ini
berderai. Andai waktu lupa cara bergerak?’
*
Tiga puluh
menit bukan waktu yang pendek, namun Aira merasa siang itu waktu bergerak
begitu cepat. Rasanya ia ingin berharap agar bis mutar-mutar seluruh kota baru
kemudian singgah ke terminal.
“Astaghfirullah
...!”
Bis berhenti di
terminal kediri tepat pukul satu siang. Suasana di pemberhentian bis itu cukup
ramai, belum lagi terik mentari seolah membakar tubuh. Reza buru-buru keluar
bis, mungkin mencegah agar mereka tak berpas-pasan saat di luar. Lagi-lagi Aira
hanya bisa mengembuskan napas.
Setelah
menunggu seluruh penumpang turun, barulah Aira melangkah keluar. Gadis itu
berjalan beberapa meter hingga menemukan sebuah kios yang menjual minuman
dingin. Ia menyisir pandangan ke seluruh terminal, tapi sosok Reza tak lagi ada
di tempat itu.
‘Kemana dia,
cepat sekali menghilang?’
Aira menghela
napas, merasa lebih baik tak lagi bertemu. Untuk alasan apapun, lebih baik
mengambil langkah yang berbeda. Aira tahu, ibarat kata orang pacaran, jika
mereka bersama, maka yang ketiganya adalah syaitan. Akhirnya Aira memutuskan
untuk melanjutkan perjalanannya. Ia mencoba bertanya pada seorang wanita yang
tengah berdiri dengan beberapa tas di tangannya.
"Bu, kalau
mau membeli tahu takwa, harus pilih jalan yang mana, ya?"
Wanita itu
bergidik, lalu menjawab," kalau mau ke Bah Kacung, mbak naik ojek aja, paling
cuma sepuluh menit. Jalan kaki bisa juga, tapi bisa sejaman."
"Saya bisa
dapat ojek dimana, Bu?"
"Itu."
Tunjuk wanita tersebut pada persimpangan yang dipenuhi tukang ojek berhelm
kuning.
Aira mengangguk
mengerti. Sebelum melangkah, ia berpikir untuk berkunjung terlebih dahulu ke
salah satu rumah makan di samping terminal. Banner berukuran jumbo bertuliskan
'Nasi Pecel Tumpang Mang Karyo' cukup membuat perut Aira berkeriuk lapar.
Memang gadis
itu sengaja tak mengisi lambung di rumah, harap-harap ada sesuatu berbeda yang
dapat di makan nanti.
Gadis itu
melirik jam di tangan, ‘wah, bisa sekalian numpang shalat.’ batinnya berkata.
Sementara itu,
jauh di sisi lain. Di bawah sebatang pohon Mahoni sebelah utara terminal. Reza
masih belum beranjak, mencuri pandang sang gadis yang masih menjadi idaman.
"Katanya
mau beli tahu takwa, kenapa malah masuk toko nasi pecel? Dasar wanita
...!" gerutu Reza.
Ia memilih
menunggu Aira, entah mengapa lelaki ia berpikiran bahwa meninggalkan Aira
seperti melepas burung dalam sangkar. Setelah pergi, pasti ia takkan tahu jalan
pulang.
*
Setengah jam
berlalu, Aira belum keluar juga dari rumah makan pecel. Reza mendesah sebal,
"makan apa sih, lama banget?"
Sembari menoleh
ke kiri, sebuah lengan keriput mencengkeram lengan kanannya.
"Tolong
bantu Nenek menyeberang, Anakku ...."
Perempuan
berbaju lusuh dengan kacamata hitam meminta dengan suara serak pada Reza.
Sempat kaget,
melihat seorang perempuan tua berada di belakangnya. Namun, Reza segera
mengiyakan permintaan sang nenek.
Reza
menggenggam jemari keriput itu tanpa merasa enggan. Sampai di seberang jalan,
perempuan tua tersebut mengucapkan sesuatu yang membuat sekujur tubuh Reza
bergetar hebat.
"Jangan
takut Anakku, kalau jodoh itu tidak kemana. Berdoa dan serahkan semua pada
Allah."
"Hah?"
Reza tampak bingung dengan apa yang diucapkan perempuan itu, ia hanya
mengangguk.
Nenek tersebut
lalu menghilang di balik sebuah truk yang berdiri di pinggir jalan. Reza
menghela napas panjang. Kenapa yang dikatakannya seolah menyiratkan sesuatu
yang sedang ia alami?
"Ah,
mungkin dia
peramal?" ungkap Reza seorang diri. Di satu sisi ia ingin mengejar
perempuan tua itu, namun di sisi lain dirinya takut jika Aira telah selesai
makan dan pergi ke tempat lain.
Akhinya Reza
memilih untuk kembali menunggui Aira. Sepuluh menit berlalu, tak ada seorangpun
yang keluar. Tak tenang dengan situasi begitu, Reza memutuskan untuk terjun
langsung. Meski dengan menutup-nutupi sebagian wajahnya dengan selembar kertas.
Lama ia melirik
sana sini, tak ada keberadaan Aira di tempat itu. Reza mendecak perih, sekian
lama menunggui, namun sekejap mata hilang bak ditelan bumi.
"Apakah
dia pergi saat aku mengantar nenek tua tadi?"
Tanpa lama
berpikir, Reza langsung memasang target menuju lokasi tahu takwa. Ia yakin
pasti Aira sudah di sana.
Sesampainya
Reza di Jalan Trunojoyo. Lelaki itu memilih toko Bah kacung karena tempat
inilah yang paling terkenal. Dengan bergegas, Reza berhamburan ke dalam toko.
Melirik sana sini, namun sayang tak ada wanita yang ia cari di tempat itu.
"Baiklah,
akan kucari ke tempar lain." Ia masih bersemangat.
Tekad sudah
seratus persen, tapi bumi seolah melawan. Tiba-tiba, langit yang tadinya terik
seperti ketumpahan air. Hujan turun dengan derasnya, dan perlahan langit yang
tadi cerah berubah menjadi gelap.
"Kemana
dia?" Reza masih saja memikirkan Aira.
***
Aira baru saja
selesai shalat Zuhur di Mesjid Agung. Rencana mau membeli tahu takwa malah
gagal sebab di luar hujan turun dengan derasnya. Aira menarik napas panjang,
mau pulang ke Pagu juga bagaimana caranya. Ke terminal sudah pasti harus jalan
kaki, atau minimal naik ojek. Tapi kalau hujan-hujan begini tetap nekat
menerobos, bisa basah kuyup.
Dalam
kebimbangan yang memenuhi pikiran, Aira melihat sebuah taksi berdiri tepat di
pintu gerbang mesjid. Gadis itu berharap taksi tersebut bisa mengantarnya
membeli tahu lalu pulang ke pondok.
Ia gerakkan
langkahnya menerobos tetesan hujan yang terus turun dengan deras. Tak ia
pedulikan hujan yang nyaris membuatnya seperti baru saja keluar dari pemandian.
Aira terus berlari hingga sampai di depan taksi.
Namun, ia
sedikit terhenyak saat mendapati seseorang membuka pintu mobil dengan cepat.
"Mas
Reza?" lirihnya tak menyangka, akan bertemu Reza kembali di tempat itu.
Diantara rintik
hujan yang semakin deras mengguyur, Aira menyapu wajahnya yang sudah bersiborok
dengan wajah Reza.
"Kenapa
nekat kemari, kamu bisa bawah kuyup?" Dengan cekatan Reza segera memayungi
gadis yang tampak menggigil kedinginan itu.
"Takut
taksinya pergi," jawab Aira sambil menggenggam jemari tangan.
“Tapi kamu jadi
basah ‘kan?” ketus Reza sambil menghela napas. Ia menatap lekat gadis di
hadapannya. Sementara Aira hanya menunduk sambil terus menggosok-gosok
tangannya.
‘Allah, aku tak
kuat menahan rasa ini ....’ Reza membatin.
Menyadari
sesuatu mengalir dari pandangannya, Reza ikut menunduk. Tanpa basa-basi, lelaki
itu membuka jaket kulit yang ia kenakan, kemudian menyematkan pakaian
hangat itu di bahu Aira. "Pakai ini biar kamu nggak kedinginan?"
Aira
menengadahkan wajahnya, ia ingin menolak. Namun, Reza buru-buru membuka pintu taksi dan menyuruh
Aira masuk, "kamu pulang naik taksi ini, ya?"
"Mas Reza
bagaimana?"
"Nanti
saya cari taksi lain, yang penting kamu bisa segera mengganti pakaianmu biar
nggak masuk angin."
Sejujurnya,
begitu banyak pesan yang ingin ia sampaikan pada Aira, tapi semua seakan
tertahan di tenggorokan. Mengingat wanita yang ia khawatirkan itu sudah terikat
dengan lelaki lain.
"Ini buat
kamu?" Sebelum pintu mobil ia tutup, Reza menyodorkan sebuah plastic
kresek berisi ke arah Aira.
"Ini
apa?"
"Katanya
kamu kepingin tahu takwa?"
Aira
menyipitkan mata, ‘kapan pernah ia bilang ke Reza kalau dirinya ingin makan
tahu takwa? Ah, apapun itu, lelaki ini sudah memporak-porandakan hati Aira
untuk kesekian kalinya.
Aira meraih
pemberian Reza.
"Mang,
matikan AC-nya, ya?" pinta Reza pada supir taksi. Aira terperangah,
perhatian Reza benar-benar membuat matanya menghangat.
"Begitu
sampai langsung ganti pakaian."
Reza menatap
Aira sejenak sambil menutup pintu taksi.
Aira tergugu, t
ak dapat
berkata apapun.
‘Apakah ini bagian dari takdirmu ya Allah,
bagaimana hamba harus menahan diri dari rasa ini? Astaghfirullah ....”
Perlahan, taksi
itupun bergerak menjauh. Aira membalikkan badannya yang sudah sempurna
bersandar di kursi, menatap sosok lelaki yang masih berdiri di gerbang mesjid.
Pandangannya tak berpaling, hingga bayangan
Reza hilang tertutup kabut seutuhnya.
Di luar, hujan
terdengar semakin deras.
Tetesannya seumpama duri yang menghujam tubuh.
Aira dan Reza, keduanya semakin yakin, bahwa tidak ada yang lebih baik kecuali
hidup di dua benua. Karena menjauh adalah cara terbaik untuk membunuh rindu
pada sosoknya yang haram dirindui.
*
"Darimana
aja kamu?" Elsa menyerang Reza yang baru saja membuka pintu rumah.
"Mbak gak
lihat bajuku semua basah? Di Kediri tadi itu hujan deras, jika bukan karena
kamu yang minta, aku sudah membatalkan pembeliannya."
"Ish,
sensi aja!" Elsa menyambar bungkusan makanan di tangan sang
adik,"tapi, makasih, ya?"
"Hem ...
Abhi mana?" tanya Reza saat tak menemui jagoannya di ruang tamu rumah
Bukde mereka.
"Tidur."
Reza melirik
jam di pergelangan tangan,"Bukannya malam ini kita ke rumah Pakde
Danu?"
"Em ...
kagak jadi sih Za?"
"Lho,
kenapa?"
Elsa sedikit
ragu menyampaikan alasan batalnya pertemuan mereka malam itu. Tapi apa boleh
buat, tak ada cara lain selain jujur.
"Za, Muna nggak bisa ijin keluar tadi
siang. Gantiin jadwal ngajar pimpinannya yang kebetulan ke luar kota. Gitu sih
katanya."
Reza mendelik
kesal, "Ck, udah bela-belain kemari, eh dibatalin."
"Pakde
bilang, minggu depan. Kali ini Muna benar-benar janji."
"Ah, Mbak
aja yang ketemuan. Reza udah ogah."
"Ih,
jangan ngambek gitu donk. Kalau mau nyari yang terbaik, ya kamu harus rela
berkorban ...."
Reza bergeming,
'bahkan dengan mengorbankan perasaanku untuk bertemu Aira?'
"Andai
Mbak tahu, bahwa hari ini Allah bukan mempertemukanku dengan Muna, melainkan
dengan Humaira. Pasti Mbak takkan memaksa lagi ke kota ini. " gumam Reza
dalam hati.
Di kamar,
Perlahan ia berjalan mendekati jendela, menatap langit malam yang penuh
bintang. Sebuah bangunan besar berwarna hijau di kelilingi pagar beton yang
menjulang tinggi. Di dalamnya, entah di bagian kiri atau kanan, ia yakin, ada
seorang wanita yang tengah memikirkannya. Seperti ia yang tak henti memikirkan
wanita itu.
“Astaghfirullah
... apakah ini namanya cinta? Bukankah cinta itu meredakan segala resah dan
gelisah? Mungkin aku terlalu mencintai sesama makhluk, hingga lupa hakikat
cinta yang sebenarnya.
Sementara itu,
di sudut sebuah kamar, seorang gadis meringkuk kedinginan. Badannya terasa
panas, sementara ujung kaki dan tangan bergetar karena menggigil. Suaminya tak
memberi kabar, bahkan untuk mengucap selamat tidur.
Di tubuhnya, jaket
kulit hitam masih membalut, sedikit hangat meski tak menghangatkan hatinya yang
kadung sebeku es dikutub utara.
*HUMAIRAH*
_Part_13_
*"Perasaan Yang Terluka"*
Teruntuk Muna,
Assalamualaikum
Yang saya
hormati, Ukhti Raudhatul Muna. Terasa sangat tak pantas menyampaikannya melalui
surat. Namun, jujur untuk mengutarakan langsungpun saya tak mampu.
Dari awal
bertemu, saya tak bisa menutupi kekaguman pada raut wajah juga kepribadian
ukhti. Selaksa satu bintang yang bersinar terang diantara ribuan bintang
lainnya. Ukhti hadir sebagai penyemangat, juga menuntun seseorang untuk selalu
menjadi yang terbaik. Dan orang itu adalah saya sendiri.
Andai ukhti
berkenan, ijinkan seseorang yang bukan apa-apa ini untuk menyatakan
keinginannya, menyempurnakan iman bersama. Jujur, ukhtilah yang pertama di
hati.
Saya hanya
ingin menghalalkan seseorang yang saya cintai. Jika ukhti menerima perasaan
ini, saya akan langsung mengkhitbah. Sungguh harapan diterima sangat besar saya
gantungkan pada Robbi.
Sekian. Tolong
di balas.
Habiburrahman
El Hanif.
----
Aira menelan
saliva membaca untaian kata yang tertulis indah di sebuah kertas bergambar
dasar hati. Sekujur tubuh serasa beku, denyut jantungnyapun serasa berhenti
berdetak.
"Benarkah
ini surat Mas Hanif untuk Muna? Jadi, selama ini mereka ...?"
Aira mengusap
embun yang tiba-tiba mengalir di sudut mata. Mengetahui ada seseorang yang
begitu berarti di masa lalu suami, ternyata tak bisa membuatnya bersikap
tenang.
Tapi kenapa,
bukankah semua orang punya masa lalu. Bahkan dirinya sendiripun belum bisa
mengubur rapat seseorang yang harusnya sudah menjadi kenangan. Sempat terbesit
pikiran demikian di hati Aira.
"Mas Hanif
... inikah yang membuatmu bersikap begtu dingin?" lirihnya sangat pelan,
seakan mewakili buncahan rasa perih yang menimpa batin.
Tiba-tiba suara
derit pintu kamar mandi yang terbuka, berhasil mengagetkan Aira dari lamunan.
Segera gadis itu melipat kembali surat di tangan dan memasukkan ke tempat
asalnya yang tergeletak di atas ranjang.
"Kamu lagi
ngapain?" Hanif menyembul dengan wajah berbinar.
Aira menatap
tajam suaminya. Kaget, takut sekaligus penasaran, ingin sekali ia tanyakan
perihal surat tadi pada Hanif, namun ia urungkan mengingat belum satu jampun
keberadaan kembali lelaki itu di rumah.
Aira memilih
menunda dan focus pada pertanyaan Hanif. "Sedang membaca buku, Mas?"
jawabnya singkat dengan sedikit berusaha menutupi buku yang berjudul 'Fiqih
Wanita', yang ia pinjam dari Muna beberapa hari lalu, sebab ia tak ingin Hanif
membuka dan mendapati suratnya dahulu untuk Muna ada dalam buku itu.
"Buku apa,
novel atau buku inspirasi? Sampai koper Maspun belum tersentuh?" Hanif
semakin mendelik penasaran. Ia sedikit mendongakkan tubuhnya agar bisa membaca
sampul buku yang dimaksud Aira.
Aira segera
bangkit sembari membawa buku tersebut ke dalam kemari. Hanif hanya menatapnya
penuh curiga.
"Aira
beresi sekarang ya, Mas," ucapnya setelah memasukkan buku itu ke dalam
kemari.
Langkah Aira
terhenti seketika di depan ranjang. Hanif yang dalam posisi berdiri berhasil
meraih jemari sang istri.
"Biarkan
saja dulu kopernya, Mas lelah. Mas mau berbaring di pangkuan istri Mas?"
Hanif melepas genggaman dan meraih kedua pundak Aira. Lelaki itu lalu
mendudukkan sang istri di atas ranjang. Kemudian ia merebahkan kepala di atas
pangkuan gadis itu. Aira sedetik bergetar.
"Maaf, Mas
pergi lama meninggalkanmu. Juga begitu sibuk hingga tak rutin memberi kabar.
Humaira, apakah kamu marah?" Lelaki itu menatap lekat manik kecoklatan
yang tampak redup, sementara Humaira hanya menunduk tanpa berani membalas
tatapan sang suami yang begitu intens.
Aira bergeming
dengan tanya yang masih memenuhi pikiran. Apa yang ditanya Hanifpun seakan
hanya angin lalu belaka.
Melihat Aira
tak bereaksi, Hanif meraih kedua jemari tangan gadis itu, membekap erat di atas
dada, lalu menciumi perlahan. Aira tersentak, ia baru menyadari bahwa dirinya
dan Hanif sedang berada pada jarak yang sangat dekat.
Ia semakin
menunduk, berusaha agar tak bertatapan dengan lelaki itu.
Mendapati istrinya
salah tingkah, Hani
f sedikit
mengangkat dagu, matanya liar memandangi arah tatapan lawan.
Lelaki itu
berhasil mengunci mata Aira, hingga tak ada yang dapat menyisir penglihatan
gadis itu selain raut wajah sang suami.
Aira semakin
gugup, entah bagaimana mencegah, tapi jantung itu mulai berdentum tak normal.
Hanif tak lagi
dapat menahan keinginannya, seminggu tak bertemu, rindu semakin membuncah di
dada. Ia gerakkan sebelah tangan menyentuh pipi istrinya, kemudian mendekatkan
wajahnya hingga bibirnya nyaris menyentuh bibir sang istri. Namun ...
Tok! Tok! Tok!
"Assalamualaikum."
Sebuah salam terdengar dari luar. Hanif yang hendak menuntaskan hasratnya,
seketika rebah kembali di pangkuan Aira.
Keduanya
menarik napas panjang, entah lega atau kesal. Lelaki itu menyunggingkan
senyuman sambil menyugar rambutnya. Aira hanya membalasnya dengan lirikan ke
kiri kanan.
‘Hufht, selalu
ada cara untuk gagal!’
Diluar, Aira
dapat mendengar percakapan antara Hanif dengan seorang ustadz.Sedikit enggan,
namun ia tetap harus bersikap layaknya seorang istri yang menghargai tamu sang
suami, Aira bangkit ke dapur untuk membuat dua cangkir teh hangat, namun saat
ia sampai di teras, tamu itu telah pergi.
"Kemana
tamunya, Mas?" Aira bertanya setelah ikut duduk di sebelah Hanif.
"Ke
Mushalla. Itu tadi Gus Fatih, anaknya Kiai Ahmad. Beliau menyampaikan pesan
Abi, agar Mas menggantikan kajian malam ini di Mushalla putra. Kiai sakit
apa?"
"Owh itu,
semenjak Mas pergi, penyakit jantung yang di derita Abi mendadak kambuh. Setiap
malam yang Aira tahu, tak pernah sekalipun ia mengisi kajian. Tapi, haruskah
Mas menggantikannya malam ini, bukankah Mas juga baru sampai?" tanya Aira
bersunggut-sunggut.
