Menentang Takdir (complt)


*MENENTANG_TAKDIR*
(Oleh : Mahaleny (leny khan)

Aku terperanjat ketika melihat foto yang di kirimkan Madya adikku melalui pesan WA. Foto seorang laki-laki yang telah resmi mengkhitbahnya tadi malam. Ada sebuah rasa sakit yang menghunjam. Ketika menyadari lelaki itu adalah seseorang yang sangat aku dambakan menjadi pendamping hidupku selama ini.

Seorang lelaki yang begitu bersahaja, memiliki ilmu agama yang mumpuni. Anak seorang pengasuh pondok pesantren ternama di kota kelahiranku. Keshalihannya membuatku telah jatuh cinta padanya, ketika kami pertama kali bertemu dalam acara pengajian remaja yang diadakan setiap akhir pekan di masjid kompleks perumahan tempatku tinggal.

Hakim, begitu nama panggilannya. Cara dia bersikap kepada lawan jenis sangatlah santun. Tak pernah jelalatan meskipun ia sedang berbicara di depan forum. Juga tak pernah kulihat dia berjalan dengan wanita manapun kecuali ibu atau saudara perempuannya. Begitu taatnya dia menjalani syariat agama. Mungkin itulah hal utama yang membuatku jatuh cinta padanya. Hanya saja aku tak berani mengutarakannya pada siapapun termasuk pada kedua orang tuaku. Aku mengaguminya dalam diam, mengungkapkannya lewat doa-doa malamku. Memintanya pada Sang Maha Pemilik Hati. Meskipun akhirnya aku harus menerima kenyataan bahwa dia bukan untukku.

Ya, baru beberapa bulan aku berada di kota metropolitan ini untuk menyelesaikan S2-ku, tiba-tiba saja malam ini aku di kejutkan oleh berita telah di khitbahnya Madya oleh Hakim. Berita yang seharusnya membuatku bahagia karena adik kesayanganku telah bertemu dengan jodohnya, harus menjadi berita duka untukku.

Kuusap air mata yang perlahan turun membasahi pipiku. Berusaha untuk tegar menerima semua kenyataan. Bahwa jodoh, rezeki, dan maut hanya Allah yang menentukan. Walaupun sebelumnya aku sudah bertekad, akan memberitahu keluargaku tentang apa yang kurasakan setelah aku menyelesaikan kuliahku. Tapi ternyata, aku terlambat.

Orang tuaku meminta agar aku segera pulang, sebab dua minggu lagi Madya dan Hakim akan melangsungkan pernikahan. Keluargaku termasuk keluarga yang alhamdulillaah sedikit banyaknya telah paham agama, sehingga mereka tak ingin menunda lama hal baik ini.

“Jihan,” suara Fadil membuyarkan lamuanku. Dia adalah abangku satu-satunya yang sudah menikah dan punya anak dua orang. Aku berani mengambil S2 di kota ini karena ada dia di sini. Jadi aku tak perlu tinggal sendiri tanpa mahram.

Buru-buru kususut air mata yang masih menggenang. Lalu sebisa mungkin mengembangkan senyum untuknya. “Iya, Bang?”

Fadil duduk di sampingku. Netranya menyelidiki raut wajah milik adiknya ini.

“Kamu menangis?”

“Nggak,”

“Lalu itu apa?” Fadil menunjuk sudut mataku.

Aku tertawa kecil. ”Kelilipan doang kok,” kilahku.

“Ooh,” cuma itu yang keluar dari mulutnya meskipun aku tahu ia tak percaya dengan jawabanku.

“Abang mau pesen tiket, kapan kamu bisa ambil cuti kuliah?”

Aku terdiam, memainkan ponsel yang ada di tanganku. Lalu kupandang wajahnya, “bolehkah aku tidak ikut pulang?” suaraku sedikit bergetar.

“Kenapa? Ada alasan yang kiranya bisa abang terima?”

Kembali kualihkan pandanganku pada ponsel di tanganku. “Aku...aku merasa tidak sanggup, Bang,”

“Tidak sanggup karena apa? Apa karena...Madya lebih dulu menikah daripada kamu?” tebaknya dengan nada hati-hati.

Aku menggeleng. “Bukan,” sahutku berusaha menahan air mata yang ingin segera tumpah.

“Lalu apa?”

Lagi-lagi aku menggeleng. “Tidak apa-apa. Aku...aku hanya sedang tidak bisa meninggalkan jadwal kuliahku, Bang,”

“Apa itu lebih penting daripada adikmu?”

Kembali terdiam dan berusaha mencari jawaban yang bisa membuatku terlepas dari acara itu.

“Jihan?” Fadil menyentuh bahuku. “Ada sesuatu yang abang belum tahu tentangmu?” tanyanya penuh selidik.

Aku menghela napas, terus berusaha agar air mataku tidak tumpah di depan Fadil. Lalu menggeleng pelan.

“Aku abangmu, aku yang membersamaimu sejak kecil. Jadi kamu tidak bisa berbohong padaku,”

“Tidak ada yang kusembunyikan darimu, Bang. Sungguh!” Aku tetap bersikukuh. Mencoba meyakinkan lelaki di depanku.

“Apa karena Hakim?”

Aku terperanjat. Menoleh padanya yang ternyata sedang menatap tajam padaku.

“Apa maksud abang?” gugup rasanya saat Fadil berusaha membuatku jujur.

“Abang rasa kamu paham maksud abang,”

Kutelan saliva dengan rasa yang tercekat di tenggorokan. Lalu membuang pandangan dari tatapan Fadil.

“Abang mengada-ngada, apa hubungannya dengan Hakim?” Kilahku menutupi.

“Kamu pernah berharap lebih pada lelaki itu bukan?”

Aku bergeming.

“”Kenapa tidak pernah bicara pada abang?”

Tak tahan lagi aku menggamit lengannya, menjatuhkan kepalaku di bahunya. Lalu menumpahkan tangis yang tertahan sejak tadi. Fadil membiarkan bajunya basah oleh air mataku. Karena akhirnya ia sudah tahu dilema seperti apa yang sedang melanda adik perempuannya ini. Meskipun ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan untukku saat ini.

   ***

Madya memang jauh lebih cantik dariku. Dia wanita supel dan periang. Di usianya yang baru memasuki 23 tahun terlihat sekali kalau dia sangat mempesona. Sehingga sudah banyak lelaki shalih yang meminangnya tapi ia tolak. Hingga saat orang tua Hakim yang datang langsung meminangnya barulah ia terima.

Aku dan Madya terpaut usia tiga tahun saja. Mungkin karena kecantikan Madya-lah yang membuat Hakim lebih memilih dia ketimbang aku. Walau seharusnya aku yang lebih duluan menikah. Tapi karena kami tidak percaya akan mitos-mitos itu maka hal itu tak berlaku dalam keluarga kami. Siapa yang ingin duluan menikah silahkan, siapa yang ingin belakangan juga silahkan. Tak memandang siapa yang lebih tua.

     *** 

Fadil melingkarkan tangannya dibahuku saat acara ijab qabul akan dimulai. Seolah ia ingin menguatkan adik perempuannya ini. Aku menahan sesak didada, berusaha agar tidak ada drama dalam acara sakral ini. Selalu berusaha tersenyum meskipun berat harus menerima kenyataan.

 Sekilas aku melihat Hakim seperti mencari-cari seseorang dengan sorot matanya yang teduh. Hingga ketika ia menemukanku dan mata kami saling beradu pandang ia tak berusaha menghindar, hingga beberapa detik sampai aku sendiri yang menundukkan pandanganku. Karena aku takut tak mampu menguasai diri.

Tak berapa lama dan hanya butuh satu kali pengucapan ijab qabul hingga akhirnya Madya resmi menjadi istri Hakim. Suasana berubah sedikit ramai dengan kumandang doa-doa dari keluarga dan para tamu yang hadir. Wajah kedua mempelai terlihat begitu berseri.

 Fadil masih memegang bahuku, “Abang tahu kamu perempuan tangguh dan kuat, yakinlah bahwa rencana Allah lebih indah dari yang kamu bayangkan, setelah ini kamu akan mendapatkan jodoh siapa pun yang kamu mau” bisiknya pelan di telingaku.

Kupandangi wajahnya dengan mata yang berkaca-kaca. “Siapa pun?” tanyaku setengah berbisik.

“Iya, siapa pun.”

 Lalu ujung jarinya mengusap sudut mataku agar kristal itu tidak berhasil turun. Aku tersenyum getir dan mengangguk pelan.

       ***

Pesta pernikahan Madya dan Hakim di selenggarakan lumayan mewah dan besar-besaran di gedung pesantren milik Ayahnya Hakim. Dengan mengundang ratusan anak yatim piatu dari beberapa panti asuhan sebagi bentuk rasa syukur.

Pesta yang mengusung konsep syariat Islam ini terasa begitu  indah. Tak ada musik dan tak ada pengantin yang dipajang. Serta tempat tamu laki-laki dan perempuan pun di pisahkan agar tidak ada khalwat di antara mereka.

Merasa jenuh dengan keramaian di dalam gedung aku pun pergi mengasingkan diri mencari udara segar. Angin yang bertiup lumayan kencang di tengah teriknya sinar mentari membuat dadaku sedikit terasa sejuk. Lambaian ujung jilbab lebar yang kukenakan seakan ikut merasakan apa yang sedang terjadi di dalam hatiku.

Aku mendaratkan tubuhku di sebuah bangku taman berwarna coklat. Sebuah taman yang terdapat di belakang gedung pesantren. Taman ini terlihat begitu asri dengan hijaunya pepohonan dan indahnya beberapa macam bunga yang sedang bermekaran. Di sini sepi, jauh dari hiruk pikuknya suasana pesta. Hanya terlihat beberapa santri sedang fokus dengan Mushhaf di tangannya. Mereka calon hafidzh yang akan menjadi pemimpin di masa depan, insyaaAllah.

Hakim dan Madya sudah di gariskan bersama, dan tidak ada yang akan bisa memisahkan mereka kecuali seizin Allah. Hal itu yang sedang berusaha kutanamkan dalam hati.

“Jihan? Ngapain di sini? Ayo masuk, kita mau ambil foto keluarga!” seru Fadil tiba-tiba.

Aku menoleh padanya. “Iya, Bang,” sahutku patuh lalu beranjak meninggalkan bangku itu.

    ***

Besok lusa aku akan kembali ke Jakarta bersama Fadli dan juga istri beserta anak-anaknya. Dan hari ini orang tuaku sengaja mengundang Madya dan Hakim untuk makan malam bersama.  Aku risih sebenarnya jika harus bertemu muka lagi dengan lelaki itu. Tapi mau bagaimana lagi, ini sebenarnya hal lumrah jika saja aku tak pernah menaruh hati pada Hakim.

“Makan yang banyak Jihan, biar gemukan dikit!” celetuk Azizah istri Fadil saat melihatku hanya mengaduk-aduk makanan di piring dengan malas.

“Apaan sih, Kak?” sungutku menahan malu, karena semua mata mulai tertuju padaku.

“Bener tuh kata kakak kamu, makan yang banyak. Kamu selama di Jakarta paling males kalau di suruh makan. Malah sampe berantem dulu sama Azizah baru mau,” timpal Fadil membuat semua orang jadi menertawaiku. Sempat kulihat Hakim hanya mengulum senyum sambil melirikku sekilas kemudian menunduk kembali fokus dengan makanan di depannya.

“Tenaaaaang Bang Fadil, Kak Zizah, Madya udah siapin makanan kesukaan Kak Jihan kok. Biar dia bisa makan banyak selama di Jakarta.” Ujar Madya sambil tersenyum sumringah ke arahku.

“Emang kamu bisa masak?” Ejekku.

“Eeeeh, jangan salah, aku udah belajar masak sama Umi selama kakak di Jakarta. Dan hasilnya nggak mengecewakan kok. Ya kan Mas?” Madya menyikut pelan suaminya.

“Lumayanlah, meskipun kadang rasanya nggak jelas,” sahut Hakim sambil bercanda. Madya membelalakkan matanya dan mencubit lengan suaminya.

“Nggak kok bercanda,” Hakim mengelus kepala Madya. Membuat jantungku seakan terbakar rasanya menyaksikan adegan pengantin baru itu.

 “Bener kata Madya, masakannya enak kok, nggak sia-sia dia belajar masak selama  beberapa bulan ini,” tambahnya dengan wajah bangga menatap Madya. Yang di tatap malah cengar cengir manja nggak jelas.

‘Huh! Apa-apaan sih dia, mentang-mentang pengantin baru nggak dimana-mana sok-sok mesra terus,’ umpatku dalam hati.

“Ada untungnya juga kamu ke Jakarta kan Jihan, jadi si Madya mau belajar masak, dan nggak ngandelin Umi sama kamu aja,” Abi angkat bicara. Ibu hanya tertawa kecil menangggapi.

Semakin hilang selera makanku gara-gara mereka.

“Jihan, ayo di habiskan cepat makanannya. Habis ini kita mau ada yang di bicarakan sama-sama,” Umi menyentuh tanganku dengan lembut. Seakan tahu suasana hati anak perempuannya yang sedang tak menentu.

“Iya, Mi,” sahutku dan kembali fokus mencoba memindahkan makanan itu kembali ke dalam mulutku.

Entah kenapa setiap aku tak sengaja melihat ke arah Hakim, lelaki itu pun sedang melihat ke arahku. Dan di akhiri dengan secepatnya sama-sama membuang muka. Ah, mungkin aku saja yang kege-eran. Atau memang matanya yang juling jadi seolah dia melihatku padahal dia melihat ke arah lain? Whatever!

 *B E R S A M B U N G*
Sruput kopinya☕
Suasana di ruang tengah mendadak hening saat Abi mulai membuka suara.

“Tujuan dari Abi mengumpulkan kita semua di sini adalah untuk menyampaikan sebuah kabar gembira untuk kita semua, terutama untuk Jihan,” Abi menatapku penuh rahasia. Semua mata pun tertuju padaku dan mereka semua tersenyum seolah menggoda. Kecuali Hakim. Lelaki itu seolah tak peduli dengan keadaan, ia malah asik memainkan ponselnya.

“Ada apa sih, Bi? Bikin penasaran aja deh!”

Abi tertawa kecil. “Sabar dong, Nak,” ujar lelaki berpeci putih itu. Jenggotnya terlihat sudah sedikit memutih, menandakan usianya tak lagi muda.

Aku mengalihkan pandangan pada Umi yang terlihat anggun dengan jilbab coklat mudanya malam ini. “Mi, ini ada apa sih?” tanyaku tak sabaran.

Umi yang duduk di samping Abi melirik suaminya lalu berkata, “biar Abi aja yang menyampaikan,” sahutnya.

Aku memanyunkan bibirku. Apa-apaan sih mereka bikin penasaran saja!

“Sabar aja kenapa sih? Tungguin Abi selesai ngomong!” celetuk Fadil yang duduk berseberangan denganku.

Terpaksa aku mengunci bibirku.

“Jadi begini Jihan, kemarin abinya Hakim, bercerita pada Abi. Kalau ada sepupu jauhnya Hakim sedang mencari jodoh, dan...” Abi menggantung kalimatnya, “kami berencana menjodohkanmu dengan lelaki itu,” lanjut Abi.

Aku terperanjat. ‘Apa? Tanpa sepengetahuanku mereka main jodohin aja, ketemu juga kagak pernah!’ batinku.

“Siapa namanya Nak Hakim? Abi lupa,”

Hakim yang tengah asyik dengan ponselnya segera mengangkat wajah lalu menjawab dengan berat, “Amran,” ia memandangku, lalu menoleh pada Abi, “namanya Amran, Bi.”

“Oh iya, Amran. Dia baru saja pulang dari Malaysia menyelesaikan S3-nya. Anaknya baik dan santun. Dia juga seorang hafizh. Abi sudah bertemu dengannya waktu itu. Kamu bersedia kan untuk nadzhar dengannya besok sebelum berangkat?”

Aku tak menimpali. Hanya diam menunduk sambil menarik-narik benang di sarung bantal kursi berbentuk love itu.

Tiba-tiba Azizah menyikut lenganku. “Jihan, Abi lagi gomong sama kamu lho, kok diam aja?” bisiknya.

Aku tergagap dan segera menegakkan kepala. Menatap Abi yang menunggu jawabanku.

“Terserah Abi saja,” sahutku pelan, “aku menurut kalau sekiranya dia baik menurut pendapat Abi.” Pungkasku.

“Alhamdulillaah...,” terdengar suara mereka semua mengucap syukur mendengar jawabanku.

Entah aku harus bahagia atau bagaimana. Tapi tak ada salahnya menuruti kata-kata Abi. Karena aku yakin beliau tidak sembarangan dalam memilih calon menantu. Contohnya saja Azizah dan... Hakim.

   ***

Jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Suasana rumah sudah sepi, karena penghuninya sudah kembali ke peraduan masing-masing untuk menunaikan hak tubuh. Sedangkan aku masih setia duduk di sini, di depan televisi. Aku mengambil chanel kartun. Sebab sampai usia 26 tahun ini aku masih suka dengan film kegemaran anak-anak itu meskipun pikiranku tidak fokus pada acara yang sedang kutonton.

“Jihan?” tiba-tiba suara Fadil membuatku terkejut.

“Abang, bikin kaget aja. Aku kira siapa,”

“Maaaaf,” ucapnya sambil menghempaskan tubuhnya di sebelahku. Di tangannya ada segelas minuman dingin yang baru saja ia ambil dari lemari es. Ia meneguknya beberapa kali dan menaruh sisanya di atas meja.

“Kapan dewasanya kalau nonton Doraemon terus?” ledeknya.

“Biarin ah, lumayan buat ngilangin bete,” sahutku cuek.

“Kenapa belum tidur? Udah malam lho ini,” matanya melirik jam di dinding.

“Belum ngantuk, Bang.”

“Harusnya tilawah bukannya nonton,”

“Udah kok Bang, tapi tetep aja nggak bisa tidur. Makanya melipir kemari,”

Fadil menarik napas dalam. “Mikirin apa sih?”

Aku tak menjawab.

“Apa soal perjodohanmu?” tebaknya.

Terpaksa aku mengangguk. “Iya, Bang.”

“Jihan, yakinlah bahwa pilihan orang tua itu InsyaaAllah baik. Meskipun kita tak mendapatkan apa yang kita inginkan. Tapi Allah lebih tahu siapa yang terbaik untuk kita,” tuturnya. “Abang tahu, masih sulit untukmu menerima pernikahan Hakim dan Madya, tapi kamu harus move on. Berarti Hakim bukan jodohmu, ada seseorang yang jauh lebih baik sedang menantimu di sana,”

Aku membalas tatapan Fadil. “Apa aku terlihat selemah itu? Abang kira aku belum move on dari Hakim?”

“Yang abang lihat sih begitu,”

“Enak aja, makanya jangan sok tahu! Udah ah, aku mau tidur, minggir! Ntar telat subuhnya,” aku bangkit dan meninggalkan Fadil sendirian dengan wajah bete karena di cuekin.

Sebelum ke kamar aku mampir ke dapur dulu untuk mengambil air minum. Dan ketika di ambang pintu aku melihat Hakim dan Madya ada di sana. Terlihat Madya tengah mengambil minuman dingin dari kulkas, sedangkan Hakim menungguinya. Mereka memang sengaja menginap di sini malam ini.

Aku menghentikan langkahku, ada rasa sesak kembali menyeruak kala melihat kemesraan mereka. Lalu aku membalikkan badan dan mengurungkan niatku untuk mengambil apa yang kubutuhkan.

“Kak Jihan?” suara Madya menghentikan langkahku. “Kakak mau kemana?”

“Nggak ada, tadinya mau ambil minum tapi...ah sudahlah, kakak mau kekamar dulu,” bergegas aku meninggalkan mereka menuju kamarku di lantai dua. Aku tahu ada tatapan aneh dari sepasang mata teduh itu.

‘Ya Allah! Kenapa rasanya masih sakit? Dia suami adikku. Dia adik iparku. Tapi kenapa setiap melihat mereka aku cemburu? Kenapa harus Madya? Kenapa?’ Aku menangis sambil berlari menaiki anak tangga satu persatu. Sesampai di kamar aku membenamkan wajahku ke atas bantal berwarna putih itu. Menahan agar suara tangisku tak terdengar oleh abi dan umi yang kamarnya persis di samping kamarku.

   ***

Pagi ini aku membawa sarapanku ke teras belakang. Karena tak lagi ingin menyaksikan adegan romantis pengantin baru itu di meja makan. Akan bertambah luka di hatiku jika tetap memaksakan diri berkumpul dengan mereka. Aku menikmati potongan brownies kukus buatan Umi sambil membuka laptopku. Terlihat Fadil tengah asyik menyiram tanaman bersama Abi.

“Kenapa sarapan di situ, Jihan?” Tanya Abi.

“Lagi nyari udara segar, Bi,” sahutku.

Sementara Fadil hanya tersenyum seolah paham isi hati adiknya ini.

Aku tak lagi mempedulikan mereka, asyik dengan laptop dan browniesku.

“Boleh aku duduk di sini?” Tiba-tiba Hakim muncul, di tangannya ada secangkir kopi hitam. Aku terkejut dengan kehadirannya.

“Kenapa harus di sini? Kenapa tidak menemani istrimu di dalam?”

“Madya lagi mau ke toko kue sama Kak Azizah, boleh kan ngobrol sebentar?”

Fadil dan Abi memandang heran dari jauh. Apalagi Fadil, terlihat sekali dahinya berkerut.

“Maaf, aku sedang sibuk. Lagian tidak baik ngobrol dengan ipar berduaan begini.” Sahutku tegas tanpa memindahkan pandanganku dari layar laptop.

“Ada abi dan bang Fadil di sana, jadi kita tidak berdua,” kilahnya sambil mendaratkan tubuhnya di kursi yang terletak persis di depanku.

Tahu apa yang kurasakan?
Jantungku berdetak sangat cepat meskipun aku tidak melihat wajahnya.

“Jihan..,”

“Panggil aku Kakak, karena kamu menikah dengan adikku. Walau usiamu lebih tua dariku, tapi sat ini kamu adalah adik iparku!” Potongku.

“Panggilan kakak hanya berlaku di tengah keluarga, tidak dalam situasi sekarang.” Bantahnya datar.

Aku menghela napas. “Bicaralah cepat apa yang ingin dibicarakan. Aku tak punya banyak waktu.”

Hakim terdiam. Mungkin heran dengan sikapku yang mendadak judes. Padahal kejudesanku ini hanya karena aku ingin menutupi rasa gugup.

“Kamu tahu Jihan? Kalau sebenarnya bukan Madya yang ingin aku lamar waktu itu,” akunya, “tapi kamu.”

Aku tersedak. Lalu buru-buru meraih tehku dan meneguknya beberapa kali.

“Apa yang sedang kamu bicarakan?” aku menutup laptop dan melempar pandangan ke arah taman.

“Aku bicara yang sesungguhnya, Jihan. Waktu itu...” Hakim menggantung kalimatnya saat melihat Fadil mendekat. Sepertinya Fadil cemas melihat kami.

“Jihan! Kenapa masih di sini? Sana mandi! Siap-siap bentar lagi keluarga Amran datang!” Perintahnya. Rautnya terlihat tak senang dengan kehadiran Hakim di sini.

“Baik, Bang,” sahutku patuh. Lalu bangkit dan berlalu begitu saja dari hadapan mereka. Padahal aku begitu penasaran dengan apa yang akan di sampaikan Hakim tadi. Kenapa dia bilang kalau sebenarnya yang mau dia lamar itu aku? Lalu kalau itu benar kenapa Madya yang dia khitbah? ‘Ah, sudahlah Jihan! Jangan berharap sesuatu di luar batas kewajaran, dia suami adikmu, dia adik iparmu!’ hati kecilku berkata.

[Jika saja orang tuaku tidak salah sangka waktu itu, mungkin kamu yang sekarang mendampingiku, Jihan. Tapi ketika aku menyadari semua sudah terlambat, semua sudah ditetapkan dan aku tak kuasa menolak]

Mataku membesar membaca pesan yang baru saja masuk ke ponselku. Lututku terasa lemas. Tapi apalah gunanya ia memberitahuku saat ini apapun masalahnya. Nasi sudah jadi bubur. Semua sudah terlambat. Dia sudah menikahi Madya dan tidak terlihat ada paksaan di sana. Ia tetap memperlakukan Madya selayaknya istri yang sangat ia cintai.

Perlahan aku duduk di sisi ranjangku, mencoba mencerna semua yang terjadi. Tapi kenapa Hakim selalu menunjukkan sikap mesranya pada Madya kalau di depanku? Apa dia mau membuatku cemburu? Jadi kalau aku cemburu apa untungnya buat dia?

Tanpa berniat membalas pesannya aku menaruh ponselku di atas nakas, lalu melangkah menuju kamar mandi. Aku harus segera bersiap, sebentar lagi Amran dan keluarganya akan datang. Aku harus move on dari sosok adik iparku itu.
Tok!Tok!Tok!

“Jihan, umi boleh masuk?” terdengar suara umi dari luar kamar.

“Boleh Umi, masuk aja nggak di kunci kok,” sahutku sembari mengikat rambut.

Tak lama wajah ayu itu muncul. Beliau tersenyum, melangkah mendekatiku.

“Udah siap, Nak?”

“Udah, Mi. Tinggal pasang kerudung, kok,” sahutku sambil membalas senyumannya.

Umi duduk di sisi ranjangku. “Jihan, duduklah sebentar di sini, ada yang ingin Umi sampaikan,” pintanya. Kulihat raut wajah umi sedikit risau.

Tanpa menunggu aku langsung mematuhi perintahnya. Kami saling berpandangan. “Ada apa, Mi?”

Tangannya menyentuh pipiku, bibirnya bergetar seolah menahan tangis. “Maafkan Umi,” lirihnya.

Dahiku berkerut. “Ada apa Umi? Apa yang terjadi?” kuusap air mata yang jatuh di sudut netranya.

“Maaf kalau Umi tidak jujur mengenai Hakim dan Madya,”

Aku semakin tidak paham arah pembicaraan Umi.

“Sebenarnya waktu itu orang tua Hakim salah dalam...melamar,” suara Umi terbata. Kubiarkan ia menuntaskan kalimatnya. “Seharusnya yang ia lamar adalah kamu, tapi...”

“Tapi apa Mi?”

“Tapi orang tua Hakim tidak sadar kalau sesungguhnya wanita yang di tuju Hakim adalah kamu bukan Madya,”

Aku menahan napas, terngiang ucapan Hakim tadi pagi.

“Tapi karena Hakim lupa menyebutkan namamu, sehingga mereka mengira bahwa Madya-lah yang dimaksud Hakim. Karena kebetulan waktu itu hanya Madya yang ada di rumah, dan Madya langsung menerima lamaran itu. Sebab Madya bilang kalau sebenarnya ia sudah lama juga menaruh hati pada Hakim, jadi...Umi tak kuasa membatalkan lamaran itu saat orang tua hakim memberitahu umi bahwa mereka salah orang, umi takut kalau...kalau Madya terluka. Apalagi Hakim akhirnya mau menerima Madya meskipun awalnya dia keberatan,” ada beban yang begitu berat terdengar dari setiap kata yang ia ucapkan.

 Rumit kedengarannya, tapi begitulah yang namanya takdir. Harus ada yang dikorbankan demi kebahagiaan seseorang. Bahkan Hakim sendiri rela mengorbankan itu semua agar Madya tidak terluka.

“Nggak apa-apa, Mi. Lagian, Madya lebih cocok buat Hakim. Dia lebih cantik, pintar, periang...sedangkan aku?” Aku menertawai diriku. “Meskipun orangtuanya tahu kalau sebenarnya aku yang Hakim tuju, mereka takkan mau. Siapa yang mau punya menantu sepertiku? Hanya seorang wanita biasa, tidak menarik dari sisi manapun, yang selalu mementingkan pendidikan. Mana pantas bersanding dengan anaknya yang tampan itu,”

“Jihan!” Umi menarikku kedalam pelukannya. Ia menangis. “Hentikan! Jangan berkata seperti itu lagi, cukup!”

“Tapi memang begitu kenyataannya kan, Mi? Madya selalu nomor satu dalam segala hal, sedangkan aku?” Suaraku sedikit meninggi karena ego sedang menguasai.

“Tidak Jihan, demi Allah jangan bicara seperti itu!” Umi melepas pelukannya dan menatap nanar mataku. “Kalian semua sama dimata Umi, baik itu kamu, Madya maupun Fadil. Tak pernah ada niat untuk membedakan kalian. Ini semua takdir, Jihan.”

“Bahkan dalam soal jodoh pun aku harus mengalah,” lirihku, “padahal aku sangat menyukai lelaki itu,”

“Tapi kamu tidak pernah mengatakan apapun tentang Hakim pada Umi, Nak.”

“Karena aku berniat mengatakannya setelah S2-ku selesai, Mi!”

Umi menggeleng, “tapi semua sudah terlambat Jihan, Umi minta maaf, andai umi tahu dari awal, tentu semua tidak akan terjadi,” ia terisak.

Aku menarik napas panjang, menatap wajah Umi yang penuh lelahan air mata. Menyesal karena barusan aku telah mendebat wanita ini. Astaghfirullaah!

Kuraih tangan Umi. “Mi..., maaf kalau kata-kataku tadi tidak berkenan di hati umi,” air mata mulai berjatuhan di pipiku.

“Tidak, kamu tidak salah. Kami yang salah sebagai orang tua. Maaf jika kamu harus berkorban demi Madya, dan maafkan umi jika harus menceritakan ini padamu sekarang. Karena umi tak ingin menanggung rasa bersalah seumur hidup jika kamu tidak mengetahui kebenaran ini,” Umi kembali memelukku. Erat.

“InsyaaAllah, aku tidak apa-apa.” Sungguh jawaban yang penuh dengan kebohongan demi memperlihatkan ketegaran seorang Jihan.

   Umi melepas pelukannya dan mengusap air mataku dengan tangannya. “Sebentar lagi Amran datang,” Umi mencoba tersenyum meski terlihat getir. “Pergilah ambil wudhu agar wajahmu kembali segar dan cepat kenakan kerudungmu, Umi akan menunggu di bawah,”

Aku mengangguk patuh meski hati terasa ada yang mengganjal setelah mendengar penuturan beliau.

Wanita itu menghilang di balik pintu. Aku masih bergeming. Seakan tak percaya semua ini terjadi. Memang sukar untuk di mengerti dan ini semua seperti sebuah sandiwara yang sengaja dibuat untuk menyatukan Madya dan Hakim. Sehingga dibuat seolah-olah sebuah kesalahan dan akhirnya...akulah korbannya.

Mereka terlalu sibuk menjaga hati Madya agar tak terluka. Lalu bagaimana dengan luka hatiku? Adakah yang peduli?

Kuusap air mata yang kembali menetes sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu.

 Aku ingin berpura-pura tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku ingin berpura-pura tidak tahu bahwa sebenarnya Hakim juga menyukaiku. Aku ingin berpura-pura tidak tahu kalau telah terjadi sesuatu yang ganjil di rumah ini. Memang seharusnya Umi maupun Hakim tak memberitahuku, jadi aku takkan seterluka ini.

“Kak Jihan, buruan! Tamunya sudah datang, Kak.” Kepala Madya muncul dari balik pintu kamarku.

Entah kenapa perasaan ini tiba-tiba terasa ganjil pada Madya, ada sedikit iri dihati saat menyadari bahwa ia memang sangat beruntung karena bisa menikah dengan laki-laki seperti Hakim.

“Iya sebentar, kamu duluan aja. Kakak sebentar lagi turun.” Sahutku datar sambil mengenakan kerudung hitam.

“Oke deh, buruan ya, Kak!” ucapnya sekali lagi sebelum pergi.

Hanya kujawab dengan anggukan dan sebuah senyum yang dipaksakan.

***

Aku menuruni anak tangga dengan perlahan. Malas sebenarnya bertemu orang-orang dalam situasi hati seperti ini. Apalagi melihat mereka, Umi, Abi dan Hakim yang seolah telah berkhianat padaku. Mereka telah melakukan sesuatu yang menurutku tidak adil.

Aku sampai di ruang tamu. Semua sudah hadir di sana. Umi berdiri dan menarik tanganku untuk duduk di sampingnya. Ada seorang lelaki asing yang tak sengaja saling bertemu pandang denganku. Hanya beberapa detik sebelum kami sama-sama membuang pandangan. Mungkin dia yang bernama Amran. Orangnya berperawakan tinggi, gagah dan terlihat sangat santun. Ah, lagi-lagi aku merasa minder. Mana mungkin orang seperti dia mau dengan perempuan sepertiku. Dia begitu terplajar dan juga seorang hafizh, bodoh sekali kalau dia mau menerima perjodohan ini.

“Jihan, ini Amran dan keluarganya,” Abi membuka suara.

Aku mengedarkan pandangan pada orang yang dimaksud abi, lalu berusaha tersenyum setulus mungkin.

“Nak Amran, ini dia Jihan yang kita bicarakan tempo hari. Bagaimana?” Tanpa basa basi abi langsung pada pokok permasalahan.

Terlihat laki-laki itu mengangkat kepalanya, menatapku sambil memberikan sebuah senyuman, lalu menoleh pada abi, “iya Om, insyaaAllah...saya bersedia menjadi imam untuk Jihan.” Jawabnya yakin.

Aku terkesiap. Apa aku tidak salah dengar? Amran mau menerimaku? Apa matanya tidak salah lihat?

“Alhamdulillaah.” Ucapan syukur menggema di ruangan itu.

“Kalau begitu kita aka segera tentukan tanggal pernikahan secepatnya.” Pungkas Abi.

Ingin rasanya aku membuka suara tapi lidahku terasa kelu. Hanya ada rasa sesak di dada, ketika melihat rona bahagia terpancar di wajah mereka semua.

Akhirnya aku minta izin pada mereka untuk kembali ke atas setelah beberapa menit aku tak jua mampu mengeluarkan suara. Setengah berlari aku menaiki anak tangga diiringi tatapan sepasang mata teduh. Aku menuju balkon, dan menumpahkan tangisku di sana.

‘Ini tidak adil, sungguh tidak adil! Aku tidak menginginkan lelaki itu, meskipun pilihan Abi tidak akan pernah salah. Tapi...tapi bukankah aku juga berhak mendapatkan apa yang aku inginkan? Seperti Madya? Tak bolehkah aku juga memiliki kebahagiaan seperti dia?’

‘Mereka dengan seenaknya mengatur hidupku tanpa memberiku kesempatan untuk memutuskan. Bahkan saat lamaran itu salah alamat mereka juga tak berusaha memberitahuku atau mencoba memperbaikinya. Kenapa? Kenapa hanya Madya yang berhak bahagia? Apa mereka tidak tahu bagaimana sakitnya hatiku melihat kemesraan Hakim dan Madya? Apa mereka sama sekali tak memikirkan perasaanku?’

“Andai ada yang bisa abang lakukan untuk menghentikan tangismu, maka akan abang lakukan,” tiba-tiba saja Fadil sudah berdiri di depanku. Tatapannya nanar.

Aku terdiam, mengatupkan bibir agar tangis segera berhenti. Lalu melempar pandangan ke langit biru, berharap ia bisa menghentikan lara ini.

“Berusahalah untuk menerima semua takdir Allah, Jihan. Abang tahu ini sulit, tapi jika kamu ikhlas dan berusaha pasti lama-lama akan terbiasa.”

Fadil belum tahu saja apa yang sebenarnya terjadi. Kalaupun dia tahu entah apa yang akan dia lakukan.

“Amran laki-laki baik. Kamu beruntung mendapatkan dia,” Fadil tersenyum memandangku.

“Tapi aku tidak menyukainya,” sanggahku, “aku masih belum bisa menerima kenyataan kalau Hakim adalah adik iparku,” aku kembali menangis. “Aku masih belum bisa melupakannya, Bang. Aku...aku mencintainya dan...” kalimatku terhenti saat mataku menangkap sosok Hakim berdiri terpaku di ambang pintu demi mendengar semua kata-kataku barusan. Fadil pun tampak terkejut karena kehadirannya yang tiba-tiba.

Aku dan Fadil saling berpandangan.

“Maaf kalau kehadiranku mengganggu, tapi Amran dan keluarganya akan segera pulang, mereka mencari Abang dan...kak Jihan,” Hakim pun terlihat gugup.

“Abang saja yang turun, aku mau di sini saja,” ujarku pada Fadil sambil menyusut sisa air mata.

Fadil mengangguk mengiyakan. Lalu melangkah meninggalkanku. Sementara Hakim masih terpaku di tempatnya.

“Sampai kapan kamu mau berdiri di situ?” Tanyaku tanpa menoleh padanya.

“Maaf,” hanya itu yang terucap dari bibirnya.

“Pergilah! Lupakan semua yang kamu dengar tadi!” Tegasku.

“Tidak akan aku lupa, sampai aku melihatmu menikah dan bahagia bersama Amran.” Pungkasnya sebelum melangkah meninggalkanku seorang diri.

Aku membalikkan tubuhku dan hanya bisa menatap punggungnya yang berangsur menghilang dari pandangan.

Dan tangisku kembali pecah.
Pagi ini aku akan bertolak ke Jakarta bersama Fadil dan keluarganya. Mungkin aku akan merasa sedikit lega karena tidak akan melihat Hakim dan Madya lagi untuk sementara waktu. Tapi hatiku? Perlu waktu untuk menerima  semua yang sudah terjadi.

“Jihan, jaga dirimu baik-baik. Nanti tanggal pernikahan akan segera kami kabari. Mungkin dalam waktu dekat,” ujar Abi.

“Apa tidak bisa menunggu sampai kuliahku selesai, Bi?” Harapku.

“Tidak. Itu terlalu lama. Pernikahanmu lebih penting. Kalau rasanya mengganggu...kamu berhenti saja kuliahnya.” Jawaban Abi tegas.

Aku membelalakkan mata, “berhenti? Apa tidak ada pilihan lain, Bi?” Rengekku.

“Jihan,” Umi menengahi, “jangan membantah Abi. Semua demi kebaikanmu,”

‘Apa? Kebaikanku atau kebaikan mereka?’ batinku.

Aku diam, tak lagi menjawab. Hanya menahan rasa kesal dalam hati.

Kemudian dengan malas aku memeluk mereka satu persatu. Abi, umi, Madya...lalu saat sampai pada lelaki itu aku hanya menangkupkan tangan di dada, begitupun yang ia lakukan.

“Jaga adikku baik-baik!” Kalimat itu keluar begitu saja dari bibirku.

Sempat kulihat ia hanya mengangguk pelan.

Kemudian aku bergegas masuk ke dalam taksi yang akan mengantar kami ke bandara. Fadil dan keluarganya sudah menunggu di dalam.

Aku memandang mereka yang mengiringi kepergian kami. Bahkan ketika mesin beroda empat itu bergerak perlahan, kulihat Hakim menyeka sudut matanya, dan mencoba terenyum meski terlihat sekali kalau itu dipaksakan. Perih rasanya. Tapi aku tak kuasa berbuat apa-apa. Hanya bisa berdoa semoga mereka bahagia meskipun dada terasa sesak.

[Jaga dirimu baik-baik...kak Jihan]

Sebaris pesan yang masuk ke ponselku benar-benar membuat air mataku akhirnya jatuh. Azizah memegang tanganku erat, seolah ia tahu apa yang sedang kurasakan. Mungkin juga dia memang sudah tahu dari Fadil tentang apa yang sudah terjadi.

“Semua akan baik-baik saja, Jihan. Percayalah!” lirihnya.

Aku mengigit bibir bawahku, berusaha agar luka ini tak terlalu sakit rasanya. “Tapi rasanya begitu sakit, Kak,” sahutku dengan suara hampir tak terdengar.

Fadil yang duduk di depan menoleh ke belakang, lalu ia juga mengulurkan tangannya padaku dan ikut menggenggam tanganku. “Ingatlah bahwa sabar dan shalat adalah sebaik-baik penolong.” Ucapnya lugas. “Ada abang dan kakakmu yang akan membantu merawat luka itu. Kamu nggak sendiri,”

Aku hanya terdiam mendengar ucapan Fadil. Ya, hanya Fadil yang sangat mengerti aku. Sejak aku masih kecil ia sangat menyayangiku. Selalu melindungi dan tak sedikitpun pernah menyakitiku. Hingga kini saat kami telah dewasa, rasa itu masih sama. Ia tak pernah berubah.

“Tapi aku nggak mau berhenti kuliah, Bang,” ujarku diantara isak tangis, “abi terlalu egois, selalu mementingkan diri sendiri.”

“Kamu nggak boleh ngomong kayak gitu. Walau bagaimanapun dia orang tua kita. Kalau soal kuliahmu, masih bisa kita bicarakan nanti. Yang jelas sekarang kamu jalani saja hari-harimu seperti biasa. Minta sama Allah apa saja yang kamu inginkan.” Pungkasnya.

Aku menarik napas panjang, berusaha menghentikan tangis yang masih terasa menyesak di dada. Fadil benar, aku harus berusaha menjalani hari-hariku seperti biasa. Menunggu takdir yang telah digariskan untukku.

  ***

Sebulan berlalu.

Aku baru saja sampai di rumah selepas zuhur berlalu saat melihat Azizah sibuk menata makanan yang lumayan banyak di meja makan.

“Banyak banget Kak makanannya? Mau ada tamu’kah?”

Azizah tersenyum sumringah. “Iya, kita ada tamu spesial hari ini,” ia mencolek pipiku sebelum kembali ke dapur. Aku pun mengekorinya.

“Siapa sih, Kak?” tanyaku seraya mengambil minuman dingin dari lemari es.

“Mau tahu aja atau mau tahu bangeeet?” Godanya.

“Ishhh, pake rahasia-rahasia segala,” aku ngeloyor pergi seolah tak peduli menuju kamar dengan segelas minuman dingin di tangan.

“Amran dan Hakim datang hari ini.” Ucap Azizah. Seketika langkahku terhenti. Membalikkan tubuh dan memandang heran pada Azizah.

“Mereka udah di sini sejak kemaren, nginap di Hotel. Katanya mereka mau membeli sesuatu untuk persiapan pernikahanmu dan Amran,” Azizah kembali membawa beberapa piring di tangan.

Tenggorokanku tercekat. “Apakah tanggal pernikahan sudah ditetapkan?”

Wanita berparas manis itu menatapku, lalu mengangguk. “Iya, sudah. Dua hari yang lalu abimu sudah mengabarkan pada abangmu. Apa dia belum memberitahumu?”

Aku menggeleng. “Belum, Kak.”

“InsyaAllah akhir bulan ini, kurang lebih tiga minggu lagi kayaknya. Kakak lupa tanggal persisnya. Nanti tanya sama abangmu, ya? Dia lagi jemput Hakim dan Amran ke hotel,”

Kemudin aku kembali melangkah menuju kamar. Menutup pintu, mendaratkan tubuhku di tepi ranjang. Lalu meneguk minuman dingin itu hingga setengahnya. Entah aku harus bahagia atau sedih dengan rencana pernikahan ini.

