Sekolah Tinggi, Kenapa Tidak?
°Pendidikan Anak Perempuan°
"Menurut kami, sarana terpenting dalam memperbaiki rumah tangga adalah mengembangkan pendidikan wanita dan membekalinya secara cukup di sekolah-sekolah dengan pengetahuan agama dan akhlak, memperluas kesempatan sistem pendidikan anak perempuan dalam penelitian tentang rumah tangga serta mata kuliah biografi wanita-wanita yang menjadi tokoh dalam kemuliaan akhlak, seperti Nusaibah binti Ka'ab, Asma' binti Abu Bakar, Shafiyyah binti Abdil Muththalib, Khaulah binti al-Azwar, Sukainah binti al-Husain dll.
Sebab, sebagaimana disebutkan dalam syair;
اَلأُمُّ مَدْرَسَةٌ إِذَاأٌَعْدَدْتَهَا... اَعْدَدْتَ شَعْبًا طَيِّبَ اْلأَعْرَاقِ.
-Ibu adalah SEKOLAH, apabila engkau mempersiapkannya. Berarti engkau mempersiapkan SUATU BANGSA BERBUDI MULIA.-
Namun, apabila sistem pendidikan yang sekarang ini ada tetap seperti itu, yaitu hanya memfokuskan pada kebutuhan dengan tiga peringkaynya dan berbagai pendidikan yang hanya bersifat pelengkap namun justru mudharatnya lebih banyak serta meninggalkan apa yang benar-benar penting dan memberi manfa'at, maka ini tidak akan memberikan kehidupan yang baik bagi anak-anak Islam.
Anak-anak perempuan di sekolah-sekolah kita mempelajari musik, bahasa asing, teknik dan hukum negara, kemudian sama sekali tidak mempelajari tentang pendidikan anak, kesehatan, psikologi, agama, akhlak dan managemen rumah tangga. Maka sistem pendidikan macam apa ini? Tujuan apa yang hendak dicapainya?
مَنْ لَيٌَ بِتَرْبِيَةِالْبَنَاتِ فَإِنَّهَا... فِي الشَّرْقِ عِلَّةُذَلِكَ اْلإِخْفَاقِ
-Barang siapa yang melalaikan pendidikan anak perempuan. Di negeri Timur adalah penyakit yang mendebarkan.-
Seorang ibu, apabila menjadi ibu yang baik, maka tunggulah anaknya akan menjadi manusia yang sempurna. Apabila kita telaah sejarah para ulama, kita akan temukan bahwa rahasia dibalik keagungan mayoritas mereka adalah apa yang diajarkan oleh ibu-ibu mereka, yaitu berbagai dasar pendidika kesalehan nan lurus yang dibisikkan bersamaan dengan ketuka menyusui mereka. Tidaklah Ali bin Abi Thalib Karramallaahu wajhahu dalam mencintai kebenaran dan membela Rasulullah SAW, tidaklah Muawiyah dalam keuletan dan kecerdasannya, tidaklah Abdullah bin Zubair dalam keberaniannya dan az-Zubair sendiri juga demikian, melainkan ada rahasia dibalik layar yang dimainkan oleh Fatimah binti Asad, Shafiyyah binti Abdil Muththalib, Asma' binti Abu Bakar dan Hindun binti 'Utbah.
Kalau seandainya tokoh rahasia bagi setiap anak adalah bapaknya, dapat dipastikan bahwa seluruh bejana minuman mereka akan terbalik dan tumpah.
Sudah sepatutnya bagi orang yang di awal kehidupannya didunia dalam buaian mendengarkan bisikan ibunya yang mendorongnya untuk menjadi orang yang berani dan berakhlak mulia, ia akan menjadi seorang pemimpin yang memancarkan hikmah dari setiap lekuk tubuhnya dan memampangkan kemuliaan dari jubahnya, seperti Abdullah bin Abbas yang mendapatkan bimbingan dari ibunya, Ummul Fadhl binti al-Harits al-Hilaliyah.
Juga sudah sepatutnya bagi orang yang sejak lahir sudah mendengar nyayian-nyayian amoral dan senandung buih yang dilantunkan oleh para ibu zaman sekarang ini kepada anak-anak mereka, untuk tumbuh menjadi orang yang bebas tak terpelihara, tidak memiliki cita-cita dan berkepridian lemah.
Ibu adalah guru alam semesta. Seorang wanita yang sanggup menggoyangkan buaian dengan tangan kanannya, pasti sanggup menggoyangkan dunia dengan tangan kirinya. Oleh karena itu, memperbaiki rumah tangga harus dimulai dengan memperbaiki ibu yang menjadi ruh dan tiang penyangga rumah tangga tersebut. (Risaalah Anjaa'ul Wasaa'il).