"Nggak
masalah, lagian Mas juga tadi sudah istirahat di pangkuan isteri Mas." Hanif
menimpali pertanyaan sang istri sambil tersenyum hangat.
Aira
mengembuskan napas perlahan. 'Buat Mas memang nggak masalah, tapi buat saya?
Seminggu Mas pergi meninggalkan saya seorang diri di tempat ini. Tak inginkan
Mas tahu betapa saya harus melalui hari-hari yang sepi ini? Bahkan ketika tempo
hari badan meriang, hanya jaket Mas Reza yang mampu menghangat tubuh, tahukah
Mas akan hal itu? Sekarang baru sampai rumah, sudah harus pergi lagi.
Pernikahan macam apa ini?’
***
Selepas
kepergian Hanif, Aira membuka koper pakaian yang di bawa suaminya itu ke luar
kota selama seminggu kemarin. Harum aroma maskulin yang lembut menguar dari
dalam kotak segi panjang penuh pakaian itu.
Aira
memicingkan mata, mencoba mengingat seakan aroma ini tak asing baginya. Namun,
bukan milik Hanif. Ia yakin Hanif baru menemukan parfum ini selama bepergian
kemarin.
"Ini
...." Aira berhenti memutar ingatannya, karena ia yakin beberapa kali
pernah mencium aroma ini yang menguar dari tubuh seorang lelaki duda, pemilik
wajah oriental dengan sebuah lesung di pipi.
Aira bangkit
mendekati lemari, membuka dan mengambil sebuah jaket yang ia simpandi deretan
paling bawah. Ia mendekatkan hidungnya hingga menyentuh permukaan jaket itu.
"Astaghfirullah,
kenapa mereka berdua bisa pakai parfum yang sama?"
Aira memejamkan
matanya, berusaha sekuat tenaga membuang pikiran tentang Reza.
"Jika
terus dibiarkan, rasa ini semakin merebut gelar shalihah yang harusnya aku
dapatkan dari Mas Hanif!" Gadis itu kembali memasukkan jaket kulit Reza ke
dalam lemari, lalu fokus dengan koper suaminya.
Ia mengeluarkan
sebuah plastik besar berisi pakaian kotor, di bawahnya ada sebuah plastik
bertuliskan nama butik terkenal di kota Jakarta Pusat.
Aira begitu
penasaran. Ia keluarkan plastik itu dan sedikit menilik apa isi di dalamnya.
"Pakaian wanita?"
Aira tersenyum
bahagia, "jadi Mas Hanif nggak benar-benar melupakanku?" Ia berucap
lega.
Segera ia
keluarkan isinya, di situ ada dua buah gamis dengan dua motif dan warna yang
berbeda. Yang satu berwarna soft pink dan satunya lagi warna coklat susu.
Manik mata Aira
langsung tertuju pada gamis berwarna soft pink, indah sekali pikirnya. Meski ia
bukan pengagum warna pink-pink lembut, tapi dalam pandangannya, gamis itu
begitu menawan.
"Makasih
Mas," ucap Aira sambil mendekap gamis k
e dada. Segera ia masukkan kembali kedua baju itu ke
dalam plastik, biarlah esok Hanif sendiri yang menyerahkan."
Langit tampak
gelap. Keadaan di luar rumah masih sangat sepi. Angin merambat perlahan,
menembus melalui celah jendela, dan membelai lembut rambut Aira yang tergerai.
Gadis itu
terhenyak, matanya membulat tak menyangka untuk kesekian kali tertidur saat
menunggui Hanif pulang.
Ia menoleh ke
samping. Hanif masih tampak pulas dalam lelapnya. Gadis itu mendekatkan wajahnya,
memperhatikan dengan seksama tiap inci pahatan yang nyaris diciptakan sempurna.
"Apa yang
terjadi dengan Muna, apakah dia menolakmu Mas? Lalu kenapa?" Aira bertanya
pada sosok yang kelopak matanya masih tertutup itu.
Aira membuang
napas kasar, jika mengingat surat itu, hatinya terasa perih. Doble perih jika
mengingat bahwa dirinya juga bernasib sama.
"Tapi jika
kamu menyukainya, kenapa kamu menikahiku? Harusnya kamu jangan memaksa Mas,
maka kitapun tidak terperangkap dalam kepalsuan seperti sekarang ini?"
Ia menggigit
bibir bawahnya perlahan, rasa perih kembali menjalari mulai dari tenggorokan
hingga ke bagian yang terus berdegup.
"Astaghfirullah
...."Segera ia menepis perasaan itu.
Perlahan,
jemari tangannya menyentuh pipi Hanif dengan lembut. "Mas, bangun. Udah
jam setengah empat."
Hanif
menggeliat tanpa bersuara. Tampaknya lelaki itu benar-benar lelah, setelah
kemarin melakukan perjalanan jauh, malamnya masih juga harus mengisi kajian.
Tapi, bukankah ia pernah mengatakan jika matanya tak terbuka, ia meminta Aira
untuk membukakannya dengan berbagai cara.
Dua kali
mengusap dengan lembut tak ada reaksi. "Kasihan, biar tidur lima belas
menit lagi," lirih Aira sembari bangkit dari tidurnya.
"Kok
menyerah?"
Aira mendadak
berdiri kaku, ia baru tahu ternyata Hanif tak lagi sedang tertidur.
"Mas Hanif
sudah bangun, Aira pikir ...."
Lelaki itu
tersenyum, "Mas pikir bakalan dapat sesuatu yang special jika Mas terus
memejamkan mata," ia terkekeh kemudian. Aira sedikit gugup.
"Kemarilah."
Pinta Hanif. Lelaki itu sedikit membungkuk, meraih sebuah benda yang ia
letakkan di bawah tempat tidur.
Hanif
mengeluarkan sebuah plastik, yang semalam telah dilihat langsung oleh Aira.
"Apa itu
Mas?" Aira pura-pura bertanya.
"Bukannya
semalam kamu sudah lihat?" goda Hanif. Aira tampak semringah.
"Ini kado
buat istri Mas yang cantik, dan sudah menunggu Mas pulang dengan setia."
Hanif mengeluarkan gamis berwarna coklat susu dari dalam plastik.
Raut wajah Aira
seketika berubah. Ia menanti, Hanif mengeluarkan satunya lagi dari plastik.
"Lo, kok
cuma dilihat? Ayo diambil? Kamu gak suka?"
Aira melongo,
ternyata memang cuma diberikan sepasang. Lalu buat siapa satunya lagi? Aira
memberanikan diri untuk bertanya.
"Yang
satunya lagi buat siapa Mas?"
Hanif semakin
terkekeh. "Ternyata benar kamu sudah mengintip isinya?"
Aira tak lagi
tersenyum, hatinya getir menanti jawaban yang keluar dari mulut Hanif.
"Em,
rencana mau Mas berikan sama Muna, karena selama Mas di luar kota, diakan yang
sudah nenemani kamu. Hanya sebagai ucapan terima kasih. Itupun, jika Istri Mas
ini tidak keberatan."
Aira membasahi
kerongkongannya yang tiba-tiba terasa begitu kering. 'Ini sandiwara atau apa?
Kenapa hatiku begitu sakit, apa aku cemburu ya Allah?'
Aira masih
bergeming, cukup membuat seluruh tubuhnya kaku mendengar bahwa gamis yang ia
sukai hendak diberikan kepada orang lain. Lantas, kenapa hanya untuk Muna, Bu
Nyai, kenapa beliau juga nggak diberi? Pikiran Aira benar-benar kacau, darahnya
memanas.
"Lho,
kenapa diam? Kalau kamu gak suka, ya tidak jadi ... dua-duanya untuk istri Mas
deh"
Benar-benar
menyakitkan!
Sesuka-sukanya
Aira pada gamis itu, tentu tak mungkin ia menerima barang yang sudah diniatkan
untuk orang lain. Amarah semakin bergejolak, namun gadis itu mencoba
menenangkan diri, tak ingin terbawa emosi hingga Hanif bisa membaca
perasaannya.
"Aira
nggak keberatan. Mas. berikan saja pada Muna, berkatnya Aira tak kesepian
seminggu kemarin."
Aira berucap
dengan memasang nada sindiran. Harap-harap Hanif peka, tetapi justru lelaki itu
semakin melebarka
n senyuman.
Seakan tak menyadari bahwa sebagai seorang suami ia tak seharusnya memberikan
perempuan lain hadiah. Begitulah yang terpikir di benak Aira.
Hanif menyugar
rambut. "Mas baru tahu, ternyata istri mas punya jiwa sosial tinggi?"
Hanif malah
mencibir. Aira berpaling dan hendak pergi meninggalkannya. Tapi, lelaki itu
berusaha menahan, "eh tunggu dulu?" Hanif bergerak dan meraih
pergelangan tangan Aira.
"Mas mau,
kamu yang berikan itu pada Muna?"
"Kok Aira,
itukan hadiah dari Mas Hanif ...?"sanggahnya dengan muka jutek.
"Mas
tugasnya membeli. Kalau Mas juga yang ngasih, bisa dipecat jadi hamba Allah Mas
entar?" Hanif terkekeh.
Aira mendesah
sebal. "Lalu apa bedanya, membeli dan memberi, yang jelas niat sudah ada.
Ya tinggal dikasih aja Mas, Aira gak masalah kok ...?"
Hanif tersenyum
dan menarik Aira dalam dekapannya, "Istri Mas cemburu?"
Masih mendekap,
Hanif membisikkan sesuatu, "kebanyakan wanita umumnya pencemburu.
Hanyasanya cemburu yang tercela adalah cemburu yang membara di dalam dada. Kamu
tahu, sesungguhnya, rasa cemburu dapat menyalakan api keraguan dan prasangka
setiap waktu. Ia akan mengubah kehidupan keluarga bak panasnya neraka yang tak
tertahankan,” Hanif mengurai dekapan, “apa benar istri Mas cemburu?”
"Aira
nggak cemburu?" Ucapnya sembari berusaha melepas seluruh dekapan Hanif
pada tubuhnya. Sesuatu kembali mengambang di pelupuk mata, tapi buru-buru gadis
itu mengedip-kedipkan bola mata agar genangan itu tak merembes.
"Hem ...
lupakan hadiahnya ya?" ucap Hanif sembari mengelus kepala Aira.
Jika tak
memikirkan ego, tentu Aira akan berkata, "mana bisa melupakannya!"
Tapi, ia hanya diam, membiarkan Hanif kembali mendekapnya erat tanpa lagi
melawan.
Hanif menarik
napas dalam, lama ia mendekap berharap Aira mengulurkan tangan membalas
merangkul pinggangnya. Namun, harapannya tak terkabul.
"Apakah
kamu mau lelaki di swalayan itu yang mendekapmu seperti ini?”
Hanif semakin
mengeratkan pelukannya, sampai-sampai Aira harus menarik napas agar
paru-parunya cukup mendapat oksigen.
Kertas putih
bertuliskan 'Setelah mengembalikan benda ini, tak ada lagi alasan untuk kita
bertemu', yang tak sengaja ditemukan Hanif sebelum ia berangkat ke luar kota,
cukup membuat dada Hanif naik turun dengan cepat.
'Apapun yang
terjadi, saya akan menjaga wanita yang telah saya minta pada Allah menjadi
istri.'
***
Eh Eh Eh...
Rupa-rupanya, mereka saling mencemburui satu sama lain ya?
Hanif.. Hanif..
Mau nasehati istri, tapi rasa cemburu di dada nggak bisa ditahan.. Owalah..
*HUMAIRAH*
_Part_14_
*Hanif berangkat sangat pagi* , hari ini ia
harus memberikan materi tentang kurikulum pada beberapa ustadz dan ustadzah,
termasuk Muna. Lelaki itu keluar dengan membawa beberapa map berisi
lembaran-lembaran yang ia dapat selama pelatihan.
Sepanjang
perjalanan yang hanya berjarak beberapa meter itu, tampak beberapa santri lalu
lalang di depan asrama.
Hari ini hari
jumat, sekolah libur. Namun, Hanif tetap berniat membuat rapat dadakan, dan
memulainya lebih awal agar tak mengganggu waktu shalat dhuha juga shalat jumat
nanti.
Memasuki ruang
rapat sekolah putra, seluruh peserta telah menduduki tempatnya masing-masing.
Hanif memilih duduk di sebelah Gus Fatih, juga hadir di ruangan itu Ustadz
Bahrur yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Kiai Ahmad.
Sebelum
menghidupkan materi pada laptopnya, matanya menyapu ke selurruh ruangan. Sempat
menatap Muna yang duduk di bangku kedua dari belakang. Hanif tersenyum samar,
pada gadis yang saat itu mengenakan gamis hitam.
Dengan seksama
Hanif mulai menjelaskan tentang prinsip penyusunan Kurikulum Pesantren yang
dikenal dengan sistem KMI (Kulliyatul Mu'allimin wal Mu'allimat Al-Islamiyah).
Dalam KMI, pendidikan agama dan umum diberikan secara seimbang dalam jangka
waktu enam tahun. Yang membedakan antara kurikulum KMI dengan kurikulum sekolah
biasa adalah ketika santri lulus dari kelas tiga KMI, mereka tidak langsung
mendapat ijazah setingkat SMP. Ijazah KMI hanya akan didapatkan ketika telah
menyelesaikan pendidikan selama enam tahun, atau setingkat SMA.
KMI juga
mempunyai banyak kegiatan, ada yang bersifat mingguan, tengah tahunan, tahunan
serta kegiatan co-kurikuler sebagai penunjang utama. Hanif juga menyatakan
bahwa kurikulum yang digunakan adalah perpaduan antara beberapa kurikulum, yaitu
kurikulum depag, kurikulum Depdiknas, kurikulum pesantren modern Gontor dan
kurikulum pesantren tradisional.
Semua yang
hadir tampak begitu antusias, tak terkecuali Muna. Ini adalah sekolah pesantren
modern pertama tempatnya mempraktekkan ilmu selama ini.
Sebelum melamar
menjadi tenaga guru ilmu salaf di pondok Al Falah, ia hanya bekerja sebagai
guru di pesantren tradisional di kota kelahirannya, Surabaya.
Ummahnya yang
mendorong agar ia ke Kediri, karena salah satu saudara mereka memberitahu bahwa
tahun ini di kota Tahu itu didirikan sebuah pesantren modern. Muna benar-benar
tak menyangka jika Hanif termasuk salah satu pendiri pesantren tersebut.
Lima tahun,
bukan waktu sedikit untuknya melupakan seseorang yang pernah singgah di hati.
Sebagai gadis yang bahkan tak pernah mengenal kata cinta, Hanif adalah orang
pertama yang ia cintai. Namun, meski di dasari rasa cinta, ia tak mudah
menjatuhkan pilihan.
Tampan dan
mapan buatnya bukan nomor satu, ia ingin yang punya nilai lebih terutama dalam
kecerdasan. Sayang, ketika itu yang ia tahu, Hanif gagal dalam mempertahankan
sidang kelulusannya di Universitas Cairo.
Muna bertahan,
dalam surat balasan yang diberikan kepada Hanif, ia tak bermaksud menolak.
Hanya menunda. Namun kenyataannya, Hanif salah mempersepsikan tulisannya.
Perlahan, dengan teratur Hanif mundur. Menjauh dan tak lagi berkabar padanya.
Muna menarik
napas panjang, ingatan itu membuat dadanya sesak. Ia mencoba menata hati,
bukankah ini tuntutan pekerjaan, biarpun ia harus terus menatap Hanif setiap
waktu.
Satu hal yang
harus ia tanamkan dalam hati, bahwa perasaannya tak boleh luluh, apalagi untuk
sebuah kata menyesal.
"Tidak
boleh!" Muna berucap tanpa sadar sembari menghentak tangan ke atas meja.
Semua terhenyak dan menatap gadis itu penuh tanya.
"Bagaimana
Ustadzah Muna?" tanya Hanif, "apa Ustadzah ingin menyampaikan
sesuatu?"
Muna
terbelalak, kedua alisnya sedikit terangkat. Mukanya yang ranum seketika merah
padam menahan rasa malu.
“Tidak ada
Ustadz,” ucapnya sambil menggeleng. Rasanya seperti membuka rahasia di depan
umum, sungguh memalukan, pikirnya saat itu.
"Ustadzah
Muna, bisa bicara sebentar?" Hanif memanggil Muna yang hendak berlalu
meninggalkan ruangan. Beberapa yang mengikuti rapat sedari tadi telah
meninggalkan tempat itu
. Hanya Hanif
yang masih sibuk dengan beberapa berkasnya, juga Muna yang tampak sedikit
belingsatan dengan pelimpahan tugas barunya menata kurikulum.
Mendengar Hanif
memanggilnya, Muna berhenti dan menoleh. "Ada apa Ustadz?"
"Njenengan
ada yang ingin dikerjakan sekarang?" tanya Hanif sambil berjalan mendekati
gadis itu. Di bahunya tas laptop telah bertandang, sementara di tangan beberapa
file ada dalam dekapan.
"Tidak ada
Ustadz, memangnya ustadz ada perlu sama saya?" Muna balik bertanya.
"Ukhti
'kan megang tugas menyusun kurikulum kitab klasik, Ini ada beberapa acuan,
mungkin sedikit banyak dapat membantu ...?" ucap lelaki itu sembari
membuka tasnya.
Hanif
memicingkan mata, merasa aneh dengan isi tas yang ia bawa. "Kenapa ada
disini ya?" tanyanya dalam hati.
Ia menyentuh
plastik mengkilat berisi gamis yang sebelum berubah pikiran ia niatkan untuk
diberi pada Muna. Namun, ia tak mengeluarkannya dari dalam tas. Membalikkan
dengan punggung tangan lalu mengambil berkas yang hendak diserahkan kepada ustadzah
di hadapannya.
"Wah,
terima kasih Ustadz ... Tadi saya sempat bingung, jujur ini baru pertama kali
saya lakukan, mohon bimbingannya?" ucap Muna sembari menundukkan kepala.
Hanif hanya
melempar senyum, "insyaallah, saya akan membantu sebisanya. Panggil saja
Mas, jangan kaku begitu," timpal Hanif. Muna menoleh seketika.
Jantungnya dua
kali lebih rancak berdetak, terutama saat mendengar Hanif meminta memanggilnya
dengan sebutan Mas.’Bukankah itu hak penuh seorang istri, sementara yang lain,
semua menyebutnya Ustadz? Apakah ini berarti ...?’ pikiran Muna mulai mengacau
kewarasannya.
"Yasudah,
saya duluan ya?" Pamit Hanif kemudian. Ia berlalu dengan santai. Sementara
Muna, gadis itu menggenggam kedua jemari, menahan rasa perih yang terlanjur
menghujam hati.
Aira melirik
jam yang bergantung di dinding, pikirannya ngelantur entah kemana. "Pasti
Mas Hanif sudah memberi hadiahnya pada Muna.
‘Huh ... Coba
kemarin itu aku menikah dengan ... Astaghfirullah! Sungguh kotor hati ini!’Aira
mengumpat diri sendiri.
"Harus
istiqamah," ucapnya lantang. Ia teringat beberapa waktu lalu, gegabah
pernah membuatnya menilai buruk Mas Reza, hingga akhirnya ia menerima pinangan
Mas Hanif.
Tapi pernikahan
bukan permainan, bukan pula sekadar coba-coba. Pernikahan itu diistilahkan
mitsaqan ghalizan, yaitu sebuah perjanjian yang teguh. Jika tak sanggup, maka
jangan menerima. Dan jika sudah menerima, dosa besar berharap untuk menyudahi.
Hanya bisa
mengembuskan napas, Aira benr-benar pasrah! "Bukankah ini hanya rasa
cemburu, aku harus bisa meredamnya." Aira membatin nelangsa. Ia akui,
sekuat apapun menyangkal rasa terhadap suaminya, rasa cemburu itu datang dengan
sendirinya .
Aira bangkit
dari duduknya, mengambil buku berjudul 'Fiqih Wanita' dan berniat mengembalikan
buku itu pada Muna. Dibaca tak sampai di hati, disimpanpun hanya menambah
derita.’