Kuletakkan gelas di atas nakas dan membaringkan tubuh yang terasa lelah. Entah sampai berapa lama aku tertidur hingga aku terbangun ketika Azizah mengetuk pintu.

“Jihan, kakak masuk ya?”

“Iya Kak, masuk aja!” Sahutku dengan suara serak khas orang bangun tidur.

“Kamu tidur? Maaf ya, kakak jadi bangunin kamu,” ujarnya saat ia sudah berada di dalam kamarku.

Dengan malas aku pun bangkit. “Nggak apa-apa Kak,”

“Kamu belum mandi ya? Tidur sampe nggak ganti baju begitu,”

Aku cuma nyengir.

“Sana mandi dulu, Amran dan Hakim udah datang.”

“Lalu? Emangnya kita mau makan bareng sama mereka?”

“Ya enggak sih, itu mereka sudah hampir selesai makannya. Katanya kamu mau nganter Lathifah ke toko buku, udah jam tiga lo ini,” Azizah mengingatkan.

Aku menepuk dahi. “Astaghfirullaah...iya Kak, aku lupa. Ya udah suruh siap-siap ya Kak, aku mandi dulu,”

“Udah siap dari tadi malahan, dia udah nggak sabaran nungguin Ammah-nya. Mukanya udah cemberut,”

Aku tertawa kecil membayangkan wajah perempuan berusia tujuh tahun itu. “Iya, iya maaf...bentar ya Kak aku mandi dulu,” aku pun bangkit dan bergegas masuk ke kamar mandi.

Setengah jam kemudian aku sudah selesai mandi dan mengenakan pakaian. Gamis dan jilbab coklat tua, warna kesukaanku.

“Lathifah-nya mana Kak?” tanyaku saat melihat Azizah merapikan meja makan.

“Tuuh udah nungguin di mobil,”

“Ya Allah, beneran nggak sabar dia. Ya udah Kak, aku jalan dulu ya?” Aku menyalami tangan Azizah dan menciumnya penuh hormat.

“Iya, hati-hati ya? Jangan ngebut! Pulangnya juga jangan kemalaman,”

“Iyaaa, kakak bawel,” sahutku sambil mencubit pipinya gemas. Azizah hanya tertawa kecil sambil meringis.

Aku melangkah meninggalkannya. Saat akan melewati ruang tamu, langkahku terhenti saat mataku bertemu pandang sejenak dengan Hakim. Laki-laki itu segera membuang pandangan, begitupun denganku. Amran pun demikian, ketika menyadari kehadiranku dia hanya tersenyum sesaat sebelum kemudian juga mengalihkan pandangannya.

“Bang, Jihan jalan dulu ya?” Pamitku pada Fadil. Menyalami dan mencium tangannya.

“Lho? Mau kemana sore begini?” Fadil tampak heran.

“Mau ke toko buku bentar nganter Lathifah,” sahutku.

“Ooh, ya udah. Hati-hati ya, jangan ngebut, jangan kemalaman.” Hufft! Kata-katanya hasil nyontek Azizah.

“InsyaaAllah,” sahutku singkat. Lalu pandanganku mengarah pada Amran dan Hakim, “saya jalan dulu, Mas Amran, Hakim.”

“Iya, silahkan,” jawab mereka hampir serentak.

Aku pun berlalu meninggalkan tiga lelaki itu.

“Jihan!” Sebuah suara membuatku mengurungkan niat untuk membuka pintu mobil. Aku membalikkan badan, dan melihat Amran sudah berdiri di sana.

“Ada apa?” Tanyaku tanpa memandang wajahnya. Canggung rasanya karena ini pertama kalinya dia menegurku.

“Maaf, kalau abang lancang. Tapi abang berdiri di sini sekarang sudah seizin abangmu,” ujarnya, “abang hanya ingin bertanya sesuatu, karena waktu itu kamu tidak bicara apa-apa saat pertemuan kita,”

“Mau bertanya apa? Jangan lama-lama ya? Kasihan Lathifah udah nungguin,”

“Oh, ya sudah kalau gitu. Kamu jalan aja dulu! Abang tunggu kamu pulang!” Pungkasnya.

“Baiklah, aku pergi dulu. Assalaamu’alaykum!” aku pun masuk ke dalam mobil tanpa basa basi.

“Wa’alaykumusalaam, hati-hati Jihan!”

Hanya anggukan sebagai jawabanku. Lalu membawa mesin beroda empat itu bergerak meninggalkan halaman rumah. Membelah jalanan ibu kota yang mulai ramai karena jam pulang kantor sudah di mulai.

Amran, dia memang terlihat baik. Dia memiliki segalanya. Tapi sayangnya hatiku belum mampu menerima kehadirannya. Dia sepupu jauh dari Hakim, usianya juga lebih tua dari Hakim. Ah, dia terlihat begitu sempurna di mataku. Bagaimana mungkin dia bisa memilihku sebagai istrinya? Dalam segi fisik saja kami begitu jauh berbeda, apa dia tidak malu punya istri sepertiku? Karena aku tidak seperti Madya, yang begitu sempurna sebagai seorang wanita.

    ***

Baru saja aku menyelesaikan tilawah saat terdengar tiga lelaki itu kembali dari masjid untuk menunaikan shalat Isya.

[Maaf jihan, sepertinya tidak memungkinkan untuk kita bicara, karena sudah malam, besok kami pulang jadi harus segera siap-siap. Mungkin pertanyaannya abang simpan saja sampai kita menikah nanti, akan lebih leluasa untuk kita bicara dan tidak ada syaithan yang akan ikut campur. Abang pamit dulu, jaga diri dan jangan suka keluyuran. Ini Jakarta, tidak baik untuk wanita sepertimu sering keluar tanpa mahram begitu. Oh ya, ada hadiah kecil untukmu, abang titipkan sama bang Fadil. Assalaamu’alaykum]

Beberapa baris pesan tertera di layar ponselku. Meski nomor itu tidak kukenal, tapi aku yakin itu adalah Amran. Tak ada niat untuk membalas pesan itu, hingga ponsel kuletakkan kembali di atas tempat tidur. Menarik napas dan mengembuskannya perlahan.

“Dia bilang aku keluyuran? Memangnya aku wanita apaan?” Desisku kesal.

[Jihan, aku pamit ya. Jaga diri baik-baik]

Satu pesan singkat dari Hakim. Ah, lagi-lagi dia! Tak bisakah dia bersikap cuek padaku? Nggak usah gini juga, pake pamit segala. Bikin nyesek aja!

Kembali tak ada niat untuk membalas. Aku lebih memilih mengutak atik laptop untuk mengerjakan beberapa tugas kuliah. Dari pada pikiranku tertuju pada adik iparku itu lagi.

***

“Jihan, abang masuk ya?” Terdengar suara Fadil.

“Iya bang, masuk aja nggak di kunci,”

Dan Fadil muncul, ditangannya ada sebuah kotak kado yang cukup besar.

“Kamu nggak makan dulu?”

“Tadi udah makan di luar sama Lathifah,” sahutku sambil tetap memainkan jari-jariku di atas keyboard.

Fadil mendekat dan menyodorkan kado yang tadi di bawanya.

“Amran menitipkan ini untukmu tadi,”

Aku menatap lekat kado itu. Dengan ragu mengambilnya dari tangan Fadil.

“Pernikahanmu tiga minggu lagi.”

“Iya Bang, aku tahu. Tadi kak Zizah sudah bilang,” sahutku pelan tanpa memandang wajahnya.

Terdengar helaan napasnya. Lalu ia mengusap kepalaku. “Semua akan baik-baik saja,” ucapnya.

“Oh ya, tadi abang sempat menanyakan perihal kuliahmu pada Amran. Katanya biar itu di bicarakan setelah menikah, karena itu akan jadi urusan kalian berdua nantinya,”

“Iya Bang, nggak apa-apa. Terima kasih,” ucapku.

“Ya sudah, abang mau tidur dulu. Ngantuk banget. Kamu juga tidur, jangan begadang, bentar lagi mau jadi pengantin,” selorohnya.

“Apaan sih!” Hampir saja lengannya kucubit kalau saja ia tak berhasil menghindar. Kemudian tubuhnya hilang di balik pintu kamarku.

Suasana kembali hening. Kupandangi kado yang terletak di atas mejaku. Perlahan aku membuka tutupnya. Dan...MaasyaaAllah! Mataku membesar saat melihat isinya. Sepasang gaun pengantin ala India muslim berwarna maroon kombinasi gold. Ini pernah kulihat disebuah olshop dan harganya lumayan, jutaan. Dan sekarang benda itu ada di hadapanku. Amran memberikan ini untukku? Bagaimana dia tahu tentang pernikahan impianku?

Ada secarik kertas kecil terselip di dalamnya.

‘Aku tahu tentang pernikahan impianmu dari Fadil beberapa hari yang lalu. Dan aku sengaja datang ke Jakarta hanya untuk mencari gaun ini. Pakailah disaat hari pernikahan kita, aku ingin melihatmu dengan gaun ini setelah ijab qabul di ucapkan.’
‘Aku tahu tentang pernikahan impianmu dari Fadil beberapa hari yang lalu. Dan aku sengaja datang ke Jakarta hanya untuk mencari gaun ini. Pakailah disaat hari pernikahan kita, aku ingin melihatmu dengan gaun ini setelah ijab qabul di ucapkan.’

Kuhela napas dalam-dalam. Menyimpan kembali gaun itu  ke dalam kotak berwarna keemasan dan membiarkannya begitu saja di meja. Mencoba kembali fokus dengan tugas kuliahku. Tapi percuma, semua buyar. Akhirnya aku menutup laptop, lalu meraih ponselku. Karena aku mendengar ada notifikasi WA masuk.

Amran : [Jihan, abang harap kamu suka dengan hadiahnya. Oh ya, abang lupa bertanya, kamu mau mahar apa? Mumpung abang masih di jakarta, siapa tahu masih bisa abang penuhi malam ini. Takutnya kamu minta mahar yang susah di cari lagi]

Aku : [Jika aku meminta hafalanmu, tentu sangat mudah bagimu kan? Bagaimana kalau aku meminta...] aku menggantung kalimatku sambil berpikir.

Amran : [Apa Jihan?]

Aku : [Kembalikan kebahagiaanku]

Arman : [Apa maksudmu? Apa kamu tidak bahagia dengan rencana pernikahan kita?]

Aku : [Wanita mana yang tidak bahagia jika dapat bersanding dengan laki-laki seperti abang?]

Amran : [Jangan bercanda terus Jihan, abang serius. Kamu mau mahar apa? ]

Jihan : [Tanyakan pada Hakim, mahar apa yang dia berikan pada Madya, maka aku juga mau yang seperti itu]

Amran tak lagi membalas. Pesanku hanya dia baca. Aku menghela napas, kembali ada sesak di dalam dada.

‘Apa yang barusan kulakukan? Meminta sesuatu yang sama dengan Madya? Konyol sekali rasanya tindakanku. Ah tapi biar saja, aku juga tidak tahu apa yang diberikan Hakim pada Madya sebagai mahar. Soalnya waktu mereka ijab qabul, aku tak begitu mendengar dengan jelas. Dan aku pun tak mau tahu.’

 Aku tersenyum. Pahit. Lalu merebahkan diri di ranjang. Menikmati masa-masa lajang yang sebentar lagi akan segera berakhir dan memulai hidup baru dengan laki-laki yang belum pernah kukenal sama sekali.

[Maaf jihan, abang tidak bisa memberikan mahar seperti yang di berikan Hakim untuk adikmu]

Akhirnya setelah 15 menit Arman membalas pesanku.

Aku : [Kenapa?]

Amran : [Kamu konyol sekali. Bagaimana mungkin aku harus ke Mesir dulu untuk mendapatkannya?]

Aku tertawa geli membayangkan ekspresi wajah Arman.

Amran : [ Jangan mempersulit Jihan]

Aku : [Ya sudahlah, aku juga nggak mau menyusahkan. Aku akan terima apa saja mahar pemberianmu]

Amran : [Alhamdulillaah...baiklah, terima kasih Jihan]

Semua bukan berarti aku sudah bisa menerimamu begitu saja Amran. Masih butuh waktu bagiku.

     ***

“Ka Jihaaan, aku hamiiiil!” Teriak Madya dari ujung telepon.

“Oh y? Alhamdulillaah, selamat kalau gitu dek,” sambutku. Meskipun di hati ada setitik rasa yang sulit kugambarkan.

“ Jaga kesehatan ya Madya, jangan kecapean. Suruah saja Hakim yang ngerjain semua pekerjaan,” selorohku disusul tawa renyah Madya.

“Pasti itu kaaaaak, ha...ha...ha..”

‘Madya, beruntungnya dirimu. Apalagi sudah ada benih milik Hakim di rahimmu. Hasil buah cinta kalian berdua. Entah aku harus bahagia atau sedih, karena lelaki itu telah menunjukkan kalau dia mencintaimu. Dan pastinya, karena kehadiranmu di sampingnya setiap saat, akan membuatnya lupa kalau seharusnya aku yang mendampinginya.’

Kuusap setetes air mata yang mengalir di sudut netra. Air mata yang sama sekali tak ada gunanya. Karena mulai sekarang aku harus meyakinkan diri, bahwa Hakim bukan jodohku dan Amran...mungkin dialah jodohku. Meskipun butuh waktu untuk bisa menerimanya.

                  ***

“SAAAH!”

Dadaku bergetar saat mendengar suara mereka di balik pintu kamar. Ada air mata yang tak berhenti mengalir. Ada rasa perih juga yang aku tak tahu apa penyebabnya. Yang jelas, detik ini aku adalah seorang istri. Istri dari seorang laki-laki bernama Amran. Laki-laki yang telah memintaku pada abi beberapa waktu yang lalu.

Tok!Tok!Tok!

Aku terkejut mendengar ketukan itu. Jantungku berdetak sangat kencang.

“Jihan, ayo keluar! Suamimu sudah menunggu di depan pintu,” suara Azizah terdengar memanggil.

“Kak Jihaaan, ayo buruaaaan!” kali ini Madya ikut bersuara.

Menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Aku bangkit dari dudukku. Menatap wajah dicermin, menghapus sisa air mata, kemudian menyeret langkah menuju pintu dengan balutan gaun maroon yang telah diberikan Amran beberapa minggu yang lalu.

Perlahan aku menekan handle pintu. Hingga saat pintu terkuak, “Baarakallaahu lakumaa wabaraka ‘alaykuma, wajama’a baynakumaa fii khair,” lantunan doa langsung menggema. Sosok Amran berdiri tepat di depanku, tapi aku tak sanggup untuk mengangkat kepala saat mata teduhnya menatap lekat padaku.

“Jihan...,” Amran mengulurkan tangannya padaku.

Kuberanikan mengangkat wajah, hingga mata kami saling bertemu pandang. Amran tersenyum, memberi isyarat agar aku menerima uluran tangannya.

Dengan ragu kusambut tangan kokoh itu, dan menciumnya dengan ta’dzhim layaknya seorang istri kepada suami. Amran menggandeng tanganku, mengajakku melangkah menyusuri anak tangga menuju lantai dasar untuk bertemu dengan keluarga dan para kerabat yang sudah hadir.

“Kamu terlihat cantik sekali dengan gaun ini, Jihan.” Pujinya dengan suara berbisik.

“Emangnya kemarin-kemarin nggak cantik?”

“Mana abang tahu, abang kan nggak gitu pernah melihatmu dengan jelas. Belum halal juga,”

“Nanti abang akan tahu, dan pasti akan menyesal karena menikah denganku,”

“Apa sih kamu?” Wajah Amran terlihat tak senang.

“Sssttt, nanti kita bahas!” Pungkasku.

 Semua tampak begitu bahagia, tak terkecuali Hakim. Ada senyum penuh arti yang ia tunjukkan padaku. Seolah mengatakan ‘selamat berbahagia, aku pun turut bahagia dengan pernikahanmu.’ Lalu aku mulai menyadari, bahwa aku tak lagi boleh memiliki sebuah rasa yang dulu pernah ada untuk Hakim ketika melihat Madya berdiri di sampingnya. Karena kini, aku sendiri sudah menikah dengan Amran.

   *** 

“Kenapa memilihku?” Sebuah tanya yang terlontar saat kami berjalan bergandengan menaiki anak tangga menuju lantai dua. Kami harus segera mengganti pakaian, sebab pesta akan segera dimulai.

“Menurutmu?”

“Aku kan bertanya, kenapa malah balik tanya?” Sungutku.

Amran tertawa kecil. Ia menahan langkahku saat kami sampai di depan pintu kamar. Tubuh kami saling berhadapan.

“Kamu tahu kenapa?” Ia menatap lekat mataku.

Aku menggeleng.

“Karena... Allah yang memilihkanmu untukku. Paham istriku?”

“Mungkin,” sahutku asal. “Ya sudah, ayo ganti pakaian, nanti kelamaan,” ujarku sambil masuk ke kamar. “Eits, tapi aku duluan ya, abang belakangan!” kudorong tubuhnya agar dia menjauh.

“Lho? Kan kita suami istri, udah sah kan? Berarti udah boleh dong sekamar?” Sanggahnya.

“Eeeeeeh, Amran. Jangan masuk dulu. Nggak sabaran amat sih!” Celetuk Azizah yang tiba-tiba sudah berada di sana.

“Bukannya nggak sabaran Kak, tapi kan memang udah halal, jadi boleh dong aku ikut ganti baju di dalam!” Sahutnya.

“Ssssstttt, nggak boleh. Kakak mau ikutan ke dalam dandanin Jihan, emangnya boleh begitu kamu ikut masuk sementara ada kakak di dalam?”

Amran menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil nyengir. “Ya udah Kak, aku tunggu di luar aja,”

“Nah gitu dong!” ucap Azizah sambil masuk dan menutup pintu kamarku.

   *** 

Sudah pukul dua belas malam. Pesta telah usai. Tapi suasana di luar masih ramai karena masih ada beberapa kerabat yang masih berkumpul.

Aku memilih mendekam dalam kamar. Meninggalkan Amran bersama mereka.

Setelah membersihkan tubuhku dengan air hangat, aku mencoba membaringkan tubuhku yang terasa sangat lelah di ranjang pengantin yang begitu indah. Hingga saat aku hampir tertidur, Amran masuk.

“Abang, biasakan kalau masuk kamar itu diketuk dulu!” Omelku. Entah dapat keberanian darimana aku bisa berkata sesuka hatiku padanya.

Amran tertawa. “Sejarah dari mana itu? Seorang suami masuk ke kamar istrinya pake ketuk pintu dulu?” Ejeknya.

“Tapi kan...”

“Tapi kan kita udah menikah.” Potongnya cepat. Lalu berjalan mendekatiku, dan duduk di sisi ranjang.

“Abang mau ngapain?” Tanyaku ketus sambil beringsut menjauh.

“Ya Allah, aku baru tahu istriku ini galak banget ya Allah,” ucapnya dengan mimik wajah lucu. Tak kusangka ia sekonyol ini. Semua wibawanya yang terlihat olehku hilang seketika.

“Kamu udah mandi ya? Wangi amat. Pasti udah nggak sabaran yaaa?” godanya sambil mengendus.

“Apaan sih?” Wajahku terasa panas digoda begitu.

“Santai aja, Sayang. Kita punya banyak waktu kok. Abang mandi dulu ya? Awass, jangan tidur duluan! Kita shalat sunnah dua rakaat dulu,”

“Iyaa, makanya buruan!”

“Hayoooo...nggak sabaran kaaaan?” Tubuhnya menghilang di balik pintu kamar mandi saat aku hendak melemparkan bantal ke arahnya.

Tak sadar aku tersenyum sendiri melihat tingkahnya. Dia mampu menghangatkan suasana yang seharusnya terasa kaku. Padahal belum sehari aku menjadi istrinya, tapi kenapa terasa begitu dekat?

   ***

“Tidurlah, kamu kelihatan capek banget,” ucapnya setelah kami selesai shalat dan dia membacakan doa sambil meniup ubun-ubunku.

“Abang mengizinkan?” tanyaku dengan mata berbinar.

“Kenapa tidak? Abang juga capek banget ini,” sahutnya sambil membaringkan tubuhnya. “Ayo sini, kita tidur. Kan udah suami istri, kenapa masih malu aja sih?” Amran menarik tanganku hingga aku berbaring di sisinya. Ia menjadikan lengannya sebagai alas kepalaku. Kami begitu dekat, aku bisa mendengar detakan jantungnya. Mungkin juga dia mendengar detakan jantungku yang tak karuan iramanya.

“Bang?”

“Hmh? Kenapa?” Suara Amran mulai melemah, sepertinya dia memang begitu lelah.

“Nggak apa-apa,”

Amran memiringkan tubuhnya, hingga kini kami saling berhadapan. Embusan napasnya yang segar menghadirkan sebuah rasa yang tak mampu kugambarkan. Tangan kokohnya ia lingkarkan ke tubuhku. Matanya sudah terpejam. Kurasa ia sudah terlelap karena ada dengkuran halus yang terdengar.

Tak pernah kubayangkan akan memiliki seorang suami setampan dia. Dan kini, ia benar-benar nyata dan berada dalam satu selimut bersamaku. Amran memiliki banyak kelebihan dibanding Hakim. Mungkin inilah yang di bilang Fadil, sesuatu yang terbaik dari Allah. Allah mengambil sesuatu dari tanganmu hingga tanganmu kosong, agar bisa menerima “hadiah” yang jauh lebih besar lagi dibanding apa yang telah hilang darimu.

Entah keberanian dari mana, hingga aku mengecup dahi Amran sebelum aku memejamkan mata dikala kantuk mulai menyerang. Tanpa kusadari Amran terbangun, dan ia tersenyum memandang wajah lelapku.

    *** 

Aku menggeliat, tatkala sayup kudengar lantunan ayat-ayat Allah begitu merdunya di lafadzkan. Tak kutemukan Amran di sampingku. Melirik jam di dinding masih pukul tiga dini hari. Terlihat Amran tengah khusyuk dengan Alqur’an di tangannya. Duduk di atas sajadah.

Padahal dia baru tidur tiga jam saja, bahkan mungkin kurang. Karena aku tak tahu sejak kapan dia bangun. Aku lupa, dia kan seorang hafidzh. Tentu saja ini waktunya untuk memuraja’ah hafalan dan mungkin juga ini sudah menjadi kebiasaannya sejak dulu.

Lalu aku bangkit dan turun dari tempat tidur. Aku mendekatinya dan tanpa meminta izin menyambung tidur di pangkuannya. Amran sedikit terkesiap dengan tingkahku. Tapi ia tampak tak terganggu, meneruskan bacaannya sambil tangan kanannya mengusap-usap kepalaku hingga tidurku kembali nyenyak dibuai suara merdunya. Rasanya adegan ini lebih romantis dibanding film Korea.

         ***

“Jihan, kok habis subuh tidur lagi?” Celetuk Amran saat ia baru saja pulang dari masjid. Ia menarik selimut yang menutup tubuhku.

“Aku capek banget Bang, please izinkan aku tidur sejam dua jam lagi yaa. Biasanya aku juga nggak pernah kok tidur habis subuh. Ini karena benar-benar kecapean, Bang. Boleh yaaaa?” rengekku dengan mata berat.

Tak tega juga dia melihatku hingga akhirnya ia mengangguk. “Ya sudah kalau gitu, nanti jam delapan abang bangunin ya?” Amran kembali menutup tubuhku dengan selimut.

“Makasih, Bang,” ucapku hingga aku tak lagi sadar. Terlelap dalam rasa kantuk yang begitu mendera. Pesta kemarin benar-benar menguras tenaga. Kami tak punya waktu istirahat menemui para tamu kecuali jam shalat dan makan. Kedua orang tua kami sengaja membuat pesta besar-besaran, mengingat aku yang terakhir menikah dikeluargaku dan Amran juga anak terakhir yang menikah meskipun dia adalah anak pertama.
Aku terbangun ketika jam menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh menit. Aah, kepalaku terasa berat sekali.

“Jihan? Sudah bangun?” Sapa Amran yang baru saja keluar dari kamar mandi. Wajah dan rambutnya basah terkena air wudhu.

Hanya kujawab dengan anggukan pelan.

“Sana mandi dulu, habis itu kita sarapan bareng.” Amran membentangkan sajadah.

“Abang belum sarapan?”

“Ya belumlah, kan nungguin nyonya besar bangun dulu. Nggak enak dong abang turun sendiri ke bawah tanpa kamu. Bisa diledek habis-habisan abang nanti,” sahutnya. Lalu ia fokus menghadap kiblat. Menunaikan shalat Dhuha.

Amran. Ibadahnya membuatku iri, bahkan sungguh terasa kerdilnya diri ini di hadapannya.

   ***

Amran berdiri di belakangku saat aku tengah menyisir rambut. Hingga wajah kami berdua terpampang jelas di kaca. Sebab postur tubuhnya yang lebih tinggi dariku. Di situ aku menyadari, betapa jauhnya perbedaan kami. Dia terlalu sempurna sebagai laki-laki.

“Hayoooo, mikirin apa?” Amran memelukku dari belakang, membuat aku benar-benar terkejut dengan perlakuannya.

Aku tak menjawab, hanya tertunduk menatap jemarinya yang tengah mendekap tubuhku.

“Aku tidak pantas bersanding denganmu, Bang. Kamu terlalu sempurna untukku,”

Amran melepas pelukannya. Lalu memutar tubuhku hingga kami saling berhadapan. Wajahnya begitu dekat denganku.

“Jangan pernah bicara seperti itu lagi, abang tidak suka!” Tegasnya pelan. “Abang memilihmu bukan dari segi fisik, tapi dari sini,” Amran menunjuk dadaku, “kamu memiliki hati yang baik, dan mungkin kamu tidak menyadarinya. Tapi abang bisa melihatnya,”

Aku tak menimpali, membuang pandanganku dari mata teduhnya. “Tapi aku merasa...kita tak sebanding. Bukan hanya dari segi fisik, tapi...,”

“Jihan!” Amran memotong ucapanku. “Jika membicarakan soal itu takkan ada habisnya. Yang jelas, abang memilihmu dan kamu sekarang adalah istri abang. Titik.” Pungkasnya.

 “Sekarang ayo kenakan bajumu, kita sarapan.”

Aku mengangguk patuh. Kemudian mengganti pakaian tidurku dengan gamis dan hijab panjang.

 Entah kenapa saat aku mengganti pakaian Amran selalu membuang muka, tak pernah ia melihat atau melirik sedikit pun. Padahal jika ia ingin melihat ya sah-sah saja, atau melakukan lebih dari itu juga bukan masalah. Tapi tidak, ia lebih memilih mengutak-atik ponselnya atau pura-pura sibuk membolak-balik mushaf. Aneh! Biasanya pengantin baru itu suka tidak sabaran ingin menuntaskan malam pertamanya, tapi Amran berbeda ia belum membahas soal itu semalam atau pun hari ini. ‘Kenapa? Apakah aku memang tidak menarik di matanya sama sekali?’ Tiba-tiba saja beribu pertanyaan bersarang di benakku.

     *** 

Sejak menyelesaikan S3-nya, Amran diangkat sebagai rektor di universitas tempat ia mengajar. Ia pernah mengajakku ke kampus dan memperkenalkanku pada teman-temannya. Selama di kampus, tangannya selalu menggandengku kemana-mana. Tak peduli tatapan aneh atau ledekan dari teman-teman atau pun mahasiswanya. Hanya aku saja yang merasa minder dan malu.

Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Kenapa sudah seminggu menikah dia sama sekali belum pernah menyentuhku. Menyentuh hanya sebatas kecupan di dahi atau di pipi saja, atau hanya sekedar memelukku. Tak pernah ia meminta lebih dari itu. Ia selalu bersikap baik dan mesra padaku. Walaupun saat kami sedang berdua atau sedang di depan keluarga dan orang lain. Bahkan ia cenderung selalu menuruti apa saja kemauanku mulai dari hal kecil sampai hal besar sekalipun. Termasuk saat aku meminta izin untuk kembali ke Jakarta menyeleaikan S2-ku.

“Silahkan kalau memang itu keinginanmu,” sahutnya sambil tersenyum dan membelai lembut kepalaku. Saat itu kami tengah menyusuri pinggiran pantai menikmati masa-masa yang disebut orang dengan honeymoon.

Kutatap wajahnya tak percaya. “Abang serius?” kuhentikan langkahku.

“Apa kedengarannya seperti main-main?” ia balik bertanya sambil melotot.

“Abang tidak keberatan?” Aku kembali meyakinkannya.

“Selama itu bisa membuatmu selalu tersenyum untuk abang, dan selama itu bisa membahagiakanmu, abang akan izinkan,” jawabnya.

“Ya Allah, makasih Bang,” kupeluk lengannya. Lalu kami kembali berjalan menyusuri bibir pantai. Deburan ombak yang memecah pantai seakan ikut merasakan kebahagiaan di hatiku. Embusan angin juga seakan membisikkan senandung bahagia di telinga. Akhirnya aku masih bisa meneruskan kuliahku, meskipun harus berpisah dengan suamiku. 

   *** 

Besok aku akan segera bertolak ke Jakarta setelah mengantongi izin dari Amran. Siang tadi aku sudah selesai berkemas. Semua yang aku perlukan sudah masuk ke dalam tas besar. Betapa rindunya aku bertemu dengan para dosen dan teman-temanku. Aku juga rindu dengan suasana kelas yang begitu hangat. Ah, jadi tersenyum sendiri membayangkannya.

“Hey, kenapa senyum-senyum sendiri?” Tanya Amran yang sejak tadi memperhatikanku. Kami sama-sama berbaring di ranjang malam itu.

“Ah, nggak Bang. Cuma rindu aja membayangkan suasana kampus,” sahutku sumringah.

Amran terdiam, terdengar helaan napasnya.

“Abang yakin mengizinkanku pergi? Nanti yang ngurus abang siapa?”

“Jangan bertanya lagi, atau surat izinnya abang cabut,” ancamnya.

“Iiiih, jangan dong Bang!” Rajukku sambil beringsut mendekatinya. Lalu meletakkan kepalaku di lengannya hingga dengan leluasa ia bisa memelukku. Kembali wajah kami berdekatan, mata saling berpandangan. Ada deru napas yang tak biasa terdengar. Aku menahan napas, berusaha menduga apa yang akan dia lakukan malam ini padaku. Aku ingin dia menuntaskan sebuah gelora yang harusnya sudah terbayar sejak malam pertama kami menikah, agar ia tak merasa tersiksa saat berjauhan denganku nanti.

“Tidurlah, besok kita harus berangkat pagi ke bandara,” ucapnya memecah keheningan. Dan seperti biasa, hanya berakhir dengan kecupan di dahi.

Aku tersadar dari khayalan, dan segera menguasai diri.

Kulihat Amran sudah memejamkan matanya. Deru napasnya sudah kembali tenang. Hanya detakan jantungnya yang masih terdengar kencang.

“Bang Amran?”

“Ya?”

“Apa nanti abang akan merindukanku?”

Amran tak menjawab. Hening. Bahkan sampai aku terlelap, aku tak mendengar sepatah kata pun dari bibirnya.
“Hafalanmu udah sampai di mana? Juz 30 udah hafal semua kan?” Tanya Amran saat dalam perjalanan menuju bandara.

“Sudah Bang, memangnya kenapa?”

“Sampai di Jakarta nanti kamu harus mulai menambah hafalan. Masuk juz 29 ya? Nanti setor sama abang melalui telepon tiap akhir pekan. Paham?”

Aduh, kenapa sih dia? Tiba-tiba kayak jadi guru tahfidzh begini?

“InsyaaAllah, Bang,” sahutku singkat.

“Selama di Jakarta jangan suka pergi sendirian, kalau pergi harus sama abangmu. Jangan keluar malam, jangan terlalu banyak interaksi dengan lawan jenis, jangan lupa...” Amran menggantung kalimatnya, “jangan lupa shalat tepat waktu.” Sepertinya bukan itu yang akan dia katakan, hanya mencoba berkilah.

Aku menatap wajahnya dari samping. Dia begitu cerewet dan banyak aturan, tapi aku tahu tujuannya baik.

“Apa abang akan merindukanku?” pertanyaan yang belum sempat terjawab semalam kembali kulontarkan.

Amran mengusap wajah dengan tangan kirinya dan menghela napas. Ia juga tak menjawab pertanyaanku kali ini.

“Bang, kenapa tidak menjawab?”

“Pertanyaanmu tidak membutuhkan jawaban dari abang, kamu sendiri nanti yang bisa menjawabnya.” Pungkasnya tanpa menoleh padaku.

“Abang menyesal menikah denganku?”

“Kenapa bertanya seperti itu lagi?”

“Karena...sampai hari ini...abang belum memperlakukanku sebagai seorang istri layaknya pasangan pengantin yang lain,” kuberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang sedang kurasakan. “Kita menikah sudah seminggu lebih, dan hari ini abang mengizinkanku untuk kembali kuliah ke Jakarta. Seolah abang nggak keberatan kalau aku jauh dari abang,” tuturku pelan. Tenggorokanku terasa tercekat. “Apa aku...apa aku tidak menarik di matamu?”

Amran menghentikan laju mobil dan menepi di pinggir jalan. Ia menghela napas lalu beristighfar.

“Jihan, kamu dengarkan abang! Abang menikahimu karena abang memang suka denganmu. Dan yang terpenting adalah...karena Allah. Jadi jangan berpikir yang tidak-tidak.”

“Lalu kenapa tak pernah menyentuhku?”

“Karena belum saatnya, Jihan!” Tegasnya.

“Saat seperti apa yang abang tunggu?”

Lelaki itu menatapku tajam, “saat nama Hakim hilang dari hati dan pikiranmu.”

DEG!
Aku terperanjat.

“Abang tidak mau, saat ragamu abang dapatkan tapi jiwamu bersama orang lain.” Pungkasnya. Lalu ia menyalakan mesin mobil, dan kembali membelah jalanan. Rautnya terlihat menahan amarah, tapi hanya seketika. Setelah kudengar bibirnya selalu beristighfar.

Aku bergeming. Tidak tahu harus berkata apa untuk menimpali. Hanya ada setitik air mata yang turun membasahi pipi, tapi buru-buru kuhapus sebelum Amran melihatnya.

“Kita pulang!” Pintaku akhirnya ketika setengah perjalanan telah dilalui. Rasanya semangatku untuk kembali ke Jakarta memudar.

“Apa maksudmu? Ini sudah setengah perjalanan Jihan!” Amran tampak bingung.

“Pokoknya aku mau pulang!” Aku sedikit menekan suaraku agar tidak terdengar meninggi.

Amran menepikan mobilnya kembali. Menelan saliva yang terasa pahit baginya.

“Mau kamu apa sebenarnya Jihan? Ini sudah separo perjalanan dan kamu minta kita balik?”

Aku bergeming.

“Tiket sudah di beli, dan...”

“Pokoknya aku mau pulang!” Potongku.

Amran menatap dengan raut wajah tak mengerti dengan kemauan istrinya.

“Baiklah, kita pulang!” Pungkasnya. Lalu memutar balik arah tujuan. Kembali ke Bukittinggi.

Suasana kembali hening. Tak ada yang bicara atau pun bertanya lagi. Aku berusaha menahan desakan-desakan di sudut mata. Berusaha agar mereka tak berhasil berlarian di pipiku.

Amran menyalakan murattal dan bibirnya tak berhenti mengikuti alunan suara Misyari Rasyid itu. Membiarkanku hanyut dalam setiap huruf yang ia lantunkan.

Aku sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba saja aku memutuskan untuk tidak ke Jakarta hari ini. Semua semangatku memudar kala nama Hakim ia sebut. Padahal aku sudah bersusah payah melupakannya dan mulai mencoba menerima keberadaan Amran.

“Maaf kalau kata-kata abang membuatmu tersinggung,” Amran menggenggam tanganku.

Aku tak menjawab. Menepis tangannya dengan pelan. Hingga lelaki itu terlihat serba salah.

“Abang tidak bermaksud...”

“Dari mana abang bisa tahu semua itu?” Tanyaku datar.

Gantian Amran yang terdiam. Ia mencoba fokus dengan kondisi jalanan di depannya yang mulai ramai.

“Kita baru menikah, tapi keadaannya sudah seperti ini,” sesalku.

Amran menghela napas, menahan sesuatu yang mungkin ia coba sembunyikan.

“Menikah hanya untuk saling menyakiti, apakah itu dibenarkan dalam syari’at? Lebih baik dulu abang tidak menikahiku jika hanya ingin membuatku seperti ini.” Air mata mulai turun perlahan membasahi pipiku.

“Jihan, Jihan jangan menangis!” Amran segitu paniknya melihat air mataku. “Abang sungguh-sungguh menyayangimu Jihan, abang tidak pernah main-main dalam menikahimu. Tapi...” ia menggantung kalimatnya. “Tapi abang tidak mau, jika kamu sudah bersama abang tapi pikiranmu pada lelaki lain.”

“Oh ya? Hebat sekali abang bisa membaca pikiranku.” Ucapku dingin.

Amran terdiam.

“Abang tahu? Betapa sulitnya aku mencoba menerima kehadiran abang dalam hidupku? Betapa sulitnya aku melupakan lelaki itu?” Tangisku benar-benar pecah. “Dan saat abang menikahiku, aku melepas semua cerita tentangnya, aku melepas semua rasa padanya. Dan aku mulai belajar mencintai abang. Tapi apa? Abang hanya menyakitiku, memperlakukanku seolah aku bukan istrimu. Memperkenalkanku kepada semua orang bahwa aku istrimu, tapi tidak pernah memperlakukanku layaknya istri. Aku hanya seperti pajangan dan sebagai bukti bahwa abang memiliki istri.”

“Jihan hentikan!” Napasnya tampak tersengal. “Astaghfirullaah...” ucapnya lirih. Amran kembali menepikan mobilnya dan mengatur napas yang naik turun. Wajahnya memerah menahan amarah. Ia beristighfar berulang kali.

Sekian detik, lalu ia menoleh padaku. Mencoba menghapus air mataku dengan sapuan jarinya yang kokoh.

“Kamu siap mendengar semua yang akan abang katakan? Berjanji kalau kamu tidak akan membenci abang?”

Aku menatap nanar padanya. “Beritahu aku walau sepahit apa pun!”

“Abang tahu apa yang terjadi diantara kamu, Hakim dan juga Madya. Hakim sudah menceritakan semuanya pada abang. Dia tahu betapa terlukanya dirimu, begitupun dia...sangat terluka. Tapi dia hanya mencoba menjalani takdir Allah, meskipun terasa berat. Karena dia sadar bahwa kamu bukan jodohnya. Hingga suatu hari dia meminta abang untuk melamarmu,”

Aku terkesiap mendengar kalimat terakhir Amran. Tapi tak berusaha menimpali.

“Dia ingin abang menikah denganmu. Awalnya abang menolak, tapi setelah dia memperlihatkan fotomu pada abang...kamu tahu?” Amran menatapku sambil tersenyum. “Abang jatuh cinta padamu.” Matanya terlihat berbinar. “Walaupun abang belum pernah berjumpa denganmu tapi entah kenapa, abang merasa kamu adalah jodoh abang. Akhirnya abang menyetujui permintaan Hakim. Lalu abang mengutarakannya pada kedua orang tua abang, lalu mereka memberitahu orang tua Hakim dan orang tua Hakim memberi tahu abimu. Dan sekarang... kamu sudah menjadi istri abang.” Pungkasnya.

“Hakim sebenarnya sangat menyayangimu, karena itulah dia ingin abang membahagiakanmu. Dia tidak ingin melihatmu terus terluka. Dia ingin kamu melupakannya dan memulai hidup baru. Begitu juga dengannya, ia berusaha keras mulai mencintai Madya.”

Aku tercekat. Tenggorokanku terasa sakit sekali. “Kalau abang memang mencintaiku, kenapa memperlakukanku seperti ini?” Tanyaku lirih.

“Karena abang ingin, kamu mulai belajar mencintai abang dulu dan menerima kehadiran abang sepenuhnya dalam hatimu. Abang rela menunggu saat itu tiba, Jihan,”

“Lalu kenapa dengan mudah membiarkanku pergi? Bukankah dengan kita saling berjauhan malah akan semakin sulit untukku menerima abang?”

“Karena abang ingin tahu, seberapa kuat kamu bisa menjauh dari abang. Dan abang juga ingin memberimu waktu untuk sendiri, agar kamu tahu betapa besarnya rasa cinta yang abang miliki untukmu.” Pungkasnya.

Aku tercenung demi mendengar semua kata-kata Amran. Hingga aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Semua terasa menyesakkan dada. Dan air mata tak lagi menetes.
Aku berlari menaiki anak tangga menuju kamar. Tak kuhiraukan pertanyaan abi dan umi yang keheranan melihatku kembali ke rumah. Biarlah Amran yang menjelaskan pada mereka.

Kurebahkan diri di ranjang tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu. Ingin terlelap walau sejenak. Melupakan apa yang sudah terjadi hari ini.

Amran, apa yang harus kuperbuat padamu?

                                     ***

Aku terbangun saat jam menunjukkan pukul dua siang.

‘Astaghfirullaah, aku belum shalat Zuhur.’

Segera aku melompat turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi. Membersihkan diri sejenak sebelum berwudhu’ dan menunaikan shalat zuhur yang sudah begitu terlambat.

‘Kenapa Amran tidak membangunkanku? Tega sekali dia membiarkanku tidur hingga shalatku terlewat.’ Umpatku dalam hati seraya melipat mukenaku. ‘Kemana dia?’

Semua barang bawaanku tadi tergeletak begitu saja di sudut kamar. Tapi Amran tidak kelihatan.

Aku menyeret langkah keluar kamar setelah mengenakan hijabku. Memeriksa balkon sejenak, siapa tahu Amran tengah bersantai di sana. Tapi tak kutemukan.

Lalu setengah berlari aku menuruni anak tangga. Berharap menemukan sosoknya di ruang tengah, tapi tetap nihil. Kuperiksa juga teras belakang, tak ada siapapun di sana. Abi dan umi juga tidak kelihatan. Sepi sekali rumah ini. Di mana mereka semua?

 Aku pun melangkah ke ruang tamu, dan serta merta langkahku terhenti saat mataku menangkap sosok laki-laki yang tengah asyik membolak-balik sebuah buku tebal di ruangan itu. Dadaku tiba-tiba kembali bergemuruh. Tapi aku berusaha mengabaikannya dan melanjutkan langkahku menuju teras depan.

“Amran tidak di rumah,” lelaki itu membuka suara tanpa melihat dengan siapa dia sedang bicara. “Aku tidak tahu dia kemana, tapi tadi setelah shalat zuhur dia pergi, hanya pamit mau ke luar sebentar katanya,”

Aku tertegun di ambang pintu.