(Buku: Prophetic Parenting, best seller Timur Tengah, Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid. 445-446)
![]() |
| (Petronas) |
"Menurut kami, sarana terpenting dalam memperbaiki rumah tangga adalah mengembangkan pendidikan wanita dan membekalinya secara cukup di sekolah-sekolah dengan pengetahuan agama dan akhlak, memperluas kesempatan sistem pendidikan anak perempuan dalam penelitian tentang rumah tangga serta mata kuliah biografi wanita-wanita yang menjadi tokoh dalam kemuliaan akhlak, seperti Nusaibah binti Ka'ab, Asma' binti Abu Bakar, Shafiyyah binti Abdil Muththalib, Khaulah binti al-Azwar, Sukainah binti al-Husain dll.
Sebab, sebagaimana disebutkan dalam syair;
اَلأُمُّ مَدْرَسَةٌ إِذَاأٌَعْدَدْتَهَا... اَعْدَدْتَ شَعْبًا طَيِّبَ اْلأَعْرَاقِ.
-Ibu adalah SEKOLAH, apabila engkau mempersiapkannya. Berarti engkau mempersiapkan SUATU BANGSA BERBUDI MULIA.-
Namun, apabila sistem pendidikan yang sekarang ini ada tetap seperti itu, yaitu hanya memfokuskan pada kebutuhan dengan tiga peringkaynya dan berbagai pendidikan yang hanya bersifat pelengkap namun justru mudharatnya lebih banyak serta meninggalkan apa yang benar-benar penting dan memberi manfa'at, maka ini tidak akan memberikan kehidupan yang baik bagi anak-anak Islam.
Anak-anak perempuan di sekolah-sekolah kita mempelajari musik, bahasa asing, teknik dan hukum negara, kemudian sama sekali tidak mempelajari tentang pendidikan anak, kesehatan, psikologi, agama, akhlak dan managemen rumah tangga. Maka sistem pendidikan macam apa ini? Tujuan apa yang hendak dicapainya?
مَنْ لَيٌَ بِتَرْبِيَةِالْبَنَاتِ فَإِنَّهَا... فِي الشَّرْقِ عِلَّةُذَلِكَ اْلإِخْفَاقِ
-Barang siapa yang melalaikan pendidikan anak perempuan. Di negeri Timur adalah penyakit yang mendebarkan.-
Seorang ibu, apabila menjadi ibu yang baik, maka tunggulah anaknya akan menjadi manusia yang sempurna. Apabila kita telaah sejarah para ulama, kita akan temukan bahwa rahasia dibalik keagungan mayoritas mereka adalah apa yang diajarkan oleh ibu-ibu mereka, yaitu berbagai dasar pendidika kesalehan nan lurus yang dibisikkan bersamaan dengan ketuka menyusui mereka. Tidaklah Ali bin Abi Thalib Karramallaahu wajhahu dalam mencintai kebenaran dan membela Rasulullah SAW, tidaklah Muawiyah dalam keuletan dan kecerdasannya, tidaklah Abdullah bin Zubair dalam keberaniannya dan az-Zubair sendiri juga demikian, melainkan ada rahasia dibalik layar yang dimainkan oleh Fatimah binti Asad, Shafiyyah binti Abdil Muththalib, Asma' binti Abu Bakar dan Hindun binti 'Utbah.
Kalau seandainya tokoh rahasia bagi setiap anak adalah bapaknya, dapat dipastikan bahwa seluruh bejana minuman mereka akan terbalik dan tumpah.
Sudah sepatutnya bagi orang yang di awal kehidupannya didunia dalam buaian mendengarkan bisikan ibunya yang mendorongnya untuk menjadi orang yang berani dan berakhlak mulia, ia akan menjadi seorang pemimpin yang memancarkan hikmah dari setiap lekuk tubuhnya dan memampangkan kemuliaan dari jubahnya, seperti Abdullah bin Abbas yang mendapatkan bimbingan dari ibunya, Ummul Fadhl binti al-Harits al-Hilaliyah.
Juga sudah sepatutnya bagi orang yang sejak lahir sudah mendengar nyayian-nyayian amoral dan senandung buih yang dilantunkan oleh para ibu zaman sekarang ini kepada anak-anak mereka, untuk tumbuh menjadi orang yang bebas tak terpelihara, tidak memiliki cita-cita dan berkepridian lemah.
Ibu adalah guru alam semesta. Seorang wanita yang sanggup menggoyangkan buaian dengan tangan kanannya, pasti sanggup menggoyangkan dunia dengan tangan kirinya. Oleh karena itu, memperbaiki rumah tangga harus dimulai dengan memperbaiki ibu yang menjadi ruh dan tiang penyangga rumah tangga tersebut. (Risaalah Anjaa'ul Wasaa'il).
(Buku: Prophetic Parenting, best seller Timur Tengah, Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid. 445-446)



Komentar
Posting Komentar