Setelah buku
ada dalam genggaman, ia membalikkan tubuh hendak berjalan keluar kamar. Namun,
ketika hendak menggapai gagang pintu, ia kaget karena pintu itu justru terbuka
dari luar.
"Mas
Hanif?" spontan Aira melotot mendapati sang suami ada di hadapannya.
Hanif tersenyum
melihat reaksi Aira, "Assalamualaikum Humaira ....”
"Wa-waalaikum
salam." Aira menjawab dengan gemetar. Buku yang tadi dalam dekapan,
seketika ia bawa ke belakang tubuh.
Sembari
memejamkan mata, ia merutuki diri. Harusnya tak perlu bereaksi berlebihan,
justru hal itu malah membuat Mas Hanif curiga. Atau bahkan bukankah lebih baik
jika lelaki itu tahu saja perihal surat cintanya dulu, biar masalah ini cepat
selesai.
Entahlah, Aira
bingung. Tapi ia tak ingin ribut perkara ini. Biarlah perlahan dirinya sendiri
yang mencari tahu, tentu dengan cara yang lain tanpa sepengetahuan Hanif.
"Apa yang
kamu sembunyikan dari Mas?"
Aira gelagapan.
"Bukan apa-apa Mas, ini hanya buku. Buku yang Aira pinjam dari Muna."
"Owh, coba
Mas lihat." Hanif menengadahkan tangan.
"Em, tapi
Aira mau mengembalikannya, Mas?"
"Lo,
kenapa dikembalikan? Emang udah dibaca?"
"Udah,
Mas? Aira pergi dulu, ya. Tadi sudah janjian sama beliau."
Hanif membuka
mulut, ingin ia menghentikan langkah gadis itu. Meski di siang hari, ia tetap
berniat menunaikan hajatnya yang tertunda dari semalam. Namun, belum sempat
bersuara, sang istri malah sudah berlalu dari pandangan.
‘Ah, bukankah
malam lebih baik dan lebih tenang?’ Ia meyakinkan diri meski terasa sedikit
sulit.
*HUMAIRAH*
_Part_15_
*"Bukan Dia, Tapi Kamu"*
‘Nabi Bersabda,
“Tidak akan binasa seorang manusia, selama ia masih berdoa kepada Allah.’
Matahari mulai
meninggi di atas kepala, aura panas yang dipancarkan mulai terasa membakar
kulit. Aira berjalan beberapa meter ke utara.
"Pasti
Muna mencari-cari surat ini. Terus, bagaimana reaksinya jika tahu aku sudah
membaca surat cintanya dulu dari Mas Hanif?"
Aira
bertanya-tanya dalam hati.
"Pasti
Muna bakalan merasa gak enak, terus mencari perujukan yang tepat untuk
menjelaskan perihal surat itu."Ia mengangkat bahu, berusaha menebak namun
takut salah.
Baru melangkah
beberapa meter, matanya sudah bergerak cepat mendapati Muna berjalan ke pintu
keluar. Sontak ia berteriak memanggil.
"Ustadzah
Muna?"
Gadis yang
dipanggil itupun menoleh. "Mbak Aira?"
Humaira
mempercepat langkahnya sambil menggenggam buku di tangan.
"Mau
kemana Ustadzah?"
"Mau ke
kios depan, nyari perlengkapan mandi. Mbak Aira ada perlu sama saya?"
"Iya, saya
mau mengembalikan buku yang saya pinjam kemarin dari njenengan. Ini?" Aira
menyodorkan buku ke hadapan Muna.
"Cepat
sekali dikembalikan. Emang sudah habis dibaca, Mbak?"
"Em ...
sudah. Saya boleh ikut Ustadzah keluar?"
"Mau
ngapain Mbak?"
"Cari
jajanan."
"Lo, apa
nanti nggak kecarian sama Ustadz Hanif, Mbak?"
"Udah ijin
kok tadi."
"Oh,
yasudah. Ayok,” ajaknya bersemangat.
Aira mulai
memasang antena, ini saatnya mengulik masa lalu Hanif dan Muna. Perihal masa lalu,
Bukankah ini urusan enteng. Ia selalu menanyakan riwayat masa lalu pada
pasien-pasiennya. Meski yang ditanya bukan perihal cinta, melainkan riwayat
penyakit, obat-obatan, dan apapun menyangkut kesehatan.
"Ustadzah
sudah lama kenal sama suami saya?" tanya Aira tanpa menoleh. Keduanya
secara berbarengan melangkah keluar pagar. Menapaki trotoar sekitar tiga meter
untuk mencapai sebuah kios di seberang jalan.
Muna tersenyum,
"Kok tiba-tiba nanya Ustadz Hanif Mbak?"
Aira bergidik,
"Ah nggak, cuma pengen mengenal teman-temannya dulu aja ustadzah. Setau
saya, Mbakkan salah satu temannya?"
"Oh, iya
benar. Saya mengenal Mas Hanif itu udah lama Mbak, lebih dari lima tahun yang
lalu. Waktu itu dia sering main ke rumah di Surabaya. Ustadz Hanif itu, temanan
sama Abang saya ketika di Cairo." tukas Muna antusias.
"Oh gitu
...?"
“Ustadzah tahu
bagaimana suami saya dulu?”
Muna menoleh.
“Maksud Mbak?”
“Ya, kalau
tampang pasti nggak berubah ya, Utadzah? Yang saya ingin tahu, karakter, sifat,
ibadahnya juga akademisnya gitu, Ustadzah pasti tahukan?” jawab Aira sambil
tersenyum.
Muna ikut
tersenyum. “Sebenarnya ini bukan ranah saya ya, Mbak? Tapi saya kasih sedikit
bocoran deh ...,” Muna menarik napas sejenak, “yang tidak pernah berubah dari
sosok Ustadz Hanif adalah ketulusan dan tanggung jawab. Ia lelaki yang baik dan
taat ibadah, kalau akademis, yang saya tahu beliau dulu sempat gagal. Tapi saya
juga heran, tau-taunya sudah lulus S2 Mbak. Ustazd Hanif bahkan nggak ngabari
saya, untungnya Abang saya yang beri tahu?”
Muna menarik
napas panjang, mengingat hal yang membuatnya mempertimbangkan lamaran lelaki
itu dahulu. Dan hal itu pula yang membuat lelaki itu pergi kelain hati.
Aira
menggut-manggut mendengar cerita Ustadzah Muna. "Begitu, ya? Terus,
Ustadzah pernah dengar nggak kalau beliau suka mabuk-mabukan?"
"Astaghfirulloh
... Ustazd Hanif bersih dari perbuatan tercela begituan, Mbak."
"Hihihi
... saya bercanda, Ustadzah. Kalau soal wanita, Ustadzah tau nggak sebelum sama
saya, dia pernah taaruf sama siapa?"
Muna terhenyak
mendengar pertanyaan Aira, kelopak matanya terangkat dengan mulut sedikit
bergetar. Gadis itu lalu tersenyum dan menjawab, "saya tak tahu perihal
itu. Jika Mbaknya penasaran, sebaiknya ditanyakan langsung sama
tersangkanya."
Muna terkekeh
mengusir rasa sakit di dada, mengingat dirinyalah wanita yang pernah dikhitbah
Hanif. Aira yang tahu kejadian sebenarnya juga memaksakan diri ikut tersenyum.
Meski jauh di lubuk hati yang paling dalam, rasa cemburu berlipat-lipat ganda
menghujamnya. Ia tetap bersikap tenang.
Lebih tepat,
mereka berdua berusaha bersikap tenang.
Kedua tangan gadis itupun kini saling
bergandengan, saat langkah kaki teriring bersama menyeberangi jalan besar
menuju sebuah kios di depan pondok.
Usai
berbelanja, Aira dan Muna memesan dua coppucino dingin di kedai sebelah. Aira
cukup menikmati kebersamaan itu, sejenak terlupakan perihal surat cinta yang
begitu menganggu pikirannya sejak semalam. Ia benar-benar menyukai pribadi Muna
yang ceria dan pintar.
'Pantas saja
Mas Hanif suka.'
Hampir satu jam
mereka menghabiskan waktu di kedai itu. Tiba-tiba Muna seperti menangkap sosok
Hanif di pos satpam. Ia memicingkan mata untuk memastikan penglihatannya.
"Mbak, itu kayaknya Ustadz Hanif deh.
Pasti Ustazd, kecarian ini Mbak?" Suara Muna memecah keramaian dengan lalu
lalang kendaraan yang hendak menuju Mesjid, untuk pelaksanaan shalat Jumat.
Dari jarak yang
dibatasi dua sisi jalan itu, Aira dapat melihat sang suami yang terlihat
seperti orang kebingungan. Pandangan lelaki itu mengikuti kemana arah telunjuk
penjaga pesantren memberi kode. Sepertinya sedang menunjuk keberadaan mereka.
"Iya, itu
Mas Hanif. Kita balik yuk, Ustadzah?" ajak Aira.
"Oh iya,
kita pergi lupa waktu deh kayaknya. Pasti Ustadz Hanif cemas," ucap Muna
sembari terus menatap lelaki itu dari kejauhan.
Entah apa yang
tiba-tiba membelenggu pikiran Muna. Sesaat ia merasa begitu beruntung gadis di
hadapannya, baru hilang satu jam saja sudah dicariin kemana-mana.
"Andai
saja ia yang ada di posisi itu, Astahgfirullah ...," Muna membatin.
"Pak, ini
berapa? Hari ini saya yang traktir, oke!" ucap Muna sembari mengeluarkan
beberapa lembar uang di saku gamis hitamnya. Aira hanya tersenyum dan
mengucapkan terima kasih.
Muna
menggandeng tangan Aira, sambil terus mengobrol, mereka berjalan hendak
menyeberang jalan. Beda dengan beberapa saat tadi, kali ini jalanan tampak
sepi.
Tanpa
memastikan dengan baik, keduanya langsung melangkah. Terluput dari pandangan,
sebuah motor melaju dengan kencang dari arah yang sama.
Sementara itu,
dari kejauhan Hanif tersenyum saat akhirnya mendapati sang istri di seberang
jalan. Meski sedikit silau karena pantulan sinar matahari yang jatuh tepat di
atas atap sebuah kedai, namun Hanif masih dapat melihat sebuah motor
berkecepatan tinggi berjalan di sisi yang sama dengan istri juga Ustadzah Muna.
"Humairaaa?"
Hanif berteriak
dengan keras dan menunjuk ke sisi kiri, berharap Aira menyadari dan
menghentikan langkahnya, namun sia-sia. Kedua gadis itu keasyikan ngobrol.
Secepat kilat
motor itu menyambar keduanya. Tapi Hanif berhasil menyelamatkan salah satu
gadis. Ia dan gadis yang diselamatkannya terhunyung ke trotoar jalan. Sementara
satu gadis lainnya terpental sejauh tiga meter ke depan.
Dengan dada
yang berdebar dan napas yang terengah-engah, Hanif melepas rangkulannya.
Lelaki itu
dapat merasakan detak jantung yang berpacu pada gadis yang berhasil ia
selamatkan barusan. Dengan gemetar dan berlinang air mata gadis itu
menengadahkan wajah.
"Humaira,
kamu nggak papa?" Hanif yang masih belum seimbang penuh memandang sosok
yang kini ada di hadapannya.
"Astaghfirullah,
Muna?" Hanif tercengang, ia segera menjauhkan tubuhnya dari gadis itu.
Hanif baru menyadari jika yang ia selamatkan itu bukanlah istrinya, melainkan
gadis lain.
"Humairaaa
...."
Dengan gegabah
lelaki itu bangkit. Ia berlari dengan kaki gemetar. Hampir luruh seluruh
tulangnya melihat gadis yang sangat ingin ia selamatkan, tergeletak bersimbah
darah di atas jalanan.
"Lailahaillallah
.... " Hanif mengangkat tubuh Humaira yang sudah tak sadarkan diri. Air
matanya berderai dari kedua sudut mata.
Dari berbagai
sisi, warga sekitar mulai berdatangan. Hanif tak menghiraukan berbagai
tanggapan masyarakat, pikirannya kalut. Darah yang terus mengalir membasahi
telapak tangan, membuat napasnya tercekat.
Jantungnya
seakan benar-benar berhenti berdetak. Dengan gemeyar ia mengangkat tubuh sang
istri yang berlumuran darah.
"Bertahan,
istriku. Kita akan segera mencari pertolongan." Hanif mendesah dengan air
mata yang henti berderai di kedua pipi.
Gus Fatih
menekan pedal mobil, melaju secepat kilat membela
h jalanan kota
Kediri menuju rumah sakit umum. Di samping lelaki berjenggot tipis itu, duduk
Mang Baim, satpam pondok. Sementara di kursi belakang, Hanif masih merangkul
sang istri yang tak sadarkan diri.
Tangan kirinya
memegang jemari kiri Aira yang terkulai dengan beberapa goresan di siku,
merobek lengan gamis warna navy yang di kenakannya.
Sementara
tangan kanan Hanif, menekan bagian belakang kepala Aira yang terus saja
mengeluarkan darah. Serasa waktu berputar layaknya siput berjalan, meski jarum
barometer di angka 80/100 km/jam namun bagi Hanif mobil roda empat itu seakan
merangkak di atas jalan.
Subhanallah,
Subhanallah, Subhanallah, Hanif menggerakkan telunjuknya pada tiap garis di lima
jemari Aira untuk berzikir. Sesekali ia mengusap bulir embun yang lepas dari
kelopak mata.
Matanya tak
lepas dari menatap wajah sang istri dengan luka lecet di bagian sudut dahi,
hatinya membawa penyesalan teramat, mengapa begitu ceroboh hingga tak bisa
melindungi seseorang yang sangat ingin ia lindungi.
‘Humaira ....”
Hanif terus membatin, berharap istrinya bisa selamat dari musibah itu. Lama ia
memejamkan mata, menahan sekian banyak muara air yang terus ingin mengucur
dengan deras. Andai bisa, ia ingin dirinya saja yang ada di posisi Aira saat
ini.
Kurang dari
tiga puluh menit, mobil mewah range rover itu sampai di halaman rumah sakit.
Hanif mengangkat tubuh Aira dengan kedua tangan. Dengan sigap perawat
memberikan brankar agar tubuh berlumur darah itu dapat di baringkan untuk
dilakukan tindakan.
"Dok,
tolong selamatkan istri saya?" Hanif memohon pada seorang dokter muda
dengan name tag 'Reza'.
Ingin Hanif
mengeluh, kenapa banyak sekali nama Reza di dunia ini. Namun tentu itu tak
seberapa dibanding rasa cemasnya akan keselamatan sang istri.
"Berdoa
pada yang diatas Pak, Insha Allah kami akan melakukan yang terbaik," jawab
dokter itu yang sejurus kemudian menghilang di balik tirai berwarna hijau.
Hanif
meremas-remas jemarinya, jantungnya terus bertabuh semakin kencang. Tak ia
hiraukan ucapan Gus Fatih yang memintanya untuk tenang dan tidak mondar mandir
di depan UGD.
Lima menit
berselang, dokter muda yang tadi menangani Aira keluar. "Maaf Pak, ibu
mengalami luka parah di bagian kepala, kita harus segera melakukan operasi
untuk menutup luka dan menghentikan perdarahan. Satu lagi, tulang betis beliau
sebelah kanan patah, juga akan memerlukan tindakan operasi. Kami butuh
persetujuan suami untuk semua tindakan itu."
“Astaghfirullah
....” Hanif tercekat, kerongkongannya yang kering hampir tak mampu bersuara.
"La-lakukan yang terbaik Dok, secepatnya. Jangan biarkan darahnya terus
keluar hingga bisa berakibat fatal," jawab lelaki itu dengan suara
bergetar.
Ada tangis yang
semakin ingin berderai, menyadari musibah itu telah membuat istrinya mengalami
derita di seluruh tubuh.
Namun sebagai
seorang lelaki, ia harus kuat. Dan sebagai seorang yang beragama, ia harus
yakin bahwa Allah akan segera mengijabah doanya.
“Bertahanlah
istriku, Humaira, akan Mas gunakan seluruh hidup Mas untuk menjagamu. Meskipun
harus tiap saat memapahmu kemanapun kau ingin pergi ...." Hanif terus
berharap sambil tak henti menyebut kebesaran dan kemurahan sang Illahi.
*HUMAIRAH*
_Part_16_
*"Hiduplah Untukku"*
"Siapapun
boleh berencana, tapi Allah sebaik-baik
pembuat rencana."
Rombongan Bu
Nyai Bad sampai di rumah sakit. Muna ada dalam rombongan itu. Ia masih setengah
sadar, rasanya tak begitu menapaki dunia. Peristiwa yang menimpanya dan Aira
tadi seakan bagai mimpi buruk di siang hari.
Rasa bersalah
seakan menggerogoti jiwa, ketika ia sadar bahwa yang seharusnya ada di posisi
Aira adalah dirinya. Jika saja dia tidak mengelak, atau menukar posisinya dan
Aira saat kecelakaan itu terjadi.
Kejadiannya
begitu cepat. Muna yang berdiri di sebelah kanan Aira, terlebih dahulu
mengetahui ada motor berkecepatan tinggi yang datang dari sisi kanan mereka. Ia
ingin menyelamatkan diri dengan cara berbalik ke sisi trotoar. Tapi gerakannya
justru membuat tubuh Aira yang masih dalam posisi melangkah terseret hingga
hampir terjatuh.
Gadis itu
kehilangan keseimbangan, dan ketika ia menyadari ada motor dengan jarak yang
sangat dekat dengannya. Tentu Aira tak siap menghindar, hingga motor tak
terkendali itu langsung menghantam keras tubuhnya.
"Astaghfirullah
... Mas Hanif bukan ingin menyelamatkanku, tapi Mbak Aira." Kejadian
tabrakan itu terus berputar ulang di memorinya. Muna merasa dadanya begitu
perih mengingat kejadian tersebut.
Sedikit
berjingkat, ia menahan pinggangnya yang sakit akibat terhantam pinggiran jalan.
Muna terus menyeimbangkan jalan Bu nyai Bad dan beberapa ustadzah lain yang
ikut ke rumah sakit.
Mereka sampai
di depan ruang operasi, di tempat itu Gus Fatih dan Mang Baim masih menanti.
"Ustadz
Hanif kemana?" tanya Bu Nyai Bad khawatir.
"Punten,
beliau ke mushallah Bu Nyai, mau shalat sunat katanya nyambi doa." Mang
Baim menjawab dengan aura wajah pucat.
Sudah hampir
satu jam Aira di dalam ruangan operasi, namun tak ada satupun yang keluar untuk
sekadar memberitahu kondisinya seperti apa.
"Tiba-tiba,
pintu yang tadi tertutup rapat tergerak. Seorang lelaki mengenakan pakaian
berwarna hijau keluar. Ia melepas masker yang menutupi wajahnya.
Semua yang ada
di lorong yang tampak lengang dari para pengunjung itu langsung berhamburan
mendekati sang lelaki.
"Bagaimana
keadaan Humaira, dok?" tanya Bu Nyai.
"Operasi
sudah selesai, tapi Ibu Humaira belum sadarkan diri. Selama satu jam ke depan,
kami akan memonitor keadaan umumnya, sebelum kami pindahkan beliau ke ruang
ICU. Dan satu lagi, pasien juga mengalami kehilangan banyak darah, jadi beliau
sangat memerlukan donor darah?" jawab lelaki itu lemah.
"Saya siap
mendonorkan darah saya dok, golongan darah saya O?" sanggah Muna seketika.
"Iya.
Tapi, Ibu Humaira memiliki golongan darah yang unik dan sangat langka. Bahkan
di rumah sakit inipun tak tersedia pasokan darahnya."
"Golongan
darahnya apa, Dok?" tanya Bu Nyai.
"Beliau
memiliki golongan darah AB(-). Silahkan jika ibu-ibu sekalian mau bantu
mencarikannya, lebih cepat lebih baik."
Rasanya seperti
menelan pil pahit, kenyataan yang disampaikan dokter itu, tak membawa banyak
kebahagiaan. Justru, semakin membuat hati siapa saja yang ada di tempat itu
cemas dan berduka.
"Baik dok,
tapi tolong dari pihak rumah sakit juga dibantu carikan?"