“Kamu ngapain di sini?” Selidikku sambil membalikkan badan hingga aku dapat menemukan lelaki itu masih tak beralih dari buku di tangannya.

“Ada Madya dan umi di dapur. Jadi jangan takut kalau kamu berpikir hanya kita berdua di rumah ini.” Ujarnya seolah tahu apa maksudku.

“Ooh,” hanya itu yang kuucapkan sambil berlalu meninggalkannya. Aku tak ingin berlama-lama di sini. Tak ingin mengungkit kembali sebuah rasa yang hampir terkubur bersama kehadiran Amran di sisiku.

“Madya? Kapan datang?” Sapaku ketika kulihat ia tengah asyik membuat kue bersama umi.

“Eh, Kak Jihan? Udah bangun?” Wajah Madya tampak berseri. Ia mengambil tanganku dan menciumnya dengan hormat.

“Udah, Kakak tadi ketiduran. Mana kebablasan lagi nggak ada yang bangunin shalat zuhur.” Sahutku sambil merengut.

“Kakak kenapa nggak jadi ke Jakarta?”

Aku terdiam sebelum akhirnya menggeleng sambil menyeduh teh hangat. “Kakak tunda dulu sementara waktu,”

“Haaaa...pasti nggak mau jauh-jauh dari Bang Amran yaaa?” Ejeknya.

“Apa sih kamu?”

“Madya, jangan goda kakakmu terus! Ini lanjutin kerjaan kamu, pamali kalau anak perempuan kerjaannya nggak beres,” tegur umi yang sejak tadi hanya tersenyum melihat kedua putrinya.

“O iya, maaf umi. Aku sampai lupa!” Sahutnya sambil menyeringai.

“Lagi ngidam apa nih? Tumben bikin kue sampai datang ke rumah?”

“Lagi ngidam brownies kak, tapi bikinnya di sini,” Madya tertawa geli.

“Ishhh, ada-ada saja,” aku mendaratkan tubuhku di kursi yang terletak di dapur. Menikmati secangkir teh hangat agar tubuhku terasa sedikit rileks.

“Mi, Bang Amran kemana sih?” Tanyaku.

“Umi nggak tahu, tadi habis shalat zuhur pamit mau keluar sebentar katanya ada perlu.” Jawaban umi sama dengan yang di katakan Hakim tadi.

“Ooh,” sahutku singkat. Kembali meneguk teh hangat yang tinggal separuh.

“Kalian kenapa? Ada masalah? Baru menikah kenapa udah kayak orang marahan begitu?” Tanya umi.

“Nggak ada apa-apa, Mi.”

“Lalu? Kenapa kamu nggak jadi ke Jakarta? Bukannya Amran sudah memberi izin untuk kamu kuliah lagi?” Selidik umi.

“Aku tunda sementara dulu, Mi. Nanti nyari waktu yang tepat untuk kembali ke sana. Sementara aku konsultasi materi via online aja.”

“Kamu nggak ada masalah apa-apa kan sama Amran?” Sepertinya umi masih tak percaya dengan jawaban yang kuberikan.

“Nggak ada kok, Mi. Kami baik-baik saja.” Pungkasku.

“Alhamdulillaah, syukurlah kalau begitu.”

“Umi ada-ada aja deh,” celetuk Madya, “masa iya pengantin baru punya masalah, lagian kak Jihan dan bang Amran itu saling mencintai, ya kan Kak?”

“Sok tahu kamu!” Cibirku.

Aku meneguk sisa tehku, mencuci gelasnya lalu melangkah meninggalkan dapur.

“Jihan, kamu belum makan siang kan? Sana makan dulu! Nanti lemes lho!” Suara umi menghentikan langkahku.

“Belum lapar Mi, nanti saja,” sahutku sambil berlalu.

“Pengantin baru nggak boleh lemes yaaaaa,” teriak Madya sambil cekikikan.

Apaan sih anak satu itu? Ngeledek terus bawaannya, mentang-mentang... ‘BRUK!’

“Aduuh!” Erangku sambil memegang lengan kanan. Karena jalannya sambil menggerutu  aku tak sadar sudah menabrak kursi di ruang makan yang terbuat dari kayu jati khas ukiran jepara itu. Aku meringis kesakitan sambil mengusap-usap lengan yang terasa ngilu. Saking ngilunya air mataku sampai menetes.

“Jihan, kamu kenapa?” Tiba-tiba Hakim muncul di hadapanku.

Aku mengangkat kepalaku hingga menemukan raut khawatir terpeta di wajahnya.

“Nggak apa-apa,” aku menggeleng dan bergegas menghapus air mataku. Lalu aku bangkit, meninggalkannya menuju lantai dua kamarku sambil menahan rasa sakit yang masih terasa di lengan.

“Amran sangat menyayangimu, Jihan. Jangan sia-siakan lelaki sebaik dia,” ucap Hakim.

Aku tertegun di tengah anak tangga. Tapi tak berusaha melihat kepadanya.

“Amran jodohmu, dia jauh lebih baik dari lelaki mana pun termasuk aku. Amran lebih pantas bersamamu di banding aku. Percayalah Jihan, cobalah menerimanya! Berbahagialah bersamanya!”

Tak kuhiraukan kata-kata Hakim. Kembali meneruskan langkah menyusuri anak tangga. Masuk ke dalam kamar dan langsung membuka gamisku untuk melihat bekas benturan tadi. Benar saja, lenganku terlihat membiru. Pantas rasanya ngilu banget. Kuraih minyak zaitun yang terletak di meja rias dan mengolesnya sambil memijat pelan memar yang membiru itu. Rasanya lumayan membuat air mataku kembali menetes. Aku memang termasuk perempuan cengeng dalam hal seperti ini.

Aku duduk di tepi ranjang, sambil terus memijat pelan lenganku agar memarnya sdikit berkurang. Terngiang kata-kata Hakim tadi. Lalu teringat kembali akan Amran. Kemana lelaki itu belum juga pulang.

Kuraih ponselku, berharap ada sebuah pesan darinya. Tapi nihil. Tak ada pesan atau pun panggilan tak terjawab.

‘Cekrek!’

Pintu kamar terbuka dan wajah Amran muncul. Aku buru-buru memasang gamisku agar Amran tak melihat lenagnku, tapi tak berhasil. Karena tangan kananku terasa sakit untuk diangkat. Ada apa ini? Bukankah tadi baik-baik saja? Hanya memar dan ngilu saja. Kenapa sekarang sakit sekali?

Arman tak bersuara. Ia seolah acuh. Mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi tanpa aku sempat bertanya dia dari mana.

            Sementara aku masih berusaha memasang gamisku, tapi tak berhasil. Rasanya sakit sekali hingga akhirnya aku menyerah dengan hanya menggunakan baju tanpa lengan itu. Tak peduli apakah Arman akan melihatnya atau tidak.

 Tak sampai sepuluh menit Amran pun keluar hanya dengan balutan handuk yang menutupi pinggang sampai lututnya. Aku memalingkan pandanganku dari tubuhnya. Amran tak  juga bersuara. Ia sibuk memakai pakaiannya, seolah tak melihatku di sana.

“Abang dari mana?” Akhirnya aku mencoba memecah keheningan.

“Dari kampus, tadi ada yang harus abang selesaikan sedikit,” sahutnya datar.

“Kenapa tidak memberitahuku?”

“Bagaimana caranya bicara dengan orang yang sedang tidur?” Ia balik bertanya.

Aku tertegun mendengar jawabannya. “Kenapa tidak membangunkanku?”

Kali ini ia tak menjawab.

“Abang marah padaku?”

“Tidak ada alasan untuk marah padamu, Jihan.”

“Lalu? Kenapa bersikap dingin seperti ini?”

“Agar kamu tidak semakin terluka,” sahutnya enteng.

“Apa maksud abang?”

“Agar kamu tidak merasa terpaksa hidup dengan abang, dan bisa melakukan apa pun yang kamu inginkan tanpa harus abang batasi. Abang tidak ingin, cinta yang abang miliki untukmu membuatmu merasa tidak nyaman,”

“Tapi aku lebih merasa tidak nyaman jika abang bersikap seperti ini,”

“Sampai detik ini abang belum berhasil membuatmu jatuh cinta pada abang. Dan itu membuat abang sedikit lelah, dan abang menyerah. Abang tak ingin memaksamu lagi untuk mencintai abang.” Pungkasnya. Kemudian ia pun berlalu hendak meninggalkanku.

“Kalau begitu ceraikan aku!” Ucapku sambil berlinang air mata.

Amran menghentikan langkahnya sebelum tangannya sempat menggapai handle pintu, lalu menoleh padaku.

“Jangan ucapkan lagi kata-kata itu, Jihan! Allah sangat membencinya!” Raut wajahnya terlihat marah.

“Kalau begitu berhentilah bersikap dingin padaku! Kembalikan suamiku yang tadi pagi masih mengatakan kalau dia mencintai dan menyayangiku. Dan katakan padanya...” aku merasa tercekat, “katakan padanya kalau aku...kalau aku juga sedang jatuh cinta padanya.”

Amran menatap nanar padaku. Mata teduhnya terlihat berkaca-kaca. Ia melangkah perlahan mendekatiku. “Jihan...,” lirih suaranya terdengar. “Kamu bilang apa? Kamu...kamu sedang jatuh cinta? Benarkah? Benarkah itu?”

Aku tak menjawab. Hanya mengangguk pelan dalam deraian air mata.

“Bagaimana bisa?” Tanyanya tak percaya.

“Aku tidak tahu, hanya saja sejak aku terbangun dari tidurku dan tak melihatmu di sampingku, aku merasa begitu kehilangan. Ada rindu yang menghunjam saat menunggumu pulang,” jelasku dengan suara lirih.

Ada setetas air mata yang mengalir di sudut netra milik Amran. Lalu ia menarikku ke dalam pelukannya. Membelai rambutku dan mencium ubun-ubunku berkali-kali. “Terima kasih Jihan, terima kasih istriku.”

“Aduh!” Aku mengerang saat tangan Amran tak sengaja menyentuh lengan kananku.

Amran terperanjat,langsung melepas pelukannya dan memeriksa lengan kananku.

“Ini kenapa Jihan? Kenapa bisa memar seperti ini?” Tanyanya khawatir.

“Tadi aku jalan nabrak kursi makan, jadinya begini. Sakit buat digerakin.”

“Makanya kalau jalan itu hati-hati, jangan sambil ngedumel! Sini abang urut, biar enakan,”

“Nggak mau ah, sakiiiiit,”

“Eeh, jangan bandel! Itu karena darahnya membeku, kalau diurut nanti darah bekunya pecah dan nggak sakit lagi,”

Dengan ragu kuulurkan tangan kananku padanya. Dan ia mulai memijatnya perlahan. Aku hanya bisa meringis menahan sakit.

“Nanti malam kita honeymoon yuk!” Ajaknya disela aktivitas mengurut lenganku.

“Kemana?”

“Ke hotel,” bisiknya pelan.

“Honeymoon apaan? Abang suka PHP, males ah! Natar cuma di anggurin doang kayak kemarin-kemarin.” Ejekku.

“Kali ini enggak deh, abang janji. Abang mau bayar hutang yang sudah tertunda hampir dua minggu sejak kita menikah,”

“Nggak mau ah, lenganku masih sakit, lain kali aja!”

“Nggak bisa, harus malam ini. Abang nggak mau menunda lagi. Pegel tau ditunda terus,”

“Salah siapa?”

“Salah kita berdua,” sahutnya asal sambil tertawa kecil.

“Tapi...”

“Ssst, dilarang membantah keinginnan suami. Dosa besar. Dilaknat malaikat sampai pagi.” Potongnya.

“Iiiih, ngancem ya?”

“Dikiit,” Arman tergelak. Matanya tak berhenti menatapku.

“Apa masih berniat mau kuliah lagi dan meninggalkan abang?”

Aku menggeleng pasti. “Tidak, aku mau tetap di sini. Bersama suamiku,”

Amran tersenyum begitu bahagia. Tangannya memegang pipiku, mengusapnya lembut. Membuatku sedikit terbuai dalam hangat telapak tangan miliknya.

Lalu kami terdiam untuk beberapa saat. Hanya mata yang saling bicara. Mata yang saling menatap dalam mengungkapkan perasaan masing-masing. Hingga rasa sakit di lengan tak lagi kurasakan, ketika deru napas kami bertemu dalam sebuah rasa cinta yang baru saja terjalin. Rasa cinta yang baru saja kurasakan saat aku mulai memahami akan arti dari sebuah takdir yang telah Allah tetapkan untukku. Sebuah takdir yang awalnya terasa pahit, tapi begitu indah saat aku mencoba untuk tidak menentangnya.

‘Ana uhibbuka Amran.’ Dan aku tenggelam, dalam pelukan kasih sayangnya.

*MENENTANG_TAKDIR*

*PART_9*

“Jihan, Jihan bangun Sayang. Ini sudah pagi,” suara Amran membuatku seketika membuka mata. Menemukan wajah tampan itu sedang tersenyum. Aroma wangi tercium dari tubuhnya. Sepertinya dia baru saja selesai mandi. Terlihat dari rambutnya yang juga basah.

“Udah jam berapa sih, Bang?” tanyaku sambil menggeliat malas.

“Udah jam empat subuh,”

“Aaah, masih satu jam lagi kan Subuhnya, aku tidur lagi ya? Ngantuuuk,” pintaku sambil menarik kembali selimut tebal itu.

“Eeeh, jangan malas!” Amran membuka kembali selimut yang menutupi tubuhku dan segera menjauhkannya. “Kita tahajjud dulu,”

“Bang, aku masih ngantuuuuk,pleeeeease!”

“Jangan cari alasan, ayo bangun! Sana mandi! Abang udah siapin air hangat buat kamu,” Amran menarik tanganku.

Dengan malas aku pun bangkit. “Abang ih, kok nggak ada toleransinya? Kita kan lagi ...”

“Udaaah, nggak usah ngedumel!” Amran mencubit pelan pipiku.

Dengan wajah cemberut dan mata yang masih mengantuk aku berjalan terhuyung menuju kamar mandi.

“Tangannya masih sakit?”

“Udah enggak, kan semalam udah di urutin semua sama abang dari ujung rambut sampai ujung kaki,” jawabku asal sambil tersenyum menggoda.

“Jihaaaaaaan,” Amran melotot. Aku hanya tertawa sambil menghilang di balik pintu kamar mandi.

Ya, ini malam pertama kami menginap di sebuah hotel yang terletak di tengah kota. Sebuah hotel mewah berbintang lima. Sengaja Amran mengajakku ke sini, menginap selama tiga hari ke depan. Katanya untuk membuat kami saling mengenal lebih dekat.

                                ***

Sudah pukul enam, matahari pun sudah muncul di ufuk timur untuk menemani pagi dengan kehangatannya. Tapi Amran belum juga kembali dari masjid yang terletak tak jauh dari hotel.

Aku menutup mushafku. Melipat mukena. Lalu meraih ponsel dengan maksud hendak menelepon Amran, dan baru kusadari jika ponsel Amran juga tergeletak di sebelah ponselku. “Kemana sih dia? Jam segini belum balik juga?” gumamku.

Setengah jam berlalu membuatku sedikit cemas. Aku memasang gamis dan hijab, mengenakan kaos kaki dan bersiap keluar dari kamar. Aku berniat menyusul Amran ke masjid. Mungkin saja dia masih di sana dan tak sengaja tertidur.

Setelah memastikan aurat tertutup sempurna, aku pun melangkah meninggalkan kamar hotel. Turun ke lantai dasar menggunakan lift yang terletak di sudut lantai tiga itu. Tak berapa lama pintu lift terbuka dan aku sampai di lantai dasar. Berjalan sedikit cepat dan langkahku terhenti saat mataku menangkap sosok Amran tengah ngobrol dengan seorang laki-laki seusia abi. Dan di dekat lelaki itu duduk, ada seorang perempuan berhijab lebar, terlihat ia selalu menunduk. Tapi sesekali bisa kulihat dengan jelas, kalau ia sedang mencuri pandang pada Amran, suamiku.

Tiba-tiba jantungku terasa terbakar melihat tingkah laku perempuan itu. Siapa dia? Wajahnya cantik sekali. Kenapa dia memandang suamiku sebegitunya? Amran dan laki-laki itu pun seperti terlibat dalam pembicaraan yang begitu serius.

Karena penasaran, aku pun mendekati mereka.

“Bang Amran!” Tegurku.

Amran seperti terkesiap melihat kehadiranku. Raut wajahnya sedikit gugup.

“Ji-Jihan, kamu...kamu ngapain turun? Kenapa nggak tunggu abang di atas saja?” Ia bangkit dari sofa tempat ia duduk.

 Aku melirik wanita yang matanya sekarang tengah menyelidikiku.

“Abang kelamaan, hampir saja aku mau nyusulin ke masjid,” sahutku sambil menggamit lengannya.

“Maaf, tadi abang ketemu sama ustaadz Zainal, kebetulan kami sama-sama shalat subuh di masjid. Kamu kenal beliau kan?”

Aiiih, aku baru sadar ternyata beliau adalah salah satu ustaadz yang sering kudengar kajiannya.

“Oh iya, ustaadz Zainal, salam kenal,” aku menangkupkan tangan di dada sambil menganggukkan kepala. Beliau membalas dengan perlakuan yang sama.

“Ini istrimu?” Tanya beliau.

“Iya ustaadz, ini istri saya. Namanya Jihan,” jawab Amran.

Ustaadz Zainal hanya tersenyum.

Aku menoleh pada perempuan itu, karena sedari tadi tidak ada yang memperkenalkan kami.

“O ya hampir lupa, Jihan kenalkan ini putri beliau, namanya Zainab.” Akhirnya Amran memperkenalkan juga siapa dia. Dari cara dia memperkenalkan, seolah mereka sudah lama saling mengenal.

Aku mengulurkan tangan dan disambut suka cita oleh perempuan yang bernama Zinab itu. Dia tersenyum, manis sekali.

“Ya sudah kalau begitu Amran, saya mau kembali ke kamar dulu. Mau mempersiapkan materi untuk acara nanti. Nanti kita lanjutkan pembahasan kita tadi ya Amran. Mari saya duluan, assalaamu’alaykum!”

“Wa’alaykumussalaam,” jawabku dan Amran bersamaan. Zainab mengikuti ayahnya setelah sebelumnya ia sempat menatap lama pada Amran. Tatapan yang aku sendiri tak paham maksudnya.

“Siapa Zainab itu, Bang?” Tanyaku sambil menggamit lengannya menuju pintu lift.

Amran memegang tanganku, “nadanya cemburu banget ya?” ejeknya sambil tersenyum menggoda.

“Aku  serius bertanya, Bang!”

“Lho? Kan kamu udah tahu kalau dia anak ustaadz Zainal,”

“Itu aku memang sudah tahu, tapi...” aku menggantung kalimatku saat pintu lift terbuka, dan kami berdua masuk ke dalamnya.

“Tapi apa?” Amran memencet tombol untuk ke lantai tiga.

Dan lift pun bergerak perlahan, hingga dalam hitungan detik kami sudah berada di tempat yang di tuju. Melangkah bersamaan keluar dari lift, dan berjalan beriringan menuju kamar.

“Kamu belum jawab pertanyaan abang. Tapi apa Jihan?”

“Apa hubungan abang dengan perempuan itu?”

Amran terdiam. Sepertinya ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku.

“Kenapa diam?” Aku menghentikan langkah saat kami sudah berada tepat di depan pintu kamar. Kutatap lekat wajah tampannya yang terlihat gusar.

“Lihat aku, Bang!”

 Ia pun berusaha membalas tatapanku.

“Dan jawab pertanyaanku!”

“Jihan, kamu ini kenapa? Kamu cemburu?” Amran mencoba berkilah.

“Istri mana yang tak cemburu saat melihat ada wanita cantik sering mencuri pandang pada suaminya? Bahkan saat ia akan pergi pun masih sempat ia menatapmu, padahal ada aku di sampingmu!” Aku merasa benar-benar cemburu saat membayangkan cara perempuan itu menatap Amran.

Lelaki itu tertawa menatapku. “Kamu benar-benar sedang terbakar cemburu. Ana uhibbuki, Jihan,” Amran berusaha memelukku tapi segera kutepis.

“Jangan sentuh aku sebelum abang menjelaskan siapa perempuan itu!” Kubuka kunci pintu kamar yang kami sewa dan bergegas masuk ke dalam. Amran mengekori dari belakang sambil menutup kembali pintu bercat putih itu.

“Astaghfirullah, Jihan. Kok gitu banget sih? Baruuuu aja kita mulai dekat, kamu udah merajuk begini,” Amran ikut mendaratkan tubuhnya di sofa tempatku duduk. Menatap wajahku yang cemberut menahan kesal.

Beberapa saat kami salaing terdiam.

“Abang lapar niiih, kita cari sarapan keluar yuk? Kita cari tempat yang enak biar bisa sambil kencan,” Bujuknya memecah keheningan, berusaha agar aku tak lagi membahas perempuan itu.

“Nggak mau, abang aja sendiri. Atau ajak aja si Zainab itu!” Sahutku ketus.

Lagi-lagi Amran tertawa melihat tingkahku yang kekanakan. “Oke, oke, kalau begitu,” Amran bangkit dari duduknya. Mengambil ponsel miliknya yang terletak di atas meja kecil di samping tempat tidur. Lalu berjalan mendekati pintu keluar. “Abang mau ke kamar Zainab dulu ya, mau ajak dia sarapan pagi seperti permintaanmu,” ejeknya.

Aku bergeming. Candaannya sama sekali tidak lucu. Aku pun bangkit dan melangkah menuju ranjang, membuka hijabku lalu merebahkan diri di atasnya.

Amran yang masih berdiri di dekat pintu akhirnya berjalan mendekatiku. Ia duduk di pinggir ranjang. “Jihan, kamu marah beneran sama abang?”

“Pikir aja sendiri!”

Amran terdiam beberapa saat. Menghela napas yang terdengar berat.

“Abang bukannya tidak mau memberitahumu tentang Zainab. Tapi memang tidak ada sesuatu yang penting tentangnya,” Amran merebahkan diri di sampingku. Matanya menerawang menatap langit-langit kamar.

“Beritahu aku yang tidak penting saja, jika memang yang penting tidak ada,” ujarku datar.

Amran bergerak memiringkan tubuhnya menghadapku, menarik tanganku agar tubuh kami saling berhadapan. Lalu mata teduhnya menatap lekat mata bermanik coklat muda milikku.

“Jihan, untuk apa membicarakan hal yang tidak penting, jika wanita yang paling penting dalam hidup abang ada di sini,”

Kubalas tatapan matanya, mencari sesuatu yang berusaha ia sembunyikan dariku. Sebuah kecupan hangat mendarat di bibirku. Membuatku terbuai beberapa detik lalu mendorong tubuh lelaki itu agar menjauh. “Ayo kita cari sarapan, bukannya abang lapar?” Aku pun berusaha bangkit. Tapi tangan kokoh Amran kembali menarikku hingga aku kembali jatuh dalam pelukannya.

“Sarapannya nanti saja, kita sarapan yang lain dulu,” Amran berbisik dan mengedipkan matanya. Dan aku tak kuasa menolak permintaan lelaki yang telah berhasil membuatku jatuh cinta hanya dalam sekejap itu. Melupakan sejenak sebuah pertanyaan yang masih belum menemukan jawabannya.

                                                      ***

Siang ini Madya datang ke rumah diantar oleh Hakim. Entah kenapa wajahnya terlihat begitu sedih saat ia menemuiku di kamar.

“Kamu kenapa Madya? Kamu sakit?” Kuraba keningnya, tapi suhunya normal, hanya wajahnya sedikit pucat.

Madya menggeleng sambil tersenyum getir.

“Kandunganmu baik-baik saja kan?” Tanyaku khawatir.

“Alhamdulillaah baik, Kak,”

“Lalu kenapa wajahmu pucat begini? Harusnya kamu istirahat, gak usah keluyuran kesana kemari. Bandel banget!” Gerutuku.

Tiba-tiba saja Madya menghambur ke dalam pelukanku dan menangis terisak. Aku bingung dengan sikapnya. “Madya, ada apa ini? Kamu ada masalah?”

“Kak..., maafkan aku, maafkan aku! Aku tidak tahu kalau selama ini kakak menyukai Hakim, aku tidak tahu kalau...” tangisnya benar-benar pecah kali ini.

Aku terperanjat. Dari mana ia tahu semua itu?

“Kamu bicara apa, Madya?” Kulepas pelukannya, menatap wajahnya yang basah bersimbah air mata.

“Aku tidak tahu kalau selama ini kakak menyukai Hakim, aku sungguh tidak tahu. Hingga akhirnya semua ini terjadi...semua kesalahan ini terjadi...harusnya kakak yang menikah dengan Hakim bukan aku.” Pungkasnya lalu tangisnya semakin menjadi. Kembali ia memelukku.

Aku terpaku. Tak tahu harus berbuat apa.

“Siapa yang memberitahumu? Apakah Hakim?”

Madya menggeleng kuat-kuat. “Aku tak sengaja menemukan buku harian milik Hakim yang sudah lama ia simpan jauh-jauh, di sana ada nama kakak, semua hal yang terjadi pun tertulis di sana. Aku minta maaf kak, aku minta maaf,” ada penyesalan dalam setiap kata-katanya.

Kurenggangkan pelukannya dan ku tatap wajah cantik itu. Lalu menghapus air matanya dengan sapuan jariku.

“Kamu tahu Madya? Peristiwa yang sudah kita lewati ini mengajarkan kakak akan banyak hal tentang hidup ini, bahwa apa yang menurut kita baik belum tentu baik menurut Allah, begitupun sebaliknya,” aku mencoba tersenyum. Tak tega melihat isak adikku satu-satunya ini, meskipun aku pernah merasa tersakiti olehnya yang tak tahu apa-apa.

“Hakim adalah jodohmu, meskipun caranya sangat melukai kakak. Tapi ...tahukah kamu Madya? Amran datang dalam kehidupan kakak, dan membuat kakak mampu melupakan semuanya dalam sekejap. Lelaki itu mengobati semua luka yang kakak derita.”

“Tapi Kak...,”

“Sssstttt, sudahlah! Jangan berpikir macam-macam lagi. Ingat, kamu sedang mengandung buah cintamu dengan Hakim. Jangan kecewakan suamimu. Jaga benihnya dengan baik,” kuusap pelan perut Madya.

“Kakak tidak membenciku?” Madya menatap nanar mataku.

Aku tersenyum. “Dulu ..., kakak sempat membencimu. Tapi setelah kakak sadar bahwa semua yang terjadi adalah sebuah takdir, maka tidak ada alasan bagi kakak untuk membencimu.” Pungkasku.

“Benarkah?” Mata Madya membesar.

“Iyaaa bawel!” Kucubit hidung bangirnya. “Udah ah, nggak usah ngomongin itu lagi. Sana pulang! Suamimu udah menunggu lama di bawah, kasihan dia.”

Madya mengahapus sisa air matanya lalu mencoba tersenyum. “Terima kasih, Kak,” ia mengambil tangan kananku dan menciumnya.

Kupegang kedua pipinya, lalu mengecup keningnya. “Apakah Hakim memperlakukanmu dengan baik?”

Madya mengangguk pasti.

“Apakah dia mencintaimu?”

“Sangat.”

“Bagus. Beritahu kakak kalau dia menyakitimu.” Pungkasku.

Madya tertawa kecil. Lalu ia bangkit, “aku pulang dulu ya, kak? Berjanjilah untuk tidak membenciku atau Hakim walau sedikit pun!” Pintanya.

“InsyaaAllah, kakak janji!”

Madya melangkah meninggalkan kamarku, hingga di ambang pintu ia berbalik, “kak?”

“Ya?”

“Kakak masih mencintai Hakim?”

Aku begitu terkejut mendengar pertanyaan Madya. Tapi segera berusaha menguasai diri dan menjawab dengan lugas, “cintaku pada Amran melebihi segalanya. Jadi jangan khawatir, hanya ada Amran di hati kakakmu ini. Hakim hanya milikmu. Jiwa raga dan juga cintanya hanya kamu yang berhak memiliki,”

Madya tersenyum bahagia, lalu kembali menyeret langkahnya menuju anak tangga. Menemui kekasih hatinya yang sudah menunggu lama di ruang tamu.

Menghela napas yang sedikit terasa menyesak di dada sebelum aku menutup pintu kamar. Ada genangan yang berusaha keluar, tapi kutahan. Aku tak ingin lagi menangisi sesuatu yang tak berguna. Sesuatu yang sudah mulai terlupakan seiring tumbuhnya cintaku untuk Amran.

“Amran? Dimana dia? Seharusnya jam makan siang ini dia sudah di rumah. Bukankah ia berjanji mengajakku makan siang di luar?”
Jihan, maaf ya Sayang. Kayaknya kencan makan siang kita batal deh hari ini, ada masalah di kampus dan abang nggak bisa ninggalin. Kayaknya sore abang baru bisa pulang. Nggak apa-apa kan?]

Sebuah pesan masuk melalui ponselku. Sedikit bernapas lega karena tanya di hati sudah terjawab.

Sambil tersenyum aku membalas pesannya.

[Iya bang nggak apa-apa kok. Oh ya, mau diantar nggak makan siangnya ke kampus? Tapi aku beli jadi aja, nggak apa-apa?]

[Boleh Sayang. Dengan senang hati. Abang tunggu ya? Fii amaanillaah]

Aku pun bergegas menyambar tasku. Lalu keluar dari kamar dan setengah berlari menuruni anak tangga.

“Jihan, pelan-pelan kalau turun tangga itu. Nanti kamu jatuh!” Tegur abi.

“Iya Bi, aku buru-buru.” Kuambil tangan beliau dan menciumnya dengan hormat.

“Mau kemana?”

“Ke kampus Bi, antar makan siang buat bang Amran.” Sahutku sambil setengah berlari menuju pintu keluar.

Abi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak perempuannya.

     ***

Aku turun dari motor begitu sampai di pakiran kampus. Dengan riang berjalan menuju ruangan Amran. Menenteng sekotak makanan kesukaannya.

Di sepanjang jalan aku berpapasan dengan beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang diantara mereka sudah mengenalku sebagai istri Amran. Mereka menyapa dengan ramah, meskipun tak sedikit yang saling berbisik. Tapi aku tak peduli, mencoba fokus dengan tujuanku datang ke sini.

Angin siang menyapa saat kakiku menginjak lantai di depan ruangan Amran. Membuat ujung jilbab lebarku menari-nari. Seolah ia merasa bahagia saat diri ini akan bertemu dengan kekasih hati.

“Assalaamu’alaykum!” Aku mengucap salam. Dan aku terkejut saat sosok yang kutemui bukanlah Amran. Tapi adik iparku yang tengah duduk sendiri sambil mengutak atik ponselnya.

“Wa’alaykumussalaam warahmatullaah,” jawabnya. Dan ia pun tampak terkejut saat mengetahui kehadiranku. “Jihan?”

“Hakim? Kamu ngapain di sini? Bang Amran mana?” Tanyaku tanpa beranjak dari depan pintu.

“Aku juga lagi nunggu Amran. Tadi dia ada perlu sebentar, katanya ada tamu dan minta diantar untuk melihat beberapa ruangan kampus ini.” Jelasnya.

“Ooh, ya sudah,”

“Eh, kamu duduk aja di dalam biar aku yang di luar,” Hakim beranjak dari kursinya.

“Nggak, nggak usah, aku mau nyusul bang Amran aja!” Tolakku.

“Mau diantar?”

Aku menoleh padanya sambil mengernyitkan dahi dengan raut tak suka, “jangan konyol!” ucapku sambil berlalu meninggalkannya.

“Jihan?” Suara Amran menghentikan langkahku. Ia datang ke hadapanku bersama beberapa rekannya. Dan...perempuan itu? Bukankah itu Zainab?

Ada Hakim yang berdiri terpaku di belakangku. Tatapan mata Amran pun terlihat penuh selidik.

“Kamu udah lama?”

“Baru saja,” jawabku singkat.

“Pak Amran, kalau begitu kami permisi dulu ya.” Salah satu dari rekannya yang laki-laki meminta izin. Diikuti rekannya yang lain.

“Oh iya, silahkan, silahkan! Tolong antar Bu Zainab juga ke ruangannya ya?”

“Baik, Pak. Permisi. Mari Bu Jihan,”

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Mataku sempat melihat Zainab melirikku sebentar, tapi tak menyapa. Dan ia ikut berlalu bersama yang lain setelah ia menatap suamiku sejenak. Aiiih, ingin rasanya aku berbuat kasar melihat caranya menatap Amran.

“Kenapa dia bisa ada di sini?” Selidikku setelah mereka semua berlalu. Sedang Hakim masih setia berdiri di tempatnya tadi.

Sejenak ia melirik pada Hakim. “Dia ..., dosen baru di sini. Menggantikan dosen Fiqih yang sedang cuti melahirkan,”

“Oh ya?” Aku menatap tak percaya pada suamiku itu. “Tidak ada alasan lain kan?”

“Jihaaan, jangan mulai deh!” ucapnya setengah berbisik.

“Tapi cara dia melihatmu tidak lazim, Bang!”

“Jihan..., kita bicarakan ini di rumah. Jangan di sini.” Matanya mengamati keadaan sekitar.

“Oke,” aku mengambil tangan kanannya dan menyerahkan makan siangnya. Kemudian tanpa berkata apa-apa aku pun berlalu. Menyisakan tatapan bingung dari dua pasang mata yang menatap kepergianku.

“Jihan, tunggu!” Sempat terdengar Amran memanggil, tapi tak kuhiraukan. Aku tetap bergegas meninggalkan tempat itu.

Amran menatap Hakim, dan lelaki itu hanya bisa mengangkat kedua bahunya. Pertanda dia juga tidak tahu harus bagaimana.

‘Pernikahan seperti apa ini? Baru seumur jagung sudah ada saja masalah. Apa Amran mau menduakanku? Apa dia mulai tertarik dengan kecantikan wanita itu? Atau di amulai sadar kalau sebenarnya kami tak sepadan?’

Berbagai pertanyaan melintas di benakku. Kuusap air mata yang mulai menggenang di sudut netra. Lalu menambah kecepatan laju motorku.

Aku tidak langsung menuju pulang, tapi  mampir dulu di masjid yang tak jauh dari komplek perumahan tempatku tinggal. Waktu zuhur akan masuk satu jam lagi. Aku memutuskan untuk menunggu di sini. Setidaknya aku bisa menenangkan emosi yang sedang meraja di hati.

 ‘Dimana kejujuran Amran? Kenapa tidak memberitahuku tentang Zainab? Apa ada yang ia sembunyikan?’

Aku membuka helm-ku. Melangkah perlahan ke teras masjid, lalu duduk menyandar di salah satu tiangnya. Suasana masih sepi, dan masjid masih dalam keadaan terkunci. Sebab waktu zuhur masih lama.

Kutatap bangunan yang tidak terlalu besar itu. Di sinilah pertama kalinya aku bertemu Hakim dan terlibat kegiatan pengajian remaja dengannya. Kami yang membimbing para remaja sekitar daerah sini untuk mau kembali mengenal masjid. Lalu di sanalah benih-benih cinta mulai tumbuh di hatiku. Ketika setiap akhir pekan kami bertemu dan membahas tentang rencana-rencana kegiatan di masjid ini bersama.

Sebenarnya Hakim tidak tinggal di daerah sini, tapi entah kenapa dia begitu di kenal di lingkungan ini. Mungkin karena orang tuanya salah satu pengasuh pondok pesantren terbesar, sehingga banyak masyarakat yang mempercayakan pengelolaan remaja masjid ini padanya. Tak jarang kami sering bertengkar karena beda pendapat, hingga akhirnya dia sering mengalah meskipun aku tahu dia yang benar.

Aku tersenyum sendiri ketika mengenang masa-masa itu. Sebuah kenangan yang hanya boleh diingat saja, tanpa boleh berharap untuk mengulangnya.

Tak terasa waktu zuhur sudah mulai dekat. Pintu masjid pun sudah terbuka. Saking asyiknya melamun sampai aku tidak tahu kapan pintu itu di buka. Sudah ada beberapa orang yang datang dan melaksanakan shalat tahyatul masjid di dalamnya.

“Jihan?”

Langkahku terhenti saat hendak menuju ke tempat berwudhu. Lalu membalikkan badanku. “Hakim?”

“Kamu di sini? Bukannya tadi pulang?”

“Aku mau shalat dulu di sini,” sahutku datar.

Dan ketika aku hendak berlalu ia pun berkata, “apa pun yang terjadi, tetaplah percaya pada suamimu,” ucapnya. Lalu ia beranjak meninggalkanku.

Aku tertegun. Tapi tak berusaha menimpali. Memilih untuk segera mengambil wudhu, agar aku tak ketinggalan untuk melaksanakan shalat sunnah.

Selesai shalat zuhur, kulihat Hakim masih duduk di teras masjid. Entah siapa yang dia tunggu.

“Kenapa masih di sini?” Tanyaku.

“Nungguin kamulah,”

“Mau ngapain?”

“Mau memastikan kalau kakak iparku ini benar-benar pulang ke rumah habis ini. Soalnya dia kan lagi merajuk sama suaminya, takutnya dia kebut-kebutan terus bunuh diri lagi,” sahutnya sambil tertawa mengejek.

Aku mendengus. “Kurang kerjaan kamu!” Umpatku seraya mengenakan sepatuku. Kemudian aku berlalu tanpa menghiraukan lelaki itu.

“Fii amaanillaah, Jihan!” Ia berjalan mendekatiku. Kebetulan mobilnya terparkir dekat dengan motorku. “Ingat, apa yang kamu lihat belum tentu seperti yang kamu bayangkan,” ujarnya. “Yang terpenting, kamu harus percaya pada Amran apapun yang akan ia katakan nanti,”

“Berhentilah mengoceh, aku pusing!” ucapku sambil memasang helm.

Hakim hanya tersenyum, hingga aku berlalu dari hadapannya. Entah apa maksud kata-katanya itu. Seolah dia tahu dan paham apa yang sedang terjadi. Lalu apakah dia juga mengenal perempuan bernama Zainab itu? Ih, risih sekali kalau mengingat cara dia memandang suamiku, ganjen! Apa ayahnya yang seorang ustaadz itu tidak memberi tahunya bagaimana cara menundukkan pandangan? Astaghfirullaah! Ampuni aku yaa Rabb!

Begitu sampai di rumah, kulihat mobil Amran sudah terparkir di garasi. Dia lebih dulu sampai dariku. Bukannya dia mau pulang sore ya? Kuraih ponselku, dan ada sepuluh panggilan tak terjawab dari Amran. Aku lupa mengaktifkan nadanya sehabis shalat di masjid tadi.

           ***

Kutemukan Amran sedang berkhalwat dengan mushafnya di teras balkon. Khusyuk sekali sampai ia tak menyadari kehadiranku. Lalu aku ikut mendaratkan tubuhku di sampingnya, hingga ia tampak sedikit kaget. Amran menyudahi tilawahnya, lalu meletakkan mushaf kecil itu di meja. Meraih tangannya dan menciumnya penuh ta’dzhim.

“Katanya pulang sore, kok udah sampai aja jam segini?” Tanyaku.

“Kamu lebih penting dari urusan kampus, makanya abang buru-buru pulang.”

“Gombal!”

Amran tersenyum. “Kenapa baru sampai di rumah? Kamu dari mana saja?”

“Tadi mampir ke masjid dulu buat shalat zuhur,” sahutku datar.

“Lalu kemana lagi?” ia menatapku dengan mata yang membulat.

“Nggak kemana-mana,” kilahku.

“Serius?”

“Kalau nggak percaya tanya aja sama Hakim, tadi aku ketemu kok sama dia di masjid,” sahutku mulai kesal.

Wajah Amran seketika berubah, “Hakim?”

“Iya, kenapa?”

“Kenapa kalian bisa ketemu?” Ada nada curiga dalam kalimatnya.

“Kita kebetulan aja kok ketemu di masjid yang sama. Kenapa? Cemburu juga? Satu sama dong!” jawabku cuek.

Amran menghela napas. Wajahnya mulai serius. “Jihan...,”

“Zainab itu siapa? Tolong beri penjelasan!” Potongku. Aku tak tahan lagi ingin tahu siapa perempuan itu. Tak ingin juga Amran berkilah membahas soal yang lain.

“Apa sebegitu pentingnya untukmu mengetahui siapa dia?”

“Kenapa tidak? Aku tidak tahan melihat caranya memandangmu, Bang. Rasanya pengen aku ...”

“Dia pernah menjadi bagian dari cerita hidup abang,” potongnya.

“Maksudnya?”

“Ayahnya dulu sangat berharap kalau abang yang menjadi pendamping hidup Zainab. Karena Zainab sendiri juga menaruh hati pada abang, tapi sayangnya... abang tidak tertarik sedikit pun dengannya. Meskipun dia memiliki segalanya,”

“Kenapa? Bukankah dia cantik?” Ada gemuruh di dada saat kata-kata itu terucap.

Amran tertawa kecil. “Abang tidak mencari perempuan cantik,” ujarnya, “tapi abang mencari perempuan penuh cinta, yang tentunya akan menjadi ibu dari anak-anak abang nantinya.” Ia merebahkan kepalaku di bahunya.

“Lalu, kenapa dia bisa mengajar di kampus abang? Apa maksudnya? Apa dia bermaksud mencari perhatianmu lagi?’

Amran terkekeh. “Karena cuma dia yang berkompeten di bidang itu. Dia lulusan terbaik, dan kampus abang membutuhkan orang seperti dia. Jadi mau tidak mau, dia harus berada di sana,”

“Bagaimana kalau dia berusaha merebut abang dariku?” aku menegakkan kepala dan menatap lekat wajah suamiku.

“Apa semudah itu bagi seorang wanita merebut hati abang?” Ia balik bertanya.

“Kenapa tidak? Bukankah kalian akan bertemu setiap hari? Dan ...”

“Jihan,” ia memotong kalimatku, “cukup percaya dengan abang, itu saja!”

“Tapi cara dia memandang abang membuat aku kesal Bang!”

“Biarkan saja dia begitu, toh suamimu ini tidak melakukan hal yang sama kan?”

“Di depanku memang tidak, tapi di belakangku siapa yang tahu?” Sungutku.

“Jihan, kamu memang pencemburu banget ya? Tapi nggak apa-apa, itu tandanya kamu memang mencintai abang,” ia tersenyum seakan penuh kemenangan.

“Awas ya, kalau aku dengar ada gosip begini begitu dari kampus!”

“Awas juga kalau kamu juga sering ketemuan sama Hakim di belakang abang!” Amran tak mau kalah.

Aku membelalakkan mata. “Wallaahi, aku tidak pernah melakukan itu Bang, itu hanya kebetulan saja!” Sanggahku tidak terima akan tuduhannya.

Amran tertawa lebar. “Iya, iya, abang percaya. Gitu aja kok marah,” ia mencubit hidungku. Aku hanya memanyunkan bibir sambil menjatuhkan kepalaku ke dadanya yang hangat. Melingkarkan tanganku di pinggangnya, dan merasakan detak jantungnya yang terdengar begitu indah di telinga. Walau Amran sudah mengatakan dengan jujur tentang Zainab, tapi hatiku belum bisa tenang. Zainab itu cantik dan pintar, apa mungkin kalau nanti Amran tidak akan tergoda olehnya?

“Oh ya, kamu mau nggak kalau kita hidup mandiri?”

Aku melepas pelukanku. “Maksud abang, abang mau kita pindah?”

Amran mengangguk. “Kita ambil rumah dekat kampus saja, mau?” Matanya berbinar.

“Kalau kita tetap di sini, apa abang keberatan? Kasihan umi dan abi nggak ada yang menemani mereka,” bujukku.

“Tapi akan jauh lebih besar mudharatnya jika kita tetap di sini,”

“Kenapa?”

Lelaki itu menatapku. “Karena kamu dan Hakim pasti akan sering ketemu meskipun dia tidak tinggal di sini. Dan abang tidak suka itu. Abang takut kalau...kalau sesuatu terjadi diantara kalian. Meskipun kalian sudah sama-sama menikah, tapi yang namanya syaitan akan tetap menggoda dengan jalan apa pun. Kamu paham kan maksud abang?”

Pelan aku mengangguk. Menghela napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Amran ada benarnya juga, tapi walau bagaimanapun aku juga tidak tega membiarkan umi dan abi tinggal berdua saja di rumah sebesar ini. Pasti mereka akan kesepian. Namun mentaati Amran lebih utama bagiku, karena dia suamiku.

“Nanti kita bicarakan sama abi dan umi ya, Bang?”

“Iya, insyaaAllah. Pasti itu,” Amran tersenyum.

Tiba-tiba ponsel Amran yang terletak di atas meja berdering. Secara spontan aku meraihnya dan membaca nama yang tertera di layarnya. Zainab?

Aku dan Amran saling berpandangan. Ah, baru saja aku menuntaskan masalah ini, dia langsung mengganggu waktu berdua kami. Ada apa sih dia?

Kusodorkan ponsel itu pada Amran.

“Boleh abang angkat? Siapa tahu penting,”

Aku menggeleng kuat-kuat. “Nggak boleh.” Tegasku.

“Oke kalau begitu,” Amran merijek panggilan itu dan menon-aktifkan selulernya. Kemudian tangannya kembali ia lingkarkan ke bahuku, membawa kepalaku rebah di bahu kokoh miliknya.

 Lantunan ayat-ayat suci mengalir indah dari bibir Amran, membuat jiwa terasa damai dan enggan beranjak dari sisinya.
Tak semua kehidupan akan berjalan dengan mulus. Begitupun dengan kehidupan rumah tangga. Pasti ada saja ujian demi ujian yang akan menempa. Tak peduli apakah usia pernikahan itu masih seumur jagung atau sudah setengah abad lamanya. Hanya tinggal kita saja yang harus tahu bagaimana cara menyikapinya.

                                     
 *** *** *** ***

Sudah sebulan lamanya aku tinggal berdua dengan Amran. Sebuah perumahan sederhana yang terletak dekat dengan kampusnya. Umi dan abi tidak keberatan saat kami mengutarakan niat kami untuk belajar mandiri. Hanya saja setiap akhir pekan, orang tuaku meminta agar kami menginap di rumah mereka.

Seperti Sabtu sore ini, ketika kami berdua hendak berangkat ke rumah abi, tiba-tiba saja ada tamu yang datang tanpa diduga. Ustaadz Zainal. Beliau ingin bertemu Amran katanya dan ada hal penting yang ingin ia sampaikan. Hingga kami menunda untuk berangkat.

 Setelah menyajikan minuman hangat dan sedikit cemilan, aku pun memilih untuk duduk di ruang sebelah, tepatnya di ruang keluarga tempat kami berdua biasa menonton televisi. Tapi suara mereka cukup jelas terdengar dari sini. Sehingga aku bisa mendengar tanpa perlu hadir diantara mereka.

“Maaf, Amran. Jika kedatangan saya mengganggu acaramu dan istri,” ujarnya sungkan.

“Ah, tidak sama sekali ustaadz, kami hanya mau nginap di rumah orang tua Jihan kok. Dan kebetulan rumah beliau dekat saja, masih di dalam kota,” sahut Amran.

“Ooh, begitu...,” ucapnya.

Sejenak suasana menjadi hening. Hanya bunyi detik jam di dinding yang terdengar.

“Amran...,” Ustaadz Zainal memecah keheningan. “Saya tahu kalau ini adalah untuk yang kesekian kalinya saya meminta kepadamu, walaupun saya tahu mungkin jawabanmu masih sama seperti kemarin-kemarin. Tapi demi Zainab, saya tidak akan pernah merasa lelah, saya akan terus mencoba untuk mengetuk hatimu, agar mau menerima Zainab. Meskipun putri saya harus jadi istri kedua,”

‘Apa? Zainab ingin menjadi istri kedua Amran? Ternyata benarkan apa yang aku kira selama ini, kalau Zainab ada maksud tertentu dengan suamiku.’ Tiba-tiba dadaku terasa sesak, menahan sebuah amarah yang bersarang di dada. Kucoba beristighfar berulang kali. Toh aku belum mendengar jawaban Amran kan?

“Maaf ustaadz, seperti jawaban saya kemarin, saya belum mampu untuk berpoligami. Apalagi saya sangat mencintai istri saya, rasanya kalau saya menduakan dia, sungguh tidak adil untuknya,” jawab Amran lugas.

“Tapi Zainab juga sangat mencintaimu Amran, bahkan sampai sekarang dia masih menunggumu,”

“Sekali lagi saya mohon maaf ustaadz, saya tidak bisa,”

“Apa syarat yang harus saya penuhi agar kamu mau menerima Zainab?” Sepertinya beliau belum juga menyerah.

Amran menghela napas, ia bingung bagaimana menghadapi lelaki di hadapannya yang terkesan memaksakan kehendak.

“Saya tidak akan mengajukan syarat apa-apa ustaadz, karena memang saya tidak bisa menerima Zainab. Saya sudah memiliki Jihan, dan itu sudah cukup untuk saya!”

“Walau saya memohon kamu tetap menolak?” Mata beliau berkabut. Suaranya juga terdengar lirih. “Saya tidak sanggup melihat Zainab yang terlalu mencintaimu. Tahukah kamu waktu Zainab mendengar berita pernikahanmu dia hampir saja nekat bunuh diri?”

Mata Amran membesar. “Bunuh diri?”

“Iya, bahkan saya hampir saja kehilangan anak saya satu-satunya itu. Saya hanya ingin melihat anak saya bahagia. Dan satu-satunya kebahagiaannya adalah kamu Amran,”

Amran tercekat. Ia jadi merasa serba salah.

Kenapa beliau seperti memaksa Amran? Bukankah Amran sudah jelas-jelas menolak?

“Jadi sekali lagi, saya mohon, pikirkan sekali lagi Amran! Saya mohon!”

“Ustaadz jangan memohon begitu. Saya bukan siapa-siapa, masih banyak lelaki shalih yang lebih pantas mendampingi Zainab ketimbang saya. Atau kalau perlu nanti saya akan ta’arufkan dengan rekan saya,”

Beliau menggeleng sedih. “Zainab hanya mau menikah denganmu, katanya kalau bukan denganmu dia tidak akan menikah seumur hidup.” Pungkasnya.

Amran terdiam. Lama sekali. Hingga akhirnya Ustaadz Zainal pamit undur diri. Tapi ia masih sempat berkata sesuatu sebelum meninggalkan rumah kami.

“Tolong pikirkan sekali lagi Amran, saya akan selalu menunggu kabar baik darimu,”

“InsyaaAllah ustaadz,” hanya jawaban itu yang kudengar dari bibir Amran.

“InsyaaAllah?” Aku langsung keluar dan menemui Amran setelah memastikan ustaadz Zainal pergi. Lelaki itu tampak terkejut. Mungkin ia tak menyangka kalau sedari tadi aku mendengar percakapan mereka. Sebab dia pikir aku tadi di kamar, seperti kebiasaanku saat dia ada tamu.

“Kalau jawaban abang InsyaaAllah, berarti ada kemungkinan abang mau menerima perempuan itu kan?”

“Jihan kamu salah paham. Bukan begitu maksud abang, abang hanya nggak tahu harus jawab apa. Ustaadz Zainal cenderung memaksa, abang bingung,”

“Tapi sebenarnya abang juga senangkan? Punya fans sejati seorang wanita cantik seperti Zainab?” Tuduhku sambil tersenyum sinis.

“Jihan, sudahlah! Jangan memperkeruh suasana. Seharusnya kamu bantu abang untuk keluar dari dilema ini, bukan malah sebaliknya!” Amran sedikit emosi.

“Kenapa harus merasa dilema? Nikahi saja dia! Gampang kan? Dan masalah selesai. Bukankah abang sebenarnya juga menyukai dia?”

“Astaghfirullaah, Jihan! Bukankah abang sudah pernah bilang kalau abang sama sekali tidak tertarik dengan wanita itu. Kalau memang abang suka sama dia, sudah dari dulu abang menikahinya. Dan bukan kamu yang ada di sini sekarang! Paham?” Suara Amran meninggi. Tampaknya ia mulai emosi. Entah karena kata-kataku entah karena sedang merasa tertekan akibat permintaan Ustaadz Zainal yang cenderung memaksa.

Napasnya tampak tersengal. Begitu pun denganku. Emosi sedang menguasai kami berdua.

Menyambar kunci motor di atas meja, lalu aku bergegas keluar dari rumah.

“Jihan, kamu mau kemana? Jihan, tunggu!”

Tak kupedulikan teriakan Amran. Dan terus melaju dengan motor matic-ku.

 Aku tahu ini salah, meninggalkan rumah tanpa izin suami. Tapi aku harus apa? Amran bilang tidak mau menduakanku, dia belum siap untuk poligami, tapi kenapa dia seolah memberi harapan pada perempuan itu ketika Ustaadz Zainal memaksa? Ah, laki-laki memang suka begitu, munafik!
Ketika ilmu agama hanya di telan sampai tenggorokan. Ketika tingginya ilmu tidaklah menjamin akhlaq seseorang. Ketika cinta tidak diletakkan pada tempatnya. Ketika nafsu lebih diutamakan dibanding akal. Di sanalah syaithan ikut berperan.

  ************************************************************

Tok! Tok! Tok!

“Jihan! Abang boleh masuk?” Terdengar ketukan pintu dan suara Amran di balik pintu kamar yang sengaja kukunci.

Aku tak menjawab. Mencoba mengabaikan panggilannya. Terus saja menarikan jari-jariku di atas keyboard laptop.

“Jihan! Abang minta maaf kalau abang salah, semua bisa kita bicarakan baik-baik,”

Kuhela napas perlahan. Mencoba berpikir jernih atas semua kejadian ini. Sebenarnya memang bukan salah Amran, tapi cara dia memberikan jawaban pada ustaadz Zainal itu yang membuatku kesal. Seolah dia memberi harapan untuk perempuan itu. Bukannya menentang poligami, hanya saja aku belum siap dan belum mampu untuk menjalankan syariat yang satu itu. Aku tidak siap berbagi cinta.

“Jihaaan...,” Amran masih saja tidak menyerah.

Bangkit dari duduk, menuju ke arah pintu, memutar kunci dan menguak pintu berukuran cukup besar itu. Kutemukan raut wajah lelaki yang tengah gundah di sana. Senyumnya mengembang saat ia melihatku.

“Jihan?”

Aku memalingkan wajahku darinya. “Abang pulang saja, biar aku yang menginap di sini sendiri.”

Senyumnya surut, lalu tangannya menggapai jemariku. Kubiarkan ia menggenggamnya.

 “Jihan, kamu salah paham. Sungguh tidak ada niat sedikit pun di hati abang untuk membawa wanita lain dalam kehidupan kita. Mendidik seorang istri itu penuh tanggung jawab besar, sebab itulah abang tidak mampu untuk berpoligami. Satu istri saja belum tentu mampu abang pertanggungjawabkan,” jelasnya.

Aku masih bergeming.

“Apalagi pernikahan kita baru beberapa bulan, ini hanya ujian Jihan. Jangan kalah dengan ujian kecil seperti ini. Sudah abang bilang bukan, percaya pada abang!”

Kutepis tangannya dengan halus. “Aku sedang ingin sendiri,”

Amran menghela napas lalu ia mencoba tersenyum. Senyuman itu selalu terlihat tulus dalam kondisi apa pun.

“Baiklah kalau begitu maumu. Tapi besok sore abang jemput ya?”

Aku tak menjawab.

“Abang pulang dulu. Jangan lupa untuk shalat tepat waktu, tilawah dan murajaah. Meskipun abang tidak di sini hapalanmu harus tetap ditambah.” Pesannya.

 Lelaki itu membalikkan tubuhnya, berjalan gontai menuruni anak tangga. Hanya mampu kutatap hingga punggungnya tidak lagi kelihatan. Ego wanita mengalahkan segalanya.

Baru saja aku hendak menutup pintu kembali, Umi datang tergopoh dari ujung tangga.

“Jihan!” Panggilnya.

 Kuurungkan niat untuk menutup pintu. “Ada apa, Mi?”

“Umi mau bicara sebentar, kita duduk di balkon yuk!”

Aku mengangguk dan mengekori beliau. Lalu kami sama-sama mendaratkan tubuh di sofa berwarna coklat tua itu.

“Mau bicara apa sih, Mi? Kayaknya penting banget ya?” Tanyaku penasaran.

Umi tersenyum, lalu menatap lekat mata bermanik coklat muda milikku.

“Apapun masalahmu, jangan pernah menjauh dari suami. Kamu harus tetap berada di sisinya,”

Aku tertegun. Membuang pandangan dari tatapan mata umi.

“Bukannya umi mau ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian, tapi umi wajib memberimu nasehat. Sebab umi tak ingin kamu salah dalam bersikap. Ingat Nak, suamimu adalah surga dan nerakamu. Kamu tahu itu kan Sayang?”

Mengangguk pelan, lalu kembali kutatap matanya.

Umi tersenyum. Ia mengusap kepalaku. “Kamu sudah dewasa, pasti tahu mana yang baik dan  mana yang tidak baik. Ada kalanya masalah itu harus segera diselesaikan, tanpa membiarkannya berlarut-larut.”

“Tapi saat ini Jihan lagi pengen sendiri Mi, bolehkan?”

“Boleh, asal Amran sudah memberimu izin. Tapi jika Amran belum memberi izin, umi terpaksa harus menyuruhmu pergi dari sini.” Jawabnya tegas.

“Iya Mi, tadi bang Amran udah kasih izin kok. Besok sore dia jemput Jihan ke sini.”

“Baiklah kalau begitu,” Umi bangkit dari duduknya, “Umi mau lihat abi dulu ke kamar ya, udah mau maghrib, beliau pasti mau berangkat ke masjid. Kamu udah mandi belum?”

Aku menggeleng sambil nyengir, “belum Mi.”

“Ishhh, sana mandi dulu!” Umi pun berlalu dari hadapanku.

Menatap langit yang berwarna jingga. Ada semburat lembayung menemani jingga, memberi keindahan tersendiri pada lukisan alam itu. Jingga yang akan segera hilang ditelan pekat malam, berganti temaram  sinar bulan.

Bangkit dari duduk menuju kamar. Membasuh diri, bersiap menghadap sang Maha Pembolak-balik hati.

                            ***

Sedang apa lelaki itu sekarang? Sudah makankah ia malam ini?

Ya Allah! Dia mau makan apa? Bukannya aku hari ini tidak masak karena kami rencana awalnya mau nginap di sini? Kasihan dia, padahal dia tidak bisa terlambat makan. Bisa-bisa maag-nya kambuh.

Segera aku berlari ke bawah. Mengambil rantang dan memasukkan makanan secukupnya. Kemudian memesan ojek online untuk mengantarnya buat Amran. Marahku tak membuat rasa cinta dan perhatian ini surut untuknya.

[Terima kasih makanannya Sayang, hampir saja abang mati kelaparan]

Begitu pesan yang Amran kirim melalui WA.

Aku tersenyum. [Lebay, kan bisa beli di luar makanannya]

[Tapi makanan dari istri tercinta lebih enak. Jazaakillaah khairan Jihan, uhibbuki fillaah]

Jiaaah, dia ngegombal! [Nggak usah ngegombal! Aku lagi marah lho ini]

[Tapi kenapa masih mau kirim makanan buat abang?]

Aku tidak membalas pesannya.

[Jihan, abang ke sana sekarang ya?]

[Jangan! Udah malam]

[Kangen]

[Bodo]

Aku mengulum senyum. Membayangkan wajah lelakiku itu.

[Ya udah deh, kangennya ditunda sampai besok aja. Tidur yang nyenyak ya Sayang, mimpinya sama abang, jangan sama Hakim]

[Abang juga, mimpinya harus sama aku jangan sama Zainab]

[Mudah-mudahan ketemu dua-duanya dalam mimpi]

[Abaaaaaaaaaaang, cepetan kesini! Aku tungguin!]

[Meluncuuuuuur]

Huh! Walaupun itu cuma guyonan tapi aku tetap nggak rela. Dia berhasil memancingku. Terpaksa ngambeknya udahan, dari pada dia benar-benar mimpi sama itu perempuan.

Akhirnya aku duduk di teras depan, menunggu Amran datang.

                         *** 

Hujan lebat mengguyur kota wisata saat aku baru saja sampai di depan kampus Amran. Baju dan hijabku basah karena hujan yang datang tiba-tiba. Aku sengaja berjalan kaki dari rumah yang kebetulan memang dekat dari kampus, cuma butuh waktu sepuluh menit saja.

Sengaja aku datang ke sini, sebab Amran tidak sempat pulang untuk makan siang. Jadi aku berinisiatif untuk membawakan makanan untuknya. Aku juga tidak memberitahu Amran perihal kedatanganku, hitung-hitung ngasih surprise sekali-sekali.

Tak peduli dengan pakaianku yang basah, aku melangkah penuh percaya diri menuju ruangan Amran. Membayangkan senyum bahagia yang akan kudapat darinya. Serta kata-kata gombal yang biasanya akan selalu menyertai ucapan terima kasih darinya.

Seketika langkahku terhenti. Ketika melihat seorang perempuan keluar dari ruangan Amran. Dadaku bergemuruh. Jantung seakan terbakar.

 Kebetulan kami berpapasan. Aku menghadang langkahnya.

“Maaf, Bu Zainab. Bisa bicara sebentar?”

Mata Zainab membesar saat menyadari siapa yang berdiri di hadapannya kini. Ia menatapku dari kepala sampai kaki. Ada senyum sinis terlukis meskipun tidak terlalu kentara. Tapi aku bisa melihatnya.

Berusaha menahan emosi agar tak meledak, dan mencoba bersikap elegan di hadapan perempuan ini.

“Iya boleh,” sahutnya. Paras cantiknya semakin terlihat dengan hijab merah muda yang ia kenakan. Mungkin lelaki bodoh yang bisa menolak pesonanya.

“Maaf kalau saya lancang, ada keperluan apakah ibu di ruangan suami saya tadi?”

Zainab menatap tak suka padaku. “Saya di sini sebagai karyawan, dosen pengajar, jadi tidak ada salahnya jika saya harus keluar masuk ruangan bang Amran,”

Apa? Bang Amran? Dia sebut bang Amran? Sok dekat sekali dia dengan suamiku.

“Iya, saya tahu itu. Tapi saya tidak terlalu suka jika anda terlalu sering mendekati suami saya. Apalagi mencari-cari alasan agar bisa bertemu suami saya. Jaga pandangan matamu dari laki-laki yang bukan mahrammu!” Tegasku.

Lagi-lagi perempuan itu tersenyum sinis. “Makanya, kamu tahu diri. Kamu itu tidak pantas bersanding dengan Amran. Dia terlalu sempurna untukmu. Bodoh sekali rasanya Amran tidak mau menikah denganku dan lebih memilihmu!”

Ucapannya begitu menghunjam jantungku. Tapi aku tetap berusaha tenang, menjaga kewarasan agar tak terlihat begitu bodoh dan rendah di matanya. Tidak pernah kuduga lisannya begitu tajam. Tertutup oleh penampilannya yang terlihat begitu shalihah.

“Seharusnya anda yang sadar diri, berpikirlah! Kenapa dia lebih memilih saya yang buruk rupa ini ketimbang anda yang cantik rupawan,” ah, aku sendiri tak suka dengan kata-kata yang kulontarkan.

Zainab terkejut. Mungkin tak menyangka aku akan berkata seperti itu padanya.

“Oh ya satu lagi! Kalau memang benar anda merasa lebih segala-galanya dari saya, maka katakan pada ayah anda, untuk tidak lagi mengemis cinta pada Amran. Bukankah dengan segala kelebihan yang anda miliki, anda bisa saja mendapatkan lelaki mana pun yang anda mau tanpa merebut suami orang?”

Napas Zainab naik turun, emosinya benar-benar naik kali ini mendengar setiap kata yang kuucapkan. Ia bersiap mengangkat tangan kanannya untuk ia layangkan ke pipiku.

“Zainab!” Sebuah teriakan membuat perempuan itu terperanjat dan menghentikan aksinya. Ia sungguh tak menyangka, jika Amran datang disaat yang tepat.

Lelaki itu berjalan mendekati kami berdua. Wajahnya terlihat marah bercampur khawatir melihatku.

“Apa yang kalian lakukan?”

“ Tanyakan pada istrimu yang suka menghinaku ini!” Sahut Zainab seakan berusaha membalikkan fakta. Mataku membesar menatapnya, lalu kutatap Amran dan menggeleng kuat-kuat sebagai kode bahwa ucapan Zainab itu sama sekali tidak benar.

“Silahkan kembali keruanganmu!” Perintah Amran pada Zainab.

“Aku tidak mau.”

“Jangan membantah! Aku bisa saja membuatmu berhenti dari kampus ini.”

“Aku tidak peduli. Aku hanya ingin kamu melihatku sedikit saja, aku ingin kita bisa ...”

“Zainab, sudahlah hentikan! Tidak ada gunanya membahas hal yang sama di sini. Ini tempat umum. Lagian kamu sudah lihat sendiri kalau aku sudah memiliki istri. Jadi tidak mungkin aku bisa menikah denganmu! Ini juga salah satu alasan kenapa dulu aku tidak memilihmu sebagai istri, kamu terlalu egois, hanya mementingkan diri sendiri tanpa peduli dengan orang perasaan orang lain.” Tegas Amran.

“Tapi aku mau berubah demi kamu, dan aku juga rela jadi istri keduamu, bang!”

Aiiih, tak punya harga diri sekali perempuan ini.

“Maaf Zainab, aku tidak mampu untuk berpoligami. Dan aku juga tidak mau menyakiti hati istriku dengan membagi cintaku untukmu. Paham kan?”

Zainab bergeming. Hujan turun semakin deras menampar bumi.

Amran menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya. Menuntunku menuju sebuah ruangan yang tadi hendak kutuju. Untung suasana di sini sepi, hingga tak ada yang melihat kejadian memalukan ini. Zainab masih terpaku di tempatnya berdiri hingga tubuh kami berdua menghilang di balik ruangan yang cukup besar itu.

“Kamu tidak apa-apa, Jihan?” Tanya Amran begitu kami sudah berada di ruangannya.

“Iya, aku baik-baik saja.” Sahutku.

“Bajumu basah, kamu kehujanan ya?”

Aku mengangguk. “Tadinya aku bermaksud mengantar makanan ini untuk abang, eeeh rupanya kehujanan,” aku menaruh makanan itu di meja. Dan terkejut ketika melihat ada rantang lain terletak di sana.

“Ini punya siapa?”

“Zainab.”

“Apa?” Aku terbelalak.

“Jangan melotot dulu. Tadi dia ngasih makanan itu buat abang, sudah di tolak tapi dia bersikeras. Dari pada dia kelamaan di ruangan ini ya abang suruh tarok di situ. Nanti kita kasih ke security aja dari pada mubazir.” Jelasnya panjang lebar.

Aku mendelik. “Serius jalan ceritanya seperti itu?”

“Astaghfirullaah..., istriku ini selalu nggak percaya ama suaminya.” Amran mencubit hidungku. “Ayo abang antar pulang, ganti bajumu biar nggak masuk angin.” Amran beranjak mengambil tas kerjanya.

“Truss makanannya?”

“Kita bawa lagi, nanti makan di rumah aja sama-sama.”

“Lho? Katanya tadi nggak bisa pulang buat makan siang!”

“Itu kan tadi, sekarang beda. Nggak tega lihat kamu pakaiannya basah begini.”

“Isshhh, gombal lagi!” Sungutku.

“Tapi kamu suka kaaaaaaan?”

Kucubit pinggangnya hingga ia meringis menahan sakit.

                                             ***

“Tadi itu kenapa sih bisa berantem gitu sama Zainab?” Tanya Amran saat kami baru selesai menyantap hidangan makan siang.

“Bukan berantem, Bang. Tapi tadi itu aku cuma ngajak dia bicara baik-baik kok. Eeeh, dia nyolot. Ya aku ladenin,”

Amran tertawa kecil. “Harusnya kalau bicara itu jangan di tempat umum begitu. Kalau didengar orang kan malu.”

“Habis aku kesal aja kalau lihat dia, nggak bisa menjaga pandangan dan sikap. Percuma aja hijabnya panjang tapi...”

“Ssstttt! Jihan, jangan berkata seperti itu. Hijab itu nggak ada hubungannya sama tingkah laku seseorang. Hijab itu kewajiban, sedangkan tingkah laku itu tergantung pribadi masing-masing,”

Aku terdiam, membenarkan ucapan Amran. “Iya Bang, maaf. Aku terlalu emosi,”

“Kamu kan memang selalu emosian, suka meledak kayak petasan. Hal kecil bisa jadi besar,” ejeknya.

“Jangan mulai deh!” Sungutku.

Amran terbahak. Matanya menatap tubuhku yang tengah merapikan meja makan.

“Kamu gendutan ya?”

“Masa sih?” Aku mulai gusar dengan perkataan Amran.

“Iya, kamu nggak nyadar apa itu perut rada maju? Pipi juga sedikit tembam,”

Aku meraba perut dan pipiku. Iya benar. Apa karena akhir-akhir ini aku suka ngemil ya? Nafsu makanku juga naik drastis. Oh ya, aku lupa kalau bulan ini aku belum haid. Apa aku...

“Udaaah, nggak usah gusar gitu. Baguslah kalau kamu gendutan, berarti aku sukses jadi suami yang baik untukmu.” Ujarnya dengan wajah bangga.

“Bukan begitu bang!”

“Lalu?”

“Antar aku ke dokter sore nanti!”

“Mau ngapain? Mau sedot lemak?”

“Jangan bercanda terus!” Jawabu ketus.

Terpaksa ia diam dan mengiyakan tanpa banyak bertanya lagi.


“Selamat ya, Bu. Ibu tengah hamil 4 minggu.” Wanita berkerudung putih itu tersenyum, seakan ikut merasakan kebahagiaanku mendengar pernyatannya.

Mataku membesar. “Saya hamil, Dok?” Tanyaku tak percaya.

Wanita itu mengangguk yakin.

“MaasyaaAllah, walhamdulillaah, suami saya pasti senang sekali mendengar berita ini, Dok.”

“Pastinya dong, Bu. Oh ya, tapi...Bu Jihan harus menjaga kandungan trimester pertama ini dengan baik. Nggak boleh terlalu capek, kontrol emosi, dan makan makanan yang bergizi. Jangan terlalu banyak berpikir yang berat-berat, rileks aja agar janinnya juga happy di dalam sana.” Ujarnya seraya tersenyum dan menulis sesuatu disehelai kertas resep.

“InsyaaAllah, siap Dokter.” Sahutku tak dapat menyembunyikan rasa bahagia ini.

“Ini saya kasih resep vitamin untuk Bu Jihan, jika di rasa butuh silahkan di tebus, jika tidak juga tidak apa-apa. Yang penting pola makan dijaga, makan makanan yang bergizi,” beliau menyerahkan secarik kertas itu padaku.

“Baik, Dokter. Terima kasih banyak.” Kuterima kertas itu. “Kalau begitu saya permisi dulu ya, Dok? Assalaamu’alaykum!”

“Wa’alaykumussalaam,”

Dengan raut wajah yang begitu bahagia, aku melangkah keluar dari ruangan itu. Tak sabar rasanya untuk memberitahu Amran. Aku sengaja memintanya menunggu di luar saja.

“Jihan, gimana? Apa kata dokter? Kamu beneran hamil?” Ia memberondongku dengan pertanyaan saat aku baru saja tiba di luar.

Aku tersenyum, begitu sumringah, lalu mengangguk. “Iya, Bang. Aku hamil.”

“MaasyaaAllah, walhamdulillaah!” Lelaki itu langsung memelukku dan mengangkat tubuhku sambil berputar-putar layaknya film bollywood. Seolah tak peduli tatapan orang-orang sekitar yang hanya bisa senyum-senyum saja melihat tingkahnya.

“Abang apa-apaan sih? Turunin aku, malu tahu dilihat orang,”

“Kenapa malu? Sama istri sendiri kok, bukan istri orang.” Tukasnya cuek.

“Tapi aku pusing, Bang!”

Amran langsung menghentikan aksinya lalu menurunkan tubuhku. “Maaf, Sayang. Abang terlalu bahagia,” ia memegang kedua belah pipiku. Matanya terlihat berbinar.

“Sebentar lagi abang akan menjadi ayah. Ya Allah, kenapa jadi nggak sabaran gini ya?”

“Sabar Bang, masih delapan bulan lagi,”

Amran tertawa kecil. Lalu ia menggandeng tanganku untuk segera meninggalkan tempat praktek dokter kandungan itu.

“Kak Jihan? Bang Amran? Kalian ngapain di sini?”

Kami terkejut saat menjumpai Madya dan Hakim di pintu keluar.

Aku dan Amran saling berpandangan dan tersenyum penuh arti.

“Jangan-jangan...kak Jihan hamil ya?” Tebaknya.

Aku mengangguk dan tersenyum. “Iya, Madya. Alhamdulillaah,”

“Waaah, maasyaaAllah,” Madya memelukku erat, “selamat ya Kak, aku seneng banget dengernya,”

Lalu ia melepas pelukannya.

“Selamat ya Amran!” Hakim menepuk pundak sepupunya.

“Terima kasih. Aku baru tahu, ternyata begini rasanya saat tahu kalau istri kita hamil,” ujarnya sambil tertawa kecil.

“Eh, kamu ke sini ngapain?” Tanyaku pada Madya.

“Mau kontrol aja kok, Kak. Ini Bang Hakim suka cerewet kalau dalam sebulan aku nggak kontrol.” Ia melirik suaminya. Hakim cuma tersenyum simpul menanggapi ucapan Madya. Sejenak mata kami sempat beradu pandang, namun beberapa detik hingga kami sama-sama membuang muka.

“Oh ya, kalau gitu kakak duluan ya? Udah sore nih!”

“Oke, Kak. Hati-hati ya?” Madya mencium punggung tangan kananku.

“InsyaaAllah, kamu juga hati-hati. Jaga kesehatan ya?”

Madya mengangguk dan tersenyum. Lalu kami pun berpisah. Amran kembali menggandeng erat tanganku menuju parkiran.

Sempat aku menoleh ke belakang, dan di saat yang sama Hakim pun tengah melakukan hal yang sama denganku. Beberapa lama hingga ia tersenyum. Ada sedikit celah luka yang berdarah. Sedikit sekali. Tapi terasa perih.

Kulirik Amran, lelaki itu rupanya sedang memperhatikanku. Ia tersenyum. Lalu berbisik tepat di telingaku, “abang tidak mau kalau nanti anak kita miripnya sama Hakim, bukan sama abang,”

Wajahku langsung terasa panas, sepertinya Amran melihat apa yang barusan terjadi. Aku hanya diam tak menimpali. Rasanya untuk sesaat tadi aku merasa telah menjadi pengkhianat. Tapi sungguh, tidak ada maksud sedikit pun. Hanya kebetulan. Dan terjadi begitu saja.

“Apa kamu belum bisa melupakan lelaki itu, Jihan?” Pertanyaan Amran membuat darahku berdesir.

“Ma-maksud abang apa?”

Lagi-lagi ia tersenyum, tulus. Meskipun ada semburat kecewa yang berusaha ia sembunyikan.

“Apa cinta yang abang berikan tidak cukup untuk mebatmu lepas dari bayangannya? Dan bukankah kamu bilang kalau kamu sudah melupakannya dan mulai mencintai abang?”

“Bang...aku...,” entahlah aku harus jawab apa.

“Sudahlah, jangan gugup begitu,” Amran mengusap kepalaku, “abang mengerti, semua butuh proses,” pungkasnya.

Hanya mampu tersenyum getir. Terbuat dari apa hati lelaki ini?

                                 ***

Kehamilanku ditrimester pertama ini sedikit menyulitkanku. Morning sickness, selalu muntah kalau makan, serta rasa lelah yang berkepanjangan akibat tidak adanya makanan yang masuk ke perut. Sempat di rawat selama beberapa hari, tapi aku tidak betah sehingga memutuskan untuk dirawat di rumah saja. Dan rumah orang tuaku adalah pilihan tepat. Sebab saat Amran bekerja, ada mereka yang menjagaku.

 Sempat Amran ingin membayar perawat khusus untuk menjagaku tapi orang tuaku melarang. Karena kata mereka, mereka masih sanggup menjagaku selama Amran tidak ada.

Fadil yag mendengar kabar tentangku menyempatkan diri untuk pulang. Ia begitu khawatir dengan keadaanku.

“Azizah titip salam untukmu, maaf kalau dia tidak sempat ikut, sebab anak-anak semua pada sekolah,” ujar Fadil pelan. Ia terenyuh melihatku terbaring lemah di atas ranjang.

“Iya, Bang. Nggak apa-apa kok. Abang sebetulnya juga nggak usah repot-repot datang ke sini. Ini cuma sakit orang hamil kok. Bukan sakit yang berarti.”

“Abang belum pernah melihat wanita hamil kayak kamu, gimana abang nggak khawatir,” tukasnya sambil mengacak rambutku. “Kenapa bisa kayak gini sih? Kamu terlalu banyak pikiran ya? Malas makan?” Cecarnya.

“Enak aja, ini bawaan hamil Bang. Kondisi setiap wanita itu kan beda-beda,”

Fadil tersenyum. Ia menatapku lekat. “Kamu bahagia kan, Dik?”

“Wanita mana yang nggak bahagia saat ia merasa sempurna sebagai seorang istri?”

“Bukan, bukan itu maksud abang,”

Aku mengernyitkan dahi, “lalu?”

“Kamu bahagia bersama Amran?”

“Apa aku terlihat menderita?”

Fadil menggeleng. “Kamu terlihat bahagia, tapi hatimu masih sedikit terluka, dan sampai saat ini masih sulit untuk disembuhkan.”

“Abang sok tahu!” Kilahku memukul pelan lengannya.

“Aku abangmu, aku tahu siapa dirimu, Dik. Bahkan sorot matamu tak bisa membohongiku.”

Mencoba tersenyum, “Amran sangat mencintaiku Bang. Aku sangat bahagia dan merasa beruntung mendapatkan suami seperti dia,”

“Dan kamu sendiri? Apa kamu mencintainya?”

Aku menghela napas, “ya, aku mencintainya, lebih tepatnya mulai mencintainya dan belajar mencintai seutuhnya,”

“Baguslah kalau begitu, abang senang mendengarnya. Setidaknya abang sudah lega, melepasmu ke tangan seorang lelaki shalih seperti Amran. Oh ya, kamu mau abang belikan apa? Dari tadi belum makan kan?”

Aku menggeleng lemah. “Aku nggak mau apa-apa, Bang. Pengen istirahat aja,”

“Jangan bandel, harus makan walau sedikit. Abang beliin bakso kesukaan kamu mau nggak?”

Seketika perutku mual membayangkan makanan yang biasanya jadi favoritku itu. “Nggak ah Bang, membayangkannya saja aku mual sekali. Kalau boleh, aku minta dibikinkan jus saja boleh? Tapi yang asem-asem yah?”

Fadil tersenyum, “everything for you!” ia kembali mengusap kepalaku. “Tunggu yaaa,” ia lalu bangkit dan menghilang dari balik pintu kamarku.

Fadil, kasih sayangnya padaku tak pernah berubah sedikit pun. Bahkan di saat ia sudah memiliki keluarga sendiri, aku tak pernah ia abaikan. Entah kenapa aku sendiri tidak tahu. Sedangkan dengan Madya dia cenderung bersikap biasa saja, bahkan terkesan sedikit dingin.

                              ***

Siang ini suasana rumah terasa sepi sekali. Kemana mereka semua? Biasanya Fadil sudah melancong ke kamarku untuk sekedar menghibur dengan cerita-cerita konyolnya. Tapi sejak tadi batang hidungnya tidak kelihatan. Sementara abi dan umi setahuku sedang pergi menghadiri kajian.

Dengan segenap tenaga yang masih tersisa aku mencoba bangkit dari ranjang. Mengenakan hijab lalu menyeret langkah menuju pintu. Kepala terasa berat, tapi keinginan untuk melihat sinar matahari begitu kuat setelah seminggu lamanya aku hanya berbaring di kamar.

Saat sampai di pintu kamar, aku merasakan udara masuk dari arah balkon menyapa wajah. Sejuk sekali. Membuat seutas senyum mengembang di sudut bibir.

Kemudian aku menuruni satu persatu anak tangga dengan berpegangan pada sisinya. Kaki terasa gemetar, hampir tak sanggup menahan masa tubuh. Hingga di pertengahan tangga aku merasa dunia seakan berputar, mata terasa berkunang-kunang. Hampir saja aku jatuh kalau saja tidak ada sepasang tangan kokoh yang menahan tubuhku. Saat lelaki itu baru saja masuk dan melihatku terhuyung di tengah tangga, ia pun berlari mengejarku.

“Jihan!”

Wajahnya begitu khawatir.

Lalu di saat yang bersamaan, ketika tangan kokoh itu menahan tubuhku, Amran datang. Wajahnya penuh amarah ketika ia melihat tubuh istrinya tersentuh oleh laki-laki yang bukan mahramnya.

“Apa yang kamu lakukan?” Amran mendekat dan berusaha menjauhkan tubuhku dari tangan lelaki itu.

“Aku hanya...”

“Menjauhlah!” Ia mendorong tubuh sepupunya itu dengan kasar.

“Amran jangan salah paham dulu, tadi aku...,”

Amran mengangkat tubuhku yang dalam keadaan setengah sadar ke kamar. Wajahnya masih penuh amarah. Ia meletakkan tubuhku perlahan di atas ranjang. Tanpa berkata apa-apa ia kembali keluar. Berlari menuruni anak tangga.

“Kamu sengaja datang ke sini saat tidak ada orang di rumah?” Cecarnya.

“Bukan, bukan begitu, aku hanya mengantar makanan buat Jihan dari Madya, dan aku tidak tahu kalau di rumah tidak ada orang sama sekali,”

“Jangan banyak alasan!”

‘BUK!’ Satu pukulan mendarat di wajah Hakim. Membuat tubuh lelaki itu jatuh ke lantai. Ada darah segar mengucur di sudut bibirnya.

“Amran, demi Allah kamu salah paham!” Ucapnya sambil berusaha bangkit.

Mendengar suara ribut mereka kesadaranku kembali seratus persen. Aku mencoba bangkit, dengan terhuyung mencoba menyeret langkah keluar dari kamar.

“Jangan bersumpah dengan nama Allah! Aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri, kamu berusaha menyentuh Jihan saat dia sedang tidak berdaya! Laki-laki seperti apa kamu ini, ha?” Amran sepertinya benar-benar sudah dikuasai amarah. Ia memegang kerah kemeja Hakim dan berusaha kembali melayangkan pukulannya.

“Bang Amran!” Teriakku tertahan dari lantai atas. “Sudah hentikan!” Mereka berdua mendongakkan kepala ke atas. “Abang salah paham, semua yang terjadi tidak seperti yang abang pikirkan!” Tiba-tiba saja air mataku menganak sungai. Aku terluka saat melihat posisi Hakim.

“Kamu mau membela laki-laki ini? Kenapa? Karena kamu masih mencintainya? Iya?” Amran balik mencecarku.

Aku menggeleng kuat-kuat. “Bukan, bukan seperti itu. Tapi dia memang tidak melakukan apa-apa. Dia hanya melakukan apa yang seharusnya ia lakukan, ia tidak bermaksud apa-apa Bang. Percayalah!”

Amran bergeming. Namun tangannya masih mengepal.

“Apapun yang terjadi aku minta maaf! Permisi, assalaamu’alaykum!” Hakim memandangku sebentar sebelum ia berlalu. Ada baiknya ia segera pergi, sebelum emosi Amran kembali memuncak.

“Wa’alaykumussalaam,” jawab Amran dengan suara nyaris tak terdengar. Napasnya masih memburu. Ia mendaratkan tubuhnya di sofa, menunduk, memegang kepala dengan kedua tangannya. Lalu lisannya beristighfar berulang kali. Kulihat sudut matanya berair. Lelaki itu menangis.

Aku kembali masuk ke kamar, meneguk air mineral yang tersedia di atas nakas sebelum merebahkan tubuh lemahku ke atas ranjang. Mengusap sisa air mata yang masih mengalir di pipi.

‘Kenapa harus jadi seperti ini? Sebesar itukah kecemburuan Amran pada Hakim? Sampai-sampai ia tak bisa menggunakan akal sehatnya saat Hakim mencoba berkata jujur.’

                            ***

“Jihan? Kamu tidur?”

Mendengar suara Amran aku pura-pura memejamkan mata seolah tertidur. Aku merasakan ia duduk di sisi ranjang, menatapku nanar. Sebuah kecupan hangat terasa menyentuh dahi, serta belaian lembut tangannya terasa damai menentramkan jiwa. Mungkin emosinya sudah reda.

“Maafkan abang, Jihan. Abang hanya tidak rela ada laki-laki lain yang menyentuhmu apapun alasannya, apalagi laki-laki itu adalah Hakim. Orang yang pernah singgah di hatimu. Wallaahi abang tidak rela,” lirih ia berkata.

Aku membuka mata, menemukan laki-laki itu masih meneteskan air mata. Kugenggam tangannya, ia terkesiap dan buru-buru menghapus air matanya.

“Tapi cemburu tak lantas harus mengesampingkan akal sehat, Bang,” ujarku pelan.

Amran terdiam menatap mataku. “Maafkan abang!”

“Minta maaflah pada Hakim!”

Amran membuang pandangannya dari mataku, seolah tidak suka dengan ucapanku barusan.