"Insya
Allah."
Semua saling
berpandangan. "Apa sebaiknya saya panggil Ustadz Hanif, Ummah?" tanya
Gus Fatih.
"Biarkan
saja dulu. Ummah akan coba menghubungi beberapa kerabat, siapa tahu ada yang
bisa membantu." timpal Bu Nyai sambil menyeka sebulir air yang ikut
menetas di pipi.
Ruangan kecil
yang lantainya dialaskan karpet beranyamkan pintu masjid itu tampak sepi, hanya
sesosok lelaki yang tampak tengah larut dalam munajat. Di sujud terakhirnya, ia
tak dapat lagi membendung tangis, hanya kepada-Nyalah ia selalu mengaduh.
Kejadian hari
ini, ia begitu menyesali tindakannya.
Mestinya, Humairalah yang ingin ia tolong, bukan Muna. Tetapi,
kenapa gadis itu yang ada dalam rangkulannya?
Berbagai
penyesalan kembali menghujam jiwanya, ia sadar beberapa waktu lalu, akalnya sempat goyah akan penikahan yang
sudah terjadi, tentu karena kehadiran Muna.
Namun, ia tak dapat menutupi,
rasa cinta yang hadir setelah melalui semalam s
aja bersama
Humaira.
Perkataan
seorang bijak bestari seakan dibisik di telinga Hanif, "Jika aku ingin
membuatmu jatuh cinta, maka aku harus bisa membuatmu tersenyum. Tapi mengapa,
tiap kali kau tersenyum, justru aku yang semakin jatuh cinta."
'Allah, inilah
yang aku rasakan setelah menikahi Humaira, aku mencintai istriku. Selamatkanlah
ia Rabb....'
*
Suasana koridor
di depan ruang operasi masih begitu menegangkan. Semua tak bisa duduk tenang
sebelum melihat Aira dikeluarkan dari ruangan pembedahan itu.
Sembari menanti
satu jam lagi yang dijanjikan dokter, Bu Nyai terus saja mencoba menghubungi
beberapa kerabat. Namun, belum ada satupun yang bisa memberi kabar
membahagiakan.
Sementara itu,
di atas kursi tunggu, Muna tampak tergugu. Mulut dan hatinya terus saja meminta
kesembuhan atas musibah yang menimpa Aira.
Tiba-tiba,
sesuatu terasa bergetar dari dalam tas yang ia sandang. Secepat kilat ia
mencari sumber getaran itu.
"Ummah?"
Lirihnya. Gadis itu segera menggeser layar berwarna biru itu ke arah kanan.
"Assalamualakum
Ummah ..."
"Waalaikum
salam. Una, kenapa belum sampai rumah? Jadi tak pulang hari ini, jangan sampai
janji-janji terus lo, Un? Ummah nggak enak sama Mbak Elsa ...."
Muna menggigit
bibir. "Ummah, ngapunten. Una tak bisa pulang hari ini. Sekarang Una
sedang di rumah sakit, ada teman satu pondok yang kecelakaan?" kilahnya
meski dengan ragu-ragu. Ia tahu pasti Ummahnya akan sangat kecewa.
"Kadhospundi
iki? Sinten yang kecelakaan to?"
"Istrinya
Ustadz Hanif Ummah?"
"Niku,
Mbak Aira? Innalillah ... Yasudah, nanti Ummah sampaikan sama Nak Reza, mudah-mudahan
ia tidak tersinggung kamu selalu saja berhalangan untuk bertemu?"
"Inggih
Ummah ....nyuwun pandungo Ummah untuk kesembuhan Mbak Aira?"
"Nggih,
Assalamualaikum.
"Waalaikum
salam."
Hanya selembar
foto yang pernah diberikan Ummah padanya. Menurut Muna, lelaki yang bernama
Reza itu memang cukup berkharisma, namun sekilas lalu tak begitu membuat hati
Muna tertarik.
Tapi ia
yakinkan diri bahwa hal itu sebab mereka belum bertemu. Barangkali setelah
proses taaruf nanti, ia bisa meyakinkan hati terutama untuk berhenti memikirkan
lelaki yang mulai kembali membawa lari kewarasannya.
*
Reza
tercengang. Berita barusan yang disampaikan Elsa membuat darahnya seakan
berhenti mengalir. Tanpa pikir panjang, ia membanting setir, membelah jalanan
menuju ke kota Kediri.
"Titip
Abhi, Mbak?"
Elsa
mendengkus. "Za, harusnya kamu jangan ikut campur lagi ...."
Lelaki itu tak
ingin mengubris, ia terus melajukan mobil dengan cepat. Pikirannya benar-benar
dipenuhi rasa takut. Ia bahkan lupa jika hari itu hari Jumat, dan terpaksa
berhenti di salah satu Mesjid di pinggiran jalan saat di tengah perjalanan.
Meski sedikit
tak khusuk, ia sabar menanti hingga pelaksanaan shalat selesai, baru kemudian
melanjutkan kembali perjalanannya.
Reza mendesah
panjang. "Gadis itu benar-benar payah! Menyeberang jalan saja bahkan ia
tak bisa!"
Matanya
menerawang jauh, tak jelas apa yang ia lihat. Di benak terus saja berkelebat
wajah Humaira.
Tak sabar ingin
segera sampai, Reza melajukan mobil bagai terbang di atas angin. Kurang dari empat
jam, kendaraan beroda empat itu telah sampai di halaman rumah sakit.
Reza berjalan
ke bagian resepsionis terlebih dahulu.
Setelah
mengetahui ruangan dimana Aira dirawat, segera lelaki itu melangkahkan kaki
dengan pasti. Satu hal yang tak dapat ditutupi meski wajahnya tampak bercahaya
karena wudhu yang belum sempurna kering, rasa cemas hingga kerutan diantara
alis tak sirna menyambangi wajah.
"Ya Allah,
aku memang jarang meminta pada-Mu. Namun, kali ini aku datang, menengadahkan
tangan, memohon pada-Mu. Sembuhkanlah ia, wanita yang tak kau takdirkan
bersamaku. Berilah ia kehidupan, meski tak hidup bersamaku. Beri ia
kebahagiaan, meski itu bersama orang lain. Aku tak mengapa. Sebab, aku
mencintainya karena-Mu. Terimalah taubatku, ya Rabb ....?"
Isi doanya tadi
sehabis shalat Ashar seakan masih berdengung di telinga. Mulutnya tampak
komat-kamit mengulang doa itu.
Bukankah
semakin sering berdoa, maka kesempatan untuk dikabulkan juga le
bih besar? Reza
ingin terus berdoa, hanya itu yang ia bisa. Setidaknya berhenti jika ia telah
melihat sendiri senyuman di wajah Aira.
Lelaki itu
mempercepat langkah menuju ruang ICU. Sesuai petunjuk yang disampaikan seorang
perawat dI bagian resepsionist tadi.
Ia hendak
masuk, namun langkah dibetot kuat saat mendapati Hanif duduk sembari
menggenggam jemari tangan Humaira. Sebuah yasin kecil ada di jemarinya yang
lain. Lelaki itu sesekali mengelus puncak kepala Aira yang berbalut hijab
seadanya.
Kelopak mata
Reza terasa berat, dadanya perih melihat pemandangan itu. Ia berbalik keluar
ruangan. Namun terhenyak saat membuka pintu, ternyata seorang gadis hampir saja
bertabrakan dengannya.
Gadis yang
hendak dijodohkan dengan dirinya oleh sang kakak.
Muna
mengernyitkan dahi, seperti sedang berpikir dimana kiranya pernah bertemu
dengan lelaki yang kini ada di hadapan.
"Kang
Reza?" ucapnya kemudian.
Reza menghela
napas berat, tak menyangka gadis itu bisa menebak namanya.
"Iya,
saya," jawab Reza santai.
"Ummah
nggak bilang jika saya tak bisa bertemu hari ini?"
"Owh, saya
kemari ingin melihat seseorang yang lain."
"Siapa?
Kamu kenal dengan Mbak Humaira?" Muna mendelik, sedikit terkejut mendengar
jawaban Reza.
"Kenapa
bisa begini? Apa yang menyebabkannya seperti ini?" Reza justru menanyakan
kabar Humaira, tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan Muna.
Muna memilih
duduk di kursi panjang di sisi koridor. "Jadi benar, kamu kemari karena
ingin tahu keadaan Mbak Humaira? Apa kalian saudara? Atau jangan-jangan?"
Muna
menghentikan ucapannya sambil menatap Reza.
"Jangan
berpikir macam-macam. Kami hanya berteman. Sekarang tolong katakan kenapa dia
bisa seperti ini?"jawab Reza sebisanya menenangkan diri.
'Teman? Jika
teman, kenapa sampai bela-belain kemari
jauh-jauh dari Kediri?' Muna bertanya pada diri sendiri. Gadis itu yakin, bahwa
raut wajah yang begitu cemas seakan menjadi juru bicara yang mewakili, bahwa
hubungan mereka lebih dari sekadar teman.
Tapi Muna
berusaha tetap bersikap tenang.
"Ummah
bilang kamu mau mencoba taaruf dengan saya?" Muna tak menjawab pertanyaan
Reza, justru memberi pertanyaan yang hendak mengulik tanya di benaknya.
"Bukankah
kamu tidak bisa bertemu denganku hari ini?" jawab Reza. "Anggap saja
ini bukan aku. Sekarang tolong jelaskan, kenapa Aira bisa kecelakaan?"
Muna
mengernyitkan dahi. Kesal dan kecewa, bukan memberi jawaban yang menyenangkan,
justru terus menanyakan Humaira.
“Baiklahh, jika
kang Reza benar-benar ingin tahu ....”
Muna mulai
menceritakan perihal kecelakaan itu. Air mata gadis itu menyembul saat ia
menutup percakapannya. Sementara di sisi lain, Reza Hanya bisa menghela napas,
ia benar-benar tak bisa berkata apapun mendengar pengakuan Muna.
"Terima
kasih, aku akan pergi."
"Tunggu!
Apa setelah ini, kamu masih ingin melanjutkan taarufnya?”
Sejujurnya Muna
tak ingin menanyakan hal itu, tentu buatnya ini perkara yang sangat memalukan.
Hanya saja, meski sebesar kerikil, harapan bisa bersanding bersama lelaki
berlesung pipi itu mulai tumbuh tanpa diminta.
"Jika
Allah berkehendak!" jawab Reza datar.
Muna terduduk
lemas. Entah mengapa setelah Hanif, ia merasa akan mengalami kejadian yang
sama. Kehilangan kesempatan bersama Reza.
*HUMAIRAH*
_Part_17_
*"Berhenti Berdusta"*
"Ia pergi
lagi?” lirihnya sangat pelan. Selepas kepergian Hanif, air mata Humaira kembali
berderai. ‘Kalau rindu kenapa pergi?"
Humairah.
"Kondisi
Ibu Humaira masih belum stabil. Saya harap tidak ada satu perihalpun yang
mengingatkannya pada kecelakaan kemarin. Sepertinya, beliau mengalami trauma
psikologis.”
Perkataan
dokter tadi terus terngiang di benak Hanif. Lelaki itu merasa amat bersalah,
dan yakin semua ini karena Humaira tak terima atas kejadian kemarin.
Jika bisa,
Hanif ingin mengutuk kecerobohann itu. ‘Bagaimana jika Humaira benar-benar tak
mau memaafkanku? Astaghfirullah ....’
“Dok, tolong
urus semua persiapan kepindahan rumah sakit. Saya akan membawa anak saya ke
Tangerang. Biar Humaira mendapatkan pengobatan terbaik di sana,” ucap seorang
wanita yang tak lain adalah ibunda Aira.
Begitu
mendengar kabar kecelakaan yang menimpa sang anak, wanita itu langsung
berangkat menuju Kediri. Ia sangat menyayangkan kecelakaan yang menimpa
putrinya, meski dalam hati ia tetap meyakini bahwa semua itu adalah musibah.
Hanif
terlonjak.
“Kenapa
dipindahkan, Bu? Kondisi Aira ‘kan belum stabil?” tanyanya bingung. Dokter
setengah baya yang menangani Humairapun ikut berpendapat.
“Benar, Bu. Bu
Aira sudah melewati masa kritis, hanya saja masih belum stabil. Saya rasa
beliau hanya butuh ketenangan. Sabar, Bu,” ucapnya menenangkan.
“Oke! Tapi
setelah ia stabil, saya tetap akan memindahkannya ke Tangerang.” Ibunda Aira
tetap pada prinsipnya.
Hanif hanya
mampu menghela napas. Ia tak ingin berdebat dan memperkeruh situasi yang sulit
itu.Yakinnya pada diri sendiri, kemanapun Aira pergi, ia akan ikut.
*
Mata elang itu masih
terpejam, di sisi kiri Elsa duduk sembari merangkul Abhi. Di sampingnya, Muna
duduk dengan raut wajah cemas. Menurut dokter Reza sudah sadar, tak lama
setelah pingsan itu terjadi tiba-tiba. Tapi tubuhnya masih lemah, sehingga
matanya masih saja terpejam.
"Maaf ya
merepotkanmu? Harusnya pertemuan ini bukan begini?" Suara Elsa terdengar
memecah keheningan.
"Kakak
jangan sungkan, semua ini juga salah Muna. Jika Muna tak menceritakan kondisi
Mbak Humaira yang membutuhkan donor darah, tentu Kang Reza tak sampai
begini?"
"Tidak,
bukan salah Njenengan. Memang Rezanya saja yang bandel. Ora dengar ta yang
dibilang. Biar aja dia rasain gimana sakitnya kehilangan darah!" jawab
Elsa kesal.
Ia sengaja
menaikkan intonasi saat berucap karena dirinya yakin bahwa sang adik sudah
sadar dan bisa mendengar ucapannya.
Elsa meliirik
kembali sang adik dengan tatapan penuh iba. Kemudian mengalihkan pandangan
menatap Muna.
Elsa merasa
sangat berterima kasih karena Muna telah membantu proses rawatan Reza yang
pingsan tiba-tiba di koridor rumah sakit. Juga Muna pula yang telah memberitahu
padanya tentang kejadian naas yang menimpa sang adik.
"Mbak
antar kamu pulang, ya? Sudah hampir pukul sembilan malam, nanti kamu malah
terlambat tiba di asrama?"
"Em ...
baik, Mbak?" Muna mengikuti langkah wanita cantik di hadapannya. Sementara
Reza, masih terpejam dengan ditemankan oleh Bang Ipan, suami Elsa.
Selepas
kepergian dua wanita itu, Reza membuka mata.
"Pura-pura
tidur rupanya, kakakmu sangat mengkhawatirkanmu?" Lelaki jangkung yang
tengah membuka koran itu menghentikan kegiatannya. Reza masih bergeming.
"Apa kau
masih mengharapkan perempuan itu?"
Sedikit
terkejut, Reza berusaha mendelik, "aku menolongnya tanpa pamrih."
"Jika itu
tujuanmu, Mas senang mendengarnya. Reza, kamu tahu, jika Allah menghendaki
suatu kebaikan kenapa hambanya di dunia, maka ia akan memberi hamba tersebut
ujian atau cobaan?”
Reza menglihkan
pandangannya, menyimak.
“Makanya kadang
kala untuk mencapai sesuatu yang istimewa, kita kerap kali berdarah-darah
terlebih dahulu. Semua karena Allah ingin menguji tingkat kesabaran dan
keridhaan kita akan ketetapannya. Barangsiapa yang jika diberi ujian ia tetap
ridha , maka Allahpun akan cepat meridhainya ketika ia meminta keridhaan-Nya.”
"Sebut
saja, Siti Khadijah, Ummul Mukminin, sebelum Allah pertemukan beliau dengan
manusia paling sempurna Baginda Nab
i SAW. Beliau
Allah coba dengan mengambil dua kali suami yang amat dicintai. Maksudnya tidak
lain, kecuali karena Allah ingin menguji kesabarannya, dan seberapa layak ia
untuk mendapatkan yang terbaik. Begitu juga dengan takdir jodohmu, engkau
disakiti, ditikung orang lain, tapi jika kamu ridha dan menganggap ini semua
adalah kehendak Allah yang tak dapat dielak, maka Allahpun ridha denganmu.
Yakinlah, bahwa lambat laun kau akan diberi kebaikan atas ujian ini."
Reza menghela
napas panjang, apa yang disampaikan lelaki di hadapannya itu semua ada
benarnya.
"Mengenai
kakakmu yang begitu giat menjodohkanmu, Mas tahu, dia melakukannya karena tak
ingin kau terus terluka. Juga ia sangat memikirkan nasib Abhi. Menurutnya, Muna
adalah gadis baik, agamanya kuat, lulusan pesantren, dia tidak akan melakukan
kesalahan seperti yang pernah dilakukan Salsa padamu, juga bisa menjadi ibu
yang baik untuk Abhi. Namun, jika kamu tak menyukai gadis itu, tak mengapa jika
kau tolak rencana kakakmu."
Reza kembali
melirik abang iparnya itu. Lelaki itu begitu bijaksana, sedikit banyak apa yang
diucapkan bisa membuat hati Reza tenang.
"Carilah
yang sesuai dengan keinginanmu, tanpa mengabaikan Abhi. Tapi kau harus tahu,
Elsa tak mungkin selamanya bersama kalian, dia istriku. Aku juga
membutuhkannya. Sekarang istirahatlah, Mas mau ke Mushalla sebentar."
Mendengar
nasihat panjang lebar yang disampaikan Ipan, Reza sedikit merasa perasaannya
jauh lebih baik. Ia memang tak pernah melawan, apapun takdir yang menerpanya.
Hanya saja, kadang sesuatu berbisik di benaknya, kenapa saat belajar ikhlas
justru Allah buka jalan agar kembali terjerat.
Pertemuan di
Kediri, kebutuhan darah Aira yang kebetulan hanya dirinya yang bisa membantu,
bukankah tak ada satupun yang terjadi di dunia, melainkan atas kehendak-Mu ya
Allah? Lalu apa arti semua ini? Apa kau ingin meyakinkanku bahwa, hanya ia
jodoh yang kelak akan bersamaku?
Pertanyaan itu
muncul tanpa bisa dihentikan Reza. "Apa ini hanya tentang waktu dan
kesabaran ya, Allah? Aku akan menanti. Bukankah takdir itu milik-Mu, dan Engkau
pula yang bisa merubah takdir hanya dengan doa? Maka kabulkanlah doaku ya
Allah, berilah jodoh terbaik untukku ..."
***
Tepat pukul
satu malam, Aira kembali membukakan mata. Kali ini ia terlihat lebih tenang,
terutama setelah mendapati sang ibu ada bersamanya. Pikiran tersingkirkan yang
mulai tertanam dibenak karena kecelakaan kemarin, mulai menemukan pegangan.
Aira menyisir
seluruh ruangan, di tempat itu hanya ada ia dan ibunya. ‘Kemana Mas Hanif?’
Dengan sedikit
kepayahan, Aira berusaha membangunkan ibundanya yang terbaring di pinggir
ranjang.
“Bu ....”
Wanita yang
dipanggil itupun terlonjak kaget.
“Alhamdulillah ... kamu sudah siuman Aira? Ibu
beritahu dokter dulu ya, Nak?”
Aira
mengangguk, belum mampu berbicara banyak. Tak lama, ibundanya kembali bersama
seorang dokter juga beberapa perawat. Setelah memastikan kondisi pasiennya
benar-benar stabil, dokter itupun pamit keluar.
Sekian detik
hening, Aira yang sudah mulai kembali kekuatannya memberanikan diri bertanya
pada sang ibu, perihal sang suami yang tak kelihatan batang hidungnya.
“Mas Hanif
kemana, Bu?”
“Oh, tadi ia
permisi ke Mushalla. Kamu mau ibu telpon memberitahu keadaanmu?”
Aira
menggeleng. Melihat reaksi itu, muncul tanya di benak ibunda Aira, “mungkinkah
mereka bersiteru?”
Namun ibunda
Aira membungkam mulutnya, tak ingin bertanya apapun mengenai kecelakaan
kemarin. Seperti titah dokter, jangan ada satupun yang mengingatkan Aira pada
kecelakaan itu.
Aira kembali
memperhatikan sekujur tubuhnya, goresan di sana sini, dengan selang infus
berisi darah terpasang di punggung
tangan.
Tiba-tiba,
jantungnya berdegup sedikit lebih cepat saat melihat tetesan darah di kantong
itu jatuh ke selang yang tersambung ke tangannya. Ah, mungkin hanya
halusinasinya.
Ia seperti
merasa telah kedatangan tamu tak diundang, “Mas Reza, mungkinkah?
"Astaghfirullah
....!”
Aira menepis
pikiran yang dapat melambungkannya ke lembah penuh dosa.
Detik kemudian,
ia merasa kakinya begitu letih. Ingin ia
gerakkan sekadar mengusir
kekakuan, namun
kenapa terasa begitu sulit.
“Kenapa kaki
Aira, Bu?” Akhirnya keluar pertanyaan dari bibir gadis itu.
Wanita yang
ditanya itupun terlonjak dan memilih diam sejenak, memikirkan cara menjawab
yang paling baik hingga tak melukai perasaan putrinya.
“Tulang betismu
ada yang patah, tapi tidak terlalu berbahaya kok?” jawabnya jujur tak ingin
berbohong.
Aira menghela
napas, sebagai tenaga kesehatan ia tahu betul kemana arah pengobatan akan
tulang kakinya itu. Pasti operasi. Aira tak lagi memperpanjang pertanyaan.
“Istirahatlah
dulu, jangan banyak berpikir. Kondisimu masih belum pulih sempurna.”
Ibunda Aira mencoba menasehati gadis itu.
Aira mengangguk
paham, mencoba memejamkan mata meski bola kecoklatan itu meminta untuk tetap
terbuka. Sesaat bayangan Hanif, Reza dan Muna kembali terbesit di memori
kepala.
‘Apakah kita
saling tertukar jodoh?’ batin Aira meracau. Karena terlalu asyik berpikir, gadis
itu tak menyadari jika jam di dinding sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Ia
melirik ibunya yang nampak terlelap di atas sofa. Sementara dirinya, jangankan
untuk tidur, memejamkan mata saja ia tak bisa.
Tiba-tiba,
derit pintu kamar terbuka membuat pandangan Aira teralih. ‘Mungkinkah itu Mas
Hanif?’
*
Lelaki
berkopiah hitam masuk ke ruangan tempat Aira di rawat. Hanif melirik seluruh
ruangan, ibu mertua sudah tertidur pulas, sementara sang istri juga masih
memejamkan mata. dengan sungkan, ia berjalan mendekat.
Wajahnya yang
lusuh, matanya yang kuyu, menyiratkan betapa resahnya ia seharian ini. Tapi
demi sang istri, Hanif tak ingin terpejam. Hanya sujud panjang dan doa tak
henti yang mampu ia lakukan, agar Allah segera membukakan mata istrinya.
“Sayang,
Humaira? Bangunlah? Mas rindu ....”
Ia membelai
lembut hijab sang istri sambil mengecup kening gadis itu. Lama ia menatap
Humaira dengan tatapan yang begitu menyiratkan penyesalan.
Aira tak
bergeming dengan mata yang masih tertutup, ia tak ingin menangis di hadapan
lelaki itu. Tak berapa lama, Hanif kembali bangkit, langkahnya yang gontai
bergerak mendekati pintu. Aira membuka sedikit kelopak mata, namun yang ia
dapati, Hanif kembali keluar dari ruangan itu.
“Ia pergi
lagi?” lirihnya sangat pelan. Selepas kepergian Hanif, air mata Humaira kembali
berderai. ‘Kalau rindu kenapa pergi?’
Sementara di
luar, Hanif menyandarkan diri pada dinding kamar. Sebulir kristal lolos dari
pelupuk mata. ia berusaha sekuat tenaga menahan agar buliran itu tidak menetas
kala bersama sang istri.
“Inni Qaribun.
Engkau dekat dengan hamba-Mu ya Rabb. Hanya kepada-Mu hamba bersandar, maka
bukankanlah pintu maaf di hatinya untuk hamba?”
*
Pagi ini tampak
begitu cerah. Rona kekuningan memancar tegas menerpa gedung-gedung, kendaraan
yang lalu lalang, hingga celah-celah dedaunan yang bergerak pias. Kondisi
Humaira semakin membaik. Entah pukul berapa ia tertidur semalam, ketika sadar,
matahari sudah menembus tirai penutup jendela.
Matanya yang
telah terbuka liar membidik, mencari seseorang yang semalam sempat singgah
menjenguk. Namun, tak ada siapapun di ruangan itu keculi dirinya.
Matanya yang
tertunduk lesu seketika terlonjak, saat pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka.
Sang suami muncul dengan sebuah baskom kecil dan handuk tipis di tangan.
Seperti ada
yang menghentak tubuhnya, seketika bagian yang berdegup di tubuh Aira berpacu
kencang. Perpaduan antara bahagia dan kecewa. Aira tak tahu bagaimana
melampiaskan dua rasa itu.
"Curang,
kamu nggak memberitahu Mas sudah sadar sejak semalam,” tegurnya sambil
mengambil posisi di sebelah sang istri. Gadis itu hanya menunduk.
“Sekarang sudah
lebih baik ‘kan?” tanyanya lagi. Aira masih bergeming. Menyadari hal itu, Hanif
tak menyerah.
“Mas, bantu
kamu nyeka badan, ya. Tadi ada suster yang nyuruh Mas untuk menyeka
tubuhmu?" Sedikit gugup Hanif mencoba mengucapkan kalimat ‘seka’ dengan
lantang.
Aira yang masih berbaring hanya menoleh, lalu
berusaha menopang tangan untuk bangkit ke posisi duduk.
“Biar Mas
bantu.” Cepat Hanif membantu sang istri agar bisa duduk dengan bersandar pada
kepala bed.
"Makasih
Mas."
Hanif menaikka
n lengan baju
gadis itu, tapi Aira berusaha menarik.
“Aira?”
sebutnya sambil menatap lekat manik kecoklatan yang kini juga tengah membidik
netra kelamnya.
“Aira bisa
sendiri, Mas?” Gadis itu meraih handuk dari tangan Hanif. Namun, Hanif menahan
dengan kuat.
“Biar Aira
lakukan sendiri, Mas?”
“Nggak, Mas
yang seka!”
Aira menghela
napas, belum pernah ia lihat Hanif sedemikian kekeuhnya. Perlahan genggaman tangannya
pada handuk putih itu mengendur. Hanif segera mengambil alih tugas yang semula
ingin ia lakukan sendiri.
Kelembutan
Hanif saat menyeka kedua tangan dan kaki Aira, meluruhkan amarah yang sempat
membuncah di dada. Pandangan gadis itu kini tertuju pada kedua lengan kokok
milik suaminya. Ada yang kembali berdesir di dada mengingat lengan itulah yang
telah mendekap Muna saat kejadian kecelakaan kemarin.
Ia kembali
merasa ada yang menggantung di pelupuk mata. ternyata kebaikan Hanif, tak mampu
menghilangkan rasa kecewa yang kadung membekas.
Aira memilih
kembali menunduk. Saat Hanif selesai menyekapun, tak ada satu kata yang keluar
dari mulutnya.
‘Sedemikian
kokohkah benteng ego dalam dirinya?’ Hanif hanya mampu bertanya dalam hening.
Berharap Aira segera melunak, dan mau memaafkan kecerobohannya kemarin.
*HUMAIRAH*
_Part_18_
*"Terbongkarnya Rahasia Reza"*
‘Sekuat apapun
kamu berusaha menutup kebaikanmu, jika Allah berkehendak, aku pasti akan tahu.’
Setelah selesai
menyeka tubuh sang istri, Hanif pamit untuk menebus obat ke apotik.
Sementara
ibundanya belum juga kembali dari menjenguk salah satu kerabat yang juga
dirawat di rumah sakit itu. Aira memutuskan untuk membaringkan tubuhnya kembali
ke ranjang.
Lelah fisik
juga psikolgis, rasanya setelah pernikahan berlangsung, kehidupan bukan semakin
membaik, justru bertambah banyak cobaan yang datang mendera.
Tiba-tiba,
ketukan pintu menggagalkan kelopak mata Aira untuk tertutup.
"Assalamualaikum,"
Terdengar suara seorang perempuan dari balik pintu.
"Waalaikum
salam. Silakan masuk," jawab Aira singkat.
Aira
benar-benar terhenyak, saat tahu siapa yang datang menjenguk. "Kak
Elsa?"
Gadis itu
tercegang mendapatkan Elsa berdiri dengan raut wajah lega. Sedetik kemudian
wanita itu tersenyum hangat.
"Mbak Elsa
disini?" tanya Aira kembali.
"Iya,
senang bisa ketemu kamu.”
“Ayo masuk,
Mbak. Ini menyengaja atau bagaimana?”
“Em ...
sebenarnya Mbak sedang mengunjungi saudara yang sakit, tetapi semalam sempat
ketemu sama Muna. Dia bilang kamu dirawat juga di rumah sakit ini. Maaf baru
bisa menjenguk, kamu sudah baikan?" tanya Elsa yang sudah mengambil posisi
di sebelah Aira.
"Alhamdulillah
sudah Mbak, tapi tulang betis Aira patah,
jadi kemungkinan bisa jalannya masih lama. Mari duduk, Mbak?" Aira
mengarahkan tangannya ke sebuah sofa.
“Syafakillah.
Semoga lekas sembuh ya, dek, semua musibah.”
"Iya Mbak,
makasih. Ohya, Mbak Elsa kenal sama Ustadzah Muna?" delik Aira detik
selanjutnya.
"Sangat
kenal."
Kedua alis
gadis itu saling terpaut, berbagai pertanyaan kembali tercatat di benaknya.
Namun dari sekian banyak tanya, ada satu yang begitu mendominasi, mengalahkan
pertanyaan-pertanyaan lain yang juga begitu ingin ditanyakan.
"Mbak
kemari sendirian?"
"Oh,
nggak. Mbak sama Bang Ipan, suami. Reza tau kamu dirawat?" Iseng, Elsa
mencoba menyebut nama Reza di hadapan gadis itu.
Mata indah Aira
segera menyorot tajam. Inilah yang ingin ia tahu, apakah Reza juga ikut ke
rumah sakit itu. Sebab, semenjak sadar, hati Aira merasa kalau lelaki itu
pernah menjenguknya.
"Sepertinya
Mas Reza nggak tahu, Mbak." Ragu, gadis itu mencoba mengutarakan apa yang
terlihat bukan apa yang dirasa.
"Apa boleh
Mbak memberitahukannya?"
"Sebaiknya
jangan, Mbak. Aira juga udah baikan," jawabnya lirih. Aira tidak bisa
membayangkan bagaimana jika lelaki itu tahu ia seperti ini, apakah uluran
tangan atau malah merentangkan kedua tangan, dan membiarkan hati yang rapuh ini
bersandar di dadanya?
Sementara
kenyataan sekarang, dirinya adalah istri orang lain. Tak peduli orang itu mencintai
sepenuh jiwa atau tidak. Yang Aira tahu, ia harus mengabdi, mengunci hati
sekuat daya agar tak terjerat sesuatu apapun. Aira hanya tidak ingin merusak
janji suci yang sudah diikrarkan di hadapan Allah.
Elsa melihat
Aira menyeka matanya diam-diam. Ia hanya bisa mengurut-urut dada. Wanita itu
mulai yakin, bahwa bukan saja adiknya yang terluka karena pernikahan Aira,
lebih dari itu, gadis ini pula sama terlukanya.
Tapi inilah
takdir yang harus diterima dengan lapang dada, jika tidak maka seumur hidup hanya
ada kekecewaan yang dirasa.
Beberapa waktu,
keduanya diselimut keheningan. Sebelum akhirnya Aira membuka kembali
pertanyaan, mencoba menyisir kekakuan yang tiba-tiba tercipta.
"Mbak sama
Ustadzah Muna, bagaimana bisa kenal dekat? Aira boleh tahu?"
Elsa mencoba
tersenyum, meski hati kadung perih dengan segala kenyataan yang mulai
tersingkap.
"Sebenarnya
selain mengunjungi saudara yang sakit, bertemu Muna adalah alasan lain Mbak dan
Reza kemari. Tapi semua rencana berubah karena tiba-tiba Muna membatalkan
pertemuan kami."
"Pertemuan?"
Elsa menarik
napas panjang, dalam hati ia berharap kali ini bicaranya tidak asal dan
keterlaluan. Ia hanya berharap Aira dan Reza, keduanya bisa saling ikhlas dan
belajar untuk move on.
"Muna itu
... wanita yang hendak dikhitbah Reza?"
"Khitbah?"
Manik mata Aira membulat
sempurna.
"Iya,
khitbah. Muna itu masih termasuk kerabat ... Mbak yang menyusun rencana
ini. Alhamdulillah, Reza tak menolak.
Sepertinya adik Mbak mulai menyukai gadis itu. Mbak sangat berharap mereka
berjodoh, dan Reza bisa segera mengakhiri status dudanya." Elsa menekan
saliva, mencermati dengan baik raut wajah perempuan di hadapannya yang kembali
terlihat redup.
Sejujurnya ia
merasa bersalah karena telah berbohong, tapi demi kebaikan, ia yakin Allah akan
mengampuni dosanya.
Aira terlihat
menunduk, menutupi embun-embun kecil yang tak disadari kembali memenuhi pelupuk
mata.
"Kamu
kenal sama Muna? Bagaimana menurutmu, mereka cocok tidak?"
Aira mencoba
menengadah. 'Mungkin Allah sedang mengujiku, suamiku menyimpan rasa pada wanita
itu, bahkan sekarang lelaki yang jejaknya di hati sedang kucari cara menghapus
itupun, ingin melamarnya juga? Allah ... kuatkanlah diri ini?'
"Maaf
Mbak, Aira tidak begitu mengenalnya," jawab Aira singkat. Ia merasa
kepalanya berdenyut hebat. Terutama di bekas benturan pada kecelakaan kemarin.
Aira menekan-nekan pelipis, lalu mencoba untuk berbaring, Elsa juga ikut
membantu.
"Kamu
pusing?"
Aira
menggerakkan kepalanya, mengangguk.
"Kalau
gitu kamu istirahat saja ya, maaf Mbak sudah mengganggumu. "
“Nggak Mbak,
Aira hanya kelelahan,” jawabnya dengan raut wajah sungkan.
Sebelum
meninggalkan ruangan, Elsa mengelus kepala Aira yang terbungkus hijab.
Sejujurnya hatinya terasa perih. Apa yang dirasakan Aira seakan juga ikut
dirasakannya, terlebih setelah melihat kegigihan Reza terhadap gadis itu.
“Ketahuilah,
Sayang, Allah Maha membolak-balikan hati. Mbak percaya kalian akan menemukan
cinta sejati, suatu waktu nanti,” batin Elsa. Wanita itu kemudian melangkah
keluar. Sementara di dalam, Aira menangis tersedu-sedu. Aira mata bagai hujan
yang melimpah ruah membasahi bumi.
“Allah, aku
berdosa. Aku sudah menikah, tapi di hatiku masih ada namanya. Jika dengan
menghapus ingatanku, maka bayang-bayangnyapun sirna, maka hapuslah semuanya ya
Allah. Agar hanya Engkau semata yang kuingat ....”
Gadis itu tak
sanggup menahan berbagai rasa yang datang disatu waktu. Sekilas, ia teringat
akan pesan gurunya pada pengajian terakhir yang ia ikuti, sebelum melepas
status keperawanannya.
“Menikah adalah
sunnah Rasulullah dan sunnah para rasul kekasih Allah. Sunnah yang paling
membawa kenikmatan sekaligus bertabur pahala dan kemuliaan. Betapa indah dan
bahagia sebuah pernikahan yang dibangun di atas pondasi keimanan dan kasih
sayang, diliputi semangat saling memahami dan melayani, juga dihiasi keluasan
ilmu dan budi pekerti. Pernikahan demikian, adalah idaman dan dambaan setiap
dua pasang insan. Bahtera rumah tangga yang dibinanya siap berlayar mengarungi
samudera kehidupan yang demikian panjang. Terkadang berjalan mulus dan lancar,
kadang juga penuh badai dan gelombang. Namun, dengan niat dan tekad yang kuat,
penghuninya akan berhasil melewati semua itu, hingga pada akhirnya sukses
merengguk keindahan intan dan permatanya.”
Aira tergugu,
“jika ini adalah badai dan gelombang dalam pernikahanku ya Allah, maka kuatkan
diri ini, teguhkan hati ini, dan lapangkan dada ini. Buatlah agar hamba bisa
memaafkan kesalahan suami hamba, juga hanya mencintai dia seorang ... Aamiinn
.....”
Benar adanya,
bahwa cinta itu menyakitkan. Rindu itu membinasakan. Andai cinta kepada-Nya
lebih besar, tentu semua takkan sedemikian menyiksa.
Hanif kembali
dengan sekantong obat yang baru saja ia tebus. Aira menatap lamat-lamat lelaki
itu yang duduk bersandar di sofa, sembari
meneguk segelas air hangat dalam gelas. Tergambar jelas gurat kelelahan di
wajahnya.
Sedikit
menurunkan ego, tidak akan menjatuhkan harga diri. Karena kesal boleh saja
menahan suara, tapi, diakan suami?
Bagaimana
mungkin selamanya menyimpan dendam? Pikir Aira saat itu.
"Mas,
sudah sarapan?"
Hanif kaget dan
segera menatap Aira. Ini adalah pertanyaan pertama yang diajukan istrinya
selepas sadar dari koma kemarin.
"Sudah
tadi di kantin"
Aira tahu Hanif
berbohong.
"Mas,
bohongkan?"
Hanif tersenyum
dan bergerak mendekati gadis itu. Ia gerakkan tang
an untuk
memperbaiki posisi jilbab yang dikenakan Aira asal tanpa melihat cermin.
Aira terpaksa
menatap mata teduh yang sejati telah membuat perasaannya campur aduk.
Sepersekian detik kedua manik mata itu saling bertemu. Aira kembali menemukan
kedamaian dalam sorot hangat yang menatapnya begitu dalam.
"Mas suapin buburnya, ya?"
Aira bergeming,
mencoba membaca hati yang terasa mulai goyah.
"Bismillahirrahmanirrahim
... ayo buka mulutnya.” Hanif memberhentikan sendok di depan mulut Aira, hingga
mulut yang tadinya sudah dibuka terpaksa dikatub kembali oleh gadis itu.
Hanif
tersenyum, ia merasa sang istri telah kembali dari sikap dinginnya. ‘Terima
kasih ya, Allah. Engkau ijabah doaku.”
Sejurus kemudian,
lelaki itu melanjutkan menyuapi Aira dengan aura bahagia yang tak terlukiskan.
"Maaf,
ya?" Hanif meraih jemari Aira.
"Untuk
apa?"
"Kecelakaan
kemarin?"
"Lupakan
saja, Mas."
Hanif bergeming
dan memandangi Aira dengan tatapan sendu.
“Andai ada yang
bisa Mas lakukan untuk menebusnya?”
Sesaat Hening,
mereka terbang dalam pikiran masing-masing.
Aira melirik
Hanif sekilas, jika mengingat kecelakaan itu, rasanya ia sangat membenci
suaminya. 'Mas, andai saat itu kamu punya kesempatan untuk menyelamatkan dua
orang, apakah kamu tetap lebih memilih menyelamatkan Muna, dan membiarkanku di
hantam hingga menghilang dari kehidupanmu ?' Aira bertanya dalam hatinya.
Pikiran gadis
itu kembali teracuni bisikan syetan. "Aira mau ke taman, Mas?" Ia
berusaha mencari cara untuk mencairkan pikirannya.
"Hah, ke
taman?" Hanif meyakinkah apa yang baru saja ia dengar.
"Aira mau
ke taman?"
"Tapi,
kakimu?"
Aira menunjuk
sebuah kursi roda yang bertengger di sudut ruangan. Hanif mengangkat bahu.
Sebenarnya ia
tak yakin dengan apa yang dimintakan istrinya itu. Baru semalam Aira sadarkan
diri. Dengan kaki yang seharusnya tak boleh bergerak sama sekali, tentu bukan
ide bagus ke luar ruangan.
"Mas ijin
dokter dulu, ya?"
"Nggak
usah, Mas?"
Hanif
mengembuskan napas khawatir, namun ia tak cukup kuat menolak permintaan sang
istri yang ditekankan melalui sentuhan lembut tangannya.
Hanif luruh,
lelaki itu terpaksa mengiyakan keinginan istrinya. Sedikit ragu ia menjulurkan
sebelah tangan di bawah kedua lutut Aira yang terkulai di atas ranjang. Sebelah
yang lain ia gunakan untuk menahan tubuh sang istri dengan mengaitkan di bawah
lengan.
Meski canggung,
Aira menyandarkan tangan kanannya pada pundak Hanif. Menyadari sesuatu melingkari tengkuknya,
lelaki itu menoleh seketika. Sesaat mereka berhasil dikuasai kegugupan.
Kedua sudut
bibir Hanif tertarik menjauh. “Ini tubuh istri Mas berat sama pahala atau berat
sama dosa, ya?” candanya yang dibalas tawa ringan Aira. Hanif semakin semringah
dibuatnya.
Sudah lima
belas menit mereka duduk di taman, meski hanya saling tatapan dan tersenyum
, namun cukup membuat hati Hanif
berdecak bahagia.
Terutama saat
melihat raut wajah Aira yang terus memancarkan binar bahagia.
"Mas
...." Suara Aira terdengar memecah kebisuan.
"Iya?"
"Aira mau
nanya sesuatu, boleh?"
"Hem, tanyalah apapun, asal jangan tanya kapan Mas akan bertemu
malaikat maut. Mas takut syirik!" Hanif tersenyum menyambut pertanyaan
Aira. Di depan mereka sebuah taman kecil dengan kolom ikan tampak begitu
memanjakan mata.
"Emm ...
benar Mas punya perasaan sama Ustadzah Muna?"
Hanif menoleh
seketika. "Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu? Apa ada hubungannya dengan
kecelakaan kemarin?" Hanif balik bertanya.
Aira menajamkan
pandangan, seolah begitu berharap agar sang suami mau menjawab pertanyaannya
dengan jujur tanpa mengalihkan topik pembicaraan.
"Em ...
oke, ini jawaban yang sejujur-jujurnya. Dulu, Mas memang pernah menyukai Muna,
tapi itu dulu. Sebelum Mas mengenalmu,”
Hanif menarik napas panjang, “perasaan itu berubah ketika dia menolak lamaran
yang Mas ajukan padanya. Mas akui saat itu, Mas begitu terpuruk. Namun, setelah
kita bertemu, semua perlahan berubah.
Dan puncaknya, saat Mas melamar kamu. Nama Muna benar-benar lenyap dari
ingatan Mas." Hanif menatap manik kecoklatan di hadapannya yang tampak
berkaca-kaca
idak fit?
"Ibu kenal
siapa orangnya?" tanya Aira penasaran. Hanif hanya bergeming, terlihat
juga begitu ingin tahu.
"Saat itu
saya tak sengaja mendengar percakapan mereka. Tapi belakangan saya dengar, ntu
orang diopname juga disini, karena tiba-tiba jatuh pingsan. Namanya ... Reza,
eh kok ngomong iki? Kan rahasia?"
Aira dan
Hanif, keduanya benar-benar tercengang.
"Benarkah
yang dimaksud ibu itu, Mas reza?.Ya
Allah, cobaan apa lagi ini?" lirih Aira.
Sejenak ia
kembali teringat akan Elsa, ‘apakah wanita itu kemari juga bukan untuk
menjenguk saudara, melainkan Mas Reza?
"Astaghfirullah
...."
"Tapi,
kenapa Muna bisa ada di pesantren itu juga?” Suara Aira terdengar mulai
bergetar.
“Mas tidak tahu
kenapa dia bisa mengajukan surat lamaran di pesantren itu. Mas meloloskannya
karena dia memang layak menjadi seorang pendidik. Tidak lebih.”
Aira menatap
suaminya penuh tanya, “Aira menangkap, ada yang berbeda dari cara Mas menatap
Muna?"
"Astaghfirullah
... nggak ada yang berbeda Humairaku? Kecuali jika Mas menatap seperti
ini?" Hanif menyentuh kedua pipi Aira dan menegakkan wajah gadis itu
hingga tatapan meereka saling bertemu. Spontan Aira menunduk.
"Kenapa
menunduk, kami takut menatap mata Masmu ini?"
"Nggak, Mas."
"Kalau
begitu, ayo, tatap mata Mas?"
Perlahan Aira
menengadahkan kepala. Memberanikan diri menatap bola kelam milik suaminya.
"Bukan
seperti inikan Mas menatap Muna?"
Aira bergeming.
Hanif
menggerakkan jari tangannya, mengusap kelopak mata Aira yang kembali tertunduk
namun sudah meluncurkan sebulir kristal. "Ya Allah, hilangkanlah api cemburu di kedua mata istri
hamba ini?"
Aira semakin
tergugu, apa yang dilakukan Hanif sungguh diluar dugaan. Namun, rasa cemburu
malah semakin besar menyergap.
‘Apa karena aku mulai mencintainya, Allah?’
"Begini
Humaira, Mas tidak akan membiarkan hati Mas berlarut-larut dalam kesedihan,
karena Mas tahu ada Allah tempat berbagi. Apalagi sesuatu yang berlabel masa
lalu. Bagi Mas, masa lalu itu hanya sebatas kenangan. Cukup dikenang disaat
senang, dan dilupakan saat sedih. Mas memang pernah begitu mengharapkan Muna
menjadi istri, tapi saat lamaran Mas ditolak, Mas langsung mencoba move on. Mas
bukan tipe lelaki yang suka mengemis cinta. Untungnya kamu nggak menolak Mas
waktu itu, kalau nggak mungkin kita juga tak berjodoh,” guyonnya sambil
menyentuh hidung segitiga Aira.
Aira tersenyum,
cemburu di dada mulai runtuh. Hanif menggenggam jemari tangan Aira.
"Demi
Allah, Mas sudah melupakannya, hanya kamu yang Mas cintai saat ini dan
seterusnya.”
Hanif terus
mengunci pandangannya. Aira tertegun, rasanya bulir-bulir bening sudah
mengantri ingin keluar. Namun sekuat tenaga ia tahan, terlihat seperti
perempuan paling cengeng di dunia ini.
"Kita
masuk, Mas. Aira lelah ...," ucap
gadis itu lirih.
Hanif menghela
napas, dalam hati keyakinannya semakin teguh, bahwa sang istri perlahan kembali
membuka hatinya. Detik kemudian, lelaki berkopiah hitam itu membuka pengunci
kursi roda. Pelan ia mendorong kursi itu
menelusuri koridor.
Dalam
perjalanan, hati Aira terus diliputi kegundahan. "Mas, maafkan Aira?"
Tak lagi bertatapan, namun Aira
menyentuh jemari Hanif yang tengah mendorong kursi rodanya.
Hanif terlonjak
kaget, ia segera menghentikan dorongannya dan melangkah ke depan.
Lelaki itu
melipat kedua kakinya, tak peduli keberadaan mereka saat itu. Diraihnya jemari
sang istri dan menciuminya dengan lembut.
"Makasih,
Sayang?"
Aira
mengangguk, keduanya hanyut dalam suasana yang membuat mata berderai, antara
kesedihan dan kebahagiaan. Namun suasana itu rusak saat seorang wanita yang
tengah memapah gulungan karpet tak sengaja menabrak mereka.
"Astaghfirullah!”
Wanita yang pandangannya tertutup barang bawaan itu terlonjak.
Aira dan Hanif
tersenyum.
“Ngapunten,
Mas, Mbak. Tidak kelihatan tadi ...."
"Ah, iya
Mbak, nggak papa. Monggo, silahkan." Hanif mempersilahkan wanita itu
melanjutkan perjalanannya.
Namun, yang
disilahkan malah berhenti sambil mengernyitkan dahi. "Njenengan yang
kemarin nyari-nyari darah AB(-) ‘kan?” wanita itu langsung mengarahkan
pandangannya ke wajah Humaira, “ini pasti Mbak Humaira?”
Aira dan Hanif
saling berpandangan.
"Alhamdulillah,
sudah segar sekali ya, Mbak?" lanjutnya tanpa jeda.
"Oh ...,
Ibu ini yang kemarin ketemu saya di ruangan dokter, ya? Apa sudah dapat Bu
donor darahnya?" Hanif mencoba mengenali wanita itu.
"Belum
Pak. Kemarin saya coba-coba minta sekantong dari lelaki yang donorin darahnya
buat istri Njenengan. Tapi dokter melarang, boro-boro dua kantong, sekantong aja sebenarnya kagak boleh.
Entu, pendonornya juga sedang tidak
fit."
"Hah?"
Aira tak mengerti dengan apa yang diucapkan wanita itu, pendonor..
*HUMAIRAH*
_Part_19_
*"Pilihan Yang Sulit"*
"Mungkin,
Allah menakdirkanku hidup sendiri. Tapi, bukankah Allah bisa merubah
takdir?" Reza.
Astaghfirullah,
kenapa kamu lakukan ini Mas, mengapa kamu tega mengorbankan diri demi
keselamatanku?” Aira membatin gelisah.
Hatinya
benar-benar kalut. Namun keinginan untuk bertemu Reza begitu besar, ingin tahu
bagaimana keadaannya sekarang, juga untuk mengucapkan permintaan maaf atau
terima kasih. Entahlah, mungkin pula dua-duanya.
Gadis itu
menunduk lesu. Tak tahu harus bagaimana menyikapi keadaan ini.
"Kamu
ingin Mas cari tahu, Reza dirawat dimana?" Akhirnya pertanyaan Hanif
membuyarkan lamunan Aira.
Sedikit
menengadah, gadis itu mencoba menatap
manik yang terlihat tak seceria tadi.
Tentu ini bukan yang ingin dikatakannya, tapi mengapa Mas Hanif terlihat
begitu ikhlas?
"Emm
...," Aira berpikir sejenak, "haruskah aku menemuinya, tidakkah jika
kami bertemu maka keadaannya akan semakin rumit. Terlebih melihat sikap Elsa
yang seolah menginginkan agar ia menjauhi adiknya. Lagi-lagi batin Aira meracau
penuh tanya.
Tiba-tiba ...
"Lho, Ibu
Humaira kenapa keluar kamar?" Seorang lelaki muda berjas putih menegur
Aira dengan gurat khawatir. Lelaki itu tak lain adalah dokter yang menangani
Aira selama perawatan. Ia didampingi beberapa perawat sepertinya memang hendak
melakukan observasi keadaan Humaira.
"Pak, Ibu
Humaira belum boleh bergerak, tulang kakinyakan patah? Tolong Ibu segera
didorong kembali ke kamar, ya? Saya mau melakukan beberapa pemeriksaan."
Hanif memandang
Aira yang masih linglung.
"Inggih dokter, maaf."
"Kita
masuk ya?"
Aira memelas,
ingin ia minta agar Hanif membawanya bertemu Reza, tapi bagaimana caranya? Ia
takut itu akan membuat perasaan Hanif terluka.
Akhirnya,
naluri Aira terkalahkan, kursi roda yang diduduki gadis itu kembali bergerak.
Meninggalkan jejak tanya yang entah kapan akan
mengantarnya pada pemilik darah, yang kini telah berbaur dengan darahnya.
'Sepertinya
Allah memang tidak akan menyetujui kita bertemu, Mas.'
Elsa masih
mengukur jumlah kata yang keluar dari mulutnya. Kehadiran Ipan dan Abhi lumayan
mengusir kekakuan di antara dua kakak beradik tersebut.
"Papa,
hari ini kita pulang 'kan?" tanya Abhi pagi itu.
Reza melirik
Elsa, seakan tak berani bersuara walau
cuma berkata iya.
Sejujurnya,
Reza memang sudah diperbolehkan untuk pulang. Dokter sudah mengatakan bahwa keadaannya
telah stabil. Lelaki itu hanya butuh istirahat dan makan makanan yang cukup
kadar zat besi guna meningkatkan tekanan darah juga hemoglobin.
Reza
mengangguk, sekadar memberi isyarat pada
sang anak.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu mengalihkan semua tatapan
yang tampak membeku.
Seraut wajah
ketimuran muncul di balik pintu, Elsa tersenyum menyambut kedatangan gadis itu.
"Muna?"
sapa Elsa riang. Gadis yang disapa itupun tersenyum sembari mengucapkan salam.
"Mas Reza
sudah baikan?" tanya gadis itu kemudian. Namun langkahnya terhenti, takut
yang hendak dijenguk merasa keberatan dengan kehadirannya.
"Alhamdulillah,
sudah. Masuklah." Reza menjawab datar.
"Duduklah
kemari." Elsa menimpali.
"Terima
kasih, Mbak. Tadi saya sama beberapa Ustadzah yang lain berniat mengunjungi
Mbak Aira."
Mendengar nama
Aira disebut, wajah Reza yang lemas seketika berbinar penuh keingintahuan.
Namun, sebisanya ia bersikap wajar dan
tak ingin bertanya.
"Saya
dengar, Mbak Aira sudah sadarkan
diri," lanjut Muna.
Reza mengurut
dada, merasa begitu bersyukur dan
bahagia atas kabar yang ia dengar itu.
"Ohya,
baguslah. Jadi nggak sia-sia donk
pengorbanan Reza. Ya ‘kan, Mas?" Elsa sengaja mencibir Reza. Sang adik
hanya bergeming.
"Ohya, makasih ya bantuannya kemarin," timpal
Reza mengalihkan pembicaraan.
Muna berbalik
menatap Reza. " Sudah sepatutnya sebagai manusia saling tolong menolong,
Mas. Apalagi yang saya tolong itu adalah seorang yang saya kenal."
"Ini ada
nasi pecel buat yang sakit, barangkali Mas Reza berselera makan makanan khas
sini." Muna bangkit dan menyodorkan sebuah plastik hitam berisi makanan.
Reza meraih pemberian Muna tersebut.
"Terim
a kasih,
harusnya tak perlu berlebihan begini," ucapnya sungkan.
"Nggak
berlebihan kok Mas, itu tadi nyambi beli buat Ustadz Hanif, suaminya Mbak
Aira."
Reza segera
menoleh.
"Bu Nyai
yang suruh, Ustadz Hanif itu suka sekali nasi pecal. Ohya, saya langsung pamit
ya, Mas. Takut kecarian karena terlalu lama menghilang." Gadis itu
mengulum senyuman, meski begitu, tetap terlihat begitu anggun.
Sejujurnya Reza
mengakui kalau untuk urusan wajah, Muna
cantik. Shalehah pula. Tapi di sisi
lain, hatinya tak siap. Cintanya masih membekas untuk Aira. Sebab itulah ia tak ingin terlalu ramah,
takut Muna malah simpati dan berharap lebih padanya.
“Allah,
bolehkan aku menunggunya? Jika hidupku hanya bersisa satu hari lagi di dunia
ini, akankah Kau menyatukanku dengannya?”
*
Aira baru saja
hampir memejamkan mata, namun kehadiran rombongan pesantren membuat manik itu
kembali terbuka.
Kedatangan mereka, disambut hangat oleh Hanif,
Ibunda Aira dan gadis itu sendiri.
Semua lega
melihat kondisi Aira yang semakin membaik. Bu Nyai adalah sala satu yang paling
bahagia. Aira mencoba mencari jawaban, kenapa dalam rombongan itu semua hadir
kecuali Ustadzah Muna?
Belum sempat
bertanya, netranya justru terbidik ke
arah pintu yang tiba-tiba di ketuk.
Ustadzah Muna muncul dengan wajah semringah.
"Maaf tadi
singgah di ruangan sebelah, kebetulan
ada saudara juga yang dirawat di rumah sakit ini," ucap gadis itu saat
mendapati semua mata kini tengah menatapnya. Seperti ada yang menusuk palung
jantung, sekujur tubuh Aira menghangat saat melihat Muna ada di hadapannya.
Sosok yang bersamanya saat kejadian naas itu terjadi.
“Ia bahkan tak
terluka sama sekali? Oh Allah, aku hanyalah wanita biasa yang dipenuhi
kecemburuan?” batin Aira.
Meski perih di
sekujur tubuh telah menghilang, namun
rasa sakit dan iri mengingat dialah wanita yang lebih dipilih sang suami untuk
di selamatkan, membuat bulir bening di matanya kembali mengenang.
Tak ingin
buliran itu berderai, Aira segera mengucek-ngucek kelopak matanya.
"Nuwun
sewu, Mbak Aira. Karena saya, njenengan jadi begini?" ucap Muna sembari
menyentuh jemari Aira.
Aira berusaha
tersenyum lalu menoleh ke arah Hanif.
Lelaki itu
memandang dua wanita di hadapannya secara bergantian. Harapannya, apapun yang dilihat dan didengar Aira, tidak akan membuat hatinya bertambah sakit
dan cemburu.
"Qadarullah
Ustadzah, semua ini musibah," ucap Aira setelah asal mengartikan tatapan
sang suami. Bukankah hatinya juga sama goyah, jadi buat apa memaksa Hanif
segera melupakan wanita yang sangat ia cintai, kembali batin Aira dikacaui
bisikan halus.
Detik kemudian,
Aira mengalihkan perhatiannya. Berbagai pertanyaan yang diajukan oleh saudara
se-Nabi Adamnya menuntut ia melupakan perihal cemburu.
“Aku harus
kuat. Demi sebuah janji yang sudah
terlanjur di hadapan-Mu ya, Rabb.”
*
Matahari
semakin condong ke barat, Hanif tampak sibuk dengan beberapa berkas yang harus
ditanda tangani. Tadi Ustadz Fatih datang membawakannya beberapa lembaran yang
harus segera dirampungkan dan dikirim besok ke Departemen kementerian Agama.
Di sisi lain,
Aira masih terbaring. Sesekali melirik sang suami yang tampak begitu khusuk
dengan kerjaannya, detik kemudian ia menunduk. Aira baru sadar, lelaki yang
hampir tak pernah melepaskan kopiah hitam itu ternyata begitu menawan.
Tiba-tiba
Ibunda Aira masuk ke ruangan, setelah setengah jam yang lalu menghilang entah
kemana.
"Nak Hanif,
Ibu minta waktunya sebentar,” ucap wanita itu sambil duduk di sebelah
menantunya. Aira ikut menoleh.
“Ibu akan
membawa Aira pulang ke Tangerang?"
Semua yang ada
di ruangan itu tersentak. Hanif tampak menghentikan kegiatannya.
"Nyuwun
Bu, kenapa harus pulang ke Tangerang?" tanya Hanif dengan perasaan
khawatir.
"Iya Bu,
Aira disini saja udah?" timpal gadis itu. Ia sekilas menatap sang suami
yang mulai terlihat cemas.
"Ibu hanya
kasihan sama Hanif, jika kamu disini, dia harus menjaga kamu dan melalaikan
pekerjaannya?"
"Oh itu,
nggak papa Bu, saya tak keberatan jika harus menjaga Aira. Lagian cuma mengurus
pondok, nanti saya bisa minta tukar j
am mengajar
dengan ustadz dan ustazdah yang lain?" Hanif menjawab dengan raut yang tak
tergambarkan. Berharap yang disampaikan ibu mertuanya itu sekedar guyonan.
"Keputusan
ibu sudah bulat. Biar Aira sama ibu dulu, sampai dia bisa bangkit
sekurang-kurangnya mengambilkan kamu minum."
"Nyuwun,
Bu. Kalau itu, saya bisa sendiri. Jika ibu masih khawatir, saya akan carikan
seseorang yang bisa membantu Aira mengurus segala keperluan di rumah?"
"Lho,
ngapain cari orang. Wong ibu masih kuat.
Ibu masih sanggup menjaga yang sakit-sakit begini. Masalahnya cuma Abi itu lo, sekolahnya kasihan jika harus ikut Ibu
kemari. Pokoke niat ibu nggak bisa diganggu, Aira ikut Ibu pulang ke
Tangerang."
Hanif terdiam,
ia menatap Aira berusaha mencari pembelaan. Namun, Aira tak berkata apapun. Ia
paham betul sifat ibunya, jika sudah berkeinginan, apapun akan dilakukan demi
mewujudkannya.
*
Mobil Fortuner
Hitam milik Ipan tiba di Tangerang setelah azan isya berkumandang. Di
belakangnya menyusul Reza yang mengendarai mobilnya seorang diri. Elsa
turun, mengikuti langkah Abhi yang
tampak sedikit mengantuk.
"Za, Mbak nggak nginap sini lagi, ya?"
Reza yang
hendak masuk menyusul Abhi seketika menoleh.
"Mbak
marah sama aku?"
Elsa tersenyum,
"buat apa marah sama kamu? Mbak itu harus temeni Bang Ipan, dinas di luar
kota."
Reza mendesah.
"Pasti rumah sepi nggak ada yang ngomel-ngomel lagi?" candanya yang
ditanggapi Elsa dengan senyuman. Kelopak mata Reza mendadak terasa berat, teman
hidupnya satu persatu pergi, dulu istrinya, lalu uminya, sekarang Elsa.
“Allah, jangan
ambil lagi orang yang kusayang?” Ingatannya melambung pada buah hati satu-satunya
yang ia punya.
"Hei!”
Elsa mengayunkan tangan di hadapan wajah Reza. Lelaki itu tersentak, lalu
memaksakan diri untuk tersenyum.
“Makanya buruan
cari Mama buat Abhi?"
Reza
mengangguk, "Mbak pamitan dulu sama Abhi. Kasihan, pasti dia bakalan
nangis."
Wanita itu
terhenyak, ada yang membuatnya ragu untuk pergi, ‘Abhi’. Ia melangkah
masuk, meski hati bergetar hebat, yakin
apa yang diucapkan Reza akan terealisasi sesaat lagi.
Sudah cukup
lama ia berada di rumah itu, terhitung semenjak umi mereka meninggal dunia.
Rasa sayangnya pada Abhi melebihi apapun.
Apalagi sampai saat ini, ia belum
jua dikarunia momongan. Andai bisa memilih ia tak ingin pergi saat itu. Tapi bagaimanapun,
Ipan telah berkorban banyak. Tak ayal jika sebagai istri, ia menolak permintaan
suami agar menemaninya bekerja.
Reza menatap
sang kakak yang berjalan memasuki rumah, menyusul Abhi. Reza tak masuk, ia tak sanggup menyaksikan apa yang sesaat
lagi terjadi dalam sana.
Lima tahun
lalu, perpisahan pernah membuat Abhi menangis hebat. Saat itu Abhi memang masih
kecil, tapi ia mengerti akan kehilangan ibunya. Bahkan bocah itu berhari-hari
demam hingga harus dirawat.
Reza merasakan
dadanya semakin sesak, ingatan itu
membuat jantungnya seperti ingin berhenti berdetak. Tak lama, tangisan yang
dulu pernah ia dengar kembali berendus di telinga. Reza mengambil earphone dan
memasang ke telinga.
"Jangan
menangis Sayang, kamu masih punya Papa. Selamanya Papa akan menemanimu?"
*
Hanif
membalikkan langkah, setelah mengetahui ponselnya tak ada di kamar, lelaki itu
buru-buru mencari di mobil. Khawatir ada panggilan penting dari rumah sakit.
Benar saja,
melihat panggilan tak terjawab lebih dari dua puluh kali di layar ponsel, Hanif
begitu terhenyak. Jantungnya semakin berdebar saat tahu semua panggilan itu
berasal dari sang istri, yang ia tinggalkan di rumah sakit bersama ibu mertua.
Lelaki itu
buru-buru memencet ulang tombol panggilan. Dua kali, tak ada jawaban. Akhirnya
dengan tergesa ia duduk kembali di balik setir.
Hanya perlu waktu
sepuluh menit saja, Hanif sudah bertengger kembali dirumah sakit.
"Kenapa
telpon Aira nggak diangkat-angkat, Mas?" Aira langsung mencecar Hanif
dengan pertanyaan.
"Hus,
suami baru sampai, mbok ya disuruh duduk dulu?" timpal ibunda Aira.
Tanpa menunggu
perintah sang istri, lelaki itu langsung menarik sebuah kursi untuk diduduki.
Kopiah yang bertahta di kepala, ia taruh di atas paha. Semb
ari menarik
napas panjang, lelaki itu merelaksasikan
saraf-sarafnya yang sempat menegang, karena pikiran buruk yang tiba-tiba muncul
akan sang istri.
"Maaf
tadi, ponselnya ketinggalan di mobil? Kamu nggak papa?" Hanif menyentuh
kening Aira dengan punggung tangan. Seketika amarah yang tadi sempat tersulut
di hati Humaira perlahan mereda seiring sentuhan lembut di keningnya.
"Aira
nggak apa-apa, Mas. Cuma tadi itu dokter manggilin Mas buat membicarakan
masalah operasi kaki Aira. Tapi ini udah dihandle sama Ibu?" Aira menunjuk
sang ibu dengan isyarat mata. Hanif segera berpaling.
"Astaghfirullah
... Jadi bagaimana Bu, keputusan apa yang sudah disepakati?" selidik Hanif
penuh khawatir.
"Dokter
tadi nanya ke Ibu, kapan Humaira siap dioperasi."
"Lalu,
bagaimana Bu?"
"Ibu
bilang, Humaira akan Ibu bawa pulang ke Tangerang."
"Ya Allah,
Bu ...," Hanif mengusap wajahnya, "Kenapa nggak tunggu saya dulu,
Bu?"
"Kalau
nunggu Nak Hanif kelamaan. Orang telponnya juga nggak diangkat," ketus
sang ibu. Hanif mendesah.
"Mas nggak
keberatan ‘kan?" sambung Humaira.
Hanif segera
menoleh. ‘Ya Allah, sekarang istrikupun ikut-ikutan ibunya?’
"Humaira,
Mas hanya tak ingin berjauhan darimu?”
Ibunda Aira
tersenyum, inilah yang ia harapkan.
"Sudah ya,
Nak Hanif. Percayakahn sama Ibu. Jika kamu sedang banyak waktu, pulanglah ke
Tangerang?"
Hanif berdiri
mematung, merasa ada yang aneh dengan keputusan ibu mertuanya. Tapi ia bisa
apa, sebagai menantu yang baik, ia harus mendengarkan wanita itu. Sedikit
bersabar, hanif yakin semua akan indah pada waktunya.
"Saya
janji, jika masalah di Pesantren rampung, saya akan segera menyusul."
Ibunda Aira
tersenyum lebar, sementara Aira tertunduk lemas. Sudah ia duga bakalan seperti
ini, memang dirinya tak berarti apapun di hati Hanif.
***
Kira-kira jadi
nggak ya, Aira dibawa pulang ke Tangerang? Atau cuma akal-akalan ibunda
Aira, supaya keduanya bisa saling
memahami arti kebersamaan?
*HUMAIRAH*
_Part_20_
*"Aku Mencintaimu Humaira"*
'Jika aku ingin
bahagia dalam pernikahanku, aku harus bersabar.’ Humairah.
Berita
kepindahan Humaira berendus di Pondok. Kiai Dahlan dan istrinya menyambangi
Aira kembali di rumah sakit pagi itu.
"Jadi
benar berita bahwa Aira akan di operasi di Tangerang?" tanya Bu Nyai.
"Benar,
Bu?" jawab ibunda Aira tak mengurangi rasa hormatnya pada wanita, yang
begitu perhatian akan anaknya selama seminggu ini.
"Kenapa
tidak di sini saja, Bu?"
"Kasihan
Hanif Bu harus menjaga Aira seorang diri. Sebab saya tidak bisa berlama-lama
meninggalkan rumah, ada seorang cucu yang menjadi tanggungan di sana."
"Oh kalau
masalah itu, seharusnya Ibu teh jangan khawatir, di sinikan kami bisa gantian
menjaga Humaira. Saya sudah menganggapnya seperti anak sendiri, Bu. "
pungkas wanita bercadar itu penuh kelembutan.
"Jangan
Bu, biarlah saya yang merawatnya sendiri, saya tidak ingin merepotkan keluarga
di sini...?"
"Hem, yasudah
kalau itu sudah menjadi keputusan. Lantas kapan rencana dibawa pulang,
Bu?"
"Insya
Allah hari ini Bu?"
Mendengar
perkataan ibunda Aira, Bu Nyai sedikit mengurut dada. Tidak bisa berbuat
apa-apa selain mendoakan, agar Aira mendapat perawatan terbaik di Tangerang.
Semua sudah
beres, sebuah ambulance juga sudah menunggu Aira di halaman. Tiba-tiba, ketika hendak melangkah keluar, Hanif
mendapati Muna berdiri di balik pintu. Ia terhenyak.
Muna dan Hanif
saling bersitatap beberapa detik, tersadar berada pada keadaan yang tak wajar.
Keduanya segera membuang pandangan.
Sesuatu segera
terlintas di benak Hanif, teringat akan beberapa pertanyaan yang ingin ia
ajukan pada gadis itu. Namun Hanif mengurungkan niatnya, ia merasa saat ini
bukankah waktu yang tepat.
"Saya
dengar Mbak Aira mau di bawa ke Tangerang," tanya Muna masih di depan
pintu kamar.
"Iya, ini
Mas mau memastikan apakah ambulancenya sudah siap."
"Boleh
saya bertemu dengan Mbak Aira sebentar saja, Mas?"
Hanif melirik
ke dalam, Aira tengah duduk sembari merapikan hijabnya. "Boleh,
masuklah."
Munapun
melangkah ke dalam, berbarengan dengan langkah Hanif ke luar ruangan. Sesuatu
seperti berdesir hebat di dada gadis itu. Perasaan ini, Muna sungguh tak
sanggup menahannya seorang diri. Menjadi yang tersisihkan demi sesuatu yang
pernah ia sia-siakan dahulu, rasanya benar-benar menyakitkan.
Muna terus
melangkah mendekati Aira yang tampak sedikit kaget. Gadis itu segera
mempersilahkan Muna duduk di sebuah sofa.
Menyadari
kedatangan tamu dari pesanyren, ibunda Aira bangkit, meninggalkan keduanya
untuk sejenak.
"Ada apa
Ustadzah Muna kemari pagi-pagi?"
"Saya
dengar Mbak Aira mau dibawa ke Tangerang, benar?"
"Iya,
benar Ustazdah. Ada yang mau Ustadzah sampaikan"
Sesaat keadaan
terasa hening. Kedua bibir gadis itu kelu beberapa detik.
"Mbak
Aira, saya tidak ingin ada kesalahpahaman diantara kita."
Aira menajamkan
tatapannya. "Perihal apa Ustadzah?"
"Kecelakaan
itu ...."
Aira menarik
napas, melebarkan dadanya untuk sesuatu yang barangkali akan membuatnya merasa
sesak sesaat lagi.
"Katakanlah
Ustadzah?"
"Ini semua
salah saya Mbak?" Muna menjelaskan dengan wajah sendu.
Aira mendongak,
telinganya telah siap mendengar semua yang akan disampaikan Muna.
Aira menarik
napas panjang, cerita Muna barusan membuat dadanya sempit dan butuh banyak
pasokan udara. Ia menggenggam tangan Muna, "Bolehkah saya bertanya sesuatu
Ustadzah?" Gadis itu tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, sesuatu yang
begitu membuncah di dada harus ia luruskan, agar tak terus menyiksa batinnya.
"Apakah
Ustazdah masih menyukai suami saya?"
Muna tercekat
mendengar pertanyaan yang diajukan Aira. Ia menelan saliva, "Bagaimana
bisa Mbak menanyakan hal ini?”
"Saya
sudah tahu semua dari Mas Hanif. Juga sebuah surat yang saya temukan di dalam
buku yang saya pinjam kemarin, surat Mas Hanif untuk Ustazdah dahulu. Saya
hanya perlu tahu, bagaimana kedudukan surat itu kini dihati Ustadzah?"
Muna tertunduk
bersalah, bibirnya yang ranum tiba-tiba berubah pucat. "Saya sudah tidak
ada perasaan Mbak sama Mas Hanif, bahkan sedari
dulu,"
jawabnya dengan suara bergetar.
Aira menarik
napas, ia tahu gadis di hadapannya itu berbohong. Wanita memang pandai menutupi
perasaan, juga dilengkapi insting kuat akan segala sesuatu. Namun, sesama
wanita, kebohongan Muna terbaca jelas oleh benak Aira.
'Ustadzah tak
sendiri, kita bernasib sama. Sama-sama melepaskan yang kita cintai. Hanya
alasannya yang berbeda. Tapi kita harus tahu, bahwa sesuatu yang sudah pergi,
takkan pernah kembali kecuali satu, doa yang tulus.'
Aira mengerjap
berkali-kali, ia melihat Muna seperti berkacakan dirinya sendiri. Namun ia
tetap berusaha meyakinkan diri, bahwa takdir yang terjadi padanya hari ini,
suatu saat pasti akan diingat sebagai karunia. Hanya perlu berprasangka baik, bukankah
Allah tergantung pada prasangka hambanya.
Kenapa harus
ragu, jika Allah telah berjanji akan membahagiakan hambanya dalam sebuah
pernikahan? Ini adalah satu janji Allah yang mulai terlaksana, keterbukaan
antara ia dan wanita masa lalu suaminya.
Aira berusaha
bangkit, ia membisikkan sesuatu di telinga Muna. "Terima kasih Ustazdah.
Ustadzah wanita yang begitu baik, saya yakin, Ustadzah akan mendapatkan jodoh
lelaki yang amat sangat baik. Insya Allah."
***
Hari semakin
beranjak, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Sinar mentari mulai terasa
hangat menyentuh kulit. Hanif kembali mengangkat sang istri ke kursi roda.
Meski hanya hitungan detik, pandangan mereka kembali terpaut sangat dekat.
Perlahan,
lengan kekar Hanif mendorong kursi roda sang istri hingga sampai ke pintu
keluar rumah sakit. Ibundanya dan beberapa perawat ikut mendampingi. Sepanjang
perjalanan menuju pintu utama, Aira mengedarkan pandang ke setiap jejak yang ia
lewati.
Rumah sakit ini
punya arti khusus di hatinya. Semua rahasia tersingkap di tempat ini, untuk
semua ia tak henti berucap syukur, kecuali akan satu hal, kesempatan untuk
berterima kasih pada Reza.
"Allah...jika
semua kesempatan di dunia ini telah Engkau tutup, ijinkan lisah ini untuk
mendoakannya, agar ia senantiasa sehat dan bahagia?"
Mereka telah
sampai di lantai dasar, hanya beberapa langkah lagi untuk sampai ke ambulance.
Semakin kemari,
Aira semakin butuh topangan. Beban di jiwanya seperti bongkahan batu yang amat
berat. Ia menggenggam tangan Hanif, merasa tak ingin diasingkan dalam mobil
putih bersirine itu seorang diri.
Hanif sedikit
terhenyak, ia membalas genggaman tangan Aira padanya."Kamu nggak papakan
sendiri?"
Aira hanya
mengangguk, ingin rasanya ia jujur, meminta Hanif menemani. Tapi bibir terasa kelu,
kejujuran pada suami yang harusnya tak perlu di rasa sungkan, malah sedemikian
sulit ia utarakan.
Gadis itu
menarik napas panjang ketika tubuhnya sempurna terlentang diatas bed ambulance.
Sebelum menutup pintu, Hanif mengelus puncak kepala Aira.
“Sabar, ya. Mas
nggak akan lama?”
Aira
mengangguk, seperti akan pergi jauh dan takkan kembali. Ucapan Hanif
benar-benar menusuk kalbu gadis itu.
Menit
berikutnya, pintu bercat putih itu telah tertutup. Kini di tempat itu hanya ada
Aira seorang diri. ‘Kenapa Ibu nggak duduk di sini?’ batinnya bertanya.
"Kamu
nggak papakan, Nduk?" Seperti paham apa yang dirasakan sang anak, Ibunda
Aira memastikan dari tempat duduk depan.
"Iya, Bu.
Apa sudah mau berangkat, Bu?"
"Sebentar
lagi, ya?" jawab ibunya singkat.
Aira
benar-benar ingin segera pergi, berada di tempat itu lebih lama, hanya akan
membuat matanya berurai-urai cairan. Setega itu Hanif padanya, ternyata
pengakuan Muna tak berarti banyak.
Mungkin Muna
bisa menutupi perasaannya, tapi bagaimana dengan Hanif? Bisa saja yang
diucapkan lelaki itu kemarin, juga sebuah penyangkalan akan rasa yang
sebenarnya masih begitu besar. Pikir Aira.
Tiba-tiba,
pintu ambulance kembali terbuka. Aira tak percaya saat mendapati Hanif yang
membuka pintu itu.
"Mas
Hanif?" sebut Aira.
Lelaki itu
tersenyum dan melangkah masuk.
"Mas-Mas
Hanif katanya nggak ikut?"
"Mas nggak
bisa tinggal di sini tanpa kamu?"
Aira masih
menatap lelaki itu tak percaya, "tapi bukankah Mas harus mengurus
pesantren?"
Hanif
bergeming, Aira tengah mempersiapkan hatinya, barangkali sed
etik lagi Hanif
berubah Pikiran dan benar-benar mengurungkan niatnya kembali.
"Mas
pikir, pesantren masih ramai yang bisa ngurus, tapi kamu ...." Hanif
menghentikan ucapannya, "Mas tak ingin melewatkan kesempatan merawatku."
Aira
mengembuskan napas lega. Akhirnya sesuatu yang ia harapkan terwujud.
"Terima kasih Allah ...."batinnya berdoa.
Senyum
semringah Aira disambut genggaman erat sang suami. Seakan tak ingin berpisah, mereka saling meluapkan rindu
melalui tatapan. Kini kendaraan beroda empat itu perlahan bergerak,
meninggalkan kota dengan sejuta kenangan meski untuk sementara waktu.
"Kamu mau
Mas bacakan kultum?"
"Apa?"
Aira mengernyitkan dahinya.
"Iya,
kuliah tujuh menit?"
Aira tersenyum
hangat, "Boleh?"
"Bismillah.
Dalam sebuah hadist qudsi Allah berfirman, "Aku sesuai dengan prasangka
hamba-Ku, maka ia bebas berprasangka kepada-Ku sesuai yang ia mau. Firman itu
mengisyaratkan bahwa jika seorang hamba berpikir Allah ada dan selalu memberi
pertolongan dengan cara-Nya, maka apa
yang ia yakini itu akan terjadi. Begitu pula sebaliknya. Karena Allah Maha
Berkehendak."
Aira menyimak.
"Jika
Allah memudahkan suatu perkara, maka perkara itu akan mudah, semudah
membalikkan telapak tangan. Mas selalu yakin, bahwa sekuat apapun itu kecuali
kuasa Allah tetap akan meleleh, begitu juga dengan kesulitan, sedikit apapun
permasalahan pasti akan lebur dengan doa. Kamu percayakan, Humairah?"
Aira
mengangguk.
"Kita
sebagai manusia harus sering melihat ke sekeliling, betapa banyak orang yang
menginginkan sesuatu, tetapi tak mendapatkannya. Betapa banyak orang yang sudah
putus asa, namun kebahagiaan datang bagai semilir angin yang menyejukkan. Semua
karena Allah, Ia bersama dengan orang-orang yang hatinya tertanam cahaya
keimanan dan keyakinan." Hanif meletakkan tangannya yang menggenggam
tangan Aira di dada.
Gadis itu
tertegun. Mencoba mengisi dadanya dengan udara kebahagiaan yang perlahan
berembus.
"Mas yakin
apa yang terjadi pada kita, sakit, bahagia, susah, gembira, semua untuk membuat
kita semakin mencintai dan belajar menghargai satu sama lain. Rumah tangga ibu
Ibarat bahtera, yang akan mengarung samudera kehidupan sepanjang sejarahnya.
Untuk mencapai pelabuhan terindah, tentu akan ada badai yang menghantam dengan keras.
Namun dengan niat dan tekad yang kuat, pasti kita akan berhasil
melewatinya."
Aira semakin
larut dalam penghayatan. Pikirannya berputar kesana kemari. Pernikahan ini
memang ujian berat buatnya. Ia harus belajar mengikhlaskan cintanya untuk Reza,
juga belajar kesabaran tatkala tahu ada seorang wanita yang begitu berarti dan
sulit pula dilupakan suaminya. Air mata mulai kembali mengambang di pelupuk
mata.
Ia gerakkan
tangannya yang masih terikat selang infus untuk mengusap sebulir yang tiba-tiba
lolos di pipi. Tapi, Hanif buru-buru menyapu buliran itu, sebelum jemari Aira
sampai di pipi.
"Mulai
sekarang, air mata ini, biarkan Mas yang menghapusnya? Mas akan gunakan semua
yang Mas punya untuk kebahagianmu?"
Aira
benar-benar terenyuh, serasa lebur semua beban pikiran yang bergelayutan di
jiwa. Ia tahu Hanif sedang berusaha, sama halnya dengan yang diusahakannya
untuk pernikahan ini. Memang bukan mudah membunuh rasa cinta, tapi jika
memasrahkan semua pada Allah, tentu semua akan berbeda.
Hanif tersenyum
hangat. "Cepatlah sembuh Humairaku, Mas benar-benar ... rindu."
Wajah yang
tegas itu tiba-tiba merah merona. Gurat canggung terlukis jelas pada selarik
senyumnya yang menggoda.
Diantara derai
air mata yang ingin mengalir, Airapun tampak tersipu malu. Ucapan rindu ini, ia
baru mendengar untuk pertama kalinya dari sang suami.
Bagaimanapun
pasang surut perasaannya, tetap ini sesuatu yang membuat dadanya bergemuruh,
segemuruh jantungnya yang ikut bertalu-talu. Andai tak terbuka kaca pembatas
antara bagian depan dan belakang ambulance, mungkin mereka akan sangat larut
dalam keadaan.
"Sudah
siap, kita berangkat sekarang!" ucap supir ambulance yang juga kelihatan
salah tingkah melihat dua pasang suami istri itu saling menggenggam tangan.
Hanif terkesiap
mengangguk, Aira hanya tersenyum.
"Ha
nif, Ibu
serahkan Aira sama kamu, ya? Jangan sampai kenapa-kenapa?"
"Inggih,
Bu. Bismillah. Lanjut saja Mang," jawab Hanif dengan sopan.
Tak ingin
melewatkan sedetikpun waktu, lelaki itu hanya ingin menghabiskan hari ini
dengan bermesraan bersama sang istri.
Ia kembali
menatap gadis itu. "Telah banyak waktu yang terbuang sia-sia, harusnya
begini dari kemarin-kemarin, ya?" Hanif kembali mengeratkan genggamannya
setelah kaca pembatas itu tertutup. Aira bisa merasakan sesuatu mengalir dari
genggaman Hanif padanya.
Gadis itu
kembali menatap sorot teduh yang ia rasa begitu berkharisma hari ini.
Hanif merasakan
sesuatu tengah berdesir hebat di dada, melihat netra bening yang berbinar di
hadapannya. Cepat ia mengalihkan sesuatu yang perlahan mengaliri jiwanya.
‘Kenapa terasa
begitu menyakitkan. Apakah ini yang dinamakan rindu? Rindu padanya kekasih
halal, namun tak dapat membagi rasa itu?'
"Boleh Mas
pinjam jarimu untuk berzikir? Mas belum berzikir pagi ini?" Hanif mencoba
meredam perasaannya.
Aira
mengangguk, sejujurnya ia seperti pernah merasakan seseorang berzikir
menggunakan jemarinya. Sedetik kemudian, iris kelam Hanif menyorot pada tiap
ruas jemari Aira. Perlahan ibu jari lelaki berjambang tipis itu menekan lembut
tiga titik disatu jari.
Aira
mengertikan tiap sentuhan dengan sensasi yang berbeda. Kadang hangat menjalari
tubuh, sesekali menggelitiki jiwa kala jemari panjang itu tak hanya menyentuh,
tapi menggesek hingga ke tiap-tiap ruas yang lain.
Hari ini, Aira
meyakini satu hal. Bahwa cinta hadir
bukan untuk sekedar dirasakan, melainkan untuk dipelajari. Lihatlah bagaimana
cara pasanganmu memberikan cintanya padamu, hingga kau bisa membalas dengan
cara yang lebih pantas. Lihatlah bagaimana pasanganmu menyayangimu setiap saat,
hingga kau tahu bagaimana membalasnya kasih sayangnya dengan baik.
Aira
sadar, bahwa cinta yang sejati adalah
cinta seseorang yang sudah terikat janji di hadapan Allah, bukankah cinta
sesaat yang begitu menggebu dan menyakitkan.
*HUMAIRAH*
_Part_21_
*Barangsiapa Kuambil dua* kekasihnya (matanya)
tetap bersabar, maka Aku akan mengganti kedua (matanya) itu dengan surga.’
Matahari terus
berjalan mendekati peraduannya. Sinarnya yang kuning keemasan perlahan mulai
bersulam kemerahan. Reza masih di dalam mobil, saat azan maghrib telah
berkumandang. Ia dan karyawan lainnya sering lembur di akhir bulan, guna
menyusun segala laporan yang nanti akan di setor keatasan.
Harusnya Reza
sudah sampai di rumah sekitar lima belas menit lalu, jika saja ia tidak
terjebak macet disepanjang jalan utama.
Lelaki itu menggigit bibir resah serta meringis perlahan, bayangan wajah
Abhi terus berkelebat di dalam benak.
Janjinya tadi
pagi sebelum berangkat kerja, ia akan pulang cepat untuk menemani sang anak
menyelesaikan tugas melukis. Namun, hingga malam hampir membentangkan jubahnya,
lelaki itu masih harus menempuh jarak satu kilometer lagi.
"Akhirnya
sampai juga," gumam Reza pelan. Ia melirik jam yang melingkar di tangan,
hampir jam delapan. Untung saja ia tadi menyempatkan diri singgah di sebuah
mesjid, menunaikan shalat magrib meski waktu sudah berada di penghujung.
Reza membuka
pintu, lampu tengah ruangan mati. Lelaki itu menangkap sebuah cahaya yang
berasal dari dapur. Ia urungkan niat ke kamar, dan berjalan ke ruangan yang
menurutnya masih ada Mbok Ratih di tempat itu.
"Mbok
...." Reza memanggil wanita paruh baya yang tengah berkutat dengan piring
kotor.
"Tuan
sudah pulang? Den Abhi baru saja tidur, tadi nungguin Tuan pulang, terakhir katanya
mengantuk dan tak mengijinkan saya menemani," ucap wanita itu sambil
menghentikan kegiatannya.
Sudah seminggu
belakangan Mbok Ratih bekerja di rumah itu, Elsa yang mencarinya melalui jasa
pembantu rumah tangga. Wanita itu berasal dari kampung dan pergi ke kota guna
mengais rezeki yang kata orang seperti mencari mutiara di tengah lautan.
Baginya, bisa
bekerja di rumah itu seperti mendapat rahmat terbesar dalam hidup. Semua sebab
Reza adalah seorang majikan yang lembut dan sopan. Terlebih Abhi, ia sangat
menyayanginya laksana cucu sendiri.
Reza mengambil
segelas air, "saya menyusul ke kamar ya, Mbok?"
Sejurus
kemudian langkah lebarnya telah berlalu menuju kamar Abhi. Ia buka pintu kamar
perlahan, tak ingin anak itu terusik dengan kedatangannya Reza menatap Abhi
yang sudah berbaring di atas ranjang.
Bermaksud ingin
mendekati sekadar untuk mengecup pundak kepala, langkahnya justru terhenti pada
tumpukan buku di atas sebuah karpet motif Winne The Pooh.
Ia merapikan
buku tulis yang berserakan, serta memasukkan bolpoint ke dalam kotak pensil.
Sesaat matanya diajak melirik pada sebuah buku gambar.
"Apakah ia
sudah menyelesaikan gambarnya?" Reza bergumam dalam hati.
Ia membuka
bagian buku yang terganjal pencil warna di bagian dalamnya.
"Subhanallah
...."
Reza tak
percaya apa yang ia lihat di buku gambar Abhi. Sebuah lukisan keluarga. Seorang
anak kecil tengah di gendong sang ayah, sementara di sisi lain ia menggambar
seorang perempuan tengah digandeng tangannya oleh seorang lelaki, yang tak
dibuat bentuk wajahnya. Dibagian tengah atas diberi judul 'My Family.'
Reza terhunyung
ke belakang. Dadanya terasa nyeri. Ia dekati Abhi yang sudah terlelap.
"Ya Allah,
inikah yang ia harap dariku? Menyelesaikan gambar yang butuh kebesaran hati
untuk ia gambar? Masya Allah ...."
Reza menitik
air mata membayangkan bagaimana perasaan Abhi ketika menggambar potret keluarga
dengan kehadiran lelaki lain di dalamnya selain seorang ayah. Ia sangat
menyesali kenapa Abhi harus tahu perihal ibunya.
"Andai
bisa berbohong, aku ingin mengatakan ibumu sudah tiada, Nak?" Reza
mengelus pipi buah hatinya.
"Mama
...."
Terdengar suara
Abhi meracau dalam tidur. Sangat lirih, hingga hampir tak terdengar.
"Ma
...."
Suara itu
semakin jelas, sementara mata Abhi benar-benar masih tertutup. Reza menekan
pelipis dengan jemari tangan. Apa yang ia dengar kini benar-benar merampas
seluruh bahagianya.
"Sebegitu
rindukah kamu pada seorang Mama, Sayang?" Reza mendekatkan wajahnya
mencium pucuk kepala sang anak.
"Andai kau
paham, Pa
pa sama
menderitanya denganmu. Tapi Papa tidak boleh lemah, karena ada kamu yang Papa
jadikan tempat hangat untuk berpulang. Sabar Sayang, Papa pasti akan memberi
apa yang kamu inginkan ...."
Reza merebahkan
tubuhnya di sisi Abhi. Perlahan matanya yang lelah itu tertutup.
Ingatan yang mengoyak batin akan akhir
pernikahan yang tak pernah ia inginkan. Belum jua kering luka itu, Reza harus
menerima kenyataan bahwa gadis yang sekian purnama ia cari, lebih memilih
menikah dengan lelaki lain. Seolah, dunia memang tak ingin memberi celah
untuknya bahagia.
Reza mengusap
kristal-kristal yang merembes di sudut mata.
"Aku lemah
karena wanita ...," lirihnya pelan. Perlahan, segala derita itu sirna,
berganti kebahagiaan yang hadir dalam mimpinya, bertamu pada sosok yang sangat
ia rindukan sebagai tempat untuk bercerita, Umi.
Reza terhenyak.
Keringat mengucur deras di kening, bajunya basah. Yang ia ingat, awalnya
bermimpi indah, tapi diakhir-akhir mimpi, ia bertemu dengan sesosok wanita,
cantik, berpakain syari.
Wanita itu
tersenyum padanya sembari membentangkan tangan. Ia mendekat, namun wanita itu
malah berlari-lari sambil sesekali melihat ke arahnya.
Akhirnya Reza
memutuskan untuk tegak berdiri di tempatnya, bergeming sambil menikmati gerakan
lincah wanita itu.
Namun,
kehadiran Abhi, membuat Reza terguncang. Wanita yang tadi berlari-lari seketika
berhenti dan memeluk anaknya. Reza tak lagi bergeming. Ia takut wanita itu
hendak membawa lari Abhi.
Tanpa banyak
berpikir, Reza berlari mengejar wanita tadi yang kini malah berlarian bersama
Abhi. Hingga ia terjaga, Reza yakin bahwa dirinya telah berhasil menggenggam
tangan wanita itu.
"Allahu
Akbar. Kenapa mimpiku aneh sekali? Apakah ia jodohku ya Allah, tapi siapa?
Kenapa aku tak mengenalnya?" Reza mendesah panjang.
Ia melirik Abhi
yang masih memejamkan mata, mengecup pelan pipi chubby yang begitu
menggemaskan.
Tubuhnya kini
bergerak, sesuatu menuntutnya untuk menunaikan apa yang sepekan ini seolah
menjadi kewajiban.
Tahajud!
Reza berniat,
setelah menunaikan shalat isya dan tahajudnya, lukisan itu akan berubah.
*
Sarapan telah
tersedia dengan rapi di atas meja. Mbok Asih sudah diajarkan Kak Elsa bagaimana
cara membuat nasi goreng kesukaan Abhi. Nasi goring Jawa.
Abhi tampak
lahap sekali menyantap sarapannya. Wajah anak itu berbinar bahagia. Tadi pagi
tak biasa, sang Papa membangunkan dan mengajaknya shalat subuh berjamaah di
mesjid terdekat.
"Abhi
sudah siap sarapannya ya, Nak?" Reza yang baru keluar kamar menyapa sang
anak sambil mengecup puncak kepala.
"Belum,
Pa. Pa, nanti ke sekolah 'kan? Lukisan yang semalam Abhi buat mau diikutkan
lomba Pa, antar kelas.”
Reza terbelalak
mendengar penuturan Abhi. Jus jeruk yang hendak dia teguk, seketika ia letakkan
kembali di tempatnya.
"Kamu
yakin dengan lukisanmu itu, Sayang?" tanya Reza tak menyangka bahwa
lukisan itu bukan prakarya kelas biasa, melainkan sebuah karya yang bakalan
diikutkan lomba
"Yakin,
Pa. Abhi mau buat Papa bangga,” jawabnya antusias. Namun, detik kemudian wajah
berbinar itu tampak sendu.
“Lho, kok jadi
cemberut gitu?”
Abi melirik
papanya. “Sebenarnya kalau dilihat dari judulnya, Abhi nggak layak menang,
Pa."
"Emang
judul lombanya apa? Anak Papa Jangan pesimis gitu donk, katanya mau buat Papa
bangga?" Reza mendelik, berusaha menyemangati sang anak.
Abhi bergeming
sejenak, mengumpulkan kekuatan untuk menjawab pertanyaan papanya. "Hari
Ibu ... Pa. Aku mana mungkin memang 'kan Pa, Ibu aja aku nggak punya!"
Reza tersentak.
"Astaghfirullah, Abhi. Siapa bilang kamu nggak punya ibu? Lantas yang
melahirkan Abhi kedunia ini, siapa?"
Abhi menunduk.
"Kenapa Mama nggak pernah jengukin Abhi, Pa? Emang benar ya Pa yang
dikatakan Bunda Elsa , Mama udah nikah sama lelaki lain dan punya anak
baru?"
"Abhi
...?" Suara Reza mulai meninggi, "sudah ya Nak, kita tutup masalah
ini. Sekali lagi Papa tegaskan bahwa Abhi itu juga punya Mama, wanita yang udah
ngelahirin Abhi ke dunia ini. Tapi sekarang dia sudah punya kehidupannya
sendiri, dan tak ingin bersama kita. Lagian, Abhikan punya Papa, yang
selalu membersamai.
Coba Abhi ingat, dari dulu sampe sekarang apa yang nggak Papa kasih ke Abhi?”
Kedua alis Abhi
tampak terpaut.
"Semua
Abhi dapatkan, dari Papa. Apapun yang Abhi minta? ?"
Bocah itu
kembali menunduk, tak menjawab. Kenyataan memang sang papa tak pernah tidak
memenuhi keinginannya. Mainan, jalan-jalan, beli makanan apapun ia mau, semua
dipenuhi lelaki itu. Kecuali satu, keinginan yang paling hakiki, memiliki Mama
seperti teman-temannya.
Abhi menarik
napasnya. Reza tahu anak itu sedang menangis.
'Allah, aku
harus bagaimana?'
Reza menatap
jagoan kecilnya yang masih tertunduk dan terus terisak. Sebenarnya hatinya
begitu terluka, melihat satu-satunya harta paling berharga dalam hidup menangis
tersedu-sedu. Namun, kenyataan dirinya sama rapuh.
"Sudah,
berhenti menangis, ya? Katanya mau lomba, tapi kok malah loyo begini?"
Abhi masih
tertunduk. Akhirnya, Reza bangkit dan mendekati jagoannya.
"Papa 'kan
sudah pernah janji sama Abhi, kalau Abhi dapat juara dan berkelakuan baik di
sekolah, Papa bakalan kasih Abhi Mama baru yang sayang banget sama Abhi. Masih
Ingat nggak?"
Perlahan Abhi
mengangkat wajahnya. Matanya yang berkaca-kaca, meluluh lantahkan hati Reza.
"Ingat,
Pa?" lirih Abhi. Reza mengerakkan tangannya mengusap Aira mata di pipi
sang anak.
"Semangat,
ya? Jika anak Papa menang, kita pergi jalan-jalan ke Dufan, kamu bebas mau main
apapun?"
Abhi tersenyum
lega. Hati Reza perlahan kembali bersinar, 'jika kau tersenyum, maka dunia Papa
akan dipenuhi berbagai warna. Kamulah alasan Papa bertahan sampai detik ini,
jagoan kecil.'
Reza
mengambangkan kedua tangan, mempersilahkan sang anak agar mendarat dalam
dadanya yang bidang. Ia mengulum senyuman, sejujurnya apa yang terjadi pagi ini
sudah ia prediksi jauh hari. Ketika rumah sepi, Abhi pasti akan mengingat sosok
itu. Sosok yang setiap anak miliki, tapi tak dimiliki olehAbhi kecilnya.
Tapi
bagaimanapun, Reza tak ingin buru-buru dalam memilih, meski imbasnya Abhi harus
memanjangkan penantiannya. Lelaki itu hanya ingin mengakhiri status dudanya
bersama wanita yang ia cintai dan mencintainya. Jika lima tahun tak cukup, ia
bahkan bertekad akan menyediakan lagi tahun-tahun berikutnya.'
Reza berusaha
meyakinkan batinnya, agar sesuatu yang pernah membuatnya hancur dahulu tak
terulang kembali. Ia pernah mengikuti kata uminya, 'Menikahlah meski kau tak
cinta, karena setelah menikah kau akan belajar mencintai. 'Kenyataan,
pernikahannya yang tak dilandasi rasa cinta, benar-benar kandas, padahal baru
seumur jagung.
"Aku hanya
tak ingin kehancuran yang sama terulang kembali. Akan kuluaskan kesabaran
hingga bertemu yang terbaik. Tapi ... apakah kamu bisa sabar seperti Papa,
Nak?" pikir Reza sambil mengecup puncak kepala Abhi yang masih bersandar
di dadanya.
Sepersekian
detik, Reza mengurai pelukan. “Nah, ini baru jagoan Papa. Nggak cengeng kayak
anak perempuan.” Abhi tersenyum menanggapinya.
"Pa, Abhi
tunggu dimobil, ya?" pamit Abhi sambil menarik tas yang digantung Mbok
Ratih di belakang kursi.
Reza
mengiyakan. Pandangannya tak lepas dari menatap jagoannya yang berjalan keluar
tapi masih dengan raut wajah penuh kesedihan. Ia hanya berpura-pura bahagia di
depan papanya.
Selepas
kepergian Abhi, Reza kembali menghempaskan tubuhnya diatas kursi. Sebenarnya ia
tak lagi berselera untuk melanjutkan sarapan, tapi akhir-akhir ini lambungnya
sedikit bermasalah.
Mau tau mau ia
harus mengisi perut. Di gerakkannya sendok ke dalam mulut. Namun, saat hendak
memasukkan suapan itu, ia berhenti. Meletakkan kembali sendok berisi nasi ke
piring.
Sunyi, hanya
desah napasnya yang tedengar...
"Allah,
andai ia di sini ...? Pasti pagi ini semua akan tersenyum." Reza menepuk
dadanya pelan, sesuatu seakan kembali menyayat batinnya.
Reza
menggerakkan tangan, meraih sebuah amplop yang ia letakkan di atas meja.
Pelan ia membuka
kertas berwarna coklat itu. Membaca tiap-tiap huruf yang tercetak dilembaran
pertama. 'Surat Persetujuan Pemindahan Tugas.'
'Ini adalah
cara terakhirku, Humaira. Aku akan pergi jauh. Aku tahu, tak sulit buatmu
berbahagia, ada Hanif..
*TAMAT*


Komentar
Posting Komentar