“Bang, meminta maaf tak akan menurunkan harga diri seseorang bukan?” Aku bangkit, lalu mengusap wajah suamiku itu. “Aku tahu, abang bukan seorang pendendam, abang hanya terbawa emosi karena kecemburuan yang begitu besar. Tapi...”

“Baiklah, nanti abang temui dia.” Pungkasnya memotong ucapanku.

Aku tersenyum, mengecup pipinya perlahan. “Terima kasih, ini yang membuatku jatuh cinta pada abang,”

Amran mencubit pipiku, “Hmm, udah pintar ngegombalin suami ya sekarang!” Wajahnya terlihat sumringah. “Udah makan belum?”

Aku menggeleng, “belum,”

“Mau makan apa?”

“Nggak ada,”

“Abang buatkan jus lagi mau?”

“Nggak ah, tadi udah di buatkan bang Fadil kok. Itu masih ada,” aku menunjuk jus yang masih tersisa setengah gelas.

“Bang Fadil-nya kemana? Kenapa kamu di tinggal sendirian?”

“Aku nggak tahu juga, Bang. Dia nggak pamit, mungkin karena ngeliat aku tidur dia nggak tega bangunin,”

Amran menatapku. “Fadil sayang banget ya sama kamu?”

“Bangeeeet,”

“Kenapa bisa begitu?”

“Ya karena dia kakakku lah Bang, abang ada-ada saja pertanyaannya,”

Lelaki itu tertawa kecil.

“Jihan...”

“Ya?”

“Kita kembali ke rumah saja gimana?”

“Kenapa?”

“Abang nggak mau kejadian yang sama berulang lagi.”

Aku menarik napas dalam. “Kalau begitu keinginan abang, aku menurut saja. Tapi siapa yang menjagaku kalau abang ke kampus?”

“Abang udah berniat mengundurkan diri dari kampus,” sahutnya tenang.

“Apa?” Mataku membesar. Terkejut mendengar pernyataan Amran.

“Iya, abang tidak bisa lagi di sana. Terlalu banyak mudharat. Abang takut, jika iman yang sebutir debu ini terbang tertiup angin,”

“Salah satu mudharatnya?” Selidikku.

Amran terdiam sejenak, seolah ragu ingin menyampaikan.

 “Zainab,” ucapnya datar.

Darahku seketika berdesir. Perempuan itu lagi. Apa dia belum berhenti mengejar cinta Amran sampai-sampai Amran berniat mengundurkan diri?

“Kenapa tidak dia saja yang di keluarkan?”

“Dia bukan alasan satu-satunya, terlalu banyak yang bertentangan dengan prinsip hidup abang di sana. Dan kebetulan, pemilik pondok pesantren khusus ikhwan yang di Payakumbuh menawarkan abang untuk menjadi guru tahfidzh di sana. Sudah lama sih beliau menawarkan tapi abang masih ragu waktu itu.”

“Payakumbuh? Yang boarding school itu?”

Amran mengangguk. Wajahnya terlihat bahagia.

“Apa kita harus pindah ke sana juga?”

“Nanti kita lihat gimana-gimananya. Abang mau buat surat pengunduran diri dulu, setelah disetujui, baru abang datang ke sana untuk memastikan. Abang hanya butuh dukungan darimu,” harapnya.

“InsyaaAllah aku selalu mendukung apa pun keputusan abang selama itu masih di jalan Allah.”

“Terima kasih, Jihan.” Ia kembali mengecup dahiku.

“Oh ya, jangan lupa Bang!”

“Apa?”

“Minta maaf pada Hakim.”

“Iyaaa, insyaaAllah nanti abang temui dia.” Wajahnya langsung berubah, sedikit tak suka. “Ya sudah, abang mau ke masjid dulu, udah Zuhur.” Ia bangkit menuju kamar mandi.

Aku sedikit lega meskipun rasa bersalah pada Hakim sedikit mengganggu pikiran. Kasihan dia. Apa kata Madya kalau dia melihat memar di wajah suaminya itu? Apakah Hakim akan berkata jujur dengan semua yang terjadi? Dan itu akan menambah masalah baru bukan? Ah, kepalaku jadi pusing lagi memikirkan semua ini.
“Besok abang udah boleh pulang belum, Dik?” Tanya Fadil saat ia menemaniku duduk di teras depan.

“Kalau abang tanya boleh atau enggaknya pasti aku jawab nggak boleh.” Sahutku tanpa menoleh padanya.

“Jadi artinya boleh atau enggak nih?”

“Ya bolehlah Bang. Nggak mungkin juga abang lama-lama menemani aku di sini, sementara di sana ada yang rindu setengah mati,” aku tersenyum menatapnya.

“Tapi abang berat meninggalkanmu sendiri,”

“Bang Fadil nggak usah lebay. Aku ini sudah bersuami lho!”

“Tapi kamu tetap adik kecil abang,”

“Bang Fadil, udah dong! Jangan bikin aku mewek deh!”

Fadil tertawa kecil. “Kamu ikut abang saja yuk ke Jakarta!”

Kutatap wajah kharismatik miliknya dengan dahi berkerut. “Kok gitu?”

Lelaki itu menghela napas, membuang pandangannya ke halaman yang ditumbuhi beraneka tanaman hias kesayangan abi.

“Entahlah Dik, abang begitu khawatir saja meninggalkanmu,”

“Khawatir kenapa? Bukankah ada Amran yang menjagaku?”

Ia menunduk sejenak, lalu menatapku. “Abang takut, jika Hakim masih memiliki rasa untukmu, dan takut jika rumah tanggamu akan berantakan. Maka lebih baik kamu menjauh darinya, ajak Amran pergi dari kota ini agar Hakim tak lagi bisa bertemu denganmu,”

“Bang, insyaaAllah itu nggak akan terjadi,”

“Tapi kejadian kemarin membuat abang semakin yakin kalau ... “

“Bang!” Potongku. “Kemarin itu salah paham, bang Amran yang terlalu emosi sehingga tidak bersedia mendengar penjelasan dari Hakim. Mungkin jika dia berada di posisi yang sama dengan Hakim saat melihat Madya hampir celaka, pasti dia akan melakukan seperti yang Hakim lakukan padaku Bang!” Bantahku mencoba memberi pengertian.

“Beda jika posisi itu ada pada Amran, dia tak pernah ada rasa dengan Madya, sedangkan kamu dan Hakim? Kalian pernah memiliki rasa yang sama dan harapan yang sama,”

“Kenapa abang jadi mirip Amran sih?” Tanyaku mulai kesal.

Fadil terdiam.

“Aku sudah berusaha menerima semuanya Bang, aku sudah berusaha melupakan rasa itu meskipun butuh waktu lama. Jadi tolong jangan melemahkan semangatku!”

“Maafkan abang, Jihan. Abang hanya terlalu khawatir denganmu.”

“Aku tahu Bang, tapi jangan sampai kekhawatiran itu membuat abang terlalu protektif padaku. Beri aku kesempatan agar aku bisa mandiri,”

“Itu yang abang belum bisa.”

“Kenapa?”

Fadil bergeming, membuang wajahnya dari tatapan mataku.

“Entahlah,” jawabnya singkat.

“Abang aneh!”

Terdengar ia menghela napas, kemudian mengembuskannya perlahan. Tangannya meraih ponsel di meja, lalu jarinya sibuk menari di atas layar kotak itu.

“Abang mau pesan tiket untuk besok,” ujarnya tanpa kutanya.

“Oke,”

“Abang dapat tiket siang, jadi pagi abang harus sudah berangkat dari sini,” ujarnya setelah beberapa saat.

“Iya, Bang,”

“Kamu yakin sudah bisa abang tinggal?” Seraut khawatir terpampang di wajahnya.

“Kaaan mulai lagi,”

Ia tersenyum, mengusap kepalaku kemudian bangkit dari duduknya untuk masuk ke dalam rumah. Meninggalkanku duduk sendiri di kursi rotan itu. Sikapnya aneh!

Gerimis mulai turun  saat aku melihat mobil Amran bergerak perlahan memasuki halaman rumah. Tak lama terlihat lelaki tampan itu turun, setengah berlari menghampiriku menghindari tetesan air hujan.

“Assalaamu’alaykum!”

“Wa’alaykumussalaam.” Sahutku seraya mencium punggung tangannya. Amran mengecup dahiku.

“Kamu sendirian?”

“Tadi ada bang Fadil di sini,”

“Ooh. Kamu udah ngerasa baikan? Nggak pusing lagi?”

“Masih Bang, tapi aku nggak betah lama-lama di kamar. Bosan,”

Amran tersenyum.

“Orang hamil itu aneh ya? Padahal sebelum ketahuan hamil, kamu gendutan. Makannya banyak, ngemil banyak. Eeeh, pas tahu hamil langsung ngedrop gini. Lihat deh badan kamu udah kurus lagi,” ia menatap tubuhku iba.

“Ini semua gara-gara abang.” Sungutku.

“Gara-gara abang?” Tanyanya heran seraya duduk di sampingku. “Kenapa gara-gara abang?”

“Kan abang yang bikin aku jadi begini,”

Amran mencubit kedua pipiku, “udah pinteeeer ya sekarang,”

“Aduuuh, sakiiiit,” sungutku sambil mengusap pipi yang memerah.

“Maaaaaaf,” ejeknya dengan wajah sok menyesal.

“Udah jadi ketemu Hakim belum?”

Amran tertegun, senyumnya langsung surut. “Dia lagi,”

“Kemarin abang sudah janji mau minta maaf sama dia kan?”

“Sudah,” sahutnya singkat.

“Kapan?”

“Tadi pagi, abang datangi dia ke pesantren,”

“Beneran?” Mataku membulat.

Amran menatap tak suka padaku. “Nggak percayaan amat sama suami sendiri,”

“Truss dia bilang apa?”

“Kepo banget sih! Udah ah, itu urusan abang sama dia, kamu fokus aja sama kesehatan kamu. Oke?”

Aku mendelik. Manyun.

“Ayo kita masuk, hujannya mulai deras. Ntar kamu masuk angin lagi,” Amran bangkit, lalu mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.

“Besok kita kembali ke rumah kita ya?” Ujarnya sambil melingkarkan tangannya di pinggangku. Kami melangkah masuk ke dalam rumah.

“Aku mau di sini aja dulu, Bang. Surat pengunduran diri abang kan belum disetujui. Nanti siapa yang menemaniku?”

“Abang carikan perawat ya?”

“Nggak mau. Aku nggak suka ada orang lain di dalam rumahku. Risih. Kalau di sini kana ada umi dan abi.” Tolakku.

“Tapi nggak mungkin dong, kita repotin mereka terus. Sementara abangmu udah mau balik ke Jakarta kan? Nanti gara-gara nungguin kamu abi sama umi nggak bisa kemana-mana lagi. Kasihan mereka, Jihan,”

“Iya juga sih Bang, tapi ... “

“Kita jalani saja dulu, kondisi kamu kan sudah lumayan membaik. Jadi seandainya kamu nggak mau ada perawat, abang aja yang bolak-balik kampus ke rumah buat mastiin kalau kamu baik-baik saja. Kan dekat,”

“Baiklah kalau mau abang begitu,”

Amran tersenyum, dia selalu tampak bahagia jika keinginannya kuturuti.

“Ada satu hal yang ingin abang minta darimu, Jihan,” ujar Amran saat kami sudah berada di kamar.

“Apa itu, Bang?”

“Abang ingin, setiap kali Hakim datang ke rumah ini dan kebetulan kamu juga ada di sini, kamu masuk ke dalam kamar. Jangan keluar sebelum dia pulang. Kecuali pas ada abang atau sedang acara keluarga,” pintanya dengan nada serius. “Kamu bisa kan?” Ia menatap lekat wajahku.

Aku tersenyum, dan mengangguk. “Tentu saja aku bisa bang, apapun perintahmu selama itu baik, pasti akan aku turuti.”

Amran mengecup pipi kananku,”terimakasih, Sayang,” lalu senyumnya mengembang. “Hari ini sudah tilawah?”

“Alhamdulillaah sudah, Bang. Tadi sehabis Dhuha,”

“Alhamdulillaah kalau begitu. Biasakan untuk selalu melantunkan ayat-ayat Allah sejak si kecil masih dalam kandungan, biar nanti dia juga jadi seorang hafidzh,”

“Seperti  abinya?”

Amran tertawa, “dan shalihah seperti umminya,”

Wajahku memanas, entah itu pujian atau sindiran. Sebab aku belumlah pantas di sebut wanita shalihah.

                          ***

Sudah hampir sebulan sejak kami kembali lagi ke rumah sendiri. Dan sejak itu pula surat pengunduran diri Amran belum disetujui pihak kampus. Mereka seperti enggan melepas Amran begitu saja. Karena kinerja yang bagus serta mengingat Amran belumlah setahun berada di sana. Amran mencoba bertahan dan terus berdoa agar bisa segera lepas dari tempat itu. Begitu banyak hal yang bertentangan dengan prinsip hidupnya dan itu harus ia coba untuk pasrah sambil terus berusaha.

Kondisi kehamilanku sudah hampir berusia 2 bulan, dan kesehatanku juga sudah mulai membaik, meskipun soal makan belum begitu bisa untuk berdamai. Tapi aku tetap mencoba walau hanya berhasil menelannya sedikit saja. Aku tak ingin menyusahkan Amran maupun kedua orang tuaku. Mencoba mensugesti diri bahwa aku kuat dan aku bisa melewati semuanya.

Seperti siang ini, aku berusaha memasak makanan untuk Amran, dan berniat mengantarnya ke kampus. Dengan menggunakan motor matic aku pun melaju pelan menuju gedung yang tak begitu jauh dari rumah.

Suasana kampus tampak begitu ramai saat aku memarkirkan motorku. Hilir mudik para mahasiswa membuat area yag begitu luas ini terasa sedikit sempit. Mungkin karena bawaan hamil yang membuatku kurang suka dengan keramaian.

Mencoba tak mempedulikan keadaan, aku terus melangkah gontai menuju ruangan Amran. Wajah yang pucat serta tubuh yang sedikit lebih kurus dari biasanya membuat pandangan beberapa pasang mata penuh tanda tanya.

Aku sampai di depan ruangan Amran. Terlihat begitu ramai, banyak rekan-rekannya yang berdiri di depan pintu. Mata mereka langsung tertuju padaku. Menatap iba, sinis entahlah. Apa yang sedang terjadi di dalam sana?

“Permisi, ada apa ya pak, buk? Kok rame banget?” Tanyaku pada mereka.

Mereka tak menjawab, hanya saling melempar pandangan. Lalu secara spontan mereka memberi ruang untuk aku bisa melihat ke dalam. Mataku membesar ketika melihat siapa yang sedang ada di dalam. Ada Amran, Ustaadz Zainal, beberapa orang pihak kampus dan ... Zainab. Kenapa ia terlihat aneh? Pakaiannya seperti acak-acakan begitu? Kusut. Ia duduk sambil memegang lengan ayahnya.

Amran begitu terkejut saat mengetahui kehadiranku yang tak ia duga. Sebab tadi aku tidak memberi tahunya kalau aku akan datang ke sini.

“Jihan?” Gumamnya pelan. Raut wajahnya begitu gusar. Hingga semua mata yang ada di dalam ruangan itu tertuju padaku. Zainab yang sedari tadi menunduk menegakkan kepalanya, menatapku dengan tajam.

“Ada apa ini?” Tanyaku bingung.

Tak ada yang menjawab. Semua membisu.

Mataku beralih pada suamiku, “ada apa ini, Bang?”

“Jihan,” ia berdiri mendekatiku. “Jihan, ini ... ini sedang ada sedikit rapat, jadi kamu pulang dulu ya? Sebentar lagi abang menyusul,” Amran begitu gugup dan terlihat panik.

Aku menggeleng. “Rapat apa? Kenapa ada ustaadz Zainal?”

“Jihan ... Jihan tolong dengarkan abang! Semua baik-baik saja, percaya sama abang,”

“Nggak! Abang bohong!” Tukasku. “Ustaadz Zainal, ada apa sebenarnya?” mengalihkan pandangan pada lelaki separuh baya itu.

 Lelaki itu tertunduk sejenak, menghela napas. “Lebih baik, Amran saja yang mengatakannya langsung,”

“Bang?” Aku menatap tajam suamiku. Tapi ia malah tertunduk, belum pernah aku melihatnya begitu panik. Ada sedikit rasa takut di wajah tampannya.

“Kenapa bang Amran diam?” Tiba-tiba Zainab angkat bicara. “Katakan saja apa yang telah abang lakukan padaku?” Wanita itu terisak.

Jantungku memanas, darahku bergejolak. Mengira-ngira apa yang telah terjadi diantara mereka. Mengingat pakaian Zainab yang sedikit amburadul meski tetap tertutup. Apakah ... ?

“Bang, ada apa ini?” Lututku mulai gemetar. Aku takut jika apa yang ada dalam bayanganku itu semua benar.

Namun Amran tak juga menjawab. Ia menggenggam tanganku, seolah memintaku untuk kuat dan memintaku untuk menguatkannya.

“Bang ... “

“Pak Amran sudah melakukan pelecehan pada Bu Zainab.” Salah seorang yang duduk di salah satu kursi di ruangan itu angkat bicara.

Bagai suara petir di tengah teriknya mentari aku mendengar pernyataan itu. Seakan jantungku berhenti berdetak. Aliran darahku membeku. Dan apa yang sempat terlintas di benakku ternyata benar.

 Kutatap wajah tampan yang semakin gusar itu. Ia menggeleng pelan. Ada air mata di sudut netranya.

"Jihan ... "

 Beberapa detik hingga pandanganku terasa kabur, dan ... gelap.

Membuka mata perlahan, saat ujung hidung terasa panas dan wangi minyak kayu putih menusuk rongganya. Tubuh terasa tak bertulang, lemas. Mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan saat aku menyadari bahwa saat ini aku tengah berada di kamar, di rumah orang tuaku.

 Ada tangan kokoh yang tak melepas genggamannya sedang duduk di kursi dekat ranjang. Ia menunduk, sepertinya sedang menangis. Dari bibirnya selalu terdengar lantunan istighfar tiada henti. Lirih sekali.

Ia menegakkan kepalanya saat menyadari aku sudah sadar.

“Jihan?”

Aku langsung membuang pandanganku dari wajahnya. Menepis pelan genggaman tangan yang begitu erat, hingga terlepas. Ia terkesiap melihat tingkahku.

“Jihan ... semua yang kamu dengar itu tidak benar,” suaranya pelan dan lirih, “wallaahi, abang tidak melakukan hal sebejat itu, itu semua fitnah yang ditujukan Zainab pada abang,”

“Apa buktinya kalau memang abang tidak melakukan itu?” tanyaku datar. Menahan sesak yang membuncah di dada.

Amran tercengang. “Apakah kamu sama dengan mereka? Tidak mempercayai abang sama sekali? Bahkan saat abang sudah bersumpah dengan nama Allah?” Nada kecewa begitu pilu terdengar di telinga. “Bahkan istri yang paling abang cintai pun tak percaya,” Amran menangis. Dan aku pun tak kuasa menahan desakan di sudut mata.

 Aku tahu dia terluka, tapi aku lebih terluka dengan perbuatannya.

“Jika memang abang menginginkan Zainab, kenapa tidak menikahinya saja? Kenapa harus melakukan perbuatan haram itu? Bukankah dia sudah bersedia menjadi istri kedua abang?” Cecarku sambil menangis.

“Tidak! Tidak Jihan! Abang tidak pernah menginginkannya, bahkan bermimpi pun abang tak pernah mengharapkan dia hadir, percayalah Jihan! Kalau bukan kamu, siapa lagi yang akan mempercayai abang?”

Amran begitu terpuruk. Tapi aku tidak bisa menerima begitu saja sampai ia bisa membuktikan kalau ia tidak bersalah. Membayangkan kejadian yang seandainya memang benar itu membuatku jijik, dan ... ah sudahlah!

“Lalu apa yang akan abang lakukan saat ini? Menikahinya?”

Leaki itu menggeleng, kembali ia genggam tanganku. “Tidak, tidak akan pernah!”

“Lalu apa mereka melepaskan abang begitu saja?”

Amran terdiam, ia menahan tangis yang sulit untuk dihentikan. “Abang pasti sudah dipecat secara tidak hormat dari kampus. Dan Ustaadz Zainal ... “ ia terdiam, menghela napas sebelum menyambung ucapannya, “ia meminta ... agar abang menikahi Zainab, kalau tidak, dia akan membawa hal ini ke ranah hukum.” Pungkasnya.

“Bukankah itu yang abang mau? Menikah dengannya?” menatap nanar mata teduh yang begitu kuyu. ‘Ya Allah, perih sekali rasanya hati ini.’

Amran menatap tajam padaku, “kamu tahu Jihan? Abang lebih memilih mendekam di balik jeruji besi dari pada harus menikahi wanita itu,” geramnya.

Aku tertegun, mencari sebuah kejujuran di wajah suamiku itu. Sama sekali tidak terlihat kalau dia sedang berbohong. Bagaimana mungkin aku tidak mempercayainya? Tapi bukti apa yang ia miliki untuk membela diri?

“Jihan ... kamu percaya kan sama abang?” Harapnya.

Membuang pandangan dari tatapannya. “Entahlah, aku tidak tahu,” sahutku pelan.

Amran bergeming. Hening. Hanya sesekali terdengar isak tangisnya.

                        ***

Sungguh ini ujian terberat dalam pernikahanku. Meskipun aku sendiri tidak tahu apakah itu benar atau tidak. Berita itu pun telah sampai ke telinga keluarga besar Amran. Mereka datang ke rumah untuk menguatkan, karena mereka yakin bahwa Amran tidak mungkin melakukan perbuatan itu. Mereka akan mencari bukti bahwa Amran tidak bersalah dan ini hanya fitnah dari wanita bernama Zainab itu saja.

 Begitupun dengan keluargaku, mereka teramat sangat yakin jika semua ini hanya fitnah. Mereka memberi dukungan penuh pada Amran, untuk memilih jalur hukum ketimbang harus menikahi Zainab. Karena menikahi Zainab, seakan membuktikan kalau ia memang bersalah.

Tapi tidak denganku, tidak semudah itu aku menerima begitu saja. Mengingat siapa Zainab. Seorang wanita yang begitu cantik, mempesona bagi siapa saja lelaki yang memandangnya. Tidak kecil kemungkinan jika lelaki seperti Amran tidak tergoda olehnya. Meskipun Amran seorang yang alim, hafidzh  dan memiliki keimanan yang kuat. Akan tetapi, syaithan adalah penggoda yang tak pernah menyerah, mereka pun pasti mengerahkan segala ilmu mereka untuk membuat Amran jatuh. Seperti saat ini.

Kondisiku semakin drop, mungkin terlalu stress dan berpikir terlalu berat. Sehingga aku harus  kembali dirawat di rumah sakit. Ah, aku benci berada di sini. Tapi apalah daya, semua harus tetap di jalani.

Amran dengan setia menemaniku siang dan malam. Meskipun aku tak banyak bicara dengannya, tapi ia selalu bersikap baik padaku. Selalu kudengar lantunan munajatnya di tengah malam di tengah derai air mata. Saat tilawah pun air matanya tak berhenti mengalir. Sesak di dada melihat kondisinya, tapi ... aku harus apa? Separuh hati ingin mempercayainya, separuh hati sulit menerima begitu saja.

“Jihan?” itu suara ibunya Amran. Beliau masuk ke ruangan tempatku dirawat ketika tak ada siapa pun di sini. “Kamu sudah bangun, Nak?” Ia mendekat, mencium dahiku penuh kasih sayang. Lalu mendaratkan tubuhnya di kursi. Duduk di samping tempatku berbaring.

“Ibu? Kenapa sepi sekali? Kemana abang?”

Wanita itu tersenyum, menampakkan lesung pipinya. Ia mengusap kepalaku, matanya terlihat berkaca-kaca.

“Amran dan yang lain sedang ke pengadilan. Ini hari pertama persidangannya. Pihak Zainab melaporkan Amran karena Amran tidak bersedia menikahi Zainab, dan kami pun melaporkan mereka balik atas pencemaran nama baik. Mari kita doakan agar Allah memberikan yang terbaik buat kita dan selalu menguatkan kita semua atas ujian ini,” sudut matanya basah.

Aku menangis mendengar penuturan beliau. “Bu?”

“Ya?” Ia tersenyum meski air mata mengaliri pipinya.

“Apakah ... bang Amran benar-benar tidak melakukan hal itu?”

“Kamu tidak mempercayai suamimu?” Beliau balik bertanya, membuatku terdiam.

“Jihan ... ibu mengenal Amran lebih dari siapa pun juga di dunia ini. Ia laki-laki penuh cinta, yang sama sekali tak pernah melukai hati siapapun juga seumur hidupnya. “

Aku tertegun, menelan saliva yang terasa pahit sekali.

“Kamu tahu? Begitu banyak lamaran yang datang padanya ... namun ia tolak begitu saja. Tak peduli secantik dan semenarik apapun wanita yang di sodorkan padanya,” ia mengusap sudut matanya. “Hingga saat Hakim menunjukkan fotomu, entah kenapa dia langsung setuju begitu saja. Bahkan ada rasa tak sabar ingin melihatmu secara langsung. Dan itulah pertama kalinya ibu melihat cinta di matanya, cinta kepada seorang perempuan, yang kini telah resmi menjadi istrinya,” beliau menggenggam jemariku. “Amran saaaaaangat mencintaimu, Jihan. Sangat mencintaimu,” lirihnya hampir tak terdengar.

Ada perih yang menjalar ke jantung. Menggigit bibir bawahku demi menahan rasa itu agar tak terlalu melukai. ‘Istri seperti apa aku ini? Bahkan saat ia telah berusaha jujur aku masih tak bisa percaya. Bukankah aku juga sangat mencintainya? Tapi kenapa aku tak mengenalnya? Bodoh!’

“Ibu juga tahu tentang Hakim, tentang rasa yang kalian simpan, namun ketika takdir berkata lain semua harus dikubur secara paksa,” ia menghela napas. “Tapi ibu percaya, Amran bisa membuatmu mencintainya, karena ibu yakin, Amran lelaki terbaik yang Allah pilihkan untukmu. Untuk menyembuhkan luka hatimu,”

Lagi, perkataan beliau begitu terasa menghunjam di hati. Tak terasa air mataku menganak sungai. Aku berusaha bangkit, memeluk wanita itu, meraung dalam pelukan hangatnya. Kurasakan tangannya mengusap lembut punggungku.

“Mafkan Jihan, Bu. Maafkan menantumu yang tidak tahu diri ini, maafkan!” Aku tak peduli jika tangisanku akan terdengar sampai keluar. Karena dadaku begitu sesak, tak sanggup menahan rasa yang begitu menghimpit.

“Sssttt, sudahlah! Jangan berkata seperti itu. Yang penting tugasmu sekarang adalah mendoakan Amran, percaya padanya. Itu saja sudah cukup.” Pungkasnya.

Aku mengangguk dalam pelukannya. Lama aku merasa tenang dalam dekapannya. Hingga saat tangis hanya menyisakan isak, aku melepasnya perlahan. Jemari wanita itu mengusap sisa air mata di pipiku.

“Tidak usah berpikir macam-macam lagi, fokus saja pada kesehatanmu dan juga calon cucu ibu di dalam sana,” ia meraba perutku seraya tersenyum penuh harap. “Tentang Amran, biar kami yang menyelesaikan. Yakinlah jika kebenaran itu lambat laun akan terungkap. Allah Maha Adil. Ini hanya sebuah ujian kecil, akan ada pertolongan yang Maha Dahsyat setelah ini. Yakinlah, Nak!”

Aku mengangguk dengan mata sembab. Ada sedikit rasa lapang di dalam dada. Ketika menemukan seorang wanita yang begitu bijak dan sangat penuh cinta ini. Wanita yang tak lain adalah ibu dari suamiku. Pantas saja Amran memiliki sifat seperti itu, sebab ibunya juga memiliki sifat yang tidak jauh beda dengannya. Lembut dan penuh cinta.

“Bu, bukankah di ruangan abang ada CCTV?” Tiba-tiba saja aku teringat akan hal itu. “Bukankah dengan itu tak perlu ada persidangan?”

Beliau terdiam. Lalu mencoba tersenyum meski nampak getir. “Qadarullaah ... waktu itu keadaan sedang mati lampu, hingga tidak ada rekaman CCTV yang bisa di ambil,” sahutnya pasrah. “Tapi Nak, CCTV Allah lebih dahsyat, percayalah!” Tegasnya meyakinkanku. Matanya berbinar, menampakkan betapa ia yakin dengan keadilan dari Allah.

‘Ya Allah, kuatnya wanita ini. Aku pun ingin sepertinya. Malu rasanya berhadapan dengan beliau. Aku yang masih mengedepankan ego, tanpa bisa berpikir jernih bahwa semua ini harus dikembalikan kepadaNya.’

Rasanya ingin saat ini aku berlari menemui Amran, menemani masa-masa sulitnya di persidangan itu. Betapa malu yang ia tanggung, saat berbagai cemoohan dilemparkan padanya, akibat fitnah dari seorang wanita yang dirasuki cinta buta. Tapi aku tak berdaya, membawa tubuh sendiri saja aku tak sanggup. Hingga dengan terpaksa harus bertahan di tempat pesakitan ini. Menunggu kabar dengan perasaan campur aduk.

“Assalaamu’alaykum!”

 Tiba-tiba Madya datang bersama Hakim. Ibu  mertuaku buru-buru  memperbaiki jilbabku yang sedikit berantakan untuk memastikan tidak sehelai rambut pun yang terlihat. Ah, aku terenyuh. Sikapnya persis dengan putranya.

“Bu,” Madya menyalami beliau. Sedang Hakim hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Tante,” sapa Hakim.

“Lho? Kamu nggak ikut ke persidangan?” Tanya ibu heran.

“Iya tante, tadinya memang mau ikut, tapi Madya memaksa untuk diantar ke sini.” Sahutnya.

“Ooh,”

“Kak Jihan apa kabar? Udah ngerasa baikan?” Madya mencium dahiku. Terlihat Hakim meletakkan sekeranjang buah di atas meja, dan mendaratkan tubuhnya di sofa yang terdapat di sudut ruangan VIP itu. Sekilas ia melihatku sebelum akhirnya ia fokus pada ponsel di tangannya.

“Alhamdulillaah, kakak udah lumayan Dik,” sahutku.

“Kakak yang kuat ya? Aku yakin kalau semua akan baik-baik saja. Kebenaran asti menang, biidznillaah,” senyum indah terukir di bibirnya.

“InsyaaAllah, terima kasih ya Madya. Kakak bersyukur punya kalian semua,”

Madya dan ibu saling berpandangan, dan melempar senyum.

“Kakak mau makan apa? Aku belikan,”

“Nggak usah Madya, kakak nggak belu lapar,” tolakku halus.

“Makan buah ya? Aku kupasin,” gigih sekali perempuan cantik ini.

“Bolehlah kalau kamu memaksa,” sahutku sambil tertawa kecil.

“Kalau gitu, ibu mau keluar sebentar ya Nak,mau ke administrasi dulu. Mau ngecek apa tagihan rumah sakitmu sudah dibayar apa belum. Madya, jagain Jihan dulu ya?” Pinta mertuaku.

“Baik, Bu. Siap.” Sahut wanita periang itu.

Tubuhnya pun menghilang di balik pintu. Tinggallah kami bertiga di ruangan ini. Hening, saat tangan cekatan Madya mengupas sebiji mangga dan memotongnya kecil-kecil. Memasukkan ke dalam piring kecil dan meletakkannya di depanku.

“Oh ya Kak, besok bang Fadil pulang.”

“Dia tahu masalah ini?”

Madya mengangguk. “Abi yang memberi tahu,”

“Harusnya nggak usah di kasih tahu. Kasihan dia. Baru saja dia berkumpul dengan keluarganya sudah harus kembali lagi ke sini,” sesalku.

“Kakak kayak nggak tahu bang Fadil aja, mana bisa dia membiarkan kakak seperti ini.” Ada nada cemburu dalam kalimatnya. Aku pun tak berusaha menimpali. Mencoba memindahkan potongan mangga itu ke dalam mulut meski terasa pahit sekali. Tangan Madya kembali sibuk mengupas buah pir, tanpa berkata-kata lagi.

Sudut mataku melirik Hakim yang bergeming di sudut sana. Betah sekali dia duduk, tanpa bicara sepatah katapun.

 Sesaat mata kami beradu pandang, dengan cepat aku mengalihkan pandangan. Menjaga hati dari rasa yang hampir terkubur. Agar rasa itu tak berani lagi untuk tumbuh subur. Agar seluruh ruang hati ini hanya terisi oleh nama Amran, suamiku.

‘Ah, apa kabar lelaki itu? Kenapa lama sekali? Aku rindu.’ Setetes butiran bening jatuh di sudut mata yang terasa perih.
 ‘Semua akan baik-baik saja, serahkan pada Allah!’

Terngiang ucapan Hakim sesaat sebelum ia dan Madya meninggalkan ruangan tempatku dirawat. Ya, hanya Allah tempat berserah. Tugas kita sebagai manusia hanya berdoa dan berusaha.

Hakim, dia selalu berusaha mendukungku dan Amran dari segi apa pun. Entahlah apakah ini sebagai penebus rasa bersalahnya atau memang karena dia ingin aku bahagia.

“Asslaamu’alaykum!”

Aku dan ibu serempak menoleh kearah suara yang berasal dari pintu masuk. Wajah kuyu namun tegar itu tersenyum.

“Wa’alaykumussalaam,”

Lalu ia mencium punggung tangan ibunya, wanita itu balas mengusap kepala putra kesayangannya.

“Baarakallaah, Nak,” ucapnya lirih.

Kemudian ia menoleh padaku yang tengah berusaha untuk bangkit.

“Jihan,” ia mendekatiku.

“Abang,”

Lelaki itu memelukku, erat. Air mataku berderai. “Maafkan aku,” ucapku dalam peluknya. “Maafkan aku yang tidak mempercayai kata-katamu,”

“Sudahlah, abang paham kok.” Hiburnya sembari mengusap kepalaku. “Jangan nangis lagi, nanti calon bayi kita ikutan sedih. Tunjukkan kalau uminya kuat menghadapi cobaan sebesar apa pun, agar nantinya dia juga kuat,” Amran melepas pelukannya dan mengusap air mataku dengan tangannya.

Ibu tersenyum melihat kami.

“Bagaimana hasil persidangan hari ini, Amran?”

“Dilanjutkan minggu depan, Bu. Sebab tidak ada saksi mata yang menguatkan.”

“Berarti ada kemungkinan kita untuk menang?” Mata ibu membesar.

Amran menghela napas. “Kita serahkan saja pada Allah Bu, apapun itu.” Pungkasnya.

Wanita itu mengangguk dengan senyum yang terukir. “Oh ya, kata dokter, besok Jihan sudah bisa pulang,”

“Alhamdulillaah,” ucap Amran. Kasihan lelaki itu, ia tampak lelah sekali.

“Oh ya Amran, ayahmu mana? Beliau nggak sama kamu?”

“Nggak, Bu. Tadi yang lain langsung pulang semua, cuma aku yang ke sini. Nanti ibu kalau mau pulang biar aku antar,”

“Nggak usaaah, biar ibu telepon ayah suruh jemput. Kamu temani saja istrimu. Besok mungkin ibu nggak bisa jemput kalian ke sini, soalnya ibu harus menemani ayah keluar kota. Nggak apa-apa kan?”

“Nggak apa-apa, Bu. Terima kasih sudah menjaga istriku,” Amran melirikku.

“Sama-sama. Ya sudah, ibu duluan ya?” Beliau memelukku. “Jaga kesehatan ya, Nak. Ingat pesan ibu tadi,”

“Iya Bu, insyaaAllah.” Sahutku.

“Amran, jangan bikin istrimu sedih ya?” Ibu mendelik pada lelaki itu.

Amran tertawa kecil. “Iya, Bu,”

Ibu pun pergi setelah mengucap salam. Lalu terdengar suaranya menelepon ayah mertuaku untuk menjemputnya.

Suasana mendadak hening. Amran menatapku tanpa henti.

“Kenapa menatapku seperti itu?”

“Kangen,”

“Udaah, nggak usah ngegombal. Ini rumah sakit lho!”

“Truss kenapa?” Ia ikut duduk di atas tempat tidur.

Kutatap mata teduhnya. “Ceritakan padaku apa yang sesungguhnya terjadi! Tentang bagaimana perempuan itu bisa menjebakmu,” pintaku.

Amran menghela napas.

 “Semua terjadi begitu cepat. Saat siang itu dia datang ke ruangan abang untuk mengantar makanan. Sudah abang tolak tapi dia bersikeras. Hingga akhirnya abang menyuruhnya meletakkan makanan itu di atas meja tanpa menoleh padanya. Posisi abang waktu itu sedang berdiri membelakanginya,” ia menggantung kalimatnya. “Lalu tiba-tiba saja, ia memeluk abang dari belakang, erat sekali. Dia mengatakan kalau ia sangat menginginkan abang dan ingin menjadi istri abang. Abang terkejut dan berusaha melepaskan tangannya, namun sayangnya saat tangannya berhasil abang lepaskan, saat itu pula terdengar ada yang datang sehingga dia langsung membalikkan fakta seolah-olah abang yang melecehkannya, dia mengacak-acak bajunya sendiri dan menangis,” Amran mengepal tangannya menahan emosi kala peristiwa itu melintas lagi di kepalanya.

Aku yang mendengar saja ikut tersulut emosi. ‘Benar-benar perempuan tidak punya harga diri!’ Umpatku dalam hati. Kugenggam tangan yang terkepal itu.

“Sudahlah, abang tidak mau mengingat itu lagi. Lebih baik kita fokus dengan persidangan ini. Semoga Allah memberi jalan keluar yang terbaik. Kalaupun abang harus di penjara, abang rela ... daripada harus menikahinya.” Pungkasnya lirih.

Aku menghambur ke dalam pelukannya. “Tidak, tidak dua-duanya. Itu tidak akan terjadi. Allah pasti akan membukakan kebenaran itu. Andai di negeri ini hukum syari’at ditegakkan, tentu takkan mudah orang-orang memfitnah tanpa bukti dan tanpa saksi.”

Amran membalas pelukanku. “Aamiin. Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Kamu harus terus dukung abang, doakan disetiap sujudmu.”

“Iya, Bang. InsyaaAllah. Itu pasti.”

Kulepas pelukannya, lalu kembali merebahkan diri karena sudah merasa lelah. Amran membantu menyelimutiku.

“Zainab begitu mencintai abang, hingga dia mau melakukan hal terlarang seperti itu,”

“Itu bukan cinta. Tapi obsesi. Dia terobsesi dengan suamimu yang tampan ini.”

“Ishhh, kepedean.” Sungutku. Lelaki itu terbahak. Lalu mencubit gemas hidungku.

“Bang, besok bang Fadil datang,”

Amran tercengang. “Dia tahu masalah ini?”

Aku mengangguk. “Abi yang memberitahunya,”

“Tapi dia nggak harus pulang kan? Kasihan dia bolak balik terus.”

“Dia mengkhawatirkanku.”

Amran terdiam. “Begitukah?” Ada raut bingung dengan tanda tanya besar di wajahnya.

“Abang tahu sendiri kan bagaimana bang Fadil kalau sudah mendengar berita aku sakit atau aku dalam masalah? Dia pasti datang.”

“Kenapa dia begitu menyayangimu?”

“Karena aku adiknya.” Sahutku lugas.

“Iya abang tahu, tapi ... rasanya ini sedikit berlebihan. Apa ada sesuatu yang membuat perhatiannya jadi begitu besar untukmu?” Selidiknya.

“Maksud abang apa?”

“Nggak, nggak apa-apa.” Kilahnya. Tapi aku tahu dia masih menyimpan tanda tanya besar tentang Fadil.Walaupun menurutku yang Fadil lakukan itu wajar, sebab ia memang kakak kandungku. Lalu di mana letak salahnya?

“Ya sudah, kamu istirahat dulu aja ya. Sudah mau Ashar, abang ke masjid dulu. Kamu abang tinggal sendiri nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa, Bang. Kan nanti ada suster jaga kalau aku perlu apa-apa.”

“Ya sudah kalau gitu. Abang jalan dulu, ya? Zikir dan istighfar yang banyak, agar Allah segera bukakan jalan keluar untuk masalah kita,” Amran mengecup keningku sebelum ia melangkahkan kaki meninggalkan ruangan tempatku dirawat. Aku hanya mengangguk. Menatap punggungnya.

“Bang,”

Amran berhenti. “Ya?” Ia menoleh padaku.

“Ana uhibbuka fillaah,”

Lelaki itu tersenyum. “Uhibbuki fillaah Jihan,” balasnya. “Nanti saja lanjutin ngegombalnya kalau udah di rumah,” ejeknya seraya berlalu.

 Aku tertawa mendengar jawabannya. Hingga tubuhnya tak lagi dapat kulihat dengan kedua mata.

                               ***

Sepulang dari rumah sakit, aku dan Amran langsung ke rumah orang tuaku. Karena tinggal di sana lebih baik untuk sementara waktu, menjelang persidangan Amran selesai.

“Abang sebenarnya nggak perlu datang, insyaaallah kami semua di sini bisa kok melewati ini. Kasihan kak Zizah dan anak-anak kalau sering ditinggal begitu,” ujarku pada Fadil. Saat itu kami tengah duduk di ruang keluarga. Ada Amran juga di sampingku.

“Kakakmu mengerti kok, Dik. Dia sama sekali nggak keberatan. Apalagi ini menyangkut urusan keluarga,” sanggahnya.

“Iya, tapi kalau sering-sering pasti dia jengkel juga, Bang,”

Fadil terdiam. Ia tak berusaha menimpali.

“Jihan, tolong bikinin kita kopi dong, biar ngobrolnya lebih enak,” pinta Amran tiba-tiba. “Kuat nggak?”

“Ya kuatlah, Bang. Bikin kopi doang, abang lebay deh!” Sahutku seraya bangkit menuju dapur diiringi tatapan dua lelaki kesayanganku itu.

“Bang Fadil sangat menyayangi Jihan,” ucap Amran.

“Iya, tentu saja. Karena dia adikku,”

“Tapi rasa sayang yang bang Fadil miliki pada Jihan begitu besar, berbeda dengan Madya. Maaf jika aku lancang, Bang. Aku hanya penasaran saja melihat kasih sayang abang yang begitu berbeda untuk Jihan,”

Fadil tersenyum, menghela napas dan mengembuskannya perlahan. Terlihat matanya berkaca-kaca. “Jihan adalah nyawaku,”

Amran tertegun. Ada yang tercekat di tenggorokannya. “Ma-maksud abang?”

Lelaki penuh kharisma itu menyeka air mata yang menitik di sudut netra.

“Kalau saja waktu itu Jihan tidak menyelamatkan nyawaku, mungkin saat ini ... aku sudah tak lagi di sini ... di dunia ini,” matanya menerawang jauh ke beberapa tahun yang silam. “Waktu itu, sebuah mobil yang dikendarai pria mabuk, hendak menabrakku ... dan Jihan kecil ... yang waktu itu melihat mobil yang datang dari belakangku dengan refleks mendorong tubuhku hingga aku terjatuh ke samping dan ... dan tubuh kecil itu yang menggantikanku ... ia tertabrak ... di depan mataku sendiri ... “ air mata Fadil berderai. Tenggorokannya sakit sekali. Tapi hatinya lebih sakit kala mengingat kejadian naas itu.

Amran tercengang, ia tak bisa berkata-kata. Membiarkan Fadil dengan semua ceritanya tentang Jihan.

“Kamu tahu?” Fadil menatap nanar kearah Amran. “Dia koma hampir sebulan lamanya ... aku pikir ... aku pikir aku akan kehilangan dia. Aku pikir dia akan mati karena aku ... tapi Allah masih memberinya kesempatan hidup, umur yang panjang. Dan semua itu adalah takdir terindah dalam hidupku, bisa melihatnya kembali. Meskipun butuh waktu lama agar ia bisa kembali tersenyum,” suaranya bergetar.

Tak terasa air mata Amran ikut menetes.

“Waktu itu usianya baru sembilan tahun, tapi ... tapi dia sudah berani berkorban nyawa seperti itu,” Fadil menyeka air mata yang semakin deras mengalir.

“Itulah kenapa aku sangat menyayanginya, aku tidak bisa melihatnya bersedih, aku tidak bisa melihatnya terluka. Karena lukanya adalah lukaku juga, bahkan ketika Hakim ... ah, sudahlah, lupakan bagian itu!”

Sejenak ia terdiam. Mencoba menata emosi yang sedikit mencuat.

“Kamu tahu Amran? Jihan itu memang sedikit egois dan kekanakan, bahkan Madya jauh lebih dewasa dari pada dia,” Fadil tertawa getir, “tapi ... tapi itulah yang membuatku begitu ingin melindunginya. Dia ... nyawaku. Jihan nyawaku, Amran.” Pungkasnya.

Amran tampak mengangguk-anggukan kepala. Menyeka sudut mata yang basah dengan sapuan punggung tangannya.

“Kamu harus berjanji untuk menjaga Jihan, sebagaimana aku menjaganya. Jangan pernah menyakitinya sedikit pun. Jikalau ia bersalah, nasehati dengan lemah lembut, sebab Jihan perempuan yang sedikit keras kepala. Terimalah setiap kekurangan yang ia miliki.”

“InsyaaAllah, Bang. Aku berjanji. Aku akan menjaganya dengan sebaik mungkin.” Sahut Amran pelan.

Aku terpaku di tempatku berdiri dengan nampan berisi dua cangkir kopi. Air mataku sudah menganak sungai di kedua pipi. Mendengar penuturan yang keluar dari mulut Fadil.

Menyadari kehadiranku, dua lelaki itu sedikit gugup. Lalu mencoba melebarkan senyum kearahku.

Tanganku meletakkan nampan ke atas meja. Lalu duduk di samping Fadil. Kuraih tangan kanannya. “Tidak perlu merasa bersalah seumur hidup, semua adalah atas kehendak Allah. Apa yang sudah kulakukan dulu, semata-mata karena Allah yang menggerakkan,” ujarku pelan. “Jadi jangan merasa kalau semua itu kesalahan abang,”

Fadil menatapku, menggenggam kedua tanganku. “Semua yang abang lakukan takkan bisa membayar apa yang telah kamu lakukan untuk abang,”

“Bang Fadil sudahlah, lupakan. Tidak baik terus mengingat-ingat kejadian itu. Akan semakin besar rasa bersalah di diri abang jika terus mengingatnya.”

Ia menggeleng. “Biarkan abang terus mengingatnya, agar abang tahu, kalau abang punya adik perempuan yang juga sangat menyayangi abangnya,” Fadil memelukku, erat sekali. “Mereka yang menyakitimu, mungkin lupa, bagaimana caramu berjuang hidup untuk kembali melihat dunia, mereka ... “

“Bang sudahlah!” Kulepas pelukannya. “Mereka orang tua kita, walau bagaimanapun semua sudah takdir. Tak baik menentang takdir yang sudah di gariskan dengan mencoba mencari kesalahan orang lain. Aku tidak apa-apa. Abang lihatkan?”

Fadil bergeming.

“Lelaki yang sedang duduk di seberang kita itu ... “ kutatap wajah suamiku, “dia jauh lebih baik dari siapa pun lelaki yang pernah kukenal. Dan abang tahu?” Aku membulatkan mataku, lalu berbisik di telinganya, “aku sangat mencintainya,” ujarku malu-malu.

Tiba-tiba ada senyum yang mengembang di kedua sudut bibirnya. Sebuah senyum yang menandakan bahwa ia turut bahagia dengan rasa yang kumiliki.

 Amran yang mendengar kata-kataku pun ikut tersenyum, ada semburat merah yang merona di wajah tampannya, demi mendengar apa yang kukatakan pada Fadil.

“Nggak usah ge-er!” Celetukku menyembunyikan rasa malu. Lalu aku pindah ke tempat Amran duduk. Menenggelamkan diri di sofa yang sama dengannya. Menikmati hari-hari indah bersama dua orang lelaki yang sangat kusayangi. Sebelum nanti kami kembali menghadapi Zainab di persidangan minggu depan. Semoga saja Allah memberikan jalan terbaik untuk kami. Apapun itu. Aamiin.
Wahai Muhammad…
Jika kebatilan menyerangmu, kejahatan menentangmu, Fashbir Shabran Jamiilaa !!
Jika hartamu sedikit, dan kesedihan pun menimpamu, Fashbir Shabran Jamiilaa !!
Jika para sahabatmu terbunuh dalam peperangan, dan para pengikutmu berkurang, Fashbir Shabran Jamiilaa !!
Jika semakin banyak orang yang memusuhimu padahal kamu menyeru kebaikan dan para pembangkang mengelilingimu, Fashbir Shabran Jamiilaa !!
Jika mereka menjebakmu dan mengamcammu, Fashbir Shabran Jamiilaa !!
Jika anakmu, istrimu dan kerabatmu meninggal dunia, Fashbir Shabran Jamiilaa !!
((DR.Aid Al-Qarni))

@@@****@@@***@@@

***

“Maafkan saya pak Amran, jika saya datang terlambat dan fitnah tentang pak Amran sudah tersebar dimana-mana,”

Seorang OB di kampus Arman bernama  Syafri tiba-tiba datang ke rumah kami siang itu. Dua hari menjelang persidangan kedua. Aku, Fadil, Amran dan juga kedua orang tuaku sempat dibuat bingung dengan kata-katanya. Kami saling berpandangan tak mengerti.

“Maaf, saya tidak mengerti dengan kata-kata pak Syafri, bisakah dijelaskan lebih detail?” Pinta Amran.

Laki-laki itu menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Tergambar seraut penyesalan di wajah pria berusia 45 tahun itu.

“Mungkin saya adalah saksi satu-satunya, yang melihat bagaimana bu Zainab ... berbuat hal yang memalukan ... pada pak Amran,” sahutnya terbata. Ia tak berani mengangkat kepalanya.

Kami semua terperanjat.

“Maksud bapak?” Amran seolah tak sabar.

“Waktu itu ... saya hendak mengantar minuman ke ruangan bapak, lalu ... ketika saya sampai di ambang pintu, saya mengurungkan niat saya masuk, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, kalau ... kalau bu Zainab, memeluk bapak dari belakang. Saya juga melihat dan mendengar semua yang ia katakan, dan bagaimana usaha bapak melepaskan diri darinya. Tapi saya yang bodoh ini ... pergi begitu saja karena merasa itu bukan urusan saya. Tapi ternyata ... semua jadi seperti ini, pak Amran di fitnah oleh bu Zainab,”

Ada rasa lega tak terhingga di dada kami mendengar penuturan pak Syafri. Mungkin ini jalan yang Allah berikan buat kami, jalan yang tidak pernah kami sangka selama ini.

“Kenapa bapak baru datang sekarang? Kenapa tidak dari awal sejak suami saya di hakimi oleh pihak kampus?” Tanyaku menyesali.

“Maaf, maaf sekali Bu. Setelah melihat kejadian itu saya mendapat telepon dari istri saya di kampung kalau anak saya sakit, jadi saya buru-buru pulang. Hingga tadi pagi saya ke kampus dan mendengar cerita itu, saya langsung kemari. Saya sungguh menyesal pak Amran. Maafkan saya, maafkan saya!” Pria itu semakin menundukkan kepala sebagi tanda penyesalan yang mendalam.

Amran tersenyum, menarik napas lega. “Alhamdulillaah, mungkin ini jalan yang di bukakan Allah untuk kita,” ucapnya. “Terima kasih atas kejujurannya pak, saya sangat bersyukur sekali. Dua hari lagi saya akan menjalani persidangan, maukah bapak menjadi saksi untuk saya?”

“Tentu, tentu pak Amran. Pasti saya mau. Kalau saya tidak melakukan ini tentu saya akan di liputi rasa bersalah seumur hidup.” Pungkasnya.

“MaasyaaAllah walhamdulillaah,” ucapan syukur bergema di setiap sudut ruangan. Ada tangis haru yang menetes di sudut mata Amran. Ia memelukku. Tak terbayangkan betapa besarnya ras syukur yang kami miliki saat ini. Ketika ujian dihadapi dengan kesabaran dan lapang dada, serta doa yang ak pernah putus, maka yakinlah bahwa pintu keluar itu amatlah dekat.  

                ***

Amran langsung melakukan sujud syukur saat hakim memutuskan kalau dia tidak bersalah. Sebab dari pihak Zainab hanya mendatangkan saksi yang mereka sendiri tidak yakin dengan kesaksian mereka sendiri. Dan Allah telah menunjukkan ke-MAha Adilan-Nya dengan menghadirkan pak Syafri.

 Amran memelukku, ia menangis.

“Terima kasih Jihan, semua atas dukungan dan doamu. Kamu tidak pernah meninggalkan abang dalam keadaan terpuruk sekali pun,” bisiknya tepat di telingaku.

Aku hanya mengangguk dalam peluknya. “Itu sudah kewajibanku sebagai istrimu, Bang.” Dan pelukannya semakin erat.

Hakim yang berdiri di belakang Amran menatapku, ia tersenyum. Dan aku hanya bisa memberi seulas senyuman kecil untuknya.

“Amran,”

Melepas pelukan saat suara ustaadz Zainal terdengar menyapa di belakangku. Terlihat gurat penyesalan dan rasa malu di wajahnya.

“Saya tidak tahu harus bagaimana ... saya malu. Saya ... ,” lelaki paruh baya itu menangis. Amran langsung merengkuh tubuh tegap  itu ke dalam pelukannya. Membiarkan air mata membasahi bajunya.

“Sudahlah ustaadz, semua sudah berlalu. Ini hanya sebuah ujian kecil untuk kita semua, agar kita lebih hati-hati dalam berbuat,” lugas Amran menjawab.

Ustaadz Zainal melepas pelukan Amran, menatap mata teduh suamiku.

“Saya siap ... jika kamu mau menuntut balik perkara ini, agar Zainab sadar bahwa apa yang ia lakukan adalah salah,”

Amran menarik napas, gundah. Sejenak ia melirik Zainab yang sedang duduk sendiri di sudut ruangan. Ia menunduk, tidak berani mengangkat kepalanya. Lalu Amran kembali menatap lelaki di depannya.

“Bawalah Zainab pulang, saya tidak akan menuntut apa-apa. Cukup sampai di sini,”

Aku terperanjat mendengar ucapan Amran.

“Bang, tidak bisa begitu! Kita harus tuntut balik dia, aku tidak mau dia bebas begitu saja setelah apa yang ia perbuat. Begitu banyak waktu dan air mata yang terbuang sia-sia gara-gara dia!” Emosiku mulai naik.

“Sssttt!” Amran merangkulku. “Nggak boleh emosi. Ingat, kamu lagi mengandung anak kita. *Ishbiri yaa zaujaty, *fashbir shabran jamiilan,” ia tersenyum padaku, mencoba meredakan emosi yang sedikit memuncak.

Aku mendengus. Menatap wanita yang masih bergeming di sudut sana. Rasanya ingin sekali aku berkata kasar padanya.

“Wanita seperti dia harus diberi pelajaran, Bang. Dia ... “

“Sudahlah Jihan, bukankah kejahatan tidak harus dibalas dengan kejahatan?” Mata teduhnya menatapku. Mencoba meyakinkan istrinya yang keras kepala ini.

Entahlah, sulit sekali mengatur emosi. Dadaku sesak, napas terasa naik turun. Kutepis tangan Amran, kemudian berlalu begitu saja dari ruangan itu. Tak kuhiraukan panggilan mereka.

 Aku kecewa dengan Amran. Begitu mudahnya ia memaafkan wanita itu. Wanita yang sudah mencoreng nama baik keluarga kami. Wanita yang membuatku harus berbaring di tempat pesakitan. Wanita yang membuatku tidak bisa tidur siang dan malam. Aku sangat membencinya, tapi Amran malah dengan mudah memafkannya.

“Jihan, tunggu!” Teriakan Amran tak menghentikan langkahku. Malah semakin mempercepat agar bisa menjauh darinya.

Amran berlari, hingga ia berhasil mencekal tanganku. Berusaha menepis tapi tenaganya lebih kuat dariku.

“Jihan, kamu kenapa?”

“Abang nggak adil, kenapa tidak mau menuntut perempuan itu? Ia pantas di hukum bang! Penjara pun tidak akan setimpal dengan perbuatan yang dia lakukan.” Cecarku.

“Jihan, dengarkan abang!”

“Aku nggak mau dengar apa-apa sampai abang mau menuntut kembali perempuan itu!”

Amran mengerutkan dahinya. “Astaghfirullaah, istighfar Jihan. Jangan mau di hasut setan, kamu lagi emosi, tenanglah! Berpikirlah dengan kepala dingin,”

“Kenapa? Abang kasihan dengan perempuan itu? Iya?” Aku menatap garang matanya.

“Jihan, bukan begitu ... “

Kutepis tangannya dengan kasar. “Baiklah, sekarang abang pilih aku ... atau tuntut perempuan itu!” Ancamku.

Amran terdiam, ia terbelalak mendengar ucapanku. “Jihan!”

“Kenapa? Tidak berani memilih?” Tanyaku. “Baiklah, kalau begitu aku sudah tahu jawabannya.” Aku membalikkan badan lalu setengah berlari meninggalkan lelaki itu. Ia tak berhasil mencegah. Karena aku sudah menjauh menuju tepi jalan raya, memberhentikan sembarang angkot yang lewat. Mencoba membawa emosi jiwa yanghampir mencapai puncaknya. Sungguh, aku sangat kecewa dengan sikap Amran. Tak bisakah ia bersikap tegas sedikit saja? Agar perempuan itu merasakan akibat perbuatannya.

Ponselku pun berteriak-teriak minta diangkat, namun kuacuhkan. Aku sedang tak ingin bicara dengan siapa pun.

                  ***

Sudah lama aku tidak naik angkot, hingga aku baru menyadari kalau angkot ini melewati komplek perumahan tempat orangtuaku tinggal. Dan itu ... masjid tempat aku dan Hakim sering aktif dulunya.

Lalu aku memutuskan menepi di sana. Membayar ongkos dan berjalan gontai memasuki halamannya.

Mendaratkan tubuh di atas ubin berwarna putih bersih dan menyandarkan punggung ke dinding masjid. Sejuk sekali rasanya di sini. Semilir angin membuat jiwa yang tadinya sempit terasa sedikit lapang.

‘Apa yang telah kulakukan pada suamiku?’ Batinku. ‘Dia terlalu baik, hingga masalah sebesar ini hanya diabaikan begitu saja. Apa salahnya menuntut balik perempuan itu? Agar dia sadar dengan kesalahannya. Aku kecewa sekali denganmu, Bang!’

Embusan angin membuat mataku terasa berat, ditambah rasa lelah yang mendera. Hingga tanpa sadar aku tetidur di sana.

                 ***

Aku terperanjat saat mendengar suara azan berkumandang. Entah sudah berapa lama aku tertidur di sini. Dan lebih terperanjat lagi saat menyadari kalau kepalaku beralaskan paha seseorang. Spontan aku bangkit, lalu menemukan wajah lelaki itu tersenyum.

“Kamu tidurnya nyenyak sekali,” ujarnya.

Aku diam saja. Lalu berusaha bangkit walau terhuyung. Dengan sigap ia memegang kedua bahuku, membantu agar aku tidak terjatuh.

Kutepis tangannya,”aku bisa sendiri!” Ucapku sambil berlalu menuju tempat wudhu. Entah bagaimana dia bisa menemukanku di sini.

Note:
1.*Ishbiri yaa zaujaty = bersabarlah wahai istriku
2.*Fashbir shabran jamiilan = maka bersabarlah dengan kesabaran yang indah (QS. Alma’aarij : 5)
** Akalmu setipis bilahan rambut
Tebalkanlah ia dengan limpahan ilmu
Jua hatimu bak kaca yang rapuh
Kuatkanlah ia dengan iman yang teguh
Tercipta engkau dari rusuk lelaki
Bukan dari kaki untuk dialasi
Bukan dari kepala untuk dijunjung
Tapi dekat dibahu untuk dilindung
Dekat jua di hati untuk dikasihi
Engkaulah wanita hiasan duniawi
Mana mungkin lahirnya bayangan yang lurus elok
Jika datangnya dari kayu yang bengkok
Begitulah peribadi yang dibentuk
Didiklah wanita dengan keimanan
Bukannya harta ataupun pujian
Kelak tidak derita berharap pada yang binasa
(( Kutipan lirik :Wanita – Dehearty))

*** ***
Masjid sudah terlihat sepi. Tapi aku masih betah berada di dalamnya. Berdzikir dan membaca beberapa baris dari ayat-ayat Allah. Rasa lelah belumlah sirna. Mungkin karena bawaan hamil muda hingga tubuh ini sedikit rentan.
Ada seorang lelaki tengah berdiri di ambang pintu. Matanya tak lepas mengawasiku.

“Ayo pulang!” Ajaknya dengan seulas senyum yang mengembang. Aku benci melihat senyumnya. Kenapa? Karena ketampanannya terpampang nyata kala dua sudut bibirnya itu terangkat. Bagaimana wanita tidak tergila-gila padanya?

Aku tidak menjawab. Bangkit dari duduk, melipat mukena dan memperbaiki hijab sebelum melangkah menuju pintu keluar.
Duduk di atas lantai berkeramik putih untuk memasang sepatu. Lelaki itu hanya memperhatikan setiap gerak gerikku. Senyumnya tak pernah lepas sejak tadi.

“Bagaimana abang menemukanku di sini?” Tanyaku.

Ia mendaratkan tubuhnya di sampingku. “Ada seseorang yang memberitahu, waktu itu ketika kamu marah pada abang, kamu lari ke sini.” Ia memandangku. Hingga mata kami saling beradu.

Aku membuang napas, mengalihkan pandangan dari matanya. Tak perlu kutanyakan lagi, sebab aku sudah tahu siapa yang dia maksud.

“Maaf ... jika orang lain lebih paham akan dirimu ketimbang abang,” ia mengusap kepalaku. “Tapi abang berjanji, akan berusaha memahamimu lebih dari siapa pun.” Pungkasnya.

Aku hanya terdiam.

“Kita pulang?” Ia membulatkan matanya. Membuatku tak kuasa untuk menolak. Menggamit lengannya, menuju mesin beroda empat yang siap membawa kami pulang.

“Kita jalan-jalan yuk! Kayaknya udah lama banget abang nggak bawa kamu jalan,” Ajaknya sambil terus mengendarai.

“Kemana?” Tanyaku datar. Karena sesungguhnya aku masih menyimpan rasa kesal padanya. Tapi nanti saja dibicarakan lagi kalau sudah sampai di rumah.

“Kita makan siang dulu aja, kamu mau makan di mana?”

“Aku lagi nggak selera bang, abang saja yang makan. Aku temani.”

“Kamu belum makan lho dari pagi. Cuma sarapan jus buah aja kan tadi?”

“Iya, tapi ... “

“Nggak pake tapi-tapian, wajib makan. Ini perintah suami.”

“Nanti kalau aku muntah lagi gimana?”

“Bismillaah, nggak akan muntah. Yakin deh, kita cari yang pedas-pedas biar seger.” Lagi, ia mengusap kepalaku. Membuat hati yang rapuh ini luluh seketika.

“Ya udah, terserah abang aja.” Pungkasku. Dan lelaki itu tersenyum puas.

Hening sejenak. Aku memandangi jalanan yang mulai padat di siang hari ini.

“Jihan,”

“Ya?”

“Apa kamu bahagia menjadi istri seorang Amran?”

Aku tergelak. “Pertanyaan seperti apa itu, Bang?”

“Abang serius. Jawab saja! Apa kamu bahagia?”

“Menurut abang?” Aku balik bertanya.

Ia tersenyum, getir. “Entahlah, yang abang rasa ... kamu itu ... “

“Bukankah abang tahu kalau aku mencintai abang?” Kutatap wajahnya dari samping.

Ia menghela napas. “Ya, abang tahu. Kecemburuanmu adalah salah satu bukti bahwa kamu memang mencintai abang. Tapi ... hatimu ... belumlah sepenuhnya untuk abang,” ia membalas tatapanku, “benar’kan?”

Segera aku membuang pandangan, menatap jalanan lurus ke depan. “Aku tahu ke mana arah pembicaraan abang,” ujarku, “ini tentang Hakim bukan?”

Lelaki itu tak menjawab. Dan diamnya membuatku tak perlu mengulang pertanyaan yang sama.

“Aku sudah berusaha melupakannya. Jika tidak, bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta padamu?”

Ia tersenyum. Rautnya seolah tak percaya dengan kata-kataku.

“Matamu tak bisa berdusta, Jihan. Maka dari itu, abang selalu melarangmu untuk bertemu dengannya. Agar rasa yang kamu miliki terhadapnya bisa hilang seiring waktu. Abang sungguh tidak ingin, istri yang sangat abang cintai ... membagi dua hatinya dengan lelaki lain.”

Aku tertegun. Bagaimana bisa dia berkata seperti itu?

“Bang, Hakim adalah adik iparku. Dia suami Madya adikku sendiri. Bagaimana mungkin aku masih menyimpan sebuah rasa yang tidak pantas lagi kumiliki? Apalagi aku juga sudah bersuami. Seorang lelaki yang jauh lebih baik dari apa yang pernah kuharapkan. Melihat kesabaranmu menghadapi sikapku saja, aku sangat bersyukur. Abang tidak pernah marah padaku, abang selalu menjagaku, abang selalu menerima setiap kekurangan yang kumiliki. Abang bisa menerimaku apa adanya. Lalu ... apa gunanya aku menyimpan nama laki-laki lain di hatiku? Sedangkan aku memiliki seorang suami yang nyaris sempurna,” mataku berkabut. Buru-buru kuusap sebelum ia jatuh berderai.

“Tapi Hakim masih menyayangimu, Jihan!” Ucapnya datar.

“Abang tahu dari mana?”

“Cara dia melihatmu, cara dia bicara denganmu, cara dia menyebut namamu di hadapan abang ... cara dia mengkhawatirkanmu. Bahkan dia tahu, kamu kemana ketika sedang marah. Dan kamu tahu Jihan?” Amran menepikan mobil yang ia kendarai di depan sebuah food counter sederhana. Lalu bola matanya menatapku tajam, “abang cemburu, sangat cemburu!” Ia menekan suaranya agar terdengar tegas di telingaku. “Abang tidak rela, sungguh tidak rela melihat matanya yang begitu bersinar ketika menyebut namamu.”

Aku tercekat. Dadaku sesak rasanya mendengar penuturan Amran. Sampai sebegitu detailnya ia melihat rasa yang ada pada seseorang untukku. Tak bisa kubayangkan betapa dalam rasa cinta yang ia miliki untukku.

“Bang ... aku ...”

“Kita akan segera meninggalkan kota ini. Secepatnya.” Pungkasnya mengakhiri. Ia membuka pintu mobil, bergegas untuk turun. Kemudian ia membukakan pintu satunya untukku, menggandeng tanganku, masuk ke dalam food counter itu. Ia tak lagi banyak bicara. Hanya genggamannya terasa begitu erat.

Amran, betapa aku merasa tak pantas memiliki lelaki sepertimu. Cintamu terlalu sempurna, cintamu terlalu tulus. Bahkan terhadap seorang wanita sepertiku yang tak memiliki kelebihan apa-apa. Seorang wanita yang begitu kerdil di hadapanmu. Seorang wanita yang hanya bisa menyusahkan hidupmu. Tapi kenapa dirimu selalu memperlakukanku seolah aku adalah seorang ratu yang tak sedikit pun boleh tersakiti?

                         ***

“Kenapa kamu nggak mau menuntut balik Zainab?” tanya abi malam itu. “Bukankah dia sudah mencemarkan nama baik keluarga kita? Dan dia juga sudah membuat jelek namamu,”

Amran tersenyum, “nggak ada gunanya, Bi. Semua sudah berlalu, biar saja.”

“Abi dengar sendiri ‘kan?” Timpalku kesal. Fadil yang duduk di sebelahku mengusap punggung adik kesayangannya ini. “Bang Amran terlalu baik, membiarkan wanita seperti Zainab itu ... “

“Sssttt!” Abi menempelkan telunjuk ke bibirnya. Aku pun terdiam. Cemberut.

“Seperti yang pernah aku bilang, Bi. Kejahatan tak seharusnya di balas kejahatan. Biar Allah yang membalas semuanya. Kita ambil saja hikmah dari semua kejadian ini,”

Aku menarik napas kesal. Sungguh, aku tidak rela sampai melihat perempuan itu mendapat ganjaran yang setimpal.

“Berarti abang lebih memilih dia dari pada aku?” Sungutku kesal, nada suaraku sedikit meninggi. Abi dan Fadil saling berpandangan tak mengerti.

Dan tahukah apa yang lelaki itu lakukan?

Dia kembali tersenyum padaku, lalu berkata, “bawaan hamilnya emosi terus nih bi, sensitif,” celetuknya. Abi dan Fadil terbahak.

“Sampai-sampai aku disuruh memilih antara dia dan Zainab, kan nggak nyambung, Bi.”

Tawa mereka semakin keras. Membuatku bertambah kesal melihat tingkah tiga lelaki itu.

“Nggak lucu!” Hentakku. Membuat mereka terdiam. Kemudian aku berlalu dari hadapan mereka, menuju lantai atas.

Kutenggelamkan diri di atas sofa yang terletak di balkon. Belum sampai satu menit, Amran sudah datang menghampiri, dan langsung ikut duduk di sampingku. Tangan kokohnya membawa kepalaku rebah di bahunya.

“Jihan, maafkan abang jika kamu tidak berkenan dengan apa yang abang lakukan. Tapi percayalah, itu semata-mata bukan karena Zainab,” jelasnya. “Ada seseorang yang akan terluka dan lebih menderita jika akhirnya Zainab berhasil kita masukkan ke penjara. Kamu tahu siapa?”

Aku bergeming.

“Ayahnya, Ustaadz Zainal ... beliau sudah tua, kasihan jika harus menerima kenyataan jika Zainab harus dihukum atas perbuatannya. Abang tidak tega, dia guru abang, abang tahu dia sangat mencintai putri satu-satunya itu. Dan abang bisa merasakan bagaimana terlukanya dia jika Zainab benar-benar di penjara. Sungguh, abang tidak sanggup melakukan itu.”

Ya Allah! Amran bisa berpikir sejernih itu. Sedangkan aku?

“Kamu paham ‘kan, Sayang?”

Aku menegakkan kepala, menatap mata teduh itu. *“Hal anta malaak?” Tanyaku lirih.

Amran menggeleng. *“Laa,”

“Lalu kenapa hatimu seperti malaikat?”

Ia memandangku. “Karena ... memaafkan itu lebih menenangkan, Jihan. Percayalah! Sebesar apa pun kesalahan yang orang lakukan pada kita, jika kita ikhlas untuk memaafkan, niscaya hidup kita akan tenang. Karena tidak ada dendam, tidak ada sakit hati. Sebab dendam itu sendiri yang akan membuat kita sakit dan hancur.”

Kuhela napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. ”Tapi ... sulit bagiku untuk melupakan semua ini, Bang,”

“Bisa! Pasti bisa! Minta pertolongan pada Allah. Abang yakin, kalau istri abang yang tercinta ini, bukanlah wanita pendendam,” ia mengecup dahiku. Begitu hangat terasa sentuhan bibirnya. Kehangatan yang menjalar ke setiap aliran darah. Membuat jiwa terasa tentram. Aku memeluknya. Erat.

“Jihan,”

“Ya?”

“Kamu selalu ingin tahu apa kelebihanmu bukan?”

“Hm? Apa itu?”

“Kelebihanmu yang tak dimiliki wanita lain adalah ... kamu mampu membuat abang jatuh cinta pada pandangan pertama, bahkan cinta itu semakin dalam saat kita sudah berada dalam ikatan yang halal. Rasanya sampai hari ini, abang masih tak percaya. Jika yang sedang abang peluk ini adalah Jihan, wanita yang punya semangat hidup begitu tinggi. Bahkan disaat nyawanya berada diantara dua alam.,” lalu pelukannya semakin erat. “Wanita yang selalu tampak bahagia, saat hatinya dipatahkan oleh orang yang dia sayangi. Dan itu ... semakin membuat abang ingin melindungimu, agar tak ada lagi yang berani menyakitimu.” Amran mencium ubun-ubunku.

Dan aku menangis dalam pelukannya. “Terima kasih, Bang,” lirihku berucap.

‘Amran, betapa beruntungnya aku menjadi istrimu,’

                      ***

Seminggu berlalu. Dua hari yang lalu Fadil sudah kembali ke Jakarta. Dan Amran sudah memutuskan untuk membawaku hijrah ke luar kota. Tempat yang ia pernah katakan padaku dulu. Meskipun jaraknya tidaklah terlalu jauh dari kota wisata ini, hanya membutuhkan perjalanan satu atau satu setengah jam,tapi setidaknya Amran tahu bahwa aku dan Hakim tidak akan sering bertatap muka lagi.

Orang tuaku juga tidak keberatan. Mereka bilang sekalian menata hatiku di lingkungan baru, agar tak mempengaruhi kehamilanku. Sebab di sini terlalu banyak hal yang bisa mengganggu pikiran.

“Kamu mau hijrah ke Payakumbuh?”

Aku yang tengah menyiram tanaman hias milik abi di sore itu terperanjat. Tiba-tiba saja Hakim sudah berdiri di belakangku.

“Iya, kenapa?”

“Apa kalian sengaja menjauh?” Selidiknya.

“Pertanyaan apa itu? Mana Madya? Dia tidak ikut?” Kucoba mengalihkan pembicaraan tanpa menoleh padanya.

“Amran takut jika aku lebih tahu segala tentangmu dibanding dia?” Ia tak menghiraukan pertanyaanku.

Aku tertegun, menghentikan aktivitasku. “Jika ada perlu dengan abi atau suamiku, mereka ada di dalam. Jangan bicara seperti ini denganku. Karena aku tak ingin suamiku melihat kita, sebab ia sangatlah pencemburu. Dan aku takut dengan kecemburuannya.”

Hakim bergeming. Dan benar saja, rupanya sepasang mata teduh itu tengah menatap tajam kearah kami di ambang pintu sana. Kilatan cemburu begitu nyata terlihat di matanya.

“Hakim?” Sapanya.

Lelaki itu terkejut, seketika ia mendatangi Amran. Tapi ia berusaha untuk bersikap tenang. “Amran,”

“Ada perlu apa dengan Jihan?”

“Nggak ada apa-apa, cuma menyapa saja. Kalau gitu aku masuk dulu ya, mau ketemu abi,” Hakim berlalu ke dalam rumah.

Amran hanya mengangguk penuh selidik.

Hakim berlalu, dan Amran mendekatiku. “Dia bicara apa?” Selidiknya.

“Cemburu lagi?” Tanyaku cuek.

Tiba-tiba tangannya ia lingkarkan ke pinggangku. “Abang apa-apaan sih? Malu tahu dilihat orang,” aku berusaha melepas tangannya.

“Biarin,” sahutnya cuek. Bahkan ia tak juga melepas tangannya saat aku kembali menyiram tanaman itu. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dengan tingkahnya yang kadang mulai kekanakan.

Sepasang mata menatap cemburu dengan kemesraan yang tersaji di depannya. Tapi ia tak punya kuasa untuk melarangnya. Hanya mencoba menata hati, agar tak terlalu perih. Lalu mengusap sudut mata yang mulai berkabut.

  
*BERSAMBUNG*
Sruput kopinya☕

Note:
*hal anta malaak =Apakah kamu seorang malaikat?
*laa = tidak

“Astaghfirullaah!” Aku menutup wajah dengan kedua tanganku. Buru-buru menutup layar ponsel dan membiarkannya tergeletak begitu saja di atas meja. Berusaha menata irama jantung yang mulai berdetak tak karuan. Aku tak ingin terjerumus dalam khayalan yang tak halal untukku. ‘Ya Allah, perasaan seperti apa lagi ini? Bukankah rasa itu sudah tenggelam? Kenapa muncul lagi?’

“Merindukannya?”

Aku terperanjat. Ternyata Amran sudah berada di depanku sambil memegang ponselku. Mataku membesar, berusaha merebut benda itu kembali dari tangannya. Namun dengan sigap ia menjauhkannya dariku.

“Ternyata percuma abang membawamu jauh ke sini, jika hatimu masih tertinggal di sana,” ujarnya getir. Raut wajahnya penuh dengan amarah yang tertahan.

Aku menggeleng-gelengkan kepala, “nggak Bang, abang salah paham!” Aku bangkit dari dudukku. Berdiri sejajar dengan lelaki itu. Tapi ia langsung membuang muka.

“Bang ... “ kupegang tangannya. Tapi ia menepisnya dengan kasar. Sungguh aku terkejut melihat tingkahnya malam ini. Kenapa dia seperti ini? Tak seperti biasanya.

“Ponselmu mulai sekarang abang yang pegang!”

“Tapi ... “

“Jangan membantah!” Ucapnya setengah membentak. Lalu ia membalikkan badan meninggalkanku, keluar dari rumah. Entah kemana.

Aku terperanjat. Sungguh tak menyangka dia bisa bersikap seperti itu padaku. Hanya bisa terpaku di tempat dengan mata yang berkabut, hingga satu persatu butiran bening itu jatuh mengalir di pipiku.

Apa itu hanya karena dia cemburu? Padahal yang dia lihat hanyalah foto-foto kenangan beberapa tahun lalu, saat aku dan Hakim aktif di masjid. Dan entah apa pula maksud hakim menandai aku dengan foto yang sengaja ia posting di media sosial itu. Bukan pula foto kami berdua, melainkan foto bersama. Tapi memang posisi kami berdekatan. Apalagi salah satu foto terlihat secara tak sengaja Hakim tengah menatapku tanpa disadarinya.

Kuhapus air mata dengan punggung tangan, mengusap perut yang semakin membesar dan mencoba tersenyum. Kurang lebih tiga bulan lagi aku akan melahirkan, jadi aku berusaha untuk tidak terlalu larut dalam masalah apa pun. Aku ingin anakku lahir dengan kondisi baik. Berpikir positif adalah solusi terbaik untukku saat ini. Mungkin Amran sedang ada masalah di pesantren, atau dia memang sedang lelah banyak pikiran.

                              ***

Sudah pukul sebelas malam, tapi Amran belum kembali. Mau dihubungi kemana coba? Ponselku saja dia bawa. Aku mengintip lewat jendela kaca, belum ada tanda-tanda dia kembali ke sini. Suasana asrama di sini juga sudah sepi. Hanya terdengar sayup-sayup para santri tengah murajaah di gedung seberang sana. Mobilnya juga tidak di bawa, berarti dia masih berada di lingkungan pesantren.

Rasanya ingin keluar mencarinya, tapi sudah terlalu malam. Tidak enak juga dengan penghuni lain jika aku keluar tengah malam begini, apalagi sambil mencari-cari Amran. Bisa jadi bahan gosip nantinya. Tapi ... kenapa dia belum balik juga?

Jam di dinding sudah menunjukkan hampir pukul dua belas. Tapi Amran belum juga kembali. Tak tenang rasanya hati ini.

 Akhirnya aku memutuskan untuk mencarinya. Memasang long coat hitam, lalu melangkah keluar dari rumah. Memperhatikan keadaan sekitar bahwa tidak ada mata yang sedang mengawasiku.

‘Kemana aku harus mencarinya di lingkungan yang begitu luas ini? Apa mungkin dia ketiduran di masjid?’

 Kuarahkan langkahku ke bangunan yang begitu luas itu, tempat para santri biasa shalat berjama’ah. Ada beberapa orang yang masih asyik dengan alqur’an di tangannya. Melantunkan ayat-ayat Allah di tengah malam yang dinginnya terasa menusuk sampai ke tulang. Aku celingak celinguk di dekat teras, sungkan untuk masuk karena di sini ikhwan semua.

“Ustaadzah,” salah seorang santri melihatku, ia bangkit dan menghampiri, “ustaadzah, ayya khidmah (Ada yang bisa saya bantu?-Arab)?”

“Ustaadz Amran, Hal huwa fil masjid (Apakah dia di dalam masjid-Arab)?” Tanyaku dengan perasaan yang sedikit tidak enak.

Ia menggeleng, “Laa,” (Tidak-Arab)

Aku menghela napas mendengar jawabannya. “Thayyib, jazaakallaah khairan. Tafadhdhal, udkhul ilal masjid (Baiklah, terima kasih. Silahkan kembali ke dalam masjid_Arab)!”

“Waiyyaki ustaadzah, assalaamu’alaykum!”

“Wa’alaykumussalaam.”

Santri itu kembali ke dalam masjid. Aku pun membalikkan tubuh. Merapatkan long coat menahan dinginnya udara tengah malam. ‘Kemana lagi harus aku cari lelaki itu? Ah, bikin repot saja. Apa dia tidak memikirkan istrinya yang khawatir dengannya?’

Kembali kulangkahkan kaki menyusuri jalan-jalan kecil yang kiri kanannya di tumbuhi tanaman hias.

“Ustaadzah Jihan?”

Langkahku terhenti, lalu membalikkan tubuh. Menemui seraut wajah yang sangat kukenal sejak menetap di sini.

“Ustaadz Fikri?” Kutundukkan pandangan. Ada beberapa santri bersamanya. Sepertinya mereka sedang piket malam ini.

“Ilaa ayna anti (Mau kemana kamu) ? Ini tengah malam lho, ustaadzah ngapain jalan-jalan sendirian?”

“Ana ... ana ... “

“Kembalilah ke rumah, udara malam tidak baik untuk perempuan hamil,”

“Na’am ustaadz, ana ... “

“Ustaadz Amran tidak di rumah?” Selidiknya.

“Ada, tadi beliau keluar sebentar, ana mau nyusulin, tapi nggak tahu kemana,” ucapku berbohong. Tak ingin suamiku jelek dihadapan mereka.

“Tunggu saja di rumah, ayo kami antar!”

“Tidak usah Ustaadz, biar ana sendiri saja. Syukran, assalaamu’alaykum!” Aku berlalu dari hadapan mereka diiringi dengan tatapan mata penuh tanda tanya besar. Melangkahkan kaki menuju kediamanku. Berharap lelaki itu sudah berada di sana.

“Aawwww, astaghfirullaah!” Pekikku saat merasakan tubuhku terhempas ke tanah karena terpeleset kerikil-kerikil kecil yang bertebaran.

Ustaadz Fikri dan para santri yang belum begitu jauh terkejut mendengar teriakanku. Spontan mereka berlari mendekat.

“Ustaadzah Jihan!”

Aku merasakan perutku teramat sakit. Ada cairan hangat yang terasa mengalir deras di antara kedua pahaku, sakiiiit sekali. Beberapa saat hingga pandanganku terlihat kabur. Suara-suara panik itu semakin jauh terdengar.

“Astaghfirullaah, Jihan!” Sempat kudengar suara orang yang kucintai berteriak panik. Lalu tangan kokoh itu mengangkat tubuhku, berlari menuju mobil. Walau samar, aku melihat wajahnya begitu cemas dan pucat. Hingga akhirnya aku tak sadarkan diri.

                 *** *** ***

((AMRAN))

Amran terpaku di tempat saat dokter menyatakan bahwa anak yang di kandung Jihan tidak bisa di selamatkan meskipun sudah di lakukan operasi secar. Dan lebih terpukul lagi saat dokter bilang, kalau istri yang ia cintai itu mengalami pendarahan hebat dan kini ia sedang berjuang diantara hidup dan mati. Ya, Jihan koma. Untuk kedua kalinya di dalam hidup wanita itu.

“Astaghfirullaah, Jihaaaaaaaan!” Teriak Amran. Tubuhnya ambruk ke lantai. Merasakan penyesalan yang begitu dalam. “Aku gagal menjagamu, aku gagal ... “ tangisnya. “Ini karena keegoisanku, aku terlalu egois. Maafkan aku Jihan, maafkan aku,”

           ***

‘BUKK!’

Satu pukulan keras mendarat di pipi kirinya hingga tubuhnya oleng. Darah segar mengalir di sudut bibirnya. “AKU SUDAH BILANG JAGA DIA! TAPI APA YANG KAU LAKUKAN?” Teriak Fadil dengan mata merah penuh kemarahan. “KENAPA KAU TIDAK MENJAGANYA SEPERTI YANG AKU MINTA? KENAPA? HAA?” Fadil memegang krah kemeja Amran. Bersiap hendak memukul Amran kembali kalau saja orang tua mereka tidak melerai. Hakim pun menatap marah padanya di sudut sana.

“Pukul aku Bang! Pukul! Aku memang pantas mendapatkannya? Bahkan aku pantas mati!” Teriak Amran.

“Sudah, tenanglah! Bukan saatnya saling menyalahkan, yang penting kita doakan untuk kesembuhan Jihan, agar dia kembali ke tengah-tengah kita,” lerai abi dengan suara beratnya. Ada luka yang tertoreh di hati lelaki itu, tapi berusaha ia tutupi.

Fadil membuang muka. Lalu ia mendaratkan tubuhnya di salah satu kursi di depan ruangan Jihan di rawat. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lalu tangisnya pecah. Sedangkan Amran, dengan gontai ia berjalan meninggalkan keluarga yang tengah dirundung duka. Menuju tempat sunyi, duduk di sebuah bangku kosong. Di sana ia menangis seorang diri.

“Aku sudah bilang, jaga dia baik-baik. Tapi kamu ingkar janji, kamu membuatnya menderita.” Suara Hakim membuat Amran terkejut. Rupanya diam-diam lelaki itu mengikutinya.

“Beginikah yang disebut cinta? Bahkan untuk menjaganya saja kamu tidak mampu. Berlagak ingin membawanya jauh dari orang tuanya, tapi apa? Kamu malah membuatnya seperti sekarang, terbaring antara hidup dan mati di ruangan itu,” sudut matanya mulai mengeluarkan kristal bening.

“Semua bukan keinginanku.” Ucapnya datar.

“Oh ya? Lalu bagaimana bisa ia terjatuh tengah malam buta di luar sana? Kamu kemana saat itu?” Cecarnya.

“Aku ... aku ...”

“Sudahlah, jika tak mampu menjaganya, lebih baik tinggalkan saja dia. Dari pada dia harus hidup dengan lelaki tak bertanggung jawab sepertimu!” Kata-kata Hakim begitu menusuk tajam di hati Amran. Hingga ia tak sanggup menjawab.

“Aku menyerahkannya padamu karena aku yakin kamu bisa menjaganya. Tapi apa?” Wajah Hakim tampak memerah, otot lehernya tegang menahan emosi. Tapi ia berusaha agar tangannya tidak mendarat di wajah sepupunya itu. “Ternyata aku salah!” Hakim pun berlalu begitu saja meninggalkan Amran yang sedang begitu terpuruk. Ia tak tahu harus berbuat apa sekarang. Semua orang menyalahkannya. Bahkan Hakim sekali pun.

Membayangkan Alat-alat medis yang terpasang di tubuh ringkih Jihan membuat hatinya semakin sakit. Harusnya ia tak meninggalkan Jihan malam itu. Harusnya ia bisa bersikap lebih dewasa saat itu. Harusnya ia bisa mengolah kecemburuannya.

“Aaaaaarrrrgggggghhh!” Amran berteriak sambil meremas rambutnya. “Astaghfirullaah ... Ya Allah, ampuni aku suami yang tak berguna ini,” Amran tergugu. “Jihan maafkan abang, andai abang bisa menggantikanmu di sana maka akan abang gantikan. Maafkan abang, Sayang ... maafkan ...” tangisnya semakin pilu. Apalagi mengingat ia juga baru kehilangan buah hati yang belum sempat ia rasakan hembusan napasnya. Tak bisa di bayangkan bagaimana perasaannya saat ini.

    ***

“Menjauhlah! Jangan pernah mendekati adikku lagi!”

Ucapan Fadil membuat Amran terbelalak. “Tapi aku suaminya, Bang!” Bantahnya.

“Aku bilang menjauh, jangan temui dia lagi! Kamu hampir membunuhnya, kamu sudah mengambil separuh nyawaku!“ Tegas Fadil dengan suara lirih.

Amran tercekat. Tak ada yang membelanya. Sebab tak ada siapa-siapa lagi di sana. Orang tua mereka sudah kembali pulang. Hanya Fadil yang enggan beranjak.

Lelaki tampan itu menatap istrinya dari balik kaca tebal. Teriris hati dan jantungnya menyaksikan wanita yang sangat ia cintai sedang berjuang melawan maut. “Jihan, maafkan abang ... “ lirihnya. “Abang tidak akan meninggalkanmu, abang akan tetap di sini. Meskipun hanya bisa menjagamu dari jauh,”

Fadil masuk ke ruangan Jihan, lalu menutup pintunya. Ia benar-benar tak mengizinkan Amran masuk. Di tatapnya wajah pucat tanpa ekspresi itu. Ada air mata yang mengalir di sudut netra milik Jihan. Lembut Fadil menghapusnya dengan sehelai tisu.

“Jihan ... jika kamu benar-benar lelah dan ingin pergi ... maka pergilah. Aku ikhlas. Aku tak sanggup lagi melihatmu seperti ini untuk yang kedua kali. Sungguh, aku tak sanggup,” tangisnya. “Pergilah ... “
#Tasbih_Cinta_Amran
Amran duduk bersimpuh di masjid pesantren yang mulai sunyi. Sebab waktu zuhur sudah usai, para santri pun telah kembali ke kelas mereka masing-masing. Hanya isaknya yang sesekali terdengar diantara lafadz dzikir dan istighfar yang ia lantunkan.

Matanya merah dan basah. Membayangkan kondisi istrinya yang masih terbarig tak berdaya di rumah sakit. Sudah hampir seminggu berlalu, namun ia masih belum bisa menemui Jihan. Sebab sampai hari ini, Fadil masih belum mengizinkannya masuk. Meskipun ia sudah memohon, meskipun orang tua mereka yang meminta. Namun Fadil tetap pada pendiriannya. Hingga mereka tak bisa berbuat apa-apa lagi selain pasrah. Tak ada gunanya berdebat. Hanya menatap Jihan dari balik pintu kaca itu saja sudah cukup buat Amran.

Ia sadar. Keegoisannya telah membawa Jihan sengsara. Jika saja malam itu ia tidak meninggalkan istrinya, tentu saat ini ia masih bisa melihat senyum manis kekasihnya itu. Seorang perempuan sederhana. Berkulit sawo matang namun begitu bersih, matanya indah bermanik coklat tua. Bibir sensual yang tak lepas dari polesan lipstik merah jambu, yang selalu tersenyum menyambutnya saat ia pulang ke rumah. Aroma tubuh yang begitu wangi selalu Jihan hadirkan untuknya. Masakan favorit yang tak pernah absen ia sajikan. Pelayanan biologis yang tak pernah ia tolak meskipun ia sedang lelah atau sedang melakukan pekerjaan rumah sekali pun. Jika Amran memanggil, maka dia akan segera datang. Sungguh, keras kepala yang ia miliki tertutupi dengan ketaatannya pada suami.

Amran semakin terpuruk kala mengingat semua itu. Betapa dzhalimnya ia sebagai suami. Hanya karena ia tak mampu mengendalikan rasa cemburunya, sampai menghukum Jihan sedemikian berat.

Lelaki itu tergugu. Tangisnya makin menjadi, dengan istighfar yang tak lepas dari lisannya. “Jihan ... “ lirihnya.

“Amran,” seseorang menepuk bahunya. Bergegas ia menghapus air mata yang membasahi pipi. Matanya menemukan Fikri dududk di sebelahnya.

“Fikri ... afwan, sepertinya aku tidak bisa masuk kelas hari ini. Aku ingin menemui Jihan ke rumah sakit, siapa tahu hari ini dia sudah sadar dan ... “

“Amran, tenanglah!” Fikri memegang bahu sahabatnya itu. “Serahkan segala sesuatunya pada Allah. Dan mulailah introspeksi diri,”

Amran tertegun, “introspeksi diri?”

Lelaki berpeci putih berjenggot tebal itu tersenyum lalu mengangguk. “Mungkin selama ini, kamu lalai terhadap sesuatu, atau ... ada sesuatu yang melalaikanmu dari mengingat Allah. Hingga teguran datang kepadamu,”

“Lalai?” Amran mengerutkan dahi.

“Kamu mencintai istrimu bukan?”

“Sangat. Lebih dari segalanya,” sahut Amran lugas.

“Lalu bagaimana dengan cintamu pada sang Maha Pemilik? Apakah cintamu pada istrimu lebih besar dari cintamu padaNya?”

Pertanyaan Fikri membuat Amran terkesiap. Cintaku?

“Mungkin selama ini kamu tidak sadar, jika cintamu pada istrimu terlalu berlebihan. Hingga Allah cemburu, karena cintaNya kamu abaikan. Kamu lupa dengan sang Pemilik Cinta itu sendiri.” Pungkasnya. “Kamu paham maksudku Amran?”

Pelan Amran mengangguk. Menyadari kesalahan yang telah ia lakukan. Ya, mungkin Allah cemburu padanya, karena cintanya yang terlalu dalam pada Jihan telah membuatnya sedikit lupa, bahwa ada yang seharusnya lebih ia cintai. Yaitu Allah. Pemilik alam semesta.

“Semoga ujian ini bisa membuatmu sadar, bahwa mencintai makhluk itu ada batasnya. Memang tidak salah jika kita sangat mencintai istri kita, tapi tidak lantas mengalahkan cinta kita pada sang Khaliq.”

Amran bergeming. Lidahnya kelu. Sudut matanya kembali basah.

“Sekarang pergilah ke rumah sakit, temui istrimu. Jangan putus berdoa pada Allah untuk kebaikannya. Tenangkan dirimu dalam menghadapi sikap abangnya. Aku yakin, dia akan mengizinkanmu menemui Jihan. Biidznillah (dengan izin Allah), semua akan baik-baik saja.” Hiburnya membuat hati Amran sedikit lega.

“Satu pesanku, tenanglah dalam menghadapi masalah apa pun. Jangan terbawa emosi. Jika sesuatu hal terjadi di luar keinginanmu, kembalikan lagi pada Allah,”

Amran tersenyum, memeluk sahabatnya itu. “Jazaakallaah khairan, Fik!”

“Waiyyaaka,”

 Kemudian ia bangkit dengan satu tekad, bersiap menemui istri yang sangat ia cintai. Sungguh ia sangat merindukan wanita itu. Ingin sekali ia memeluknya saat ini, meskipun ia tak pernah tahu, kapan mata mereka bisa saling memandang kembali.

                    ***

Suasana kamar VIP tempat Jihan di rawat begitu sepi. Amran mengintip ke dalam ruangan, ada Fadil yang masih setia duduk di sana. Melantunkan ayat-ayat suci di samping Jihan.

‘Harusnya aku yang berada di sana, harusnya aku yang menemanimu dan melantunkan ayat-ayat itu di telingamu, Jihan.’ Batinnya sedih. Lalu ia menjatuhkan tubuhnya di sebuah kursi. Bibirnya senantiasa berdzikir dan berdoa untuk kesembuhan Jihan.

Menyadari kehadiran Amran, Fadil pun keluar.

Amran terkejut saat lelaki itu tiba-tiba duduk di sebelahnya. Wajahnya terlihat kuyu. Sepertinya ia tidak tidur semalaman.

“Bang,” sapanya ragu. Ia takut kalau Fadil emosi lagi.

“Temani istrimu di dalam!” Perintahnya pelan dan datar.

Amran terbelalak. “Apa boleh, Bang?” Tanyanya tak percaya.

Fadil mengangguk lemah. Menatap wajah Amran. “Dia pasti merindukanmu, sejak semalam air matanya tak berhenti mengalir,”

Amran terenyuh. Lalu tanpa mempedulikan Fadil lagi, ia berlari masuk ke dalam ruangan itu. Menemui kekasih yang sangat ia rindukan.

Hanya terdengar bunyi alat medis sesekali memenuhi ruangan. Irama yang membuat hati cemas, dan bulu kuduk berdiri. Seolah maut sedang mengintai istrinya.

 Amran mendekati tubuh yang terbaring tak berdaya itu. Menatap wajah pucat yang sangat ia rindukan. Hatinya teriris melihat berbagai alat medis melekat di tubuh wanitanya.

“Assalaamu’alaykum!” sapanya lirih. Lalu bibirnya mencium hangat dahi wanita itu. Lama. Sudut netra Jihan mulai mengeluarkan air mata. Ia seolah ingin memeluk suami yang sangat ia cintai itu. Menyampaikan kerinduan yang teramat dalam padanya.

Amran duduk di kursi, menggenggam tangan kiri istrinya. Menciumnya berkali-kali hingga ia tak sadar jika matanya ikut basah. Tangan ini yang selalu membersihkan pakaiannya, tangan ini yang selalu merapikan penampilannya, tangan ini yang selalu menyiapkan segala kebutuhannya. Tangan ini pula yang senantiasa membelai manja dirinya saat ia merasa lelah. Dan tangan kecil ini, yang selalu ia lingkarkan ke tubuh Amran, kala ia sedang merasa ingin di perhatikan.

“Jihan ... abang sangat merindukanmu,” lirihnya hampir tak terdengar. “Abang rindu menatap matamu ... senyummu ... bahkan abang rindu sikap keras kepalamu itu,” ia tergelak di sela tangis.

“Abang sungguh sangat kesepian. Dunia rasanya begitu hampa sejak kamu tidur di sini. Di mana abang harus tidur sendiri di rumah tanpa bisa memelukmu,”

“Jihan, bangunlah! Kita pulang kembali ke pesantren. Para santri abang merindukan masakanmu. Mereka bilang, tidak ada yang bisa mengalahkan lezatnya rendang buatanmu. Dan kamu tahu?” Amran menelan saliva yang begitu pahit. Tenggorokannya tercekat. “Mereka tak putus mendoakanmu setiap hari, bahkan dalam munajat mereka di tengah malam pun namamu tak pernah lupa mereka sebut. Apa kamu tidak kasihan pada mereka?”

Lelaki itu menghapus sudut mata Jihan dengan jarinya. “Aku tak suka melihat air matamu, aku hanya ingin melihat senyummu,” suaranya bergetar. “Bangunlah ... maafkan kebodohan suamimu ini. Abang masih membutuhkanmu di sini, abang masih ingin memperbaiki segalanya bersamamu. Lagian ... hapalan Qur’an-mu belum selesai ‘kan?”

Tangan Jihan terasa menghangat.

“Jihan ... andai napasmu mampu memaafkan semua khilafku, maka akan kutukar nyawa ini dengan senyummu.” Pungkasnya.

Amran merasakan ujung jemari Jihan mulai bergerak. Ia terperanjat, saat menyaksikan mata indah itu perlahan mengangkat kelopaknya. Spontan ia langsung berdiri. “Jihan? Jihan ... kamu ... Dokteeeer! Dokteeeeeer!” Dengan perasaan campur aduk ia berlari keluar sambil berteriak memanggil dokter.

Mata itu tak berhenti menatapku. Air mata di pipinya pun masih saja mengalir. Wajahnya terlihat tirus, tubuhnya pun sedikit kurus. Kasihan sekali dia.

“Abang ... “ panggilku dengan suara yang nyaris tak terdengar. Selang oksigen masih terpasang di hidungku.

“Ssssttt!” Amran menempelkan telunjuk di bibirnya. “Jangan bicara apa-apa, istirahat saja. Abang akan selalu di sini menemanimu,” ia mengecup dahiku. Tanganku tak lepas dari genggamannya.

“Ma- maaf ... jika aku tak bisa menjaga bayi kita,” bisikku terbata.

Ia menggeleng kuat-kuat. “Tidak, kamu tidak salah. Ini semua salah abang, dan ini adalah takdir Allah,”

Aku menangis.

“Jangan menangis! Laa tahzan, innallaaha ma’anaa (jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita). Ini adalah yang terbaik buat kita. Bayi kita itu anak surga, tidakkah kamu bahagia?” Mata basahnya membulat. Mengabarkan sebuah berita gembira. Jarinya dengan lembut menyusut air mataku.

Aku pun terdiam, tak lagi sanggup berkata-kata. Sebab rasanya tubuh ini masih sangat lemah dan ada rasa ngilu di bagian perutku.

“Tersenyumlah! Sebentar lagi keluarga kita datang,” ujarnya.

Mencoba menarik kedua sudut bibir meskipun terasa berat.

Amran menatapku iba. “Aasif ... aasif ya Jihan (maaf). Abang berjanji tidak akan melakukan hal konyol seperti itu lagi. Abang janji akan selalu mencoba mendengarkanmu.”

Hanya anggukan lemah bisa kuberikan padanya. “Uhibbuka fillaah,” bisikku.

Amran kembali menangis. “Uhibbuki aidhan ... fillaah (Aku juga mencintaimu karena Allah) ,” sahutnya terbata, setengah berbisik. Ia terisak.

Dan aku tak lagi melihat Amran saat keluarga besar kami datang. Ada Hakim juga diantara mereka. Matanya menatap iba padaku. Tapi aku tidak suka melihatnya. Dia yang membuat suamiku murka. Hingga semua ini terjadi.

 Sementara Madya menangis tersedu di sisiku. Perutnya sudah kelihatan besar sekali, mungkin sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu, punya bayi yang mungil. Dan ada rasa perih menyusup di hati mengingat bayiku yang telah diambil oleh Pemiliknya.

“Madya ... jangan menangis seperti itu, kakak tidak suka,” lirihku.

Madya menyusut air matanya. “Aku takut kehilangan kakak.” Tuturnya.

Kucoba tersenyum. “Tapi sekarang kakak baik-baik saja bukan?”

Madya tak menjawab. Ia malah beralih merebahkan kepalanya ke dada Hakim, dan menangis dalam pelukan suaminya. Hakim melirikku, seolah sungkan dengan tingkah Madya. Segera kubuang pandangan mata, berbicara dengan orang tua dan mertuaku. Wajah mereka tampak begitu bahagia dan penuh syukur melihatku siuman. Mereka memberiku kekuatan agar aku tabah dalam menghadapi kenyataan ini.

“Jihan,” Fadil datang menghampiri. Ia mencium dahiku. Air matanya mengalir.

“Bang Fadil,” lirihku berbisik.

Fadil tersenyum disela tangisnya. “Kamu itu punya amalan apa sih, Dik? Hingga bisa bertahan dalam kondisi terparah sekali pun, ini yang kedua kalinya kamu melewatinya,”

Aku menggeleng pelan. “Aku tidak punya amalan apa-apa, aku hanya punya Allah yang begitu mencintaiku. Hingga ia masih memberiku kesempatan hidup untuk yang kesekian kali, agar aku bisa menjadi insan yang lebih baik lagi,” terbata aku menjawab.

Fadil tercenung, menghela napas. Air matanya masih mengalir di sudut netra. “Abang hampir mati melihatmu tidur begitu lama,” tuturnya lirih. “Abang begitu takut, Dik. Bahkan ... abang sempat menyuruhmu pergi, mengikhlaskan jika saat itu kamu benar-benar ingin pergi, sebab abang tidak tahan melihat kondisimu seperti ini lagi. Sakit rasanya jiwa ini, Dik!”

“Jangan bicara begitu, Bang! Tidak baik.” Cegahku.

Fadil tertunduk.

“Mana Bang Amran?” Tanyaku tiba-tiba.

Fadil menegakkan kepalanya.

“Oh, dia pulang sebentar, mau mandi sama ganti pakaian. Nanti dia balik lagi,” ia tersenyum.

Aku hanya mengangguk menanggapinya. Lalu pandangan mata menerawang ke langit-langit kamar. Terbayang sebuah senyuman dari bibir mungil yang seharusnya sebentar lagi menemani hari-hariku. Terbayang tangan mungil yang seharusnya sebentar lagi menyentuh wajahku. Tapi semua sirna dalam sekejap mata. Dimana aku harus menerima semua kenyataan pahit ini.

Tersenyum dalam tangis, ketika rasa pedih menyeruak di salah satu bilik hati.

“Jihan, kamu kenapa?” Umi bertanya pelan sambil mendekatiku. Ia mengusap lembut air mataku.

Aku tercekat, menggelengkan kepala. “Nggak apa-apa, Mi.” Sahutku.

“Yang sudah terjadi biarlah terjadi, jangan terlalu dipikirkan dan disesali. Nggak baik buat kesehatan kamu. Terimalah semua takdir dengan lapang dada,” nasehatnya.

Kutatap mata Umi dengan tatapan nanar dan tajam.”Bukankah semua takdir sudah kuterima dengan lapang dada? Bahkan saat kalian menjauhkanku dari Hakim?” Semua yang ada diruangan itu terperanjat, termasuk Hakim dan Madya. Mereka tertegun, tak menyangka kalau aku dengan tiba-tiba mengatakan hal itu. “Apa Umi tahu? Bagaimana aku harus berusaha menata hatiku yang hancur berantakan ketika melihat adikku sendiri menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi milikku? Kurang sabar apa aku, Mi?” Entah kenapa emosiku seketika memuncak. Napasku tersengal naik turun. Dan sebuah rasa sesak di dalam dada membuatku kesulitan untuk bernapas.
 Fadil yang menyadari ada yang tak beres denganku segera berlari keluar sambil berteriak, “dokteeer! Dokteeer!”

                         ***

“Sebaiknya jangan membicarakan sesuatu hal yang berat pada Bu Jihan, sebab kondisi psikisnya masih belum stabil. Cobalah berbicara yang ringan-ringan saja dulu.” Sempat kutangkap penuturan sang dokter sebelum aku kehilangan kesadaran lagi setelah napasku kembali normal dan aku diberi suntikan penenang.

                   ***

Samar kulihat bayangan lelaki itu mendekat, ia tersenyum, mengulurkan tangannya padaku. “Jihan,” panggilnya lembut. “Maukah ikut denganku?”

“Kemana?”

“Kita pergi dari sini, kita akan memulai hidup baru. Di mana tidak ada seorang pun yang bisa memisahkan kita. Kamu tahu ‘kan betapa aku sangat menyayangimu?”

“Tapi ... “

“Kamu meragukanku, Jihan?” Lelaki itu berusaha meyakinkanku.

Aku menggeleng. “Aku tidak bisa, aku punya Amran, dia sangat menyayangiku.”

“Sayang? Sayang seperti apa? Apa dia bisa menyayangimu seperti aku menyayangimu?”

Aku terdiam.

“Ayo ikutlah!”

 Ia hampir menggapai tanganku saat aku merasakan tubuhku ada yang menarik, hingga tangannya tak sempat menyentuh tanganku. Amran? Lalu Lelaki itu membawaku kepelukannya. “Tidak ada yang bisa mengambilmu dariku, karena aku memintamu pada Allah, jadi hanya Allah saja yang bisa mengambilmu kembali,”

Lalu terdiam dalam pelukannya, menyaksikan bayangan lelaki yang tadi mengajakku pergi mulai memudar, lalu hilang di telan cahaya yang begitu menyilaukan mata.

                                   ***

Aku terbangun saat merasa ada tangan yang tengah mengusap kepalaku. Mengangkat kelopak mata perlahan, sebelum akhirnya aku menemukan wajah Amran tengah menatapku gusar. Dan senyum langsung terlukis di wajahnya saat melihat mataku terbuka. Selalu ada wajahnya ketika mata ini terbuka pertama kali. Dan itu sudah cukup membuktikan, bahwa dia memang yang terbaik untukku.

“Bang ... “

“Kamu kenapa, Sayang? Kenapa tiba-tiba marah sama umi?” Tanyanya pelan dan hati-hati. Tangannya terus mengusap kepalaku.

Aku bergeming, sambil tetap memandang wajahnya. Tak berniat menjawab pertanyaan yang dia ajukan.

“Ya sudah, tidak usah dipikirkan dulu. Yang penting kamu harus segera pulih, biar kita bisa pulang dan kembali ke pesantren. Apa kamu tidak rindu dengan teman-teman kita di sana? Apa kamu juga tidak rindu dengan riuhnya para santri saat mengantri untuk mendapatkan rendang buatanmu?”

Aku tertawa kecil, terbayang akan semua yang diucapkan Amran.

“Bagaimana aku tidak rindu, Bang. Tapi ... abanglah yang paling kurindukan. Jangan pernah tinggalin aku lagi ya? Apapun yang terjadi,” pintaku. “Jangan suka ngambek!”

Amran tertawa. “Enak aja bilangin suaminya ngambek, itu namanya cemburu bukan ngambek.” Tukasnya sambil pura-pura marah.

Ah, tawanya membuatku terpana. Wajah tampannya kembali berseri. Meskipun di hati kami masing-masing ada luka yang masih basah, dan darahnya masih mengalir dengan segar. Karena kami baru saja kehilangan si buah hati. Dan dia ... hampir saja kehilanganku.

“Kapan aku boleh pulang, Bang?”

“Belum tahu, Sayang. Kita tunggu dalam tiga hari ini kata dokter. Tapi walaupun sudah pulang, kamu masih harus istirahat total dulu, nggak boleh kerja berat dan mikirin yang berat-berat. Intinya nggak boleh aktivitas. Dan dokter menyarankan untuk menggunakan kursi roda dulu,”

“Kursi roda?”

“Iya, kenapa?”

“Laa uhibbu (aku tidak suka),” sahutku cemberut.

“Limaadzaa (kenapa)?”

Kutatap matanya penuh harap. “Aku maunya digendong abang kemana-mana, nggak mau pake kursi roda,” bisikku manja.

Amran tergelak, ia mencolek ujung hidungku. “Bilang aja pengen dimanja!”

Wajahku terasa panas melihat tatapan mesra lelaki ini. Tatapan yang selalu mampu meruntuhkan angkuhnya dinding hati. Bagaimana mungkin aku meninggalkannya, dan pergi dengan lelaki itu. Meskipun hanya mimpi, tapi tak ada niat sedikit pun untuk berpaling dari Amran.

                      ***

Menjelang siang saat Amran kembali ke rumah setelah menghadiri kelas pagi. Kebiasaan yang rutin ia lakukan sejak tiga hari lalu aku pulang dari rumah sakit.

Aku yang sedang duduk di ranjang berusah bangkit hendak turun. Rindu membukakan pintu untuknya.

“Eits, mau kemana?” Cegahnya saat ia masuk ke kamar. Di tangannya ada kantong plastik berisi makanan. Kasihan dia, terpaksa makan masakan dari luar. “Naikin lagi kakinya!” Ia mendekat dan mengangkat kakiku kembali ke atas ranjang.

“Abaaang, aku bosan di kamar terus,” rengekku.

“Iya abang tahu, tapi jangan jalan sendiri, nanti abang gendong keluar,” ia menaruh makanan itu di atas meja kerja yang ada di kamar. Lalu ia duduk di tepi ranjang. Mengatup kedua bibir. Seolah ada yang ingin ia sampaikan.

“Jihan,”

“Ya, Bang?”

“Seandainya ada orang yang telah menyakitimu dan telah melakukan kesalahan besar padamu ... lalu ia datang meminta maaf ... “ ia memegang tanganku, “maadzaa sata’maliina (Apa yang akan kamu lakukan) ?”

“Sa aghfir lahum (aku akan memaafkan mereka) . Insyaa Allah.”

“Haqqan (Benarkah?) ?”

Aku mengangguk yakin.

“Kalau begitu, maafkanlah orang tuamu.”

Aku terbelalak. “Apa maksud abang?”

“Waktu di rumah sakit saat kamu pingsan, orang tuamu menangis. Mereka meminta abang agar menyampaikan permintaan maaf mereka atas luka yang telah mereka toreh di hatimu.”

Tertegun. Tenggorokan tercekat. Memalingkan wajah dari mata teduh itu.

“Jihan, mereka orang tuamu. Jangan menyimpan dendam di hatimu. Lupakanlah! Bukankah sudah ada abang di sini? Apa itu tidak cukup bagimu melupakan Hakim?”

Aku terkesiap.

“Katakan apa yang harus abang lakukan agar kamu melupakannya?”

“Aku sudah melupakannya, Bang. Tapi dia yang selalu berusaha hadir membayangiku,”

Amran menghela napas, dan mengembuskannya perlahan. “Baiklah kalau begitu, berarti tidak ada yang harus abang khawatirkan lagi tentang perasaanmu. Tapi ... abang minta, maafkanlah orang tuamu. Mereka hanya menjalankan skenario sang Pencipta,” ia memegang kedua belah pipiku, membuat mata saling menatap. “Kamu mau ‘kan?”

Sejenak aku terdiam. Hening. Hingga akhirnya aku menganggukkan kepala. “Insyaa Allah,” jawabku. Meskipun sebenarnya aku tidak dendam pada mereka, namun mereka tetap ikut andil dalam kesalahan itu. Ah, sudahlah! Bukankah melupakan luka lebih menenangkan meskipun perihnya masih sering menyiksa?

Amran memelukku. Erat.


        ***

“Wa’alaykumussalaam. Tunggu sebentar!” aku menyeret langkah menuju pintu depan setelah mengenakan hijab saat terdengar seseorang mengucap salam dari luar. Amran sudah kembali ke kelas sehabis makan siang tadi.

Aku membuka pintu. Darahku langsung mendidih saat menemukan wajah siapa yang sedang berhadapan denganku saat ini. Tubuh yang tadinya sudah mulai kuat mendadak lemas dan gemetar. Berani sekali dia muncul di sini.
“Apa kabar, Jihan?” Sapanya dengan raut wajah penuh kemenangan. Ia tersenyum manis, tapi di mataku seperti menyeringai.

“Berani kamu datang kemari?” Tanyaku dingin. Mencoba menghadapinya setenang mungkin.

“Tenang, aku tidak akan mengganggu hidupmu. Aku ke sini hanya ingin minta maaf atas apa yang telah kulakukan,” sahutnya, “dan ini ... “ ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Lalu menyodorkannya padaku. Selembar undangan pernikahan berwarna hijau muda.

“Itu undangan pernikahanku, aku harap kamu dan Amran bisa hadir.” Ucapnya penuh percaya diri. Entah apa yang harus kulakukan pada wanita tak tahu malu ini.

Aku tak menimpali, dan mengambil undangan itu dari tangannya. Karena aku ingin dia segera pergi dari sini.

“Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu. Jangan lupa datang ya? Aku tunggu banget lho!” Ujarnya dengan mimik wajah yang benar-benar menjengkelkan. “Assalaamu’alaykum!”

“Wa’alaykumussalaam warahmatullaah,”

Wanita itu pergi. Aku bergegas menutup pintu. Menghela napas yang tadi sedikit sesak menahan geram. Tapi aku bersyukur, akhirnya dia menikah, semoga laki-laki yang ia nikahi bisa menuntunnya menjadi lebih baik. Ohya, siapa ya calon suaminya?

Penasaran aku membuka undangan itu, lalu membaca nama yang tertera di sana. ZAINAB binti ZAINAL & FIKRI AZHARI bin ABDURRAHMAN.

“Fikri Azhari? Bukankah ... “ kucoba mengingat nama yang tak asing itu.

Lalu mataku membesar saat menyadari bahwa itu adalah ustaadz Fikri. Salah satu staff di pesantren ini. Kembali aku membaca undangan itu untuk memastikan bahwa aku tidak salah. Dan ternyata memang benar. Laki-laki itu ustaadz Fikri. Bagaimana bisa? Aku terduduk di kursi. Makar apa lagi yang akan ia buat? Pantas saja raut wajahnya seperti itu, rupanya dia merasa menang, dan punya kesempatan lagi untuk mengganggu kehidupan kami.

 “Astaghfirullaah, aku nggak boleh suudzhon. Siapa tahu nanti dia benar-benar bisa berubah.” Gumamku pada diri sendiri. Mencoba menyingkirkan bisikan setan. Tapi walau bagaimanapun, sulit juga dipercaya. Tapi ini nyata!

“Jihan?” Tiba-tiba suara Amran membuatku kaget.

“Abaaang, ketuk dulu kek pintunya!” Omelnya.

“Udah dari tadiii, kamu aja yang nggak dengar. Makanya abang masuk tanpa permisi. Kamu lagi ngapain sih? Kok kayak orang bingung gitu?” Selidiknya.

Tanpa menjawab kuserahkan undangan itu padanya. Dengan dahi berkerut Amran menerima dan membukanya. Tapi rautnya biasa saja.

“Abang sudah tahu soal ini. Kemarin Fikri sudah cerita.”

“Oh ya? Kenapa nggak cerita sama aku?”

“Nggak ada gunanya. Nanti kamu malah stres kepikiran. Lebih baik kamu tahu sendiri. Ini undangannya siapa yang antar?”

“Zainab.” Sahutku singkat dan sedikit ketus.

“Oh ya?” Amran membelalakkan matanya.

“Iya, kenapa?”

“Kok nggak ngasih tahu abang? Kan abang juga pengen ketemu sama dia,” ujarnya dengan raut wajah menggoda. Aku mendelik.

“Nggak lucu!” Tukasku. Lelaki itu tertawa. Lalu menarikku ke dalam pelukannya.

“Jangan peluk-peluk. Ini masih siang,” berusaha melepaskan tangannya dari pinggangku.

“Lalu kenapa kalau masih siang? Nggak ada peraturannya kan mau siang mau malam memeluk istri sendiri?”

Terpaksa mengalah, membiarkan dia melakukan apa yang dia inginkan.

“Bang, kalau Zainab menikah dengan ustaadz Fikri, otomatis nanti dia kan tinggal di sini,”

Amran tertegun. “Memangnya kenapa?”

“Nggak apa-apa sih, Bang. Aku hanya khawatir saja, takut kalau kejadian yang telah lalu terulang lagi,”

Lelaki itu terdiam, seolah memikirkan sesuatu.

Aku benar-benar cemas dengan kehadiran perempuan itu di sini nantinya. Bukan tak mungkin dia akan mengulang perbuatannya.

Amran menatapku. “Kamu mau kita pergi dari sini?”

“Haruskah?” Tanyaku. “Tapi aku suka di sini, Bang,”

“Tapi abang sedikit cemas denganmu. Abang takut dengan kekhawatiranmu itu, takut jika itu menjadi nyata. Dan kamu ... adalah yang paling abang khawatirkan,” ia memegang pipi kananku. Tangannya begitu hangat kurasa.

“Abang mau membawaku kemana?”

“Ke surga,” jawabnya sambil tersenyum sumringah.

“Bang Amraaan ... “ rengekku.

Ia memelukku kembali. “Abang akan membawamu ke tempat di mana tak ada lagi yang bisa mengganggumu. Bahkan Hakim sekali pun.”

“Kenapa bawa-bawa dia lagi sih?”

“Ya karena dia memang suka mengganggumu kan?”

“Bukannya abang yang merasa terganggu?”

“Jadi kamu suka jika dia menganggumu?”

“Iya, kenapa? Keberatan?”

Kami saling menatap tajam, lalu tawa kami berderai. Menertawai kebodohan yang kami lakukan. Sejenak keheningan menyeruak ketika tawa kami hilang.

“Abang akan membawamu pergi jauh,” ucapnya pelan.

“Kemana?”

“Entahlah, yang jelas ... kita pergi dari sini sebelum hari pernikahan mereka. Dan jangan sampai ada yang tahu kita kemana,” bisiknya pelan.

Aku mengangguk setuju. Seru juga suamiku, mau bikin istrinya penasaran saja. Mau dia bawa kemana wanitanya ini? Ah, yang penting dia selalu di sampingku. Mau di bawa kemana saja aku akan ikut.

                           ***

Mobil yang di kendarai Amran melaju di tengah pagi buta. Entah mau kemana dia membawaku sepagi ini. Yang jelas, senyum tak lepas dari bibirnya sejak tadi. Sejak semalam pun ia tak pernah beranjak dari sisiku. Memelukku dengan erat, dan berkali-kali mencium ubun-ubunku. Mengucap kata cinta yang tak bisa kuhitung jumlahnya.

“Kita mau ke mana, Bang?” Tanyaku.

“Kita akan ke surga,”

Aku terkesiap, seolah kata-kata yang ia lontarkan mengandung makna yang begitu dalam. Sesuatu yang tersirat, tapi aku tidak tahu apa itu.

Mobil yang ia kendarai terus melaju menembus kabut pagi.

Di tengah perjalanan ia mengeluarkan sesuatu dari dashboard, dan menyerahkannya padaku. Mataku terbelalak melihat dua helai kertas persegi. Dua tiket menuju negeri Fir’aun.

“Bang ... ini?”

Amran tersenyum. “Ya, kita akan ke sana. Karena cuma di sana tempat yang pantas untuk kita tinggali. Jauh dari orang-orang yang selalu ingin mengganggu kehidupan kita,”

“Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya? Kan kita bisa memberitahu orang tua kita,”

“Abang tidak ingin seorang pun tahu kita kemana. Nanti kalau kita sudah punya waktu yang tepat, baru kita beri tahu mereka,” ia menggenggam tanganku erat.

Entahlah, aku sebenarnya tak paham dengan jalan pikiran Amran saat ini. Tapi sebagai istri aku hanya bisa mematuhi perintahnya. Dan ikut kemana pun dia membawaku pergi.

         ***

“Yakinlah, setelah ini kita akan bahagia. Takkan ada lagi yang mengganggu kita.” Ujar Amran begitu pesawat yang kami tumpangi lepas landas.

Aku hanya mengangguk pelan dan tersenyum. Merebahkan kepalaku di bahunya. Lamat kudengar lantunan ayat suci keluar dari bibirnya. Hingga tak sadar aku terbuai dengan suara merdunya. Suara yang selalu mampu menenangkan jiwa.

Baru saja terlelap saat merasakan guncangan yang begitu dahsyat dan teriakan histeris dari para penumpang memekakkan telinga.

“Bang, ada apa ini?” Tanyaku bingung. “Aku takut!” Ku pegang lengannya erat-erat.

“Allah sedang memainkan skenario-Nya,” sahutnya tenang. Lisannya sibuk beristighfar. Sementara guncangan itu semakin kuat. Suara teriakan dan pekik ketakutan memenuhi ruang pesawat.

Amran memelukku erat, mencium ubun-ubunku berulang kali. Air matanya berderai. Tubuhku bergetar hebat karena ketakutan yang luar biasa saat lampu di dalam pesawat padam. Merasakan dengan jelas, pesawat yang sedang kami tumpangi menukik tajam menuju bumi.

“Tenanglah, apa pun takdir kita hari ini, maka itulah yang terbaik. Jangan pernah takut dengan kematian, sebab kematian itulah awal dari kehidupan yang sesungguhnya. Abang yakin, kita akan bahagia setelah ini. Apa pun yang terjadi. Percayalah, Jihan!” Kembali ia mencium ubun-ubunku. Seolah tak peduli dengan huru hara yang terjadi di dalam pesawat. Ia terus memeluk tubuhku meski kami sudah terombang ambing di dalamnya. Tak sedikitpun pelukannya terlepas.

Aku memejamkan netra yang terus mengeluarkan air mata, tidak tahu apa yang harus kulakukan. Hanya bisa pasrah, menunggu kematian datang menjemput.

‘Ya Allah, bukankah engkau sudah memberiku kesempatan hidup tiga kali, apakah ini akhirnya? Apakah ini kesempatanku yang terakhir?’

“Jihan, uhibbuki fillaah ... jika kita tak lagi bertemu di dunia, semoga kita bisa bertemu di surgaNya. Percayalah, takdir Allah itu sangat indah.” Pungkasnya sambil tersenyum menatapku. “Dan jika salah satu dari kita masih di beri kesempatan melihat dunia, maka teruslah saling mendoakan, agar cinta yang telah kita tanam, berbuah di surga-Nya.”

“Aamiin ...” hanya itu yang sanggup keluar dari bibirku. Sebab air mata tak berhenti mengalir. Pasrah adalah pilihan terbaik detik ini. Menyerahkan segalanya pada Sang Sutradara.

 Aku melihat dengan mataku sendiri kalau Amran berusaha menahan rasa sakit akibat benturan-benturan itu. Dan ia terus melindungiku dari himpitan tubuh manusia-manusia yang sudah tak karuan posisinya. Ia tetap tersenyum, meskipun sekujur tubuhnya bersimbah darah. Entah berapa lama kami dalam keadaan itu. Hingga sampai saat aku tak lagi merasakan apa-apa ketika hantaman benda keras itu menghimpit tubuhku. Sakit teramat sangat, seolah meremukkan seluruh tulang-tulang.

“Bang Amran ... uhibbuka ... fillaah,” mataku mulai meredup. Meskipun di ujung sana, kulihat lelakiku tersenyum dalam lelapnya.
Sunyi. Tenang. Begitu damai.

 *B E R S A M B U N G*
Menatap jingga di langit senja yang perlahan mulai temaram. Matanya sayu. Tak ada lagi kekuatan yang terpancar. Hanya wajah manisnya yang masih terlihat sama, meskipun bulat wajahnya sedikit memanjang.

“Bang, abang tahu? Hapalanku hanya tinggal satu juz lagi, dan sebentar lagi aku akan menyamaimu. Abang pasti senang bukan?” Wanita itu bicara sambil tersenyum menatap langit. Walau ia tahu, lelaki itu takkan bisa mendengar mau pun tersenyum padanya. Namun ia yakin, di sana suaminya bahagia, di pangkuan Rabb-nya.

Ia menyusut air mata yang mengalir deras di sudut netra. Menghela napas, lalu meninggalkan balkon itu. Tempat dimana dulu ia sering menghabiskan waktu bersama kekasihnya untuk melantunkan ayat-ayat Allah.

Ya, meski tiga tahun telah berlalu, namun  Amran selalu hidup di hatinya. Ia tak pernah menganggap suaminya mati. Tapi hanya pergi sementara, bertemu Rabb yang sangat mencintainya. Berjuta cinta yang datang menawarkan diri, tak lantas membuat wanita berusia 29 tahun itu dengan mudah menyerahkan hatinya. Terlalu sulit mencari pengganti sang kekasih. Bahkan untuk membuka lembaran baru pun ia hampir tak sanggup. Sebab hatinya telah terkunci, dan kuncinya telah di bawa pergi oleh lelaki bermata teduh itu.

       ***

“Kamu mau kuliah lagi, Dik?” Tanya Fadil suatu hari. Sejak mengalami kecelakaan itu, Fadil memutuskan memboyong kembali Azizah dan anak-anaknya ke Bukittinggi. Sebab ia tak ingin membiarkan Jihan merasa kesepian. Setidaknya, ia bisa jadi teman bicara kapan pun Jihan butuh.

Sejenak wanita itu terdiam, lalu tersenyum. “Untuk apa?”

“Setidaknya kamu punya kesibukan dan ... tidak merasakan sedih berkepanjangan,” sahut Fadil begitu hati-hati.

Jihan tertawa kecil. “Sedih?” Tanyanya. “Bagaimana aku akan bersedih dengan segala ketentuan Rabb-ku? Bagaimana aku bisa bersedih dengan takdir Rabb-ku? Jika janji-Nya adalah pasti, dan surga taruhannya,” ia menelan saliva saat tenggorokannya terasa tercekat.

 “Abang tahu?” Ia mengatup bibir, menahan sebuah desakan yang ingin pecah. “Aku tengah memantaskan diri untuk dapat kembali bersanding dengannya di sana, aku ingin kembali bersamanya di sana, aku ingin kembali mencintainya seperti dulu ia mencintaiku, aku ... aku ... “ akhirnya desakan itu pecah. Berubah menjadi sebuah tangisan pilu. Fadil membawa adik kesayangannya itu ke dalam dekapannya. Matanya ikut berkabut. Dan air mata pun menganak sungai di pipinya.

“Aku sangat mencintainya, Bang. Tapi kenapa dia meninggalkanku?”

Fadil tercekat. Ia mengusap kepala Jihan dalam pelukannya. “Jihan, bukankah kamu sendiri bilang kalau ini adalah takdir? Takdir indah walau terasa menyakitkan. Lalu kenapa harus ada penyesalan? Bukankah cinta Allah lebih tinggi dari cinta siapa pun? Dan Allah lebih mencintai Amran, karena dia hamba Allah yang begitu baik,”

Tangis Jihan semakin deras, tak sanggup rasanya membendung kesedihan yang begitu mendalam meski bertahun telah berlalu. Apalagi ketika peristiwa kecelakaan naas itu melintas di kepala. Membayangkan bagaimana perjuangan Amran melindunginya. Tangan kokoh yang selalu mendekapnya dalam keadaan bahaya sekali pun. Dimana ia tak peduli dengan nyawanya asal wanita yang ia cintai terlindungi. Jihan juga masih mengingat dengan jelas, bagaimana senyum terukir di wajah Amran ketika ia tak lagi bergerak, dan tidur dalam lelap.

Jihan melepas pelukannya, lalu menghapus air mata dengan jemari. Isaknya masih jelas terdengar.

“Bang, boleh aku meminta sesuatu?”

Fadil menatap adiknya, “apa itu, Dik? Selagi abang mampu, insyaa Allah pasti akan abang penuhi,”

“Dulu ... Bang Amran pernah bilang, jika hapalanku sudah selesai 30 juz, maka ia akan mendirikan sebuah pondok tahfidzh untukku, di khususkan untuk anak-anak yang tidak mampu, yang ingin belajar Al Qur’an dan menghapalnya. Dan aku yang akan mengelolanya. Bisakah abang mewujudkannya untukku?”

Sejenak Fadil terdiam, lalu senyumnya mengembang. “Kenapa tidak? Asal itu bisa membahagiakanmu, tentu akan abang penuhi. Nanti kita bicarakan juga dengan abi dan umi ya?”

Jihan tersenyum sumringah, sebuah senyum yang sudah lama tak terlihat di wajahnya. Senyum kebahagiaan yang jelas terpancar. Hingga mata sembabnya ikut berbinar.

“Terima kasih, Bang. Terima kasih banyak,” ucapnya sambil menggenggam tangan Fadil.

“Iya, sama-sama. Ya sudah, sekarang abang mau kembali ke toko dulu, kasihan kakakmu sendiri saja sejak tadi. Atau kamu mau ikut abang?”

Jihan menggeleng. “Nggak Bang, aku mau di rumah saja. Masih banyak tugas dapur menunggu,” sahutnya.

“Oke, kalau gitu abang jalan dulu ya? Hati-hati kamu di rumah, kunci semua pintu. Bentar lagi abi dan umi pulang dari kajian,”

“Iya, Bang!” Sahutnya. Lalu mencium tangan Fadil sebelum lelaki itu melangkah meninggalkan rumah yang cukup besar itu.

                             ***

Jihan baru saja selesai berkemas didalam sebuah bangunan yang sengaja di sewa Fadil untuk mewujudkan keinginannya. Anak-anak didiknya sudah pulang, dan sekarang hanya tinggal ia sendiri. Merapikan beberapa buku yang berserakan. Lalu menyapu lantai yang sedikit terlihat kotor.

Kegiatan ini membuatnya begitu bahagia. Hingga ia bisa sedikit melupakan rasa sedih. Tak jarang air matanya menetes ketika melantunkan ayat-ayat suci itu, terngiang suara merdu suaminya kala mereka masih hidup bersama.

“Assalaamu’alaykum!”

Jihan menghentikan kegiatannya yang sedang menyapu dan mengangkat wajahnya. Untuk mengetahui siapa yang kini berdiri di ambang pintu.

“Wa’alaykumussalaam,” jawabnya. Seorang laki-laki bersama seorang mujahid kecil berusia tiga tahun.

“Ammah,” panggilnya ketika ia melihat Jihan ada di depannya. Lalu melepaskan pegangan tangan ayahnya untuk segera berlari kepelukan Jihan.

“Alif?” Mata Jihan begitu berbinar melihat keponakannya itu. Ia langsung menggendong dan menghujaninya dengan ciuman. Sementara lelaki itu hanya bisa terdiam sembari tersenyum melihat kedua insan dihadapannya.

Hakim. Dia ayah dari Alif. Dan mujahid kecil itu sangat dekat dengan Jihan, hingga lebih sering menghabiskan waktunya bersama wanita itu.

“Dia merengek minta diantar ke tempatmu sejak tadi, tapi karena aku tahu kamu sedang mengajar, makanya aku tunggu hingga selesai,” Hakim membuka suara.

Jihan tersenyum. “Iya, nggak apa-apa. Biar saja dia bersamaku, nanti malam jemput saja ke rumah. Madya mana? Kenapa dia nggak ikut?”

“Dia lagi lemes, alhamdulillaah sebentar lagi Alif akan punya adik,” sahut Hakim.

Mata Jihan membesar, berbinar bahagia. “Maasyaa Allah walhamdulillaah, selamat ya? Aku senang mendengarnya. Bakalan ramai rumah kita dengan anak-anak,” sungguh ucapan itu tulus keluar dari hatinya. Sebab rasa yang ia miliki terhadap Hakim benar-benar sudah pupus. Tak tersisa sedikit pun juga.

Hakim tersenyum. “Iya, alhamdulillaah,”

Hening sejenak.

“Kamu mau aku bantu beres-beres?” Tawar Hakim.

“Oh, nggak usah. Ini udah selesai kok, habis ini aku langsung pulang,” tolak Jihan.

“Mau aku antar?”

Jihan terdiam, lalu tersenyum pada adik iparnya itu. “Kamu lupa? Aku bawa mobil sendiri,”

“Oh iya, baiklah,”

“Ya sudah, kamu duluan saja. Nggak enak dilihat orang-orang jika kamu terlalu lama di sini,” Jihan mengingatkan.

Hakim menghela napas, sebelum akhirnya mengangguk dan pamit untuk pulang duluan. Ia masih memiliki sebuah rasa pada Jihan, namun ia pun sedang berusaha keras agar rasa itu mati. Sebab ia tak ingin terus tersiksa dengan rasa yang sudah tak mungkin bisa disatukan lagi.

Sedikit banyaknya ia masih punya rasa bersalah pada Jihan dan juga Amran. Sebab dulu ia sering mengganggu keharmonisan keluarga mereka. Hingga perhatiannya pada Jihan membuat Amran cemburu, dan berujung pada memburuknya keadaan Jihan hingga harus kehilangan buah hatinya.

“Amran, maafkan aku. Atas segala yang pernah kuperbuat di masa lalu,” lirihnya sebelum mobil yang kendarai melaju meninggalkan tempat itu. Ada sebentuk penyesalan menggumpal di hati. Kala melihat wanita yang pernah mengisi ruang qalbunya, kini harus berjuang sendiri menata hati yang terlanjur hancur berkeping-keping. Meskipun ia tahu, Jihan bukan wanita lemah, ia wanita kuat, wanita yang luar biasa.

               ***

“Jihan, ada yang mau ketemu,” kepala Azizah muncul dari balik pintu kamar di minggu siang itu.

Jihan yang tengah asyik membaca sebuah buku pembasuh jiwa menoleh. “Siapa, Kak?”

“Ada deh, ayo buruan, abi sama abangmu sudah menunggu bersamanya,”

“Aiiih, sok misterius deh!” Sungutnya sembari menutup buku yang ia baca. Kemudian mengikat rambut hitamnya yang tergerai indah. Lalu menutup mahkota itu dengan sehelai hijab panjang yang mampu menenggelamkan tubuh indahnya.

Satu persatu kakinya menari menuruni anak tangga. Berusaha menerka siapa yang datang bertamu siang-siang begini. Lamat-lamat ia mendengar suara Fadil dan abi berbicara dengan sang tamu.  Seorang lelaki, tapi ia tidak begitu kenal dengan suara itu.

Dengan rasa penasaran yang begitu besar, ia bergegas menampakkan diri ke ruang tamu itu. Dahinya berkerut, lalu matanya membesar saat mengetahui siapa yang kini datang ke rumahnya.

“Ustaadz Fikri?”

Laki-laki yang pernah ia kenal tiga tahun lalu saat masih berada di pesantren itu menoleh. Seulas senyum langsung terlukis di wajahnya.

“Ustaadzah Jihan?”

“Jangan panggil ustaadzah, panggil Jihan saja,” timpalnya seraya mendaratkan tubuh di samping Fadil. “Tumben kemari ustaadz? Kayfa haaluk (apa kabar)?” Jihan mencoba bersikap biasa, meskipun ada perasaan aneh yang membuatnya sedikit bingung dengan kedatangan Fikri yang tiba-tiba.

“Alhamdulillaah, ana bikhair (kabar saya baik),” sahutnya.

“Waah, sudah lama sekali kita tidak ketemu ya ustaadz. Bagaimana keadaan pesantren? Ustaadz masih di sana kan?”

“Alhamdulillaah, semakin baik. Santrinya makin ramai. Bahkan tahun ini banyak yang kami tolak karena terlalu membludak.”

“Maasyaa Allah, baarakallaah!” Ucap Jihan begitu bahagia. “Oh ya, Zainab apa kabar? Kenapa tidak di bawa sekalian ke sini?”

Fikri terdiam. Fadil dan abi saling berpandangan.

“Ana belum menikah,” sahutnya datar.

Jihan terbelalak. “Maksudnya? Bukankah ... “

“Ya, sejak kalian pergi diam-diam meninggalkan pesantren, tiba-tiba saja Zainab membatalkan pernikahan kami. Entah kenapa ana sendiri tidak tahu,”

Wanita itu terdiam. Ada sesuatu yang terbersit di hatinya. Sebuah prasangka yang ternyata benar. Zainab ingin menikahi Fikri dengan satu tujuan. Tapi karena yang ia tuju sudah tak lagi di sana, hingga dengan seenak hatinya dia memutuskan semuanya tanpa memikirkan perasaan orang lain.

“Afwan ustaadz, ana tidak tahu,” sesal Jihan.

“Laa ba’sa (tidak apa-apa). Setidaknya Allah sudah memberi tahu ana, bahwa Zainab bukan wanita yang baik untuk ana. Meskipun harus menanggung malu karena undangan sudah tersebar,” ada rasa sedih dalam kalimatnya.

“Kasihan ustaadz Zainal,” lirih Jihan.

“Beliau sudah meninggal, Jihan.”

“Innalillaahi wainnaa ilayhi raaji’uun, benarkah?”

“Iya. Beliau kena serangan jantung akibat ulah putrinya, hingga nyawanya tak lagi tertolong. Lalu sejak itu, ana nggak tahu lagi Zainab kemana. Kabar terakhir yang ana dengar, wanita itu menikah dengan seorang lelaki yang sudah di pilihkan pamannya dan dia di boyong ke Malaysia,” urai Fikri.

‘Entah harus sedih atau bahagia mendengar kabar ini. Tapi setidaknya Zainab sudah menemukan jodohnya, semoga saja dia bisa menjadi orang yang lebih baik lagi.’ Batin Jihan.

“Sudahlah, yang jelas sekarang, Nak Fikri jelaskan pada Jihan maksud dan tujuannya kemari,” abi angkat bicara. Membuat Fikri langsung menunduk, tak lagi melihat Jihan.

“Lho? Memangnya ada apa ini, Bi?” Tanya Jihan bingung.

Abi hanya tersenyum, begitu pun Fadil. Abangnya ini mengusap kepala Jihan dengan sayangnya.

“Ana ... ana berniat ingin mengkhitbahmu Jihan. Maukah menjadi pendamping hidupku?” Tanyanya lugas tanpa basa basi.

Jihan tertegun. Ia tercekat. Tak menyangka kalau sahabat Amran ini punya niat seperti itu.

“Maaf jika rasanya terlalu tiba-tiba. Tapi jujur, ana hanya ingin menjagamu, seperti Amran pernah menjagamu,”

Wanita itu menarik napas dalam, ada sesak di dada. Bahkan dalam mimpi pun ia tak pernah berniat menggantikan Amran. Sebab ia hanya ingin bertemu lelakinya itu di surga.

Walaupun ia tak memungkiri, Fikri lelaki baik. Dia juga seorang hafidzh, ayahnya pemilik pesantren tempat ia tinggal dulu. Sifatnya juga kebanyakan sangat mirip dengan Amran. Hanya bedanya, Amran ia cintai, sedangkan Fikri? Terlintas pun tak pernah dalam pikirannya.

“Ana tidak akan meminta jawaban yang tergesa. Kamu pikirkan saja dulu, istikharah. Ana akan menunggu jawabanmu. Seminggu lagi ana akan kembali ke sini.”

Jihan masih bergeming. Ia terpaku. Lidahnya kelu untuk menjawab.

*Dalam_Tasbih_Cinta*
Jihan berdiri di depan pintu besar bercat putih itu. Ragu, tapi akhirnya ia beranikan diri untuk mengetuknya. Ada rasa perih menyeruak tatkala ia harus kembali datang ke sini. Sebuah rumah bercat putih, tempat di mana seorang Amran di asuh oleh sepasang tangan lembut dan penuh cinta.

Pintu terbuka, wajah ayu dengan lesung pipi itu muncul. Ia terbelalak. Tak menyangka akan kedatangan wanita yang pernah hadir dalam kehidupan putra kesayangannya.

Jihan langsung menghambur ke dalam pelukannya. Ia menangis sejadi-jadinya.

“Ibu ... aku rindu,” ucapnya.

“Iya, ibu juga rindu padamu,” bisiknya di sela tangis.

Aida, ibunya Amran melepas pelukannya. Menyeka air mata di pipi Jihan dengan jemarinya yang lembut. Lalu mengajak wanita itu masuk ke dalam rumah.

Rumah itu terlihat begitu sepi. Seolah tak ada lagi keceriaan di dalamnya semenjak Amran pergi. Tapi bagi Jihan, Amran tak pernah pergi, ia selalu hidup dalam hatinya. Bahkan ia bisa merasakan kehadiran Amran di rumah ini.

‘Bang, aku datang,’ batinnya.

Aida membawa Jihan duduk di ruang tamu. Sementara mata Jihan tertuju pada sebuah pintu yang ia tahu kalau itu adalah kamar Amran. Aida menyadari, tapi ia berpura tidak tahu.

“Kamu apa kabar, Nak? Kenapa sudah lama tidak ke sini?”

“Alhamdulillaah kabar baik, Bu. Maaf, karena akhir-akhir ini, aku punya kegiatan baru, aku buka sekolah tahfidzh untuk anak-anak yang kurang mampu. Seperti cita-cita Bang Amran dulu,” urainya seraya tersenyum.

“Maasyaa Allah, terima kasih Jihan. Kamu mau memenuhi permintaan Amran, meskipun ... “ Aida menggantung kalimatnya.

“Sudahlah, Bu. Jangan mengingat hal-hal sedih lagi,”

Aida tersenyum, getir terlihat.

“Sebenarnya, aku ke sini ingin menyampaikan sesuatu pada ibu,”

“Apa itu, Nak?”

“Ibu ingat Fikri?”

“Fikri?” Aida mengerutkan dahi, mencoba menggali memori lama. “Fikri teman Amran yang di pesantren ya?”

Jihan mengangguk, “iya, Bu.”

“Kenapa dengan dia, Nak? Dia suami Zainab kan?”

“Bukan, Bu. Mereka tidak jadi menikah. Zainab membatalkan.”

Aida mengangguk-angguk paham. “Lalu?”

Jihan menarik napas, “dia melamarku, Bu.”

Wanita itu terlonjak kaget, tapi buru-buru ia tutupi. Mencoba tersenyum meski tetap terlihat ada ketidak relaan di wajahnya. “Benarkah? Bagus, dong!”

“Tapi aku tidak bisa, Bu.”

“Kenapa?” Selidiknya.

Jihan menunduk. “Aku belum bisa melupakan abang. Aku tidak ingin menggantikan posisinya dengan siapa pun,”

Aida tertegun. Ada yang terasa menyesak di dada. “Menikahlah, Fikri lelaki baik. Amran pernah cerita tentangnya.”

“Tapi, Bu ... “

“Lupakan Amran. Dunia kalian sudah berbeda. Dan kamu ... kamu berhak bahagia, Jihan,” air mata Aida mengalir.

Jihan menatap tak percaya pada mantan mertuanya itu. “Aku tidak bisa, Bu. Aku hanya ingin Amran yang pertama dan yang terakhir. Tidak seorang pun bisa menggantikannya. Bahkan Fikri sekali pun.” Tegas Jihan.

Aida menatap wanita tegar di depannya, mengusap pipinya dengan lembut. Ia tak tahu harus berkata apa-apa lagi. Ingin rasanya mengatakan sesuatu yang ia pendam, tapi lidahnya kelu.

“Baiklah, itu terserah kamu. Tapi apa pun keputusanmu, ibu selalu mendukung. Asal kamu bahagia.” Pungkasnya.

“Terima kasih, Bu.” Ucapnya. Lalu memeluk wanita kesayangan Amran itu.

“Bu, bolehkah aku ke kamar abang?” Pinta Jihan tiba-tiba. “Hanya ingin mengobati kerinduan saja,”

Aida terkesiap. Raut wajahnya langsung gugup.

“Boleh ‘kan, Bu?”

Sejenak Aida terdiam, seperti berpikir keras. Matanya menatap ragu daun pintu itu. Sebelum akhirnya ia memutuskan, “baiklah, silahkan jika itu keinginanmu,” ucapnya pasrah.

Jihan mengecup pipi Aida. “Makasih, Bu,” ia pun bangkit, lalu menyeret langkah menuju kamar Amran. Diiringi tatapan khawatir Aida.

Menekan handle pintu dengan pelan.

 Aida menahan napas melihat gerak gerik Jihan.

Pintu itu terkuak. Wangi lembut khas parfum kesukaan Amran menusuk rongga hidung. ‘Bagaimana bisa ada aroma parfumnya di sini? Apa setiap hari ibu menyemprotkan parfum itu?’ batin Jihan.

Kemudian Jihan menyapukan pandangannya ke seluruh sudut kamar. Tak ada yang berubah, masih seperti dulu. Bahkan ia dapat merasakan kekasihnya itu ada di sini. Tapi buru-buru ia menepisnya. Takut jatuh pada kesyirikan.

Membuka sebuah album foto yang terletak di atas meja kerja. Memandangi foto itu satu persatu. Foto pernikahan yang masih tertata rapi.

 Setitik air bergulir di pipinya. Ujung jarinya mengusap seraut wajah tampan yang terpampang di sana. Ada rindu menyeruak, melemahkan asa. Perih meraja, menikam sukma.

“Bang, aku rindu ... “ desisnya pilu. Ia mendekap foto itu. Menciumnya berkali-kali.

Aida yang sejak tadi mengintip di balik pintu mengusap sudut matanya yang telah menganak sungai. Ikut merasakan perih yang tengah di alami wanita itu.

“Andai ibu bisa mengembalikan semua milikmu, pasti akan ibu lakukan detik ini. Tapi ... “ Sebuah tangan kokoh memegang bahunya, menggeleng pelan agar Aida tak melanjutkan kata-katanya. Aida kembali menangis. Meninggalkan tempat itu. Membiarkan Jihan bernostalgia dengan rindunya.

                       ***

“Aku pulang ya, Bu?” Pamit Jihan setelah puas melepaskan rindu di rumah itu.

Aida mengangguk. “Iya, Nak. Terima kasih sudah mau mampir ke sini. Ibu senang jika kamu terus mengunjungi ibu,”

“Insyaa Allah, Bu. Aku akan usahakan sering ke sini.” Sahutnya.

“Ya sudah, kamu hati-hati ya, Nak. Ingat satu hal ... “ Aida memegang wajah Jihan, “kamu berhak bahagia.”

Jihan menghela napas. Memegang tangan Aida. “Bahagiaku adalah Bang Amran, Bu. Tidak ada yang lain.” Sahutnya pelan. Matanya kembali berkabut. Basah.

Aida tercekat. Ada sesuatu yang membuncah ingin keluar dari dadanya. Sesuatu yang begitu menyesak. Sesuatu yang ingin sekali ia katakan pada Jihan.

Ia coba mengatur detakan jantungnya. Mengatur suasana hati. Mengatur pikiran. Sampai ia pun memutuskan. Apa pun yang terjadi, dia harus mengakhiri semuanya hari ini juga.

Hingga akhirnya ia menarik tangan Jihan untuk kembali ke dalam rumah.

“Bu, ada apa?” Jihan bingung, tapi ia tak berusaha meronta meski agak kepayahan mengikuti langkah kaki Aida. Kemudian Aida berhenti di depan pintu kamar Amran yang tertutup.

“Bu, ada apa?” Jihan mengulang pertanyaannya.

Aida bergeming. Hening. Hingga lamat-lamat rongga telinga Jihan menangkap sebuah suara merdu dari kamar itu. Suara yang tak asing baginya. Sebuah suara yang sering ia dengar tiga tahun yang lalu. Napasnya sesak, ia memandang Aida dengan berjuta pertanyaan. Tapi Aida tak berani membalas tatapan itu.

“Masuklah, temukan bahagiamu kembali. Tapi ... jika ada sesuatu yang lain padanya, terimalah dia sebagaimana kamu menerima kesempurnaannya dulu,”

Jihan tak berusaha bertanya. Meski ia takut untuk menerka, siapa pemilik suara yang sedang ia dengar saat ini.

“Masuklah!” Perintah Aida pelan.

Ragu, Jihan membuka pintu itu. Dadanya begitu sesak. Jantungnya seakan lepas dari tempatnya. Tubuhnya terasa panas dingin. Berusaha menerka, kenyataan seperti apa yang akan ia lihat di balik pintu itu.

Pintu pun terkuak. Mata Jihan membesar, ketika melihat sosok seorang laki-laki yang tengah membelakanginya duduk di sisi tempat tidur. Bibirnya terus melantunkan ayat-ayat Allah tiada henti.

Jihan bergeming. Detakan jantungnya semakin kencang, napasnya tersengal. Bahkan tubuhnya ikut gemetar. Benarkah semua ini?

Lalu ia menyeret langkah dengan perlahan, untuk memastikan kalau apa yang sedang dilihatnya kini bukanlah mimpi. Ia menggigit bibir bawahnya, ketika posisi tubuhnya sudah berada di depan lelaki yang belum menyadari keberadaannya. Bukan belum menyadari, tapi seolah tak melihat keberadaannya.

 Dunia seakan berhenti berputar, kalau akhirnya Jihan menyadari, bahwa sosok itu nyata. Ia bersimpuh di hadapan lelaki itu, dengan air mata yang tak berhenti berderai. Lalu memegang tangannya. Lelaki itu terkesiap. Tapi tak berusaha menepis. Ia seolah tahu, siapa yang ada dihadapannya kini. Meskipun ia tak lagi bisa memandang wajah manis wanita itu.

“Ji – Jihan?” Gugup ia bertanya. Jihan tak bersuara. Ia tergugu. Menahan agar tangisnya tak berubah menjadi sebuah raungan. “Kamu ... “

Tak tahan lagi, akhirnya Jihan menghambur ke dalam pelukan lelaki itu. Merasakan kembali kehangatan tubuh yang lama ia rindukan. Melepaskan segala rasa yang ia pendam selama ini. Tangisnya telah berubah menjadi raungan, membuat pilu siapa saja yang mendengarnya. Termasuk Aida yang sejak tadi melihat mereka di ambang pintu.

“Abang kemana saja? Kenapa tidak menjemputku? Aku menunggumu setiap hari,” raungnya.

Amran terdiam, matanya pun telah basah. Membalas pelukan istrinya tak kalah kuat. Wanita yang sangat ia rindukan selama ini.

“Maafkan abang, abang tak ingin menyusahkanmu dengan keadaan abang seperti ini. Abang tak ingin membuatmu merasa terbebani,” tangisnya.

Jihan melepas pelukannya, menatap mata Amran. Meski mata teduh itu takkan lagi mampu membalas tatapannya. “Abang tahu? Cinta sejati itu adalah cinta tanpa syarat. Meskipun pasangannya tidak lagi sempurna, baik secara lahir maupun batin,”

Amran terdiam.

“Menikahlah dengan Fikri, maka abang akan menceraikanmu,” ujarnya tiba-tiba.

Jihan terkejut. “Apa maksud abang?”

“Fikri lebih pantas untukmu. Abang yang memintanya untuk menikahimu, dan membahagiakanmu,”

Wanita itu menggeleng. “Aku tidak mau! Aku cuma mau sama abang saja, jangan pernah menceraikan aku. Sudah cukup tiga tahun aku kehilanganmu dan menganggapmu telah pergi ke pangkuan ilahi,” ia kembali menangis.

‘Tapi abang buta, Jihan!” Bentaknya. “Abang hanya akan menyusahkanmu saja. Itulah kenapa saat mereka menemukan abang dan mengetahui kalau abang tak lagi bisa melihat dunia, abang melarang mereka untuk memberitahu siapa pun. Termasuk kamu. Karena abang ingin kamu hidup bahagia, abang tak lagi ingin melukaimu, abang ... “

“Cukup, Bang! Jangan teruskan!” Potong Jihan menempelkan jemarinya di bibir Amran.

“Abang pernah bilang jika kita harus ikhlas menerima takdir kan?”

Amran terdiam.

“Maka izinkan aku belajar ikhlas menerima abang apa adanya,” pungkas Jihan.

Amran tercenung lumayan lama mendengar kata-kata Jihan. Ia tak menimpali.

Lalu tangan lelaki itu meraba wajah Jihan, “kamu terlihat kurus, malas makan ya?”

Jihan tertawa tanpa suara. “Aku lebih banyak puasa Bang, agar hatiku lebih tenang.”

“Maasyaa Allah ... “ Amran tersenyum bangga.

Jihan merebahkan kepalanya ke dada Amran, mendengarkan kembali irama detak jantung suaminya. “Abang masih mencintaiku?”

Melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Jihan sebelum menjawab, “pembuktian seperti apa yang kamu inginkan tentang cinta ini?”

Jihan mengehela napas, “jangan pernah tinggalkan aku lagi, selagi napas masih setia menemani kita. Aku tak peduli fisikmu seperti apa, yang aku pedulikan hanya cintamu untukku. Temani aku hingga maut memisahkan.”
Amran mempererat pelukannya. Seakan tak ingin lagi melepaskan kekasih hatinya itu. Berusaha memberikan seluruh cinta untuk wanita terkasihnya. Berharap cinta mereka sampai ke surga-Nya.

Aida mengusap air matanya. Senyum bahagia merekah di bibirnya. Beban yang ia tanggung selama ini akhirnya terasa ringan. Ia tak perlu lagi menyembunyikan Amran dari siapa pun.

Ia pun menutup pintu, membiarkan sepasang kekasih itu melepas rindu mereka. Setelah sekian lama mereka pasrah pada takdir, tanpa berusaha menentangnya.


(FLASH BACK)
“Bang Amran ... bang ... sakiiit ... “ rintihan itu terdengar hingga ke telinga lelaki yang baru saja sadarkan diri. Suasana begitu mencekam, sunyi, hanya suara binatang rimba yang menemani. Berusaha bangkit, meski tubuh terasa remuk redam. Ia tak dapat melihat apa-apa, hanya kegelapan yang ia rasakan. Tapi ia tak peduli, mencoba menyeret tubuhnya mendekati suara rintihan itu.

Bau anyir darah menusuk rongga hidung. Lelaki itu terus menyeret tubuhnya. Melewati beberapa serpihan daging manusia yang sudah tak berbentuk. Kuasa Allah, hanya sepasang kekasih itu yang masih bernapas dan tubuh mereka utuh, meskipun luka-luka bertebaran di beberapa anggota tubuh.

 Saat itu ia tak menyadari jika penglihatannya sudah tak berfungsi lagi. Ia hanya menyangka kalau saat ini ia hanya sedang berada di kegelapan malam tanpa cahaya.

“Jihan ... Jihan ... “ panggilnya dengan suara hampir tak terdengar. Perempuan yang ia sebut namanya itu tak menyahut, hanya terus merintih kesakitan. Sementara lelaki itu tak tahu harus berbuat apa. Terus menyeret tubuhnya entah ke arah mana. Sampai ia merasa lelah dan kehabisan tenaga, dan saat itu pula ia mendengar suara sirine dan segerombolan orang yang entah siapa datang mendekat. Segera mereka mengangkat tubuh penuh luka itu ke atas tandu, lalu membawanya.

“Istri saya ... istri saya ... dia ... dia masih selamat ... tolong ... “ rintihnya sebelum ia kehilangan kesadaran akibat rasa sakit yang mendera dan darah yang terlalu banyak mengalir di bagian kepala.

                                            ***

“Bu, bagaimana keadaan Jihan? Apa dia selamat?” Tanyanya setelah seminggu orang tuanya membawa lelaki itu pindah dan dirawat disebuah rumah sakit di Singapura. Keadaannya berangsur pulih. Meski kini netranya tak lagi mampu melihat setitik cahaya pun.

“Iya, Jihan baik-baik saja.  Kemarin ibu sudah menelepon keluarganya,” sahut Aida.

“Tapi ibu tidak bilang kan kalau aku di sini?”

Aida menggeleng, meski ia tahu Amran takkan melihatnya.

“Tidak. Seperti permintaanmu. Ibu terpaksa berbohong. Mengatakan bahwa jasadmu tidak ditemukan, karena hancur berkeping-keping bersama penumpang lain,” ia terisak.

Amran tersenyum dengan mata yang basah. Ia gapai tangan ibunya. “Terima kasih, Bu. Terima kasih.”

“Tapi tak seharusnya kita melakukan ini, Nak!”

“Hanya demi Jihan, Bu. Aku tak ingin membuatnya sedih. Aku tak ingin membuatnya susah ketika harus mempunyai suami buta sepertiku,”

“Tapi ibu yakin, Jihan tidak akan keberatan, Nak!” Bantah Aida.

“Tapi aku terlalu menyayanginya, Bu. Dia berhak mendapat kebahagiaan. Sudah terlalu banyak luka yang di toreh dalam kehidupannya. Dan aku tak ingin lagi menambahnya,” Amran tak mau kalah. Sungguh cintanya pada Jihan begitu dalam.

Aida terdiam. Tak mampu lagi menolak permintaan putra kesayangannya ini. Memeluk tubuh lemah itu sambil menangis.

                                           ***

Jihan histeris saat Fadil mengabarkan jikalau Amran tidak selamat dalam kecelakaan itu. Sungguh berat untuknya menerima kenyataan ini. Lelaki yang begitu ia cintai harus pergi begitu saja dari kehidupannya.

“Kenapa bukan aku saja? Kenapa bukan aku?” Teriaknya sambil meronta. Membuat Fadil kesulitan memegang tubuh adiknya. Menahan agar tubuh Jihan tidak jatuh dari tempatnya berbaring.

“Istighfar Jihan, istighfar! Bukankah kamu sendiri sering bilang, jika takdir Allah adalah yang terbaik? Dan Allah lebih menyayangi suamimu, kamu harus tegar, kamu harus kuat. Ada abang bersmamu di sini!” Tegasnya dengan derai air mata.

Sejenak Jihan mulai tenang, tak lagi histeris dan meronta. Tatapannya nanar ke langit-langit. Bibirnya terlihat bergerak melafazkan istighfar. “Andai aku bisa menyusulmu, Bang,” lirihnya.

“Sssttt, Jihan, jangan berkata begitu. Berdosa berandai-andai seperti itu.” Cegahnya. “Kamu juga harus ingat pesan Amran, untuk menyelesaikan hapalan Qur’an-mu.”

Jihan bergeming, menatap Fadil. Seperti tersadar akan sesuatu. Sebuah semangat hidup baru yang ia rasakan, ketika mengingat pesan-pesan terakhir suaminya.

                      **********************************************
                                 *****************************

Tiga tahun kemudian.

“Kenapa menghilang dari hidupku? Tahukah abang, betapa sulitnya aku menata hidupku tanpamu?” Jihan merebahkan diri di sisi Amran. Memandang penuh rindu wajah suaminya.

“Apa kamu pikir, abang tidak merasakan hal yang sama?” Ia balik bertanya. Meraba wajah istrinya dengan telapak tangannya yang begitu hangat.

“Lalu kenapa bersembunyi dariku?”

Amran menghela napas. “Karena abang mencintaimu. Tak ingin menyusahkanmu dengan kondisi abang yang seperti ini,”

“Bagaimana mungkin aku akan merasa begitu, Bang? Pikiranku tidak sepicik itu!” Jihan menekan suaranya.

Lelaki itu tersenyum, menarik Jihan ke dalam pelukannya.

“Ternyata kamu nggak berubah juga ya? Masih suka emosian,” ledeknya.

“Habis, abang suka sekali bicara begitu. Padahal abang tahu sendiri bagaimana aku kan? Jika pikiranku sepicik itu, tentu sudah sejak lama aku menikah lagi, dan melupakan abang.”

Mendengar pernyataan itu Amran semakin mengeratkan pelukannya, seolah tak rela jika itu benar-benar terjadi padanya.

“Apa selama abang tidak ada ... Hakim pernah mengganggumu?” Tanyanya hati-hati.

“Sering.”

Amran terperanjat. “Benarkah? Apa yang dia lakukan padamu?”

“Hampir setiap hari dia menggangguku, tapi yang mengganggu itu cuma Hakim kecil, putranya,” Jihan terbahak. Membuat lelaki itu tampak sedikit kesal dikerjai sang istri.

“Jangan marah dulu!” Jihan mengecup pipi Amran. “Hakim sekarang jauh berubah sejak kepergianmu. Dia lebih menghormatiku sebagai kakak iparnya. Sikapnya pun tak lagi berlebihan seperti dulu, meskipun terkadang ... perhatian kecilnya sering ia perlihatkan. Tapi ... menurut aku masih dalam batas wajar, dan aku melihatnya dari sudut pandang seorang kakak ipar saja.” Urai Jihan dengan lembut. Ia tak ingin lagi membakar cemburu di hati suaminya.

“Bagaimana denganmu?”

“Aku?”

Amran mengangguk.

“Apakah perlu jawaban ketika saat ini aku berada di sampingmu?” Ia menatap iba wajah suaminya. Walau bagaimanapun keadaannya saat ini, ia akan tetap berusaha mendampinginya. Karena itu memang kewajibannya, menemani sang suami dalam keadaan apa pun. Rasa cinta yang ditanam Amran di hatinya, membuatnya tak bisa lepas dari lelaki itu. Jihan sangat mencintai Amran. Ya, hanya itu yang ia rasakan.

Amran menggeleng, berusaha mengecup dahi Jihan. Lalu kembali memeluknya. “Terima kasih, Jihan. Terima kasih,” ucapnya.

“Sama-sama, Bang. Berjanjilah untuk tidak lagi meninggalkanku!”

“Iya, insyaa Allah abang berjanji. Abang akan selalu menemanimu.”

Wanita itu tersenyum, air matanya mengalir, tanpa diketahui suaminya.

                                      ***

“Apa? Kamu mau bekerja?” Suara Fadil sedikit meninggi.

“Tidak, tidak, tidak. Kamu tidak boleh bekerja. Penghasilan toko sudah lebih dari cukup untuk menghidupi kalian semua.”

“Tapi Bang, aku cuma mengajar saja kok. Cuma setengah hari saja, aku juga ingin punya penghasilan sendiri untuk keluargaku,”

“Lalu, siapa yang mengurus Amran?” Tanya Fadil sambil menatap tajam mata adiknya. “Dari pagi sampai siang kamu mengajar, lalu dilanjut mengajar tahfidzh sampai sore. Sampai di rumah kamu sudah lelah, lalu hak suamimu bagaimana? Mau kamu abaikan?”

Jihan diam. Ia tertegun. Membenarkan ucapan abangnya. ‘Ah, begitu sempurnanya engkau menjadi seorang saudara, Bang Fadil.’ Batinnya.

“Tapi tidak mungkin kan aku terus meminta uang sama kalian setiap aku membutuhkan sesuatu? Bagaimana jika nanti aku punya anak? Dan tentu kebutuhan semakin besar, lalu apakah aku harus selalu mengandalkan kalian?” Jihan mencoba membantah.

“Kamu percaya akan rizqi?”

Wanita itu terdiam.

“Jika kamu percaya bahwa Allah yang Maha Pengatur Rizqi, maka dengarkan kata-kata abang! Tempatmu adalah di rumah, bersama suamimu. Paham ‘kan?” Fadil mendekati adiknya. Membawa tubuh kurus itu ke dalam pelukannya. Ia sungguh tak ingin membuat adiknya susah, sungguh ia tak sanggup jika harus melihat lagi penderitaan Jihan dalam hidupnya. Ia sangat ingin membahagiakan adiknya itu dengan segala cara.

“Tapi aku malu jika harus merepotkan abang terus,” lirihnya dalam pelukan Fadil. Air matanya mengalir deras.

Fadil terkesiap, melepaskan pelukannya. “Malu? Malu sama abang?” Ia tertawa kecil, mengusap air mata Jihan dengan sapuan jarinya. “Perempuan konyol! Sudahlah, sana temani Amran. Bawakan makan siang untuknya ke kamar!” Perintahnya.

“Tidak usah Bang, aku sudah di sini!” Suara Amran membuat keduanya terkejut.

Mereka tidak tahu entah sudah berapa lama Amran di situ. Ia berhasil menuruni tangga seorang diri. Pipinya telah basah oleh air mata.

“Abang? Kenapa tidak menunggu saja di atas?” Jihan mendekati suaminya.

Amran bergeming. Tenggorokannya terasa tercekat.

“Maafkan aku Bang Fadil, aku terlalu merepotkan keluarga ini. Seharusnya Jihan tak perlu hidup menderita seperti ini bersamaku,”

“Kamu bicara apa, Amran?” Fadil terkejut.

“Aku sebenarnya sudah tak pantas mendampingi Jihan. Aku hanya akan menyusahkan dia.”

Jihan menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu menghambur ke dalam pelukan Amran. “Berhentilah bicara seperti itu, bukankah ini sudah kita bahas dan kita berjanji untuk selalu bersama saling melengkapi. Aku ikhlas menjadi kedua matamu, Bang. Aku Ikhlas menggantikan semua tanggung jawabmu.”

Hati Fadil begitu tersayat mendengar ucapan adiknya. Matanya berkaca-kaca.

“Kamu terlalu sempurna untuk abang Jihan. Kamu berhak bahagia. Abang tak bisa menjagamu seperti dulu. Karena jangankan menjagamu, menjaga diri sendiri saja abang tak mampu. Abang harus bergantung padamu.”

“Berhenti bicara seperti itu! Aku tak pernah merasa di susahkan olehmu. Menemanimu adalah kebahagiaanku. Ada Allah yang menjagaku. Jadi abang jangan khawatir.” Ia mempererat pelukannya.

Air mata Amran mengalir begitu deras.

“Bang Fadil, tolong katakan pada Jihan untuk meninggalkanku. Aku akan segera menceraikannya dan aku akan merelakan dia untuk Fikri. Fikri jauh lebih baik untuknya. Tolong Bang Fadil, tolong katakan padanya,” Amran menepis pelukan Jihan, kemudian berusaha mencari dimana posisi Fadil berdiri.

Jihan terisak, dadanya sesak melihat tingkah Amran. Tapi ia harus berusaha kuat menghadapi emosi Amran yang begitu labil. Ia juga tak boleh tersulut amarah.

“Bang Fadil ... “ akhirnya Amran berhasil menemukan tubuh lelaki itu.

“Aku tidak akan merenggut kebahagiaan adikku, Amran. Karena kamu adalah sumber kebahagiaannya. Bagaimana bisa aku menjauhkanmu darinya?”

“Tapi  Bang, aku ini buta! Aku tak bisa melihat, dia akan tersiksa jika terus hidup denganku. Dia akan menanggung malu jika terus bersamaku!”

Fadil berusaha setenang mungkin mengahdapi adik iparnya itu.

“Amran, dengarkan aku! Jihan tidak mencintai fisikmu, tapi ia mencintai hati dan akhlaqmu. Sebagaimana engkau juga mencintainya seperti itu.” Pungkas Fadil. Hingga membuat lelaki itu terdiam. Tak lagi bicara apa-apa.

Kemudian Fadil berlalu masuk ke kamarnya, menarik tangan Azizah yang sedari tadi berdiri mematung melihat mereka. Matanya terlihat sembab karena ikut merasakan keharuan dalam adegan drama itu.

Suasana hening. Hanya isak Jihan yang sesekali terdengar. Mereka hanya berdua di ruang tengah itu. Larut dengan pikiran masing-masing.

Jihan menghela napas, lalu menyeret langkahnya mendekati Amran. Berdiri di depan lelaki itu, memegang tangan kanannya, lalu mencium punggung tangan lelaki itu penuh ta’dzhim. Kemudian ia meraba wajah Amran. Wajah yang selalu terlihat tampan dalam kondisi apa pun.

“Di mataku ... abang tak pernah berubah. Tak ada celanya. Selalu terlihat tampan. Bagaimana caranya aku mencari penggantimu? Sedangkan lelaki lain tak ada yang mampu menandingi ketampananmu,” lirihnya berurai air mata.

Amran masih bergeming, bibirnya bergetar. Napasnya terlihat naik turun. Menahan tangis yang sudah tak ingin lagi ia pertontonkan di hadapan wanita berhati tulus ini. Tak ada lagi kata yang mampu ia ucapkan, hanya mampu membawa tubuh istrinya tenggelam dalam hangatnya dekapan. Ya, hanya itu yang dia punya untuk membuat bibir wanita itu kembali mengukir senyum.

                                 ***

Cinta ...
Ia hadir saat luka bersemayam di hatiku,
Mengobati perih dalam kesendirian yang terlalu indah,

Cinta ..
Membawa sejuta rasa yang tak biasa,
Mengajarkanku bagaimana menghargai,
Mengajarkanku bagaimana menerima,
Mengajarkanku bagaimana bertahan,

Cinta ...
Aku hampir tak percaya akan hakikatnya
Tapi hadirnya dalam jiwa, membuatku membuka mata,
Bahwa dia insan terbaik dalam takdir hidupku.

Takdir? Ya, takdir.
Dulu aku sempat ingin menentangnya,
Tapi kehadiran insan itu,
Membuatku tersadar, bahwa dia adalah ...
Takdir terindah dalam hidupku,
Karena sesungguhnya dia adalah jawaban atas doa-doaku selama ini.
Dia ... insan pilihan Rabb-ku ... yang akan kujaga seumur hidupku.
Selamanya.

                           

            ***T A M A T***


Note: Ane bukan plagiat hanya ingin menyambungkan cerita ini dari beberapa part yang terpisah, jujur ane suka ceritanya, suka banget,,,, selamat membaca. Terima kasih kak Leny❤
Jangan lupa NGAJI

Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Jujur ana bukan seseorang yang suka membaca cerita romansa para remaja, kecuali kisah dan siroh nabawi. Halaman pertama goresan cerita ini langsung bisa mengintimidasi suasana batin ana. Tidak tau mengapa seakan enggan beranjak kemanapun hanya demi menuntaskan bacaan. Cerita ini sangat banyak ibrohnya, saya sangat kagum dengan segala hikmah dan pelajaran dari cerita ini. Jujur baru cerita ini yang benar" saya tuntas membacanya (dalam konteks cerita anak muda). Tabarakalla kepada yg sudah membuat cerita panjang lebar, barakallahu fiki kak leny, ditunggu cerita lainnya.


    Salam hangat

    Bintu.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer